Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN

Pemecahan Dormansi pada Biji Saga (Adenanthera pavonina)

Oleh :
Faradillah Asri
Pendidikan Biologi U 2017
17030204083

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2019
A. Rumusan Masalah
Adapaun rumusan masalah pada praktikum ini adalah :
1. Bagaimana pengaruh berbagai macam perlakuan terhadap pemecahan dormansi
biji Saga (Adenanthera pavonina)?

B. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan pada praktikum ini adalah :
1. Mengetahui pengaruh berbagai macam perlakuan terhadap pemecahan dormansi
biji Saga (Adenanthera pavonina)

C. Hipotesis
1. Ha : adanya pengaruh berbagai macam perlakuan terhadap pemecahan dormansi
biji saga
2. Ho : tidak ada pengaruh berbagai macam perlakuan terhadap pemecahan
dormansi biji saga
D. Kajian Pustaka
Saga pohon (Adenanthera pavonina) merupakan tanaman dari suku polong-
polongan yang buahnya menyerupai petai (tipe polong) dengan bijinya kecil
berwarna merah dan memiliki daun menyirip ganda seperti tanaman anggota suku
polong-polongan lainnya. Buah saga pohon berupa buah polong berwarna hijau,
panjangnya mencapai 15 sampai 20 cm , polong yang tua berwarna coklat
kehitaman dan akan kering kemudian pecah dengan sendirinya. Setiap polong saga
pohon berisi 10 – 12 butir biji dengan biji yang mempunyai garis tengah 5 – 6 mm,
berbentuk segitiga tumpul, keras dan berwarna merah mengkilap. buah saga pohon
berbentuk polong memanjang dan membengkok dengan panjang antara 15-22 cm,
berwarna coklat gelap, dan berisi 8-12 biji. Biji berkulit keras dengan diameter 7,5
sampai 9 mm, berbentuk seperti lensa, berwarna merah, dan melekat pada polong.
Biji diartikan sebagai organisme mini hidup yang dalam keadaan "istirahat"
atau dorman yang tersimpan dalam wahana tertentu yang digunakan sebagai
penerus generasi. Biji dikatakan dorman apabila biji tersebut sebenamya hidup,
tetapi tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum
dianggap telah memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan. Dormansi pada

2
biji berlangsung selama beberapa hari, semusim, bahkan sampai beberapa tahun
bergantung pada jenis tanaman dan tipe dari dormansinya (Sutopo,2004).
Dormansi didefenisikan sebagai suatu keadaan pertumbuhan dan
metabolisme yang terpendam, yang dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan yang
tidak sesuai atau oleh faktor dari dalam tumbuhan itu sendiri. Seringkali banyak
tumbuhan yang dorman gagal tumbuh meskipun berada dalam kondisi yang ideal.
Dormansi merupakan suatu mekanisme untuk mempertahankan diri terhadap suhu
yang sangat rendah pada musim dingin, atau kekeringan di musim panas yang
merupakan bagian penting dalam perjalanan hidup tumbuhan itu sendiri. Biji
biasanya akan mengalami periode dorman sebelum berkecambah untuk tumbuh dan
meneruskan generasinya (Salisbury dan Ross,1995).
Menurut Dwidjoseputro (1985) variasi umur benih suatu tanaman sangatlah
beragam namun juga bukan berarti bahwa benih yang telah masak akan hidup
selamanya. kondisi penyimpanan selalu mempengaruhi daya hidup
benih.Meningkatnya kelembaban biasanya mempercepat hilangnya daya
hidup#walaupun beberapa biji dapat hidup lebih lama dalam air. Penyimpanan
dalam botol atau di udara terbuka pada suhu sedang sampai tinggi menyebabkan
bijikehilangan air dan sel akan pecah apabila biji diberi air. Pecahnya sel
melukaiembrio dan melepaskan hara yang merupakan bahan yang baik bagi
pertumbuhan pathogen penyakit. Tingkat oksigen normal umumnya mempengaruhi
dan merugikan masa hidup biji. Kehilangan daya hidup terbesar bila benih
disimpandalam udara lembab dengan suhu 35 derajat celcius atau lebih. Adapun
tipe dormansi adalah sebagai berikut :
a. Dormansi fisik ; yang menyebabkan pembatasan struktural terhadap
perkecambahan. seperti kulit biji yang keras dan kedap sehingga
menjadi penghalang mekanisme terhadap masuknya air dan gas pada
beberapa jenistanaman.
b. Dormansi fisiologi ; dapat disebabkan oleh beberapa mekanisme#
umumnyadapat disebabkan oleh pengatur tumbuh baik penghambat atau
perangsang tumbuh dapat juga oleh factor- faktor dalam seperti
ketidaksamaan embrio dan sebab-sebab fisiologi lainnya

