Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

“SUMBER AJARAN AGAMA ISLAM DAN METODE-METODENYA”


MAKALAH INI DISUSUN SEBAGAI TUGAS TERSTRUKTUR MATA KULIAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Dosen Pengampu :
H. Marhadi, Lc.,M.Pd.I

Disusun oleh :

Ayu Liani 219057202021005

Nur Azizah 219057202021013

Nurul Zaiti 219057202021009

Lia Nuriani 219057202021007

ADMINISTRASI BISNIS NON REGULER GANJIL

SEKOLAH TINGGI ILMU ADMINISTRASI (STIA TABALONG)

Kampus : Komplek stadion olahraga pembataan Tanjung Kec. Murung Pudak

Kab. Tabalong, telp. (0526)20202484

2019
i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................................... i

DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang..................................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 2

1.3 Tujuan Penulisan ................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................... 3

2.1 Pengertian Sumber Ajaran Islam dan metode-metodenya .................................. 3

2.2 Macam-macam Sumber Hukum Islam ................................................................ 3

2.3 Al-Qur’an dan Pengertian.................................................................................... 9

2.4 Akal Pikiran dan Ijtihad....................................................................................... 10

BAB III Penutup ............................................................................................................... 14

3.1 Kesimpulan .......................................................................................................... 14

3.2 Saran .................................................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 15

ii
KATA PENGANTAR

Dengan segala puja dan puji atas kehadirat Allah SWT Tuhan alam semesta Yang
Maha Esa kami panjatkan untuk terselasaikannya tugas makalah mata kuliah metodologi
studi Islam bahwa tentu oleh karena Ridho dan Rahmat Nya lah maka makalah ini dapat
terselesaikan tepat pada waktunya sehingga kewajiban sebagai mahasiswa terhadap mata
kuliah yang di ikutinya dapat tertunaikan.

Makalah ini adalah makalah untuk mata kuliah metodologi studi Islam dengan
judul "Sumber Ajaran Agama Islam dan metode-metodenya" yang membahas mengenai
apa saja tentang sumber ajaran agama Islam tersebut sehingga dapat memberikan
informasi atau pengetahuan bagi pembaca akan topik yang menjadi pembahasan dalam
makalah ini.

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyelesaian makalah ini baik secara langsung maupun tidak langsung
mulai dari pihak keluarga, dosen, teman-teman, serta kondisi lingkungan yang ada.
Semoga tuhan membalas segala amal perbuatan baik yang telah membantu dalam
menyelesiakan makalah ini.

Kami mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kesalahan baik yang
disengaja atau yang tidak disengaja di dalam penulisan makalah ini. Kami sebagai insan
manusia yang mempunyai rasa kelalaian dan keterbatasan yang berbeda dengan hasil apa
yang dilakukan oleh malaikat maka dari itulah saya memohon maklum yang sebesar-
besarnya kepada pembaca dan beserta hal tersebut saya meminta kritik dan saran untuk
kesempurnaan penulisan makalah di masa yang akan datang.

