Anda di halaman 1dari 51

PENDEKATAN CLINICAL PATHWAY

DALAM PRAKTIK
KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

(APLIKASI DALAM PRAKTIKUM LABORATORIUM


MAHASISWA KEPERAWATAN)

Hammad, S.Kep, Ns.M.Kep

CV RADIUS
MADIUN
ISBN 978-602-73544-6-3
2016

2
PENDEKATAN CLINICAL PATHWAY
DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN
GAWAT DARURAT
(APLIKASI DALAM PRAKTIKUM LABORATORIUM MAHASISWA KEPERAWATAN)

Penulis :
Hammad, S.Kep, Ns., M.Kep

Penerbit:
RADIUS

Madiun, 2016

i
PENDEKATAN CLINICAL PATHWAY DALAM PRAKTIK
KEPERAWATAN GAWAT DARURAT
(APLIKASI DALAM PRAKTIKUM LABORATORIUM MAHASISWA
KEPERAWATAN)
Penulis :
Hammad, S.Kep, Ns., M.Kep.

ISBN 978-602-73544-6-3

Editor:
Dr. Yessy Dessy Arna, S.Kp., M.Kep.Sp.Kom

Desain sampul dan tata letak:


Heru Santoso Wahito Nugroho, M.M.Kes

Penerbit:
RADIUS
Jl. Gegonomulyo J-5, Madiun, Jawa Timur
Telepon: 085646641008, 085853252665, 081554257919
E-mail: cvradius@gmail.com

Edisi I, cetakan I tahun 2016

Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang


Dilarang memperbanyak isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur ke Hadirat Allah SWT dan juga Salam Kepada Sayyidina
Rasulullah SAW atas selesainya penyusunan Buku Panduan Praktek Gawat Darurat untuk
Mahasiswa Keperawatan berdasarkan Clinical Pathway yang telah baku dan digunakan di
berbagai institusi pelayanan kegawadaruratan di berbagai negara.
Clinical Pathway dalam Keperawatan Gawat Darurat merupakan algoritma atau
urutan-urutan tindakan yang harus diikuti dalam suatu tindakan keperawatan. Kasus gawat
darurat memerlukan kedisiplinan tenaga kesehatan atau penolong dalam mengikuti
algoritma ini karena dengan mengikuti algoritma ini kemungkinan pasien untuk tertolong
akan lebih besar dan di sisi lain merupakan etik legal yang akan melindungi tenaga
keperawatan/kesehatan/penolong dari kelalaian dan sanksi hukum. Clinical Pathway ini
juga dibuat tidak sembarangan tetapi melibatkan para ahli/pakar di bidangnya dan
berdasarkan hasil kajian riset selama bertahun-tahun.
Buku panduan ini dibuat dengan tujuan memudahkan mahasiswa dan dosen dalam
melakukan tindakan keperawatan gawat darurat di laboratorium praktek keperawatan
sehingga mempunyai kesamaan persepsi dan langkah – langkah tindakan gawat darurat.
Selain juga memudahkan dalam memberikan penilaian terhadap keberhasilan mahasiswa
dalam melakukan tindakan dan sebagai pedoman dosen dalam keperluan evaluasi
pembelajaran.
Akhir kata buku ini merupakan edisi pertama yang masih harus banyak
disempurnakan dan mempunyai banyak kelemahan. Saran dan kritik membangun sangat
diperlukan dalam pengembangan buku panduan ini.

Banjarbaru, 17 September 2016

Penulis

iii
DAFTAR ISI

Judul Luar ...................................................................................................................i


Judul Dalam ................................................................................................................ii
KATA PENGANTAR ..................................................................................................... iii
DAFTAR ISI ................................................................................................................... iv
RESUSITASI JANTUNG PARU DEWASA .....................................................................1
RESUSITASI JANTUNG PARU PADA BAYI / ANAK...................................................6
PENGGUNAAN AUTOMATED EXTERNAL DEFIBRILATOR (AED) .....................11
PENANGANAN CHOKING PADA BAYI /ANAK ........................................................17
PENANGANAN TERSEDAK (CHOKING) PADA ORANG DEWASA ........................20
SYOK ANAFILAKTIK ...................................................................................................24
PENANGANAN SERANGAN ASMA BERAT ..............................................................27
PEMASANGAN NECKCOLAR ......................................................................................31
PEMERIKSAAN TINGKAT KESADARAN .................................................................34
PENGAMBILAN DARAH ARTERI ...............................................................................40
REFERENSI ....................................................................................................................44
BIODATA PENULIS ......................................................................................................46

iv
RESUSITASI JANTUNG PARU DEWASA

Pengertian

Resusitasi jantung Paru atau Cardiopulmonar Resuscitation (CPR) merupakan


tindakan yang perlu dilakukan oleh tenaga kesehatan dalam menangani kasus emergensi
pada sistem kardiovaskuler dan pernafasan (American Red Cross, 2016). Usaha ini
dilakukan dalam rangka menormalkan kembali kemampuan bernafas, sirkulasi dan sistem
persarafan yang sebelumnya abnormal dengan memberikan kompresi jantung dan paru
(AHA, 2015).

Indikasi

Henti Jantung dan atau Henti Nafas

1
Clinical Pathway CPR :

1. Algoritma Pertolongan dari American Heart Association (2015)

sumber : American Hearth Association (2015)

2
Perbedaan penting urutan CPR dalam AHA (2010) dan AHA (2015):

AHA 2010 AHA (2015)

Bantuan : teriakan minta tolong Bantuan : bisa ditambah dengan


penggunan media sosial/alat digital (hp
dll) tanpa meninggalkan korban
CPR awam dilakukan hanya pada CPR awam harus memberikan
pasien yang jatuh mendadak dengan kompresi dengan atau tanpa bantuan
bantuan operator operator
Urutan pertolongan : A-B-C Urutan pertolongan : C-A- B
Kompresi : minimum 100x/menit Kompresi : 100-120x/menit
Penekanan : minimum 2 inci (5cm) Penekanan : minimum 2 inci (5cm) tapi
tidak boleh lebih 2.4 inci (6 cm).

