Anda di halaman 1dari 21

KANDUNGAN SENYAWA BIOAKTIF TUMBUHAN OBAT DI

INDONESIA SERTA MANFAATNYA UNTUK PENCEGAHAN


DAN PENGOBATAN PENYAKIT

Disusun Oleh:
◇ Nur Aida Amyliana (17030234006)
◇ Meutia Asry (17030234017)
◇ Alfiatus Solichah (17030234044)

KIMIA 2017

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
PROGRAM STUDI KIMIA

2019
DAFTAR ISI

Daftar Isi....................................................................................................................... ii

Kata Pengantar ............................................................................................................ iii

BAB 1: PENDAHULUAN .......................................................................................... 4

1.1 Latar Belakang ....................................................................................................... 4


1.2 Rumusan Masalah .................................................................................................. 4
1.3 Tujuan .................................................................................................................... 5

BAB 2: PEMBAHASAN ............................................................................................. 6

2.1 Senyawa Bioaktif Suatu Tumbuhan ....................................................................... 6

2.2 Senyawa Bioaktif dan Manfaat Tumbuhan Obat ................................................... 9


2.2.1 Komponen Bioaktif dan Manfaat Tumbuhan Mengkudu (Morinda citrifolia)
..................................................................................................................... 9
2.2.2 Komponen Bioaktif dan Manfaat Tanaman (Buah) Pare .......................... 10
2.2.3 Komponen Bioaktif dan Manfaat Tumbuhan Mahkota Dewa .................. 11
2.2.4 Komponen Bioaktif dan Manfaat (Kulit) Buah Manggis .......................... 13
2.2.5 Komponen Bioaktif dan Manfaat Tubuhan Kejibeling ............................. 14

2.3 Manfaat Tumbuhan Obat ..................................................................................... 16

BAB 3: KESIMPULAN ............................................................................................. 18

Daftar Pustaka ............................................................................................................ 19

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah
melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga makalah ini
bisa selesai pada waktunya.
Makalah ini memuat tentang “Kandungan Senyawa Bioaktif Tumbuhan Obat di
Indonesia Serta Manfaatnya Untuk Pencegahan dan Pengobatan Penyakit”. Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kimia Bahan Alam.
Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca.
Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata
sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat
membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.

Surabaya, Agustus 2019

Penyusun

iii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Fitofarmaka atau lebih dikenal dengan tanaman obat merupakan salah satu
alternatif pengembangan biofarmaka, oleh karena itu tanaman sangat berpotensi
besar dalam pengembangan industri obat tradisional di Indonesia.
Indonesia mempunyai potensi besar dalam pengembangan obat karena
didukung oleh beberapa faktor, antara lain: 1) Sumber keanekaragaman hayati
yang terbesar kedua di dunia setelah Brasil sehinggga memberikan peluang untuk
menggali dan meneliti berbagai jenis tanaman, 2) Iklim sepanjang tahun yang
mendukung berhasilnya budidaya tanaman obat, 3) Lahan yang subur dan luas
yang belum semuanya tergarap dengan baik, 4) Kondisi sosial budaya msyarakat
Indonesia yang masih memungkinkan untuk memanfaatkan tanaman obat, 5)
Tingkat ekonomi masyarakat yang masih relatif rendah dan harga obat dari
industri farmasi yang tinggi meyebabkan masyarakat berpaling pada
pemanfaatan tanman obat dan didukung adanya program “BACK TO
NATURE”, 6) Dampak negatif tanaman obat tradisional belum banyak terbukti
secara ilmiah, dan 7) Beberapa penyakit yang sulit disembuhkan oleh obat
farmasi, ternyata dapat disembuhkan dengan mengonsumsi tanaman obat
tradisional.
Keanekaragaman hayati Indonesia yang sangat besar ini yang diketahui
mengandung berbagai senyawa bioaktif luar biasa yang merupakan sumber
potensial bagi pengobatan.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apakah manfaat senyawa bioaktif yang terkandung dalam tumbuhan?
1.2.2 Apa sajakah komponen bioaktif yang terkandung dalam tanaman obat?

