Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kejahatan adalah suatu kumpulan tindak pidana kejahatan dengan
tujuan untuk mendapatkan kepuasan seksual bagi pelakunya dengan
pemaksaan atau ancaman pada korban, di Negara-negara yang telah maju
dalam perlindungan terhadap warganya kelakuan seksual pelaku sudah dapat
dikategorikan melakukan pidana cukup apabila tidak ada keinginan dari
korban tidak perlu adanya ancaman atau kekerasan.
Dalam kelompok tindak pidana ini jenisnya cukup banyak yaitu
pelecehan seksual, perzinahan, pencabulan maupun perkosaan yang dapat
dilakukan oleh pelaku laki–laki atau perempuan terhadap korban perempuan
atau laki-laki. Persetubuhan adalah masuknya alat kelamin pria ke dalam
liang vagina dengan atau tanpa ejakulasi. Perbuatan cabul adalah semua
perbuatan yang dilakukan untuk mendapatkan kenikmatan seksual diluar
persutubuhan dan tidak dikehendaki korban, sekaligus mengganggu
kehormatan atau susila.
Pelecehan seksual adalah semua perlakuan seksual yang tidak
diinginkan dan membuat seseorang merasa terhina, tertekan serta direndahkan
martabatnya.Perkosaan adalah persetubuhan diluar nikah dengan pemaksaan
kekerasaan dan atau ancaman.Perzinahan adalah persetubuhan yang
dilakukan oleh pasangan dimana salah satu atau keduanya telah terikat dalam
perkawinan (hanya dapat dituntut bila ada pengaduan).
Beberapa Undang-Undang Pidana Republik Indonesia seperti Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Tahun 1982, Undang- Undang
Perlindunga Anak No 23 Tahun 2003, Undang-Undang tentang penghapusan
kekerasan dalam Rumah Tangga No 29 tahun 2004 telah memasukan klausal
tentang kejahatan seksual ini, namun masih disayangkan pasal-pasal dalam
Undang-Undang tersebut walaupun menghukum pelaku cukup berat, proses
pembuktian masih sulit diterapkan dan masih bersifat diskriminatif terhadap
korban khususya perempuan dan anak, misalnya pada kasus pemerkosaan

1
(kasus yang paling berat) harus ada unsur persetubuhan yaitu masuknya alat
kelamin pria kedalam alat kelamin perempuan dengan pengertian yang belum
jelas sampai seberapa jauh masuknya alat kelamin tersebut.
Bila unsur persetubuhan ini tidak dapat dibuktikan maka perbuatan
pelaku hanya dimasukkan dalam percabulan dengan hukuman yang lebih
ringan.Dikatakan diskriminatif karena pada pelacuran yang dikenakan
hukuman hanya pada perempuannya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana pemeriksaan kedokteran forensik pada korban kekerasan


seksual ?
2. Bagaimana menentukan pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan ?
3. Bagaimana menyusun hasil pemeriksaan dalam suatu Visumet Repertum?

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1. Tujuan umum


Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang
pemeriksaan kedokteran forensik pada korban kekerasan seksual.
1.3.2. Tujuan khusus
Tujuan khusus makalah ini adalah untuk mengetahui tentang :
1. Pemeriksaan forensik pada korban kekerasan seksual
2. Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan dalam pemeriksaan
forensik pada korban kekerasan seksual.
3. Penyusunan hasil pemeriksaan dalam suatu Visum et Repertum.

1.4 Manfaat Penulisan

Untuk mengetahui dan menambah informasi mengenai cara


pemeriksaan kedokteran forensik pada korban kekerasan seksualserta untuk
mengetahui cara pembuatan Visum et Repertum.

2
BAB II
ISI

2.1 Perlu diperhatikan Sebelum Pemeriksaan


1) Setiap pemeriksaan untuk pengadilan harus berdasarkan permintaan
tertulis dari penyidik yang berwenang.
2) Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda
bukti. Kalau korban datang sendiri dengan membawa surat permintaan dari
polisi, jangan diperiksa, suruh korban kembali kepada polisi.
3) Setiap Visum et Repertum harus dibuat berdasarkan keadaan yang
didapatkan pada tubuh korban pada waktu permintaan Visum et Repertum
4) Izin tertulis untuk pemeriksaan ini dapat diminta pada korban sendiri atau
jika korban adalah seorang anak, dan orang tua atau walinya, jelaskan
terlebih dahulu tindakan apa yang akan dilakukan pada korban dan hasil
pemeriksaan akan disampaikan ke pengadilan.
5) Seorang perawat atau bidan harus mendampingi dokter pada waktu
memeriksa korban.
6) Pemeriksaan dilakukan secepat mungkin jangan ditunda terlampau lama.
7) Visum et Repertum diselesaikan secepat mungkin. dengan adanya Visum
et Repertum perkara cepat dapat diselesaikan.