2. Algoritma Pertolongan dari European Resuscitation Council (2015)

sumber : European Resuscitation Council (2015)

3
Perbedaan Pertolongan CPR di Rumah Sakit dan Luar Rumah Sakit :

sumber : American Hearth Association (2015)

Alat dan Bahan dalam Tindakan CPR Dewasa :

- Ambubag Dewasa (Adult)


- OPA/NPA ukuran 3,4 atau 5
- Intubation Set ( STATIC)

4
Prosedur Tindakan

Selama mendemostrasikan keterampilannya, apakah Nilai


peserta melakukan
No Keterampilan Indikator Ketercapaian 1 2 3 4
KPK
1 Menampilkan Amankan pasien
prosedur Kaji Respon pasien
Circulation, Call for Help (teriak minta
Airway & tolong)
Breathing Aktifkan sistem tanggap darurat
Ambil AED atau minta orang
mengambilnya
Circulation : cek nadi karotis
(10 detik)
Cek dan Bebaskan Jalan Nafas
Bila Nadi tidak ada : Kompresi
Jantung 5 siklus 30:2 selama 2
menit
Bila Nadi ada, tapi nafas tidak
normal/tidak ada : Memberikan
bantuan nafas 10-12x/menit
selama 2 menit atau 1x nafas
buatan dalam 5-6 detik
Setelah 2 menit (2 siklus) cek
nadi
Hentikan tindakan bila:
- pasien sadar
-nafas dan nadi pasien spontan
-pasien dinyatakan meninggal
-penolong kelelahan
2 Menampilkan Menentukan lokasi kompresi
tindakan yang dengan tepat (2-3 jari diatas px)
tepat Melaksanakan kompresi dengan
tehnik tepat (5 siklus) ; minimal
2 inci (5 cm).
Melakukan tindakan chin lift,
finger sweep
Tidak melakukan head tilt, neck
lift
Memberikan nafas buatan
dengan irama dan teknik tepat
NILAI TOTAL
Tanda Tangan Peserta ....................................... Tanggal ....................

TandaTangan Pembimbing........................................Tanggal...................

5
RESUSITASI JANTUNG PARU PADA BAYI / ANAK

Pengertian

Paediatric Arrest / Apnea adalah kondisi dimana bayi/anak mengalami henti jantung dan
atau henti nafas baik diakibatkan kondisi saat bayi lahir atau kondisi tertentu yang
mengakibatkan gangguan pada sistem pernafasan dan jantung. Pertolongan secara
langsung dengan tepat dan cepat akan dapat menyelamatkan bayi/anak dari gangguan lebih
lanjut sistem cardiorespiratory (ERC,2015).

Indikasi

- henti nafas
- henti jantung

6
Clinical Pathway CPR :

1. Algoritma Pertolongan Paediatric Cardiac Arrest dari American Heart Association


(2015)

sumber : American Hearth Association (2015)

7
2. Algoritma Pertolongan Paediatric Arrest dari European Resuscitation Council
(2015)

Sumber : ERC (2015)

8
Alat dan Bahan dalam Tindakan CPR Bayi/Anak :

- Ambubag Dewasa (Child)


- OPA/NPA 1 atau 2.
- Intubation Set ( STATIC)

Prosedur Tindakan

Selama mendemostrasikan keterampilannya, apakah Nilai


peserta melakukan
No Keterampilan Indikator Ketercapaian 1 2 3 4
KPK
A Menampilkan Amankan anak dari lingkungan
prosedur berbahaya
Circulation, Kaji Respon anak
Airway & Call for Help (teriak minta tolong)
Breathing Aktifkan sistem tanggap darurat
Ambil AED atau minta orang /
penolong kedua mengambilnya
Circulation : cek nadi karotis (10
detik)
Cek dan Bebaskan Jalan Nafas
Bila Nadi tidak ada : Kompresi
Jantung 5 siklus 30:2 selama 2
menit.Bila penolong kedua datang
15:2
Bila Nadi ada, tapi nafas tidak
normal/tidak ada : Memberikan
bantuan nafas 12-20x/menit selama
2 menit atau 1 x nafas buatan
setiap 3-5 detik
Setelah 2 menit (2 siklus) cek nadi
Bila AED tersedia dan gambaran
EKG tepat, lakukan terapi kejut
AED tersedia tapi gambaran EKG
tidak memungkinkan : lanjutkan
CPR
Hentikan tindakan bila:
- pasien sadar
-nafas dan nadi pasien spontan
-pasien dinyatakan meninggal
-penolong kelelahan
B Menampilkan Menentukan lokasi kompresi
tindakan yang dengan tepat
tepat Bayi :garis imajiner papilla
mamae, pertengahan sternum
Anak : 1 jari di atas px

9
Melaksanakan kompresi dengan
tehnik tepat.
Bayi : dengan 2-3 jari/ibujari ;
kedalaman 1 1/2 inci (4 cm)
Anak : dengan 1 telapak tangan ;
kedalaman sekitar 2 inci (5 cm)
Melakukan tindakan chin lift,
finger sweep
Tidak melakukan head tilt, neck lift

Memberikan nafas buatan dengan


irama dan teknik tepat
NILAI TOTAL

Tanda Tangan Peserta ....................................... Tanggal ....................


Tanda Tangan Pembimbing.................................Tanggal..................

10
PENGGUNAAN AUTOMATED EXTERNAL DEFIBRILATOR (AED)

Pengertian

Defibrilasi merupakan salah satu tahap penting dalam urutan tindakan kegawatdaruratan
untuk resusitasi korban serangan jantung mendadak ( Sudden Cardiac Attack ) . urutan ini ,
atau ' rantai hidup ' , dimulai dengan memanggil layanan darurat sesegera mungkin . Tahap
kedua adalah menyediakan cardiopulmonary dasar resusitasi ( kompresi dada diselingi
dengan napas penyelamatan ) untuk menjaga korban hidup sampai Tahap ketiga (
defibrilasi ) dapat dilakukan . Defibrillator eksternal otomatis ( AED ) merupakan tindakan
paling penting dalam menyelematkan pasien SCA . Perangkat ini sekarang tersedia secara
luas dan diletakkan di tempat – tempat umum seperti di bandara penerbangan, pelabuhan,
terminal bis dan tempat umum lainnya (Resuscitation Council UK, 2015).

Sumber : http://onemedhealthcare.com

Tujuan
Menghilangkan aritmia ventrikel yang spesifik pada henti jantung dan kelainan organic
jantung lainnya

11
Indikasi
1. Fibrilasi ventrikel
2. Takikardia ventrikel tanpa denyut

Kontraindikasi
1. Intoksikasi digitalis.
Fibrilasi ventrikel dapat terjadi walaupun dilakukan kardioversi sinkron, Stimulasi
cepat atrium dengan pemacu temporer(TPM) dapat merubah atritmia supraventrikular.
2. Penyakit sistem konduksi. Blok atrioventrikular dipasang profilaktik Temporer Pace
Maker (TPM).
3. Pasien dengan tidak mampu bertahan pada irama sinus
4. Fibrilasi atrial yang telah lama atu bertahun.
5. Kardioversi dengan fibrilasi atrial cepat berulang, dengan dosis kuinidin profilaktik.
6. Post operasi baru katup jantung, kardioversi ditunda 10-14 hari, TPM dapat
menghentikan takiaritmia..

