Anda di halaman 1dari 17

Rahmad Syafe’I ‘ Penghantar Ilmu Tafsir (Lingkar Selatan , Pustaka Setia ,2012), 127

Dimaklumi bahwa Quran adalah buku risalah keagamaan . ia bukan buku sejarah, atau buku
sastra. Namun, harus diakui bahwa didalamnya banyak memuat kisah atau cerita sejarah yang
diungkapkan dalam bahasa sastra yang sangat indah.

Dari sisi sastra, cerita tentang sejarah dalam quran, menyodorkan ungkapan yang padat dengan
bahasa yang indah tanpa tanding dalam segala seginya. Gaya bahasa yang diwarnai pemilihan
kata yang tepat merupakan karya yang mengagumkan. Di sisi lain, cerita yang terkandung di
dalamnya adalah sejarah yang diyakini kebenerannya oleh kaum Muslimin

Secara umum, pembahasan sejarah didalam quran dapat ditunjai dari dua segi: (!)
bahasan sejarah sebagai cerita: dan (2) bahasa sejarah sebgai falsafah.

Sebagai Falsaah sejarah, mungkin dapat diajukan pertanyaan kepada quran mengenai hal
–hal berikut. Bagaimana pandangan quran terhadap tujuan sejarah, hokum sejarah, dan peran
tuhan didalam sejarah ?

Hanya saja, dalam pembahasan ini penulis tidak akan membahas falsafah sejarah menurut
quran, karana pembahasan masalah itu tidak hanya menyangkut ayat-ayat al-Qishshah.

Bahasan utama dalam kajian ini hanya menyangkut sejarah sebagai cerita yang tercermin
dalam ayat-ayat al-Qishshah yang menggambarkan perjuangan para nabi sebelum Nabi
Muhammad SAW , atau tokoh tokoh sejarah lainnya.
Rahmad Syafe’I ‘ Penghantar Ilmu Tafsir (Lingkar Selatan , Pustaka Setia ,2012), 128

`dengan demikian, masalah –masalah yang akan dibahasdidalam makalah ini berkisah sekitar
maslah berikut.

1. Sejauh mana pengetahuan orang –orang Arab jahiliyah dan juga Muhammad sebelum
diangkat menjadi rosul tentang Nabi-nabi dan ummat terdahulu ?
2. Bagaimana cara yang dipakai al-Quran dalam mengungkapkan nabi –nabi dan umat
terdahulu itu ?
3. Apa tujuan yang mau dicapai quran dengan mengungkapkan cerita nabi-nabi dan umat
terdahulu ?

Sebelum menguraikan jawaban dari maslah-masalah itu kajian ini akan membahas terlebih
dulu pengertian kisah (cerita, cerita sejarah , al-Qishosiyah) yang menjadi landasanpbahasan
selanjutnya,

Tampaknya orang-orang arab, termasuk nabi Muhammad sebelum menerima wahyu ,


tidak mengetahui cerita –cerita tentang nabi-nabi dan umat umat terdahulu sebelum diungkapkan
al-Quran

Al-Quran dalam menuturkan sejarah mempunyai gaya dan cara tersendiri yang sangat
berbeda dengan buku sejarah, juga dengan kitab –kitab suci sebelum,nya, dalam menggunakan
ragam bahasa dan menempatkan plot-plot, ceritam al-quran dapat memberikan daya tarik
tersendiri. Sedangkan dari segi isi, cerita sejarah dalam quran bukanlah ranmgkaian kronologis
suatu peristiwa yang merangkao jawaban dair pertanyaan-pertanyaan apa, siapa, kapan,
bagaimana, dan mengapa, sebgaimana lazimnya suatu cerita sejarah tetapi. Akibatnya, dan
bagaimana sifat –sifat pelakunya, Peristiwa yang dipilih al-Quran untuk diceritakan hamper
semuanya berkisar sekitar perjuangan para nabi dalam menyeru umat mereka kejalan tuhan , dan
akibat yang diderita orang orang yang menentang Allah dan utusannya.

Pemelihan cerita itu sesuai dengan tujuan pengungkapannya. Pada nabi Muhammad dan
umatnya yang antara lain untuk meneguhkan hati nabi Muhammad SAW. Sendiri, supaya
dijadikan pelajaran , dan sebagai tanda kebesaran tuhan .

