Anda di halaman 1dari 26

KRITISI JURNAL

“TREND DAN ISSU KEPERAWATAN PALIATIF “

DOSEN PENGAMPU :

Ns.MADE MARTINI, S.Kep, M.Kep

OLEH :

Putu Febri Winanda

16089014049

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BULELENG


PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
2019
I TREND DAN ISSU PALIATIF

Perawatan paliatif merupakan jenis perawatan yang tidak hanya menekankan pada
kondisi fisik si pasien saja, melainkan fokus terhadap aspek-aspek emosional, psikososial,
ekonomis, serta spritual untuk memenuhi kebutuhan akan perbaikan kualitas hidup seorang
pasien dan keluarganya. Sering kali perawatan ini dikaitkan dengan penyakit terminal
seperti kanker dan HIV/AIDS.

Di Indonesia, jenis perawatan ini mungkin masih jarang terdengar di kalangan


masyarakat. Banyak kasus yang ditemukan ketika para pengidap penyakit kronis seperti
HIV/AIDS, malu untuk bersosialisasi dan tidak percaya diri dalam menjalani kehidupannya.
Saat hal seperti ini terjadi, perawatan paliatif memainkan peran besar dalam meningkatkan
kualitas hidup para pasien HIV/AIDS agar lebih baik lagi, walaupun mungkin perawatan
paliatif tidak dapat menyembuhkan penyakit tersebut.Penting bagi pasien agar bisa memiliki
akses ke ahli kesehatan yang mengkhususkan diri dalam kesehatan mental, sehingga mampu
membantu mereka agar lebih kuat menjalani setiap masalah psikologis yang harus mereka
hadapi. Ketakutan tentang masa depan sering menjadi perhatian besar bagi pasien, dan tak
jarang mereka kadang merasa perlu untuk mengungkapkan hal tersebut.

Selain kepada penderitanya, perawatan ini juga memberi dukungan kepada seluruh
anggota keluarga dan pelaku rawat lainnya. Perawatan ini dilakukan mulai dari tahap
diagnosis, sepanjang pengobatan, hingga jelang ajal dan pasca kematian. Hal ini bertujuan
agar pasien bisa mendapatkan kualitas hidup yang baik sebelum menghadapi kematian yang
tidak pernah diketahui waktu pastinya.

Berdasarkan Keputusan Kementrian Kesehatan tahun 2007 tentang perawatan paliatif, tempat
untuk melakukan perawatan paliatif adalah:

 Rumah sakit: untuk pasien yang harus mendapatkan perawatan yang


memerlukan pengawasan ketat, tindakan khusus, atau peralatan khusus.
 Puskesmas: untuk pasien yang memerlukan pelayanan rawat jalan.
 Rumah singgah/panti (hospis): untuk pasien yang tidak memerlukan
pengawasan ketat, tindakan khusus, maupun peralatan khusus, tetapi belum
dapat dirawat di rumah karena masih memerlukan pengawasan tenaga
kesehatan.
 Rumah pasien: untuk pasien yang tidak memerlukan pengawasan ketat,
tindakan khusus, maupun peralatan khusus atau keterampilan perawatan yang
tidak mungkin dilakukan oleh keluarga

Perlu diketahui jika di rumah sakit dan puskesmas yang menyediakan perawatan paliatif
di Indonesia masih terbatas karena jumlah dokter yang mampu memberikan pelayanan
perawatan ini pun juga terbatas. Oleh sebab itu, ada baiknya Anda perlu melakukan
konfirmasi lebih lanjut ke pihak-pihak terkait jika ingin melakukan perawatan ini.

II LATAR BELAKANG

Kanker adalah istilah umum untuk satu kelompok besar penyakit yang dapat
mempengaruhi setiap bagian dari tubuh. Istilah lain yang digunakan adalah tumor ganas dan
neoplasma. Salah satu fitur mendefinisikan kanker adalah pertumbuhan sel-sel baru secara
abnormal yang tumbuh melampaui batas normal, dan yang kemudian dapat menyerang
bagian sebelah tubuh dan menyebar ke organ lain. Proses ini disebut metastasis. Metastasis
merupakan penyebab utama kematian akibat kanker (WHO, 2009).
Kanker merupakan salah satu penyakit yang telah menjadi masalah kesehatan
masyarakat di dunia maupun di Indonesia. Setiap tahun, 12 juta orang diseluruh dunia
menderita kanker dan 7,6 juta di antaranya meninggal dunia karena kanker. Di Amerika
insiden penyakit kanker sekitar 1.638.910 kasus baru kanker didiagnosa pada tahun 2012,
sekitar 577.190 orang meninggal karena kanker serta lebih dari 1500 orang meninggal karena
kanker setiap harinya dan diketahui bahwa sekitar 178.000 perempuan di diagnosis terkena
kanker payudara setiap tahunnya (American Cancer Society, 2012).
Kanker payudara merupakan penyebab utama kematian perempuan berusia 40-55
tahun, serta penyebab terbesar kedua kematian setelah kanker paru-paru (Santoso 2009).
Prevalensi kanker tertinggi di Yogyakarta berdasarkan diagnosis dokter atau hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 sebesar 4,1 per 1000 penduduk dan di Jawa Tengah
menempati urutan kedua sebesar 2,1 per 1000 penduduk. Kanker merupakan penyebab
kematian nomor 7 (5,7%) setelah stroke, TB, hipertensi, cedera, perinatal, dan DM. Rata-rata
RS di Indonesia berdasarkan data statistik RS dalam Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS)
tahun 2013, kanker payudara menempati urutan pertama pada pasien rawat inap (16,85%),
disusul kanker leher rahim (11,78%), kanker hati dan saluran empedu intrahepatik (9,69%),
Leukemi (7,42%), dan Limfoma non Hodgkin (6,69%) (Depkes RI, 2013).