4
1.2.3 Apa sajakah manfaat tumbuhan obat untuk pencegahan dan pengobatan
penyakit?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui manfaat senyawa bioaktif yang terkandung dalam
tanaman obat
1.3.2 Untuk mengetahui komponen bioaktif yang terkandung dalam tanaman
obat
1.3.3 Untuk mengetahui manfaat dari tumbuhan obat untuk pencegahan dan
pengobatan penyakit

5
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Senyawa Bioaktif Suatu Tumbuhan


Senyawa bioaktif adalah senyawa kimia atau metabolit sekunder yang
mampu menghasilkan aktivitas biologi (bioaktivitas) dalam tubuh dan berpengaruh
positif terhadadap kesehatan manusia. Metabolit sekunder adalah senyawa
metabolisme yang tidak essensial bagi pertumbuhan organisme dan ditemukan
dalam bentuk yang berbeda-beda antara spesies yang satu dengan yang lainnya.
Setiap organisme biasanya menghasilkan senyawa yang berbeda, bahkan mungkin
satu jenis senyawa metabolit skunder hanya ditemukan pada satu spesies dalam
suatu kingdom.
Perbedaan senyawa metabolit sekunder dan primer terletak pada waktu
sintesisnya. Senyawa metabolit sekunder tidak selalu dihasilkan, akan tetapi hanya
disintesis pada saat tertentu saja. Sedangkan senyawa metabolit primer disintesis
setiap saat untuk kelangsungan hidup tumbuhan.
Beberapa contoh dan manfaat dari metabolit sekunder dapat dilihat pada
Tabel 1.

Tabel 1. Contoh dan manfaat dari metabolit sekunder


Efek dan
Kelas Contoh senyawa Contoh sumber
kegunaan
Mempengaruhi
Nikotin, kokain Tembakau, neurotransmisi dan
Alkaloid
teobromin coklat menghambat kerja
enzim
Membantu
Terpenoid Betakaroten Mengkudu merangsang
kelenjar thymus

6
untuk
memproduksi lebh
banyak sel
Limfosit T yang
dapat langsung
menghancurkan
sel kanker
Mempengaruhi
neurotranmisi,
Monoterpena Mentol, linalool Tumbuhan Mint emnghambat
transpor ion,
anestetik
Menghambat
Ditepena Gossyypol Kapas
fosforilasi toksik
Mempengaruhi
Stereol Spinasterol Bayam
kerja hormon
Mengikat protein,
Tannius Gallotanin, tanin Kacan-kacangan
antioksidan
Semua tanaman
Lignin Lignin Struktur serat
darat

Telah diisolasi dan diketahui sejumlah senyawa bioaktif dari tumbuhan obat
seperti alkolid steroidal yan menghambat kerja enzim asetilkolinesterase, kuinin
untuk obat penyakit malaria, kuinidin untuk obat penyakit jantung, dan flavonoid
yang menghambat kerja enzim ksantinoksidase yang mempengaruhi pembentukan
asam urat (Chaerul, 2002).
Obat tradisional tidak semuanya aman digunakan. Ada beberapa jeis
tanaman yang dapat menyebabkan karsinogen (pemicu kanker) seperti jeringau
(Acorus calamus), Juniperus oxycedrus, dan Sassafras albidum. Beberapa tanaman

7
yang diduga berkhasiat sebagai obat kanker beserta kandungan senyawa
bioaktifnya dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Tanaman yang berkhasiat sebagai obat kanker beserta kandungan


senyawa bioaktifnya
No. Nama Tanaman Senyawa Bioaktif

Tapak dara (Vinca rosea, Catharanthus Vinblastin, Vinkristin, dan


1. Catharantin
roseus, atau Lochnera rosea)

Azadirachtin, nimbin, salanin, dan


2. Mimba (Azadirachta indica) meliatrol

3. Teh hijau (Camellia sinensis) Epigallotin

Kamfor, sineol, metil kavicol,


4. Kunyit Putih (Kaempferia rotunda) saponin, falvonoid, dan polifenol

Curcumol, curdion, kurkuminoid,


5. Temu putih (Curcuma zedoarica) dan flavonoid

6. Kunir putih (Curcuma mangga) Kurkuminoid

Mahkota dewa (Phaleria papuana atau Tannin atau polifenol, saponin,


7. flavonoid, dan alkaloid
Phaleria macroparpa)

