Anda di halaman 1dari 14

PORTOFOLIO

Topik: Hemangioma
Tanggal (kasus) : 24 - 09 - 2019 Presenter : dr. Rahmad Irawan
Tanggal presentasi : Narasumber :dr.
Pembimbing: dr. Agus Suprapto, SH, MH
dr. Neneng Tresna Imawati

Tempat presentasi: Ruang diskusi RS. TK.IV Dr. Bratanata Jambi


Obyektif presentasi:
□ Keilmuan □ Keterampilan □ Penyegaran □ Tinjauan

pustaka

□ Diagnostik □ Manajemen □ Masalah □ Istimewa
□Neonatus □Bayi √Anak □ Remaja □ Dewasa □ Lansia □ Bumil
□ Deskripsi:
 An, Z Usia 12 Tahun, perempuan dengan Hemangioma lidah
□ Tujuan:
 Mampu mendiagnosis Hemangioma
 Mampu memberikan penatalaksanaan pada pasien Hemangioma
Bahan bahasan: □ Tinjauan □ Riset √ Kasus □ Audit
pustaka
Cara √ Diskusi □Presentasi dan □ E‐mail □ Pos
membahas: diskusi

Data pasien: Nama: An.Z No registrasi: 105006


Nama RS: RS TK.IV Dr. Bratanata Usia: 12tahun Terdaftar sejak: 24/09/2019
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis/ Gambaran Klinis
 Perempuan, 12 tahun MRS dengan keluhan benjolan pada lidah disertai nyeri
sejak ± 1 minggu yang lalu, awalnya muncul bintik-bintik merah makin lama
makin membesar, benjolan hilang timbul sejak pasien berusia 4 tahun. pasien
juga mengeluhkan sulit makan sehingga badan terasa lemas. BAK dan BAB
lancar.
2. Riwayat Pengobatan
 Pasien pernah berobat sebelumnya dengan keluhan yang sama.
3. Riwayat kesehatan/ Penyakit dahulu
 Hemangioma pada usia 4 tahun
4. Riwayat keluarga/ masyarakat
 Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama seperti pasien.
Daftar Pustaka:

1. Buckmiller LM (2004). Update on hemangiomas and vascular malformations.


Curr Opin Otolaryngol Head Neck Surg.
2. Dubois J, Patriquin HB, Garel L; et al. (1998). Soft tissue hemangiomas in
infants and children: Diagnosis using Doppler sonography. Am J Roengenol.
3. Khurana KK, Mortelliti AJ (2001). The role of fine-needle aspiration biopsy in
the diagnosis and management of juvenile hemangioma of parotid gland and
cheek. Arch Pathol Lab Med.
4. England RJ, Woodley H, Cullinane C, McClean P, Walker J, Stringer MD
(2006). Pediatric pancreatic hemangioma: A case report and literature review.
J Pancreas.
5. Adam S, Kirk TR (2005). Corticosteroid treatment of periorbital hemangioma of
infancy: a review of the evidence. Br J Ophthalmol.
6. Frieden IJ, Haggstrom AN, Drolet BA, Mancini AJ, Friedlander SF, Boon L
(2005). Infantile hemangiomas: Current knowledge, future directions.
Proceeding of a research workshop on infantile hemangiomas. Pediatr Dermatol.
1.
Hasil pembelajaran:
1. Diagnosis Hemangioma
2. Penatalaksanaan Hemangioma
3. Edukasi tentang perjalanan penyakit dan penatalaksanaan yang tepat

SUBJEKTIF
Perempuan, 12 tahun MRS dengan keluhan benjolan pada lidah disertai nyeri
sejak ± 1 minggu yang lalu, awalnya muncul bintik-bintik merah makin lama makin
membesar, benjolan hilang timbul sejak pasien berusia 4 tahun. pasien juga
mengeluhkan sulit makan sehingga badan terasa lemas. BAK dan BAB lancar. Pasien
pernah berobat sebelumnya dengan keluhan yang sama, Pasien pernah didiagnosa
dengan Hemangioma pada usia 4 tahun.
OBJEKTIF
PEMERIKSAAN FISIK
KEADAAN UMUM : Tampak sakit sedang
KESADARAN : Composmentis
TANDA VITAL
- Tekanan Darah : 110/70 mmHg
- Nadi : 84 kali/menit
- Laju nafas : 20x/ menit
- Suhu : 36° C
Pemeriksaan Sistemik
Kepala : tidak ada kelainan
Mata : Konjungtiva : anemis (+)
Sklera : ikterik (-)
Thoraks : Jantung : dalam batas normal
Paru : dalam batas normal
Abdomen : dalam batas normal
Ekstremitas : deformitas (-), edema (-)