Prinsip Prosedur
1. Pemilihan besarnya energi dan mode pengoperasian
2. Pengisian energi (charge) pada kapasitor
3. Pembuanganenergidarikapasitorkepasien (discharge).

Metode Defribilator
1. Asinkron
Pemberian shock listrik jika jantung sudah tidak berkontraksi lagi, secara manual setelah
pulsa R.
2. Sinkron
Pemberian shock listrik harus disinkornkan dengan signal ECG dalam keadaan berfibrasi,
jadi bila tombol discharge ditekan kapanpun maka akan membuang setelah pulsa R secara
otomatis.

12
CLINICAL PATHWAY

Sumber : American Heart Association (2015)

13
Sumber : European Resuscitation Council (2015)

14
Alat dan Bahan
1. Defibrilator eksternal otomatis atau defibrillator standar dengan pemantau jantung
2. Elektroda EKG
3. Jel kondutif, bantalan jel dua uh atau elektroda defibrillator berperekat sekali pakai.

Prosedur Pelaksanaan

Selama mendemontrsikan keterampilannya apakah peserta NILAI


melakukan 1 2 3 4

1 Start CPR
2 Beri Oksigen 100 %
3 PAsang Monitor EKG
2 Kaji gelombang EKG : Shockable/Non Shockable
3 Gelombang EKG PEA/Asystol : tidak shockable ; lakukan
CPR 2 menit / 5 siklus
Berikan Efinefrin setiap 3-5 menit
4 Gelombang EKG VF/VT : shockable 120 J ;
lanjutkan lakukan CPR 2 menit / 5 siklus

Shockable : Pegang peddic 1 dengan tangan kiri, letakkan


pada daerah mid sternumk dan paddle 2 dengan
tangan kanan pada daerah mid aksila
Sambil mengatur letak kedua paddle, beri aba-aba agar
staff yang lain tidak ada yang menyentuh pasien
ataupun bad pasien
5 Kaji Gelombang EKG : Shockable/Non Shockable
6 Bila terdengar tanda ready dan mesin defibrilator, tekan
tombol DC shock dengan jempol agar arus masuk
dengan baik
7 Amati EKG monitor, bila tidak ada perubahan lanjutkan
dengan memberi watt second yang lebih tinggi (120 J
» 200 J » 300 J » 360 J.)
8 Lanjutkan CPR (tidak boleh berhenti)
9 Pasang IV Access
10 Berikan Epinefrin 1 mg setiap 3-5 menit
11 Cek EKG ; Shockable : Ulangan ke -2 ; bila gambaran
EKG masih VF/VT
12 Berikan Efinefrin setiap 3-5 menit
13 Lakukan Intubasi
14 Cek EKG ; Shockable : Ulangan ke -3 ; bila gambaran
EKG masih VF/VT
15 Berikan Amiodarone 1st dosis awal 300 mg Iv
16 Jika tidak ada tanda/gejala ROSC (Spontan Sirkulasi)

15
lanjutkan ke prosedur PEA/Asystole
17 ROSC : rujuk ke Post Cardiac Arrest Care / ICCU/ICU

18 Setiap perubahan gambaran EKG harus di print


Fase Terminasi
1 Evaluasi respon pasien
2 Berikan reinforcement positives
3 Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
4 Dokumentasi
NILAI TOTAL

Tanda Tangan
Peserta…………………………..Tanggal……………………………
….
Tanda Tangan
Pembimbing……………………..Tanggal………………………….....
...

16
PENANGANAN CHOKING PADA BAYI /ANAK

Pengertian
Tersedak (choking) pada anak merupakan suatu kondisi masuknya benda asing
dalam jalan nafas atas sehingga menimbulkan gawat nafas ; Ketika benda asing
memasuki saluran napas anak bereaksi segera dengan batuk dalam upaya untuk
mengusir itu . Batuk spontan cenderung lebih efektif dan lebih aman daripada
manuver penyelamat mungkin melakukan . Namun, jika batuk tidak hadir atau tidak
efektif , dan objek -benar menghalangi jalan napas , anak akan menjadi sesak napas
cepat dimana kondisi ini sangat berbahaya dan dalam waktu cepat akan
mengakibatkan kematian (Resuscitation Council, 2015).

Sumber : A.D.A.M (2016)

Penanganan tersedak untuk bayi tentunya berbeda dengan anak yang berusia lebih
dari 1 tahun. Kita tidak bias melakukan penekanan perut (Heimlich Manuever) pada
bayi karena akan mencederai organ dalam yaitu hati. Penanganan tersedak untuk

17
bayi terdiri atas kombinasi penekanan data (chest thrust) dan tepukan punggung
(back slap)

Tujuan
Mengeluarkan benda asing yang masuk kedalam jalan nafas bayi

Indikasi
Pada bayi dibawah 1 tahun yang tersedak benda asing kedalam jalan nafas

Clinical Pathway Choking pada Pediatrik


Assess severity

Ineffective cough Effective cough

Encourage cough Continue to


check for deterioration to
ineffective cough or until
Unconscious Conscious obstruction relieved
Open airway5 breaths 5 back blows5
Start CPR thrusts(chest for

Sumber : Resuscitaion Council UK (2015)

Alat dan Bahan


OPA/NPA
Oksigen

18
Prosedur Pelaksanaan
Selama mendemontrsikan keterampilannya NILAI
apakah peserta melakukan 1 2 3 4
A.Fase Orientasi
1 Amankan pasien ; Call for help
2 Mengkaji : menanya pasien (BSCC : Breathe,
Speak, Cry, Cough)
B. Fase Kerja
1 Membuka pakaian bayi/anak
2 Menggendong bayi posisi telungkup diatas
pangkuan : kepala lebih rendah dari kaki :
menyangga kepala dan rahang bayi tanpa
menekan lehernya
3 Memberi 5 x tepukan dipunggung antara dua
tulang belikat
4 Membalik posisi bayi sehingga terlentang
dengan kepala lebih rendah dari kakinya
5 Melakukan chest thrust dengan 2 jari
menekan pada tengah sternum sebanyak 5
kali (pada bayi > 1 tahun dengan menekan
abdominal).
6 Melakukan berulang langkah 3-5 sampai
benda assing keluar
C. Fase Terminasi
1 Menilai respon pasien
2 Mamasang oksigen kalau perlu
3 dokumentasi
NILAI TOTAL

Tanda Tangan
Peserta……………………………………..Tanggal………………….