3
Faktor-faktor yang mempengaruhi dormansi biji
1. Faktor eksternal
a. Cahaya
Cahaya mempengaruhi dormansi dengan tiga cara, yaitu dengan intensitas
(kuantitas) cahaya, kualitas cahaya (panjang gelombang) dan fotoperiodisitas
(panjang hari). Jika dari segi kuantitas cahaya, dormansi ini terjadi karena
pengaruh dari intensitas cahaya yang diberikan kepada biji. Dari segi kualitas
cahaya dormansi disebabkan oleh panjang gelombang tertentu. Yang
menyebabkan terjadinya perkecambahan adalah daerah merah dari spektrum
(red; 650 nm), sedangkan sinar infra merah (far red; 730 nm) menghambat
perkecambahan. Efek dari kedua daerah di spektrum ini adalah mutually
antagonistic (sama sekali bertentangan). Jika diberikan bergantian, maka efek
yang terjadi kemudian dipengaruhi oleh spektrum yang terakhir kali diberikan.
Dalam hal ini, biji mempunyai 2 pigmen yang photoreversible (dapat berada
dalam 2 kondisi alternatif), yaitu:
a. P650 : mengabsorbir di daerah merah
b. P730 : mengabsorbir di daerah infra merah
Jika biji dikenai sinar merah (red; 650 nm), maka pigmen P650 diubah
menjadi P730. P730 inilah yang menghasilkan sederetan aksi-aksi yang
menyebabkan terjadinya perkecambahan. Sebaliknya jika P730 dikenai sinar
infra merah (far-red; 730 nm), maka pigmen berubah kembali menjadi P650 dan
terhambatlah proses perkecambahan dan terjadi dormansi (Dwidjoseputro,
1985).
b. Suhu
Perlakuan suhu rendah pada waktu sebelum memasuki musim dingin pada
daerah beriklim sedang dapat menyebabkan peningkatan dormansi, misalnya
pada tanaman aprikot (Prunus armeniaca). Kondisi udara yang lebih hangat
pada musim gugur dapat menunda dormansi, tetapi tidak menghentikan
terjadinya dormansi tunas pada tanaman buah-buahan di daerah beriklim
sedang. Perlakuan suhu rendah untuk memecahkan dormansi pada tunas akan
lebih efektif jika setelah dormansi dipecahkan segera diikuti dengan perlakuan
suhu yang optimal untuk memacu pertumbuhan.