Banyak orang merasa takut karena kanker merupakan faktor utama penyebab kematian
bagi penderita dan mengancam kesejahteraan manusia. Menurut WHO atau organisasi
kesehatan tingkat dunia, mengatakan bahwa estimasi penderita kanker, jumlahnya selalu
meningkat setiap tahunnya hingga mencapai 6,25 juta orang dan sekitar dua pertiganya
berasal dari negara berkembang khususnya Indonesia (Depkes RI, 2009). National Cancer
Institute (2011), mengatakan bahwa terdapat 7,6 juta kematian di dunia diakibatkan karena
penyakit, sedangkan 13% kematian disebabkan oleh kanker yaitu 458.000 karena kanker
payudara. Data yang disebutkan dari Pathology Based Cancer Registry yang berkoordinasi
dengan yayasan kanker di Indonesia, bahwa kanker payudara telah menempati peringkat ke-2
dari kanker lainnya yang terjadi (Luwas, 2009).
Usaha pasien untuk menyembuhkan penyakitnya, dilakukan dengan pengobatan.
Adapun jenis pengobatan pada kanker payudara yaitu (a) kemoterapi dengan obat-obatan anti
kanker yang diberikan dalam wujud cairan melalui infus, (b) radioterapi, berupa penyinaran
yang membunuh sel kanker dengan sinar X dan sinar gamma, (c) mastektomi, berupa
pembedahan dan pengangkatan dengan jalan operasi. Pengobatan akan menimbulkan
pengaruh pada fisik dan psikologis (Wijayanti, 2007). Dampak secara psikologis yang sering
dialami pada setiap orang tidak sama tergantung dari derajat stadium atau tingkat keparahan,
jenis pengobatan dan karakteristik penderita. Dampak psikologis sering dialami pada pasien
yaitu ketidakberdayaan, cemas, rasa malu, harga diri yang menurun, stres dan marah
(Pariman, 2011). Sedangkan dampak psikologis lain yang sering terjadi dapat berupa
ancaman dan gangguan terhadap body image, seksualitas menurun, penurunan intimasi dari
hubungan, konflik pengambilan keputusan terkait pilihan pengobatan yang dijalani, ketakutan
akan kematian, cemas dan adanya depresi (Osborn, et. al. 2010 dan Reich, et. al. 2008).
Kemoterapi dapat menimbulkan mual muntah melalui beberapa mekanisme yang
bervariasi dan serangkaian yang komplek. Pertama, pusat muntah dapat terjadi secara tidak
langsung oleh stimulus tertentu yang dapat mengaktifkan Chemoreseptor Trigger Zone (CTZ)
di medulla, peran CTZ sebagai chemosensor, area ini kaya akan berbagai reseptor
neurotrasmiter seperti histamine, serotonin, dopamine, opiate, neurokinin dan benzodiazepine,
sedangkan agen kemoterapi menyebabkan proses muntah melalui salah satu dari reseptor
tersebut. Kedua, kemoterapi dapat menyebabkan gangguan pada mukosa gastrointestinal dan
menyebabkan pengeluaran neurotrasmitter termasuk 5HT3 (5 hydroxytriptamine). Hal ini
menyebabkan mual muntah melalui jalur perifer yang dimediasi oleh saraf vagus. Ketiga,
gejala ini disebabkan karena pengaruh neurohormonal melalui terganggunya arginin
vasopressin dan prostaglandin. Keempat, mual muntah dimediasi oleh kecemasan yang
memberikan pengaruh terhadap sistem saraf pusat termasuk pusat muntah (Wood, at, al.,
2007)
III ANALISA JURNAL
2.1 Hubungan Perawatan Paliatif Dengan Kualitas Hidup Pasien Kanker Di Rsup H.
Adam Malik Medan Tahun 2016

Tujuan Penelitian :
Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan perawatan paliatif dengan kualitas
hidup pasien kanker. Jenis penelitian ini merupakan analitik korelasi dengan rancangan cross
sectional dan jumlah sampel 71 responden dengan diagnosa kanker stadium lanjut.

Kritisi Jurnal :
No Judul Artikel Nama dan Sumber Metode Penulisan Hasil
Tahun Jurnal
Penulis
1 Hubungan Flora Sijabat 72 (2002- Jenis penelitian Ada hubungan
Perawatan 2015) non yang signifikan
Paliatif Dengan eksperimental antara
Kualitas Hidup dengan perawatan
Pasien Kanker rancangan cross paliatif dengan
Di Rsup H. sectional kualitas hidup
Adam Malik Sampel : 71 pasien kanker
Medan Tahun responden di RSUP H.
2016 Adam Malik
Medan Tahun
2016.

Pembahasan :
Kanker merupakan pertumbuhan sel abnormal yang disebabkan oleh adanya
mutasi gen di dalam tubuh manusia, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang
bersebelahan (Invasi) atau dengan imigrasi sel ke tempat yang jauh (metastasi) (Utami dkk,
2013). Kanker terjadi karena adanya sel yang bersifat mutagenik. Sel kanker dapat menjadi
sel mutagenic karena adanya mutasi genetik pada sel somatik dan sel germinal. Sel mutagenic
bersifatinfiltratif (menginfiltrasi jaringan sekitarnya) serta destriktif (merusak jaringan
sekitar). Hal ini menyebabkan sel tersebut membelah secara tidak terkendali dan akhirnya
akan menyerang sel lainnya. Selanjutnya hal ini akan menyebabkan perubahan metabolisme
yang pada akhirnya akan mengganggu fungsi-fungsi fisiologis tubuh (Price & Wilson, 2008).
Kanker juga menjadi masalah yang sangat besar karena setiap tahunnya mengalami
peningkatan.
Angka kematian yang diakibatkan oleh penyakit kanker secara global mengalami
peningkatan. WHO (2013) menyatakan bahwa insiden kematian dengan kanker meningkat
dari 7,6 juta kasus 2008 menjadi 8,2 juta kasus 2012. Kanker menjadi penyebab kematian
nomor dua di dunia sebesar 13% setelah penyakit kardiovaskuler. Di Wilayah Asiang
Tenggara, kanker membunuh lebih dari 1,1 juta orang setiap tahunnya. Di perkirakan pada
tahun 2030 insiden kanker dapat mencapai 26 juta orang dan 17 diantaranya meninggal
akibat kanker, terlebih untuk negara miskin dan berkembang kejadian akan lebih cepat.
Berdasarkan hasil penelitian Hasani (2012) menyimpulkan bahwa ada hubungan
perawatan paliatif dengan meningkatkan kualitas hidup pada pasien kanker. Pasien yang
terdiagnosa menderita kanker mengalami tingkat spiritualitas rendah dan cenderung lebih
depresif dari pada penderita kanker dengan spiritualitas baik. Hal ini sesuai dengan penelitian
Michael (2014) yang meyimpulkan bahwa ada hubungan perawatan palliatif dengan kualitas
hidup pasien kanker dari hasil penelitian yang di survey 883 pasien memiliki kualitas hidup
dengan peningkatan terapi paliatif untuk pasien yang terdiagnosa kanker. Berbeda
diungkapkan oleh Australian Palliative Care, yang menyatakan bahwa ketentuan perawatan
paliatif tidak harus berdasarkan waktu, namun atas dasar kebutuhan fisik dan psikososial
yang diidentifikasi dari
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, dengan jenis penelitian non
eksperimental. Rancangan penelitian ini adalah korelasi dengan model pendekatan subjek
yang digunakan adalah cross sectional.

