Anda di halaman 1dari 13

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : Pentingnya Pemberian ASI Eksklusif (materi & leaflet terlampir)


Hari/Tgl : Selasa, 27 Agustus 2019
Durasi Waktu : 30 menit
Penyaji : Mahasiswa Keperawatan Angkatan 2017 Universitas Hasanuddin
Tempat : Posyandu Sekar RT 001 RW 002 Jalan Tupai

1. Tujuan
Tujuan Umum
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan peserta diharapkan mampu mengetahui dan
memahami tentang Pentingnya Pemberian ASI Eksklusif.
1.2 Tujuan Khusus
Setelah dilakukan tindakan keperawatan / pendidikan kesehatan selama 1 x 30 menit
peserta diharapkan mampu:
1. Mengetahui tentang pengertian ASI eksklusif
2. Mengetahui tentang komposisi dari ASI
3. Mengetahui tentang manfaat pemberian ASI
4. Mengetahui tentang hal-hal yang mempengaruhi produksi ASI
5. Mengetahui tentang cara penyimpanan ASI yang baik dan benar
6. Mengetahui tentang cara menyusui yang baik dan benar

II. Sasaran
Sasaran ditujukan pada ibu menyusui yang berada di Posyandu Sekar RT 001 RW 002 Jalan
Tupai

III. Strategi Pelaksanaan


1. Metode : Ceramah, diskusi
2. Media : Proyektor, Laptop, Leaflet dan Phantom

1
IV. Setting
Peserta penyuluhan duduk berhadapan dengan penyaji (dapat disesuaikan dengan kondisi
ruangan yang tersedia)

Keterangan :
: Penyuluh
: Moderator (optional)
: Fasilitator
: Observer
: Peserta penyuluhan

V. Pelaksanaan Kegiatan
No Kegiatan Kegiatan Penyuluh Kegiatan Peserta Waktu Media/
Metode
1 Fase - Salam Pembuka  Menjawab salam 5 menit Diskusi
Pendahuluan - Memperkenalkan diri  Mendengarkan
- Menyampaikan topik  Menjawab
& tujuan penyuluhan pertanyaan
- Mengkaji pemahaman awal penyuluh
peserta pendkes tentang
pentingnya pemberian ASI
eksklusif

2
2 Fase Kerja 1. Penyampaian Materi  Mendengarkan 15 menit  Proyekt
Penyaji menjelaskan tentang: dengan penuh or /
a. Pengertian ASI eksklusif perhatian Leaflet
b. Komposisi dari ASI
c. Manfaat pemberian ASI
d. Hal-hal yang mempengaruhi
produksi ASI
e. Cara penyimpanan ASI yang
baik dan benar
f. Cara menyusui yang baik
dan benar

2. Tanya Jawab
Memberikan kesempatan
kepada peserta untuk bertanya  Bertanya 8 menit Diskusi
 Menjawab
3. Evaluasi pertanyaan
Memberikan pertanyaan
kepada minimal 2 audiens Metode
tentang: Teach
a. Pengertian ASI eksklusif Back
b. Komposisi dari ASI
c. Manfaat pemberian ASI
d. Hal-hal yang mempengaruhi
produksi ASI
e. Cara penyimpanan ASI yang
baik dan benar
f. Cara menyusui yang baik
dan benar
3 Fase Penutup  Menyimpulkan  Mendengarkan 2 menit
 Salam Penutup  Menjawab salam

VII. Evaluasi
a. Evaluasi Struktural

3
 Kontrak waktu pertemuan dengan peserta jelas
 Penyuluh dan Media dari Mahasiswa Keperawatan angkatan 2017 Universitas
Hasanuddin tersedia lengkap pada hari H pelaksanaan

b. Evaluasi Proses
 Peserta
- 80% peserta pendkes mengikuti kegiatan sampai selesai.
- Peserta aktif berdiskusi (min. 2 orang mengajukan pertanyaan)
 Penyuluh
- Mampu memfasilitasi jalannya penyuluhan.
- Mampu menjalankan perannya sesuai tugas dan tanggungjawab.
c. Evaluasi Hasil
 Pada bagian akhir, peserta secara sukarela/ditunjuk mampu menyebutkan ulang hal-
hal berikut ini: (materi lengkap terlampir pada bagian akhir)
a. Pengertian ASI eksklusif
b. Komposisi dari ASI (min 2)
c. Manfaat pemberian ASI (min 3)
d. Hal-hal yang mempengaruhi produksi ASI (min 3)
e. Cara penyimpanan ASI yang baik dan benar
f. Cara menyusui yang baik dan benar