Alkaloid, saponin, tannin atau


8. Sambung nyawa (Gynura procumbens) polifenol, dan flavonoid

9. Daun dewa (Gynura pseudocina) Saponin dan flavonoid

10. Mengkudu (Morinda citrifolia) Dammachantal

11. Sambiloto (Andrographis paniculata) Andrigrapolid

(Kardinan dan Taryono, 2003)

8
2.2 Senyawa Bioaktif dan Manfaat Tumbuhan Obat
2.2.1 Komponen Bioaktif dan Manfaat Tumbuhan Mengkudu (Morinda
citrifolia)

Gambar 1. Tumbuhan Mengkudu


(Sumber: https://manfaat.co.id/manfaat-buah-mengkudu)

Mengkudu merupakan tumbuhan tropis. Jenis mengkudu yang banyak


ditemukan di Indonesia adalah Morinda citrifolia yang berdaun lonjong
besar berwarna hijau mengkilap dan Morinda eliptica ynag berdaun jorong
meruncing. Secara umum mengkudu memiliki ciri-ciri berupa pohon
dengan tinggi 1-6 meter, bunga berwarna putih, daun berbentuk lonjong
lebar mengkilap. Buah mengkudu berbentuk bulat lonjong dengan panjang
5-8 meter, emmiliki permukaan seperti terbagi dalam sel-sel poligonal
(bersegi banyak) yang berbintik-bintik dan berkutil (Bangun & Sarwono,
2002).
Komponen bioaktif yang terkandung pada mengkudu diantaranya
adalah damnacanthal, morindin, antrakuinon, asam glutamat, asam
askorbat, thiamin, glikosida, skopoletin, lignan, kumarin, flavonoid, asam
lemak, dan iridoid (ditemukan dalam jumlah yang cukup besar dalam
tanaman ini) (Bangun & Sarwono, 2002).
Manfaat dari tumbuhan mengkudu adalah untuk penyembuhan
berbagai macam penyakit seperti penyakit ginjal, otot, vitalitas dan

9
pencernaan, penyakit diabetes, asma dan masalah pernafasan, depresi, dan
kelainan menstruasi.

2.2.2 Komponen Bioaktif dan Manfaat Tanaman (Buah) Pare

Gambar 2. Tanaman Pare


(Sumber: http://kalteng.litbang.pertanian.go.id)

Buah pare merupakan buah yang berasal dari wilayah Asia Tropis
terutama di daerah India Barat, yakni Assam dan Burna (Subahar, 2004).
Di India, ekstrak buah Pare digunakan sebagai obat diabetik, obat
rheumatik, obat gout, obat penyakit liver dan obat penyakit limfa (Dixit et
al, 1978). Di Indonesia, buah Pare selain dikenal sebagai sayuran, juga
secara tradisional digunakan sebagai peluruh dahak, obat penurun panas
dan penambah nafsu makan. Selain itu, daunnya dimanfaatkan sebagai
peluruh haid, obat luka bakar, obat penyakit kulit dan obat cacing (Pramono
dkk., 1988).
Komponen bioaktif buah pare yang berhasil diketahui adalah
momorkarin, momordenol, momordisilin, momordisin, momordisinin,
momordin, momordolol, karantin, karin, kriptoxatin, diosgenin, asam
elaeostearat, eritrodiol, asam galakturonat, asam gentisat, goyaglikosida
dan goyasaponin asam kafeat, asam ferulat, fisetin dan isoramnetin, 3bβ,
25-dihidroksi-7b-metoksikukurbita-5,23(E)-diena, 3β-hidroks-7,25-

10
dimetokskukurbita-5,23(E)-diena, dan 3-O-β-D allopiranosil-7β,25
dihidroksikukurbita-5,23(E)-dien-19-al (Shu Jing Wu, 2007).
Di sisi lain, komponen bioaktif dalam buah pare yang berguna dalam
perurunan gula darah adalah karantin dan polipeptida-P insulin (polipetida
yang mirip dengan insulin) yang diena memiliki kemampuan menyerupai
sulfonilurea (obat diabetes paling tua din banyak dipakai (Fernandes et al,
2007).
Manfaat dari tanaman (buah) pare adalah untuk membantu pengobatan
diabetes, membantu proses penurunan berat badan, melegakan pernapasan,
menekan pertumbuhan sel kanker, mempercantik kulit, menekan
perkembangan virus HIV (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,
2019).