Kajian ini tidak akan membahas ayat-ayat al-qishshah dari segi kritik sejarh. Artinya, tidak
akan membahas sejaih mana kebenaran cerita yan g disampaikan al-QUr’an . sebab soal ini ,
menyangkut iman. Dengan kata lain, setiap orang yang percaya bahwwa quran sebagai wahyi,
akan menyakini kebenaran
Rahmad Syafe’I ‘ Penghantar Ilmu Tafsir (Lingkar Selatan , Pustaka Setia ,2012), 129

yang disampaikan quran. Sebab soal ini menyangkut iman. Dengan kata lain, setiap orang yang
percaya bahwa quran sebagai wahyu, akan menyakini kebenaran yang disampaikannya. Jadi, ini
diluar maslaah ilmu sejarah, dalam hal ini, orang islam hanya dapat member argument bahwa
cerita itu diterima nabi dari wahyu .

Para penulis Kristen berusaha mencari sumber cerita dalam quran dari luar wahyu,
misalnmya, seperti yang dilakukan oleh J.c.L Gibson1, Macdonald 2, wansick 3

Karena mereka tidak percaya pada al-quran sebagai wahyu, mereka berusaha membuyktikan
bahwa cerita yang ada dalam quran adlaah cerita yang sudah diketahui Muhammad; baik dari
sumber yahudi , Kristen maupun dari lingkungan arab tersendiri .

A. Pengertian QIshshah dan Macam –Macamnya

Secara leksikal, al-Qishshah diambil dari kata “Qashsha-yaqushu,” yang berarti menceritakan
. al-Qishshah sama artinya dengan al-hadis,4 yang artinya ccerita, sedangkan al-qishsahah
sebagai salah satu bentuk sastra yang dlama bahasa Indonesia disebut cerpen atau novel,
didefinisikan sebagai media untuk mengungkapkan kehidupan atau fragmen-fragmennya
yang menyangkut suatu peristiwa atau sejumlah peristiwa yang terkait satu sma lainnya.5

Adapun al-qishsahah didalam al-Quran tampaknya lebih dekat artinya ketapa at-tarikh dari
pada kepada al-qishsahah sebagai bentuk sastra modern. Hal ini bila ditinjau dari segi isi
yang dikandungnya yang sama –sama menceritakan peristiwa, kurikulum yang benar-benar
terjadi.

Yang dimaksud dengan al-qishsahah dalam quran pada pembahasn ini adlah sejarh dari umat
terdahulu serta para nabi dan orang –orang saleh yang berjuang menegakkan kebenaran .
dengan kata lain, kisah dalam al-Quran secara umum memiliki dua katagori yaitu

1. Cerita para nabi atau orang orang saleh


2. Cerita para penentang kebenaran yang dibawa Nabi,

1
Gibson, J.C.L John, The Babtist is Moslem Writing , Art. Dalam muslim word. No. 45, London, 1955, hlm. 334-
345.
2
Macdonald, J. Joseph, in The Quran, art. dalam Muslim World No. 46, London. 1955, hal. 113-131.
3
Wensinck, A.J. Ashhab al-Rass, art. dalam the Encyclopaedia of Islam, vol. 1, New Edition, London, 1954, Hlm
451
4
Luis, Ma’luf , Al-Munjid, (Beirut: al-Matba’ah katulikiyah, 1973), hlm. 31
5
Hasan, Muhammad Kamil, al-Qur’an wa al-Qishshat al-Hadisat, (Beirut: Dar al-kutub al-‘Ilmiyat , 1970), hal.9
Rahmad Syafe’I ‘ Penghantar Ilmu Tafsir (Lingkar Selatan , Pustaka Setia ,2012), 130

Oleh karena itu, kisah nabi Muhammad tidak dimasukkan kedalam bahasan ini. Juga kata-
kata “kisah”, “cerita” atau cerita sejarah” yang ada dalam bahasan ini mengandung
pengeertian yang sama dengan pengertian al-qishsahah menurut definisi yang terakhir.

Menurut al-Isfahani

‫كل قصة خير وليس كل خير قصة‬

Setaip kisah adlaah baik, tetapi tidak semua yang baik adalah kisah . menurut roshid rida
(kisah itu mengikuti Lacaknya terkadang kisah itu bersifat perbuatan atau perkataan

‫قصة تتبع األثر إما أن تكون عملية أو قولية‬

Menurut Muhammad Quthb, didalam Quran adala tiga kisah . pertama kisah yang
ditunjukkan tempatnya, tolohnya dan gambaran kisahnya. Kedua, kisah yang menunjukkan
peristiwa atau keadaan tertentu dari pelaku sejarah tanpa menyebutkan namanya dan tempat
kejadiannya. Ketigam kisah dalam bentuk dal. Peristiwa ini pun tidak disebutkan siapa
pelaku nya dan dimana terjadinya .

Cerita yang pertama menggambarkan nabi-nabi seta akibat mereka yang


mendudustakaknnya. Cerita ini menyebutkan nama nama tempat dan tokoj pelakunya secara
pasti, seperti kisah babi musa dengan firaun.