4
c. Kurangnya air
Proses penyerapan air oleh benih terhadap perbedaan potensi air yang
sangat nyata antara sel-sel yang telah menyerap air dengan sel-sel yang belum
menyerap air. Terdapat batas-batas tegas antara bagian benih yang telah
meningkat kadar airnya dengan bagian yang belum terpengaruh kadar airnya.
Sel-sel yang telah menyerap air akan membesar, ukuran benih meningkat dua
kali lipat setelah proses imbibisi berlangsung (Lakitan, 2000).
2. Faktor internal
Merupakan faktor yang berasal dari dalam tubuh benih itu sendiri seperti:
a. Kulit Biji
Kulit biji dapat berperan sebagai penghambat untuk terjadinya
perkecambahan, sehingga biji tersebut digolongkan sebagai biji tersebut
digolongkan sebagai biji yang berada dalam keadaan dorman. Hambatan kulit
biji tersebut mungkin disebabkan karena :
ü Kulit biji mengandung senyawa penghambat tumbuh
ü Kulit menghambat difusi oksigen dan/atau air masuk ke dalam biji
ü Kulit biji memiliki resistensi mekanis yang besar radikel tidak mampu
untuk tumbuh menembusnya.
b. Kematangan embrio
Terjadinya dormansi disebabkan oleh belum matangnya atau belum
sempurnanya pembentukan embrio. Pada saat terjadi absisi atau gugurnya buah
dari daun, biji belum menyelesaikan perkembangannya. Sehingga biji
terdiferensiasi sempurna, sehingga biji membutuhkan waktu yang lebih lama
untuk berkecambah karena mempersiapkan kebutuhannya. Dalam hal ini,
berarti biji melakukan penundaan untuk tidak berkecambah dan melakukan
dorman.
c. Adanya Inhibitor (penghambat)
Perkecambahan biji adalah kulminasi dari serangkaian kompleks proses-
proses metabolik, yang masing-masing harus berlangsung tanpa gangguan. Tiap
substansi yang menghambat salah satu proses akan berakibat pada
terhambatnya seluruh rangkaian proses perkecambahan. Beberapa zat
penghambat dalam biji yang telah berhasil diisolir adalah soumarin dan lacton

5
tidak jenuh, namun lokasi penghambatannya sukar ditentukan karena daerah
kerjanya berbeda dengan tempat di mana zat tersebut diisolir. Zat penghambat
dapat berada dalam embrio, endosperm, kulit biji maupun daging buah.
d. Rendahnya zat perangsang tumbuh
Walaupun terdapat banyak jenis senyawa yang dapat berperan menghambat
(Kamil, 1984)
Beberapa perlakuan dapat diberikan pada biji sehingga tingkat dormansinya
dapat diturunkan dan presentase perkecambahnya tetap tinggi. Perlakuan tersebut
dapat ditujukan pada kulit biji, embrio maupun endosperm biji dengan maksud
untuk menghilangkan faktor penghambat perkecambahan dan mengaktifkan
kembali sel-sel biji yang dorman. Dormansi biji dapat dibedakan atas beberapa tipe
dan kadang-kadang satu jenis benih memiliki lebih dari satu tipe dormansi.
Dormansi dapat dipatahkan dengan perlakuan pendahuluan untuk mengaktifkan
kembali biji yang dorman. Ada berbagai cara perlakuan pendahuluan yang dapat
diklasifikasikan yaitu pengurangan ketebalan kulit atau skarifikasi, perendaman
dalam air, perlakuan dengan zat kimia, penyimpanan biji dalam kondisi lembab
dengan suhu dingin dan hangat atau disebut stratifikasi
Mekanisme pemecahan dormansi dimulai ketika air masuk ke dalam biji
atau imbibisi. Imbibisi merupakan proses masuknya air ke dalam biji sehingga kulit
biji melunak, sehingga akan terjadi hidrasi dari protoplasma. Masuknya air ke
dalam biji ini akan mengaktifkan hormon giberilin (GA3) yang akan memicu
terjadinya transkripsi DNA menjadi RNA. RNA kemudian akan ditranslasikan dan
akan terbentuk asam amino yang menyusun protein dan membentuk enzim aktif
hidrolisa, seperti amilase, protease, dan lipase untuk memecah cadangan makanan
berupa karbohidrat, protein, dan lemak yang terkandung di endosperm. Pemecahan
cadangan makanan tersebut dilakukan oleh enzim amilase untuk pemecahan
karbohidrat menjadi glukosa, enzim protease untuk pemecahan protein menjadi
asam amino, dan enzim lipase untuk pemecahan lemak menjadi asam lemak dan
gliserol. Setelah terjadi pemecahan molekul-molekul makanan menjadi molekul
yang sederhana, molekul-molekul makanan tersebut diubah menjadi bentuk-bentuk
yang terlarut dan kemudian ditranslokasikan ke titik tumbuh. Terjadinya asimilasi
bahan-bahan makanan yang telah diuraikan di daerah meristematik akan