2.2.3 Komponen Bioaktif dan Manfaat Tumbuhan Mahkota Dewa

Gambar 3. Tumbuhan Mahkota Dewa


(Sumber: okutimurkab.go.id)

Tumbuhan Mahkota dewa adalah tumbuhan yang hidup di daerah


tropis, tumbuhan ini dapat juga ditemukan di pekarangan rumah sebagai
tanaman hias atau di kebun-kebun sebagai tanaman peneduh. Tumbuhan
ini tumbuh tegak dengan tinggi 1-2,5 m. Daun mahkota dewa dapat
dihasilkan sepanjang tahun sedangkan buahnya tidak berbuah sepanjang
tahun dan buah tumbuhan ini dapat digunakan setelah masak atau berwarna

11
merah. Daun dan buah tumbuhan mahkota dewa merupakan tanaman obat
(Dalimartha, 2004).
Mahkota dewa mengandung antihistamin alkaloida, sebab daun
maupun buahnya agak pahit, mengandung senyawa triterpen, saponin dan
polifenol (lignan). Kulit buahnya juga mengandung alkaloida, triterpen,
saponin dan flavonoida (Gotawa dkk., 1999). Menurut Lisdawati dkk.
(2007) daging buah mahkota dewa mengandung senyawa lignan yang juga
termasuk ke dalam golongan senyawa polifenol. Selain itu menurut
Simanjuntak (2008) juga diperoleh senyawa golongan asam lemak, steroid,
benzofenon glikosida dan karbohidrat dalam buah mahkota dewa.
Komponen kimia lainnya dari buah mahkota dewa telah diketahui adalah
5-[4(4-metoksifenil)-tetrahidrofuro[3,4-c]furan-1-il]-benzena-1,2,3-triol
(Lisdawati, 2002) disamping senyawa steroid dan beta-sitosterol,
stigmasterol, dan sikloargentenol (Soeksmanto et al, 2006), serta 6,4’-
dihidroksi-4-metoksibenzofenon-2-O-α-D-glukopiranosida.
Sebagian masyarakat telah mengetahui manfaat buah mahkota dewa,
tetapi belum mengetahui kegunaan dari daunnya. Khasiat dari daun
tumbuhan mahkota dewa dapat mengobati penyakit seperti: kanker, tumor,
diabetes (kencing manis), pembengkakan prostad, asam urat, darah tinggi
(hipertensi), reumatik, batu ginjal, hepatitis, dan penyakit jantung
(Harmanto, 2002). Biji mahkota dewa sangat toksik, sementara buahnya
tidak. Komponen bioaktif dalam buah mahkota dewa meliputi alkaloid,
tanin, saponin, flavonoid, dan polifenol. Lebih lanjut, dilaporkan bahwa
buah mahkota dewa bersifat sitotoksik terhadap sel kanker rahim (sel Hela)
dan sel leukemia, serta menurunkan kadar gula darah. Di samping itu, juga
bersifat antioksidan sebagai scavenger radikal bebas dan menurunkan
kadar asam urat. Sedangkan hasil penelitian Lisdayati (2002) menyebutkan
bahwa buah mahkota dewa dapat menghambat pertumbuhan kanker darah
putih sebesar 50% pada larva udang. Juga, buah mahkota dewa berguna
sebagai penurun kadar gula darah, yaitu dengan menggunakan ekstrak

12
etanol 70% buah mahkota dewa dan hasilnya pada dosis 10mg/200g bb,
kadar gula darah pada tikus terjadi penurunan.

2.2.4 Komponen Bioaktif dan Manfaat (Kulit) Buah Manggis

Gambar 4. Buah Manggis


(Sumber: https://nusantaranews.co/)

Manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan salah satu tanaman


buah berupa pohon yang berasal dari Asia Tenggara. Tanaman buah ini
banyak tumbuh secara alami pada hutan tropis. Tanaman ini dapat
mencapai tinggi 25 dengan diameter batang mencapai 45 cm. Manggis
mampu tumbuh dengan baik pada ketinggian 0-600 mdpl. Suhu udara rata-
rata 20- 30˚C dengan pH tanah berkisar 5-7. Curah hujan yang sesuai untuk
pertumbuhan manggis berkisar 1500-3000mm per tahun yang merata
sepanjang tahun. Manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan salah satu
tanaman yang banyak tersebar di Indonesia. Indonesia telah memproduksi
buah manggis sebanyak 85538ton pada tahun 2010, sedangkan porsi buah
manggis yang dikonsumsi hanya 20-30% dan sisanya berupa kulit,
sehingga terhitung sebanyak 59-67 ribu ton kulit manggis terbuang pada
tahun 2010. Padahal, kulit manggis memiliki banyak khasiat. Kulit
manggis kaya akan xanthon. Kulit manggis memiliki kandungan tanin dan
xanthone sehingga kulit manggis berwarna cokelat, merah dan sewaktu
matang berubah menjadi ungu.

13
Senyawa dari golongan xanthon merupakan metabolit sekunder yang
terdapat dalam manggis yang dapat diisolasi dari buah, kulit, batang, daun,
dan kulit buah manggis. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa xanthon
memiliki bioaktivitas antioksidan, antiinflamasi, antialergi, antibakteri,
antifugi, antitumor, dan antivirus (Pedraza et a.l, 2008; Suksamrarn et al.,
2006). Dilaporkan bahwa ekstrak n-heksana dari kulit buah manggis telah
diketahui mengandung mangostin, sedangkan dari ekstrak etil asetat kulit
buah manggis mengandung komponen bioaktif 13-mangostin, mangostin,
7-mangostin, dan γ-mangostin. Semua isolat tersebut bersifat aktif uji
terhadap bakteri Shigella fleneri, Salmonella typhi, dan Eshericia coli
(Tambunan, 2005).
Kulit buah manggis yang mengandung senyawa xanthone memiliki
fungsi antioksidan tinggi sehingga dapat menetralkan dan menghancurkan
radikal bebas yang memicu munculnya penyakit degeneratif, seperti
kanker, jantung, arthritis, katarak, dan diabetes mellitus. Kulit buah
manggis juga digunakan untuk mengatasi gangguan pernafasan dan obat
diare (Wahyuono et al, 1999). Selain itu, juga digunakan sebagai obat
sariawan dengan cara kulit buah ditambah air dan direbus kemudian
dipakai kumur (Sastroamidjoyo, 2001).

2.2.5 Komponen Bioaktif dan Manfaat Tubuhan Kejibeling

Gambar 5. Tumbuhan Kejibeling


(Sumber: https://www.daftartanamanobat.web.id/)

14
Kejibelling (Stachytarpheta mutabilis) bersinomim dengan
Strobilanthes crispus, Bl. dan Sericocalyx crispus, (Linn.) Bremek.
Tumbuhan yang memiliki nama lokal Kejibeling (Indonesia) dan Ngokilo
(Jawa) ini adalah suatu jenis tumbuhan yang berbatang basah dan sepintas
menyerupai rumput berbatang tegak. Di Jawa, tanaman ini banyak terdapat
di pedesaan yang tumbuh sebagai semak. Batang pohonnya berdiameter
0,2-0,7 cm dan kulit luar berwarna ungu dengan bintik-bintik hijau dan
apabila menjadi tua berubah menjadi coklat. Daun ngokilo berbentuk bulat
telur, dimana pada tepinya bergerigi dengan jarak agak jarang, berbulu
halus hampir tak kelihatan. Panjang helaian daun (tanpa tangkai) 5-8 cm
(ukuran normal) dan lebar 2-5 cm. Tumbuhan ini mudah berkembang biak
pada tanah subur, agak terlindung, dan tempat terbuka (Tukiran, 2015).
Daun kejibeling mengandung unsur-unsur mineral, seperti kalium,
natrium, kalsium, dan beberapa unsur lainnya.
Tanaman kejibeling memiliki kandungan kimia, yaitu: kalium yang
berkhasiat untuk melancarkan air seni serta menghancurkan batu dalam
empedu, ginjal dan kandung kemih, natrium berfungsi untuk meningkatkan
cairan ekstraseluler yang menyebabkan peningkatan volume darah,
kalsium berfungsi untuk membantu proses pembekuan darah dan asam
silikat berfungsi untuk mengikat air, minyak dan senyawa-senyawa non-
polar lainnya (Marwan, 2009).
Daun kejibeling memiliki khasiat untuk mengurangi rasa gatal, obat
batu ginjal yang memiliki khasiat meluruhkan air seni dan untuk obat wasir
yang memiliki khasiat mengurangi pendarahan (Marwan, 2009).
Kejibeling juga bermanfaat untuk pengobatan penyakit tumor, kencing
manis (Diabetes mellitus), lever/liver (sakit kuning), ambeien (wasir),
kolesterol tinggi, maag, juga dapat mengobati apabila terkena bias ulat dan
semut hitam (Tukiran, 2015).