Cerita kedua adalah kisah dua putra nabi adam yang mengadakan qurban, yang satu ditolak
tuhan dan yang lainnya diterima, sebagaimana terdapat di dalam surat al-Maidah ayat 27-30.

Sedangkan cerita ketiga adalah kisah orang yang mempunya dua teman sebagaimana
dilukiskan didalam surat al-Kahfi, ayat 32- 43.

Kisah jenis pertama adalah yang paling dominan didalam al-Quran . dalam kisah jenis inilah
kita mendaoatjjab gambaran oerjuangan antara antara buruk dan baik yang dapat dijadikan
cermin oleh kaum muslim dalam perjuangannya untuk menegakkan agama allah.6

B> Kisahb Para Nabi dalam BUdaya arab Jahiliyah

Pada umumnya kisah kisah para nabi yang diceritakan al-Qura, tidak dapat dibuktikan
keberarannya oleh ilmu sejarah . sebab, tidak ada lagi dokumen-dokumen sejarah yang
mengungkapkan peristiwa-peristiwa yang diungkapkan al-Quran itu.

6
Qutb, Muhammad, Manhaj al-Tarbiyyat al-Islamiyyat, 1967, hal 236
Rahmad Syafe’I ‘ Penghantar Ilmu Tafsir (Lingkar Selatan , Pustaka Setia ,2012), 131

Sekalipun demikian, Malik bin Nabi, menegaskan bahwa al-Quran itu merupakan data
sejarah yang sangat subjektif sedangkan menurut thaha husaim, daoat dipandang sebagai data
sejarah . malik bin nabi beragumen :

 Al-Quran dibuktikan kesesuaiannya dengan apa yang diterima dari allah,


 Ada yang sudah dibuktikan oleh penemu kemudian.

Secara umum, para penulis muslim dapat memberi argumentasi yang rasional b ahwa tidak
mungkin al-Quran itu dikarabg oeleh nabi Muhammad SAW, tetapi al-Quran jelas wahyu dari
allah.

Para penulis yahudi Kristen ada yang secar khusus mencari pengaruh yahudi Kristen dalam
quran 7 diantara yang berbuat demikian adalah para penganalisa kisah nabi-nabi yang ada dalam
quran. Bagi mereka, kisah –kisah itu merupakan jiplakan sempurna dan diambil dari tradisi
yahudi –kristen yang ada dilingkungn Nabu Muhammad,

Dasar pemikirajn mereka berpikal pada dua alas an . pertama, orang –orang yahudidan Kristen
telah lama ada, baik dimekah maupun dimadinah. Di antara mereka ada ya ng berpendapat
sebagai pengajar agama, pedagang , maupun pemukim tetap. Merekalah yang membawa cerita
nabi –nabi lama yang kemudian diambil oleh Muahammad.8 Tegasnya, Menurut dia, Nabi
Muhammad mengetahui kisah –kisah itu, karena dia telah menjadi bagian dair budaya arab,.
Kedua, menurut mereka secara lanmgsung nabi Muhammad belajar dari orang-orang yahudi dan
Kristen . 9 atas dasar inilah mereka menetapkan bahwa kisah dalam quran bukan wahyu, tetapi
hasil serapan Muhammad dari lingkungannya.

Pandangan mereka yang mengatakan bahwa kisah-kisah dalam quran telah diketahui oleh orang
–orang arab jahiliyyah dan oleh nabi senduru sebelum mendapatwahyu, tidak mempunyai alas an
yang bersumber pada bukti sejarah yang dapta dipercaya. Akan tetapi, anehnya ada juga orang
islam yang mendujkung pendapat yahudi dan Kristen tersebut.

Diantaranya adalah Muhammad Izzah Darwah. Hal ini tidak berate ia menolak kewahyuan kisah
itu, dia berpendapat bahwa para pendengar quran ( orang arab jahiliyyah) tidak asing terhadap
kisah yang dibawakannya. Dasarnya, karena quran sendiri memberi syarat demikian , seperti
yang disimpulkan dari surat ar-rumk :9, al-Ghaffir: 21; dan al-hajj: 45-46.” Setelah itu, dia
mengemukakan bahwa orang –orang yahudi sering atau pernah memperdengarkan taurat

