Anda di halaman 1dari 7

PAPER

TEKNOLOGI DAN PENGELOLAAN PESTISIDA


“ENDOSULFAN”

Kelompok 3:
1. Desyanggi Hadi Putri H0717033
2. Erisa Ayu Hastyana H0717049

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2019
1. Kelompok Kimia
Endosulfan adalah salah satu pestisida dari golongan organoklorin
yang dilaporkan paling sering menyebabkan keracunan yang tidak
disengaja khususnya di Asia, Amerika Selatan, dan Afrika Barat, yang
paling sering terjadi adalah akibat paparan saat bekerja. Organoklorida,
senyawa organoklorin, klorokarbon, atau hidrokarbon terklorinasi adalah
kelompok senyawa organik yang mengandung setidaknya satu atom klorin
yang terikat secara kovalen sehingga berpengaruh pada sifat kimia molekul
tersebut. Organoklorida merupakan senyawa yang berguna pada berbagai
aplikasi, tetapi beberapa diantaranya menimbulkan masalah lingkungan.
Djojosumarto (2008) menyatakan bahwa endosulfan merupakan
insektisida dan akarisida dari kelompok siklodien yang efektif untuk
mengendalikan serangga dan tungau penusuk-penghisap, pengunyah dan
pengebor pada berbagai tanaman. Kelompok siklodiena memiliki keaktifan
yang tinggi sebagai insektisida. Kelompok ini juga bersifat sangat persisten
terutama jika berada di dalam tanah. Beberapa contoh insektisida dalam
kelompok siklodiena adalah klordan, endrin, aldrin, heptaklor, dieldrin, dan
endosulfan.
2. Nama Bahan Aktif
Endosulfan menjadi senyawa yang mulai dilarang penggunaannya.
Senyawa ini merupakan turunan dari hexachlorocyclopentadiene, yaitu
senyawa yang mirip aldrin, klordan dan heptaklor yang sudah dilarang
untuk pestisida. Keadaan fisik berupa cairan berwarna kuning hingga hijau
berbau udara lembab, titik beku -11 hingga 10°C, titik lemah - 9°C dan titik
didih 242°C. Spesifikasi Endosulfan memiliki nama Senyawa Endosulfan,
Benzoepin, Endocel, Parrysulfan, Phaser, Thiodan, Thionex. Endosulfan
mempunyai namama IUPAC 6,7,8,9,10,10-Hexachloro-1,5,5a,6,9,9a-
Hexahydro-6,9-Methano-2,4,3-Benzodioxathiepine-3-Oxide.
Rumus molekul endosulfan adalah C6H6Cl6O3S dengan massa
molar 406.939 mol-1 , kepadatan : 1.745 g/Cm3 , titik Leleh : 70-100°C,
343-373°K, 158-212°F dan daya Larut dalam Air : 0,33 mg/L. Endosulfan
dinyatakan sebagai salah satu jenis pestisida paling beracun. Endosulfan
bersifat non sistemik serta bertindak sebagai racun kontak dan racun perut.
Efektif mengendalikan serangga dan tungau. LD50 oral sebesar 70 mg/kg;
LD50 dermal > 4000 mg/kg; LC50 inhalasi 0,0345 mg/l udara; NOEL 15
mg/kg diet; ADI 0,006 mg/kb bb.
3. Sasaran
Endosulfan telah digunakan dalam pertanian di seluruh dunia untuk
mengendalikan hama serangga termasuk whiteflys, kutu daun, wereng,
kumbang kentang Colorado dan cacing kubis. Karena modus unik tindakan,
hal ini berguna dalam pengelolaan resistensi,. Namun, karena tidak spesifik,
hal itu dapat berdampak negatif terhadap populasi serangga yang
menguntungkan. Hal ini, bagaimanapun, dianggap cukup beracun untuk
lebah madu, dan kurang beracun untuk lebah daripada insektisida
organofosfat.
4. Cara Masuk/kerja
Dikarenakan potensinya untuk menguap dan berpindah tempat
dalam jarak yang jauh, menyebabkan Endosulfan ditetapkan sebagai
polutan yang paling luas di dunia. Senyawa ini dapat ditemukan secara
ekstensif di air, tanah, dan udara. Endosulfan mempengaruhi lingkungan
melalui rantai makanan air dan darat yang efeknya sangat merugikan bagi
kelestarian lingkungan, karena senyawa ini telah ditemukan dalam jaringan
hewan di seluruh dunia.
Endosulfan memiliki cara kerja sebagai pestisida racun kontak dan
lambung. Pestisida ini akan bekerja dengan baik jika terkena atau kontak
langsung dengan OPT sasaran. Racun pada pestisida tersebut akan masuk
ke jaringan tubuh organisme target. Selanjutnya akan terjadi gangguan
fungsi fisiologis organisme target yang berakibat pada kematian. Untuk
jenis insektisida, penggunaan racun kontak sangat efektif untuk
mengendalikan serangga yang menetap dan tidak tersembunyi, seperti ulat,
kutu daun, dan semut. Racun ini kurang bekerja baik terhadap serangga-
serangga yang mempunyai mobilitas tinggi atau tersembunyi, seperti lalat,
kutu kebul dan belalang.
Racun yang terdapat dalam insektisida ini baru bekerja jika bagian