2.2 Persiapan Sebelum Pemeriksaan korban Kekerasan Seksual

Sebelum korban dikirim ke Rumah sakit/ fasilitas kesehatan untuk


dilakukan pemeriksaan dokter, perlu dijelaskan dengan hati-hati proses
pemeriksaan forensik dengan memaparkan langkah-langkah penyelidikan.
Sebelum pemeriksaan syarat yang harus dipenuhi adalah :

1. Harus ada permintaan tertulis untuk pemeriksaan kasus kekerasan seksual


dari penyidik atau yang berwenang
2. Dalam melakukan pemeriksaan, petugas kesehatan harus didampingi oleh
petugas kesehatan lainnya. Jika anak yang diduga sebagai korban berjenis

3
kelamin perempuan, sebaiknya diperiksa oleh petugas kesehatan
perempuan dan sebaliknya.
3. Melakukan (inform consent) untuk menjelaskan kepada korban atau
keluarga korban tentang maksud, tujuan, proses, dan lama pemeriksaan
serta mendapatkan persetujuan dari korban maupun keluarga korban.
4. Pemeriksaan dilakukan sendini mungkin untuk mencegah hilangnya alat
bukti yang penting bagi pengadilan.
5. Semua hasil pemeriksaan merupakan catatan penting yang harus disimpan
dalam rekam medis dan bersifat rahasia.

2.3 Pemeriksaan Kedokteran Forensik pada Korban Kekerasan Seksual

Seperti telah disebutkan diatas bahwa pembuktian ada tidaknya tindak


kejahatan seksual khususnya perkosaan sangat sulit dibuktikan karena
kejahatan seperti ini sangat jarang ada saksi (kecuali tertangkap basah) dan
satu-satunya saksi adalah saksi korban, oleh karena itu untuk membuktikan
adanya perkosaan pembuktian ilmiah sangat penting karena tidak
terbantahkan.
Korban kejahatan seksual pada dasarnya adalah orang yang sedang
menderita, apakah penderitaan diakibat adanya perlukaan (fisik) maupun
psikisnya (psikologis) sehingga tentunya secara otomatis mereka akan datang
ke dokter oleh karena itu peran dokter beserta tenaga medis lainnya yang
terlibat dalam penanganan korban pada tahap ini sangat penting.
Ketidaktahuan dari dokter dalam pemeriksaan korban akan menyebabkan
hilangnya barang bukti maupun bertambahnya penderitaan korban baik secara
fisik maupun psikis.
Yang perlu diperiksa oleh dokter terhadap korban kekerasan seksual
sedapat mungkin memenuhi tuntutan yang digunakan dalam undang-undang
hokum pidana. Pemeriksaan fisik juga didasarkan pada kebijakan
juridiksional, dan dilakukan oleh dokter dengan pemeriksaan meliputi :

4
2.3.1 Wawancara / Anamnesis korban kekerasan seksual
Anamnesa yang baik dan tidak menyalahkan korban sangat penting
untuk mengungkapkan kejadian maupun latar belakangnya sehingga
korban merasa memiliki orang yang dapat di percaya dan mengayomi serta
tempat dia merasa terlindungi.
Pada korban kekerasan seksual, anamnesis harus dilakukan dengan
bahasa awam dan mudah dimengerti oleh korban. Gunakan bahasa dan
istilah-istilahyang sesuai tingkat pendidikan dan sosio-ekonomi korban,
sekalipun mungkin terdengar vulgar. Anamnesis dapat dibagi menjadi
anamnesis umum dan khusus. Anamnesis umum mencakup :
 umur (tanggal lahir),
 status pernikahan,
 riwayat paritas dan/atau abortus, riwayat haid (menarche, hari pertama
haid terakhir, siklus haid),
 riwayat koitus sebelum dan/ atau setelah kejadian kekerasan seksual,
dengan siapa, penggunaan kondom/ alat kontrasepsi lainnya,
 penggunaan obat-obatan (termasuk NAPZA),
 riwayat penyakit (sekarang, dahulu),
 keluhan atau gejala yang dirasakan pada saat pemeriksaan.

Sedangkan anamnesis khusus mencakup keterangan yang terkait kejadian


kekerasan sekdual yang dilaporkan dan dapat menuntun pemeriksaan fisik,
seperti :

 What & how.