Populasi adalah keseluruhan objek yang dilakukan penelitian. (Arikumto, 2002)


Populasi dari penelitian ini adalah semua pasien kanker yang stadium lanjut di RSUP HAM
Medan.

Menjelaskan bahwa dari 74 orang responden yang menjadi sampel dalam


penelitian ini terdapat 3 orang responden yang mengalami drop out.

Berdasarkan hasil distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan usia


mayoritas responden berusia dewasa akhir (41-60 tahun) 50 responden (70,4%). Hasil
penenlitian ini sejalan dengan Oemiati (2011) bahwa usia makin tinggi maka resiko
menderita kanker semakin besar. Sejalan dengan data Riskesdas (2013) yang menyatakan
bahwa angka kejadian kanker meningkat tajam 7 orang per 1000 penduduk setelah berusia
>35 tahun keatas. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Pradana (2012) dari 85 responden terdapat 48 orang (56,6%) yang berada pada kategori
usia dewasa (41-65 tahun). Akumulasi resiko secara keseluruhan dikombinasikan dengan
kecenderungan mekanisme perbaikan sel menjadi kurang efektif seiring pendewasaan
(WHO, 2011). Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin mayoritas responden
berjenis kelamin perempuan sebanyak 41 responden (57,7%).

Kesimpulan dan saran :

Berdasarkan hasil analisis data pembahasan tentang hubungan perawatan paliatif


dengan kualitas hidup pasien kanker di RSUP H. Adam Malik Medan yang telah diuraikan
sebelum ini dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Karakteristik pasien kanker adalah mayoritas usia dewasa akhir, dengan jenis kanker
mayoritas Carsinoma kolorectal, dengan mayoritas pekerjaan wiraswasta dan
berpendidikan adalah SD.
2. Perawatan paliatif pada pasien kanker di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2016
mayoritas perawatan paliatif tinggi.
3. Kualitas hidup pasien kanker di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2016 mayoritas
kualitas hidup baik
4. Ada hubungan yang signifikan antara perawatan paliatif dengan kualitas hidup pasien
kanker di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2016.

Saran
Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan, maka peneliti dapat memberikan
saran-saran sebagai berikut:
1. Bagi pasien kanker, Para pasien kanker agar dapat memahami begitu pentingnya
perawatan paliatif dalam meningkatatkan kualiatas hidup dan tidak hanya melihat
perawatan paliatif sebagai perawatan menjelang ajal, melainkan suatu perawatan
yang holistik untuk menangani masalah- masalah yang terjadi dalam penyakit
pasien itu sendiri dan diharapkan agar pasien lebih kooperatif.
2. Bagi Tim Perawatan Paliatif, diharapkan dapat meningkatkan perawatan paliatif
yang diberikan pada pasien kanker terlebih dalam aspek psikologis dan aspek
pemberian informasi terkait dengan penyakit dan perkembangan
kesehatan.
Bagi peneliti selanjutnya disarankan kepada peneliti selanjutnya, apabila
melaksanakan penelitian sejenis agar menggunakan sampel yang lebih
spesifik berdasarkan jenis kelamin, umur dan jenis kanker (homogen).

Daftar Pustaka :

Amelia,Oka. 2009. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Tentang


Kanker Payudara
Dengan Prilaku Pemeriksaan Payudara Sendiri Pada Ibu-ibu
Kelompok Wanita Tani Harapan Mulya Di Ciamis Jawa Barat. Diakses
dari http:// skripsistikes. Wordpress.com pada tanggal 04 Maret 2016
American Cancer Society (2013). Cancer Fact and Figure. diakses dari
http://www.cancer.org. Pada tanggal 20 Januari 2016

Arikumto, S. 2010.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta. Rineka


Cipta
Aziz, MF., Andrijono, Saifuddin,

a. B, (2008) ed. Buku Acuan OnkologiGinekologi. Jakarta: Yayasan Bina


Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 101-109
2.2 Pengaruh Logoterapi Terhadap Kesejahteraan Psikologis Pada Pasien Kanker
Payudara Di “Rumah Sakit Tk Ii dr. Soepraoen” Malang

