Anda di halaman 1dari 24

Makalah Gigi Come

PULPITIS AKUT GIGI DESIDUI

Disusun Oleh :
Afdhal Fikri, S.Ked Kholid Damri, S.Ked
Amalia Zhahrina, S.Ked M. Kasyfi Ramadhan, S.Ked
Bianca Fransnadia, S.Ked Nur Afrida Yunita, S.Ked
Fukunda Izzah Tamara, S.Ked Puja Iklima, S.Ked
Harima Gumanty, S.Ked Vebi Adrias, S.Ked
Ikhsan Fajri, S.Ked Yesi Rahayu Putri, S.Ked

Pembimbing :
drg. Burhanuddin Agung, MM
drg. Rita Endriani, M.Kes
dr. Silvia Stovannie Ademi

KEPANITERAAN KLINIK
COMMUNITY ORIENTED MEDICAL EDUCATION (COME)
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
PUSKESMAS BUNGA RAYA
SIAK
2019
STRUKTUR REKAM MEDIS PASIEN GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS RIAU / UPTD PUSKESMAS BUNGA RAYA

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. MZ
Umur : 7 Th
Alamat : Bunga Raya
Agama : Islam
No. RM : 44xx

II. ANAMNESIS–Autoanamnesis Pasien (17 September 2019)


1. Keluhan Utama
Sakit pada gigi geraham kiri bawah yang berlubang sejak 2 hari yang
lalu.

2. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang dengan keluhan gigi geraham 1 kiri bawah yang
berlubang terasa sakit sejak 2 hari yang lalu. Pasien mengeluhkan selalu sakit
dan rasa sakit pada gigi nya tetap ada meskipun pasien tidak saat makan
ataupun minum. Rasa sakit semakin bertambah dirasakan pada malam hari.
Pasien belum pernah berobat untuk keluhan sakit pada gigi nya. Keluhan
bengkak pada gusi, gusi berdarah disangkal pada pasien. Keluhan sakit
dirasakan semakin berat akhirnya pasien dibawa berobat ke Puskesmas
Bunga Raya.

3. Riwayat Penyakit Gigi Dahulu


- Tidak pernah ada keluhan yang sama sebelumnya pada pasien

4. Riwayat Penyakit Dahulu


- Alergi obat (-)
- Pemasangan kawat gigi (-)
- Riwayat keganasan (-)
5. Riwayat Psikososial
- Pasien seorang pelajar kelas 2 SD
- Pasien teratur menyikat gigi 2 kali sehari
- Pasien tidak pernah membersihkan karang gigi
- Pasien suka makan makanan manis, dan berlemak

6. Riwayat Keluarga
- Tidak ada keluarga yang mengeluhkan hal yang sama.
- Riwayat keganasan di keluarga (-)
7. Genogram

Tn.S Ny. R Tn. Z Ny. S

Ket: Ny. S 32
Tn. W 36
: Laki-laki

: Perempuan MZ 7 Y3

: Pasien

:Meninggal

III. PEMERIKSAAN OBJEKTIF (17 September 2019)


1. Status Pasien
A. Keadaan umum : Komposmentis
B. Vital Sign
 Tekanan darah :-
 Nadi : 100 x/menit
 Nafas : 20 x/menit
 Suhu : 36,8 0C
C. Berat badan : 20 kg
D. Tinggi badan : 120 cm
E. IMT : 13,8 (Status gizi normal)

2. Ekstra Oral
A. Kepala : Simetris

B. Wajah
Inspeksi : Wajah simetris, pembengkakan (-), posisi nasolabial
simetris, lipatan bibir simetris
Palpasi : Nyeri tekan (-)

C. TMJ
Inspeksi : Saat menutup mulut : deviasi (-), pembengkakan (-),
kemerahan (-).
Saat membuka mulut : deviasi (-), pembengkakan (-),
kemerahan (-)
Palpasi : Gerakan sendi TMJ kiri dan kanan lancar, nyeri (-),
kliking (-) spasme otot masseter (-),

D. Kelenjar lymphonodi : Tidak ada pembesaran KGB regio leher dan


regional.