Tanggal, 12 September 2019

Tim Penyusun

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ajaran Islam adalah pengembangan agama Islam. Agama Islam bersumber dari
Al-Quran yang memuat wahyu Allah dan al-Hadis yang memuat Sunnah Rasulullah.
Komponen utama agama Islam atau unsur utama ajaran agama Islam (akidah, syari’ah
dan akhlak) dikembangkan dengan akal pikiran manusia yang memenuhi syarat untuk
mengembangkannya. Mempelajari agama Islam merupakan fardhu’ain, yakni kewajiban
pribadi setiap muslim dan muslimah, sedang mengkaji ajaran Islam terutama yang
dikembangkan oleh akal pikiran manusia, diwajibkan kepada masyarakat atau kelompok
masyarakat.
Allah telah menetapkan sumber ajaran Islam yang wajib diikuti oleh setiap
muslim. Ketetapan Allah itu terdapat dalam Surat An-Nisa (4) ayat 59: Artinya : “Hai
orang-orang yang beriman, taatilah (kehendak) Allah, taatilah (kehendak) Rasul-Nya, dan
(kehendak) ulil amri di antara kamu …”. Menurut ayat tersebut setiap mukmin wajib
mengikuti kehendak Allah, kehendak Rasul dan kehendak ’penguasa’ atau ulil amri
(kalangan) mereka sendiri. Kehendak Allah kini terekam dalam Al-Quran, kehendak
Rasul terhimpun sekarang dalam al-Hadist, kehendak ’penguasa’ (ulil amri) termaktum
dalam kitab-kitab hasil karya orang yang memenuhi syarat karena mempunyai
”kekuasaan” berupa ilmu pengetahuan.
Pada umumnya para ulama fikih sependapat bahwa sumber utama hukum islam
adalah Alqur’an dan hadist. Dalam sabdanya Rasulullah SAW bersabda, “ Aku
tinggalkan bagi kalian dua hal yang karenanya kalian tidak akan tersesat selamanya,
selama kalian berpegang pada keduanya, yaitu Kitab Allah dan sunnahku.” Dan
disamping itu pula para ulama fikih menjadikan ijtihad sebagai salah satu dasar hukum
islam, setelah Alqur’an dan hadist.
Berijtihad adalah berusaha sungguh-sungguh dengan memperguna kan seluruh
kemampuan akal pikiran, pengetahuan dan pengalaman manusia yang memenuhi syarat
untuk mengkaji dan memahami wahyu dan sunnah serta mengalirkan ajaran, termasuk
ajaran mengenai hukum (fikih) Islam dari keduanya.

1
1.2 Rumusan Masalah
Memaparkan sumber ajaran Islam berupa Al-Qur’an, Hadist, dan Ijtihad

1.3 Tujuan Penulisan


Agar pembaca maupun penulis mampu memahami pokok pembahasan tentang
sumber ajaran islam yaitu Al-Qur’an, Hadist, dan Ijtihad.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Sumber Ajaran Islam


A. Pengertian Agama Islam
Ada dua sisi yang dapat kita gunakan untuk memahami pengertian agama Islam,
yaitu sisi kebahasaan dan sisi peristilahan. Kedua sisi pengertian tentang Islam ini dapat
dijelaskan sebagai berikut :
Dari segi kebahasaan Islam berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata salima yang
mengandung arti selamat, sentosa dan damai. Dan kata salima selanjutnya diubah
menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian.
Senada dengan pendapat di atas, sumber lain mengatakan Islam berasal dari
bahasa Arab, terambil dari kata salimayang berarti selamat sentosa. Dari asal kata itu
dibentuk kata aslama yang artinya memelihara dalam keadaan selamat sentosa dan berarti
pula menyerahkan diri, tunduk, patuh dan taat.
Dari pengertian itu, kata Islam dekat arti kata agama yang berarti menguasai,
menundukkan, patuh, hutang, balasan dan kebiasaan.
B. Sumber Ajaran Islam
Di kalangan ulama terdapat kesepakatan bahwa sumber ajaran Islam yang utama
adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah; sedangkan penalaran atau akal pikiran sebagai alat
untuk memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah.

2.2 Macam-macam Sumber Hukum Islam


Hukum Islam didasarkan atas 4 sumber, yaitu:
1. Al-Qur’an
2. Sunnah (Hadis)
3. Ijma’ (konsensus)
4. Qiyas (analogi)