4
PENTINGNYA PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF

A. Pengertian ASI eksklusif


Air Susu Ibu (ASI) adalah cairan yang diciptakan khusus yang keluar langsung
dari payudara seorang ibu untuk bayi. ASI merupakan makanan bayi yang paling
sempurna, praktis, murah dan bersih karena langsung diminum dari payudara ibu. ASI
mengandung semua zat gizi dan cairan yang dibutuhkan bayi untuk memenuhi kebutuhan
gizi di 6 bulan pertamanya. (Walyuni,2015 dalam Yusrina & Devy., 2016).
Proses pemberian ASI tanpa makanan tambahan lain pada bayi berumur 0–6
bulan disebut ASI eksklusif. ASI eksklusif yang dimaksud yaitu bayi tidak diberikan
apapun, kecuali makanan yang langsung diproduksi oleh ibu yaitu ASI (Yuliarti, 2010
dalam Yusrina & Devy., 2016). World Health Organization (WHO) dan United Nation
Childrens Fund (UNICEF) merekomendasikan sebaiknya anak hanya diberi air susu ibu
(ASI) selama paling sedikit enam bulan pertama dalam kehidupan seorang bayi dan
dilanjutkan dengan makanan pendamping yang tepat sampai usia 2 tahun dalam rangka
menurunkan angka kesakitan dan kematian anak

B. Komposisi dari ASI


Bayi yang diberikan ASI eksklusif akan lebih sehat dan lebih jarang sakit
dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif karena di dalam
ASI terdapat:
1) Kolostrum
Kolostrm ini berfungsi sebagai zat kekebalan, kolostrum ini akan melindungi bayi
dari berbagai penyakit termasuk penyakit diare.
2) Kadar laktosa
Kadar laktosa yang terdapat dalam ASI hampir 2 kali lipat dibanding laktosa yang
ditemukan pada susu sapi atau susu formula. Namun demikian angka kejadian diare
yang disebabkan karena tidak dapat mencerna laktosa (intoleransi laktosa) jarang
ditemukan pada bayi yang mendapatkan ASI.
3) Zat protektif dalam ASI

5
Laktobasilus bifidus berfungsi mengubah laktosa menjadi asam laktat dan asam
asetat. Kedua asam ini menjadikan saluran pencernaan bersifat asam sehingga
menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri E.coli Shigela dan jamur.
Laktoferin bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan kuman tertentu yaitu
Stafilokokous dan E.coli.
Lisozim adalah enzim yang dapat memecah dinding bakteri (bakteriosidal) dan
antiinflamatori, untuk menyerang E.coli dan Salmonela.
4) Faktor antistreptokokus
Faktor ini yang melindungi bayi terhadap infeksi kuman, antibodi dalam ASI
dapat bertahan didalam saluran pencernaan bayi karena tahan terhadap asam dan
enzim proteolitik dan membuat lapisan pada mukosanya sehingga mencegah bakteri
patogen dan enterovirus masuk ke alam mukosa usus.
(Maki, Amatus, & Ismanto, 2017)

C. Manfaat pemberian ASI

Menurut (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016) ASI ternyata


memberikan lebih daripada sekedar nutrisi kepada bayi. Berikut sepuluh manfaat ASI :
1) ASI dapat mengurangi tingkat depresi pada ibu. Sebuah penelitian
terhadap 14 ribu ibu baru, yang dimuat dalam Jurnal Kesehatan Ibu dan
Anak,menunjukkan ibu yang menyusui cenderung terhindar dari masalah kesehatan
mental. Satu dari sepuluh perempuan dunia rentan terkena depresi, namun jumlah itu
turun saat perempuan punya kesempatan untuk memberikan ASI.
2) ASI meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi. Ibu meneruskan
zat antibodi mereka lewat ASI kepada bayi-bayi mereka, sehingga bayi dapat
membentuk sistem pertahanan tubuh yang kuat untuk melawan virus flu dan infeksi.
3) ASI membantu memperkuat ikatan emosional antara anak dan ibu
mereka. Kedekatan ini merupakan katalis dalam membangun hubungan yang kuat
antara orang tua dengan anak-anak mereka karena anak akan merasa lebih
terlindungi dan beradaptasi dengan dunia baru di sekitar mereka.
4) ASI membuat anak lebih cerdas. Meskipun demikian, masih
diperdebatkan oleh para pakar, apakah kecerdasan itu dipicu kandungan asam lemak