Tujuan Penulisan :
Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh logoterapi terhadap kesejahteraan
psikologis pasien kanker.
Kritisi Jurnal :
No Judul Artikel Nama dan Sumber Metode Penulisan Hasil
Tahun Jurnal
Penulis
2 Pengaruh Wahidyanti Jurnal Care Penelitian ini Hasil uji
Logoterapi Rahayu Vol .5, No.3, merupakan statistik
Terhadap Hastutiningty penelitian quasy didapatkan
Kesejahteraan as, Sri experimental nilai-p sebesar
Psikologis Pada Andarini, dengan desain 0,000 di mana
Pasien Kanker Lilik Supriati penelitian ini nilai p < α
Payudara Di (Tahun 2017) berupa non- (0,05) sehingga
“Rumah Sakit equivalent dapat
Tk Ii control group disimpulkan
dr. Soepraoen” pretest-posttest bahwa antara
Malang design. Populasi kelompok
dalam penelitian perlakuan
berjumlah 104 sesudah
pasien dengan diberikan
sampel penelitian logoterapi dan
berjumlah 16 kelompok
pada kelompok kontrol sesudah
kontrol dan 16 diberikan
pada kelompok penyuluhan
perlakuan. kesehatan
Teknik sampling terdapat
yang digunakan perbedaan. Bagi
adalah simple institusi rumah
random sakit
sampling. diharapkan
Variabel logoterapi
independen sebagai salah
dalam penelitian satu terapi yang
ini adalah dapat diberikan
pemberian kepada pasien
logoterapi. sehingga pasien
Variabel dapat
dependen dalam memaknai
penelitian ini hidupnya.
adalah
kesejahteraan
psikologis.
Variabel
confounding
dalam penelitian
ini adalah
karakteristik
responden yang
terdiri dari usia,
status
perkawinan,
pendidikan,
pekerjaan, dan
stadium kanker
payudara. Analisa
data
menggunakan uji
independent T-
test dan regresi
linier.
Pembahasan :
Banyak orang merasa takut karena kanker merupakan faktor utama penyebab
kematian bagi penderita dan mengancam kesejahteraan manusia. Menurut WHO atau
organisasi kesehatan tingkat dunia, mengatakan bahwa estimasi penderita kanker, jumlahnya
selalu meningkat setiap tahunnya hingga mencapai 6,25 juta orang dan sekitar dua pertiganya
berasal dari negara berkembang khususnya Indonesia (Depkes RI, 2009). National Cancer
Institute (2011), mengatakan bahwa terdapat 7,6 juta kematian di dunia diakibatkan karena
penyakit, sedangkan 13% kematian disebabkan oleh kanker yaitu 458.000 karena kanker
payudara. Data yang disebutkan dari Pathology Based Cancer Registry yang berkoordinasi
dengan yayasan kanker di Indonesia, bahwa kanker payudara telah menempati peringkat ke-2
dari kanker lainnya yang terjadi (Luwas, 2009).
Usaha pasien untuk menyembuhkan penyakitnya, dilakukan dengan pengobatan.
Adapun jenis pengobatan pada kanker payudara yaitu (a) kemoterapi dengan obat-obatan anti
kanker yang diberikan dalam wujud cairan melalui infus, (b) radioterapi, berupa penyinaran
yang membunuh sel kanker dengan sinar X dan sinar gamma, (c) mastektomi, berupa
pembedahan dan pengangkatan dengan jalan operasi. Pengobatan akan menimbulkan
pengaruh pada fisik dan psikologis (Wijayanti, 2007). Dampak secara psikologis yang sering
dialami pada setiap orang tidak sama tergantung dari derajat stadium atau tingkat keparahan,
jenis pengobatan dan karakteristik penderita. Dampak psikologis sering dialami pada pasien
yaitu ketidakberdayaan, cemas, rasa malu, harga diri yang menurun, stres dan marah
(Pariman, 2011). Sedangkan dampak psikologis lain yang sering terjadi dapat berupa
ancaman dan gangguan terhadap body image, seksualitas menurun, penurunan intimasi dari
hubungan, konflik pengambilan keputusan terkait pilihan pengobatan yang dijalani, ketakutan
akan kematian, cemas dan adanya depresi (Osborn, et. al. 2010 dan Reich, et. al. 2008).
Studi pendahuluan yang telah dilakukan di “Rumah Sakit TK II dr. Soepraoen”
Malang didapatkan data bahwaselama bulan Februari sebanyak 86 pasien kanker payudara
melakukan kemoterapi dan studi pendahuluan dilakukan pada 10 pasien kanker payudara,
hasilnya terdapat 6 pasien kanker payudara memiliki permasalahan psikis dan tidak memiliki
tujuan hidup. Saat dikaji lebih lanjut pasien kanker payudara tidak dapat menyebutkan apa
yang harus dilakukan setelah penyakitnya sembuh serta tidak dapat menerima kondisi yang
saat ini dialami sehingga perlu untuk dilakukan penelitian. Penelitian ini ditujukan pada jenis
terapi yang digunakan yaitu logoterapi pada pasien penderita kanker yang diberikan pada
kelompok perlakuan, karena selama ini yang diketahui bahwa pendekatan spiritualitas belum
banyak diukur. Tidak semua orang yang mengidap suatu penyakit menemukan hikmah
pengalaman sakit yang dirasakan. Jika logoterapi diaplikasikan maka diharapkan
kesejahteraan psikologi dapat lebih optimal seperti dapat menerima kekuatan dan kelemahan
dalam dirinya, mampu bertindak mandiri, bisa berinteraksi dan memiliki relasi positif dengan
orang lain, punya semangat tujuan hidup dan mengembangkan potensi diri. Sedangkan pada
kelompok kontrol akan diberikan penyuluhan kesehatan tentang penyakit kanker payudara
dan kemoterapi maka peneliti ingin memfokuskan diri untuk mengidentifikasi pengaruh
logoterapi terhadap kesejahteraan psikologis pada pasien kanker payudara di “Rumah Sakit
TK II dr. Soepraoen” Malang.

Kesimpulan dan saran :


Kesimpulan
1. Terdapat perbedaan kesejahteraan psikologis pada pasien kanker payudara sebelum
dan sesudah diberikan penyuluhan kesehatan dan logoterapi pada kelompok perlakuan
di “Rumah Sakit TK II dr. Soepraoen” Malang

2. Tidak terdapat perbedaan kesejahteraan psikologis pada pasien


3. kanker payudara sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan kesehatan pada
kelompok kontrol di “Rumah Sakit TK II dr. Soepraoen” Malang
4. Terdapat perbedaan kesejahteraan psikologis pada pasien kanker payudara sesudah
diberikan penyuluhan kesehatan dan logoterapi pada kelompok perlakuan dengan
pasien kanker payudara sesudah diberikan penyuluhan kesehatan pada kelompok
kontrol di “Rumah Sakit TK II dr Soepraoen” Malang
Saran
1. Untuk peneliti selanjutnya diharapkan hasil penelitian ini bisa dijadikan data dasar
bagi peneliti dan penelitian selanjutnya, dengan mengembangkan beberapa metode
dan jenis penelitian tentang logoterapi dengan area dan responden yang berbeda.
2. Bagi instansi Rumah Sakit dapat memberikan penyuluhan kesehatan dan logoterapi
pada pasien kanker payudara yang mengalami permasalahan pada kesejahteraan
psikologis untuk memaksimalkan hasil dari pengobatannya.
3. Bagi perawat hendaknya dapat mengikuti pelatihan tentang terapi-terapi spesialis
keperawatan seperti logoterapi sehingga pasien yang mengalami permasalahan pada
kesejahteraan psikologis akan mempunyai kesejahteraan pada psikologisnya. Bagi
psikolog, psikiater dan perawat jiwa dapat mengaplikasikan keilmuan dan
kemampuannya untuk memanfaatkan ilmu yang dimiliki dalam rangka menunjang
keberhasilan perkembangan profesi khususnya di bidang keperawatan.
4. Untuk masyarakat hendaknya menyadari bahwa perannya dalam mendampingi
keluarga yang mengalami penyakit kronis tetap diperlukan, baik berada di lingkungan
rumah maupun di Rumah Sakit.