3
 Al-Qur’an
Setiap muslim meyakini bahwa Qur’an adalah kalam langsung dari Allah
SWT, sebagaimana diturunkan dan kemudian disampaikan kepada manusia oleh
Nabi Muhammad SAW. Semua sumber hukum Islam haruslah bersesuaian dengan
Quran, yang merupakan sumber utama pengetahuan dan hukum dalam Islam.
 Sunnah (Hadis)
Sunnah sendiri adalah tradisi atau praktik yang diketahui dilakukan oleh Nabi
Muhammad, yang banyak termaktus dalam litaratur hadis. Sumber hukum dari
sunnah termasuk banyak hal, baik perkataan, perbuatan atau persetujuan dari Nabi.
Semua perilaku Nabi dianggap dengan sepenuhnya merupakan pengejawan tahan isi
al-qur’an dan merupakan praktik terbaik yang bersesuaian dengan al-qur’an.
Selama masa hidup Rasulullah, keluarga Nabi dan sahabat-sahabatnya, selalu
memperhatikan tindak-tanduk dan perilaku Nabi dan kemudian membagikan atau
menyebarkannya kepada orang lain persis seperti yang mereka saksikan, baik berupa
perkataan maupun tindakan yang diambil oleh Nabi. Seperti misalnya, bagaimana
beliau bersuci, bagaimana beliau shalat dan bagaimana cara beliau melakukan
berbagai hal lainnya. Orang-orang juga kerap bertanya kepada Rasulullah secara
langsung tentang hukum berbagai permasalahan yang terjadi, dan kemudian beliau
memberikan petunjuk atau keputusan terhadap hal tersebut. Semuanya ini tersimpan
dengan baik dalam sejarah Islam yang kemudian dijadikan sumber rujukan dalam
hukum Islam kedua setelah al-quran.
Banyak isu mengenai perilaku pribadi, komunitas dan hubungan keluarga,
politik dan banyak lagi lainnya, didasarkan atas sunnah semasa kehidupan Nabi, atau
ditentukan oleh beliau dan kemudian dicatat dan diriwayatkan kembali oleh para
sahabat. Jadi secara umum, sunnah atau hadis, berfungsi menerangkan detil tentang
apa yang disampaikan al-quran secara umum.
 Qiyas (analogi)
Dalam situasi ketika sesuatu memerlukan hukum, namun tidak dijelaskan
secara gamblang dari ketiga sumber hukum di atas, maka diambillah analogi,
penalaran dan preseden hukum untuk menentukan hukum suatu kasus yang baru. Hal
ini seringkali menyangkut kasus atau suatu permasalahan dengan sebuah prinsip

4
umum dapat diterapkan pada kasus, situasi atau keadaan baru. Seperti misalnya,
bagaimana proses menentukan hukum merokok dalam Islam.

2.3 Al-Qur’an dan Pengertian


Sebagai umat islam pasti kita tahu Al-Qur’an itu apa? kita juga membacanya
setiap hari setelah sholat, atau membaca beberapa ayatnya saat sholat dan juga saat
pengajian kita juga mempelajari tentang Al-Qur’an. Sangat keterlaluan sekali jika sebagai
umat islam kita tidak tahu apa Al-Qur’an itu. Hal ini tentu bisa saja terjadi, apalagi di
zaman sekarang yang penuh dengan fitnah akhir zaman.
Karena sudah sangat banyak orang yang jarang membaca Al-Qur’an, bahkan
mungkin ada yang sudah tidak pernah membacanya. Lebih memilih membaca novel,
majalah atau cerpen dari pada membaca Al-Qur’an. Sudah banyak orang yang sudah
tidak mau lagi belajar tafsir Al-Qur’an dan masih ada banyak lagi hal-hal yang dipilih
dari pada membaca Al-Qur’an, sehingga menjadikanya tidak tahu apa itu Al-Qur’an.
Naudzubillah.
Kita semua tidak menginginkan hal itu bukan? oleh karena itu, mulai sekarang,
mulai detik ini mari bulatkan tekad untuk selalu membaca Al-Qur’an, mempelajari
maknanya, memahami dan mengamalkanya.

A. Pengetian Al-Qur’an Menurut Bahasa dan Istilah


Al-Qur’an merupakan sebuah kitab suci bagi umat islam, selain itu Al-Qur’an
juga adalah sumber hukum utama dalam ajaran agama islam. Menurut bahasa Al-Qur’an
berasal dari bahasa arab, yaitu bentuk jamak dari kata benda (masdar) dari kata kerja
qar’a-yaqra’u-qur’anan yang berarti bacaan atau sesuatu yang dapat di baca berulang-
ulang, inilah pengertian al qur’an dalam bahasa arab, dan Allah memilih bahasa arab
menjadi bahasa al-quran yaitu : dalam kosa kata bahasa arab tidak dapat dirubah walau
satu huruf saja, jika di rubah maka maknanya akan berbeda.
Jadi bisa di bilang Al-Qur’an adalah bacaan suci (membacanya bernilai ibadah
dan mendapatkan pahala), tentunya sesuai dengan tata aturan yang berlaku baik dalam
pengucapan huruf perhuruf (mahroj) ataupun tajwidnya.