 Jenis tindakan (pemerkosaan, persetubuhan, pencabulan, dan
sebagainya)
 Adanya kekerasan dan/ atau ancaman kekerasan, serta jenisnya
 Adanya upaya perlawanan
 Apakah korban sadar atau tidak pada saat atau setelah kejadian
 Adanya pemberian minuman, makanan, atau obat oleh pelaku
sebelum atau setelah kejadian

5
 Adanya penetrasi dan sampai mana (parsial atau komplit)
 Apakah ada nyeri di daerah kemaluan
 Adanya ejakulasi dan apakah terjadi diluar atau didalam vagina,
 Penggunaan kondom
 Tindakan yang dilakukan korban setelah kejadian, misalnya apakah
korban sudah buang air,tindakan membasuh (douching), mandi, ganti
baju dan sebagainya.
 When
 Tanggal dan jam kejadian, bandingkan dengan jam dan tanggal
melapor
 Apakah tindakan tersebut baru satu kali terjadi atau sudah berulang
 Where
 Tempat kejadian
 Jenis tempat kejadian ( untuk mencari kemungkinantrace envidence
dari tempat kejadian yang melekat pada tubuh dan atau pakaian
korban)
 Who
 Apakah pelaku dikenal oleh korban atau tidak
 Jumlah pelaku
 Usia pelaku
 Hubungan antara pelaku dan korban

Tanda-tanda kekerasan adalah perlukaan yang dialami korban berupa


pemukulan, gigitan ataupun pemaksaan-pemaksaan lain yang bisanya
berupa memar dan lecet. Pemeriksaan fisik ditujukan untuk dapat
menemukan adanya tanda-tanda yang diakibatkan oleh perlakuan dari
pelaku terhadap korban.Pada kasus perkosaan hal-hal harus dicari dan
dideteksi adalah tanda-tanda maturitas, tanda-tanda kekerasan, dan tanda-
tanda persetubuhan.
Tanda-tanda maturasi saat ini menjadi sangat penting oleh karena
adanya Undang - Undang perlindungan anak, perlakuan kejahatan seksual
yang terjadi pada anak-anak akan mendapatkan sanksi yang berat. Perlu

6
diingat bahwa tidak ada-nya tanda-tanda kekerasan bukan berarti bahwa
korban tidak diperkosa, oleh karena penggunaan obat-obatan
menyebabkan korban tidak dapat melawan atau adanya ancaman yang luar
biasa sehingga korban tidak dapat melawan.

2.3.2 Pemeriksaan Fisik


Pada kasus kekerasan seksual yang baru dapat digunakan “rape kit”
yaitu suatu kit yang berisi amplop-amplop petunjuk untuk membantu
pemeriksa mengumpulkan barang bukti sehingga tidak ada yang
terlewatkan. Dokumentasikan semua temuan dengan mencatatnya
secara rinci di dalam rekam medis dan usahakan pula dokumentasi
fotografik atas temuan yang penting.
Pengambilan sampel untuk pemeriksaan laboratorium dilakukan
apabila peristiwa kekerasan seksual terjadi belum 3 hari sebelum
pemeriksaan. Selain pemeriksaan fisik umum sebagaimana biasa,
lakukan pemeriksaan khusus sebagaimana pada rekam medis untuk
kekerasan seksual. Tuliskan penampilan korban (rambut dan wajah), rapi
atau kusut, keadaan emosional, tenang, sedih atau gelisah.
Dalam hal peristiwa kekerasan seksual belum lama terjadi dan
pakaian yang dikenakan korban masih pakaian yang sama sewaktu
peristiwa terjadi,maka :
a. Bila ditubuh korban banyak menempel barang bukti (seperti
rumput, tanah, dll), pasien dipersilahkan berdiri di atas selembar
kertas putih yang cukup besar (tersedia di dalam rape kit), baju dan
rambutnya digeraikan atau digerak-gerakkan sehingga barang barang
bukti tersebut jatuh, kertas dilipat membungkus barang bukti,
dimasukkan ke dalam amplop, disegel dan tuliskan identitas.
b. Dalam hal pada pakaian korban dicurigai adanya bercak sperma
berupa bercak kaku, maka pakaian tersebut diminta dan
dimasukkan kedalam amplop, sedangkan korban diberi pakaian
pengganti. Lakukan pemeriksaan terhadap keadaan umum, kesadaran,
dan tanda vital tubuh lainnya Perhatikan luka-luka yang sesuai dengan

