Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang

Rumah sakit adalah salah satu tempat dimana penculikan bayi sering
terjadi. Bayi yang baru dilahirkan biasanya menjadi sasaran utama penculikan
dengan tujuan yang berbeda. Akibatnya kejahatan penculikan bayi di rumah sakit
menjadi perhatian masyarakat akhir-akhir ini. Modus operandi penculikan bayi di
rumah sakit pada umumnya adalah dengan berpura-pura sebagai dokter,
perawat atau petugas rumah sakit.
Penculikan bayi yang terjadi di rumah sakit dapat dikategorikan sebagai
kelalaian yang dilakukan oleh rumah sakit dan merupakan tindak pidana.
Penculikan bayi yang terjadi di rumah sakit merupakan salah satu kejadian
sentinel, sehingga bila terjadi 1 kejadian saja bias dianggap sebagai kejadian luar
biasa , yang bias menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap mutu
pelayanan rumah sakit.
Penculikan bayi di rumah sakit merupakan kasus dominan diantara
seluruh kasus penculikan bayi dan menempati peringkat pertama dengan
prosentase 55.6%, lokasi terbanyak adalah di ruang ibu (55%), selanjutnya di
ruang bayi, ruang perawatan anak, dan tempat lain di rumah sakit dengan
prosentase yang kurang lebih sama. Dengan data itu, kita dapat mengambil
kesimpulan bahwa rumah sakit, terutama ruang ibu adalah tempat paling rawan
untuk terjadinya kasus penculikan bayi.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,


namun hingga keluarnya undang-undang perlindungan anak sampai sekarang,
kesejahteraan dan pemenuhan hak anak masih jauh dari apa yang diharapkan,
terlihat dari meningkatnya kasus penculikan bayi yang terjadi di rumah sakit
setiap tahunnya.

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.Setiap orang


khususnya pasien di rumah sakit harus menerima pelayanan kesehatan sesuai
standar yang berlaku baik dari segi mutu pelayanan, tenaga kesehatan,
perbekalan kesehatan, sediaan farmasi, alat dan teknologi kesehatan sampai
dengan standar operasional prosedur keamanaan rumah sakit.

GKM RSUP Sanglah Denpasar 2015/Managemen Pencegahan Penculikan Bayi 1


Berdasarkan data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA),
data statistic penculikan bayi di Indonesia terus meningkat sejak tahun
2011.Tahun 2011 terjadi 35 kasus, tahun 2012 terjadi 62 kasus dan pada tahun
2013, terjadi 62 kasus dan diantaranya terjadi di rumah sakit, klinik
bersalin,puskesmas.Rumah Sakit Ibu & Anak (RSIA).

Peningkatan kasus penculikan bayi yang terjadi di rumah sakit adalah hal
yang sangat memprihatinkan karena setiap orang berhak untuk memperoleh
pelayanan kesehatan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 28 H Ayat (1)
Undang-Undang Dasar 1945 dan secara khusus diatur di dalam Undang-Undang
Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Setiap orang khususnya pasien di
rumah sakit harus menerima pelayanan kesehatan sesuai standar yang berlaku
baik dari segi mutu pelayanan, tenaga kesehatan, perbekalan kesehatan,
sediaan farmasi, alat dan teknologi kesehatan sampa idengan standar
operasional prosedur keamanaan rumah sakit.
Instalasi RawatInap (IRNA) B adalah instalasi rawat inap ibu dan anak
yang terdiridari 1rawat jalan (polibayitabung) dan 10 ruang rawat inap (NICU,
PICU, ruang bayi, obstetri, gynecologi, ruang perawatan anak infeksi dan non
infeksi, hematologi & onkologi anak, transit, imunocompremise dan ruang VIP),
sehingga berpotensi dapat terjadi kasus penculikan bayi di rumah sakit karena
terdapat ruang perawatan bayi dan anak.

Pada tanggal 22-2-2016 dilakukan pertemuan dan brainstorming terhadap


resiko terjadinya penculikanbayi di IRNA B yang dihadiriolehKa IRNA, Ka UPP,
kepalaruangan dan tim manajemen risiko

Masalah yang berpotensi dapat menyebabkan terjadinya penculikan bayi di


rumah sakit adalah :

1. Banyak akses pintu keluar masuk di RSUP Sanglah


2. Belum semua ruangan perawatan memiliki pintu masuk elektronik yang
hanya bisa diakses oleh petugas yang khusus bertugas di ruang bayi dan
anak
3. Belum ada panduan pencegahan penculikan bayi untuk orang tua.
4. Belum ada monitor untuk memantau kamera CCTV di ruang bayi/anak
5. Belum ada tenaga keamanan yang bertugas selama 24 jam di pintu keluar
masuk ruang bayi dan anak
6. Belum ada kode kusus untuk kejadian penculikan bayi di rumahsakit.