Tanda Tangan
Pembimbing………………………….……Tanggal…………………

19
PENANGANAN TERSEDAK (CHOKING) PADA ORANG DEWASA

Pengertian

Tersedak (choking) adalah penyebab paling umum keempat kematian yang tidak disengaja
selain cedera yang diakibatkan sumbatan pada jalan nafas. Kematian ini biasanya yang
memuncak pada ekstrem usia, dengan anak-anak dan orang tua memiliki tingkat terbesar
dari tersedak fatal. Obstruksi pada jalan ini merupakan “True Emergency” pada orang
dewasa dan mengakibatkan kematian sebanyak 3.3 %. Penggunaan Haemlich Manuver
seringkali berhasil mengatasi masalah ini (Soroudi, 2007).

Tujuan

Membebaskan jalan nafas dari benda asing yang mengakibatkan sumbatan jalan nafas
parsial /total

Indikasi

Masalah pada BSC = Breath, Communication, Cough akibat benda asing menyumbat
saluran nafas.

20
Clinical Pathway Choking pada Dewasa

Sumber : Resuscitaion Council UK (2015)

21
Prosedur Tindakan

No Selama mendemostrasikan keterampilannya, Nilai


apakah peserta melakukan 1 2 3 4

1 Kaji tanda – tanda choking :masalah BSSC


(Breathe, Speak,Cry, Cough)
2 Amankan pasien ; Call for help
3 Dengan menahan dada pasien, berikan pukulan
pada punggung belakang (back blows) sebanyak 5
kali pukulan
4 Bila gagal, berikan abdominal thrusts sebanyak 5
kali :
-Berdiri di belakang korban. Posisikan satu kaki
diantara kaki korban
-Tentukan lokasi:
• Letakkan lengan melingkari perut korban dan
posisikan di umbilicus
• Dengan satu tangan letakkan 2 jari di atas
umbilicus
• Buat kepalan dengan tangan lainnya
• Letakkan sisi ibu jari kepalan di abdomen tepat
di atas 2 jari tadi
• Lepaskan 2 jari, namun pertahankan kepalan
tangan di abdomen
-Doyongkan badan korban ke depan dan
genggamlah kepalan tangan dengan tangan yang
lainnya
-Berikan hentakan mantap ke dalam atas
-Cek apakah benda asing bias keluar tiap set
hentakan yang terdiri dari 5 hentakan

• Bila masih gagal, lakukan kembali back blows.


Lakukan maksimal 5 siklus

Ibu Hamil :
• Letakkan lengan di bawah ketiak korban
melingkari dada
• Buat kepalan dengan satu tangan
• Letakkan sisi ibu jari kepalan di tengah-tengah
tulang dada
Genggamlah kepalan tangan dengan tangan yang
lainnya
Bayi :

Gendonglah bayi dengan posisi Anda duduk

22
atau berlutut.
Buka pakaian bayi.
Gendong bayi dengan posisi wajah ke
bawah telungkup di atas pangkuan tangan
Anda. Buat kepala bayi lebih rendah dari
kakinya. Sangga kepala dan rahang bawah
bayi menggunakan tangan Anda (hati-hati
untuk tidak menekan leher bayi, karena ini
akan menyebabkan tersumbatnya saluran
napas.
Berikan 5 kali tepukan di punggung
(tepuklah dipunggung, antara 2 tulang
belikat bayi, JANGAN menepuk di
tengkuk!). Gunakan pangkal telapak tangan
Anda ketika memberikan tepukan.
Setelah memberikan 5 kali tepukan
punggung, sanggalah leher belakang bayi
Anda dengan tangan dan balikkan tubuh
bayi sehingga dalam posisi terlentang. Buat
posisi kepala bayi lebih rendah dari
kakinya.
Lakukan 5 kali penekanan dada (lokasi
penekanan sama dengan posisi penekanan
dada pada proses CPR yaitu di tengan-
tengan tulang dada/ di bawah garis imajiner
antara 2 puting susu bayi). Hanya gunakan2
jari saja (jari telunjuk dan jari tengah untuk
melakukan chest thrust.
Ulangi langkah No. 4,5,6 di atas sampai
benda asing keluar dari mulut bayi atau bayi
menjadi tidak sadar

6 Tindakan dihentikan bila :


- Pasien bernafas
- Pasien batuk dan mengeluarkan benda asing
- Pasien tidak sadar
NILAI TOTAL

23
SYOK ANAFILAKTIK

Pengertian

Syok Anafilaktik merupakan suatu keadaan yang mengancam jiwa yang diakibatkan
adanya reaksi aleri terhadap bahan – bahan allergen dan berhubungan dengan adanya
hipotensi pada korban/pasien (Couwel, et.al; 2006). Anafilaksis adalah , berpotensi fatal ,
reaksi sistem multiorgan akut yang disebabkan oleh pelepasan mediator kimia dari sel mast
dan basofil . Bentuk klasik melibatkan sensitisasi sebelum alergen dengan reexposure
kemudian, menghasilkan gejala melalui mekanisme imunologi (Mustafa, et.al 2016) .

Penyebab

1. Alergi obat-obatan (paling sering antibiotic)


2. Alergi makanan
3. Sengatan hewan
4. Alergi karet

Tanda dan Gejala Syok Anafilaktik

1. Batuk; mengi ; dan nyeri , gatal , atau sesak di dada


2. Pingsan, pusing, kebingungan , atau kelemahan
3. ruam ; dan gatal , bengkak , atau kulit merah
4. pilek atau tersumbat dan bersin
5. Sesak napas atau kesulitan bernapas dan detak jantung yang cepat
6. bibir bengkak atau gatal atau lidah
7. Bengkak atau gatal tenggorokan , suara serak , kesulitan menelan , sesak di
tenggorokan
8. Muntah, diare , atau kram
9. Denyut nadi lemah , pucat

Tujuan

1. Menjaga status haemodinamik pasien


2. Mencegah pasien cidera akibat penurunan kesadaran

24
Indikasi

Pasien dengan Riwayat Alergi

Clinical Pathway pada Syok Anafilaktik

25
Alat dan Bahan

1. Spuit 2.5 ml, Alkohol dan peralatan sunti


2. Intubasi Set
3. Oksigen
4. Adrenalin 1 : 1000 ( 1 mg/ml )
5. Hydrokortison inj
6. Cetirizine 10mg /Difenhidramin injeksi 50 mg
7. Bronkodilator Aerosol (Terbutalin, Salbutamol) / Aminofillin Inj