7
jalannya peristiwa kekerasan seksual yang dialami (dipegangi
tangannya, tungkainya, dibekap, dsb), dan catat dalam rekam medis
meskipun luka tersebut "hanya" berupa memar ataupun lecet kecil.
Lakukan pemeriksaan pertumbuhan gigi geligi dan seks sekunder
(pertumbuhan payudara dan rambut pubis) untuk konfirmasi usia
korban atau kepantasan melakukan hubungan seksual sebagaimana
diminta oleh undang-undang.
c. Bila diduga ada persetubuhan oral, periksa adanya lecet, bintik
perdarahan atau memar pada palatum, kemudian:
 Lakukan swab pada laring dan tonsil dan buat sediaan hapus dua
buah,
o Pemeriksaan mikrobiologi (adanya penyakit hubungan seksual)
o Pemeriksaan sperma dan cairan mani.
 Kapas lidi dikeringkan dan dimasukkan ke dalam amplop.
Kedua sediaan hapus dan amplop berisi kapas lidi yang sudah
kering, dimasukkan ke dalam amplop besar, disegel dan bubuhkan
label identitas serta ditanda-tangan oleh pemeriksa.
 Kuku jari tangan dipotong dan dimasukkan ke dalam amplop
terpisah kanan dan kiri, amplop disegel dan tuliskan label
identitas. Periksa, adakah tanda-tanda bekas kehilangan kesadaran
ataudiberikan obat bius / tidur, apakah ada needle marks. Bila
ada, ini merupakan indikasi untuk pemenksaan darah dan
urin.Darah diambil dari vena cubiti sebanyak 5 ml, sedangkan
urin diambil setidaknya sejumlah 10 ml.

2.3.3 Pemeriksaan Genitalia


a. Pasien diminta untuk tiduran dalam posisi litotomi.
b. Bila pada tubuh korban ditemukan adanya bercak atau bercak basah.
 Bercak yang kering dikerok dengan skalpel dan dimasukkan ke
dalam amplop, disegel dan tuliskan label identitas

8
 Bila terdapat bercak basah, diusap dengan kapas lidi kemudian
dikeringkan dan masukkan ke dalam amplop, disegel dan tuliskan
label identitas.
c. Rambut pubis disisir
 Rambut lepas yang ditemukan (mungkin milik tersangka pelaku)
dimasukkan ke dalam amplop
 Korban diminta untuk mencabut 3-10 lembar rambut pubisnya dan
masukkan ke dalam amplop lain
 Jika didapatkan rambut yang menggumpal, gunting dan masukkan
dalam amplop terpisah
 Seluruh amplop disegel dan tuliskan label identitas
d. Periksa adanya luka di daerah sekitar paha, vulva dan perineum dan
catat jenis, lokasi, bentuk, dasar, tepi dan sekitar luka. Bila dicurigai
adanya eritema, iritasi atau laserasi, dapat disemprotkan cairan
toluidin blue dan bilas dengan aquadest, erosi atau laserasi akan
tampak berwama biru. Periksa saluran vagina dan selaput dara pada
selaput dara, tentukan ada atau tidaknya robekan, robekan baru atau
lama, lokasi robekan tersebut, dan teliti apakah sampai ke dasar atau
tidak.

Dalam hal tidak terdapat robekan, padahal diperoleh informasi


terjadinya penetrasi.

o Pada perempuan dewasa, lakukan pemeriksaan besarnya lingkaran


lubang dengan mencoba memasukkan satu jari kelingking. Bila
kelingking dapat masuk tanpa hambatan dan nyeri, lakukan uji
dengan satu jari telunjuk, dan selanjutnya dengan dua jari (telunjuk
dan tengah).
o Pada anak-anak, lakukan traksi ke lateral kiri dan kanan dengan
dua jari dan ukur diameter introitus vagina.
o Pada kasus sodomi pemeriksaan ditujukan pada daerah anus, hampir
sama dengan pemerkosaan ditentukan ada tidaknya luka lecet, ada

9
tidaknya jaringan parut (sering mengalami sodomi) dan tonus otot
lingkar anus.
Adapun tanda-tanda persutubuhan lainnya adalah :
a. Tanda-Tanda Penetrasi
 Robekan selaput dara
 Perlukaan pada mulut vagina atau liang vagina
b. Tanda-Tanda Ejakulasi
 Adanya sel sperma
 Ada cairan sperma
c. Tanda-Tanda Akibat Persetubuhan .
 Kehamilan
 Penyakit menular seksual

2.3.4 Pengambilan Sampel Untuk Pemeriksaan Laboratorium


Dalam hal terdapat riwayat kekerasan seksual ke arah vagina
atau alat kelamin pada umumnya, dilakukan pengambilan sampel untuk
pemeriksaan laboratorium sebagai berikut:
 Pasang spekulum bila korban telah menikah atau melakukan
kegiatan seksual rutin, gunakan ukuran yang sesuai. Pada korban
yang baru pertama kali disetubuhi lakukan pengambilan sampel
tanpa spekulum.
 Gunakan pipet plastik, ambil cairan dalam vagina, teteskan ke atas kaca
objek, kemudian tutup dengan kaca penutup dan segera diperiksa di
bawah mikroskop adanya spermatozoa. Apabila dalam vagina tidak
ditemukan cairan, bilaslah terlebih dahulu dengan 2 ml larutan
garam fisiologis.