5
Dan secara istilah Al-Qur’an berarti bacaan mulia yang merupakan wahyu yang di
turunkan oleh Allah untuk Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril AS dan
merupakan penutup kitab suci dari agama samawi (yang di turunkan dari langit). Al-
Qur’an adalah wahyu murni dari Allah SWT, bukan dari hawa nafsu perkataan Nabi
Muhammad SAW.
Al-Qur’an memuat aturan-aturan kehidupan manusia di dunia, sehingga Al-
Qur’an menjadi petunjuk bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa. Di dalam Al-
Qur’an terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Al-
Qur’an juga memiliki suatu kedudukan yang sangat tinggi bagi penganut agama islam,
sehingga umat islam akan sangat marah apabila ada orang atau pihak yang mencoba
melecehkan Al-Qur’an.

B. Pengertian Al-Qur’an Menurut Para Ahli Beserta Dalilnya


Berikut ini pengertian al-qur’an menurut beberapa ahli:
Muhammad Ali ash-Shabuni
Pengertian Al-qur’an adalah firman Allah swt yang tiada tandingannya, diturunkan
kepada nabi Muhammad saw penutup para nabi dan rosul dengan perantara malaikat
Jibril as, ditulis pada mushaf-mushaf kemudian di sampaikan kepada kita secara
mutawatir, membaca dan mempelajari al-qur’an adalah ibadah, dan al-qur’an di mulai
dengan surah Al-fatihah dan di tutup dengan surah An Naas.

Subhi as-Salih
Al-Qur’an adalah kalam Allah swt merupakan mukzijat yang di turunkan kepada nabi
muhammad saw ditulis dalam mushaf dan di riwayatkan dengan mutawatir serta
membacanya adalah ibadah.

Syekh Muhammad Khudari Beik


Al-Qur’an adalah firman Allah yang berbahasa arab di turunkan kepada nabi muhammad
saw untuk di pahami isinya, di sampaikan kepada kita secara mutawatir di tulis dalam
mushaf di mulai dari surat AL-fatihah kemudian di akhiri dengan surat An Naas.

6
C. Pokok Ajaran dalam isi Kandungan Al-Qur’an
 Akidah
Akidah adalah keyakinan atau kepercayaan. Akidah islam adalah keyakinan atau
kepercayaan yang di yakini kebenarannya dengan sepenuh hati oleh setiap
muslim. Dalam islam, akidah bukan hanya sebagai konsep dasar yang ideal untuk
diyakini dalam hati seorang muslim. Akan tetapi, akidah atau kepercayaan yang
diyakini dalam hati seorang muslim itu harus diwujudkan dalam amal perbuatan
dan tingkah laku sebagai seorang yang beriman.

 Ibadah dan Muamalah


Kandungan penting dalam Al-Qur’an adalah ibadah dan muamalah. Menurut Al-
Qur’an tujuan diciptakanya jin dan manusia adalah agar mereka beribadah kepada
Allah swt. Seperti yang dijelaskan dalam (Q.S Az,zariyat 51:56).
Manusia selain sebagai mahluk pribadi juga sebagai makhluk sosial. Manusia
memerlukan berbagai kegiatan dan hubungan alat komunikasi. Komunikasi
dengan Allah swt atau hablum minallah, seperti shalat, membayar zakat dan
lainnya. Hubungan manusia dengan manusia atau disebut hablum minanas, seperti
silahturahmi, jual beli, transaksi dagang, dan kegiatan kemasyarakatan. Kegiatan
seperti itu disebut kegiatan Muamallah, tata cara bermuamalah di jelaskan dalam
surah Al-Baqarah ayat 82.

 Hukum
Secara garis besar Al-Qur’an mengatur beberapa ketentuan tentang hukum seperti
hukum perkawinan, hukum waris, hukum perjanjian, hukum pidana, hukum
musyawarah, hukum perang, hukum antar bangsa.