3. Intra Oral
A. Inspeksi:
1. Jaringan Lunak
a. Mukosa bibir : Warna merah muda,
tidak kering, lesi (-), stomatitis (-)
b. Mukosa pipi: Warna merah muda, lesi (-)
stomatitis (-).
c. Gusi : Warna merah muda, bengkak (-),
fistula (-).
d. Lidah : Warna merah muda, lesi (-),
pergerakan normal, ukuran : panjang 6 cm,
lebar 3 cm.
e. Dasar mulut : Lesi (-), torus mandibularis (-).
f. Palatum durum : Torus palatinus (-), lesi
(-), kedalaman normal.
g. Palatum mole : Lesi (-).
h. Tonsil : Ukuran T1-T1.

2. Jaringan keras (gigi)


a. Sisa akar : Gigi 75, 85
3. Karies : Gigi 74, 84
4. Gigi hilang : Gigi 51, 52, 61, 62, 71, 72, 81, 82
5. Plak Kalkulus : tidak ada
Fungsi : Pasien mengunyah hanya pada sisi kanan, fungsi pada sisi
yang mengalami sakit terganggu.

3. Sondase : Nyeri (+) pada gigi 74, perforasi (+) pada gigi
74, 75,
84, 85. Kedalaman karies gigi 74 dan 84 telah
mencapai pulpa.

B. Palpasi : Bengkak (-), Fraktur (-)

C. Thermal : tes ini dilakukan dengan tip applicator kapas


disemprotkan dengan agen pendingin (histoFrezeze, fisher brand) atau
gutta-percha panas yang langsung diaplikasikan ke gigi. Kemudian
diamati pada pasien, apakah pasien mengeluhkan nyeri pada gignya
dan berapa lama pasien mengeluhkan nyeri. Pada pasien ini
mengeluhkan nyeri selama 10-15 detik setelah stimulasi dengan
rangsangan panas dan dingin menunjukkan inflamasi yang dapat hilang
(reversible)
D. Perkusi : nyeri tekan / nyeri ketok (+)

b. Hasil pemeriksaan fisik pada gigi permanen :


Letak gigi teratur, jumlah gigi permanen yang sudah tumbuh 10 buah,
besar gigi dan bentuk gigi normal, karies gigi (-), fraktur gigi (-).
FORMULIR PEMERIKSAAN ODONTOGRAM

NAMA LENGKAP : An. MZ JENIS KELAMIN : Laki-laki


NO RM : 44XX Usia : 7 tahun

Keterangan :
: karies M : Mesial
: sisa akar (radiks) O : Oklusal
: hilang D : Distal
SOU : normal V : Vestibular
PRE : partial erupted L : Lingual
85 RADIKS RADIKS 75
84 KARIES KARIES 74
83 SOU (Normal) SOU (Normal) 73
82 HILANG HILANG 72
81 HILANG HILANG 71

48 Belum Tumbuh Belum Tumbuh 38


47 Belum Tumbuh Belum Tumbuh 37
46 SOU (Normal) SOU (Normal) 36
45 Belum Tumbuh Belum Tumbuh 35
44 Belum Tumbuh Belum Tumbuh 34
43 Belum Tumbuh Belum Tumbuh 33
42 SOU (Normal) SOU (Normal) 32
41 SOU (Normal) SOU (Normal) 31

DIPERIKSA OLEH: TANGGAL TANDA TANGAN


(Perawat Gigi Neneng) PEMERIKSAAN PEMERIKSA:
(17/09//2019)

Foto Gigi Pasien (Sebelum Tindakan)


DIAGNOSIS
Di Puskesmas pasien didiagnosis dengan :
1. Pulpitis akut (K04.0) pada gigi 74
2. Sisa akar : Gigi 75, 85
3. Karies : Gigi 74, 84
4. Gigi hilang : Gigi 51, 52, 61, 62, 71, 72, 81, 82