 Masukkan lidi kapas bersih ke dalam vagina, basahkan kapas


dengan cairan vagina dengan cara memutarnya beberapa kali, dan
biarkan di forniks posterior selama satu menit. Pada anak-anak atau
yang belum menikah, kapas lidi ukuran kecil diletakkan di komisura
posterior, didorong ke dalam vagina menelusuri dinding belakang
vagina dengan hati-hati sampai terbentur forniks posterior,

10
digerakkan ke kiri dan ke kanan, ditarik keluar menelusuri
dinding belakang vagina secara hati-hati.Buat 2 buah sediaan hapus
dengan cara menggelindingkan kapas di atas gelas obyek. Keringkan
di udara dalam suhu kamar. Kapas lidi juga dikeringkan.

Setelah sediaan hapus kering, masukkan ke dalam amplop


terpisah, satu untuk pemeriksaan mikrobiologi (pemeriksaan adanya
GO) dan yang lain untuk pemeriksaan forensik klinik.
Dalam hal adanya riwayat persetubuhan dubur, pemeriksaan colok
dubur dan proktoskopi perlu dipertimbangkan untuk melihat adanya
luka baru dan gambaran rugae.
 Lakukan swap pada rugae-rugae
 Buat dua sediaan hapus dan kapas lidi dikeringkan
Amplop berisi kapas lidi kering dikirimkan ke Laboratorium
untuk pemeriksaan fosfatase asam, uji Berberio dan uji
Florence, PAN (uji adanya Zn), dan pewarnaan Malachite
Green untuk sel sperma, serta persiapan pemeriksaan golongan
darah dan DNA dari cairan mani. Bagi bercak yang dicurigai
dilakukan pemeriksaan Baecchi.
Pengambilan urin untuk uji kehamilan dilakukan apabila terdapat
indikasi dan dilakukan setidaknya dua kali, yaitu saat
pemeriksaan pertama kali dan dua hingga empat minggu
sesudahnya. Bila kehamilan telah nyata, dilakukan pemeriksaan
USG untuk menilai keadaan janin dan usia kehamilan.

 Pemeriksaan Penunjang Tambahan

Pemeriksaan Laboratorium
Pada kasus kekerasan seksual, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang
sesuai indikasi untuk mencari bukti-bukti yang terdapat pada tubuh
korban. Pembuktian persetubuhan yang lain adalah dengan memeriksa

11
cairan mani di dalam liang vagina korban. Dari pemeriksaan cairan
mani akan diperiksa sel spermatozoa dan cairan mani sendiri.

a. Menentukan cairan mani


Untuk menentukan adanya cairan mani dalam secret vagina perlu
dideteksi adanya zat-zat yang banyak terdapat dalam cairan mani,
beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk membuktikan hal
tersebut adalah :
 Reaksi Fosfatase Asam
Fosfatase asam adalah enzim yang dikeluarkan oleh kelenjar
prostat di dalam cairan mani dan didapatkan pada konsentrasi
tertinggi di atas 400 kali dalam mani dibandingkan yang mengalir
dalam tubuh lain. Dengan menentukan secara kuantitatif aktifitas
fosfatase asam per 2𝑐𝑚2 bercak dapat ditentukan apakah bercak
tersebut mania tau bukan. Aktifitas 25 U. K. A per 1cc ekstrak
yang diperoleh 1𝑐𝑚2 bercak dianggap spesifik sebagai bercak
mani.
 Reaksi Berberio
Prinsip reaksi ini adalahmenentukan adanya spermin dalam
semen. Spermin yang terkandung pada cairan mani akan beraksi
dengan larutan asam pikrat jenuh membentuk Kristal spermin
pikrat. Bercak diekstraksi dengan sedikit akuades.Ekstrak
diletakkan pada kaca objek, biarkan mongering, tutup dengan
kaca penutup.Reagen diteteskan dengan pipet dibawah kaca
penutup.
Interpretasi hasil positif memperlihatkan adanya Kristal spermin
pikrat yang kekuning-kuningan atau coklat berbentuk jarum
dengan ujung tumpul.
 Reaksi Florence
Dasar reaksi adalah untuk menemukan adanya kholin.Bila
terdapat bercak mani, tampak Kristal kholin-peryodida berwarna
coklat, berbentukjarum dengan ujung terbelah.

