Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR KIMIA ANALITIK

PERCOBAAN VI
TITRASI REDOKS

OLEH :

NAMA : MUH. MAHATIR HALULANGA

STAMBUK : F1C1 16 082

KELOMPOK : X (SEPULUH)

ASISTEN : RETNO CAHYANINGRUM

LABORATORIUM KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kimia analisis adalah salah satu bagian dari ilmu kimia yang

membahas masalah pengenalan bentuk dan keadaan zat. Kimia

analisis terbagi menjadi dua aspek yaitu analisis kualitatif dan analisis

kuantitatif. Analisis kualitatif adalah suatu kegiatan yang bertujuan

mengetahui jenis atau identitas. Sedangkan analisis kuantitatif

bertujuan untuk mengetahui jumlah dan komposisi zat. Salah satu

jenis analisis kuantitatif adalah analisis titrasi atau titrimetri.

Metode titrimetri yang dikenal juga sebagai metode

volumetri merupakan cara analisis kuantitatif yang didasarkan pada

prinsip stoikiometri reaksi kimia. Dalam setiap metode titrimetri

selalu terjadi reaksi kimia antara komponen analit dengan zat

pendeteksi yang disebut titran.Jenis metode titrasi didasarkan pada

jenis reaksi kimia yang terlibat dalam proses titrasi. Berdasarkan jenis

reaksinya, maka metode titrimetri dapat dibagi menjadi empat

golongan, yaitu; asidi-alkalimetri, oksidimetri, kompleksometri, dan

titrasi pengendapan. Namun dalam percobaan ini kita hanya akan

membahas tentang titrasi oksidimetri (redoks).Titrasi redoksadalah


metode penentuan kuantitatif yang reaksi utamanya adalah reaksi

redoks, reaksi ini hanya dapat berlangsung kalau terjadi interaksi dari

senyawa atau unsur atau ion yang bersifat oksidator dengan unsur atau

senyawa atau ion bersifat reduktor. Berdasarkan sifat larutan bakunya

maka titrasi redoks dibagi atas: oksidimetri dan reduksimetri.Titrasi

oksidimetri adalah titrasi yang terjadi kareana adanya reaksi oksidasi

reduksi. Salah satu jenis oksidimetri adalah tirasi permanganometri.

Permanganometri merupakan metode titrasi dengan menggunakan

kalium permanganat, yang merupakan oksidator kuat sebagai titran

untuk penetapan kadar zat. Titrasi ini didasarkan pada reaksi oksidasi

ion permanganat.Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu dilakukan

percobaan tentang titrasi redoks untuk mengetahui kadar

logamtembaga (Cu) menggunakan metode permanganometri.

B. RumusanMasalah

Rumusan masalahpadapercobaantitrasiredoksadalahberapa

banyak kadar ion Cu dalam CuSo4.5H2O?

C. Tujuan
Tujuan yang

ingindicapaipadapercobaantitrasiredoksadalahuntuk mengetahui kadar

ion Cu dalam CuSo4.5H2O.

D. Manfaat

Manfaat yang

dapatdiperolehpadapercobaantitrasiredoksadalahdapat mengetahui

kadar ion Cu dalam CuSo4.5H2O.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Kimia merupakan cabang dari ilmu pengetahuan alam yang

mencakup konsep dan eksperimen untuk mencari jawaban atas

pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana gejala-gejala alam yang

berkaitan dengan komposisi, struktur dan sifat, perubahan, dinamika

dan energetika zat (Sulistiowati dkk. 2013).

Indikator merupakan suatu senyawa kompleks yang dapat

bereaksi dengan asam maupun basa dengan adanya perubahan warna

sesuai dengan konsentrasi ion hidrogen melalui proses titrasi.

Indikator yang digunakan pada titrasi basa kuat-asam kuat biasanya

berupa indikator sintetis, misalnya indikator fenolftalein (pp).

Indikator ini merupakan indikator sintetis yang dijual di pasaran

dengan harga yang relatif mahal, dapat menyebabkan polusi kimia,

ketersediaan yang terbatas dan biaya produksi yang tinggi(Apriani

dkk. 2016).