IV. RENCANA PERAWATAN


1. Rujuk : Untuk pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut ke fasilitas
kesehatan yang lebih memadai dan lengkap.
2. Karies : Pembersihan kotoran gigi
3. Sisa akar : Perawatan saluran akar gigi atau endodontic dan pencabutan
gigi 3 tahun lagi.
4. DHE : Dental Health Education/DHE yaitu dengan memberikan
penyuluhan kesehatan gigi seperti petunjuk cara menggosok gigi, petunjuk
flossing gigi, penyuluhan diet.

V. PENATALAKSANAAN DI PUSKESMAS
Medikamentosa
R/ Amoxicilin tab 250 mg No X
ᶴ 3 dd 1 tab
R/ Paracetamol tab 300 mg No X
ᶴ 3 dd 1 tab

VI. EDUKASI
1. Penatalaksanaan :
 Diharapkan pasien dapat datang ke dokter gigi di lain waktu untuk dilakukan
penambalan pada gigi berlubang dan perawatan saluran akar gigi pada sisa
akar.

2. Pencegahan :
Jangka Pendek:
 Untuk sementara jangan menggosok gigi terlalu keras pada bagian gigi yang
sakit.

Jangka Panjang
 Pasien rutin untuk berobat baik di puskesmas maupun rumah sakit baik
sebelum dan setelah dilakukan tindakan
 Pasien rutin sikat gigi untuk menjaga higeenis rongga mulut
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Pulpitis merupakan suatu kondisi peradangan pada jaringan pulpa dental. 1,2
2.2 Etiologi
Etiologi dari pulpitis umumnya berasal dari penyebaran infeksi yang berawal
dari karies gigi dengan mikroorganisme penyebab tersering Streptococcus mutans.1
Penyebaran infeksi ini dapat terjadi melalui 3 cara antara lain:3
 Melalui defek yang terdapat pada enamel dan dentin yang akhirnya
mengakibatkan ekstensi dari lesi karies, fraktur traumatik atau prosedur dental
yang sebelumnya.
 Melalui foramen apikal atau kanalis lateralis (misalnya dari gigi bersebelahan
yang mengalami abses dental).
 Melalui penyebaran hematogenik yang menyebabkan deposit bakteri pada
jaringan pulpa yang sudah teritasi secara mekanik

Selain infeksi, pulpitis juga dapat disebabkan oleh penyebab mekanik seperti
cedera traumatik, tenaga yang berlebihan pada saat proses mengunyah, atau proses
pengeboran gigi pada prosedur dental. Penyebab lain berupa penyebab kimiawi yaitu
paparan yang berlebihan terhadap larutan yang dapat membuat gigi mengalami
dehidrasi dan demineralisasi seperti pemutih gigi, zat asam yang berada dalam
makanan dan minuman, atau pasta gigi.2,3

2.3 Klasifikasi
Berdasarkan proses inflamasi yang terjadi, pulpitis dapat dibagi menjadi:3
 Pulpitis reversibel – Pulpitis dikatakan masih berada dalam kondisi reversibel
apabila karies atau infeksi yang terjadi masih belum mencapai pulpa namun
sudah menyebabkan peradangan ringan pada jaringan pulpa.
 Pulpitis ireversibel – Pulpitis dikatakan berada dalam kondisi yang ireversibel
apabila inflamasi yang terjadi dalam rongga pulpa telah menyebabkan
peningkatan tekanan dalam waktu yang cepat, menyebabkan penyumbatan
pembuluh darah pada foramen apikal, iskemia dan berakhir pada nekrosis dari
jaringan pulpa.

