Anda di halaman 1dari 21

ARTIKEL

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SDN Baleasri, Kecamatan Ngariboyo,

Kabupaten Magetan, yang terdiri dari dua sekolah, yaitu: SDN Baleasri 1

dan SDN Baleasri 2. Pemilihan tempat penelitian ini dilakukan dengan

pertimbangan bahwa di sekolah tersebut terdapat pelaksanaan pendidikan

karakter.

Ditinjau dari aspek geografis, SDN Baleasri, Kecamatan Ngariboyo,

Kabupaten Magetan terletak di Jalan Raya Desa Baleasri, Kecamatan

Ngariboyo Kabupaten Magetan. Sekolah ini berada di tengah pemukiman

penduduk dan dekat dengan sawah, sehingga mendukung kelancaran proses

belajar mengajar melalui lingkungan yang tenang dan nyaman.

Ditinjau dari sudut sosial-budaya kehidupan siswa di sekolah sangat

harmonis dan selalu di bawah perhatian para staf dan guru sekolah. Situasi

kehidupan masyarakat sekitar tempat penelitian itu juga sangat kondusif,

damai dan aman, sehingga memperlancar proses belajar mengajar. Sosial

budaya masyarakat di sekitar sekolah juga berkembang dengan pesat,

terbukti bahwa rata-rata siswa telah mengenal berbagai teknologi informasi

modern, mulai dari internet maupun media sosial-media sosial yang dapat

diakses di setiap waktu.

27
28

Secara ekonomi, kondisi perekonomian orang tua siswa SDN Baleasri,

Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan sudah di atas rata-rata. Hal ini

dapat diidentifikasi dari kemampuan para orang tua untuk membiayai anak-

anaknya, termasuk dalam memenuhi setiap kebutuhan peralatan pendukung

pembelajaran di sekolah. Latar belakang pekerjaan orangtua/wali siswa juga

beraneka ragam, ada yang menjadi petani, Pegawai Negeri Sipil,

wiraswasta, buruh, dan pedagang. Situasi kehidupan masyarakat sekitar

tempat penelitian itu juga mendukung proses belajar mengajar. Kesadaran

masyarakat tentang pentingnya pendidikan sudah tinggi.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Maret sampai dengan Juli

2017, dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

Tabel 3.1. Rincian Kegiatan Penelitian


Bulan Ke-, Tahun 2018
No. Jenis Kegiatan
1 2 3 4 5
1. Pengajuan judul
2. Penyusunan proposal
penelitian
3. Penyusunan
instrumen penelitian
4. Pengajuan ijin
penelitian
5. Penyebaran
instrumen dan
pengambilan data
6. Analisis data
penelitian
7. Penyusunan laporan
penelitian

B. Desain Penelitian
29

Desain penelitian menggunakan desain deskriptif korelasional ex post

facto. Penelitian ex post facto adalah penelitian dengan melakukan

penyelidikan secara empiris yang sistematik, dimana peneliti tidak mempunyai

kontrol langsung terhadap variabe-variabel bebas (independent variables),

karena fenomenanya sukar dimanipulasi (Siregar, 2014:11). Penelitian ini

dirancang dengan metode korelasional. Metode korelasional yaitu penelitian

yang bertujuan untuk mengetahui hubungan suatu variabel dengan variabel

lainnya (Sugiyono, 2013: 29), yaitu variabel penanaman pendidikan karakter

dengan variabel perilaku anak.

Mengacu pada pendapat (Sugiyono, 2013: 64), desain penelitian ini dapat

dilihat pada gambar 3.1 berikut ini:

X Y

Gambar 3.1. Desain Korelasi

Keterangan:

X : Penanaman pendidikan karakter

Y : Perilaku anak

C. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel

1. Populasi Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau

subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik


30

kesimpulannya (Sugiyono, 2013: 117). Bertolak dari pendapat tersebut

maka peneliti menetapkan populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas

IV SDN Baleasri, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan tahun

pelajaran 2018/2019. Berdasarkan data sekolah, jumlah siswa kelas IV SDN

Baleasri, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan tahun pelajaran

2018/2019 adalah sebanyak 99 siswa, dengan perincian sebagai berikut:

Tabel 3.2. Populasi Jumlah Siswa Kelas VI SDN Baleasri, Kecamatan


Ngariboyo, Kabupaten Magetan Tahun Pelajaran 2018/2019
Jumlah Siswa ∑
No. Kelas
L P Total
1. IV SDN Baleasri 1 9 14 23
2. IV SDN Baleasri 1 12 13 25
Jumlah 21 27 48
Sumber: data internal SDN Baleasri, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten
Magetan Tahun Pelajaran 2018/2019

Berdasarkan data di atas, maka populasi penelitian ini adalah seluruh

siswa kelas IV di SDN Baleasri, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten

Magetan tahun pelajaran 2018/2019 yang berjumlah 48 siswa.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah atau karakteristik yang dimiliki

oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2013: 118). Mengacu pada data di SDN

Baleasri, diperoleh informasi bahwa seluruh siswa kelas IV di SDN

Baleasri, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan tahun pelajaran

2018/2019 yang berjumlah 48 anak diwajibkan mengikuti penanaman

pendidikan karakter. Oleh karena itu, maka sampel penelitian ditetapkan

sebanyak 48 siswa. Berdasarkan hal tersebut maka dalam menentukan


31

sampel penelitian digunakan metode yang sesuai dengan kondisi populasi

penelitian

3. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini ini

adalah teknik total sampling atau sampling jenuh. Menurut Sugiyono (2013:

124-125) sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua

anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila

jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 100 orang. Istilah lain sampel

jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.

Berdasarkan pendapat tersebut maka seluruh populasi dalam penelitian ini

dijadikan sampel. Dengan demikian, sampel pada penelitian ini adalah

seluruh siswa kelas IV di SDN Baleasri, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten

Magetan tahun pelajaran 2018/2019 yang berjumlah 48 siswa.

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

1. Variabel Penelitian

Variabel adalah konstruk yang sifat-sifatnya telah diberi angka

(kuantitatif) atau juga dapat diartikan sebagai variabel adalah konsep yang

mempunyai bermacam-macam nilai, berupa kuantitatif maupun kualitatif

yang dapat berubah-ubah nilainya (Siregar, 2014:18). Penelitian dengan

judul “Pengaruh Penanaman Pendidikan Karakter terhadap Perilaku Anak

Pada Siswa Kelas IV SDN Baleasri, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten

Magetan” ini menggunakan variabel satu bebas dan satu variabel terikat.
32

Menurut Siregar (2014:18), variabel bebas (independent) adalah

variabel yang menjadi sebab atau berubah/memengaruhi suatu variabel lain

(variabel dependent). Juga sering disebut dengan variabel bebas, prediktor,

stimulus, eksogen, atau antecedence. Menurut Siregar (2014:19) Variabel

terikat (variabel dependent) merupakan variabel yang dipengaruhi atau

menjadi akibat, karena danya variabel lain (variabel bebas). Variabel ini

juga sring disebut variabel respons atau endogen. Pada penelitian ini,

variabel bebasnya (X) adalah penanaman pendidikan karakter, sedangkan

variabel terikat (Y), yaitu perilaku anak.

2. Definisi Operasional

Untuk mengukur variabel penelitian secara benar, maka peneliti

terlebih dahulu harus mengoperasikan variabel-variabel penelitian ini

sebagai berikut:

a. Penanaman pendidikan karakter

Penanaman pendidikan karakter adalah usaha seorang guru

menanamkan nilai-nilai dalam hal ini adalah nilai-nilai pendidikan

karakter pada peserta didiknya yang dilandasi oleh pemahaman terhadap

berbagai kondisi pembelajaran yang berbeda-beda yang ditandai dengan

adanya: (a) kegiatan sekolah yang diprogramkan, maupun kegiatan

sehari-hari atau rutinitas sekolah, (b) perilaku peserta didik di kelas dan

sekolah, dan (c) budaya sekolah, yaitu: perilaku, tradisi, kebiasaan

keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga

sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai


33

tersebut. Data penanaman pendidikan karakter dalam penelitian ini

dikumpulkan dengan angket.