GKM RSUP Sanglah Denpasar 2015/Managemen Pencegahan Penculikan Bayi 2


7. Beberapa staf belum melaksanakan SOP dengan baik
8. Banyaknya mahasiswa yang praktek di RSUP Sanglah

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Melakukan Upaya Pencegahan Penculikan bayi di RSUP Sanglah
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Meningkatkan system keamanan di ruangperawatan IRNA B
2. Meningkatkan pelaksanaan SPO Pencegahanpenculikanbayi
3. Meningkatkan pengawasanpadamahasiswa yang praktek di IRNA B
4. Membuat panduan protocol pencegahan penculikan bayi bagi orang
tua, staf dan mahasiswa, petugas keamanan

1.3 Tim Yang Terlibat

Ketua : Ns.Dianadriana,S.Kep.,M.Kep. (Intermediate Cempaka 3)

Sekretaris : I.A .MirahAstuti, A.Md.Keb. (Cempaka 1 neonatus)

Anggota :

1. GiriSuryani (Pudak)
2. Luh PutuEkaTrisnadew, A.Md.Kep. (Cempaka 2 Obstetri)
3. Kumara santi (NICU)
4. Hedy (PICU)
5. I.B. Adi Surya (Intermediate Cempaka 3)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

GKM RSUP Sanglah Denpasar 2015/Managemen Pencegahan Penculikan Bayi 3


BAB III

MENGANALISIS PENYEBAB
GKM RSUP Sanglah Denpasar 2015/Managemen Pencegahan Penculikan Bayi 4
3.1 INVENTARISASI PENYEBAB

3.1.1 Sistemkeamanan di ruangperawatanbelummemadai


a. Belumada monitor untukmemantaukameraCCTV di ruangan
bayi/anak
b. Tidakadapetugaskeamanan yang berjaga di ruangan bayi/anak
selama 24 Jam
c. Banyakaksespintukeluar/masuk
d. Belum ada alarm untuk kode penculikan bayi
e. Belumsemuaruanganbayi/anakmemilikipintuelektronik yang
hanyabisadibukaolehpetugas /pintusidikjari
3.1.2 Pelaksanaan SPO tidakberjalan
a. Petugastidakpaham
b. Petugastidakdisiplin
3.1.3 Banyaknyajumlahmahasiswapraktek
a. Pengawasanlebihsulit
b. Mahasiswakurangtahutentangsistemkeamanan
c. Kartuindetitasmahasiswatidakdilengkapifoto
3.1.4 Belumadapanduanpencegahanpenculikanbayiuntuk orang tua,
stafdanmahasiswa, sertapetugaskeamanan
a. Pemahaman orang tuakurangtentangsistemkeamanan RS
b. Adanyahambatankomunikasisehinggainformasi yang
diberikantidakdipahami
c. Informasi yang diberikantidaklengkap
3.2 STRATIFIKASI PENYEBAB (5M+1E)
MAN : Kurangnyatenaga security
Petugastidakpaham SPO
Petugastidakdisiplin
Mahasiswakurangtahutentangsistemkeamanan

3.3 FISH BONE DIAGRAM

3.4 ROOT CAUSE VERIFICATION

3.5 METODE PILIHAN UNTUK PERBAIKAN

GKM RSUP Sanglah Denpasar 2015/Managemen Pencegahan Penculikan Bayi 5


BAB IV
PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN PERBAIKAN

4.1 PERENCANAAN
GKM RSUP Sanglah Denpasar 2015/Managemen Pencegahan Penculikan Bayi 6
4.2 PELAKSANAAN

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 HASIL SEBELUM DAN SESUDAH PERBAIKAN

GKM RSUP Sanglah Denpasar 2015/Managemen Pencegahan Penculikan Bayi 7


5.2 PEMBAHASAN
5.3 TINDAK LANJUT PERBAIKAN

BAB VI

PENUTUP

6.1 SIMPULAN

GKM RSUP Sanglah Denpasar 2015/Managemen Pencegahan Penculikan Bayi 8


6.2 SARAN

GKM RSUP Sanglah Denpasar 2015/Managemen Pencegahan Penculikan Bayi 9