2.4 Gambaran Klinis


Jaringan pulpa dental merupakan jaringan yang kaya akan vaskularisasi dan
inervasi yang mengakibatkan ketika jaringan ini terstimulasi, maka akan
menghasilkan respon sensoris tunggal yaitu nyeri. Gejala dominan dari pulpitis yaitu
nyeri, yang terutama diperberat dengan perubahan suhu (terutama minuman dingin).
Gejala pulpitis melalui klasifikasi:1,3

Pulpitis reversible. Pasien dengan pulpitis reversibel umumnya mengeluhkan
sensitivitas sesaat berupa perasaan ngilu (dengan durasi yang singkat)
terhadap makanan atau minuman yang dingin, sering kali dapat juga terhadap
makanan manis yang akan hilang pada saat stimulus disingkirkan. Keluhan
nyeri tidak mengganggu (durasi nyeri juga singkat) dan bisa saja tidak
dirasakan. Makanan atau minuman dengan suhu yang tinggi (panas)
umumnya tidak terlalu mengganggu. Keluhan ini disebabkan oleh sensitivitasi
saraf fiber-A. Pada pulpitis reversibel, pasien masih dapat merasakan stimulus
elektrik.3,5

Pulpitis ireversibel. Pasien dengan pulpitis ireversibel umumnya mengeluhkan
sensitivitas yang berkepanjangan. Keluhan ini merupakan keluhan tersering
yang membawa pasien datang ke dokter, dan disertai dengan nyeri yang
berkepanjangan. Pada kondisi ireversibel, pasien akan mengeluhkan
sensitivitas terhadap makanan atau minuman baik yang dingin ataupun yang
panas. Keluhan ini disebabkan oleh sensitivitasi saraf fiber-C. Pada kondisi
ini, saraf pada jaringan pulpa dikatakan vital, namun tidak viabel (tidak akan
bertahan lama karena proses inflamasi yang telah terjadi). Pada pulpitis
ireversibel, kemampuan pasien dalam merasakan stimulus elektrik sudah
berkurang (menandakan disfungsi sensoris saraf dental).2,5

2.5 Radiologi
Beberapa gambaran radiologi yang dapat ditemukan pada kasus pulpitis
sebagai berikut:
1. Nekrosis pulpa, periodontitis apikal simtomatik dengan osteitis.
Pada pasien ini molar 1 kanan bawah terasa ngilu saat makan dingin dan
manismanis sejak beberapa bulan terakhir tetapi perlahan membaik. Saat ini
tidak ada respon terhadap uji termal serta ada nyeri saat menggigit dan nyeri
perkusi. Pada radiografi tampak radioopasitas difus di sekeliling apex.
2. Pulpitis irreversibel simtomatik, dengan jaringan apex normal
Pada pasien ini terdapat ngilu saat minum minuman panas dan dingin setelah
pemasangan crown dari emas pada molar 2 kanan atas, dan saat ini ngilu
terasa 3 terus-menerus. Respon terhadap perkusi normal. secara radiografik
tidak terdapat perubahan pada tulang.

3. Pulpitis reversibel, jaringan apex normal


Pasien mengeluhkan ngilu saat makan makanan manis dan minuman dingin.
Tidak terdapat nyeri perkusi ataupun rasa mengganjal saat menggigit.
2.6 Tatalaksana
Penatalaksanaan pada pulpitis dilihat berdasarkan klasifikasinya.6

1. Pulpitis reversibel

a) Prosedur pada kasus pulp proteksi:

- Bersihkan karies dengan hati-hati, pada titik terdalam dapat menggunakan


excavator yang tajam ujung membulat ukuran 0,1 mm

- Bersihkan kavitas dari jaringan infeksius sampai benar-benar bersih (ditandai


dengan tidak adanya material yang masih dapat terbawa oleh excavator yang
tajam tersebut)

- Lakukan aplikasi bahan proteksi pulpa pada titik terdalam (jangan terlalu
lebar/luas agar tidak mengganggu tumpatan tetap diatasnya