b. Perilaku anak

Perilaku anak didefinisikan sebagai sebagai segala kegiatan anak

yang tidak kelihatan, yang disadari maupun yang tidak disadari, seperti

berbicara, berjalan, cara ia melakukan kegiatan sesuatu, caranya bereaksi

terhadap segala sesuatu yang datang dari luar dirinya, maupun dari dalam

dirinya yang ditandai dengan adanya: perilaku agama atau religius,

perilaku jujur, perilaku toleransi, dan perilaku peduli sesama. Data

perilaku anak dalam penelitian ini dikumpulkan dengan angket.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket.

Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh

informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal

yang ia ketahui (Arikunto, 2010: 194). Angket disusun oleh peneliti dengan

empat jawaban alternatif, yaitu: Selalu, Sering, Kadang-Kadang, dan Tidak

Pernah. Perubahan data angket dari kualitatif menjadi kuantitatif dilakukan

melalui pemberian skor hasil isian angket. Pada penelitian ini, penskoran

angket tentang penanaman pendidikan karakter dan perilaku anak dilakukan

berdasarkan Skala Likert (Sugiyono, 2013: 134-135) dengan alternatif jawaban

yang telah disediakan oleh peneliti. Cara pemberian skor hasil isian angket

yaitu sebagai berikut:


34

Tabel 3.3. Distribusi Skor untuk Jawaban Angket

Skor
Jawaban
Selalu Sering Kadang-Kadang Tidak Pernah
Pertanyaan positif
4 3 2 1
(favourable)
Pertanyaan negatif
1 2 3 4
(unfavourable)

F. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket. Angket

adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh

informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal

yang ia ketahui (Arikunto, 2010: 194). Angket dalam penelitian ini digunakan

untuk mengumpulkan data-data tentang penanaman pendidikan karakter dan

perilaku anak.

Angket disusun atas dasar kisi-kisi dan kisi-kisi tersebut memuat

indikator item. Indikator item disusun berdasarkan teori-teori tentang variabel

penelitian. Kisi-kisi angket penanaman pendidikan karakter dan perilaku anak

dapat dilihat pada tabel berikut ini:


35

Tabel 3.4. Kisi-kisi Angket Penanaman Pendidikan Karakter


Penyebaran Item
No. Indikator Jumlah
Favourable Unfavourable
1. Kegiatan sekolah yang
deprogram-kan, maupun
1, 7, 13, 19, 25 4, 10, 16, 22, 28 10
kegiatan sehari-hari atau
rutinitas sekolah
2. Perilaku peserta didik di kelas
2, 8, 14, 20, 26 5, 11, 17, 23, 29 10
dan sekolah
3. Budaya sekolah, yaitu:
perilaku, tradisi, kebiasaan
keseharian, dan simbol-simbol
yang dipraktikkan oleh semua
3, 9, 15, 21, 27 6, 12, 18, 24, 30 10
warga sekolah, dan masyarakat
sekitar sekolah harus
berlandaskan nilai-nilai
tersebut
Jumlah 15 15 30

Tabel 3.5. Kisi-kisi Angket Perilaku anak


Penyebaran Item
No. Indikator Jumlah
Favourable Unfavourable
1. Perilaku agama atau religius 1, 9, 17, 25 5, 13, 21 7
2. Perilaku jujur 2, 10, 18, 29 6, 14, 22, 26 8
3. Perilaku toleransi 3, 11, 19, 27 7, 15, 23, 30 8
4. Perilaku peduli sesama 4, 12, 20 8, 16, 24, 28 7
Jumlah 15 15 30

Salah satu hal penting dalam penelitian adalah cara memperoleh data

yang akurat dan obyektif. Hal ini menjadi sangat penting sebab kesimpulan

yang diambil hanya akan dapat dipercaya bila didasarkan pada data yang

akurat. Untuk itu dalam penelitian ini perlu diketahui seberapa tinggi

reliabilitas dan validitas alat ukur (instrumen) yang digunakan. Untuk

melakukan uji kualitas dari data, maka perlu dilakukan uji validitas dan uji

reliabilitas dari angket yang digunakan.