Prosedur Tindakan

No Selama mendemostrasikan keterampilannya, apakah Nilai


peserta melakukan 1 2 3 4

1 Amankan pasien ; Call for help


2 Kaji tanda – tanda alergi
3 Evaluasi kondisi mengancam jiwa : ABC (nadi, nafas) ;
pasang monitor
4 Lakukan CPR kalua terjadi henti nafas / atau jantung
5 Berikan obat – obatan emergency : Adrenalin 1 : 1000 ( 1
mg/ml ) Segera secara SC / IM pada otot deltoideus,
dengan dosis 0,3 – 0,5 ml (anak : 0,01 ml/kgbb), dapat
diulang tiap lima menit, pada tempat suntikan atau
sengatan dapat diberikan 0,1 – 0,3 ml
6 Pasang IV Line
7 Pasien masih belum sadar ; terjadi kegagalan sirkulasi :
Pemberian adrenalin IV apabila terjadi tidak ada respon
pada pemberian secara SC / IM, atau terjadi kegagalan
sirkulasi dan syok, dengan dosis ( dewasa) : 0,5 ml
adrenalin 1 : 1000 ( 1 mg / ml ) diencerkan dalam 10 ml
larutan garam faali dan diberikan selama 10 menit
6 Berikan Oksigen 8-10 liter/menit ; pasang intubasi kalau
memungkinkan dan status pasien memburuk
7 Berikan Bronkodilator : Aminofilin IV, 4-7 mg/kgbb
selama 10-20 menit atau Aerosol 2-3x semprotan
8 Berikan antihistamin : Cetirizine 10mg /Difenhidramin
injeksi 50 mg
9 Berikan Kortikosteroid : Hydrokortison inj 7 – 10 mg / kg
BB, dilanjutkan 5 mg / kg BB setiap 6 jam atau
deksametason 2-6 mg/kgbb. untuk mencegah reaksi
berulang.
10 Bila pasien sadar : Tenangkan penderita, istirahat
Pantau tanda-tanda vital secara ketat untuk memantau
akibat lanjut

26
PENANGANAN SERANGAN ASMA BERAT

Pengertian

Serangan Asma adalah kondisi dimana terjadi penyempitan bronkus karena terjadinya
udem pada bronkus yang diakibatkan berbagai factor (paling sering alergi). Pasien dengan
asma sering ke unit gawat darurat untuk pengobatan eksaserbasi akut.. Pengobatan pasien
dengan asma harus mencakup eksaserbasi akut, manajemen jangka panjang dari obat
controller, dan mengendalikan pemicu di lingkungan rumah. Saat serangan akut asma
sangat berbahaya kalau tidak ditangani dengan baik karena dapat mengakibatkan kepada
gagal nafas dan kemudian henti nafas yang bisa berakhir kepada kematian. Sehingga Unit
gawat Darurat menjadi tempat rujukan utama pada kondisi kekambuhan serangan asma
(Johnson, et.al, 2016).
Tanda dan Gejala Asma
1. Sesak / kesulitan bernafas
2. Wheezing, Stridor, Batuk
3. Sulit Bicara
4. Pasien tampak gelisah
5. Berat : penurunan kesadaran

Perbedaan Tingkatan Asma

Sumber : National Institue of Health (2016)

27
Kondisi-kondisi pasien yang beresiko mengalami Kematian saat serangan Asma (NIH,
2016) :

1. Riwayat eksaserbasi asma yang mengancam jiwa mendadak sebelumnya


2. Riwayat intubasi sebelumnya untuk asma
3. Riwayat masuk ICU sebelum untuk asma
4. Riwayat > 2 penerimaan rumah sakit untuk asma pada tahun lalu
5. Riwayat > 3 kunjungan ED untuk asma pada tahun lalu
6. rumah sakit / ED kunjungan untuk asma selama sebulan terakhir
7. Riwayat Penggunaan> 2 cannisters dari bronchdilators short-acting per bulan
8. Riwayat enggunaan saat steroid oral atau penarikan terbaru dari steroid oral
9. Komplikasi kesehatan (COPD, CHF)
10. Ada masalah kejiwaan (ditandai depresi, psikosis)
11. Pasien pengguna narkoba
12. persepsi pasien salah tentang obstruksi aliran udara dan tingkat keparahannya

Alat dan Bahan


1. Oksigen
2. Masker Oksigen (rebreat)
3. Obat Bronkodilator (Salbutamol)
4. Kortiksteroid
5. Infus Set
6. Spuit dan set peralatan menyuntik
7. Monitor Jantung Paru

28
Clinical Pathway pada Serangan Asma :

Sumber : UC Davis Health Center Asthma Exacerbation dalam Kivler, et.al (2016)

29
Prosedur Tindakan
No Selama mendemostrasikan keterampilannya, apakah peserta Nilai
melakukan 1 2 3 4

1 Amankan pasien ; Call for help


2 Kaji tanda – tanda serangan asma : Wheezing , Sulit bernafas, batuk,
riwayat serangan asma dan alergi, gelisah
3 Pantau Gas Darah Arteri ; berat bila Respons buruk dalam 1 jam
· Risiko tinggi distres
· Pem.fisis : berat, gelisah dan kesadaran menurun
· APE < 30%
· PaCO2 > 45 mmHg
· PaO2 < 60 mmHg
3 Aktivasi Asma Rescue Plan
4 Evaluasi kondisi mengancam jiwa : ABC (nadi, nafas); pasang monitor
5 Lakukan CPR kalua terjadi henti nafas / atau jantung
6 Berikan obat – obatan anti asma :

Inhalasi / Nebulasi Beta 2 Adrenergic Beta (albuterol / Salbutamol (or


an equivalent beta agonist) selama kurang lebih 4 jam.