- Dianjurkan menggunakan bahan RMGI (resin modified glass ionomer) apabila


tumpatan diatasnya menggunakan resin komposit

- Apabila menggunakan tumpatan tuang, maka dapat dipilih bahan dari GIC tipe 1

b) Prosedur pada kasus pulp caping:

- Bersihkan karies dengan hati-hati, pada titik terdalam dapat menggunakan


excavator yang tajam ujung membulat ukuran 0,1mm

- Bersihkan kavitas dari jaringan infeksius sampai benar-benar bersih (ditandai


dengan tidak adanya material yang masih dapat terbawa oleh excavator yang
tajam tersebut)

- Lakukan aplikasi pasta Ca(OH)2 untuk kasus hiperemi pulpa atau pulpitis
reversibel pada titik terdalam yang mendekati pulpa, kemudian ditutup
diatasnya dengan tumpatan dari GIC sebagai basis

- Lakukan aplikasi bahan pulp proteksi pada titik terdalam (jangan terlalu
lebar/luas agar tidak mengganggu tumpatan tetap diatasnya)
- Beri tumpatan sementara diatas basis dari GIC, pasien diminta untuk dapat
berkunjung lagisetelah 2- 4 minggu

- Pada kunjungan kedua, lakukan tes vitalitas pada gigi tersebut, perhatikan
apakah ada perubahan saat gigi menerima rangsangan

- Apabila masih terdapat rasa sakit yang jelas, cek kondisi basis apakah ada
kebocoran tepi, apabila ditemukan maka lakukan prosedur aplikasi Ca(OH)2
dengan ditutup dengan basis dari GIC lagi

- Apabila sudah tidak ada keluhan, maka dapat dilakukan tumpatan tetap dengan
resin komposit atau tumpatan tuang.

2. Pulpitis ireversibel
- Pada pelayanan kesehatan tingkat pertama kasus seperti ini dimasukkan dalam
tindakan endodontik darurat untuk mengurangi rasa sakit (karena tekanan)
dengan cara pulpektomi pada gigi berakar tunggal dan pulpotomi untuk gigi
berakar ganda, perlu segera dilakukan anestesi lokal dan ekstirpasi jaringan
pulpa.
- Perawatan endodontik disesuaikan dengan keadaan gigi, yaitu gigi apeks
terbuka dan gigi apeks tertutup.
- Pada dewasa muda dengan pulpitis ringan dilakukan Pulpotomi.
- Pada gigi dewasa dengan perawatan saluran akar (pulpektomi) dan
dilanjutkan restorasi yang sesuai.

1. Pulpototomi Anastesi, isolasi (rubberdam), desinfeksi gigi, preparasi


kavitas, pembukaan atap pulpa, pulpotomi dengan eksavator tajam,
penghentian pendarahan, aplikasi Ca(OH)2, sementasi dengan aplikasi
pasta dan tumpatan tetap.

2. Pulpektomi dan perawatan saluran akar:


- Anastesi, pengukuran panjang kerja, preparasi kavitas, pembukaan atap
pulpa, pengambilan pulpa di kamar pulpa dengan ekskavator tajam,
pendarahan ditekan dengan kapas steril, ekstirpasi pulpa, pembentukan
saluran akar denganjarum endodontik yang sesuai, irigasi NaOCL,
pengeringan saluran akar dengan paper point, pengobatan saluran akar.
Pada kunjungan berikutnya pengisian saluran akar dengan guttap point
dan sealer (bergantung kondisi).