Daftar Pustaka :
Bastaman, H.D. (2007). Logoterapi Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih
Hidup Bermakna. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Chris. (2005). Kesejahteraan Psikologi. Yogyakarta: Maximus
Depkes RI. (2009). Situasi Penyakit Kanker–Kementerian Kesehatan.
http://www.depkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/buletin/buletin-
kanker.pdf. Diakses 1 Maret 2017. Pukul 15.00 WIB
Drageset, S., Lindstrom, T., & Underlid, K. (2010). Coping with Breast Cancer: Between
Diagnosis and Surgery. Journal of Advance Nursing, 66, 149-158
Fatimah, Agnes. (2009). Pengaruh Logoterapi terhadap Hipertensi pada Pasien Lanjut Usia.
Tesis. Program Pendidikan Dokter Spesialis Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas
Sebelas Maret, RSUD dr. Moewardi Surakarta.
Hutabarat, Cinta K.L. (2013). Efektivitas Logoterapi untuk Meningkatkan Kualitas Hidup
Penderita Kanker Payudara Pasca Operasi Mastectomy. Tesis. Program Pendidikan
Profesi Psikologi Jenjang Magister Program Pasca Sarjana Universitas Katolik
Soegijapranata Semarang
Luwas. (2009). Kanker Payudara. Jakarta: Yayasan Indonesia
Maghfiroh. (2013). Penerapan Well-being Therapy untuk Meningkatkan Psycological Well-
being pada Penderita Kanker Payudara. Tesis. Magister Psikologi Profesi Fakultas
Psikologi Universitas Sumatera Utara, Medan
Osborn, Kathlen, S., & Watson. (2010). Medical Surgical Nursing: Preparation for Practice.
Volume 2. USA: Pearson
Vahdaninia, M, Omidvari, S (2010). What do Predict Anxiety and Depression in Breast
Cancer Patients? A Follow-up study. Soc Psychiat Epidemiol. 45. 355-361
2.3Pengaruh Teknik Relaksasi Hand Massage Terhadap Nyeri Pada Pasien Kanker
Payudara Di Yayasan Kanker Indonesia Surabaya
Tujuan Penulisan :
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hand massage terhadap nyeri
pada pasien kanker payudara.
Kritisi Jurnal :
No Judul Artikel Nama dan Sumber Metode Penulisan Hasil
Tahun Jurnal
Penulis
3 Pengaruh Puput Nur Jurnal Ilmiah Desain penelitian Hasil penelitian
Teknik Fadilah, Puji Kesehatan, ini menggunakan menunjukkan
Relaksasi Hand Astuti, Vol. 9, No. 2 Pra Experiment bahwa rata-rata
Massage Wesiana one group pre- tingkat nyeri
Terhadap Nyeri Heris Santy post design. responden
Pada Pasien (Agustus Populasi dalam sebelum
Kanker 2016) penelitian ini diberikan teknik
Payudara Di adalah pasien relaksasi hand
Yayasan kanker payudara massage adalah
Kanker mengalami nyeri 5.09, sedangkan
Indonesia sebesar 12 orang. rata-rata tingkat
Surabaya Sampel sebesar nyeri responden
11 responden sesudah
yang diambil diberikan teknik
secara probability relaksasi hand
sampling dengan massage adalah
teknik simple 3.09. Dapat
random sampling. dilihat bahwa
Analisis statistik ada perbedaan
yang digunakan tingkat nyeri
adalah paired t- antara sebelum
test dengan dan sesudah
tingkat diberikan teknik
kemaknaan α = relaksasi hand
0,05. massage. Hasil
penelitian
dengan
menggunakan
uji paired t-test
adalah ρ value
= 0.000 dengan
nilai α < 0.05.

Pembahasan :
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberikan teknik relaksasi hand
massage pasien kanker payudara memiliki respon nyeri rata-rata 5.09. Dan setelah diberikan
teknik relaksasi hand massage pasien payudara mengalami penurunan tingkat nyeri dengan
rata-rata 3.09. Hasil uji didapatkan (ρ= 0,000), serta ada pengaruh teknik relaksasi hand
massage terhadap nyeri pada pasien kanker payudara.
Hand massage merupakan salah satu teknik relaksasi untuk menurunkan nyeri dengan
cara memberikan sentuhan dan tekanan yang lembut dibawah jaringan kulit. Efek relaksasi
yang ditimbulkan dari hand massage dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan oleh
pasien, sehingga dapat mencegah nyeri bertambah berat. Selain itu, sebelum melakukan
tindakan hand massage sebaiknya menghilangkan sumber-sumber suara yang berisik di
lingkungan, menyapa klien dengan ramah dan rasa penuh perhatian. Hal ini dapat membuat
klien merasa diperhatikan. Sehingga rasa nyaman timbul dan nyeri menjadi berkurang,
namun setiap responden yang dipijat mengungkapkan ekspresi dan letak kenyamanan yang
berbeda-beda.
Hand massage artinya memberikan stimulasi dibawah jaringan kulit dengan
memberikan sentuhan dan tekanan yang lembut untuk memberikan rasa nyaman (Ackley et al,
2008). Stimulasi kulit akan merangsang serat-serat non-nosiseptif yang berdiameter besar
untuk menutup gerbang bagi serat-serat berdiameter kecil yang menghantarkan nyeri
sehingga dapat dikurangi. Dihipotesiskan bahwa stimulasi kulit juga dapat menyebabkan
tubuh mengeluarkan endorphin dan neurotransmitter lain yang menghambat nyeri (Price et al,
2012). Teknik dalam melakukan hand massage lebih ditekakan pada masase di punggung
tangan dan pergelangan tangan, karena di dua tempat tersebut terdapat titik meridian jantung
yang melewati dada. Titik ini membantu dalam pelepasan endorfin ke dalam tubuh yang
dapat memperlancar peredaran darah dan menutrisi sel, sehingga menimbulkan efek relaksasi
(Fengge, 2012).
Hand massage merupakan salah satu bentuk teknik relaksasi yang dapat memberikan
kenyamanan bagi klien, sehingga dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan oleh klien
(Barbara, 2010).

Kesimpulan dan Saran :


Kesimpulan :
Tingkat nyeri pasien kanker payudara sebelum diberikan teknik relaksasi hand
massage memiliki rata-rata 5.09. Setelah diberikan teknik relaksasi hand massage pasien
kanker payudara mengalami penurunan tingkat nyeri dengan rata-rata 3.09. Teknik relaksasi
hand massage dapat menurunkan tingkat nyeri pada pasien kanker payudara.
Saran :
Diharapkan adanya pemberian teknik relaksasi hand massage sebagai upaya untuk
membantu pasien kanker payudara menguragi nyeri yang dirasakan. Dan perlu melibatkan
peran keluarga sebagai perawatan pasien kanker payudara setelah keluar dari rumah sakit (di
rumah).