 Ahlak
Ahlak, disamping memiliki kedudukan penting bagi kehidupan manusia, juga
menjadi barometer kesuksesan seseorang dalam melaksanakan tugasnya. Nabi
Muhammad saw telah berhasil menjalankan tugasnya menyampaikan risalah
islamiyah, antara lain di sebabkan memiliki komitmen yang tinggi terhadap ahlak.

7
Ketinggian ahlak beliau itu dinyatakan Allah swt dalam Al-Qur’an surat al-Qalam
ayat 4.
1. Kisah-kisah umat terdahulu
Kisah merupakan kandungan lain dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menaruh perhatian
penting terhadap keberadaan kisah didalamnya. Bahkan, di dalamnya terdapat satu surat
yang dinamakan Al-Qasas. Bukti lain adalah hampir semua surat dalam Al-Quran
memuat tentang kisah. Kisah para nabi dan para umat terdahulu yang diterangkan dalam
Al-Qur’an antara lain di jelaskan dalam surat Al-Furqan ayat 37-39.
2. Isyarat pengembangan ilmu pengeahuan dan teknologi
Al-Qur’an berisi banyak himbauan kepada manusia untuk menggali dan mengembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti tercantum dalam surat ar-rad ayat 19 dan al
zumar ayat 9. Selain kedua surat tersebut masih banyak lagi dasar-dasar ilmu
pengetahuan dan teknologi seperti dalam kedokteran, farmasi, pertanian dan astronomi
yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesjahteraan umat manusia.
3. Fungsi dan peran Al-Qur’an
- Fungsi
 Sebagai petunjuk atau pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan
hidup di dunia dan di akhirat.
 Sebagai rahmat atau sebuah bentuk kasih sayang dari Allah bagi umat manusia.
 Sebagai sumber pokok ajaran islam.
 Sebagai sumber ajaran islam sudah diyakini dan diakui kebenaranya oleh segenap
hukum islam.

Karena isi/kandungan Al-Qur’an sebagai sumber pokok ajaran islam dapat dibagi
menjadi 3 pembahasan yaitu:

 Akidah (keimanan)
 Ibadah
 Prinsip-prinsip syariat yang meliputi pembahasan tentang manusia, sosial,
ekonomi, musyawarah, hukum perkawinan, hukum waris, hukum perdana dan
hukum antar bengsa.
- Peran Al-Qur’an

8
 Sebagai mukzijat nabi muhammad saw. Turunya Al-Qur’an merupakan mukzijat
terbesar yang Allah karuniakan kepada nabi muhammad saw.
 Mengambil sebuah hikmah dan pelajaran dari kisah-kisah umat terdahulu. Di
dalam Al-Qur’an telah dijelaskan mengenai kisah-kisah umat terdahulu. Baik para
umat yang taat melaksanakan perintah Allah maupun mereka yang menentang
ajarannya.
 Sebagai penyembuh penyakit hati. Berbagai penyakit hati seperti takabur, serakah,
dzolim, dan dengki dapat merusak keimanan seseorang dan apabila seseorang
telah rusak atau sampai hilang keimanannya, maka manusia itu jahatnya dapat
melebihi binatang. Akan tetapi di dalam Al-Qur’an telah di jelaskan petunjuk-
petunjuk yang bisa menyembuhkan penyakit hati tersebut.
 Sebagai pembenar atau penyempurna kitab-kitab suci sebelumnya yakni Taurat,
Zabur, dan Injil.2.4 Akal Pikiran dan Ijtihad