Titrasi asam basa adalah proses penentuan banyaknya larutan

dengan konsentrasi yang diketahui dan diperlukan untuk bereaksi

secara lengkap dengan sejumlah contoh tertentu yang akan dianalisis.

Prosedur analitis yang melibatkan titrasi dengan larutan - larutan yang

konsentrasinya diketahui disebut titrasi volumetri. Dalam titrasi asam


basa, titrasi melibatkan pengukuran yang seksama volume - volume

suatu asam dan suastu basa yang tepat saling menetralkan. Titik akhir

titrasi adalah titik dimana indikator berubah warna, dengan memilih

indikator secara seksama, titik akhir itu akan tepat berimpit dengan

titik kesetaraan (Sundari, 2016).

Permanganometri merupakan salah satu metode titrasi yang

menggunakan prinsip reaksi reduksi danoksidasi. Metode ini

merupakan suatu metode yang sering digunakan karena

permanganometri memiliki kelebihan antara lain permanganometri

merupakan oksidator kuat, tidakmemerlukan indikator, mudah

diperoleh dan terjangkau. Adapun kekurangan dari metode ini adalah

larutan ini tidak stabil dalam penyimpanan, jadi harus sering

dilakukan pembakuan (Putra dan Djarot, 2016).

Titrasi digunakan untuk mengetahui atau menentukan

konsentrasi suatularutan asam atau (kemurnian) suatu zat. Dalam

kehidupan sehari-hari titrasibanyak diterapkan antara lain di bidang

kesehatan. Selain itu pada bidangpertanian yaitu keasaman tanah

berkaitan dengan kesuburan. Salah satu penerapantitrasi yang sering

dijumpai adalah penentuan kadar asam asetat dalam produkyaitu

cuka(Sakur, 2016).
III. METODOLOGI PRAKTIKUM

A. WaktudanTempat

Percobaan tentangtitrasiredoksdilaksanakanpadahariSelasa, 28

November 2017 pukul 07.30-10.00 WITA dan bertempat di

LaboratoriumKimia Anorganik, Jurusan Kimia,

FakultasMatematikadanIlmuPengetahuanAlam, UniversitasHalu Oleo,

Kendari.

B. AlatdanBahan

1. Alat

Alat-alat yangdigunakanpada percobaaniniadalahgelasukur50

mL,pipettetes, erlenmeyer 250 mL, buret 50 mL, timbangan analitik,

spatula, labu takar, statifdan klem.

2. Bahan

Bahan-bahan yang

digunakanpadaperobaaniniadalahterusi/tembaga (II) sulfat

(CuSO4.5H2O), asam asetat (H2SO4) 1 N, larutan kalium iodida(KI)

20%, kanji dan akuades.


C. Prosedur kerja

CuSO4.5H2O

- ditimbang sebanyak 5 gram


- dimasukkan dalam labu takar 100 ml
- dilarutkan dengan akuades
- dihomogenkan
- dilarutkan dengan akuades hingga
tanda tera

100 mL CuSO4.5H2O
- dipipet sebanyak 25 ml
- dimasukkan kedalam erlenmeyer
- ditambahkan 10 mL H2SO4 1 N dan
10 mL KI 20%
Larutan berwarna coklat kemerahan
- dititrasi
dikocok dengan
selama KMnO
15 menit
4
- didiamkan ditempat gelap selama
beberapa menit
- dititrasi dengan larutan Na2S2O3
sampai larutan berwarna kuning
pudar
Larutan berwarna kuning
pudar
- ditambahkan dengan beberapa mL
indikator kanji 0,5%
- dititrasi dengan larutan Na2S2O3
sampai warna biru pada larutan
menjadi putih
- dihitung kadar Cu

- dititrasi dengan KMnO4


Hasil pengamatan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

1. Tabel Data Pengamatan

No. Perlakuan Hasil pengamatan


5 gram serbuk CuSO4.5H2O + 100
1. Homogen dan berwarna biru
mL akuades + dihomogenkan
Larutan CuSO4.5H2 25 mL + 10
2. mL H2SO4 + 10 mL KI + dikocok Larutan berwarna coklat kemerahan

Larutan dititrasi dengan dengan


3. Larutan berwarna coklat pudar
larutan Na2S2O3 + kanji
Larutan putih pucat dengan volume =
4. Titrasi + Na2S2O3
9,85 mL

2. AnalisisData

Diketahui : tp : 0,25 mL

V Na2S2O3 = 9,85 mL

N Na2S2O3 = 1 N

Be Cu = 31,75 gr/mol

Massa Cu = 5 gram

Dit. Kadar Cu (%) =....?