6
menghasilkan energi bagi aktivitas pembentukan komponen dan pertumbuhan sel-
sel baru, sehingga akan muncul radikula dan plumula yang selanjutnya akan terus
tumbuh dan berkembang serta terdiferensiasi menjadi individu baru
(Harahap,2012).
skarifikasi merupakan salah satu upaya pretreatment atau perlakuan awal pada
benih yang ditujukan untuk mematahkan dormansi dan mempercepatterjadinya
perkecambahan benih yang seragam. Skarifikasi pelukaan kulit benih"adalah cara
untuk memberikan kondisi benih yang impermeabel menjadi permeabel melalui
penusukan, pembakaran, pemecahan, pengikiran, dan penggoresan dengan bantuan
pisau, jarum, pemotong kuku, kertas, amplas, danalat lainnya. kulit benih yang
permeabel memungkinkan air dan gas dapat masuk ke dalam benih sehingga proses
imbibisi dapat terjadi. Benih yang diskarifikasiakan menghasilkan proses imbibisi
yang semakin baik. Air dan gas akan lebihcepat masuk ke dalam benih karena kulit
benih yang permeabel. 0ir yang masuk ke dalam benih menyebabkan proses
metabolisme dalam benih berjalan lebihcepat akibatnya perkecambahan yang
dihasilkan akan semakin baik
Salah satu perlakuan kimia yang dilakukan adalah dengan cara
merendam benih dalam asam sulfat (H2SO4) (Sagala, 1990). Menurut
Harjadi (1979), perendaman benih dalam asam sulfat pekat selama 20
menit berpengaruh pada pelunakan kulit benih bagian luar (testa), sedangkan
menurut Bewley dan Black (1978) asam sulfat dapat mempegaruhi
perkecambahan melalui peningkatan temperatur. Apabila temperatur
pada saat pengenceran asam sulfat tinggi, maka akan meningkatkan imbibisi
asam sulfat ke dalam benih.
. Menurut Harjadi (1979), perendaman benih dalam asam sulfat pekat
selama 20 menit berpengaruh pada pelunakan kulit benih bagian luar (testa),
sedangkan menurut Bewley dan Black(1978) asam sulfat dapat mempegaruhi
perkecambahan melalui peningkatan temperatur. Apabila temperatur
pada saat pengenceran asam sulfat tinggi, maka akan meningkatkan imbibisi
asam sulfat ke dalam benih.