Status Lokalis THT


Telinga
Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Auricula Deformitas Tidak ada Tidak ada
Trauma Tidak ada Tidak ada
Radang Tidak ada Tidak ada
Kelainan Tidak ada Tidak ada
Metabolik
Nyeri Tarik Tidak ada Tidak ada
Nyeri Tekan Tidak ada Tidak ada
Tragus
Canalis Akusticus Cukup Lapang Cukup lapang Cukup lapang
Eksternus
Hiperemis Tidak ada Tidak ada
Edema Tidak ada Tidak ada
Massa Tidak ada Tidak ada
Sekret/Serumen Bau Tidak ada Tidak ada
Warna Kecoklatan Kecoklatan
Jumlah Banyak Sedikit
Jenis Kering Kering

Membran Timpani
Utuh Warna Sulit dinilai Putih
Refleks Cahaya Sulit dinilai Positif

Bulging Sulit dinilai Tidak ada

Retraksi Sulit dinilai Tidak ada

Atrofi Sulit dinilai Tidak ada

Perforasi Perforasi Sulit dinilai Tidak ada

Jenis Sulit dinilai Tidak ada

Kuadran Sulit dinilai Tidak ada

Pinggir Sulit dinilai Tidak ada

Gambar Membran Refleks Cahaya Sulit dinilai Arah jam 7


Timpani
Mastoid Tanda Radang Sulit dinilai Tidak ada

Fistel Sulit dinilai Tidak ada

Sikatrik Sulit dinilai Tidak ada

Nyeri tekan Sulit dinilai Tidak ada

Nyeri Ketok Sulit dinilai Tidak ada

Bengkak Sulit dinilai Tidak ada

Fluktuasi Sulit dinilai Negatif

Audiometri Tidak dilakukan


Timpanometri Tidak dilakukan

Hidung
Pemeriksaan Kelainan
Hidung Luar Deformitas Tidak ada
Kelainan Kongenital Tidak ada
Trauma Tidak ada
Radang Tidak ada
Massa Tidak ada

Sinus Paranasal
Pemeriksaan Dekstra Sinistra
Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada

Rinoskopi Anterior
Cavum nasi Cukup lapang Terpasang NGT Cukup lapang
Sempit
Lapang
Secret Lokasi Tidak bisa dinilai Tidak ada
Jenis
Jumlah
Bau
Konka inferior Ukuran Tidak bisa dinilai Eutrofi

Warna Tidak bisa dinilai Merah muda

Permukaan Tidak bisa dinilai Licin

Edema Tidak bisa dinilai Tidak ada

Septum Cukup lurus/ Tidak bisa dinilai Lurus


deviasi
Permukaan Tidak bisa dinilai

Warna Tidak bisa dinilai Merah muda

Spina Tidak bisa dinilai Tidak ada

Krista Tidak bisa dinilai Tidak ada

Abses Tidak bisa dinilai Tidak ada

Perforasi Tidak bisa dinilai Tidak ada

Massa Lokasi Tidak bisa dinilai Tidak ada

Bentuk Tidak bisa dinilai Tidak ada

Ukuran Tidak bisa dinilai Tidak ada

Permukaan Tidak bisa dinilai Tidak ada

Warna Tidak bisa dinilai Tidak ada

Konsistensi Tidak bisa dinilai Tidak ada

Mudah Digoyang Tidak bisa dinilai Tidak ada


Pengaruh Tidak bisa dinilai Tidak ada
Vasokonstriktor

Rinoskopi Posterior (Nasofaring)


Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Cukup lapang (N) Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Koana Sempit
Lapang
Warna Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Mukosa Edema Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Jaringan granulasi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Ukuran Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Warna Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Konka inferior
Permukaan Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Edema Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Adenoid Ada/tidak Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Muara tuba Tertutup secret Tidak dilakukan Tidak dilakukan
eustachius Edema mukosa Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Lokasi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Massa Ukuran Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Bentuk Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Permukaan Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Ada/tidak Tidak ada Tidak ada
Post Nasal Drip
Jenis

