Anda di halaman 1dari 8

Technologia” Vol 9, No.

4, Oktober – Desember 2018 201

ANALISIS IKLAN PRODUK SHAMPOO PANTENE


MENGGUNAKAN TEORI SEMIOTIKA PIERCE

Abdurrahman Sidik, S.Sn, M.Ds

Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari


abdurrahmansidik30@gmail.com

ABSTRAK

Ketatnya persaingan di dunia industri dan bisnis menuntut sebuah perusahaan untuk lebih kreatif
memasarkan produknya. Perusahaan akan sulit bertahan dalam menghadapi persaingan tanpa adanya
strategi kreatif dan inovatif untuk mempengaruhi konsumen. Dalam kasus ini peneliti memilih produk
shampoo Pantene. Pantene menggunakan public figure terkenal dalam mempromosikan produknya
(brand ambassador). Lebih dari sekedar pembeda dengan kompetitornya, peran brand ambassador
justru memiliki andil yang besar dalam membentuk persepsi konsumen. Penelitian ini menggunakan
metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk mengeksplorasi dan memahami
makna pada iklan produk shampoo Pantene. Peneliti kemudian menganalisis iklan shampoo Pantene
tersebut secara induktif dan melakukan penafsiran makna dengan menggunakan teori semiotika Pierce.
Hasil analisis dari penelitian ini membuktikan bahwa komunikasi periklanan tidak lagi menawarkan
produk secara gamblang dan kaku, tetapi melalui eksekusi iklan yang kreatif dan menarik. Dari sudut
pandang semiotika, terlihat bahwa iklan tidak hanya memberikan informasi tentang suatu produk atau
jasa saja, tidak juga hanya berusaha memasarkan produk secara persuasif, tetapi telah melebar pada
pengkondisian situasi dan kondisi tertentu pada sekelompok masyarakat. Dengan menggunakan brand
ambassador, produk shampoo Pantene dapat mempertegas asosiasi merek dan menciptakan citra
positif terhadap konsumen melalui produk yang diiklankan.

Keywords: Semiotika, Iklan, Multimedia, Brand Ambassador

1. PENDAHULUAN shampoo yang menurut persepsinya terbaik.


Merek (brand) merupakan nilai utama
Persaingan dalam dunia bisnis semakin pemasaran. Semakin kuat merek produsen di
lama terasa semakin terlihat. Persaingan dalam pasar, maka semakin eksis pula merek tersebut,
memperebutkan dan mempertahankan terutama dalam hal mendominasi kesadaran
konsumen menjadi semakin ketat pula. Hal ini konsumen sehingga akan mengarahkan
terlihat dari semakin banyaknya alternatif konsumen untuk mengkonsumsi produk
produk yang dapat dipilih oleh konsumen. tersebut [1].
Munculnya produk-produk yang inovatif Ketatnya persaingan didalam industri ini
secara terus-menerus dalam waktu singkat menuntut perusahaan untuk lebih teliti dalam
menuntut perusahaan untuk berupaya melihat perkembangan selera konsumen.
mengembangkan produk-produknya agar tidak Perusahaan akan sulit bertahan dalam
tertinggal oleh pesaing-pesaingnya. menghadapi persaingan tanpa adanya strategi
Konsumen dihadapkan pada begitu banyak kreatif dan inovatif untuk menarik perhatian
pilihan produk yang variatif sehingga dan mempengaruhi konsumen. Perusahaan
konsumen memiliki kekuatan yang sangat berusaha memenangkan persaingan dengan
besar dalam menentukan pilihannya. produk sejenis yang dimiliki oleh para pesaing.
Khususnya pada lini shampoo, dimana Multimedia adalah kombinasi dari teks,
semakin banyak jenis dan merek yang beredar gambar, suara, animasi dan video yang dikirim
di pasaran. Konsumen pun semakin jeli dan melalui komputer atau alat elektronik lainnya
kritis dalam memilih shampoo yang ada. atau dengan manipulasi digital [2]. Salah satu
Konsumen akan menggunakan produk produk dari multimedia yaitu iklan. Iklan