7
E. Variabel Penelitian
1. Variabel manipulasi : perlakuan biji
2. Variabel kontrol : jenis biji, jumlah biji, media tanam, kondisi
cahaya, waktu penanaman, dan frekuensi penyiraman air
3. Variabel respon : tumbuhnya biji
F. Definisi Operasional Variabel
1. Variabel manipulasi : merupakan variabel yang sengaja dibuat berbeda, dimana
pada praktikum ini variabel manipulasinya adalah perlakuan yang diberikan
pada biji, dimana biji saga yang akan ditanam diberikan 3 perlakuan berbeda.
Perlakuan pertama adalah biji saga dicuci dengan air, perlakuan kedua adalah
perendaman biji dalam larutan H2SO4 selama 5 menit, dan perlakuan ketiga
adalah pengamplasan pada biji. Ketiga perlakuan berbeda tersebut dilakukan
untuk dapat diketahui pengaruh berbagai perlakuan terhadap pemecahan
dormansi pada biji saga, sehingga proses perkecambahan biji dapat
berlangsung.
2. Variabel kontrol : merupakan variabel yang dibuat tetap atau sama dalam
suatu kegiatan praktikum, dimana pada praktikum ini adalah jenis biji, jumlah
biji, media tanam, waktu penanaman, kondisi cahaya, dan frekuensi
penyiraman air. Jenis biji yang diberikan perlakuan untuk selanjutnya ditanam
adalah sama, yaitu biji tanaman asam yang sudah tua dan berwarna merah
mengkilap. Jumlah biji saga yang ditanam pada setiap perlakuan juga sama,
yaitu 10 biji untuk tiap-tiap perlakuan. Media tanam yang digunakan untuk
melakukan penanaman biji saga juga sama, yaitu seluruh biji saga yang telah
diberikan perlakuan ditanam dalam polybag dengan komposisi media tanam
berupa tanah dan pasir dengan perbandingan 1:1. Waktu penananam seluruh
biji juga merupakan variabel kontrol, dimana waktu penanaman biji saga yang
telah diberikan perlakuan dilakukan dalam waktu yang bersamaan, yaitu pada
hari Kamis, 27 April 2017 pada pukul 12.00 WIB. Kondisi cahaya yang
diberikan pada setiap perlakuan biji yang ditanam juga sama, yaitu cahaya
dengan intensitas sedang dengan meletakkan seluruh polybag yang ditanami
biji saga berbagai perlakuan di dekat pintu. Variabel kontrol terakhir adalah
frekuensi penyiraman air, dimana tiap-tiap polybag yang berisi biji saga dengan

8
perlakuan yang berbeda diberikan penyiraman dengan air dengan frekuensi
penyiraman yang sama, yaitu 2 hari sekali dan volume air yang sama, yaitu 3
tutup butul. Perlakuan kontrol dilakukan untuk dapat diketahui secara pasti
pengaruh berbagai perlakuan sebagai variabel manipulasi terhadap pemecahan
dormansi biji saja sehingga biji dapat tumbuh dan berkecambah.
3. Variabel respon : merupakan variabel yang menunjukan hasil dari perlakuan
yang diberikan, dimana pada praktikum ini variabel respon berupa tumbuhnya
biji saga yang telah diberikan perlakuan berbeda. Tumbuhnya biji saga berarti
bahwa fase dormansi biji telah berakhir, yang proses pemecahan dormansinya
dipengaruhi oleh berbagai perlakuan yang diberikan terhadap biji saga.

G. Alat dan Bahan


Alat
1. Kertas amplas 1 buah
2. Poly bag 3 buah
3. Gelas kimia 2 buah
4. Kertas label 1 lembar
Bahan
1. Biji saga 30 biji
2. Larutan asam sulfat pekat Secukupnya
3. Media tanam (tanah dan pasir) Secukupnya
4. Air Secukupnya

9
H. Rancangan Percobaan

30 biji saga

- memberikan tiga perlakuan berbeda

Perlakuan pertama Perlakuan kedua Perlakuan ketiga

- 10 biji dihilangkan
- 10 biji dicuci dengan - 10 biji direndam dalam
bagian yang tidak
air larutan asam sulfat
ada lembaganya
pekat selama 5 menit
dengan kertas
amplas
- menanam biji dalam 3 polybag berbeda (sesuai
dengan perlakuan yang diberikan) dengan media
tanam berupa tanah dan pasir dengan perbandingan
1:1
- mengamati perkecambahan yang terjadi selama 14
hari
- melakukan penyiraman jika tanah mulai kering
- mencatat kecepatan perkecambahan pada tiap
perlakuan yang diberikan ke tabel dalam hasil
pengamatan
Tabel hasil
pengamatan