Alternatif :

-Agonis beta-2 SK/ IV


Adrenalin 1/1000 0,3ml SK
7 Berikan Aminofilin bolus (5-10 mg/dl) dilanjutkan drip
8 Berikan Kortikosteroid IV methylPREDNISolo ne 125 mg IV abolus
9 Berikan Oksigen dosis rendah (1-2 liter/menit dengan nasal kanul)
6 Pasang IV Line
7 Pasien turun kesadaran : pertimbangkan intubasi dan ventilasi mekanis
8 Respons baik ; pasien Pulang
· Respons baik dan stabil dalam 60 menit
· Pem.fisis normal
· APE > 70% prediksi/ nilai terbaik
· Saturasi O2 > 90% (95% pada anak)
9 Respons tidak sempurna : dirawat Ruang Paru / Intermediate

· Risiko tinggi distres


· Pem.fisis : gejala ringan – sedang
· APE > 50% tetapi < 70%
· Saturasi O2 tidak perbaikan
10 Respons buruk dalam 1 jam ; dirawat di ICU
· Risiko tinggi distres
· Pem.fisis : berat, gelisah dan kesadaran menurun
· APE < 30%
· PaCO2 > 45 mmHg
· PaO2 < 60 mmHg

30
PEMASANGAN NECKCOLAR

Pengertian
Cervical collar brace atau Neck Collar merupakan metode pertolongan gawat darurat
dengan memasang suatu bantalan di bagian leher ; dimana tindakan ini merupakan
tindakan utama/prioritas pertama dalam pertolongan terhadap pasien yang diduga
mengalami cedera servikal untuk mencegah pergerakan berlebih dan komplikasi yang lebih
serius (Hsing Lin, 2011).

Sumber : https://www.drugs.com

Tujuan

1. Mengurangi pergerakan leher yang berlebihan selama proses pemulihan


2. Mencegah pergerakan tulang servik yang patah
3. Mencegah bertambahnya cedera tulang belakang
4. Mengurangi rasa sakit

Indikasi

Digunakan pada pasien yang mengalami trauma leher, fraktur tulang servik. C collar di
pasangkan untuk pasien 1 kali pemasangan. Penggunaan ulang C Collar tidak sesuai
dengan standar kesehatan dan protap

31
Clinical Pathway :

CERVICAL SPINE CLEARANCE ALGORITMA


Obtunded patient with major trauma and suspected
cervical spine injury

Maintain cervical immobilization in rigid cervical collar


on FUUL SPINAL PRECAUTIONS

Multi-slice helical CT cervical spine from base of


occiput to TI with sagital & coronal reformats

Patient reviewed by Neurosurgical or Trauma service AND


imaging studies formally reported by Radiologist

Is cervical injury identified on imaging OR neurological


deficit present

No SPINAL
Use PARTIAL
PRECAUTIONS and review the
YES patient

Maintain FULL SPINAL Is Patient awake, alert and cooperative?


PRECAUTION and consult
Neurosurgical Service
NO YES
Cannot clear cervical spine Perform tertiary
clinically-maintain PARTIAL examination: does
patient meet all
SPINAL PRECOUTION NEXUS criteria?
NO
Consider adjuvant imaging
studies (DF or MRI) when
approprite YES

Is cervical injury identified on


imaging
NO
YES
Spine is CLEARED Remove Spine is CLEARED Remove cervical
cervical collar and cease collar and cease immobilization
immobilization retriction retriction

Sumber : Health South Eastern Sydney Local Helath Distric (2013)

32
Alat dan Bahan

1. Neeck Colar sesuai ukuran


2. Handskun
3. Bantal pasir

Prosedur Pelaksanaan

Selama mendemontrsikan keterampilannya apakah peserta NILAI


melakukan 1 2 3 4
A.Fase Orientasi
1 Mengucapkan salam teraupetik
2 Memperkenalkan diri
3 Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang prosedur dan
tindakan yang akan dilaksanakan
4 Jaga Privacy
5 Inform consent
6 Mencuci tangan
7 Memakai Massker dan Handskun
B. Fase Kerja
1 Pegang kepala dengan cara satu tangan memegang bagian
kanan kepala mulai dari mandibula kearah temporal,
demikian juga bagian sebelah kiri dengan tangan yang lain
dengan cara yang sama
2 Petugas lainnya memasukkan neck collar secara perlahan ke
bagian belakang leher dengan sedikit melewati leher
3 Letakkan bagian neck collar yang bertekuk tepat pada dagu
4 Rekatkan 2 sisi neck collar satu sama lain
5 Pasang bantal pasir di kedua sisi kepala pasien
A. Fase Terminasi
1 Evaluasi respon pasien
2 Lepas hanskun dan cuci tangan
3 Bereskan Alat
4 Dokumentasi
NILAI TOTAL

Tanda Tangan
Peserta………………………………………..Tanggal……………………………………
Tanda Tangan
Pembimbing………………………………………..Tanggal……………………

33
PEMERIKSAAN TINGKAT KESADARAN

Pengertian

Pemeriksaan tingkat kesadaran merupakan hal yang sangat essensial dalam pengkajian
keperawatan terhadap pasien karena melambangkan aktifitas hemosfer dan fungsi serebri
yang dapat dinilai baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Pengkajian pada kejadian
terjadinya Cedera Kepala sangat penting dinilai keseluruhan dari item pengkajian GCS ini
karena dapat berpengaruh terhadap kondisi pasien berikutnya (Morton : 2013)

Sumber : Elsevier, INC (2016)

34
Metoda lain adalah menggunakan system AVPU, dimana pasien diperiksa apakah sadar
baik (alert), berespon dengan kata-kata (verbal), hanya berespon jika dirangsang nyeri
(pain), atau pasien tidak sadar sehingga tidak berespon baik verbal maupun diberi rangsang
nyeri (unresponsive).

Ada metoda lain yang lebih sederhana dan lebih mudah dari GCS dengan hasil yang
kurang lebih sama akuratnya, yaitu skala ACDU, pasien diperiksa kesadarannya apakah
baik (alertness), bingung / kacau (confusion), mudah tertidur (drowsiness), dan tidak ada
respon (unresponsiveness).

Penilaian tingkat kesadaran dengan Kuantitatif menggunakan GCS (Gasglow Coma Scale)

Tingkat kesadaran secara kualitatif dapat dibagi menjadi kompos mentis, apatis, somnolen,
stupor, dan koma.

1. Kompos mentis berarti keadaan seseorang sadar penuh dan dapat menjawab
pertanyaan tentang dirinya dan lingkungannya.

2. Apatis berarti keadaan seseorang tidak peduli, acuh tak acuh dan segan berhubungan
dengan orang lain dan lingkungannya.

3. Somnolen berarti seseorang dalam keadaan mengantuk dan cenderung tertidur, masih
dapat dibangunkan dengan rangsangan dan mampu memberikan jawaban secara
verbal, namun mudah tertidur kembali.

4. Sopor/stupor berarti kesadaran hilang, hanya berbaring dengan mata tertutup, tidak
menunjukkan reaksi bila dibangunkan, kecuali dengan rangsang nyeri.

5. Koma berarti kesadaran hilang, tidak memberikan reaksi walaupun dengan semua
rangsangan (verbal, taktil, dan nyeri) dari luar. Karakteristik koma adalah tidak adanya
arousal dan awareness terhadap diri sendiri dan lingkungannya. Pada pasien koma
terlihat mata tertutup, tidak berbicara, dan tidak ada pergerakan sebagai respons
terhadap rangsangan auditori, taktil, dan nyeri.