Jurnal Ilmiah ”Technologia”


Technologia” Vol 9, No.4, Oktober – Desember 2018 202

terbagi menjadi dua: (1) Above The Line, yaitu 2. METODE PENELITIAN
pemasaran produk atau jasa (iklan) yang
menggunakan media massa. Media yang Pada penelitian ini peneliti menggunakan
digunakan biasanya adalah media televisi, penelitian kualitatif dengan pendekatan studi
radio, media cetak, internet, dan sebagainya. kasus. Menurut Cresswell, penelitian kualitatif
(2) Below The Line, aktivitas marketing atau merupakan metode untuk mengeksplorasi dan
promosi yang dilakukan ditingkat retail atau memahami makna [5]. Sedangkan pendekatan
konsumen dengan salah satu tujuannya adalah studi kasus adalah strategi penelitian di mana
merangkul konsumen agar tertarik dengan di dalamnya peneliti menyelidiki secara cermat
suatu produk seperti poster, brosur, leaflet, suatu program, peristiwa, aktivitas, proses,
sampling produk, dst. [3]. atau sekelompok individu. Kasus-kasus
Hal ini ditanggapi serius oleh perusahaan dibatasi oleh waktu dan aktivitas, dan peneliti
P&G (Procter & Gamble Co.) dalam mengumpulkan informasi secara lengkap
berhadapan dengan ketatnya persaingan. P&G dengan menggunakan berbagai prosedur
merupakan perusahaan internasional yang pengumpulan data [5].
memproduksi barang konsumen yang bergerak Proses penelitian kualitatif ini berawal
cepat. Kantor pusat P&G terletak di Ohio, dari prosedur pengumpulan data, menganalisis
Amerika Serikat. Perusahaan ini didirikan data secara induktif mulai dari tema-tema
tahun 1837. P&G dalam usaha memperluas khusus ke tema-tema umum, dan menafsirkan
pasar yang dikuasainya, khususnya pada lini makna data. Untuk pengumpulan data, peneliti
shampoo, dihadapkan kepada berbagai bentuk mengumpulkan dokumen-dokumen kualitatif
persaingan yang datang dari para pesaingnya. dan materi audio dan visual. Dokumen ini bisa
Para pesaingnya, baik itu yang datang dari berupa dokumen publik dan video (dalam
pesaing lama maupun pesaing baru merupakan konteks penelitian ini adalah iklan).
ancaman terhadap pertumbuhan pangsa pasar Pada tahap analisis induktif dan
produknya, yakni shampoo Pantene. penafsiran makna data, peneliti menggunakan
Pantene saat ini tak hanya sekedar identitas teori semiotika yang digunakan oleh Sumbo
suatu produk saja dan hanya sebagai pembeda Tinarbuko yang merujuk pada teori Charles
dari produk pesaing, melainkan lebih dari itu, Sanders Pierce. Semiotika menurut Tinarbuko
pernyataan ini sesuai dengan penelitian yang adalah sebuah upaya memberikan interpretasi
dilakukan oleh Daulay dan Kartono [4], merek terhadap keilmuan semiotika itu sendiri, yaitu
memiliki ikatan emosional istimewa yang semiotika sebagai sebuah metode pembacaan
tercipta antara konsumen dengan produsen. karya komunikasi visual [6]. Semiotika adalah
Pesaing bisa saja menawarkan produk yang ilmu tanda; istilah ini berasal dari kata Yunani
mirip, tapi tidak mungkin menawarkan janji semeion yang berarti “tanda”. Winfried Nöth
emosional yang sama. menguraikan asal-usul kata semiotika; secara
Pantene menggunakan public figure etimologi semiotika dihubungkan dengan kata
terkenal dalam mempromosikan produknya Yunani  = sign dan  = signal, sign.
(brand ambassador) agar lebih menarik Tanda terdapat dimana-mana, ‘kata’ adalah
perhatian konsumen. Selebriti dipandang tanda, demikian pula gerak isyarat, lampu lalu
sebagai individu yang digemari oleh lintas, bendera dan sebagainya [7].
masyarakat, memiliki keunggulan atraktif, Menurut Pierce semiotika adalah ilmu
populer, dan mempunyai pengaruh kuat yang yang mempelajari tentang tanda (sign),
membedakannya dari individu lain. berfungsinya tanda, dan produksi makna [6].
Penggunaan brand ambassador diharapkan Pierce mengemukakan teori segitiga makna
dapat mempertegas asosiasi merek Pantene. atau triangle meaning yang terdiri dari tiga
Promosi seperti ini merupakan cara kreatif elemen utama, yakni tanda (sign), object, dan
perusahaan untuk menciptakan citra positif interpretant. Tanda adalah sesuatu yang
terhadap merek produk Pantene yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh
diiklankan. panca indera manusia dan merupakan sesuatu
yang merujuk (merepresentasikan) hal lain di
luar tanda itu sendiri. Tanda menurut Pierce
terdiri dari Simbol (tanda yang muncul dari