10
I. Langkah Kerja
1. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan.
2. Menyediakan 30 biji berkulit keras dan bagi menjadi 3 kelompok
- Merendam 10 biji dalam asam sulfat pekat selama 5 menit, kemudian dicuci
dengan air.
- 10 biji yang lain dihilangkan bagian yang tidak ada lembaganya dengan
mengguakan kertas amplas dan kemudian dicuci dengan air.
- Mengambil 10 biji yang lain kemudian dicuci dengan air.
3. Menanam ketiga kelompok biji tersebut pada pot yang bermedia tanam tanah
dan pasir dengan perbandingan 1 : 1. Diusahakan kondisi penanaman biji dalam
keadaan sama untuk ketiga pot.
4. Mengamati perkecambahan untuk ketiga pot tersebut setiap hari selama 14 hari.
Bila tanahnya kering dilakukan penyiraman.
5. Membuat tabel pengamatan kecepatan perkecambahan dan hasil pengamatan.

J. Rancangan Tabel Pengamatan


Tabel 1. Pengaruh Berbagai Perlakuan terhadap Pemecahan Dormansi
padabiji Saga (Adenanthera pavonina)
Hari ke- Total
Perlakuan biji
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
Air (Kontrol) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1
Amplas 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 1 0 3
H2SO4 0 0 0 0 2 1 0 2 0 2 2 0 0 0 9

K. Rencana Analisis Data


Berdasarkan data yang diperoleh pada tabel 1., dapat dianalisis bahwa pada
perlakuan perendaman dalam H2SO4, biji yang ditanam mulai menunjukkan
aktivitas tumbuh pada hari ke-5 dengan jumlah biji yang tumbuh adalah 2,
kemudian tumbuh lagi pada hari ke-6 sebanyak 1 biji. kemudian tumbuh lagi pada
hari ke-8 sebanyak 2. Pada hari kesepuluh tumbuh sebanyak 2 biji. Pada hari ke 11

11
tumbuh 2 biji. biji yang tumbuh jadi jumlah biji yang tumbuh seluruhnya adalah 9
biji sehingga diperoleh prosentase biji yang tumbuh sebesar 90%
Pada perlakuan pengamplasan, biji yang ditanam mulai menunjukkan
aktivitas tumbuh pada hari ke-8 dengan jumlah biji yang tumbuh adalah 1 biji,
kemudian tumbuh lagi pada hari ke-10 yaitu sebanyak 1 biji, tumbuh lagi pada hari
ke 13 sebanyak 1 biji. sehingga total biji yang tumbuh yaitu 3 biji dan diperoleh
prosentase biji yang tumbuh sebesar 30%.
Pada biji yang dicuci dengan air, biji yang ditanam menunjukkan aktivitas
tumbuh pada hari ke 11 sebanyak 1 biji sehingga diperoleh prosentase biji yang
tumbuh sebesar 10%

L. Hasil Analisis Data


Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui bahwa pemecahan dormansi pada
biji saga dapat dilakukan dengan beberapa perlakuan, seperti perendaman biji
dalam larutan H2SO4 dan pengamplasan pada biji. Perlakuan tersebut dilakukan
untuk mematahkan dormansi pada biji saga yang berkulit keras. Dormansi adalah
ketidakmampuan biji hidup untuk berkecambah pada suatu kisaran keadaan luas
yang dianggap menguntungkan untuk biji tersebut. Dormansi dapat disebabkan
karena tidak mampunya biji secara total untuk berkecambah atau hanya karena
bertambahnya kebutuhan yang khusus untuk perkecambahannya. Menurut Sutopo
(2004), dormansi biji dapat disebabkan keadaan fisik dari kulit biji dan keadaan
fisiologis embrio, atau kombinasi dari keduanya. Dormansi adalah suatu keadaan
pertumbuhan yang tertunda atau keadaan istirahat, merupakan kondisi yang
berlangsung selama suatu periode yang tidak terbatas walaupun berada dalam
keadaan yang menguntungkan untuk perkecambahan.
Menurut Yanuarti dan Djaman (2015), faktor dormansi pada biji berkulit
keras, misalnya biji saga diakibatkan oleh struktur kulit biji yang tebal dan keras.
Kulit biji yang tebal dan keras tersebut akan menghambat perkecambahan
walaupun disemaikan pada kondisi perkecambahan yang optimum. Kulit biji yang
keras sulit dilalui oleh air dan oksigen yang sangat penting dalam proses
perkecambahan, untuk itu diperlukan perlakuan khusus atau perlakuan
pendahuluan terhadap biji sebelum dikecambahkan, karena perkecambahan tidak
akan dimulai bila air belum terserap masuk kedalam biji (Kaya dan Rehatta, 2013).