- Tumpatan tetap dengan onlay, crown, atau resin komposit (bergantung


sisa / keadaan jaringan keras gigi).
BAB III
PEMBAHASAN

Berdasarkan anamnesis, Pasien datang dengan keluhan gigi geraham 1 kiri


bawah yang berlubang terasa sakit sejak 2 hari yang lalu. Pasien mengeluhkan selalu
sakit dan rasa sakit pada gigi nya tetap ada meskipun pasien tidak saat makan ataupun
minum. Rasa sakit semakin bertambah dirasakan pada malam hari. Pasien belum
pernah berobat untuk keluhan sakit pada gigi nya. Keluhan bengkak pada gusi, gusi
berdarah disangkal pada pasien.
Pulpitis didefinisikan sebagai suatu kondisi peradangan pada jaringan pulpa
dental. Penyebab terjadinya pulpitis umumnya berasal dari penyebaran infeksi yang
berawal dari karies gigi dengan mikroorganisme (tersering pada staphylococcus
mutans). Selain infeksi, pulpitis juga dapat disebabkan oleh penyebab mekanik
(cedera trauma, tenaga yang berlebihan saat mengunyah, atau proses pengeboran gigi
pada prosedur dental), cedera kimiawi (paparan pemutih gigi, zat asam pada
makanan/minuman, pasta gigi).1,2,3
Pada pasien-pasien yang mengalami sakit pada gigi geraham, terlebih pada
gigi yang berlubang dapat dicurigai adanya infeksi, cedera trauma ataupun kimia.
Berdasarkan pengakuan pasien, keluhan sakit pada gigi geraham pada giginya yang
berlubang dirasakan sejak 2 hari yang lalu. Pada saat dilihat gigi tampak berlubang,
adanya gigi yang hilang, wajah pasien tampak simetris, menandakan tidak terjadi
pembengkakan pada gusi. Keluhan dirasakan pasien terutama pada malam hari, rasa
sakit tidak hilang walaupun saat makan ataupun minum. Berdasarkan hal ini maka
pasien lebih dicurigai mengalami pulpitis.
Jaringan pulpa dental merupakan jaringan yang kaya akan vaskularisasi dan
inervasi yang mengakibatkan ketika jaringan ini terstimulasi, maka akan
menghasilkan respon sensoris tunggal yaitu nyeri. Gejala dominan dari pulpitis yaitu
nyeri, yang terutama diperberat dengan perubahan suhu (terutama minuman dingin).
Gejala dan tanda pulpitis berdasarkan klasifikasi (pulpitis reversible dan
pulpitis irreversible) adalah sebagai berikut: 1-5
 Pulpitis reversible (umumnya mengeluhkan sensitivitas sesaat berupa
perasaan ngilu (dengan durasi yang singkat) terhadap makanan atau
minuman yang dingin, sering kali dapat juga terhadap makanan manis
yang akan hilang pada saat stimulus disingkirkan. Keluhan nyeri tidak
mengganggu (durasi nyeri juga singkat) dan bisa saja tidak dirasakan.
Makanan atau minuman dengan suhu yang tinggi (panas) umumnya tidak
terlalu mengganggu. Keluhan ini disebabkan oleh sensitivitasi saraf fiber-
A. Pada pulpitis reversibel, pasien masih dapat merasakan stimulus
elektrik.).
 Pulpitis irreversible (umumnya mengeluhkan sensitivitas yang
berkepanjangan. Keluhan ini merupakan keluhan tersering yang membawa
pasien datang ke dokter, dan disertai dengan nyeri yang berkepanjangan.
Pada kondisi ireversibel, pasien akan mengeluhkan sensitivitas terhadap
makanan atau minuman baik yang dingin ataupun yang panas. Keluhan ini
disebabkan oleh sensitivitasi saraf fiber-C. Pada kondisi ini, saraf pada
jaringan pulpa dikatakan vital, namun tidak viabel (tidak akan bertahan
lama karena proses inflamasi yang telah terjadi). Pada pulpitis ireversibel,
kemampuan pasien dalam merasakan stimulus elektrik sudah berkurang
(menandakan disfungsi sensoris saraf dental)).
Tatalaksana yang telah dilakukan pada pasien ini berupa pemberian
amoxicilin dan paracetamol. Obat ini termasuk kedalam obat analgetik dan
dikombinasikan dengan obat antipiretik. Pada gigi yang berlubang di observasi, pada
sisa akar gigi disarankan untuk pencabutan gigi. Pasien juga diberikan edukasi berupa
penyuluhan kesehatan gigi seperti petunjuk cara menggosok gigi, penunjuk flossing
gigi.
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada pasien dengan diagnosis pulpitis
terbagi berdasarkan klasifikasi dari pulpitis. Pada pulpitis yang reversible dapat di
tatalaksana dengan membersihkan karies yang ada dan menambal/menutup karies
agar sisa makanan dan bakteri tidak bisa bertumbuh didalam karies. Pada pulpitis
irreversible tatalaksana lebih sulit. Langkah awal yang perlu dilakukan berupa asepsis
untuk memastikan tidak ada bakteri yang berkembang biak didalam pulpa. Setelah itu
pulpa dikeluarkan dan kemudian diisi dengan gutta percha.6
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