15
2.3 Manfaat Tumbuhan Obat
Tumbuhan obat tradisional merupakan ramuan bahan alam yang secara
tradisional telah digunakan untuk pengobatan. Tanaman obat sendiri memiliki
ribuan jenis spesies. Dari jumlah tersebut, 25% diantaranya sudah diketahui
memiliki khasiat herbal atau tanaman obat.
Beberapa jenis spesies tanaman obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat
Indonesia untuk pencegahan dan pengobatan penyakit selain yang telah
disebutkan di atas dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Tanaman obat dan manfaatnya untuk pencegahan dan pengobatan


penyakit
No. Nama Spesies Manfaat/Khasiat
1. Ande-ande lumut/cakar ayam Daun, untuk obat kanker paru, infeksi
(Selaginella doederleinii Hieron.) saluran nafas, bronchitis, radang paru
(pneumonia), batuk, serak, koreng,
hepatitis, rheumatik, infeksi akut saluran
kencing
2. Beluntas (Pluchea indica L.) Daun, untuk antiradang, menghentikan
pendarahan, diare, disentri, nyeri lambung
dan ulu hati
3. Bunga sepatu (Hibiscus Untuk obat pilek, flu batuk, demam,
rosasinensis L.) mengurangi tekanan darah tinggi
(hipertensi) serta kandungan kolesterol
jahat, penambah daya tahan tubuh,
antijerawat, antikanker.
4. Meniran (Phyllanthus niruri Linn) Daun untuk mengobati ayan, sembelit,
malaria,tekanan darah tinggi, sariawan,
gangguan haid
Akar untuk nyeri perut, penyakit gigi

16
5. Pacar air (Impatiens balsamina Biji untuk mempermudah persalinan,
Linn.) mengobati kanker saluran pencernaan
bagian atas
Bunga untuk mengobati rematik, bisul,
gigitan ular, radang kulit
Akar untuk peluruh haid, anti-inflamasi,
rematik
6. Bougenvile (Bougainvillea glabra Untuk mengobati bisul, hepatitis,
C.) keputihan, sakit waktu haid, darah haid
menggumpal, haid tidak teratur dan
menyegarkan badan
7. Sambang darah (Excoecaria Untuk disentri, muntah darah, pendarahan
cochinchinesis Lour.) haid berlebihan, pendarahan setelah
bersalin ataupun keguguran, dan luka
berdarah
(Tukiran, 2015)

17
BAB 3

KESIMPULAN

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati sangat besar yang mengandung


berbagai senyawa bioaktif yang merupakan sumber potensial bagi pengobatan.
Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat antara lain akar, batang,
kulit batang, daun, buah, umbi, getah dan biji.
Masalah/kendala yang dihadapi dalam pemanfaatan tumbuhan obat yaitu
ketersediaan tumbuhan yang berkhasiat obat, karena sebagian besar tumbuhan
yang dimanfaatkan merupakan tumbuhan liar dan belum dibudidayakan dan juga
minimnya pengetahuan dari kaum muda tentang pemanfaatan dan pengelolahan
tumbuhan obat.

