Anda di halaman 1dari 1

Narasi Dekadensi Moral

Ditulis oleh: Muhammad Amaluddin

Hari ini tidak jauh berbeda dengan hari-hariku sebelumnya, profesiku sebagai fotografer jalanan
membuatku selalu berada di berbagai macam lingkungan dengan beragam budaya di dalamnya. Pagi ini,
seperti pagi-pagi sebelumnya aku keluar rumah dengan perasaan bersemangat membawa kameraku
untuk menjelajah perspektif dunia. Menarik jika kita dapat mengabadikan suatu momen indah, langka,
unik, dan tidak dapat dipercaya ke dalam suatu landskap yang tak berbicara.

Aku berjalan menyusuri pinggiran kota mencoba memandang semua dari persepsi paling indah untuk
kupotret menjadi karya. Namun, kali ini aku tak dapat mengambil sudut pandang dalam sebuah adegan
ketika seorang remaja yang bersedekah mengabdikan diri dengan alat kebanggaannya dan disebarkan
ke dunia palsunya dengan senang dan bangga atas perbuatannya, berharap menuai pujian dari teman-
teman palsunya pula.

Hariku mulai terasa aneh, pikiranku dipenuhi subjektifitas. Siang itu, aku berhenti dan membaur dengan
rasa laparku. Aku bercengkerama dengan cacing di perutku yang akhirnya kuputuskan untuk membeli
makanan dan istirahat sejenak. Memandang sekitar hingga interaksi seorang anak dan orang tuanya
yang unik membuatku tertarik. Saling bercakap tetapi tidak kepada satu sama lain, aneh bukan? Yang
satu disakiti game khayalan, yang lain disakiti kenyataan.

Hingga penghujung hari aku mulai lelah, miris melihat ironi, yang kudapati di sore hari malah manusia
tak berhati. Rasa peduli kalah akan gengsi. Hingga aku sadar adanya dekadensi.