4.1 SIMPULAN
Pulpitis merupakan suatu kondisi peradangan pada jaringan pulpa dental. Etiologi
dari pulpitis umumnya berasal dari penyebaran infeksi yang berawal dari karies gigi
dengan mikroorganisme penyebab tersering Streptococcus mutans. Selain infeksi,
pulpitis juga dapat disebabkan oleh penyebab mekanik seperti cedera traumatik,
tenaga yang berlebihan pada saat proses mengunyah, atau proses pengeboran gigi
pada prosedur dental. Penatalaksanaan pada kasus pulpitis berdasarkan kalsifikasinya,
Pada pulpitis reversibel, pulpa dianggap masih vital dan tatalaksana cukup dengan
membersihkan karies yang ada dan menambal karies agar sisa makanan dan bakteri
tidak bisa bertumbuh di dalam karies. Pada pulpitis irreversibel, tatalaksana lebih
sulit. Pulpa dianggap tidak viabel, karena adanya bakteri di dalam pulpa
menyebabkan pulpa yang vital sekalipun tidak bisa sembuh dan pada akhirnya
mengalami nekrosis.
4.2 SARAN
1. Pasien
Pasien disarankan untuk segera berobat ke fasilitas kesehatan yang tersedia
dokter gigi Bedah Mulut agar segera dilakukan penatalaksanaan yang sesuai.
2. Dokter gigi Puskesmas Bunga Raya kabupaten Siak.
Meningkatkan edukasi dan penyuluhan kepada masyarakat mengenai
pentingnya mengatahui tanda-tanda awal terjadi pulpitis pada gigi serta
edukasi mengenai jangan mencabut gigi sendiri
3. Kepala Puskesmas Bunga Raya kabupaten Siak.
o Memfasilitasi sarana dan prasarana yang diperlukan oleh dokter gigi agar
dapat dilakukan tindakan yang lebih baik pada pasien seperti
memperbaiki alat scaling agar bisa dilakukan pembersihan kalkulus di
puskesmas.
o Meningkatkan ketersediaan media promosi untuk kesehatan gigi dan
mulut dalam bentuk poster, banner dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
1. Ryan K, Ray C, editors. Dental and periodontal infection. In: Sherris medical
microbiology. 6th ed. New York: The McGraw-Hill; 2014. p. 256.
2. Durso SC. Oral manifestation of disease. In: Longo DL, Fauci AS, Kasper DL,
Hauser SL, Jamesson JL, Loscalzo J, editors. Harrison’s principles of internal
medicine. 18th ed. New York: The McGraw-Hill; 2011. p. 341.
3. Donaldson LF. Understanding pulpitis. J Physiol. 2006;57:2–3.
4. Jain N, Gupta A, Meena N. An insight into neurophysiology of pulpal pain: facts
and hypotheses. Korean J Pain. 2013;26:347–55.
5. American Association of Endodontists. Endodontic Diagnosis. American
Association of Endodontists; 2013. p. 1–6.
6. Edi Hartini, Sundoro, 2005, Serba – serbi Ilmu Konservasi Gigi, UI-Press, 2007