Orofaring dan Mulut


Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra
Trismus Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai
Uvula Edema Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai
Bifida Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai
Palatummole Simetri/tidak Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai
+Arkus Faring Warna Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai
Bercak/eksudat Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai
Dinding faring Warna Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai
Permukaan Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai
Tonsil Ukuran Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai
Warna Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai
Permukaan Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai
Muara kripti Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai
Detritus Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai
Eksudat Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai
Peritonsil Warna Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai
Edema Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai
Abses Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai
Gigi Karier/Radiks Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai
Kesan
Lidah Warna Merah muda Merah muda
Bentuk Bergranul Bergranul
Deviasi Tidak ada Tidak ada
Massa Positif 2/3 lateral, Tidak ada
Bergranul.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

LABORATORIUM (Tanggal 24/09/2019)

PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN UNIT


HEMATOLOGI
Hemoglobin 13.3 12 - 16 g/dl
Hematokrit 40.7 35 – 49 %
Leukosit 6.8 4 – 12 Ribu/uL
Trombosit 331 100 – 300 Ribu/uL
Eritrosit 4.52 3.5 – 5.2 Juta/uL
MPV (Mean Platelet 7.7 6.5 – 12 fL
Volume)
PDW 15.6 9 – 17
PCT (platelecrit) 0.3 0.10 – 0.28 %
MCV 85.8 80 – 100 Fl
MCH 28.7 27 – 34 Pg
MCHC 33.4 31 – 37 %
RDW-CV 12.4 11 – 16 %
RDWSD 44.8 35 – 56 fL
Neutrofil % 49.7 50 – 70 %
Limfosit % 43.4 20 – 60 %
Monosit % 4.7 3 – 12 %
Eosinofil % 2.0 0.5 – 5 %
Basofil % 0.2 0–1 %

ASSESSMENT

A. ANATOMI LIDAH

Secara anatomi lidah terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: (3)


1. Apeks linguae (ujung lidah)
2. Corpus linguae (bada lidah)
3. Radix linguae (akar lidah)
Lidah mempunyai membran mukosa yang berada pada bagian dorsal, pinggir
kanan dan kiri, dan sebelah muka terdapat tonjolan yang kecil yang biasa
disebut dengan papila. Pada bagian dasar papila ini terdapat kuncup-kuncup
pengecap sehingga kita dapat menerima sensasi atau merasa cita rasa. Ada
empat macam papila, yaitu: (3,4)

1. papila filiformis,
2. papila fungiformis,
3. papila sirkumvalata dan
4. papila foliata.
Area dibawah lidah disebut dasar mulut, membran mukosa disini bersifat licin,
elastis dan terdapat banyak pembuluh darah yang menyebabkan lidah mudah
bergerak.Mukosa dasar mulut tidak mengandung papila.Dasar mulut dibatasi
oleh otot-otot lidah dan otot-otot dasar mulut yang berinsertio di sebelah dalam
mandibula yang terdapat kelenjar ludah sublingualis dan submandibularis.(3,4)
Lidah adalah organ otot dengan kekenyalan yang baik sekali sewaktu bergerak,
hal ini dapat dilihat pada waktu mengunyah. Lidah sebagian besar terdiri dari
dua kelompok otot, yaitu:(3,5)
1. Otot intrinsik lidah melakukan semua gerakan halus, dan
2. Otot ekstrinsik melekatkan lidah pada bagian sekitarnya serta melaksanakan
gerakan - gerakan kasar yang sangat penting pada saat mengunyah dan
menelan.
Lidah memiliki persarafan yang majemuk. Otot - otot lidah mendapat suplai
dari nervus hipoglosus (nervus XII). “Taste bud” pada lidah dibagi menjadi dua
bagian, yaitu perasaan umum, menyangkut taktil perasa seperti membedakan
ukuran, bentuk, susunan, kepadatan suhu, dan sebagainya, serta rasa pengecap
khusus. Impuls perasa umumnya berada pada bagian anterior lidah pada serabut
saraf lingual yang merupakan sebuah cabang nervus kranial V, sementara
impuls indera pengecap berada pada korda timpani bersama saraf lingual,
kemudian bersatu dengan nervus kranial VII, yaitu nervus fasialis.(3,5,6)
Lidah kelilingi oleh kelenjar limfe, hal ini berhubungan dengan proses
penyebaran karsinoma lidah. Penyaluran limfe melalui lidah terjadi melalui 4
jalur yaitu: (4,5)
1) Limfe dari bagian 1/3 posterior lidah disalurkan ke bagian servikalis
profunda superior di kedua sisi.
2) Limfe dari bagian medial 2/3 anterior lidah disalurkan langsung ke bagian
servikalis profunda inferior.
3) Limfe dari bagian lateral 2/3 anterior lidah disalurkan ke submandibularis
4) Limfe dari ujung lidah disalurkan ke submentalis