Daftar Pustaka :
Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta, RinekaCipta.
Ackley, Ladwig, Swan, Tucker (2008). Evidence-Based Nursing Care Guidelines : Medical-
Surgical Intervention. Amerika, Mosby.
Baradero, M., Dayrit, M. W., Siswadi Y. (2007). Klien Kanker: Asuhan Keperawatan.
Jakarta, EGC.
Barbara, Kunz K. (2012). Reflexiology Health at Your Finger. London, Dorling Kindersley
Limited.
Fengge, Antoni. (2012). Terapi Akupresur: Manfaat & Teknik Pengobatan. Yogyakarta,
Crop Circle Corp
Ghofar, Abdul. (2009). Cara Mudah Mengenal & Mengobati Kanker. Jogjakarta, Flamingo.
Kolcaba, K., Dowd, T., Steiner R., Mitzel, A. (2004). Efficacy of Hand Massage for
Enhacing the Comfort of Hospice Patients. Journal of Hospice and Palliative
Nursing. Vol. 6, No. 2
Maysaroh, Hanik. (2013). Kanker Pada Perempuan & Penyembuhannya. Klaten, Trimedia
Pustaka.
Notoatmodjo, Soekidjo. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta, Rineka Cipta.
Nugroho, Taufan. (2011). ASI dan Tumor Payudara. Yogyakarta, Nuha Medika.
Potter & Perry. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Edisi 4. Jakarta, EGC.
Pinandita, I., Purwanti, E., Utoyo, B. (2012). Pengaruh Teknik Relaksasi Genggam Jari
Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri pada Pasien Post Operasi Laparatomi. Jurnal
Ilmiah Kesehatan Keperawatan. Vol. 8, No.1
Prasetyo, Sigit Nian. (2010). Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri. Edisi 1. Yogyakarta,
Graha Ilmu
Price, Sylvia Anderson., Lorraine, Mc. Carty Wilson. (2005). Patofisiologi: Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta, EGC

2.4 GAMBARAN KUALITAS HIDUP PASIEN KANKER STADIUM LANJUT


YANG MENJALANI RADIOTERAPI PALIATIF DI RSUD ARIFIN
ACHMAD PROVINSI RIAU
Tujuan Penelitian :

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan kualitas hidup pasien
dengan kanker stadium lanjut memimpin radioterapi paliatif di Rumah Sakit Arifin Achmad
di Provinsi Riau.

Kritisi Jurnal :
No Judul Artikel Nama dan Sumber Metode Penulisan Hasil
Tahun Jurnal
Penulis
4 GAMBARAN Gita Nadya JOM FK Jenis penelitian ini Hasil
KUALITAS Harfendi Riri deskriptifdengan penelitian

HIDUP Yuliasti menggunakan data menunjukkan


rekam medik
PASIEN Winarto terjadi
pasien yang
KANKER Februari peningkatan
menjalani
STADIUM 2017 radioterapi
radioterapi paliatif
LANJUT paliatif
periode Oktober
YANG 2009- Juli 2015
terhadap
MENJALANI dan wawancara peningkatan
RADIOTERAPI menggunakan usia namun
PALIATIF DI kuisioner terjadi
RSUD ARIFIN WHOQOL-BREF. penurunan
ACHMAD Teknik pada
pengambilan
PROVINSI kelompok usia
sampel penelitian
RIAU >65 tahun.
dilakukan secara
Terdapat
total samping di
hubungan
Instalasi
Radioterapi RSUD
antara faktor

Arifin Achmad usia dengan


Provinsi kejadian kanker
Riau.Wawancara dimana semakin
dengan responden tua maka risiko
menggunakan terkena kanker
kuisioner semakin
WHOQOL-BREF
besar.18
dilakukan secara
Semakin tinggi
langsung dengan
usia semakin
responden face to
besar risiko
face , via telepon,
dan kunjungan
menderita

rumah. Penelitian kanker.19


ini meliputi Angka serangan
karakteristik pasien kanker
yang menjalani meningkat
radioterapi paliatif, tajam pada usia
diagnosis 51-70 tahun
keganasan primer,
yaitu sebanyak
lokasi radiasi,
40,7%.20
modalitas kaker
Kelompok usia
yang diterima
>65 tidak
sebelum menjalani
ditemukan
radioterapi paliatif,
dan gambaran dalam
kualitas hidup penelitian ini
responden. karena
pertambahan
umur akan
menurunkan
angka
ketahanan
terhadap
kanker.

Pembahasan :

Karakteristik responden yang menjalani radioterapi paliatif tahun 2009- Juli 2015

Data riset yang diambil darirekam medis di instalasi radioterapi RSUD


Arifin Achmad Provinsi Riau menunjukkan gambaran pasien yang menjalani
radioterapi paliatif meliputi usia dan jenis kelamin pasien. Hasil yang didapat berupa
distribusi umur pasien berdistribusi normal dengan puncak pada kelompok usia
dewasa akhir yaitu 36-45 tahun sebanyak 8 orang (33,3%). Hal ini sesuai dengan
penelitan yang dilakukan di RSUP Sanglah Denpasar oleh Pradana et al yaitu
kelompok usia dewasa adalah yang terbanyak menjalani terapi paliatif atas penyakit
stadium lanjut sebesar 56,6%.17
Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan radioterapi paliatif
terhadap peningkatan usia namun terjadi penurunan pada kelompok usia >65
tahun. Terdapat hubungan antara faktor usia dengan kejadian kanker dimana
semakin tua maka risiko terkena kanker semakin besar.18 Semakin tinggi usia
semakin besar risiko menderita kanker.19 Angka serangan kanker meningkat
tajam pada usia 51-70 tahun yaitu sebanyak 40,7%.20 Kelompok usia >65 tidak
ditemukan dalam penelitian ini karena pertambahan umur akan menurunkan
angka ketahanan terhadap kanker.