6
dalam ASI ataukah ikatan emosional yang terbentuk antara orang tua dan anak
selama proses menyusui berlangsung.
5) ASI mengurangi risiko obesitas. ASI membantu bayi untuk
memilih makanan lebih baik di kemudian hari, yang pada akhirnya memperkecil
risiko obesitas. ASI adalah makanan yang mudah dicerna bayi, sangat bergizi, dan
membantu bayi memutuskan berapa banyak yang bisa dia konsumsi dan kapan
meminumnya.
6) ASI menjadikan anak-anak berperilaku lebih baik. Anak-anak yang
minum ASI dan mampu membentuk ikatan emosional dengan kedua orang tuanya
selama proses menyusui, mampu mengembangkan perilaku yang lebih baik daripada
yang tidak. Namun jika ikatan itu tidak terbentuk, dampaknya bisa berlawanan.
7) Nutrisi dalam ASI membantu otak anak berkembang sempurna dan
lebih baik daripada nutrisi dalam susu formula.
8) ASI membantu ibu menurunkan berat badan. Proses menyusui
membakar banyak kalori dalam tubuh ibu, sehingga berat badan berlebih selama
hamil dapat cepat turun.
9) ASI mengurangi risiko kanker pada ibu, terutama kanker payudara
dan indung telur.
10) ASI membantu keluarga menghemat anggaran rumah tangga
karena gratis.

D. Hal-hal yang mempengaruhi produksi ASI

1) Faktor Pola Istirahat MempengaruhiProduksi ASI pada Ibu Menyusui Bayi Umur 0 –
6 Bulan
Secara teori salah satu faktor yang mempengaruhi dari pada produksi ASI adalah
Pemenuhan Pola Istirahat Ibu. Istirahat merupakan keadaan relaks tanpa adanya
tekanan emosional, bukan hanya dalam keadaan tidak beraktivitas tetapi juga kondisi
yang membutuhkan ketenangan. Kegunaan tidur adalah tubuh menyimpan energi
selama tidur. Istirahat dan tidur yang sesuai adalah sama pentingnya bagi kesehatan
yang baik dengan nutrisi yang baik dan olahraga yang cukup. Pada bulan pertama,
ibu menyusui tentu akan merasa sangat kurang istirahat karena pola tidur buah hati

7
yang masih belum teratur. Pengeluaran hormon prolaktin yang berperan pada
produksi ASI pada malam hari lebih tinggi daripada siang hari. Sedangkan pola tidur
bayi yang belum teratur mengakibatkan ibu memperoleh waktu singkat untuk
istirahat. Kurang istirahat pada ibu menyusui akan mempengaruhi ibu dalam
beberapa hal yaitu: Mengurangi jumlah ASI yang di produksi, memperlambat proses
involusi uterus dan meningkatkan perdarahan, menyebabkan terjadinya depresi dan
ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri. Untuk meningkatkan
produksi ASI diharapkan ibu menyusui mampu melakukan atau memenuhi
kebutuhannya pola istirahat sehingga mampu memberikan ASI yang terbaik untuk
anaknya atau bayi. Kekurangan pola istirahat pada ibu menyusui harus dapat teratasi.
Hal ini bisa diantisipasi dengan cara mengikuti pola tidur bayi. Sebisa mungkin, ibu
tidur saat bayi tertidur dan bangun saat bayi bangun untuk disusui. Dengan mengikuti
pola tidur bayi ini, setidaknya ibu bisa terbantu untuk mendapatkan waktu istirahat
yang lebih cukup.

2) Faktor Makanan Mempengaruhi Produksi ASI Ibu Menyusui pada Bayi Umur 0 – 6
Bulan
Makanan yang dikonsumsi ibu menyusui sangat berpengaruh terhadap produksi
ASI. Apabila makanan yang ibu makan mengandung cukup gizi dan pola makan
yang teratur, maka produksi ASI akan berjalan lancar. Kualitas dan produksi ASI
sangat dipengaruhi makanan yang dikonsumsi ibu sehari-hari.Kelancaran produksi
ASI akan terjamin apabila makanan yang dikonsumsi ibu setiap hari cukup akan zat
gizi dibarengi pola makan teratur. Jadi apabila makanan ibu cukup tetapi produksi
ASI kurang bisa disebabkan makanan yang ibu konsumsi belum memenuhi 4 sehat 5
sempurna. Prinsipnya, oahan makanan yang diberikan kepada ibu menyusui, harus
cukup mengandung kalori (energi) untuk dapat mengganti energi yang dikeluarkan
maupun yang dibutuhkan oleh ibu untuk menghasilkan air susu.
Sumber protein cenderung dihubungkan dengan sesuatu yang mahal, padahal ada
beberapa sumber protein nabati yang murah seperti tempe, tahu, dan kacang-
kacangan. Sumber protein hewani seperti, telur, daging ayam, daging sapi, ikan air
tawar segar, ikan air laut segar memang relative mahal. Ibu yang sedang berada fase
menyusui sebaiknyamengurangi mengonsumsi kopi dan teh,karena dapat

8
mengganggu penyerapanzat besi. Kalsium juga dapat menghalangi penyerapan zat
besi, waktu minum susu juga perlu diperhatikan. Dianjurkan tidak minum susu atau
sumber kalsium lain setelah mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi.
Jarak waktu minimal antara intake (pengonsumsian) zat besi dengan kalsium 1,5
sampai 2 jam.