Gambar 2.1 Anatomi Lidah

B. DEFINISI
Hemangioma adalah tumor jinak yang terjadi akibat gangguan pada
perkembangan dan pembentukn pembuluh darah dan dapat terjadi pada setiap
jaringan pembuluh darah, termasuk pada organ seperti hati, limpak, otak,
tulang, kulit dan mukosa. Hemangioma dikarakteristikkan dengan proliferasi
sel endotel yang sangat cepat, diikuti dengan involusi secara bertahap.
Kebanyakan hemangioma baru muncul pada minggu ke-8 setelah lahir dan
lesi akan hilang dengan sendirinya setelah berapa tahun.
Hemangioma sering dijumpai pada bayi dan anak-anak, namun tidak
menutup kemungkinan dapat terjadi pada orang dewasa. Prevalensi
hemangioma ± 1-3% pada neonatus dan ± pada bayi sampai dengan usia 1
tahun. Seringnya hemangioma ditemukan pada daerah kepala dan leher yaitu
sebesar 60%. Pada daerah rongga mulut sering ditemukan di bibir, lidah dan
mukosa bukal. Hemangioma lebih sering terjadi pada perempuan dibanding
laki-laki dengan rasio 3:1, dan lebih sering mengenai ras kulit putih.

C. ETIOLOGI
Penyebab hemangioma sampai saat ini masih belum jelas.
Angiogenesis sepertinya memiliki peranan dalam kelebihan pembuluh darah.
Cytokines, seperti Basic Fibroblast Growth Factor (BFGF) dan Vascular
Endothelial Growth Factor (VEGF), mempunyai peranan dalam proses
angiogenesis. Peningkatan faktor-faktor pembentukan angiogenesis seperti
penurunan kadar angiogenesis inhibitor misalnya gamma-interferon, tumor
necrosis factor–beta, dan transforming growth factor–beta berperan dalam
etiologi terjadinya hemangioma.
D. MANIFESTASI KLINIS
Gejala hemangioma berdasarkan klasifikasinya :
Pada dasarnya hemangioma dibagi menjadi dua yaitu hemangioma
kapiler dan hemangioma kavernosum.Hemangioma kapiler (superfisial
hemangioma) terjadi pada kulit bagian atas, sedangkan hemangioma
kavernosum terjadi pada kulit yang lebih dalam, biasanya pada bagian dermis
dan subkutis.Pada beberapa kasus kedua jenis hemangioma ini dapat terjadi
bersamaan atau disebut hemangioma campuran.
1. Hemangioma kapiler
a. Strawberry hemangioma (hemangioma simplek)
Hemangioma kapiler terdapat pada waktu lahir atau beberapa hari
sesudah lahir. Lebih sering terjadi pada bayi prematur dan akan menghilang
dalam beberapa hari atau beberapa minggu (Hall, 2005). Tampak sebagai
bercak merah yang makin lama makin besar.Warnanya menjadi merah
menyala, tegang dan berbentuk lobular, berbatas tegas, dan keras pada
perabaan. Involusi spontan ditandai oleh memucatnya warna di daerah sentral,
lesi menjadi kurang tegang dan lebih mendatar
b. Granuloma piogenik
Lesi ini terjadi akibat proliferasi kapiler yang sering terjadi sesudah
trauma, jadi bukan oleh karena proses peradangan, walaupun sering disertai
infeksi sekunder. Lesi biasanya soliter, dapat terjadi pada semua umur,
terutama pada anak dan tersering pada bagian distal tubuh yang sering
mengalami trauma.Mula-mula berbentuk papul eritematosa dengan
pembesaran yang cepat.Beberapa lesi dapat mencapai ukuran 1 cm dan dapat
bertangkai, mudah berdarah.
2. Hemangioma kavernosum
Lesi ini tidak berbatas tegas, dapat berupa makula eritematosa atau
nodus yang berwarna merah sampai ungu. Bila ditekan akan mengempis dan
cepat mengembung lagi apabila dilepas. Lesi terdiri dari elemen vaskular yang
matang.Bentuk kavernosum jarang mengadakan involusi
spontan.Hemangioma kavernosum kadang-kadang terdapat pada lapisan
jaringan yang dalam, pada otot atau organ dalam.
3. Hemangioma campuran
Jenis ini terdiri atas campuran antara jenis kapiler dan jenis
kavernosum.Gambaran klinisnya juga terdiri atas gambaran kedua jenis
tersebut.Sebagian besar ditemukan pada ekstremitas inferior, biasanya
unilateral, soliter, dapat terjadi sejak lahir atau masa anak-anak. Lesi berupa
tumor yang lunak, berwarna merah kebiruan yang kemudian pada
perkembangannya dapat memberi gambaran keratotik dan verukosa .Lokasi
hemangioma campuran pada lapisan kulit superfisial dan dalam, atau organ
dalam.