7
8
Rahman fazzlur , tema pokok al-Quran,(bandung: pustaka , 1983), xI
9
Macdonald, J. Joseph, in The Quran, art. dalam Muslim World No. 46, London. 1955, hal.114
Rahmad Syafe’I ‘ Penghantar Ilmu Tafsir (Lingkar Selatan , Pustaka Setia ,2012), 132

dihadapan majlis nabi. 10 dia menyebutkan bahwa orang orang arab telah mengetahui kisah nabi
yusuf, maryam dan Nuh. 11 dia juga menyakini bahwa nabi banyak mengetahui kisah mat-umat
dan nabi terdahulu, baik yang disebutkan taurat dan injil maupun sumber sumber lainnya, dia
juga menegaskan b ahwa sebelum diangkat menjadi rosul m, Muhammad Saw. Telah
berhubungan dengan ahli ahli kitab yang ada di mekah. Beliau berdiskusi dengan mereka
mengenai soal keagamaan , yaitu soal yang ada dalam kitab mereka, dan nabi sering
mendengarkan isi kitab itu. Pertemuan it uterus berlangsung sampai setelah beliau diangkat
menjadi rosul. 12

Pandanga orientalis dan juga M. I. Drwah itu penting dalam rangka membahas sial kisah dalam
quran, karna menyangkut persoalan benar dan tidaknya bahwa kisah dalam quran itu
merupakan wahyi yan g bersifat mu’jizat . walaupun pandangan orientalis dan darwanh itu
bertitik tolak dari keyakinan yang berbeda, tetapi dapat mengakibatkan lahirnya kesimpulan yang
sama bahwa kisalah dalam quran bukan wahyu mengenai berita gaib.

Pandangan mereka itu tidak ditopang oleh bukti sejarha dan tidak dapat diterima akal sehat dan
juga bertentangan dengn pernyataan qura n itu tersendiri.

Tidak ada buku sejarah yang menunjukkan bahwa lingkungan nbabi di mekkah dipenuhi tradisi
yahudi-kristen , tidak ada syair jahiliyyah yang menunjukkan demikian. Juga tidaklah dapat
dipercaya sumber yang mengatakan bahwa nabi sering berdiskusi dalam soal –soal keagamaan
dengan orang –orang yahudi-kristen seblum menjadi rosul. Sedangkan sejarahwan islam pertama
yang diakui ketelitiannya oleh orang barat sendrii, yak ni Ibn ishak tidak mengungkapkn
demikian, dia hany mengungkapkan bahwa, orang orang yahudi, Kristen , dan para peramal telah
membicarkan (sebelum nabi diutus) mengenai dekatnya waktu diturunkannya seorang nabi . 13

Malk bin nabi juga menolak pendapat yang mengatakan bahwa agaya Yahudi-kristen telah
menyusup ke dalam kebudayaan arab jahiliyyah. Indikatornya adalah tidak adan ya injiol dalam
bahasa arab. 14

Seandainya orang –orang arab dan nabi sendiri telah mengetahui kisah –kish mat terdahulu
sebelum ada berita dari quran, tentu penyataan quran bahwa kisah yang disampaikannya adalah
berita gaib akan ditertawakan orang-orang arab. Akan tetapi , tidak ada riwayat yang menolak
pernyataan quran itu. Mereka hanya mengiria Muhammad diajari manusia biasa ,

10
Gibson, J.C.L John, The Babtist is Moslem Writing , Art. Dalam muslim word. No. 45, London, 1955, hlm 335
11
Darwah, Muhammad Izzzah, al-Quran al-Majid (bairut (bairut: al-Maktabat al- Ashriyat, t.t) 166
12
Darwah, Muhammad Izzzah, al-Quran al-Majid, 171
13
Darwah, Muhammad Izzzah, al-Quran al-Majid 171-173
14
Darwah, Muhammad Izzzah, al-Quran al-Majid 180-181
Sementara quran sendiri dengan tengas nebgatajab “ inilah berita ib yang kami wahyukan
kepadamu(Muhammad). A dan juga kaummmu sebelum ini tidak mengetahui.”(Q.S.11:49). Hal
yang sama juga ditegaskan dalam surat yusuf. 102. Dan surat ali imroan :44

Rahmad Syafe’I ‘ Penghantar Ilmu Tafsir (Lingkar Selatan , Pustaka Setia ,2012), 133

Sekalipunj demikian , kita tentunya tidak dapat menyatakan bahwa kalangan ulama sa sekali
tidak mengetahui kisah kaum terdahulu. Bagaimana pun al-Quran memiliki hubungaan dengan
taurat dan injil. Al-quran menyebut diriny sebagai pembenar dan pemerinci. Inilah I’jaz al-quran.
Menurut penulis, Muhammad sudah mengetahui secar umum tentang umat sebelumnya. Namun,
pengetahuan nabi tersebut bukan berasla dari bacaan.

c. gaya cerita sejarah dalam quran

ada dua sisis pokok dari setiap sejarah sebagai cerita. Pertama, sisi seni pengungkapan yang
menyangkut langgam bahasa dan teknik menyajian. Kedua, sisi isi yang menyangkut apa yan
terjadi, kapan , dimana, siapa pelakunyam dan mengapa terjadi.