12
b. Pemeriksaan Spermatozoa
 Tanpa pewarnaan atau pemeriksaan langsung
Pemeriksaan ini berguna untuk melihat apakah terdapat
spermatozoa yang bergerak.
Pemeriksaan motilitas spermatozoa ini paling bermakna untuk
memperkirakan saat terjadinya persetubuhan.Umumnya disepakati
bahwa dalam 2-3 jam setelah persetubuhan, masih dapat
ditemukan spermatozoa yang bergerak dalam vagina.Bila tidak
ditemukan lagi, belum tentu dalam vagina tidak ada ejakulasi.
 Dengan pewarnaan (pulasan Malachite green 1%)
Interpretasi : pada pengamatan dibawah mikroskop akan terlihat
gambaran sperma dengan kepala sperma tampak berwarna ungu
menyala dan lehernya merah muda, sedangkan ekornya berwarna
hijau.
 Pewarnaan Baecchi
Prinsip kerjanya yaitu asam fukshin dan metilen biru merupakan
zat warna dasar dengan kromogen bermuatan positif. Asam
nukleat pada kepala spermatozoa dan komponen sel tertentu pada
ekor membawa muatan negatif, maka akan berikatan secara kuat
dengan kromogen kationiktadi. Sehingga terjadi pewarnaan pada
kepala spermatozoa.
Interpretasi : kepala spermatozoa berwarna merah, ekor merah
muda, menempel pada serabut benang.
c. Pemeriksaan darah
d. Tes kehamilan
e. Pemeriksaan lain seperti hepatitis, gonorrhea, HIV
f. Pemeriksaan cairan tubuh, liur, atau rambut yang dianggap pelaku

2.3.5 Tehnik Pembuatan Visum Et Repertum Kekerasan Seksual

Visum et repertum dibuat oleh dokter untuk digunakan oleh


kalangan hukum/non medis, sehingga harus ditulis dengan bahasa yang

13
dapat dimengerti oleh orang awam/non medis. Visum et repertum sebagai
alat bukti dalam proses peradilan yang tidak hanya memenuhi standar
penulisan rekam medis, tetapi juga harus memenuhi hal-hal yang
disyaratkan dalam sistem peradilan.
Setiap visum et repertum harus dibuat memenuhi ketentuan umum
sebagai berikut :

a. Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa


b. Bernomor dan bertanggal
c. Mencantumkan kata ”Pro Justitia” di bagian atas kiri (kiri atau
tengah)
d. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
e. Tidak menggunakan singkatan, terutama pada waktu
mendeskripsikan temuan pemeriksaan
f. Tidak menggunakan istilah asing
g. Ditandatangani dan diberi nama jelas
h. Berstempel instansi pemeriksa tersebut
i. Diperlakukan sebagai surat yang harus dirahasiakan
j. Hanya diberikan kepada penyidik peminta visum et repertum.
Apabila ada lebih dari satu instansi peminta, misalnya penyidik
POLRI dan penyidik POM, dan keduanya berwenang untuk itu,
maka kedua instansi tersebut dapat diberi visum et repertum
masing-masing asli.
k. Salinannya diarsipkan dengan mengikuti ketentuan arsip pada
umumnya, dan disimpan sebaiknya hingga 20 tahun.

Secara umum format VeR kejahatan seksual sama dengan


format VeR secara umum. Terdiri dari kalimat "Pro justitia" yaitu
dibuat secara khusus hanya untuk kepentingan peradilan. Visum et
repertum oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai surat resmi
dan tidak memerlukan meterai untuk menjadikan nya berkekuatan
hukum.
Di bagian atas tengah dapat dituliskan judul surat tersebut, yaitu :

14
Visum et Repertum. Pada umumnya, visum et repertum dibuat mengikuti
struktur atau anatomi yaitu :
1. Bagian Pendahuluan
Bagian ini sebenarnya tidak diberi judul "Pendahuluan", melainkan
langsung merupakan uraian tentang identitas dokter pemeriksa beserta
instansi dokter pemeriksa tersebut, instansi peminta visum et repertum
berikut nomor dan tanggal suratnya, tempat dan waktu pemeriksaan,
serta identitas yang diperiksa sesuai denganyang tercantum di dalam
surat permintaan visum et repertum tersebut.
2. Bagian Hasil Pemeriksaan (Bagian Pemberitaan)

Bagian ini diberi judul "Hasil Pemeriksaan", memuat semua hasil


pemeriksaan terhadap "barang bukti" yang dituliskan secara
sistematik, jelas dan dapat dimengerti oleh orang yang tidak
berlatarbelakang pendidikan kedokteran. Untukitu teknik
penggambaran atau pendeskripsiantemuan harus dibuat panjang lebar,
dengan memberikan uraian letak anatomis yang lengkap, tidak
melupakan kiri atau kanan bagian anatomis tersebut.Pencatatan
tentang perlukaan atau cedera dilakukan dengan sistematis mulai
dari atas ke bawah sehingga tidak ada yang tertinggal.