35
Tujuan

Memeriksa tingkat kesadaran pasien

Indikasi

1. Pasien stroke
2. Pasien cedera
3. Pasien post kejang
4. Pasien post operasi

36
CLINIKAL PATHWAY DALAM PENGKAJIAN TINGKAT KESADARAN

Sumber : Sacco, Rl et.al (2006)


37
Alat dan Bahan
Alat Tulis

Prosedur dan Bahan

Selama Mendemontrasikan keterampilannya, apakah Score


peserta melakukan
No Keterampilan Nilai 1 2 3 4
KPK
A
Mengkaji Respon Mata (Eye Respon) mahasiswa
melakukan tes kepada pasien terhadap bukaan mata
1 Spontan 4
2 Terhadap suara 3
Meminta klien membuka mata
3 Terhadap rangsang nyeri 2
Tekan pada saraf supraorbital
atau kuku jari
4 Tidak ada reaksi 1
Dengan rangsang nyeri klien tidak
membuka mata
B
Mengkaji Respon Verbal (Verbal Respon) mahasiswa
melakukan tes kepada pasien sesuai orientasi pasien
1 Berorientasi baik 5
Menanyakan dimana ia berada, tahu
waktu, hari, bulan

2 Bingung (confused) 4
Menanyakan dimana ia berada, kapan
opname di Rumah sakit (dapat
mengucapkan kalimat, namun ada
disorientasi waktu dan tempat)

3 Tidak tepat 3
Dapat mengucapkan kata-kata, namun
tidak berupa kalimat dan tidak tepat

4 Mengerang 2
Mengeluarkan suara yang tidak punya
arti, tidak mengucapkan kata, hanya
suara mengerang

5 Tidak ada jawaban (suara tidak ada) 1

C Mengkaji Respon Motorik ; mahasiswa melakukan


tes kepada pasien untuk menilai respon musculoskeletal
terhadap rangsangan

38
1 Menurut perintah 6
Misalnya menyuruh klien
mengangkat tangan

2 Mengetahui lokasi nyeri 5


Berikan rangsang nyeri dengan
menekan jari pada supra orbita. Bila
klien mengangkat tangan sampai
melewati dagu untuk menepis
rangsang nyeri tersebut berarti
dapatmengetahui lokasi
nyeri
3 Reaksi menghindar 4
Menolak rangsangan nyeri pada
anggota gerak.

4 Reaksi fleksi (dekortikasi) 3


Berikan rangsang nyeri misal menekan
dengan objek
seperti ballpoint pada jari kuku. Bila
terdapat reaksi fleksi berarti ingin
menjauhi rangsang nyeri

5 Reaksi fleksi (dekortikasi) 2


Berikan rangsang nyeri misal menekan
dengan objek seperti ballpoint pada
jari kuku Bila terdapat reaksi fleksi
berart
i ingin menjauhi rangsang nyeri

6 Tidak ada gerakan/reaksi 1


Rangsang yang diberikan harus cukup
adekuat

NILAI TOTAL

Tanda Tangan Peserta………………………….……………….


Tanggal…………………………..

Tanda Tangan Pembimbing…………………..……………….


Tanggal……………………..

39
PENGAMBILAN DARAH ARTERI

Pengertian

Pengambilan Gas darah arteri ( ABG ) adalah tes darah yang dilakukan dengan mengambil
darah dari arteri , melalui pembuluh darah arteri . Hal ini dilakukan untuk mendapat data
akurat dari kadar oksigen dan karbon dioksida , yang kemudian memungkinkan pasien
oksigen yang akan dibawa tepat . Keterampilan ini adalah salah satu yang harus dikuasai
oleh perawat emergensi diruang gawat darurat atau perawatan kritis (John A, 2008 ;
Jevon.P, Ewens.B , 2007). Sampel dapat diperoleh baik melalui kateter yang ditempatkan
di arteri , atau dengan menggunakan jarum suntik untuk menusuk arteri . Jarum suntik ini
adalah pra - heparinized dan ditangani untuk meminimalkan paparan udara yang akan
mengubah nilai-nilai gas darah (WHO, 2010).
Tujuan
Pemeriksaan Kadar O2, CO2, pH dan Base Excess
Efek samping Pengambilan Darah Arteri (WHO, 2010) :
1. Arterialspasme
2. Haematoma
3. Vasovagal response
4. Penurunan Tekanan Darah, berkeringan dan Pucat
Prosedur Tindakan

Selama mendemostrasikan keterampilannya, apakah peserta melakukan Nilai


1 2 3 4

B. Fase Orientasi
1. Mengucapkan salam teraupetik
2. Memperkenalkan diri
3. Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang prosedur dan tindakan yang
akan dilaksanakan
4. Penjelasan yang disampaikan dimengerti klien dan keluarga
5. Selama komunikasi gunakan bahasa yang jelas
6. Berikan kesempatan klien dan keluarga untuk bertanya
7. Jaga privacy klien
8. Memperlihatkan kesabaran,empathy,sopan dan perhatian
9. Membuat kontak waktu dan tempat yang akan dilakukan
10. Memberikan inform consent
C. Persiapan Alat :
1. Spuit 20,23,25 ukuran2,5 ml