Jurnal Ilmiah ”Technologia”


Technologia” Vol 9, No.4, Oktober – Desember 2018 203

kesepakatan), Ikon (tanda yang muncul dari Setiap tahun Pantene memilih public
perwakilan fisik) dan Indeks (tanda yang figure terkenal untuk mempromosikan
muncul dari hubungan sebab-akibat). produknya (brand ambassador). Hasil
Sedangkan acuan tanda ini disebut objek. wawancara Pantene dengan majalah SWA [8]
menerangkan bahwa, public figure utama
peng-endorse merek Pantene adalah Anggun
C. Sasmi (2013-sekarang) karena dianggap
mewakili merek tersebut. Pantene kemudian
menggandeng Rossa (2013-2015), Raline Shah
(2015-2017) dan Maudy Ayunda (2018-
sekarang) untuk menjadi brand ambassador
pendukung selain Anggun C. Sasmi.
Keempatnya berbeda, namun sama-sama
memiliki rekam jejak yang baik, tidak
kontroversial, dan berprestasi. Pantene
menampilkan brand ambassador sebagai objek
Gambar 1 Teori Segitiga Makna Pierce. dari iklan tersebut, hal ini sesuai dengan teori
Pierce dalam penggunaan tanda (ikon, simbol
Tanda adalah sesuatu yang mewakili dan indeks) pada sebuah iklan.
sesuatu. Sesuatu itu dapat berupa pengalaman, Peneliti kemudian mempersempit batasan
pikiran, gagasan atau perasaan. Jika sesuatu, penelitian dengan hanya menganalisis iklan
misalnya A adalah asap hitam yang mengepul dalam tiga tahun terakhir dengan alasan
di kejauhan, maka ia dapat mewakili B, yaitu keterbaruan. Sehingga terdapat tiga iklan yang
misalnya sebuah kebakaran (pengalaman). dianalisis, yaitu (1) Anggun C. Sasmi pada
Tanda semacam itu dapat disebut sebagai tahun 2016, (2) Raline Shah pada tahun 2017,
indeks; yakni antara A dan B ada keterkaitan dan (3) Maudy Ayunda pada tahun 2018.
(contiguity). Sebuah foto atau gambar adalah Sedangkan untuk video iklan didapatkan dari
tanda yang disebut ikon. Foto mewakili suatu berbagai sumber yang ada pada website
kenyataan tertentu atas dasar kemiripan atau youtube.
similarity (foto mantan presiden Suharto,
mewakili orang yang bersangkutan, jadi 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
merupakan suatu pengalaman). Tanda juga
bisa berupa lambang, jika hubungan antara Iklan tidak sekedar menyampaikan
tanda itu dengan yang diwakilinya didasarkan informasi tentang suatu produk (ide, jasa dan
pada perjanjian (convention), misalnya lampu barang) tetapi iklan sekaligus memiliki sifat
merah yang mewakili “larangan (gagasan)” “mendorong” dan “membujuk” agar orang
berdasarkan perjanjian yang ada dalam menyukai, memilih kemudian membeli (Hoed,
masyarakat. Burung Dara sudah diyakini 1992). Wanita cenderung lebih memperhatikan
sebagai tanda atau lambang perdamaian; penampilan, sehingga sangat memperhatikan
burung Dara tidak begitu saja bisa diganti penampilan rambutnya. Menyadari hal
dengan burung atau hewan yang lain. tersebut, banyak industri shampoo saling
Objek atau acuan tanda adalah konteks berlomba untuk memenuhi kebutuhan dan
sosial yang menjadi referensi dari tanda atau keinginan para konsumennya dengan
sesuatu yang dirujuk tanda. Interpretant atau menghasilkan produk shampoo yang
pengguna tanda adalah konsep pemikiran dari dibutuhkan dan diinginkan bagi rambut
orang yang menggunakan tanda dan konsumen [1].
menurunkannya ke suatu makna tertentu atau Iklan Pantene pada tahun 2016 ini
makna yang ada dalam benak seseorang berdurasi 30 detik dan diawali dengan close up
tentang objek yang dirujuk sebuah tanda. Hal wajah Anggun C. Sasmi, detik berikutnya
yang terpenting dalam proses semiosis adalah kemudian Anggun berkata, “aku jadi duta
bagaimana makna muncul dari sebuah tanda shampoo lain? (sambil menahan ketawa), dulu
ketika tanda itu digunakan orang saat pernah coba shampoo lain dan ketombe
berkomunikasi. kayaknya sempat hilang tapi cuman sebentar