tanaman yang telah disemprot dimakan oleh hama. Di lambung inilah kerja
racun mulai bereaksi. Racun lambung ini biasanya berhubungan dengan
racun pestisida sistemik.
5. Kompatibilitas
Menurut Supriadi (2013) secara umum, agens hayati juga sensitif
terhadap pestisida sintetis sehingga penggunaannya secara bersamaan
dalam pengendalian hama dan penyakit perlu dihindari. Amutha et al.
(2010) menunjukkan bahwa beberapa jenis insektisida bersifat toksik
terhadap B. bassiana, walaupun toksisitasnya beragam. Misalnya,
khlorpirifos kurang toksik dibandingkan spinosad dan mimba, sedangkan
quinalfos, asetamprid, endosulfan, dan tiodikarb sedikit toksik.
Sedangkan menurut Syahri et al (2017), aplikasi pestisida cenderung
terus meningkat dalam jumlah, frekuensi, dosis dan komposisi yang
digunakan. Bahkan, hal ini diperparah lagi dengan teknik aplikasi yang
salah seperti penyemprotan lebih dari satu jenis pestisida dalam satu kali
aplikasi tanpa mempertimbangkan kompatibilitas pestisida tersebut. Hal ini
tentunya berdampak negatif terhadap lingkungan, kesehatan, sosial dan
ekonomi serta produk yang dihasilkan. Miskiyah dan Munarso (2009)
menemukan adanya residu pestisida golongan organoklorin, organofosfat
dan karbamat pada cabai merah, selada dan bawang merah di tingkat petani
pedagang, maupun pasar swalayan yang berada di Bandungan dan Brebes
Jawa Tengah serta Cianjur Jawa Barat.
6. Efek toksikologi makhluk hidup dan lingkungan
Endosulfan adalah salah satu pestisida yang paling beracun di pasar
saat ini. Endosulfan juga bertanggung jawab untuk banyak insiden
keracunan pestisida mematikan di seluruh dunia. Endosulfan juga adalah zat
xenoestrogen sintetis yang meniru atau meningkatkan efek estrogen dan
dapat bertindak sebagai sebuah pengganggu endokrin, menyebabkan
kerusakan reproduksi dan perkembangan pada hewan dan manusia.
Endosulfan adalah akut neurotoksik untuk kedua serangga dan
mamalia, termasuk manusia. US EPA mengklasifikasikan sebagai Kategori
I: “Highly akut Toxic” didasarkan pada nilai LD50 dari 30 mg / kg untuk
tikus betina, sementara Organisasi Kesehatan Dunia mengklasifikasikan
sebagai Kelas II “Cukup Berbahaya” didasarkan pada tikus LD50 dari 80
mg / kg . ini adalah saluran klorida antagonis, dan Ca2 +, Mg2 + ATPase
inhibitor. Kedua enzim yang terlibat dalam transfer impuls saraf. Gejala
keracunan akut termasuk hiperaktif, tremor, kejang, kurangnya koordinasi,
mengejutkan, kesulitan bernapas, mual dan muntah, diare, dan dalam kasus
yang parah, pingsan. Dosis serendah 35 mg / kg telah didokumentasikan
untuk menyebabkan kematian. pada manusia, dan banyak kasus keracunan
subletal telah mengakibatkan kerusakan otak permanen pekerja pertanian
dengan paparan endosulfan kronis beresiko ruam dan iritasi kulit. Akut
referensi EPA dosis untuk paparan diet untuk endosulfan adalah 0,015 mg /
kg untuk orang dewasa dan 0,0015 mg / kg untuk anak-anak. Untuk
expsoure diet kronis, EPA referensi dosis adalah 0,006 mg / (kg · hari) dan
0,0006 mg / (kg · hari) untuk orang dewasa dan anak-anak, masing-masing.
Endosulfan adalah kontaminan lingkungan di mana-mana. Bahan
kimia semivolatile dan gigih untuk proses degradasi lingkungan.
Endosulfan tunduk pada jarak transportasi atmosfer, yakni dapat melakukan
perjalanan jarak jauh dari mana ia digunakan. Dengan demikian, hal itu
terjadi dalam lingkup lingkungan banyak. Kontaminan Endosulfan dapat
ditemukan dalam makanan, seperti buah dan sayuran, produk susu dan
olahannya (mentega dan keju) serta daging (sapi, domba, babi). Selain itu,
kontaminan pada sumber air juga telah ditemukan di berbagai negara
(Afrika, Asia dan Amerika Selatan), sementara untuk Amerika Serikat,
Cina, Australia dan Afrika Barat cemaran Endosulfan ditemukan dalam ikan
dan makanan laut.
7. Contoh produk
Produk pestisida endosulfan biasanya dalam bentuk insektisida.
Contoh produk insektisida dengan endosulfan adalah Insektisida Akodan 35
EC. Insektisida ini bersifat racun kontak dan lambung, berbentuk pekatan
berwarna coklat yang dapat diemulsikan dalam air untuk mengendalikan
hama serangga pada tanaman pertanian dan perkebunan. Dapat
menyebabkan keracunan melalui mulut, kulit dan pernapasan. Berbahaya
terhadap hewan peliharaan burung dan ikan.
DAFTAR PUSTAKA