Pada pemeriksaan korban kejahatan seksual bagian ini terdiri dari :

1. Anamnesa
Pada kasus kejahatan seksual yang perlu ditanyakan adalah:
 Kronologis kejadian secara rinci, tempat, tanggal dan jam
kejadian
 Jumlah pelaku, apakah pelaku memakai kondom, ejakulasi
diluar atau didalam.
 Status perkawinan, riwayat aktifitas seksual, hubungan seksual
terakhir
 Riwayat haid, hari pertama haid terakhir (HPHT)

15
 Riwayat pemberian obat-obatan oleh pelaku (riwayat
kehilangan kesadaran).
 Riwayat perkembangan seks sekunder
 Yang dilakukan setelah kejadian

Hasil pemeriksaan meliputi :


 Hasil pemeriksaan kesadaran, keadaan umum (disimpulkan
dari hasil vital sign)
 Apakah korban kooperatif/tidak selama pemeriksaan
 Pakaian apakah sudah diganti/masih pakaian dari TKP
 Pemeriksaan status lokalis :
a. Persetubuhan genital
Deskripsi selaput dara, terdiri dari :Robekan baru/lama,
Kedalaman robekan, Arah robekan, Diameter liang
senggama
b. Persetubuhan anal-genital

Deskripsi luka pada anus, terdiri dari :


Luka pada lipat anus, dengan mendeskripsikan regio, jenis
dan ukuran luka, Lipatan kulit anus, Keadaan sfingter,
Mukosa

c. Persetubuhan oral-anal
Deskripsi luka pada daerah mulut dan palatum, luka pada
daerah palatum durum atau palatum mole dan luka pada
daerah lain dimulut

2. Pemeriksaan penunjang, meliputi :


 Swab vagina atau bilas vagina untuk persetubuhan genital
 Swab kulit dilipatan anus untuk persetubuhan anal-genital
 Swab mukosa mulut, pada daerah gusi bawah untuk
persetubuhan oral-genital

16
 Untuk kasus yang diduga hamil, dilakukan pemeriksaan urin
atau USG
 Untuk kasus yang diduga adanya kehilangan kesadaran akibat
pemberian minuman atau obat-obatan oleh pelaku, dilakukan
pengambilan sampel darah atau urin

Tindakan dan perawatan berikut indikasinya, atau pada keadaan


sebaliknya, alasan tidak dilakukannya suatu tindakan yang
seharusnya diambil. Uraian meliputi juga semua temuan pada saat
dilakukannya tindakan dan perawatan tersebut. Hal ini perlu
diuraikan untuk menghindari kesalahpahaman tentang tepat
tidaknya penanganan dokter dan tepat tidaknya kesimpulan yang
diambil. Perlu diingat bahwa kadang-kadang ditemukan juga
kelainan yang tidak berhubungan dengan perlukaannya, tetapi
mungkin justru merupakan indikasi perawatan atau tindakannya.

3. Bagian Kesimpulan
Bagian ini diberi judul "Kesimpulan" dan memuat
kesimpulan dokter pemeriksa atas seluruh hasil pemeriksaan
dengan berdasarkan keilmuan atau keahliannya. Pada kesimpulan
visum et repertum kejahatan seksual (perkosaan) harus dijelaskan
adanya tanda–tanda persetubuhan yang didapat dari hasil
pemeriksaan fisik maupun laboratorium serta tanda–tanda
kekerasan pada bagian tubuh lain.
Memuat hasil interpretasi yang dapat dipertanggungjawabkan
secara ilmiah dari fakta yang ditemukan sendiri oleh dokter
pembuat visum et repertum, dikaitkan dengan maksud dan
tujuan dimintakannya visumet repertum tersebut.
Pada bagian ini harus memuat minimal 2 unsur yaitu jenis luka
dan kekerasan dan derajat kualifikasi luka.Hasil pemeriksaan
anamnesis yang tidak didukung oleh hasil pemeriksaan lainnya,
sebaiknya tidak digunakan dalam menarik kesimpulan.Pengambilan

