Anda di halaman 1dari 3

Rizqi Kurnia Fernanda(165130101111003)

Khasiat Dari Kakao


Abstrak
Bahan alam, telah lama digunakan di bidang kesehatan untuk keperluan preventif,
kuratif, dan rehabilitatif. Pengobatan atau perawatan pilihan dengan menggunakan tanaman
obat di Indonesia saat ini lebih digalakkan di bidang kedokteran. Pemakaian tanaman untuk
pengobatan perlu digali lebih mendalam, khususnya sumber daya nabati Indonesia, yang
dikenal kaya dengan keanekaragaman hayati. Upaya itu dilakukan seiring dengan anjuran
pemerintah untuk mengelola dan memberdayakan segala sumber daya alam secara lestari dan
berkelanjutan. Namun, pengobatan atau perawatan pilihan, harus dapat dipertanggung
jawabkan secara ilmiah, baik dari segi manfaat maupun keamanannya. Streptococcus mutans
adalah penyebab utama karies gigi pada anjing tua. Sebagai bahan alami kakao mengandung
polifenol senyawa yang memiliki agen antimikroba melalui proses antiglucosiltransferase.
Dalam paper ini membahas peranan kakao sebagai obat untuk mencegah terjadinya karies
gigi. (Purnamasari.2010)
Keyword: Kakao, Streptococcus mutan, Karies Gigi