2.4 Akal Pikiran dan Ijtihad


Menurut kebahasaan, kata Ijtihad berasal dari bahasa arab “jahada”, yang artinya
berusaha dengan sungguh – sungguh. Menurut istilah dalam ilmu fikih, ijtihad berarti
mengerahkan tenaga dan pikiran dengan sungguh – sungguh untuk menyelidiki dan
mengeluarkan hukum-hukum yang terkandung didalam Al-Qur`an dan hadis dengan syarat –
syarat tertentu.
Ijtihad menempati kedudukan sebagai sumber hukum islam setelah Al-Qur`an dan
hadis. Hadis yang dapat dijadikan dalil tentang kebolehan berijtihad adalah sabda Rasulullah
SAW yang artinya : “ Apabila seorang hakim didalam menjatuhkan hukum berijtihad, lalu
ijtihadnya itu benar, maka ia mendapat dua pahala. Apabila ijtiadnya itu salah, maka ia
memperoleh satu pahala.” (H.R. Bukhari dan Muslim ). menjadi pegangan bagi umat,
seorang mujtahid harus memenuhi beberapa persyaratan. Persyaratan pokok untuk menjadi
mujtahid adalah :
1. Memahami Al-Quran dan asbabun nuzul-nya (sebab – sebab turunnya ayat – ayat
Al-Qur`an ), serta ayat – ayat nasikh ( yang menghapus hukum ) dan mansukh
(yang dihapus).

9
2. Memahami hadis dan sebab-sebab munculnya hadis – hadis, serta memahami
hadis – hadis nasikh dan mansukh.
3. Mempunyai kemampuan yang mendalam tentang bahasa arab.
4. Mengetahui tempat – tempat ijmak.
5. Mengetahui usul fikih.
6. Mengetahui maksud – maksud syariat.
7. Memahami masyarakat dan adat istiadatnya.
8. Bersifat adil dan taqwa.

Selain kedelapan persyaratan pokok tersebut beberapa ulama juga menambahkan tiga
persyaratan lagi, yaitu :
a) Mendalami ilmu ushuluddin ( ilmu tentang akidah islam ).
b) Memahami ilmu mantik ( logika ).
c) Mengetahui cabang – cabang fikih.

Fungsi ijtihad adalah untuk menetapkan hukum sesuatu, yang tidak ditemukan dalil
hukumnya secar pasti didalam Al-Quran dan hadis. Masalah - masalah yang sudah jelas
hukumnya, karena telah ditemukan dalilnya secara pasti di dalam Al-Qur`an dan hadis
seperti kewajiban beriman kepada rukun iman yang enam, kewajiban melaksanakan rukun
islam yang lima, maka masalah – masalah tersebut tidak boleh di ijtihadkan lagi. Ditinjau
dari segi sejarah ijtihad, ijtihad telah dilakukan semenjak Rasulullah SAW masih hidup dan
terus berlanjut setelah beliau wafat.
Bentuk bentuk ijtihad yang biasa digunakan oleh para mujtahid adalah :
 Ijma`, adalah kebulatan pendapat semua ahli ijtihad pada suatu masa atas suatu
masalah yang berkaitan dengan syariat.
Contoh : kesepakatan ulama atas keharaman minyak babi yang di-qiyaskan atas
keharaman dagingnya.
 Qiyas (Ra`yu), yaitu penetapan hukum atas suatu perbuatan yang belum ada
ketentuannya, berdasarkan sesuatu yang sudah ada ketentuan hukumnya dengan
memperhatikan kesamaan antara kedua hal itu.