17
kesimpulan hasil anamnesis hanya boleh dilakukan dengan penuh
hati-hati.
Kesimpulan visum et repertum adalah pendapat dokter
pembuatnya yang bebas, tidak terikat oleh pengaruh suatu pihak
tertentu.
Tetapi di dalam kebebasannya tersebut juga terdapat
pembatasan, yaitu pembatasan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi,
standar profesi dan ketentuan hukum yang berlaku. Kesimpulan
visum et repertum haruslah dapat menjembatani antara temuan
ilmiah dengan manfaatnya dalam mendukung penegakan
hukum.Kesimpulan bukanlah sekedar resume hasil pemeriksaan,
melainkan lebih kearah interpretasi hasil temuan dalam kerangka
ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku.Salah satu yang harus
diungkapkan dalam kesimpulan sebuah visum et repertum perlukaan
adalah derajat luka atau kualifikasi luka. Dari aspek hukum, visum et
repertum dikatakan baik apabila substansi yang terdapat dalam
visum et repertum tersebut dapat memenuhi delik rumusan dalam
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Penentuan derajat
luka sangat tergantung pada latar belakang individual dokter seperti
pengalaman, keterampilan, keikutsertaan dalam pendidikan
kedokteran berkelanjutan dan sebagainya.
4. Bagian Penutup
Bagian ini tidak diberi judul "Penutup”, melainkan merupakan
kalimat penutup yang menyatakan bahwa visumet repertum
tersebut dibuat dengan sebenar-benarnya, berdasarkan keilmuan
yang sebaik-baiknya, mengingat sumpah dan sesuai dengan
ketentuan dalam KUHAP. Visum et repertum diakhiri dengan
tandatangan dokter pemeriksa atau pembuat visum et repertum dan
nama jelasnya.
Seperti telah disebutkan sebelumnya, visum et repertum juga
bisa ditanda-tangani ganda, yaitu oleh dua orang dokter pemeriksa
atau dokter pemeriksa dan oleh dokter ahli kedokteran forensik

18
sebagai konsulen mediko-legalnya, atau bahkan oleh lebih dari
dua orang dokter. Cara ini digunakan untuk meningkatkan nilai
dari visum et repertum tersebut.
Contoh :
Demikianlah visum et repetum ini dibuat dengan sebenarnya dengan
menggunakan keilmuan yang sebaik-baiknya, mengingat sumpah
sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana dan
tanda tangan dokter pemeriksa. Berikut contoh Visum et Repertum
jenazah.

19
RUMAH SAKIT SANGLAH DENPASAR BAGIAN/SMF/INSTALASI
KEDOKTERAN FORENSIK Telp : 227912 – 227915 Ext. 111
Denpasar,20 juli 2006

PROJUSTITIA
VISUM ET REPERTUM
NO: KF 24/VR/VIII/2006
Berhubung dengan surat Saudara: I Nyoman Suriana, BRIPDA, NRP: delapan
empat nol sembilan nol tiga enam empat, Nomor Polisi B garis miring tiga ratus
dua puluh sembilan garis miring enam romawi garis miring dua ribu enam garis
miring Sek.Mgs, tertanggal dua puluh juni dua ribu enam, maka kami yang
bertanda tangan dibawah ini dokter IDA BAGUS PUTU ALIT, DFM, Sp.F,
dokter pemerintah pada Bagian Instalasi Kedokteran Forensik Rumah Sakit
Sanglah Denpasar menerangkan bahwa kami pada tanggal dua puluh sembilan
juni dua ribu enam pukul enam belas lewat tiga puluh menit Waktu Indonesia
Bagian Tengah telah melakukan pemeriksaan terhadap korban dengan nomor
rekam medis nol satu nol lima tiga sembilan empat satu yang berdasarkan surat
tersebut.
Nama : Maryati
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : Lima belas tahun
Kewarganegaraan : Indonesia
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Jalan Uluwatu tiga puluh empat Jimbaran Kuta Badung

Pada pemeriksaan ditemukan:

a. Perempuan tersebut adalah seorang wanita berumur lima belas tahun dengan
kesadaran baik, emosi tengang, rambut rapi, penampilan bersih, sikap selama
pemeriksaan membantu.
b. Pakaian rapi, tanpa robekan.
c. Tanda kelamin sekunder sudah berkembang.

20
d. Keadaan umum jasmaniah baik, tekanan darah seratus sepuluh per tujuh
puluh milimeter air raksa, denyut nadi sembilan puluh dua kali per menit,
pernapasan dua puluh kali per menit.
e. Luka-luka :tidak ditemukan adanya luka-luka pada korban.
f. Pemeriksaan Kandungan:
 Rahim: Puncak rahim setinggi satu jari dibawah pusat dan teraba benda
keras berbentuk bulat pada dasar rahim serta terdengar denyut jantung
janin.
g. Pemeriksaan Alat Kelamin:
 Mulut alat kelamin : Pada kedua bibir kecil kemaluan tidak tampak
kemerahan.
 Selaput dara : Terdapat robekan lama pada selaput dara hingga ke dasar
sesuai dengan arah jarum jam tiga dan jam sembilan.
 Leher rahim :Tampak merah keunguan dengan permukaan licin, lunak.
h. Pada pemeriksaan tes kehamilan PPT hasilnya positif.
i. Pada pemeriksaan USG tanggal dua puluh juli dua ribu enam didapatkan
janin tunggaldalam rahim sesuai dengan umur kehamilan dua puluh lima
sampai dua puluh enam minggu

21
BAB III
KESIMPULAN

22