E. PATOFISIOLOGI
Meskipun mekanisme yang jelas mengenai kontrol dari pertumbuhan
dan involusi hemangioma tidak begitu dimengerti, pengetahuan mengenai
pertumbuhan dari pembuluh darah yang normal dan proses angiogenesis dapat
dijadikan petunjuk. Vaskulogenesis menunjukkan suatu proses dimana
prekursor sel endotel meningkatkan pembentukan pembuluh darah, mengingat
angiogenesis berhubungan dengan perkembangan dari pembuluh darah baru
yang ada dalam sistem vaskular tubuh. Selama fase proliferasi,
hemangioma mengubah kepadatan dari sel-sel endotel dari kapiler-kapiler
kecil. Sel marker dari angiogenesis,termasuk proliferasi dari antigen inti sel,
collagenase tipeIV,basic fibroblastic growth factor, vascular endothelial
growthfactor, urokinase, dan E-selectin, dapat dikenali oleh analisis
imunokimiawi.
Hemangioma superfisial dan dalam, mengalami fase pertumbuhan
cepat dimana ukuran dan volume bertambah secara cepat.Fase ini diikuti
dengan fase istirahat, dimana perubahan hemangioma sangat sedikit, dan fase
involusi dimana hemangioma mengalami regresi secara spontan.Selama fase
involusi, hemangioma dapat hilang tanpa bekas.Hemangioma kavernosa yang
besar mengubah kulit sekitarnya, dan meskipun fase involusi sempurna,
akhirnya meninggalkan bekas pada kulit yang terlihat. Beberapa hemangioma
kapiler dapat involusi lengkap, tidak meninggalkan bekas.

F. DIAGNOSIS
Hampir pada seluruh kasus, diagnosis dapat ditegakkan secara ekslusif
berdasarkan pemeriksaan fisik dan riwayat penyakit. Namun, beberapa jenis
hemangioma dapat disalahartikan sebagai malformasi vaskular atau jenis
tumor lain, sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut:

1. USG
Ultrasonografi berguna untuk membedakan hemangioma dari struktur
dermis yang dalam ataupun subkutan, seperti kista atau kelenjar limfe. USG
secara umum mempunyai keterbatasan untuk mengevaluasi ukuran dan
penyebaran hemangioma. Dikatakan juga bahwa USG doppler (2 kHz) dapat
digunakan untuk densitas pembuluh darah yang tinggi (lebih dari 5 pembuluh
darah/ m2) dan perubahan puncak arteri. Pemeriksaan menggunakan alat ini
merupakan pemeriksaan yang sensitif dan spesifik untuk mengenali suatu
hemangioma infantil dan membedakannya dari massa jaringan lunak lain.