Sisi pertama mennjukkan sejarha sebvagai sejarah, sebagai sasatra atau seni (art) , dalamn kaita
ini Louis goitsxhalk menegaskan bahwa sejarahwan yang menulis secar tidak menarik adalah
sejarawan yang buruk. Secar professional ia wajib melukiskan peristiwa masa lam[au dan
menghidupkan suasananya dengan cara menggaairahkan.

Al-quran sebagaimana diketahui buykan buku sejarah, bukan pua buku sastra. Kisah yang
diungkapkan quran adlah sejarah yang disajikan d engan cara yang mempesona dan dengan
langggan bahasa yang menarik. Quran pada dasarnya adlah kitab dakwah keagamaan. Dakwah
keagamaan akan cepat masuk kedalam hati yang paling dalam bila dingkapkan dengna cara yang
menggairahkan. Itulah sebabnya qurana berkisah tentang masa lalu dnegna menggunakan seni
langgam yang mempesona secar a khas.

Cara khas ini , sebgaiman diungkapkan oelh sayyid qutb, tampak dalam keragaman teknik
penghidangan yang menurutnya ada empat macam . 15

15
Ibn Ishaq, The life of Muhammad, terjemahan dari Sirah Muhannadm (Lahore: Pakistan Baranch, 1983), 90
1. Al-quran mengungkapkan dengan memulai dari akhir kisah dan akibat yang dialami
oleh tokoh tokohnya kemudian m eneruskannya ke awal cerita dan memperinci
peristiwa-peristiwanya. Hal ini tampak dalam kisah musa dan firaun dalam surat al-
Qashshash.
2. Al-Quran menyampaikan rangkuman dari kisah, kemudian menyampaikan
perinciannya dari wal sampai akhir cerita, contohnya cerita ashab l-Kahfi.

Rahmad Syafe’I ‘ Penghantar Ilmu Tafsir (Lingkar Selatan , Pustaka Setia ,2012), 134

3. Al-quran menuturkan inti kisah secara langsung tanpa didahului oleh muqoddimah
atau rangkumannya, contoh nya seperti cerota nabi isa.
4. Al-Qurn mengubah kisah menjadi drama. Al-Quran memulai cerita dengna bebera pa
kata, kemnudian tokoh-tokohnya berbicara tentang diri mereka sendiri. Contoh nyam
jisah nabi Ibrahim dan ismail ketika mendirikan kabah .

Cara cara khas lain yang dipakai al-quran dalam mengungkapkan cerita para nabi adalah
dengan membuat “kejutn” atau penddakan. Dalam hal ini al-Quran menunjukkan tiga
macam car, yaitu :16

1. Al-quran menyembunyikan satu “rahasia” baik kepada pembaca maupun kepda


tokohnya. Kemudian rahasia itu diungkapkan secar menddak baik kepada pembaca
mupun kepd tokoh cerita. Contohnya kisah nabi musa dnegan hamba allah dalam
surat al-Kahfi.
2. Al-Qurn mengungkapkan satu rahasia kepda pembca, tetapi tokoh dalam cerita itu
sendiri tidak tahu rahasia itu: contohnya, kisah ashab al-Jannah dalam surat an-Nur:
68).
3. Al-Quran mengungkapkan sebagian rahasia al-Quran kepada pembaca, tetpai rahasia
itu tetap disembunyikan kepada tokohnya. Sedangkan sebagai cerita lainnya
disembunyikan kepada keduanya. Akan tetapi , secara mendadak rahasia itu
diungkapkan kepada mereka, contohnya seperti cerita bilkis dengn bai sulaiman.

16
Nabi , malik bin, fenomena al-Quran , terjemahan Indonesia (bandung : ma’arif ,1983),310
Dengan mengungkapkan sejarah, al-Quran tidak menggunakan sistemasi yang lazim
dalam buku-buku sejarah, yaoti rangkaian peristiwa yang disusun secara kronologis,
dijelaskan urutan dan priodenya. Sering kali pelaku dan tempatnya tidak disebytkan . al-
Quran jug biasanya tidak mengungkapkan sejarha seorang tokoh secara utuh dari mulai
awal perannya sampai akbhir kehidupannya dalam satu tempat., selain kisah nabi yusuf.
Sedangkan kisah –kisah nabi lainnya biasanya terpencar-pencar misalnya, cerita nabi
Ibrahim diungkapkan dalam 20 tempat. Cerita nabi isa dalam 8 tempat, cerita nabi
sulaima dalam 3 tempat. 17

Sedangkan cerita nabi musa paling banyak diungkapkan mungkin karena sejarah
perjuangannya paling panjang dan paling