3) Faktor Frekuensi Penyusuan (Pemberian ASI) Mempengaruhi Produksi ASI pada Ibu
Menyusui Bayi Umur 0 – 6
Secara teori menjelaskan bila semakin sering bayi menyusu padapayudara ibu,
maka produksi danpengeluaran ASI akan semakin banyak. Akan tetapi, frekuensi
pemberian ASI (penyusuan) pada bayi premature dan cukup bulan berbeda.Studi
mengatakan bahwa pada produksi ASI bayi premature akan optimal dengan
pemompaan ASI lebih dari 5 kali per hari selama bulan pertama setelah melahirkan.
Pemompaan dilakukan karena bayi premature belum dapat menyusu. Sementara itu,
pada bayi cukup bulan frekuensi penyusuan 10 ± 3 kali per hari selama 2 minggu
pertama setelah melahirkan, berhubungan dengan produksi ASI yang cukup.
Demikian, ibu disarankan untuk menyusui bayi setidaknya 8 kali sehari pada
bulan-bulan pertama setelah melahirkan untuk menjamin produksi dan pengeluaran
ASI. Frekuensi menyusui ini berkaitan dengan kemampuan stimulasi kedua hormon
dalam kelenjar payudara, yakni hormon prolaktin dan oksitosin. Produksi ASI kurang
diakibatkan frekuensi penyusuan pada bayi yang kurang lama dan terjadwal padahal
bayi saat ingin memberikan susu atau menyusu ibunya bisa menentukan dengan
sendiri kebutuhan makanannya yaitu memperoleh ASI dari ibunya. Lama menyusui
bayi berbedabeda, sesuai dengan pola hisap bayi. Sebagai pedoman, susuilah 10
menit pada payudara yang pertama, karena daya isap masih kuat dan 20 menit pada
payudara yang lain karena daya isap bayi mulai melemah. Penting bagi ibu untuk
membiarkan bayi mengosongkan satu payudara sebelum menawarkan payudara
lainnya.
4) Faktor Perawatan Payudara Mempengaruhi Produksi ASI pada Ibu Menyusui Bayi
Umur 0 – 6 Bulan
Perawatan payudara pada Ibu menyusui harus dilakukan untuk mendapatkan
produksi ASI yang baik sehingga anak mendapatkan ASI yang optimal. Penelitian

9
menunjukkan bahwaIbu yang kurang dalam melakukanperawatan payudara terutama
padalangkah pengurutan pertama dan pengurutan ketiga didapatkan mengalami
masalah dalamproduksi ASI. Secara teori perawatan payudara dilakukan atas
berbagai indikasi, antara lain puting tidak menonjol atau bendungan payudara.
Tujuannya adalah memperlancar pengeluaran ASI saat masa menyusui. Pasca
persalinan, lakukan sedini mungkin, yaitu 1 sampai 2 hari dan dilakukan 2 kali sehari
meliputi pengurutan pertama, pengurutan kedua, pengurutan ketiga, pengompresan
dan pengosongan ASI.
Selama proses menyusui, sudah seharusnya ibu melakukan perawatan payudara
agar tetap bersih dan terawat. Perawatan yang tepat tentunya bisa merangsang
payudara untuk memproduksiASI lebih banyak. Melakukan perawatan payudara,
hipofisis dipengaruhi untuk mengeluarkan hormon prolaktin dan oksitosin. Kedua
hormon inilah yang berperan besar dalam produksi ASI. Selain itu, dengan perawatan
payudara yang benar dan dilakukan secara teratur, ibu akan terhindar dari berbagai
masalah selama menyusui yang dapat mengganggu kenyamanan. Misalnya,
pembengkakan payudara, puting susu yang lecet, dan sebagainya. Perawatan yang
tepat tentunya bisa merangsang payudara untuk memproduksi ASI lebih banyak.
Dengan perawatan payudara, hipofisis dipengaruhi untuk mengeluarkan hormon
prolaktin dan oksitosin. Kedua hormon inilah yang berperan besar dalam produksi
ASI.
(V. S. Aditama & Sari, 2014)
E. Cara penyimpanan ASI yang baik dan benar (INFODATIN, 2014)