Djojosumarto, P. (2008) Panduan Lengkap Pestisida & Aplikasinya, Jakarta: PT


AgroMedia Pustaka, hal. 86
Kridanto. 2016. Insektisida kelompok siklodiena.
https://kawantaniblog.blogspot.com/2016/03/insektisida-kelompok-
siklodiena.html. Diakses pada 20 Oktober 2019
Yuanatari MGC. 2011. Dampak pestisida organoklorin terhadap kesehatan manusia
dan lingkungan serta penanggulangannya. Prosiding Seminar Nasional
Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang
Syahri, Somantri RU. 2017. Studi dampak aplikasi pestisida terhadap residu yang
ditimbulkannya pada sayuran di sumatera selatan. Prosiding Seminar
Nasional lahan Suboptimal hal 716-725
Supriadi. 2013. Optimasi Pemanfaatan Beragam Jenis Pestisida untuk
Mengendalian Hama dan Penyakit Tanaman. J. Litbang Pertanian
32(1):1-9
Miskiyah dan S.J. Munarso. 2009. Kontaminasi Residu Pestisida pada Cabai
Merah,Selada dan Bawang Merah (Studi Kasus di Bandungan dan
Brebes Jawa Tengah serta Cianjur Jawa Barat). J.Hort.19 (1):101-111
Amutha, M., J.G. Banu, T. Surulivelu, and N. Gopalakrishnan. 2010. Effect of
commonly used insecticides on the growth of white Muscardine fungus,
Beauveria bassiana under laboratory conditions. J. Biopest. 3(1 Special
Issue): 143-146