2. MRI
MRI merupakan modalitas imaging pilihan karena mampu mengetahui
lokasi dan penyebaran baik hemangioma kutan dan ekstrakutan. MRI juga
dapat membantu membedakan hemangioma yang sedang berproliferasi dari
lesi vaskuler aliran tinggi yang lain (misalnya malformasi arteriovenus).
Hemangioma dalam fase involusi memberikan gambaran seperti pada lesi
vaskuler aliran rendah (misalnya malformasi vena.

3. CT scan
Pada sentra yang tidak mempunyai fasilitas MRI, dapat
merggunakan CT scan walaupun cara ini kurang mampu menggambarkan
karakteristik atau aliran darah. Penggunaan kontras dapat membantu
membedakan hemangioma dari penyakit keganasan atau massa lain yang
menyerupai hemangioma.

4. Foto polos
Pemeriksaan foto polos seperti foto sinar X, masih bisa dipakai untuk
melihat apakah hemangioma mengganggu jalan nafas.

5. Biopsi kulit
Biopsi diperlukan bila ada keraguan diagnosis ataupun untuk
menyingkirkan hemangioendotelioma kaposiformis atau penyakit keganasan.
Pemeriksaan immunohistokimia dapat membantu menegakkan diagnosis.
Komplikasi yang dapat terjadi pada tindakan biopsi ialah perdarahan.

G. PENATALAKSANAAN
Ada 2 cara pengobatan:
1. Cara konservatif
Pada perjalanan alamiahnya lesi hemangioma akan mengalami
pembesaran dalam bulan-bulan pertama, kemudian mencapai besar maksimum
dan sesudah itu terjadi regresi spontan sekitar umur 12 bulan, lesi terus
mengadakan regresi sampai umur 5 tahun (Hamzah, 1999).Hemangioma
superfisial atau hemangioma strawberry sering tidak diterapi. Apabila
hemangioma ini dibiarkan hilang sendiri, hasilnya kulit terlihat normal
(Kantor, 2004).
2. Cara aktif
Hemangioma yang memerlukan terapi secara aktif, antara lain adalah
hemangioma yang tumbuh pada organ vital, seperti pada mata, telinga, dan
tenggorokan; hemangioma yang mengalami perdarahan; hemangioma yang
mengalami ulserasi; hemangioma yang mengalami infeksi; hemangioma yang
mengalami pertumbuhan cepat dan terjadi deformitas jaringan (Anonim,
2005).
a. Pembedahan
Indikasi :
1. Terdapat tanda-tanda pertumbuhan yang terlalu cepat, misalnya dalam
beberapa minggu lesi menjadi 3-4 kali lebih besar.
2. Hemangioma raksasa dengan trombositopenia.
3. Tidak ada regresi spontan, misalnya tidak terjadi pengecilan sesudah 6-7
tahun.
Lesi yang terletak pada wajah, leher, tangan atau vulva yang tumbuh cepat,
mungkin memerlukan eksisi lokal untuk mengendalikannya (Hamzah, 1999).