40
2. Alkohol
3. Heparin 5000 unit
4. Tempat sample darah
5. Tempat plastik
6. Label pasien
7. Kasa 2 lembar
8. GUnting , plester
D. Fase Kerja
Petunjuk Pengambilan :
1. Lokasi pengambilan sampel : Arteri Radialis, Brachialis, Inguinalis
dan Dorsalis pedis
2. Darah Yang diambil 2 cc ditambah 1 Strip
3. Yang harus diisi dalam blanko pemeriksaan : Identitas pasien, Suhu
tubuh pasien, Hb terakhir dan kalau pasien menggunakan oksigen catat
jumlah O2 yang digunakan serta cara pemberiannya dan Jenis
permintaan.
Teknik Pengambilan :
1. Lakukan Allens test : tekan Arteri Radialis dan Ulnaris bersamaan
selama sekitar 15 detik.Lepaskan, bila telapak tangan tangan
kemerahan tes positif. Negatif bila telapak tangan pucat atau
keputihan. Lakukan di tempat lain.
2. Bentangkan duk pengalas.
3. Posisi pasien : arteri radialis dengan posisi semifowler, Arteri Dorsalis
pedis dengan posisi flat atau semifowler , arteri Brakialis posisi
semifowler dengan lengan hyperekstensi, dan Arteri Femoralis posisi
pasien flat.
4. Sedot heparin cair sebanyak 1 cc dan kmudian keluarkan. Heparin
hanya membasahi dinding disposible. Tidak ada sisa o,1 cc dalam
disposible, kecuali yang ada didalam jarum.
5. Raba Nadi dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah.
6. Pastikan tempat dari nadi yang diraba.
7. Desinfeksi daerah tersebut
8. Desinfeksi kedua jari
9. Pegang disposible seperti memegang pensil.
10. Raba kembali Nadi dengan menggunakan kedua yang telah
didesinfeksi
11. Tusukan jarum dengan posisi :
a. Arteri Dorsalis Pedis : 30 derajat
b. Arteri Radialis : 45 derajat
c. Arteri Brakialis : 60 derajat
d. Arteri Femoralis : 90 derajat
12. Biarkan Darah sendiiri mengalir ke dalam jarum. Bila tidak
naik/keluar, hisap pelan-pelan. Ambil 1 cc
13. Cabut jarum dan tusukkan pada karet penutup ; atau masukkan ke
tempat penampungan darah.
14. Tekan daerah penusukan dengan menggunakan kassa alkohol selama
kurang lebih10 menit.
15. Beri etiket dan bawa ke laboraotirum. Bila jauh masukkan dalam
kantung es.
2. Fase terminasi
1. Evaluasi Subjektif
2. Evaluasi objektif

41
3. Rencana tindak lanjut
4. Kontak yang akan datang (topik,waktu,tempat)

NILAI TOTAL

Tanda Tangan Peserta ....................................... Tanggal ....................

Tanda Tangan Pembimbing.............................................Tanggal.................._

Ilustrasi Allen's Test :

sumber : http://www.osceskills.com

42
Ilustrasi Posisi Pengambilan Darah :

sumber : http://www.osceskills.com

43
REFERENSI

American Heart Associaton (2015). CPR & ECC Guidelines.132 (18) : 2.


Couwel, et.al (2006). Anaphylactic shock depends on PI3K and eNOS-derived NO. J Clin
Invest. 2006;116(8):2244-2251.
European Resuscitation Council (2015). ERC Guidelines 2015. Elsevier. Irlandia.
Hsing Lin-lin et.al. (2011). Neck collar used in treatment of victims of urban motorcycle
accidents: over- or underprotection?.The American Journal of Emergency.
Volume 29, Issue 9, Pages 1028–1033
http://www.chop.edu/clinical-pathway/head-trauma-acute-clinical-pathway. akses tanggal
06 september 2016.

https://www.drugs.com/cg/cervical-sprain-aftercare-instructions.html. Akses tanggal 16


September 2016.

http://www.nhlbi.nih.gov/health-pro/resources/lung/naci/discover/asthma-severity.htm

http://www.osceskills.com/e-learning/subjects/arterial-blood-gases/. Akses tanggal 10


September 2016.
https://www.elsevier.com/glasgow-coma-scale-labeled-multiple-publications-neurology-
neurosciences-frank-h-netter-7003.html

https://www.resus.org.uk/resuscitation-guidelines/. Akses tanggal 16 September 2016.

http://onemedhealthcare.com/products.php?ID=247&action=detail

https://www.resus.org.uk/quality-standards/acute-care-quality-standards-for-cpr/.Akses
tanggal 14 September 2016.
http://www.redcross.org/take-a-class/cpr/perfoming-cpr/cpr-steps. Akses tanggal 10
September 2016.
John A ( 2008). Perawatan Gawat Darurat. EGC, Jakarta
Jevon.P, Ewens.B (2007). Pemantauan Pasien Kritis. Erlangga. Jakarta

44
Johnson, L.Chambers P., and Dexheimer1 J.W. (2016). Asthma-related emergency
department use: current perspectives. Open Access Emer Medicine. 2016;
8: 47–55.
Kivler. C, Kenyon. N.J, Louie. S (2016). Omalizumab in Difficult-to-Control Asthma:
Allergic or Not? Consultant: Volume 56 - Issue 2
Michael Jay, (2008), Manual Kedokteran Darurat.EGC Jakarta
Morton, Patricia Gonce, Dkk. (2013). Keperawatan Kritis:Pendekatan Asuhan Holistik.
Edisi 8 volume 2. EGC Jakarta
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (2003). Asma ; Pedoman Diagnosis dan Penanganan
di Indonesia.
RS Haji Jakarta (2015). Panduan Basic Trauma Life Support (BTCLS). Jakarta.
RS Haji Jakarta (2016). Materi Pelatihan ICU Dasar.Jakarta.
Roger F. Johnson, .; R. Stokes Peebles Jr. (2004), Anaphylactic Shock: Pathophysiology,
Recognition, and Treatment .Semin Respir Crit Care Med. 2004; 25 (6):
695-703. Thieme Medical Publishers
Sacco Rl, Adams R, Abers G et.al.Guidelines for Prevention of Stroke in patiens with
ischemic stroke or transient ischemic attack.Stroke Journal.2006;37:577-
617
Soroudi.A., et.al (2007). Adult Foreign Body Airway Obstruction in the Prehospital
Setting. Prehospital Emergency Care Journal. Volume 11 Issue 1.
WHO (2010). WHO Guidelines on Drawing Blood: Best Practices in Phlebotomy. Arterial
blood sampling

45
BIODATA PENULIS

1. Nama Lengkap Ns. Hammad, S.Kep, M.Kep.

2. Tanggal Lahir 1 Mei 1977

3. Tempat Lahir Martapura

4. Jenis kelamin Laki-laki

5. Agama Islam

6. Politeknik Kesehatan Banjarmasin

7. Jurusan/Program studi Poltekkes Banjarmasin Jurusan Keperawatan

8. No telp : a rumah -
b. Hp 085249309863
9. E-Mail hammad.martapura@gmail.com

10. Mata Kuliah yang DIampu 1. Anatomi Fisiologi


2. KMB
3. Gawat Darurat

RIWAYAT PENDIDIKAN PERGURUAN TINGGI

Tahun Program Perguruan Tinggi Jurusan/Program


Lulus Pendidikan Studi
1999 D III PAM Keperawatan Depkes Banjarbaru Keperawatan
2003 Sarjana Program Studi Ilmu Keperawatan Keperawatan
Universitas Airlangga
2004 Profesi Ners Program Studi Ilmu Keperawatan Keperawatan
Universitas Airlangga
2013 Magister Universitas Airlangga Keperawatan

46