Rahmad Syafe’I ‘ Penghantar Ilmu Tafsir (Lingkar Selatan , Pustaka Setia ,2012), 135

banyak pesamaannya dengan sejarah nabi muahammad saw, pengulangan cerita tokoh –
tokoh itu rupanya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai al-quran. Diantara tujuannya,
menurut abdul karim al-khatib adalah supa terungkap secara menyeluruh semua segi
cerita itu. 18

Namun, yang jelas pengulangan cerita tokoh –tokoh sejarah dalam al-quran berkaitan
dena fungsi sejarah menurut alquran yang akan dibahas dalam bab mendatang.
Sedangkan tokoh yang menjadi peran udalam cerita al-qran adalah para nabi . namun, da
juga tokoh tekemuka yang bukan nabi seperti lukman hakim.

Para nabi yang diceritakan al-quran dimulai dengan adam sampai dengan nabi
Muhammad. Para nabi itu banyak yang disebut namanya dan diuraikan kisahnya dalam
biblel, tetapi ada juga nabi-nabi dari bangsa arab lama yang tidak terdapat dalam bijbel. 19

Tokoh tokoh yang muncul dalam kisah-kisah al-quran antara lain:

Pertama, adama, dia sering muncul pada periode Madinah, antara lain pada surah 3: 59,
15:28-35, dan 17:63, sedangkan pada periode mekkah antara lain pada surat 38 : 75.

17
Qutb, Muhammad, 149-50
18
Qutb, Muhammad, 140-4
19
Qutb, Muhammad, 144-5
Kedua , Nuh, dia adlah tokoh penting yang datang setelah adam, yang pada masanya
terjadi banjir yang terkenal. Nama beliau termasuk yang paling banyak disebutkan dalam
al-quran pada propde mekkah . antara lain pada surat :50:12,
38:12.51:46:21:77:37:76,21:76: dan 25:27: . sedangkan pada periode madinah nama nuh
tidak ditemukan

Ketiga, Ibrahim, ia adalah tokoh penting bapak dari agama langit, baik islam , Kristen
maupun yahudi. Namanya banya disebutkan baik dalam priode mekkah maupun priode
madinah. Dalam priode mekkah antara lain pada surah : 87:19, 51:24, 15:51. 37:83,
37:104, 26:69, dan 19 41 namanya disebut pada periode madinah antara lain pada surat 2:
124: 3: 95—7.

Keempat, musa, dia adalah took yang banyak disebutkan namanya dalam al-quran.
Ceritanya terpencar-pencar daam berbagai surat yang menceritakan berbagai situasi yang
diahadapinya. Ceritanya paling lengkap dan paling terperinci. Muncul namanya sejak
masa awal dari makkiyah antaara lain pada surat 87:17, dan 20: 9-99, dalam suatr ini
ceirta tentang nabi

Rahmad Syafe’I ‘ Penghantar Ilmu Tafsir (Lingkar Selatan , Pustaka Setia ,2012), 136

musa secara mendetail . demikian pada surat 26: `10-66. Musa dikisahkan bertemu
dengan hamba saleh yag diungkapkan dalam surat al-Kahfi, 18: 68-82. Pada periode
madinah namanya disebut , antara lain pada surat 2: 51-61.

Kelima isa. Dia tokoh yabg banyak disebut dalam periode mekah, antara lain pada surah
19: 37, 43: 63-65.

Keenam Nabi hud, dia adalah tokoh yang tidak terdapat dalam bijbel. Tokoh nabi arab ini
termasuk yang paling banyak diceritakan sejak awal masa makiyyah. Antara lain pada
surah 521:41 54:18, 52:13 26:123, 38:12: 11:50: 43: 21

Ketujuh, salih. Dia adalah nabi arab yang juga sering diungkapkan quran. Antara lain
kisahnya disebutkan dalam surah : 85:17, 51:43, 54:23, 50:23, 50:12, 26:14,1 38:12.
25:28, 25:38: 27:45: 11:61: dan 7:73. Bersamaan dengan kisah para nabi juga
diungkapkan nama tokoh –tokoh dan kaumn-kaum yanbg disuruh oleh para nabi tersebut
. antara lain fir’aun, ad, samud , dan bani israil
d. tujuan kisah dalam al-Quran