12
Perlakuan yang diberikan bertujuan untuk memudahkan kulit biji saga yang
awalnya sulit dilalui oleh air menjadi bersifat permeabel sehingga mudah dilalui
oleh air, karena air merupakan komponen penting untuk pemecahan dormansi dan
berlangsungnya perkecambahan.
Air diperlukan dalam proses perekahan kulit biji, pengembangan embrio
dan pembesaran sel-sel dititik tumbuh. Air akan mempengaruhi aktifitas enzim α-
amilase, translokasi, makanan cadangan, mengatur keseimbangan zat pengatur
tumbuh dan penggunaan cadangan makanan. Masuknya air ke dalam biji akan
mengaktifkan hormon giberilin (GA3) yang akan memicu terjadinya transkripsi
DNA menjadi RNA. RNA kemudian akan ditranslasikan dan akan terbentuk asam
amino yang menyusun protein dan membentuk enzim aktif hidrolisa, seperti
amilase, protease, dan lipase untuk memecah cadangan makanan berupa
karbohidrat, protein, dan lemak yang terkandung di endosperm. Setelah terjadi
pemecahan molekul-molekul makanan menjadi molekul yang sederhana, molekul-
molekul makanan tersebut kemudian di translokasikan ke titik-titik tumbuh,
sehingga perkecambahan dapat berlangsung, yang ditandai dengan tumbuhnya
radikula dan planula (Harahap,2012).
Pada perendaman biji dalam larutan H2SO4 selama 5 menit. Berdasarkan
hasil yang diperoleh, biji yang diberi perlakuan perendaman dalam larutan H2SO4
memiliki prosentase paling tinggi yaitu 90%. Menurut Sutopo (1993), perendaman
dalam zat kimia dimaksudkan untuk melunakkan kulit biji atau untuk melarutkan
zat penghambat pertumbuhan, yang prinsipnya adalah membuang lapisan lilin pada
kulit biji yang keras dan tebal sehingga biji kehilangan lapisan yang impermeabel
terhadap gas dan air, sehingga metabolisme dapat berjalan dengan baik. Kulit biji
yang melunak menjadikannya lebih permeabel terhadap air dan air akan dengan
mudah masuk ke dalam biji, yang kemudian akan memicu aktifnya hormon
giberilin (GA3) dan aktifnya enzim-enzim pengurai cadangan makanan yang
kemudian ditranslokasikan ke titik-titik tumbuh sebagai energi dalam metabolisme,
sehingga perkecambahan dapat berlangsung yang ditandai dengan tumbuhnya
radikula dan planula pada biji.
Pada perlakuan pengamplasan berdasarkan hasil yang diperoleh, biji yang
diberi perlakuan pengamplasan memiliki prosentase tumbuh sebesar 30%.