10
Contoh : berdasarkan Surah Al-Jumu’ah ayat 9, jual beli dilarang pada waktu
sudah dikumandangkan adzan pada hari jum’at, karena jual beli itu bisa
mengelahkan sholatnya. Hanya saja larangan ini tidak sampai ketingkat haram,
tetapi makruh. Demikian pula dengan kegiatan bisnis dan nonbisnis diqiyaskan
hukumnya dengan jual beli, karena sama-sama bisa melengahkan sholat.
 Istishab, yaitu melanjutkan berlakunya hukum yang telah ada dan yang telah
ditetapkan karena adanya suatu dalil, sampai ada dalil lain yang mengubah
kedudukan hukum tersebut.
Contoh : si A adalah pemilik rumah atau mobil ini entah itu melalui proses jual
beli atau pewarisan, maka selama kita tidak menemukan ada dalil atau bukti yang
merubah kepemilikan itu, kita tetap punya keyakinan dan menetapkan bahwa si A
yang menjadi pemilik mobil atau rumah itu hingga sekarang atau nanti.
 Maslahah Mursalah, yaitu kemaslahatan atau kebaikan yang tidak disinggung –
singgung syara` untuk mengerjakan atau meninggalkannya.
Contoh : membuang barang yang ada di atas kapal laut tanpa izin yang punya
barang, disebabkan ada gelombang besar yang mengakibatkan kapal oleng. Hal
tersebut dilakukan demi kemaslahatan seluruh penumpang dan menolak bahaya.
 Urf, yaitu kebiasaan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang baik
dalam kata – kata atau perbuatan.
Contoh : ungkapan “daging” yang berarti daging sapi, padahal kata-kata “daging”
mencangkup seluruh daging yang ada. Apabila seseorang mendatangi penjual
daging, sedangkan penjual daging itu memiliki bermacam-macam daging, lalu
pembeli mengatakan “saya beli daging 1 kg” pedagang itu langsung mengambil
daging sapi, karena kebiasaan masyarakat setempat telah mengkhususkan
penggunaan kata daging pada daging sapi.
Beberapa fatwa Majelis Ulama Indonesia yang merupakan hasil ijtihad mereka, dimasa sekarang
antara lain :
o Mengikuti natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram.
o Memakan daging kelinci hukumnya halal.

11
o Penulisan kitab Suci AL-Qur`an dengan huruf selain arab, karena mengikuti
pendapat yang membolehkan, dan dianggap sangat perlu, harus dibatasi sekedar
hajat dan ditulis disamping huruf arab aslinya.
o Penggunaan pil anti haid untuk kesempurnaan ibadah haji hukumnya mubah
(boleh) sedangkan untuk mencukupi puasa bulan ramadhan sebulan penuh
hukumnya makruh. Tetapi bagi wanita yang sukar meng-qada puasanya pada hari
lain , hukumnya mubah. Selain itu penggunaan pil anti haid selain untuk hal - hal
tersebut di atas, hukumnya tergantung pada niatnya. Bila untuk perbuatan yang
menjurus kepada pelanggaran hukum agama, hukumnya haram.
o Vasektomi dan tubektomi termasuk usaha pemandulan, karena itu vasektomi dan
tubektomi hukumnya haram.
o Seseorang yang semasa hidupnya berwasiat akan menghibahkan kornea matanya,
sesudah wafatnya dengan diketahui dan disetujui dan disaksikan oleh ahli
warisnya, wasiat itu dapat dilaksanakan dan harus dilakukan oleh ahli bedah.
Menurut ajaran Islam manusia dibekali Allah dengan berbagai perlengkapan yang
sangat berharga antara lain akal, kehendak, dan kemampuan untuk berbicara. Dengan
akalnya manusia dapat membedakan antara yang benar dengan yang salah, yang baik
dengan yang buruk, antara kenyataan dengan khayalan. Dengan mempergunakan akalnya
manusia akan selalu sadar dan dapat memilih jalan yang dilaluinya, membedakan mana yang
mutlak mana yang nisbi. Karena manusia bebas menentukan pilihannya, ia dapat dimintai
pertanggungan jawab mengenai segala perbuatannya dalam memilih sesuatu.
Perkataan al-’aqal dalam bahasa Arab berarti pikiran dan intelek. Di dalam bahasa
Indonesia pengertian itu dijadikan kata majemuk akal pikiran. Perkataan akal dalam bahasa
asalnya dipergunakan juga untuk menerangkan sesuatu yang mengikat manusia dengan
Tuhan. Akar kata ’aqal mengandung makna ikatan.
Sebagai sumber ajaran yang ketiga, kedudukan akal pikiran manusia yang memenuhi
syarat penting sekali dalam sistem ajaran Islam. Sumber ajaran Islam ini biasa disebut
dengan istilah ar-ra’yu atau sering juga disebut ijtihad. Namun makna ijtihad sendiri
sebenarnya adalah usaha yang sungguh-sungguh yang dilakukan oleh seseorang atau
beberapa orang yang mempunyai ilmu pengetahuan dan pengalaman tertentu yang
memenuhi syarat untuk mencari, menemukan dan menetapkan nilai dan norma yang tidak