al-quran harus dipanjdang sebagi suatu system . ini artinya al-quran adalah suatu
keseluruhan yabng menyatu yang terdiri dari unsure-unsur(subsistem )yang saling
berkaitan yang mepunyai tujuan tertentu . Al- Qishshah sebagi subsistem dari al-quran
bverkaitan dengan sub lainnya. Ini berarti bahwa Al- Qishshah tidak terlepas dari tema-
temak pokok yang dikandung al-quran yang berupa ajaran tentang tuhan usia dan alam
semesta, seta hubungan manusi sebagai individu dengan semuannya itu. Ini juga berartu
bahwa fungsi yang dipikul oleh Al- Qishshah sama dengan fungsi yang dipikul oleh
quran secara keseluruhan , yaitu sebagai huda dan nur, serta busra dam madzor.
Walaupun demikian, sebagiamana suatu subsistem Al- Qishshah mempunyai tujuan atau
fungsi tersendiri. Tujuan itu dinyatakan sendiri oleh quran sebagaimana tersebut dalam
surat hud ayat 12 bahwa tuhan mengkisahkan cerita para rosul untuk memperteguh hati
nabi Muhammad. Disini tampak bahwa sejarah dapat mempunyai nilai psikologis yang
positif. Disini pula rupoanya salah satu sebab mengapa cerita yang sama sering diulang –
ulang dalam quran. Terutama cerita nabi musa.

Dalam tempat lain tuhan menegaskan bahwa kisah orang orang terdahulu itu adlah ayat
(Tanda), seperti dalam

Rahmad Syafe’I ‘ Penghantar Ilmu Tafsir (Lingkar Selatan , Pustaka Setia ,2012), 137

surah asy-syu’aro ayat 7. Hal ini mengandung pengertian bahwa tanda kebesaran dan
kekyuasaan tuhan tampak dalam sejarah umat manuisia. Oleh karena itu, siapa yang
melawan tuhan dan hukumnya, akan menerima akibatnya. Dalam ayat lain , surat thaha
ayat 99 tuhan menyebuytkan kisah-kisah orang terdahulu sebagai dzikr (pringatan). Ini
berarti bahwa sejarah adalah peringatan agar manusia tidak berbuat sesuatu yang
mengakibatkan sesuatu yang merugikan dirinya. Di tempat lain tuhan menunjukkan
bahwa sejarah adlah ibrah li ulil al-bab (pelajaran bagi orang –oranbg yang mempunyai
akal), seperti diungkapkan dalam surat yusuf ayat 111, arti yang terkandung di dalamnya
menunjukkan bahwa dlam kasha yang dikemukkakan olejh quran bukan hanya terdapat
peringatan yang tersa oleh setiap pendenarnya, tetpai juga terpantul darinya hokum
sejarah atau sunatullah dalam sejarh yang dipahami oleh orang-orang yang berilmu
pengetahuan .
Ringkasnya, kisah dlam quran diungkapkan tuhan sebagai pelajaran , peringatan, janji,
dan ancaman ,20 oleh karena itulah, dalam berkisah tentang masa yang lalu, al-quran selau
mewarnainnya demngan nasihat, bimbingan, peringatan, dan ancaman abd al-karim al-
khatib menyimpulkan bahwa yang menjadi pusat tujuan dari kisah quran adlah ajakan
kepada ajaran allah 21 sedangkan muahmmad qutb memandang kish quran yang
disampaikan kepada nabi muhbammad saw sebagai alat pendidikan dan bimbingan 22

Sayyyid qutub memerinci tujuan kiosah da;a,m quran ke dalam bebera hjal.

1. Kisah itu untuk membuktikan kerasulan Muhammad saw, dan quran adalah wahyu.
Sebab Muhammad saw adlah ummy, tidak dapat membaca dan menulis, seta tidak
ada bukti sejarah bahwa beliau belajar dari yahudi/Kristen . jadi, kisah nabi-nabi
terdahulu mestinya dari allah swt.
2. Kisah itu dipakai untuk menunjukkan bahwa agama-agama lain berasal dari allah swt,
dan bahwa semua manusia mukmin adalah satu umkat. Oleh karena itulah sering
kisah sejumlah nabi diungkapka dalam surah yang sama dengan gambaran yang
mirip. Misalnya seperti kisah para nabi yang terdapat dalkamn kisah al-Anbiya.

Rahmad Syafe’I ‘ Penghantar Ilmu Tafsir (Lingkar Selatan , Pustaka Setia ,2012), 138

3. Kisahy itu bertujuan mengukakanj bahwa semua ajaran agama itu berasas tunggal.,
yaitu iman kepada allah yang maha esa yang beribadah kepadanya.
4. Kisah dipakai untuk menjelaskan bahwa cara(al-wasail) para nabi dalam berdakwah
adalah sama, dan sikap kaumnya punm terhadap mereka mirip.
5. Kisah itu sebagai pemberitaan allah bahwa pada akhirnya allah selalu menolong para
nabi dan menghancurtkan musuh-,musuhnya.
6. Kisah itu untuk menunjkkan bahwa allah swt telah membuat hal-hal yang luar biasa
untuk menolong nabinya