36

Berkaitan dengan uji validitas dan reliabilitas item atau butir pertanyaan,

maka angket yang telah disusun selanjutnya diujicobakan kepada beberapa

sampel uji coba serta dilakukan uji validitas dan reliabilitas.

1. Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu

instrumen penelitian. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu

mengukur apa yang diinginkan (Arikunto, 2010: 211). Sebuah instrumen

dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti

secara tepat. Dalam penelitian ini uji validitas dianalisis menggunakan

korelasi product moment dengan formulasi sebagai berikut:

n xy   x  y 
rxy 
n x   x  n y   y  
2 2 2 2

(Arikunto, 2010: 213)


Keterangan:
rxy = koefisien korelasi X dan Y
n = jumlah sampel
∑XY = jumlah produk X dan Y
∑X = jumlah nilai X
∑Y = jumlah nilai Y

Setelah dihitung semua antara masing-masing item pertanyaan dengan

skor total, nilai korelasi dapat diuji apakah signifikan atau tidak, dengan

menggunakan tabel signifikan nilai product moment dengan taraf signifikan

 = 5% dan df = n – k. Nilai r hitung dibandingkan dengan nilai rtabel. Jika

nilai rhitung < rtabel, maka dapat dikatakan tidak valid, jika rhitung > rtabel, maka

dikatakan valid. Penentuan kategori dari validitas instrument yang mengacu


37

pada pengklasifikasian validitas yang dikemukakan oleh Arikunto (2012:

89) sebagai berikut:

a. Antara 0,800 sampai dengan 1,00 : sangat tinggi

b. Antara 0,600 sampai dengan 0,800 : tinggi

c. Antara 0,400 sampai dengan 0,600 : cukup

d. Antara 0,200 sampai dengan 0,400 : rendah

e. Antara 0,00 sampai dengan 0,200 : sangat rendah

2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas menunjukkan pada satu pengertian bahwa suatu instrumen

cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena

instrumen tersebut sudah baik (Arikunto, 2010: 221). Setiap alat pengukur

seharusnya memberi hasil pengukuran yang konsisten. Uji reliabilitas

dilakukan untuk menguji ketepatan alat ukur yang digunakan dalam

penelitian ini. Uji reliabilitas dilakukan dengan koefisien Cronbach Alpha.

Koefisien alpha ini berkisar antara 0 sampai dengan 1, jika alpha kurang

dari 0,7 menunjukkan bahwa item pengukuran tidak reliabel (Ghozali, 2011:

42). Suatu alat ukur dikatakan baik, bila tidak berubah-ubah pengukurannya

dan dapat diandalkan apabila alat ukur tersebut digunakan berkali-kali akan

memberikan hasil yang serupa.

Untuk menguji reliabilitas, dapat dihitung dengan rumus Alpha

sebagai berikut (Arikunto, 2010: 239):


38

 k    b 
2
R1 =   1  
 k  1   t2 
Keterangan:

R1 = reliabilitas instrumen
k = banyaknya butir pertanyaan
 b2 = jumlah varian butir

 t2 = jumlah varian soal.

F. Teknik Analisis Data

Data-data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik

analisis korelasi Product Moment, yaitu untuk menganalisis hubungan antara

penanaman pendidikan karakter terhadap perilaku anak kelas IV SDN Baleasri,

Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan. Rumus analisis korelasi Product

Moment dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

n xy   x  y 
rxy 
n x   x  n y   y  
2 2 2 2

(Arikunto, 2010: 213)


Keterangan:

rxy = koefisien korelasi X dan Y

n = jumlah sampel

∑XY = jumlah produk X dan Y

∑X = jumlah nilai X

∑Y = jumlah nilai Y

Nilai r terbesar adalah +1 dan r terkecil adalah –1. r = +1 menunjukkan

hubungan positif sempurna, sedangkan r = -1 menunjukkan hubungan negatif


39

sempurna. Tidak mempunyai satuan atau dimensi. Tanda + atau - hanya

menunjukkan arah.