12
jelas atau tidak terdapat patokannya di dalam Al-Quran dan Al-Hadis. Ia merupakan suatu
proses, karena itu ijtihad dapat dilakukan bersama-sama oleh beberapa orang (yang hasilnya
menjadi ijma’ atau konsensus dan dapat pula dilakukan oleh orang tertentu yang hasilnya
menjadi qiyas atau analogi).
Sebagai hasil ketekunan keilmuwan muslim mempelajari Al-Quran dan Al-Hadis
(sebagai sumber utama agama dan ajaran Islam) dan kemampuan mereka mempergunakan
akal pikiran atau rakyu melalui ijtihad, mereka telah berhasil menyusun berbagai ilmu dalam
ajaran Islam seperti ilmu tauhid atau ilmu kalam yang (kini) sering disebut dengan istilah
teologi, ilmu fikih, ilmu tasawuf dan ilmu akhlak.
Di samping itu mereka juga telah berhasil menyusun norma-norma dan seperangkat
penilaian mengenai perbuatan manusia dalam hidup dan kehidupan, baik dalam hidup
pribadi maupun di dalam hidup kemasyarakatan. Sistem penilaian mengenai perbuatan
manusia yang diciptakan oleh ilmuwan muslim itu, dalam kepustakaan Indonesia dikenal
dengan nama al-khamsah (lima kategori penilaian, lima kaidah atau sering disebut juga lima
hukum dalam Islam).
Menurut sistem al-ahkam al-khamsah ada lima kemungkinan penilaian mengenai benda
dan perbuatan manusia. Penilaian itu menurut Hazairin mulai dari ja’iz atau mubah atau
ibahah. Ja’iz adalah ukuran penilaian atau kaidah kesusilaan (akhlak) pribadi, sunat dan
makruh adalah ukuran penilaian bagi hidup kesusilaan (akhlak) masyarakat, wajib dan
haram adalah ukuran penilaian atau kaidah atau norma bagi lingkungan hukum duniawi.
Kelima kaidah ini berlaku di dalam ruang lingkup keagamaan yang meliputi semua
lingkungan itu. Pembagian ke alam ruang lingkup kesusilaan, baik pribadi maupun
perseorangan. Ukuran penilaian tingkah laku ini dikenakan bagi perbuatan-perbutan yang
sifatnya pribadi yang semata-mata diserahkan kepada pertimbangan dan kemauan orang itu
sendiri untuk melakukannya.

13
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Mempelajari agama Islam merupakan fardhu’ain, yakni kewajiban pribadi setiap
muslim dan muslimah, sedang mengkaji ajaran Islam terutama yang dikembangkan oleh akal
pikiran manusia, diwajibkan kepada masyarakat atau kelompok masyarakat.Sumber ajaran
agama islam terdiri dari sumber ajaran islam primer dan sekunder. Sumber ajaran agama
islam primer terdiri dari al-qur’an dan as-sunnah (hadist), sedangkan sumber ajaran agama
islam sekunder adalah ijtihad.

3.2 Saran

Sebelum kita mempelajari agama islam lebih jauh, terlebih dahulu kita harus
mempelajari sumber-sumber ajaran agama islam agar agama islam yang kita pelajri sesuia
dengan al-qur’an dan tuntunan nabi Muhammad SAW yang terdapat dalam as-sunnah
(hadist).

14
DAFTAR PUSTAKA

Faridl, Miftah dan Syihabudin, Agus —Al-Qur’an, Sumber Hukum Islam yang Pertama,
Penerbit Pustaka, Bandung, 1989 M.

Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, 2001

Pengetahuan Dasar tentang Pokok-pokok Ajaran Islam (A/B) oleh Mh. Amin Jaiz

Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas

http://www.hikmatun.wordpress.com/pengertianAl-Qur’an

Htp\\www.hikmatun.wordpreess.com\Pengertian al-quran.

Al-Qur'an dan terjemahannya,1971,Saudi Arabia.

Shihab Quraish M, Membumikan Alquran

Ismail Syuhudi,Ilmu Hadist

Ijtihad,www.wikipedia.com.

https://erudisi.com/4-macam-sumber-hukum-islam

15
1