Jurnal Ilmiah ”Technologia”


Technologia” Vol 9, No.4, Oktober – Desember 2018 204

dan balik lagi, dan rambutku rontok lagi rambut rontok. Raline kemudian bernarasi
(sambil berekspresi kesal).” Scene kemudian hanya suara saja, “sampai Pantene selamatkan
berubah pada detik ke-14 menjadi produk rambutku, formula Pro-Vitaminnya melindungi
shampoo Pantene varian anti ketombe dengan rambutku dari polusi, cukup kuat melawan
tulisan disampingnya Pro-V. Anggun rontok.” Scene tersebut diiringi dengan
kemudian kembali bernarasi, namun pada saat ilustrasi rambut rontok selama 5 detik. Pada
ini hanya suaranya saja, “aku sih sama Pantene detik ke-18, scene Raline mengibaskan rambut
aja, dengan Pro-Vitamin Formula dan ZPT lagi dan berkata, “rontok karena polusi atasi
menghilangkan ketombe dan memberikan dengan Pantene.” Lalu 5 detik terakhir
perlindungan tak terkalahkan dari kerontokan. diakhiri dengan scene close up produk
Jadi rambutku gak ketombean lagi dan gak Pantene dengan narasi Raline, “kuat itu
rontok lagi (sambil mengelus rambut).” cantik.”
Kemudian diakhiri dengan scene close up
produk Pantene selama 3 detik.

Gambar 3 Iklan Shampoo Pantene yang


dibintangi oleh Raline Shah
(2017).
Gambar 2 Iklan Shampoo Pantene yang
dibintangi oleh Anggun C. Sama dengan tahun-tahun sebelumnya,
Sasmi (2016). iklan Pantene pada tahun 2018 ini berdurasi 30
detik dan dibintangi oleh Maudy Ayunda.
Iklan Pantene pada tahun 2017 ini Opening scene diawali dengan ilustrasi Pro-V
dibintangi oleh Raline Shah dan berdurasi 30 dan logo Pantene selama 3 detik. Kemudian
detik. Opening scene diawali dengan logo terlihat dari jauh Maudy sedang berolahraga
Pantene hingga detik ke-2, dilanjutkan dengan dan bernarasi, “latihan tiap hari bikin aku
medium shot setengah badan Raline dari makin kuat, tapi keramas tiap hari bikin
kejauhan yang berjalan mendekat sambil rambutku lemah dan rontok.” Scene kemudian
mengibaskan rambut. Pada detik ke-4, scene berubah pada detik ke-10 menjadi close up
berganti dengan close up Raline dan ia berkata, wajah Maudy dan berkata, “itu dulu. Pro-
“ada musuh baru buat rambut kita, polusi, Vitamin Series Pantene menutrisi dan
bikin rambut kita bau, lengket, dan rapuh, memperkuat rambut, setiap keramas rontok
pantas rontok.” Scene berganti pada detik ke- berkurang.” Scene berubah pada detik ke-25
11 dengan produk shampoo Pantene varian dengan medium shot dari kejauhan Maudy