Sebagian besar organ tubuh kehilangan fungsi 1% setiap tahun setelah


melewati usia 30 tahun. Pengurangan fungsi ini akan menyebabkan tubuh dalam
keadaan homeostenosis untuk beradaptasi terhadap external sterss. Mitokondria
memegang peran penting dalam proses homeostenosis yaitu dengan membentuk
reactive oxygen spesies (ROS) berupa mROS hasil dari rantai transfor elektron.
Perubahan-perubahan lingkungan dalam sel terjadi akibat terbentuknya mROS yang
terbentuk akan sangat reaktif. Perubahan itu salah satunya menyebabkan lapisan
lemak membran sel sangat permeable dan menyebabkan karsinogen- karsinogen
memasuki lingkungan internal sel dan memicu kanker. ROS sendiri sudah cukup
membuat kekacauan dalam lingkungan internal sel karena keberadaannya dapat
membuat susunan-susunan atom penyusun organel-organel sel mengalami
perubahan karena sifat ROS yang akan menarik elektron-eletron penyusun atom
terutama atom hidrogen. Hal ini akan menyebabkan perubahan pada DNA dan
menyebabkan mutasi.

Pasien yang banyak menjalani radioterapi paliatif adalah pasien berjenis kelamin
perempuan yaitu 19 orang (79,2%) jika dibandingkan dengan jumlah pasien
berjenis kelamin laki-laki yaitu 5 orang (20,8%). Jumlah penderita kanker yang
membutuhkan perwatan paliatif lebih banyak berjenis kelamin wanita.17 Wanita
menderita kanker sebesar 1,4% sedangkan laki-laki menderita kanker 1,1%.22
Jumlah wanita yang terserang kanker berbagai stadium lebih besar dari pada
angka laki-laki yang menderita kanker berbagai stadium sehingga jenis kelamin
dominan yang terserang kanker adalah wanita. Wanita tidak tertarik menggali
penyakitnya dan akhirnya jatuh pada keadaan stadium lanjut yang membutuhkan
perawatan paliatif.23 Wanita relatif memiliki umur yang lebih panjang daripada
laki-laki sehingga lebih memiliki kemungkinan terserang kanker dalam hidupnya
dan laki- laki cenderung memiliki beban hidup lebih berat dibandingkan wanita.

Kesimpulan :
1. Karakteristik pasien yang menjalani radioterapi paliatif terhadap kanker
stadium lanjut adalah kelompok usia dewasa akhir dan berjenis kelamin wanita
dan sebagian besar pasien telah menerima modalitas kanker sebelum radioterapi
paliatif.
2. Diagnosis keganasan primer paling banyak diderita pasien yang menjalani
radioterapi paliatif adalah kanker payudara. Sedikit kanker lain yang diderita
pasien
3. Lokasi penyinaran paliatif yang diterima pasien paling banyak adalah
radiasi lokal pada lokasi primer tumor, radiasi pada
4.

Daftar Pustaka :
Susworo, R. Radioterapi: Dasar-dasar Radioterapi
Tatalaksana Radioterapi Penyakit Kanker. Jakarta: UI- Press; 2007.

Sudoyo, Aru W,editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi v. Jakarta: Internal
Publishing; 2009.

Horvat, Andreja Gojkovic. Kovac, Viljem. Strojan, Primos. Radiotherapy in Palliative


Treatment of Painful Bone Metastases. Radiol Oncol. 2009 August [diakses 6
Januari 2016];43(4):[213-224]. Tersedia dalam:
http://www.onkoi.si/fileadmin/ onko/datoteke/dokumenti/Radi
ology_43_4_HiRes_2.pdf
2.5 Pengaruh Pemberian Booklet Kemoterapi Terhadap Kemampuan Perawatan
Diri Penderita Kanker Payudara Pasca Kemoterapi Di Ruang Bedah Rumah Sakit
Abdul Moeloek (Rsam) Bandar Lampung
Tujuan Penelitian :

Tujuan penelitian untuk mengetahui Pengaruh pemberian Booklet Kemoterapi


terhadap Kemampuan Perawatan Diri Penderita Kanker Payudara Pasca Kemoterapi di
Ruang Bedah Rumah Sakit Abdul Moeloek (RSAM) Bandar Lampung 2016.
Kritisi Jurnal :

No Judul Artikel Nama dan Sumber Metode Penulisan Hasil


Tahun Jurnal
Penulis
5 Pengaruh Anita, Tri Jurnal Desain Penelitian Hasil penelitian
Pemberian Sukamti P Kesehatan, ini quasi diperoleh nilai
Booklet (April 2016) Volume VII, eksperimen rata-rata
Kemoterapi Nomor 1 dengan one perilaku
Terhadap group, pre test perawatan diri
Kemampuan dan post test. penderita
Perawatan Diri Populasi 65 ibu kanker
Penderita dengan kanker payudara pasca
Kanker payudara pasca kemoterapi
Payudara Pasca kemoterapi, sebelum
Kemoterapi Di sampel sejumlah pemberian
Ruang Bedah 56 booklet adalah
Rumah Sakit responden. 4,70 dengan
Abdul Moeloek Analisis data standar deviasi
(Rsam) Bandar dengan uji t 1,249. Nilai
Lampung dependent. rata-rata nilai
perilaku
perawatan diri
penderita
kanker
payudara pasca
kemoterapi
setelah
pemberian
booklet adalah
7,82 dengan
standar deviasi
1,478.
Hasil uji
statistik
didapatkan nilai
p= 0,000,
berarti pada
alpha 5%
dismpulkan
bahwa ada
pengaruh yang
signifikan
antara perilaku
perawatan diri
penderita
kanker
payudara pasca
kemoterapi
sebelum dan
setelah
pemberian
booklet
kemoterapi.

Pembahasan :