13
Pengamplasan merupakan salah satu cara dalam pemecahan dormansi yang dikenal
sebagai skarifikasi. Menurut Yuniarti dan Djaman (2015), dormansi dapat
dipatahkan dengan melakukan perlakuan skarifikasi, yaitu perlakuan yang
ditujukan untuk mengurangi ketebalan atau menghilangkan kulit biji yang keras
yang dilakukan dengan tujuan agar kulit biji menjadi lebih permeabel terhadap air
yang dibutuhkan untuk berkecambah. Hal inilah yang membuat biji pada perlakuan
pengamplasan tumbuh paling cepat, karena lapisan lilin yang keras pada kulit biji
dihilangkan dengan cara dikikir menggunakan amplas, sehingga kulit biji menjadi
lebih mudah dilalui oleh air dan air akan masuk ke dalam biji. Masuknya air ke
dalam biji akan mengaktifkan hormon giberilin (GA3) yang akan memicu aktifnya
enzim-enzim pengurai cadangan makanan yang kemudian ditranslokasikan ke titik-
titik tumbuh sebagai energi dalam metabolisme, sehingga perkecambahan dapat
berlangsung yang ditandai dengan tumbuhnya radikula dan planula pada biji.
Berdasarkan hasil praktikum biji yang paling cepat tumbuh adalah biji yang
mendapat perlakuan perendaman H2SO4 yang kedua paling cepat tumbuh adaalah
yang mendapat perlakuan pengamplasan. Hal ini tidak sesuai dengan teori dimana
seharusnya biji dengan pelakuan pengamplasan lebih cepat dibandingkan
perendaman dengan larutan H2SO4. Hal ini kemungkinan terjadi karena factor
eksternal banyaknya cahaya yang diperoleh. Tumbuhan diletakkan pada 1 tempat
yang sama akan tetapi cahaya yang diterima berbeda ada bagian yang tersinari oleh
cahaya dan ada bagian yang hanya menerima sedikit cahaya. Factor kedua yakni
perbedaan jumlah air yang disiramkan. Penyiraman dilakukan tidak dengan ukuran
yang pasti tetapi hanya dengan gayung. Yang ketiga kemungkinan karena usia biji
yang satu dengan yang lain berbeda.
M. Simpulan
Adanya pengaruh berbagai macam perlakuan terhadap pemecahan dormansi biji
berkulit keras (terima Ha). Biji diberi H2SO4 lebih cepat tumbuh dibandingkan biji
di amplas. Biji diamplas lebih cepat tumbuh daripada biji direndam air saja.

14
DAFTAR PUSTAKA

Bewley, D. 1978, Physiology and biochemistry of Seed, Springer verlag,


Berlin Heidlberg
Dwidjoseputro. 1985. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press.
Harahap, Fauziyah. 2012. Fisiologi Tumbuhan: Suatu Pengantar. Medan: Unimed
Press. ISBN 978-602-8848-88-6.
Harjadi, S.S. 1979, Pengantar Agronomi, Penerbit PT Gramedia, Jakarta
Kaya, Marthen E., dan H. Rehatta. 2013. Pengaruh Perlakuan Pencelupan dan
Perendaman terhadap Perkecambahan Benih Sengon (Paraserianthes
falcataria L.). Jurnal Argologia: Jurnal Ilmu Budidaya Tanaman. Vol 2, No
1, April 2013, Hal. 10-16
Kamil, J., 1984. Teknologi Benih. Bandung: Angkasa Raya.
Lakitan, Benyamin. 2000. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Sagala, J. 1990, Perlakuan Benih cendana Dengan Air, asam Sulfat, GA3,
Jurnal Departemen Kehutanan, Bogor.
Salisbury, Fb, Ross Wc. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. Bandung, Indonesia:
ITB Press.
Sutopo, L. 2004. Teknologi Benih. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Yuniarti, Naning dan Djaman, Dharmawati F. 2015. Teknik Pematahan Dormansi
untuk Mempercepat Perkecambahan Benih Kourbaril (Hymenaea
courbaril). Jurnal PROS SEM NAS MASY BIODIV INDON. Volume 1,
Nomor 6, September 2015. Halaman: 1433-1437. ISSN: 2407-8050.

15
LAMPIRAN

c. Perendaman biji saga b. Pemilihan biji saga a. Pengamplasan biji


oleh H2SO4 saga

16