Jurnal Ilmiah ”Technologia”


Technologia” Vol 9, No.4, Oktober – Desember 2018 205

sambil mengibaskan rambut dan terlihat yang ditampilkan, seperti rambut yang
ekspresi wajah bahagia. 3 detik terakhir berwarna cokelat dan sedikit bergelombang.
diakhiri dengan scene close up produk empat Perancang iklan Pantene berusaha untuk lepas
varian Pantene rambut rontok dengan narasi, dari kebiasaan, bahwa rambut itu tidak harus
“kuat, siapa bilang gak bisa, Pantene Pro- hitam melainkan harus sehat, tidak bercabang,
Vitamin Series.” bagus dan berkilau. Selain itu Raline Shah
mengenakan baju berwarna putih, putih dalam
ilmu psikologi mencerminkan ke bersihan,
bebas ketombe, dan warna yang kontras
dengan rambut.

Gambar 4 Iklan Shampoo Pantene yang


dibintangi oleh Maudy Ayunda Gambar 5 Rambut berwarna cokelat dan
(2018). bergelombang Raline Shah pada
iklan Shampoo Pantene tahun
Dari ketiga iklan tersebut terdapat pola 2017.
bahwa 15 detik awal brand ambassador
shampoo Pantene selalu menceritakan Sedangkan rambut hitam pada Anggun C.
permasalahan rambut mereka. Setiap aktivitas Sasmi dan Maudy Ayunda membuktikan pada
baik kesibukan menjadi artis, debu jalanan, konsumen bahwa rambut hitam adalah ciri
sampai dengan olahraga menjadi salah satu khas (simbol) rambut masyarakat tropis. Ini
alasan kerusakan atau kerontokan rambut menepis kemungkinan isu-isu dari “cintailah
mereka. Lalu kemudian 15 detik akhir muncul produk-produk Indonesia” yang sering
ilustrasi shampoo Pantene dan menjadi solusi dikampanyekan oleh pemerintah Indonesia
atas permasalahan rambut mereka. untuk memerangi produk-produk dari luar.
Iklan Pantene ini ternyata mampu Konsumen secara tidak langsung dibentuk
mendongkrak volume penjualan. Pantene persepsinya untuk memakai produk shampoo
sebagai produk shampoo memenangkan Top Pantene yang notabene adalah produk dari
Brand Award (TBA) enam tahun berturut-turut Procter & Gamble (P&G) yang berkantor pusat
dari tahun 2012-2018 dalam predikat golden di Ohio, Amerika Serikat. Hal tersebut
dan platinum [9]. Pantene sering mengiklankan diperkuat dengan logo P&G yang tidak
produknya baik di internet seperti media sosial, ditampilkan secara gamblang. Logo P&G
youtube, dan di televisi pada jam-jam sibuk dalam iklan tersebut hanya tampil pada 1 detik
(prime time). Pantene berhasil menyukseskan terakhir (detik ke-30) dengan ukuran kecil dan
kampanye semua varian produk shampoonya. diletakkan pada pojok kiri atas. Berbeda
Iklan shampoo wanita di Indonesia dengan merek lain yang selalu membangga-
biasanya selalu dikaitkan dengan sosok wanita banggakan brand mereka.
anggun yang mempunyai rambut hitam lurus
dan berkilau. Namun pada iklan ini justru
perancang menampilkan Raline Shah yang
berbeda. Hal ini dapat dilihat dari tanda-tanda

Jurnal Ilmiah ”Technologia”


Technologia” Vol 9, No.4, Oktober – Desember 2018 206

Ayunda pada iklan Shampoo


Pantene tahun 2016 dan 2018.