Tabel 3.6. Pedoman Interpretasi terhadap Koefisien Korelasi


Interval Koefisien Tingkat
Hubungan
0,00 – 0,199 Sangat rendah
0,20 – 0,399 Rendah
0,40 – 0,599 Sedang
0,60 – 0,799 Kuat
0,80 – 1,000 Sangat Kuat
Sumber: Sugiyono (2013: 231)

Apabila koefisien korelasi negatif, maka korelasi antara dua variabel

tersebut bersifat negatif. Hal ini dikarenakan, indeks korelasi yang tidak pernah

lebih dari 1,00 (Sugiyono, 2013: 231).

Pengujian lanjutan yaitu uji signifikasi yang berfungsi apabila peneliti

ingin mencari makna hubungan variabel X terhadap Y, maka hasil korelasi

Product Moment tersebut diuji dengan uji signifikansi. Uji signifikansi

digunakan agar koefisien korelasi yang diperoleh dapat

dipertanggungjawabkan hasilnya. Berikut adalah rumus uji signifikansi, yaitu:


Z 
2(2N  5)
9N(N  1)

(Sugiyono, 2013: 241)


Keterangan:

Z = uji signifikansi

N = jumlah anggota sampel

Selanjutnya, harga Zhitung tersebut dibandingkan dengan harga Ztabel dengan

taraf kesalahan 0,5%. Jika harga Zhitung lebih besar dari harga Ztabel, maka

koefisien korelasi Kendal Tau yang diperoleh adalah signifikan.


40

Berkaitan dengan teknik analisis data yang digunakan, maka sebelum

dilaksanakan pengujian menggunakan analisis korelasi Product Moment, data

harus memenuhi syarat-syarat, yaitu harus normal dan linear. Untuk itu, pada

penelitian ini dilakukan uji prasyarat dengan uji normalitas dan uji linearitas

data sebagai berikut.

1. Uji Normalitas

Uji normalitas adalah uji yang dilakukan untuk mengecek apakah data

penelitian kita berasal dari populasi yang sebaran normal atau tidak normal.

Pada penelitian ini uji normalitas menggunakan taraf signifikansi 0,05 dan

 
daerah kritik DK = L L  L 0,05; n . Langkah-langkah uji normalitas adalah:

a. Hipotesis

1) Ho : sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

2) H1 : sampel tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

b. Taraf Signifikansi  = 0,05.

c. Statistik uji yang digunakan :

L = maks F ( Z i )

d. Komputasi: dari uji statistik yang diperoleh.

e. Daerah Kritik


DK = L L  L 0,05; n .
f. Keputusan Uji

1) Ho diterima jika Leks  DK

2) Ho ditolak jika Leks  DK


41

g. Kesimpulan

1) Ho diterima berarti sampel berasal dari populasi yang berdistribusi

normal.

2) Ho ditolak berarti sampel tidak berasal dari populasi yang

berdistribusi normal.

2. Uji Linearitas

Uji linieritas digunakan untuk memenuhi syarat pada analisis regresi

yang mengharuskan adanya hubungan fungsional antara X dan Y pada

populasi yang linear (Budiyono, 2009: 261). Adapun prosedur uji linieritas

adalah sebagai berikut:

a. Menyusun tabel kelompok data variabel X dan Y, dimana variabel X data

diurutkan dari yang terkecil sampai yang terbesar.

b. Menghitung jumlah kuadrat regresi (JKreg (a)) dengan rumus:

JK reg ( a ) 
Y  2

n
c. Menghitung jumlah kuadrat regresi bIa (JKreg bIa) dengan rumus:

JK reg (b / a )  b.  XY 
 X . Y 
n 
 

d. Menghitung jumlah kuadrat residu (JKres) dengan rumus:


JKres  Y 2  JKreg (b / a )  JKreg ( a )

e. Menghitung rata-rata jumlah kuadrat regresi a (RJKreg (a)) dengan rumus:


RJK reg ( a )  JK reg ( a )
f. Menghitung rata-rata jumlah kuadrat regresi b/a (RJKreg (b/a)) dengan
rumus:
RJK reg (b / a )  JK reg (b / a )
42

g. Menghitung rata-rata jumlah kuadrat residu (RJK res) dengan rumus:


JK Re s
RJK res 
n2

h. Menghitung jumlah kuadrat error (JKE) dengan rumus:



JK E    Y 2 
Y 2 

k  n 
 
i. Menghitung jumlah kuadrat tuna cocok (JKTC) dengan rumus:

JKTC  JKres  JK E

j. Menghitung rata-rata jumlah kuadrat tuna cocok (RJKTC) dengan rumus:

JKTC
RJK TC 
k 2
k. Menghitung rata-rata jumlah kuadrat error (RJKE) dengan rumus:

JK E
RJK E 
nk
l. Mencari nilai uji F dengan rumus:

RJK TC
F
RJK E

m. Menentukan kriteria pengukuran: Jika nilai uji F < nilai tabel F, maka

distribusi berpola linier

n. Mencari nilai Ftabel pada taraf signifikansi 95% atau α = 5%

menggunakan rumus: Ftabel = F(1-á) (db TC, db E) dimana db TC = k-2 (dk

pembilang) dan db E = n-k (dk penyebut)

o. Membandingkan nilai uji F dengan nilai tabel F (lihat tabel distribusi

“F”) kemudian membuat kesimpulan.


43

ini dapat dilakukan menggunakan menggunakan korelasi regresi linier sederhana

dan uji t.

a. Analisis Regresi Linier Sederhana

Hasil perhitungan regresi antara variabel penanaman pendidikan

karakter (X) sebagai variabel independent terhadap perilaku anak

sebagai variabel dependent (Y) dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.4 Haisl Uji Normalitas

Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Model Coefficients Coefficients
B Std Error Beta
1. (Constant) 21.074 13.919
Penanaman Pendidikan 717 171 526
karakter
a. Dependent Variable : Perilaku Anak
Sumber: Output SPSS (Lampiran 11)

Dari hasil uji regresi pada Tabel 4.4 dapat diformulasikan

persamaan regresi linier sederhana sebagai berikut:

Y = a + bX

Y = 21,074 + 0,717X

Interpretasi dari persamaan regresi linier sederhana di atas adalah

sebagai berikut:

1) Nilai konstanta sebesar 21,074 menunjukkan bahwa perilaku anak di kelas

IV SDN Baleasri, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan adalah

sebesar 21,074 dengan asumsi variabel penanaman pendidikan karakter

diabaikan atau sama dengan nol.

2) Variabel penanaman pendidikan karakter (X) yang bernilai sebesar 0,717

(positif; menunjukkan adanya pengaruh positif variable penanaman


44

pendidikan karakter terhadap perilaku anak di kelas IV SDN Baleasri,

Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan. Jika penanaman pendidikan

karakter (X) meningkat sebesar 1, maka perilaku anak di kelas IV SDN

Baleasri, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan juga akan meningkat

sebesar 0,717.

b. Uji t

Pengujian hipotesis mutlak dilakukan untuk membuktikan apakah

terdapat pengaruh yang berarti (signifikan) antara variabel penanaman

pendidikan karakter terhadap perilaku anak di kelas IV SDN Baleasri,

Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan. Pada penelitian ini, uji

hipotesis dilakukan menggunakan uji t untuk menguji signifikansi

pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Berdasarkan hasil uji t

menggunakan program SPSS, diperoleh nilai t sebagai berikut:

Tabel4.5. Hasil Uji Hipotesis Menggunakan Uji t

Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Model Coefficients Coefficients t Sig
B Std Error Beta
1. (Constant) 21.074 13.919 1.514 137
Penanaman Pendidikan 717 171 526 4.196 000
karakter
a. Dependent Variable : Perilaku Anak
Sumber: Output SPSS (Lampiran 11)

Kriteria uji t adalah Ho diterima jika: thitung < ttabel dan Ho ditolak

jika: thitung  ttabel. Nilai kritis dengan level of significant t = 5%. Untuk

memperoleh ttabel menggunakan uji dua sisi dengan level of significant

() = 0,05 (5%) dan degrees of freedom (df) = n-k, dimana n =


45

banyaknya sampel dan k = banyaknya variabel bebas dan terikat. Dari

ketentuan tersebut, diperoleh nilai df = 48 - 2 = 46, sehingga nilai ttabel

adalah sebesar  2,01290.