18
DAFTAR PUSTAKA

Bangun, A.P. dan Sarwono, B. 2002. Khasiat & Manfaat Mengkudu. Tangerang:
Agromedia Pustaka.
Chaerul. 2002. Tempuyung untuk Menghadang Asam Urat, Intisari, 1-5.
Dalimartha, Setiawan. 2004. Deteksi Dini Kanker & Simplisia Antikanker. Jakarta:
Penebar Swadaya Jakarta.
Dixit VP, Kimnna P, Bhargava SK. 1978. Effects of Momordica charantia L. Fruit
extract on the Testicular Function of Dog. Journal Med. Plant Res. 34:280.
Fernandes N, Lagishetty CV, Panda VS, and Naik, S. R. 2007. An Experimental
Evaluation of The Antidietetics and Antilipidemic Properties of A Standatdized
Momordica Charantia Fruit Extract. BMC Complementery and Alternative
Medicine.
Gotawa, I. B. I., S. Sugiarto, M. Nurhadi, Y. Widiyastuti, S. Wahyono & IJ. Prapti.
1999. Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Harmanto, N. 2002. Mahkota Dewa: Obat Pusaka Para Dewa. Jakarta: Agro Media
Pustaka.
Kardinan, A. dan Taryono. 2003. Tanaman Obat Penggembur Kanker. Jakarta:
Agromedia Pustaka.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2019. Manfaat Buah Pare Untuk
Kesehatan dan Kecantikan. www.kemkes.go.id.
Lisdawati, V., S. Wiryowidagdo & L.B.S. Kardono. 2007. Isolasi dan Elusidasi
Struktur Senyawa lignan dan Asam Lemak dari Ekstrak Daging Buah Phaleria
macrocarpa. Buletin Penelitian Kesehatan. 35, 115-124.
Lisdayati, V., S. 2002. Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.):
Toksisitas, Antioksidan dan Efek Anti Kanker Berdasarkan Uji Penapisan
Farmakologi. Jakarta: FMIPA Universitas Indonesia.

19
Marwan. 2009. Pengaruh Ekstrak Daun Kejibeling Terhadap Pertumbuhan Bakteri
Staphylococuss aureus r. dan Pengajarannya di SMA Negeri 16 Palembang.
Skripsi. Palembang: Universitas Muhammadiyah Palembang.
Pedraza, J.C., Cardenas, N.R., Orozco, M.I., and Jazmin, M.P. 2008. Medicinal
Properties of Mangosteen (Garcinia mangostana L.). Journal of Health
Science, 48(3), 273-276.
Pramono, S, Ngatijan, Sudarsono S. Budiono, dan Pujoarianto A. 1988. Obat
Tradisional Indonesia I. Yogyakarta: Pusat Penelitian Obat Tradisional UGM.
Sastroamidjojo, S. 2001. Obat Asli Indonesia. Edisi 6, ed. A. Tjokronegoro, ed. Jakarta:
Dian Rakyat.
Shu Jing, Wu and Lean Teik Ng. 2007. Antioxidant and Free Radical Scavenging
Activities of Wilod Bitter Melon (Momordica charantia Linn. Var. abbreviata
Ser). Taiwan: University of Pharmacy an Technlogy.
Simanjuntak, P. 2008. Identifikasi Senyawa Kimia dalam Buah Mahkota Dewa
(Phaleria macrocarpa), Thymelaceae. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia. 6,
23- 28.
Soeksmanto, J. 2002. Efek Antimitotik Ektrak Benalu Teh (Scurulla atropurpurea
(BI.) Dans). Jurnal Obat Bahan Alam, 1(1), 16-20.
Subahar, Tati S. S. 2004. Khasiat dan Manfaat Pare Si Pahit Pembasmi Penyakit.
Jakarta: Penerbit Agromedia Pustaka.
Suksamrarn, S., Komutiban, O., Ratananukul, P., Chimnoi, N., Lartpornmatulee, N.,
dan Suksamrarn, A. 2006. Cytotoxic Prenylated Xanthones From The Young
Fruit of Garcinia mangostana. Chemical & Pharmaceutical Bulletin, 54, 301-
305.
Tambunan, R.M. 2005. Telaah Kandungan Kimia dan Aktivitas Antimikroba Kulit
Buah Manggis (Garcinia mangostana L.). Bandung: Departemen Farmasi
Ganesha Digital Library.
Tukiran. 2015. Kimia Bahan Alam. Surabaya: Unesa University Press.

20
Wahyuono, S., Puji, A., dan Wayan, T.A. 1999 Karakterisasi Senyawa Bioaktif Alpha
Mangostin dari Kulit Buah Garcinia mangostana L. Majalah Farmasi
Indonesia. 10(3).
http://kalteng.litbang.pertanian.go.id
https://manfaat.co.id/manfaat-buah-mengkudu
https://nusantaranews.co/
https://www.daftartanamanobat.web.id/
okutimurkab.go.id

21