Anggun C. Sasmi lahir pada tahun 1974,


pada tahun dibuatnya iklan yaitu 2016,
Anggun berusia 42 tahun. Sangat kontras
dengan Maudy Ayunda yang lahir pada tahun
1994, yang berusia 24 tahun saat iklan tersebut
ditayangkan. Ini mengisyaratkan (indeks)
bahwa produk shampoo Pantene dapat
digunakan oleh hampir semua usia (kecuali
anak-anak) baik dewasa maupun remaja.
Jika ditinjau menggunakan teori Pierce
yaitu segitiga makna (triangle meaning), yang
terdiri dari tanda (sign), object, dan
interpretant, maka dapat dikatakan, iklan ini
memiliki penggambaran yang menghasilkan
interpretant pada konsumen yang melihat
iklannya. Logika yang ingin dibangun
perancang adalah, rambut sehat itu seperti
brand ambassador, brand ambassador
memakai Pantene, maka rambut sehat adalah
rambut yang memakai shampoo Pantene.

Gambar 6 Logo P&G yang ditampilkan


dengan ukuran kecil pada detik
ke-30 iklan shampoo Pantene
tahun 2016, 2017, dan 2018.
Gambar 8 Segitiga makna (triangle meaning)
pada iklan Shampoo Pantene.
Pantene memilih figur brand ambassador
berdasarkan rekam jejak terlebih dahulu.
Anggun C. Sasmi adalah penyanyi yang
bertaraf internasional. Raline Shah dianggap
berprestasi sebagai finalis Putri Indonesia
tahun 2008. Sedangkan Maudy Ayunda
sebagai cerminan remaja yang sempurna,
pemain film serta berprestasi dibidang
akademik. Ketiga public figure tersebut
terkenal dengan sikapnya yang tidak
kontroversial atau mencari sensasi seperti
public figure lainnya. Image yang ditawarkan
Gambar 7 Rambut berwarna hitam dan lurus oleh public figure selalu dijadikan trendsetter
Anggun C. Sasmi dan Maudy oleh masyarakat, khususnya di Indonesia.
Masyarakat tak segan untuk mengikuti apapun

Jurnal Ilmiah ”Technologia”