Penyelesaian :

m (NH4 )2 C2 O4 x Valensi (NH4 )2 C2 O4 1


N = x
Mr (NH4 )2 C2 O4 V KMnO4

0,16 g x 2 1
= x
124 g/mol 0,0081 L

=0,32 N

b. PenetuanKadar Fe dalam FeSO4.7H2O

Diketahui :

Berat FeSO4.7H2O = 0,7 gram

Berat ekivalen Fe =56/2

= 28 g/mol

V KMnO4 = 30 mL

= 0,03 L

N KMnO4 = 0,1 N

Ditanya : Kadar Fe ..... % ?

Penyelesaian :

V KMnO4 x N KMnO4 x BE Fe
Kadar Fe = x 100 %
Berat Sampel

0,03 L x 0,1 N x 28 g/mol


= x 100 %
0,7 g

= 12%
3.Reaksi

oksidasi

Mn2+ + 4H2O + 5e-→ 8H+ + MnO4- × 1

Fe3+ + e-→ Fe2+ ×5

reduksi .
Mn2+ + 8H2O + 5e- → 8H++MnO4-

5Fe2+ → 5Fe3+ + 5e-

Mn2+ + 4H2O + 5Fe3+ → 8H+ + MnO4- + 5Fe2+

B. Pembahasan

Titrasiredoksmerupakantitrasi yang di

dasarkanpadareaksioksidasireduksiantaraanalitdantitran

dimanaterjadiperubahanvalensidarizat-zat yang

mengadakanreaksi.Titrasiredoksbanyakdigunakanuntukpenentuansebagianbesarlo

gam–logam. indicator yang

digunakanpadatitrasiinimenggunakanberbagaicarakerja. Padatitrasi yang

menggunakan KMnO4 tidakmenggunakansuatularutanindikator,melainkan

KMnO4bertindaksebagaiautoindikator.Permanganometrimerupakanmetodetitrasid

enganmenggunakankaliumpermanganatdenganmenggunakan yang

merupakanoksidatorkuatsebagaititran.

Percobaan pertama dilakukan dengan menstandarisasikan senyawa kalium

permanganat. Tujuan hal ini dilakukan karena KMnO4bukanlarutanbaku primer

sehinggaperludilakukanstandarisasilarutan. Proses standarisasi senyawa


KMnO4dilakukan dengan melarutkan amonium oksalat dengan akuades.

Tujuandilarutkandengan akuadesyaitu agar didapatkankonsentrasilarutansesuai

yang diinginkan. Pada saat amonium oksalat telah larut ditambahkan larutan asam

sulfat dan terjadi perubahan warna menjadi kuning. Hal ini bertujuan agar larutan

berada dalam suasana asam, sehingga MnO4- dapat tereduksimenjadi Mn2+.

Jikalarutandalamkeadaannetralatausedikitbasamaka KMnO4 akantereduksimenjadi

MnO2yang berupaendapancoklatdapatakanmempersulitpenentuantitikakhirtitrasi.

Disamping itu juga karena energipotensialelektroda KMnO4sangattergantungpada

pH. Pada saat larutan tersebut dititrasi dengan KMnO4terjadi perubahan warna

menjadi bening.