Data World Health Organization (WHO) tahun 2013, kanker menjadi penyebab
kematian nomor dua di dunia sebesar 13% setelah penyakit kardiovaskuler. Diperkirakan
tahun 2030 insiden kanker mencapai 26 juta orang dan 17 juta diantaranya meninggal akibat
kanker (Kemenkes, Mediakom, edisi 5, 2015). Wanita di seluruh dunia 1,2 juta terdiagnosis
terkena kanker payudara, 500.000 diantaranya meninggal dunia. Di Amerika Serikat pada
tahun 2012 203.500 wanita telah terdiagnosis terkena kanker payudara, 54.300 terkena Dustal
Carsinoma In Situ (DCIS) atau tumor jinak, dan 40.000 wanita meninggal dunia (Olfah,
2013).
Kanker memiliki berbagai macam jenis dengan berbagai akibat yang timbul.
Ancaman kematian dan penurunan kualitas hidup membayangi jutaan penderita kanker. Pada
tahun 2008 jumlah kematian akibat penyakit kanker mencapai 58 juta jiwa. Sedikitnya 1,2
juta jiwa di Amerika Serikat didiagnosa menderita kanker setiap tahunnya. Akan tetapi
incidence rate lebih banyak terjadi di negara berkembang. Indonesia sebagai salah satu
negara berkembang dengan prevalensi rate penyakit kanker yang cukup tinggi (Lutfa, 2008).
Kemoterapi dapat membantu dalam pembuatan rencana yang realistis oleh perawat,
pasien dan keluarga. Misalnya, kemungkinan untuk sembuh, hidup lebih panjang tanpa
gejala/tanda kanker atau hanya meringankan gejala kanker agar pasien hidup lebih nyaman
merupakan keuntungan yang melebihi risiko efek samping dan kemoterapi yang sifatnya
sementara. Kemoterapi menyembuhkan lebih dari 90% pria penderita kanker buah zakar yang
telah menyebar dan sekitar 98% wanita penderita korio karsinoma atau kanker rahim
(Junaidi, 2007). Beberapa efek samping yang tidak diinginkan akan timbul selama
kemoterapi. Berat ringannya efek samping kemoterapi tergantung pada banyak hal, antara
lain jenis obat kemoterapi, kondisi tubuh, kondisi psikis pasien.
Efek samping kemoterapi timbul karena obatobat kemoterapi sangat kuat, dan tidak
hanya membunuh sel-sel kanker, tetapi juga menyerang sel-sel sehat, terutama sel-sel yang
membelah dengan cepat. Efek samping dapat muncul ketika sedang dilakukan pengobatan
atau beberapa waktu setelah pengobatan (Bakhtiar, 2012). Beberapa hal yang diakibatkan
oleh efek samping terapi tersebut adalah rambut rontok bahkan sampai botak dapat terjadi
selama tulang yaitu berkurangnya hemoglobin, trombosit, dan sel darah putih, membuat
tubuh lemah, merasa lelah, sesak nafas, mudah mengalami perdarahan, dan mudah terinfeksi,
kulit membiru/menghitam, kering, serta gatal, pada mulut dan tenggorokan terdapat sariawan,
terasa kering, dan sulit menelan, adanya mual dan muntah, nyeri pada perut saluran
pencernaan, produksi hormon terganggu sehingga menurunkan nafsu seks dan kesuburan
(Bakhtiar, 2012).
Hasil penelitian diperoleh nilai rata-rata perilaku perawatan diri penderita kanker
payudara pasca kemoterapi sebelum pemberian booklet adalah 4,70 dengan standar deviasi
1,249. Hasil penelitian sesuai uraian dari Unicef (2010) yang menjelaskan bahwa tahapan
perubahan perilaku diawali dari tidak sadar atau tidak tahu. Hasil penelitian juga sesuai
dengan teori edukasi Setiawati (2008) yang menyatakan bahwa edukasi merupakan proses
belajar dari tidak tahu tentang nilai kesehatan menjadi tahu dan dari tidak mampu mengatasi
kesehatan sendiri menjadi mandiri (Suliha, 2002). Hasil penelitian ini juga sesuai dengan
penelitian yang Hidayati, Trixie dan Istiana (2011), yang menunjukkan bahwa pengetahuan
sebelum penyuluhan rata-ratanya lebih rendah dibandingkan dengan pengetahuan setelah
penyuluhan tentang kanker payudara, penelitian Herniyatun, Astutiningrum dan Nurlaila
(2009), yang menyatakan ada perbedaan yang signifikan rata-rata nilai pengetahuan, sikap,
ketrampilan antara sebelum dan setelah diberikan penyuluhan tentang pencegahan kanker
serviks. Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa skor hasil penelitian
sebelum pemberian booklet, nilainya lebih rendah dibandingkan setelah pemberian booklet.
Nilai rerata responden sebelum pemberian booklet rendah atau dapat diklasifikasikan
berpengetahuan kurang sehingga kemampuan merawat dirinya juga kurang.

Kesimpulan :

Nilai rata-rata perilaku perawatan diri penderita kanker payudara pasca kemoterapi
sebelum pemberian booklet adalah 4,70 dengan standar deviasi 1,249. Nilai rata-rata nilai
perilaku perawatan diri penderita kanker payudara pasca kemoterapi setelah pemberian
booklet adalah 7,82 dengan standar deviasi 1,478. Hasil uji statistik didapatkan nilai p=
0,000, berarti pada alpha 5% terlihat bahwa ada pengaruh yang signifikan antara perilaku
perawatan diri penderita kanker payudara pasca kemoterapi sebelum dan setelah pemberian
booklet kemoterapi.

Daftar Pustaka :

Ananditha, Aries Chandra. 2012. PACE, PCM, & CSN: Teknologi E/Tablet untuk Anak
Penderita Kanker yang BerinisiatifTinggi. http://ads.kompasads.com/ diakses 1
Oktober 2015.
Ariawati, K. 2007. Toksisitas Kemoterapi Leukemia Limfoblastik Akut pada Fase Induksi dan
Profilaksis Susunan Saraf Pusat dengan Metroteksat 1 gram. Sari Pediatri Vol. 9, No.
4, Desember.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Bakhtiar. 2012. Manfaat & Efek Samping Kemoterapi. http:// Manfaat dan efek
sampingkemoterapi_Bakhtiar.htm diakses tanggal 1 Oktober 2015.
Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta: EGC.
Ghofar, Abdul. 2009.Cara Mudah Mengenal & Mengobati Kanker. Jogjakarta: Flamingo.
Hadiyanto, Yanwar et al. (2012). Health First. Jakarta: PT. Mesa Publishing.
Hidayat, A. A. 2009. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Selemba Medika.
Janewinarni. 2011. Perilaku Klien Dengan Gangguan Konsep Diri. Diakses di
http://janewinarni.wordpress.com/ diakses 08 Mei 2013.
Junaidi, Iskandar. 2007. Kanker. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.
Lubis, N. Hasnida. 2009. Terapi Perilaku Kognitif pada Pasien Kanker. Medan : USU Press.
Lutfa, Umi. 2008. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kecemasan Pasien dengan
Tindakan Kemoterapi di Ruang Cendana RSUD Dr. Moewardi Surakarta.
http://etd.eprints.ums.ac.id/ diakses 22 September 2012.
Mubarak, Wahit Iqbal. 2007. Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia: Teori dan Aplikasi
dalam Praktik. Jakarta: EGC.