Technologia” Vol 9, No.4, Oktober – Desember 2018 207

yang dipakai oleh public figure pujaannya, 4. KESIMPULAN


mulai dari fashion hingga produk yang
digunakannya. Ikon inilah yang mencerminkan Saat ini iklan tidak lagi hanya berkata :
produk Pantene sebagai produk shampoo “Belilah!”, tetapi telah jauh bahkan sampai ke
wanita muda yang smart dan anggun. gaya hidup dan sebagainya. Iklan shampoo
Mengkomunikasikan iklan merupakan Pantene telah menawarkan suatu kondisi
suatu proses penyampaian pesan secara “merawat rambut itu praktis dan tidak
sederhana dari produsen ke konsumen. merepotkan hanya dengan menggunakan
Produsen dalam hal ini telah memberikan Pantene”. Komunikasi periklanan tidak lagi
kepercayaan dalam hal mengkomunikasikan menawarkan produk secara gamblang dan
produknya ke biro-iklan atau desainer kaku, tetapi melalui eksekusi iklan yang kreatif
komunikasi visual. Bagi pengiklan pekerjaan dan menarik. Dari sudut pandang semiotika,
ini bukanlah sebuah pekerjaan yang sederhana. terlihat bahwa iklan tidak hanya memberikan
Seperti dibalik kalimat yang diucapkan oleh informasi tentang suatu produk atau jasa saja,
Raline Shah, “umbar janji, semua bisa.. tapi tidak juga hanya berusaha memasarkan produk
yang bisa buktiin? Pantene bisa!” Kalimat ini secara persuasif, tetapi telah melebar pada
secara tidak langsung membandingkan Pantene pengkondisian situasi dan kondisi tertentu pada
dengan produk shampoo kompetitornya, sekelompok masyarakat.
makna yang tersirat bahwa Raline Shah sudah Semiotika dapat digunakan sebagai proses
mencoba semua jenis shampoo, akan tetapi penciptaan sebuah karya desain dan
hanya Pantene yang bisa memperbaiki multimedia, sehingga proses perancangan tidak
rambutnya. dianggap sebagai suatu proses intuitif saja.
Merawat rambut merupakan suatu Semiotika mampu menghadirkan urutan proses
aktifitas yang membosankan bagi wanita karir sehingga mengantar karya kreatif periklanan
yang tidak mempunyai waktu luang untuk sebagai langkah yang dapat dijelaskan.
bersantai dan merawat rambut. Pantene melihat Semiotika di sisi lain mampu pula berfungsi
ini sebagai peluang untuk mempromosikan sebagai pisau untuk membedah suatu karya
produknya. Dengan menawarkan shampoo desain dan multimedia.
yang satu-satunya memiliki formula Pro-V
hanya dengan keramas setiap hari maka dapat 5. REFERENSI
melindungi rambut hingga 3 bulan. Hal ini
dibuktikan dengan ilustrasi uji tes jarum, [1] Aristyani, I. A. R., & Yasa, N. N. K.
rambut rusak yang bercabang dibandingkan (2013). Perbandingan Brand Equity
dengan rambut Pantene yang sehat, maka Produk Shampoo Merek Sunsilk dengan
hasilnya rambut yang memakai shampoo Merek Pantene. Jurnal Manajemen dan
Pantene dapat dimasukkan ke lubang jarum Kewirausahaan, 15(2), 179-190.
yang sangat kecil. Dengan ilustrasi tersebut
semakin meyakinkan konsumen bahwa produk [2] Vaughan, T. (2011). Multimedia: Making
Pantene dapat memperbaiki rambut yang rusak It Work. McGraw-Hill.
menjadi sehat kembali. [3] Pujiryanto. (2005). Design For
Dekonstruksi yang muncul dalam iklan Communication Conceptual Graphic
tersebut adalah adanya visualisasi yang Design Basics. Yogyakarta: Andi Offset.
menggambarkan bahwa rambut wanita yang
sehat adalah rambut yang tidak rusak ataupun [4] Daulay, F. A. (2006). Analisis
bercabang. Bila seorang wanita ingin tampil Perbandingan Elemen Ekuitas Merek
mempesona, maka sosok wanita seperti dalam Pada Supermarket Macan dan Maju
iklan shampoo Pantene-lah yang dijadikan Bersama di Kota Medan Sebagai Salah
patokan. Ideologi yang dibentuk tersebut tidak Satu Strategi Dalam Menentukan
lepas dari ‘penghegemonian’ yang dilakukan Keputusan Pemasaran. Jurnal Sistem
oleh pengiklan guna mempengaruhi pikiran Teknik Industri, 7(2): 53-60.
khalayak, menganggap bahwa yang
ditampilkan dalam iklan tersebut adalah benar
adanya.

Jurnal Ilmiah ”Technologia”


Technologia” Vol 9, No.4, Oktober – Desember 2018 208

[5] Creswell, J. W. (2014). Research Design


Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan
Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

[6] Tinarbuko, S. (2009). Semiotika


Komunikasi Visual. Yogyakarta: Jalasutra.

[7] Nöth, W. (2001). Semiotic Foundations of


Iconicity In Language and Literature. The
Motivated Sign: Iconicity in Language
and Literature, 2, 17-28.

[8] Mangalandum, R. S. Pantene Terus


Berinovasi untuk Wujudkan Rambut Sehat.
http://swa.co.id/headline/pantene-terus-
berinovasi-untuk-wujudkan-rambut-sehat.
Diakses bulan Oktober 2018.

[9] Top Brand Award. http://www.topbrand-


award.com/top-brand-survey/survey-
result. Diakses bulan Oktober 2018.

Jurnal Ilmiah ”Technologia”