Berdasarkan literatur yang ada, hal ini tidak sesuai dengan teori yang ada

dimana larutan ketika dititrasi dengan KMnO4maka akan terjadi perubahan warna

menjadi merah muda. Hal ini disebabkan karena

larutanpentiterpadaburetapabilaterlalu lama makaakanteruraimenjadi

MnO2saatterkenacahayasehinggatitikakhirtitrasiaknadiperolehwarna yang

berbeda. Kesalahanlainnyaadalahpenambahan KMnO4 yang

terlalucepatpadalarutan (NH4)2C2O4atausebaliknyapenambahan yang

terlalulambat. Dari hasil analisis data, didapatkan normalitas

larutanpentiterpadaburetapabilaterlalu lama makaakanteruraimenjadi

MnO2saatterkenacahayasehinggatitikakhirtitrasiaknadiperolehwarna yang

berbeda. Kesalahanlainnyaadalahpenambahan KMnO4 yang

terlalucepatpadalarutan (NH4)2C2O4atausebaliknyapenambahan yang

terlalulambat.
Hasil konsentrasi yang diperoleh berdasarkan analisis sebesar 0,32 N.

Dimanakonsentrasi KMnO4 yang diinginkanadalah 0,1 N.

Kesalahaninidapatdisebabkanpada proses pembuatanlarutan KMnO4 yang

kurangtepat. Padaproses titrasiiniindikatortidakdigunakan. Hal

initerjadikarenaasamkuat yang

mengionisasisempurnadapatmenciptakansuasanastabil.

Percobaan kedua dilakukan dengan menentukan kadar Fe

dalamFeSO4.7H2O. Dimana padatan FeSO4.7H2O dilarutkan ke dalam akuades.

Pada saat dilarutkan ditambahkan larutan asam yaitu asam sulfat. Tujuan

penambahannya untuk menghindari terjadinya reaksi hidrolisis yaitu reaki logam

dengan air menghasilkan sesuatu yang lemah yang dapat mengendap. Endapan

tersebut berupa Fe(OH)2yang menyebabkan ion Fe2+ sulit untuk bereaksi dengan

KMnO4. Selain itu juga penambahan asam sulfat untukmenghindarioksidasi

Fe2+menjadi Fe3+karena Fe2+kurangstabildiudaraterbuka. Pada saat dititrasi terjadi

perubahan warna menjadi merah muda, hal ini menandakan

bahwatitikekivalentelahtercapaidantitrasisegeradihentikan. Titik ekivalen adalah

titik dimana titran yang ditambahkan tepat bereaksi dengan seluruh zat yang

dititrasi tanpa adanya titran yang bersisa atau dengan kata lain reaksi tersebut

telah mengalami kesetimbangan. Sedangkan titik akhir titrasi adalah titik dimana

jumlah zat (mol) titran sama dengan jumlah zat (mol) titrat.HasilkadarFe yang

diperolehsebesar12%.
V. KESIMPULAN

Berdasarkan tujuan dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa

permanganometrimerupakanmetodetitrasidenganmenggunakankaliumpermangana

tdenganmenggunakan yang merupakanoksidatorkuatsebagaititran. HasilkadarFe

dalamFeSO4.7H2O yang diperolehsebesar12%.


DAFTAR PUSTAKA

Apriani, F., Nora, I. dan Lia, D., 2016, Ekstrak Metanol Buah Lakum
(Cayratia Trifolia (L.) Daomin) Sebagai Indikator Alami Pada
Titrasi Asam Kuat Basa Kuat, JKK, 5(74-78).
Putra, F. A., dan Djarot R. S., 2016, Perbandingan Metode Analisis
Permanganometri dan Serimetri dalam Penentuan Kadar
Besi(II), Jurnal Sains dan Seni ITS, Vol. 5(1).

Sundari, R., 2016, Pemanfaatan Dan Efisiensi Kurkumin Kunyit


(Curcuma Domestica Val) Sebagai Indikator Titrasi Asam
Basa, Teknion, 22(595-601).
Sakur, M., 2016, Deskripsi Keterampilan Psikomotorik siswa Pada
Praktikum Titrasi Asam Basa Kelas XI IPA MA Darul Ulum,
Universitas Tanjungpura: Pontianak.
Sulistiowati, N., Leni, Y., Wasis., 2013, Perbedaan Pengguanaan
Laboratorium Real dan Laboratoriun Virtual Pada
Keterampilan Proses Dan Hasil Belajar siswa Materi Titrasi
asam Basa, Jurnal Pendidikan Kimia, 2(2).