Berdasarkan hasil perhitungan dalam Tabel 4.5 diperoleh nilai

thitung variabel penanaman pendidikan karakter (X) sebesar 4,196. Nilai

thitung variabel penanaman pendidikan karakter (X) sebesat 4,196 > ttabel

(2,01290) dan Sig. (0,000) <  (0,05), maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Hipotesis penelitian "Ada pengaruh penanaman pendidikan karakter

terhadap perilaku anak di kelas IV SDN Baleasri, Kecamatan

Ngariboyo, Kabupaten Magetan", diterima kebenarannya.

C. Pembahasan

Berdasarkan hasil uji hipotesis tentang pengaruh penarutman pendidikan

karakter terhadap perilaku anak, diperoleh nilai thitung (4,196) > ttabel (2,41290)

dan sig. (0,000) <  (0,05). Hasil analisis regresi linier juga menunjukkan

bahwa pengaruh penanaman pendidikan karakter (X) terhadap perilaku anak

(Y) bernilai positif. Dengan demikian, dapat disampaikan bahwa ada pengaruh

positif penanaman pendidikan karaliler terhadap perilaku anak di kelas IV SDN

Baleasri, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan. Artinya, jika penanaman

pendidikan karakter yang diikuti siswa meningkat, maka perilaku anak juga

meningkat. Sebaliknya" jika siswa jarang atau tidak pernah mengikuti

penanaman pendidikan karakter, maka perilaku anak juga rendah.


46

Hal ini relevan dengan temuan penelitian yang dilakukan Manalu (2014).

Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa terdapat perubahan perilaku

mahasiswa setelah mengikuti pendidikan karakter, yaitu perubahan perilaku ke

arah yang positif seperti rasa bertangung jawab, sikap profesionalitas terhadap

hal yang dilakukan, serta memiliki perilaku sosial yang berkembang. Pada

penelitian yang dilakukan Riyadi (2014) tentang implementasi pendidikan

karakter terhadap perilaku siswa di sekolah dasar juga ditemukan bahwa

pendidikan karakter berpengaruh terhadap perilaku siswa karena dengan

pernbiasaan nilai karakter dilalarkan guru secara intensif.

Pendidikan karakter menurut Mahbubi (2012 : 40) didefinisikan sebagai

metode mengajarkan kebiasaan cara berfikir dan perilaku yang membantu

individu untuk hidup dan bekerja sama sebagai anggota keluarga, masyarakat

dan bernegara serta membantu mereka untuk mampu membuat keputusan yang

dapat dipertanggungiawabkan. Pendidikan karakter yang telah diterapkan di

sebagiacr besar sekolah di Indonesia seharusnya diimbangi dengan

pembentukan perilaku positif pada anak atau siswa, yang dapat dilihat dari

peningkatan prestasi dan penurunan angka kejadian perilaku menyimpang

siswa apabila ditinjau dari tujuan pendidikan karakter.

Penanaman pendidikan karakter yang telah diterapkan di sekolah

seharusnya diimbangi dengan perilaku siswa yang baik, yang dapat dilihat dari

peningkatan prestasi belajar, adanya kebiasaan-kebiasaan positif pada siswa

dan kesanggupan siswa untuk menerapkan perilaku-perilaku baik, yang

mencerminkan karakter dirinya. Hal ini dapat meliputi karakter-karakter


47

relijius, jujur, disiplin, toleransi, dan seterusnya. Jika siswa yang mendapatkan

upaya penanaman pendidikan karakter dari guru dapat menyikapi serta

melaksanakan ajaran-ajaran yang ada di dalamnya maka siswa tersebut