b. Radiasi
Pengobatan radiasi pada tahun-tahun terakhir ini sudah banyak ditinggalkan
karena:
1. Penyinaran berakibat kurang baik pada anak-anak yang pertumbuhan
tulangnya masih sangat aktif.
2. Komplikasi berupa keganasan yang terjadi pada jangka waktu lama.
3. Menimbulkan fibrosis pada kulit yang masih sehat yang akan menyulitkan
bila diperlukan suatu tindakan.
Walaupun radiasi digunakan secara luas dalam masa lampau untuk mengobati
hemangioma, pada saat ini jarang digunakan karena komplikasi jangka lama
terapi radiasi, serta fakta bahwa kebanyakan hemangioma kapiler akan
beregresi (Hamzah, 1999).
c. Kortikosteroid
Kriteria pengobatan dengan kortikosteroid ialah:
1. Apabila melibatkan salah satu struktur yang vital.
2. Tumbuh dengan cepat dan mengadakan destruksi kosmetik.
3. Secara mekanik mengadakan obstruksi salah satu orifisium.
4. Adanya banyak perdarahan dengan atau tanpa trombositopenia.
5. Menyebabkan dekompensasio kardiovaskular.
Kortikosteroid yang dipakai ialah antara lain prednison yang mengakibatkan
hemangioma mengadakan regresi, yaitu untuk bentuk strawberry,
kavernosum, dan campuran. Dosisnya per oral 20-30 mg perhari selama 2-3
minggu dan perlahan-lahan diturunkan, lama pengobatan sampai 3 bulan.
Terapi dengan kortikosteroid dalam dosis besar kadang-kadang akan
menimbulkan regresi pada lesi yang tumbuh cepat (Hamzah, 1999).
Hemangioma kavernosa yang tumbuh pada kelopak mata dan
mengganggu penglihatan umumnya diobati dengan steroid injeksi yang
menurunkan ukuran lesi secara cepat, sehingga perkembangan penglihatan
bisa normal.Hemangioma kavernosa atau hemangioma campuran dapat
diobati bila steroid diberikan secara oral dan injeksi langsung pada
hemangioma (Kantor, 2004).
Penggunaan kortikosteroid peroral dalam waktu yang lama dapat
meningkatkan infeksi sistemik, tekanan darah, diabetes, iritasi lambung, serta
pertumbuhan terhambat (Anonim, 2005).
d. Obat sklerotik
Penyuntikan bahan sklerotik pada lesi hemangioma, misalnya dengan
namor rhocate 50%, HCl kinin 20%, Na-salisilat 30%, atau larutan NaCl
hipertonik. Akan tetapi cara ini sering tidak disukai karena rasa nyeri dan
menimbulkan sikatrik (Hamzah, 1999).
e. Elektrokoagulasi
Cara ini dipakai untuk spider angioma untuk desikasi sentral arterinya,
juga untuk hemangioma senilis dan granuloma piogenik (Hamzah, 1999).
f. Pembekuan
Aplikasi dingin dengan memakai nitrogen cair (Hamzah, 1999).
g. Antibiotik
Antibiotik diberikan pada hemangioma yang mengalami ulserasi. Selain
itu dilakukan perawatan luka secara steril (Anonim, 2005)

H. DIAGNOSIS KERJA
‒ DIAGNOSIS MASUK : Tumor Lidah
‒ DIAGNOSIS KELUAR : Hemangioma
PLANNING

 TERAPI DI IGD
‒ IVFD RL 20 tpm ( drip 1 gr ketorolak)
‒ Inj. Ranitidin 2 x 1 amp
‒ Inj. Metilprednisolon 2 x 1/2 amp

 KONSUL dr.

FOLLOW UP

Tanggal S O A P
25/09/2019 Benjolan KU : Tampak sakit Hemangioma INFUS
pada lidah sedang o/t Lidah  IVFD RL +
Kesadaran: ketorolak 1 amp 20
Composmentis tpm
Vital sign : INJEKSI
- TD :120/80  Inj. Ranitidin 2 x 1
mmHg amp
- HR :84x/m  Inj. Dexametason
- RR : 20x/m 2 x 1 amp IV
- Suhu :37 oC
Pemeriksaan Fisik
Lidah : edema +
eritema 2/3 lidah
bag.kanan.
26/09/2019 Benjolan KU : Tampak sakit Hemangioma INFUS
pada lidah sedang o/t Lidah  IVFD RL +
Kesadaran: Ketorolak 1 amp
Composmentis 20 tpm
Vital sign : INJEKSI
- TD :130/70  Inj. Ranitidin 2 x 1
mmHg amp
- HR :80x/m  Inj. Dexametason
- RR : 20x/m 2 x 1 amp IV
- Suhu : 36
o
C
Pemeriksaan Fisik
Lidah : edema +
eritema 2/3 lidah
bag.kanan.

27/09/2019 Benjolan KU : Tampak sakit Hemangioma INFUS


pada lidah sedang o/t Lidah  IVFD RL +
berkurang Kesadaran: Ketorolak 1 amp
Composmentis 20 tpm
Vital sign : INJEKSI
- TD :120/70  Inj. Ranitidin 2 x 1
mmHg amp
- HR :80x/m  Inj. Dexametason
- RR : 20x/m 2 x 1 amp IV
- Suhu : 36,5 Pasien boleh pulang dan
o
C sirankan Rujuk ke
Pemeriksaan Fisik RSPAD
Lidah : edema +
eritema 2/3 lidah
bag.kanan.

PROGNOSIS
Ad Vitam : Dubia Ad Bonam
Ad Fungsionam : Dubia Ad Bonam
Ad Sanationam : Dubia Ad Bonam