1) ASI perah dimasukkan ke dalam lemari pendingin selama 1 jam sebelum


dimasukkan ke dalam freezer
2) Bila ASI perah berlimpah, untuk jangka panjang sebaiknya sebagian ASI disimpan di
dalam freezer, dan disimpan sebagian di lemari pendingin untuk penggunaan jangka
pendek
3) ASI perah diletakkan di bagian dalam freezer atau lemari pendingin, bukan di dekat
pintu agar tidak mengalami perubahan dan variasi suhu
4) Bila di rumah tidak memiliki freezer atau lemari pendingin, maka ASI perah bias
disimpan dalam termos dengan es batu

10
F. Cara menyusui yang baik dan benar (Bahagia & Alasiry, 2013)
1) Persiapan Ibu :
- Cuci tangan ibu dengan bersih,
- Ibu dianjurkan untuk mengambil posisi yang nyaman: duduk, berdiri,
tidur miring. Bila duduk, jangan sampai kaki ibu menggantung,
- Keluarkan sedikit ASI dengan cara meletakkan ibu jari dan telunjuk
sejajar di tepi aerola, kemudian tekan ke arah dinding dada lalu dipencet sehingga
ASI mengalir keluar. Oleskan asi yang keluar ke bagian puting susu dan aerola
sebagai desinfektan sekaligus menjaga kelembaban puting susu,
2) Posisi bayi :
- Tempatkan kepala bayi pada lengkung siku ibu, kepala bayi tidak boleh
tertengadah, sokong badan bayi dengan lengan dan bokong bayi ditahan dengan
telapak tangan ibu. Bayi dipegang dengan satu lengan saja.
- Satu lengan bayi di letakkan dibawah ketiak ibu dan satu didepan.
- Letakkan bayi menghadap perut/payudara ibu, perut bayi menempel ke
badan ibu, kepala bayi menghadap payudara sehingga telinga dan lengan bayi
berada pada satu garis lurus.
- Tatap bayi dengan kasih sayang.
3) Perlekatan bayi :
- Pegang payudara dengan ibu jari di atas dan jari yang lain menopang
dibawah, jangan menekan puting susu/aerolanya saja.
- Beri rangsangan pada bayi agar membuka mulut (rooting reflex) dengan
cara: menyentuh pili dengan puting susu, atau menyentuh sisi mulut bayi
- Setelah bayi membuka mulut, minta ibu untuk dengan cepat
mendekatkan kepala bayi ke payudara ibu dengan puting serta sebagian besar
aerola dimasukkan ke mulut bayi.
- Perhatikan tanda perlekatan bayi yang baik: dagu bayi menempel di
payudara (Chin) , sebagian besar aerola bagian bawah masuk ke mulut bayi
(Aerola) , bibir bayi terlipat keluar (Lips) , mulut terbuka lebar (Mouth).
4) Melepas Isapan :

11
Sendawakan bayi dengan cara bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu
ibu kemudian punggungnya ditepuk perlahan, atau bayi tidur tengkurap di pangkuan
ibu kemudian punggungnya di tepuk perlahan,

12
Daftar Pustaka

Bahagia, A. D., & Alasiry, E. (2013). Keterampilan Teknik Menyusui. Makassar: Universitas
Hasanuddin.
Indonesia, K. K. (2016). INILAH SEPULUH MANFAAT ASI. www.kemkes.go.id.
INFODATIN. (2014). SITUASI DAN ANALISIS ASI EKSLUSIF. Jakarta Selatan: Kementerian
Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). INILAH SEPULUH MANFAAT ASI.
www.kemkes.go.id.
Maki, F., Amatus, A. U., & Ismanto, Y. (2017). PERBEDAAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF
DAN SUSU FORMULA TERHADAP KEJADIAN DIARE PADA BAYI USIA 6-12
BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RANOTANA WERU. Ejournal
Keperawatan , 5 (1).
V. S. Aditama, .., & Sari. (2014). TIGA FAKTOR UTAMA YANG MEMPENGARUHI
PRODUKSI ASI PADA IBU. Jurnal STIKES , 7 (2).
Yusrina, A., & Devy., S. R. (2016). FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NIAT IBU
MEMBERIKAN ASI EKSKLUSIF DI KELURAHAN MAGERSARI, SIDOARJO. Jurnal
Promkes , 4 (1), 11-21.

13