Anda di halaman 1dari 2

Konsep kepercayaan dalam Aliran Kepercayaan

Banyaknya aliran kepercayaan penulis akan memberikan contoh beberapa aliran


kepercayaan yang masih eksis dan tergolong besar, atau banyak pengikutnya. Diawal telah
jelas, bahwa aliran kepercayaan merupakan komunitas sebagai wadah pesatuan
kepercayaan lokal dan aliran kebatinan.

Parmalim di Sumatra

Konsep kepercayaan dari beberapa kepercayaan lokal, setelah bertemu dan


berinteraksi dengan agama lain, keduanya saling mempengaruhi dan saling berbagi.
Masyarakat setempat mengadopsi ajaran agama dan berusaha membuatnya tidak
bertabrakan dengan budaya dan tradisi lama. Contohnya Parmalim di Sumatera yang biasa
disebut Ugamo Malim. Pada awalnya, Parmalim adalah sebuah gerakan spiritual untuk
mempertahankan adat istiadat dan kepercayaan kuno. Agama Malim merupakan agama
asli batak, namun mendapat pengaruh dari agama Katholik dan Islam.1

Sesembahan Ugamo Malim kepada Debata Mula jadi Na Bolon (Tuhan yang maha
esa) dan arwah leluhur. Peridabatan mereka mengikuti tujuh aturan dengan melakukan
ritual/doa. Tujuh aturan tersebut; Martutuaek (kelahiran), Pasahat Tondi (kematian),
Mararisantu (peribadatan setiap hari sabtu), Mardebata (ibadah atas niat seseorang),
Mangan Mapaet (Ibadah mohon penghapusan dosa), Sipaha Sada (ibadah kelahiran Tuhan
Simarim bulu bosi) dan Sipaha Lima (ibadah hari qurban). Parmalim juga memiliki tempat
suci untuk beribadah yang disebut Bale Pasogit. Jika melihat fisiknya, rumah ibadah
Parmalim menyerupai Gereja, dan di tempat ibadah ini mereka melaksanakan hari besar
mereka Sipaha Sada dan Sipaha Lima.2

Begitu pula Sunda Wiwitan yang juga dikenal dengan nama Sunda Permulaan,
Sunda Sejati atau Sunda asli ini ternyata sudah mengadopsi Syahadat Islam.3 Syahadat
Sunda yang dimiliki oleh agama lokal ini: “Asyhadu syahadat Sunda (Asyhadu syahadat
Sunda), Jaman Allah ngan sorangan (Allah hanya satu), kaduana Gusti Rosul (kedua para
Rasul), katilu Nabi Muhammad (ketiga Nabi Muhammad), ka opat umat Muhammad
(keempat umat Muhammad), nu cicing di bumi angaricing (yang tinggal di dunia), ramai

1
Petir Abimanyu, Buku Pintar Aliran Kebatinan dan Ajarannya, cetakan pertama (Yogyakarta:
Laksana, 2014), hlm. 278
2
Ibid., hlm. 280-283
3
Ibid., hlm. 259

1
nucalik di alam keueng (yang duduk di alam takut), ngacacang di alam mokaha
(menjelajah di alam nafsu), selamet umat Muhammad (selamat umat Muhammad)”.4 Ikrar
syahadat ini menunjukkan substansi ajaran Islam yang masuk menjadi dasar dari apa yang
disebut agama lokal Sunda Wiwitan ini.

PANGESTU

Sedangkan aliran kebatinan terkesan mencampuradukkan ajaran dari agama lain,


fenomena ini disebut dengan sinkretisme.5 aliran PANGESTU misalnya, salah satu aliran
kepercayaan Kejawen. konsep ketuhanannya adalah Tri Purusa, yakni manifestasi Tuhan
dalam tiga wujud, Suksma Sejati, Suksma Kawekas dan Ruh Suci.6 Sebuah konsep yang
bisa dijabarkan dalam Trinitarian Kristen.7 Dijelaskan pula dalam Piwulangipun Sang
Guru Sejati, Suksma Sejati dalam kristen disebut Sang Kristus atau Sang Sabda dan dalam
Islam menurut kalangan sufi disebut Nur Muhammad atau Nur Dzatullah, sedangkan
dalam Kristen Roh Suci adalah Roh Kudus dalam Kristen.8

Sementara dalam ajaran pendidikan jiwanya, ia membagi nafsu menjadi nafsu


lawwamah (kebutuhan dasar manusia, makan, minum, syahwat), nafsu amrarah
(kemauan) dan nafsu sufiyah (keinginan) yang harus dikelola dengan baik sehingga
menghasilkan manusia yang bernafsu mutmainnah.9 Sebuah pembahasan tentang jiwa
yang bersumber dari ilmu tasawuf milik kaum muslimin. Konsep empat nafsu ini juga
tidak hanya diajarkan dalam aliran PANGESTU, melainkan juga terdapat dalam aliran
Hardopusoro, SUBUD dan Sumarah, Ilmu Sejati dsb yang mendomisili di pulau Jawa.

4
Ibid, hlm. 274
5
Sinkretisme adalah suatu kecenderungan pemikiran yang berbeda-beda (bahkan mungkin bertolak
belakang) yang diseleksi dari berbagai agama dan tradisi, dalam suatu wadah tertentu atau dalam salah satu
agama yang ada (berwujud suatu aliran baru). Anis Malik Toha, Tren Pluralisme Agama Tinjauan Kritis,
(Jakarta: Perspektif kelompok Gema Insani Press, 2005), hlm. 90
6
Soenarto Mertowardojo, Sasangka Jati, (Jakarta: Pangestu, 1971), hal. 13
7
Trinitarian atau Trinitas adalah konsep ketuhanan kristen; Tuhan Bapak yang ada di surga
menciptakan alam semesta, Tuhan Anak yang membawa ajaran dan sebagai penebus dosa, Roh Kudus
tempat penyucian yang berdiam dalam diri kita. Hadiwijono menerangkan, “Trinitas itu menghindarkan
orang tersesat dari ajaran Deisme (ajaran bahwa tuhan menciptakan dan meninggalkan makhluknya) jadi,
tuhan bapak ada diatas kita, tetapi tuhan anak bersama-sama dengan kita dan roh kudus ia berdiam di dalam
kita” (Harun Hadiwijono, Kebatinan dan Injil, (Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1970), hal. 115)
8
Pokok-pokok Piwulangipun Sang Guru Sejati, (Jakarta: Pangestu, 1967), hal. 6. Bandingkan
dengan: Harun Hadiwijono, Kebatinan dan Injil..., hal. 55
9