Pendahuluan Biji kakao mempunyai beberapa


komponen aktif yang salah satunya adalah
Telah banyak dilakukan penelitian
polifenol, kandungan polifenol pada biji
dengan memanfaatkan bahan alam karena
kakao didominasi oleh katekin dan
hal ini dianggap sangat bermanfaat di
epillogalokatekin. Polifenol merupakan
mana sejak dahulu kala masyarakat kita
suatu senyawa yang bersifat antibakteri
telah percaya bahwa bahan alam mampu
dan polifenol yang dikandung biji kakao
mengobati berbagai macam penyakit dan
ini dapat menghambat pertumbuhan
jarang menimbulkan efek samping yang
bakteri Streptococcus mutans, yang
merugikan dibandingkan obat yang terbuat
merupakan bakteri utama penyebab karies
dari bahan sintetis.
gigi.
Saat ini, bidang kedokteran gigi
Sebagai material alam, biji kakao
telah memanfaatkan bahan alam sebagai
mempunyai sifat sebagai agen antibakteri,
material klinis. Sebagian dari kita sudah
tetapi di sisi lain diperlukan penelitian
mengenal tanaman kakao atau biasa
untuk mempersiapkan konsentrasi dari
disebut dengan cokelat. Beberapa tahun
ekstrak biji kakao yang efektif dalam
terakhir ini terjadi peningkatan
menghambat pertumbuhan bakteri dalam
ketertarikan pada kakao, di mana telah
rongga mulut.
ditunjukkan adanya efek anti kariogenik
dari percobaan in vivo dan in vitro dari Pembahasan
tanaman tersebut. Kakao (Theobroma
Peranan mikroorganisme sangat
cacao) adalah anggota dari Bromeliaceae
penting terhadap proses terjadinya karies
yang berasal dari hutan di Amerika Tengah
gigi. Awal terjadinya proses karies gigi
dan Amerika Selatan. Dua subspesies yang
yang nyata adalah peningkatan aktivitas
ditanam adalah calabacillo (T. Cacao L.
mikroorganisme dalam rongga mulut.
subsp. sphaerocarpum) yang berasal dari
Streptococcus mutans adalah
Amerika Selatan dan criollo (T. Cacao L.
mikroorganisme penyebab karies gigi yang
subsp. cacao) dari Meksiko.
sangat berperan pada permulaan terjadinya mengandung sejumlah besar polifenol dan
karies gigi. Streptococcus mutans mampu serat makanan, seperti selulosa, pektin,
mensintesis polisakarida ekstraselular dan lignin. Ekstrak kulit biji kakao telah
glukan, dapat memproduksi asam laktat terbukti memiliki aktivitas antibakteri dan
melalui proses homofermentasi, antiglukosiltransferase melalui asam lemak
membentuk koloni yang melekat erat tak jenuh dan polimer epikatekin. Aktivitas
dengan permukaan gigi, dan lebih bersifat antibakteri dari ektrak kulit biji kakao diuji
asidogenik daripada spesies Streptococcus secara in vitro dan in vivo. Ekstrak kulit
lainnya. Oleh karena itu Streptococcus biji kakao tersebut dapat menghambat
mutans telah menjadi target utama dalam perlekatan Streptococcus mutans pada
upaya mencegah terjadinya karies gigi. saliva dan mengurangi akumulasi artificial
dental plaque oleh Streptococcus mutans.
Sebagai material alam, biji kakao
Namun, masih belum pernah diadakan
mempunyai sifat sebagai agen antibakteri,
penelitian terhadap biji kakao. Oleh karena
tetapi di sisi lain diperlukan penelitian
itu, penelitian terhadap MIC dari biji
untuk mempersiapkan konsentrasi dari
kakao perlu dilakukan dalam usaha
ekstrak biji kakao yang efektif dalam
menciptakan bahan antibakteri baru yang
menghambat pertumbuhan bakteri dalam
menggunakan bahan dasar kakao.
rongga mulut.
Disimpulkan bahwa konsentarasi ekstrak
Manfaat biji kakao yang efektif dapat menghambat
pertumbuhan Streptococcus mutans.
Telah banyak dilakukan penelitian
dengan memanfaatkan bahan alam yang Daftar Pustaka
kesemuanya bertujuan untuk menghasilkan
Purnamasari, Devi Ayu.Elly Munadziroh.
obat-obatan dalam upaya mendukung
R. Mohammad Yogiartono. 2010.
program pelayanan kesehatan gigi,
Konsentrasi Ekstrak Biji Kakao
khususnya untuk mencegah dan mengatasi
Sebagai Material Alam Dalam
masalah karies gigi. Kembalinya perhatian
Menghambat Pertumbuhan
ke bahan alam yang dikenal dengan istilah
Streptococcus Mutans. Jurnal PDGI
back to nature ini dianggap sebagai hal
yang sangat bermanfaat karena sejak World Health Organization. General
dahulu masyarakat kita telah percaya Guidelines for Methodologies on
bahwa bahan alam dapat dibakai sebagai Research and Evaluation of
obat berbagai macam penyakit. Selain itu, Traditional Medicine. Geneve, 2000,
pemanfaatan bahan alam yang digunakan pp. 1-80
sebagai obat jarang menimbulkan efek
Wiryowidagdo, S, Perkembangan dan
samping yang merugikan dibandingkan
masa depan mikrobiologi. Kursus
obat yang terbuat dari bahan sintetis.
singkat Pengontrolan Kualitas Bahan
Berdasarkan penelitian yang Pangan secara Mikrobiologi,
sebelumnya pernah dilakukan penelitian Fakultas MIPA Universitas
pada ekstrak kulit biji kakao didapatkan Hasanuddin, Ujung Pandang 1996,
MIC dari kulit biji kakao tersebut terhadap pp. 1-10
bakteri Streptococcus mutans adalah 1
Ferrazzano, GF, Amato, I, Ingenito, A,
mg/ml.
Natale, AD & Pollio, A, ‘Anti-
Kulit biji kakao merupakan limbah cariogenic effects of polyphenols
dalam industri cokelat yang diketahui from plant stimulant beverages
(cocoa, coffe, tea)’, Fitoterapia 2009, Ghozali, I, Aplikasi Analisis Multivariate
80, pp. 255-262 dengan Program SPSS Cetakan IV,
Badan Penerbit Universitas
Osawa, K, Miyazaki, K, Shimura, S,
Diponegoro, Semarang 2006
Okuda, J, Matsumoto, M &
Ooshima, T, ‘Identification of Otake, S, Makimura, M, Kuroki, T, et al,
Cariostatic Substances in the Cacao ‘Anticaries effect polyphenolic
Bean Husk: Their Anti- compound from Japanese green tea’,
glucosyltransferase and antibacterial Caries Research, 1991 vol. 25, no. 6,
Activities’, Journal of Dental pp. 438-443
Research 2001, vol. 80, pp. 1-5
Todar, K 2005, Todar ’s Online Textbook
Of Bacteriology, Retrieved February
15, 2010 from
http://www.textbookofmicrobiology.
net
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Farmakope Indonesia
Edisi IV, Direktorat Jenderal
Pengawasan Obat dan Makanan,
Jakarta 1995, pp. 7, 126-127
Forbes, BA, Sahm, DF & Weissfeld, AS,
Laboratory Methods for Detection of
Antibacterial Resistance. Bailey &
Scott’s Diagnostic Microbiology.
11th Ed. Mosby Inc., St. Louis 2002
Wahluyo, S, ‘Daya hambat minimal
Epigallokatekin gallat dari teh hijau
terhadap Streptococcus mutans’,
Dental Journal 2004, vol. 37, no. 3,
pp. 112-115
Sabir, A, ‘Aktivitas antibakteri flavonoid
propolis Trigona sp terhadap bakteri
Streptococcus mutans (in vitro)’,
Dental journal 2005, vol. 38, no. 3,
pp. 135-141
Matsumoto, M, Tsuji, M, Okuda, J, Sasaki,
H, Nakano, K & Osawa, K,
‘Inhibitory effects of cocoa bean
husk extract on plaque formation in
viro and in vivo’, European Journal
of Oral Science 2004, vol. 112, pp.
249-252