20
Khatib , abd. Al-karim, qodhiyyat al-‘uluhiyyat bain al-falsafat wa ad-ddin, (Kairo, dar al-fikr al-‘arabi, 1962), hal
326
21
Bakker, d, Man in the Quran, Msterdam: Drukkerij Hollland N.V., 1965), 62
22
7. Kisah itu bertujuan mengungkapkan janji dan ancaman tuhan
8. Kisah itu menunjukkan betapa besarnya nikamt tuha n yang diberikan kepada nabinya
seperti terungkap dalam kisah sulaiman dan daud
9. Kisah itu untu memperingatkan bai adam akan tipu daua dan godaan seta, dan
menunjukkan adanyha permusuhan abadi antara mnanusia dan setan

Selain itum dari kisah al-Quran juga tampak bahwa musuh para nabi biasanya dari
kalanan atas, sedan gkan pembantu dan pedukungnya dalah rakya tbiasa.

Dengan demikian , tujuan dari Al- Qishshah al-quran, bukan semata mata menceritakan
kisahnya, tetapui jug:

1. Membuktikan kekuasan tuhan


2. Untuk m,embuktikan bahwa manusia dapat berhubungan dengn tuahn

Sedang menurut syaltut, tujuan kisah adalah untuk menjelaskan sunatullah dalam
memperlakukan hamba allah. Jilka ada sesuatu yang baik, harus dicari apa kebaikannya.
Sebaliknya, jika ada sesuatu yang jelek, kejelekan tersebut harus dihindari.

e. kesimpulan

realitasnnya, bangsa-bangsa arab jahiliah dan juga nabi Muhammad saw sebelum
menerima wahyu, tidak mengetahui cerita tentang nabi-nabi terdahulu dan umatnya. Hal
ini menunjukkan bahwa cerita yang disampaikan al-quranitu merupoakan berita gaib
yang hanya mungkin diterima dari allah swt.

Rahmad Syafe’I ‘ Penghantar Ilmu Tafsir (Lingkar Selatan , Pustaka Setia ,2012), 139

Cerita yang diungkapkan al-quran dengan bahasa yang indah dan gaya bahasa yang khas
itu pada dasarnya adalah salah satu cara untuk menyampaikan ajaran –ajaran tuhan
kepada umat manisoa .

disamping itu ternyata kisah yang diungkapkjan quran mempunyai beragam fungsi yang
pada dsarnya merupakan tujuan dari alquran secara menyeluruh
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah:Pesan, kesan dan Keserasian al-Qur’an (Jakarta: Lentera
Hati, 2002), 102

    


   
  
     
     
    

102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai
anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!"
ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku
Termasuk orang-orang yang sabar".

Ayat sebelum ini menguraikan jkanji allah kepada nabi Ibrahim as tentang perolehan anak. Demikian hingga tiba
saatnya anak tersebut lahir dan tumbuh berkembang, maka tatkala ia, yakni sang anak itu, telah mencapai usia yang
menjadikan ia mampu berusaha bersamanya, yakni bersama Nabi Ibrahim, ia yajni nabi Ibrahim berkata sambil
memanggil anaknuya dengan panggilan mesra: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu. Dan engkau tentu tahu bahwa mimpi para nabi adalah wahyu ilahi. Jika demikian itu halnya, maka
pikirkanlah apa pendapatmu tentang mimpi yang merupakan perintah allah itu!” Ia, yakni sang anak, menjawab
dengan penuh hormat: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, termasuk perintah
menyembelihku. insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar"

Nabi Ibrahim as. Menyampaikan mimpi itu kepada anaknya. Ini agaknya karena beliau memahami bahwa
perintah tersebut tidak dinyatakan sebagai harus memaksakannya kepada sang anak. Yang perlu adalah bahwa ia
berkehendak melakukannya. Bila ternyata sang anak membakang, itu adalah urusan ia dengan allah. Ia ketika itu
akan dinilai durhaka, tidah ubahnua dengan anak Nabi Nuh as. Yang membangkang nasihat orangtuannya.

Ayat diatas menggunakan bentuk kata kerja Mudhari (masa kini dan datang) pada kata-kata ()
Ara
saya melihat dan () dan () . ini
mengisyaratkan bahwa apa yang beliau lihat itu seakan –akan masih terlihat
hingggga saat penyampaian itu. Sedang, penggunaan bentuk tersebut untuk kata
menyembelihmu untuk mengisyaratkan bahwa perintah allahg yang dikandung
mimpi itu belum selesai dilaksanakan, tetapi hendaknya segera dilaksanakan.
Karena itu pula jawaban sang anak menggunakan kata kerja masa kini juga untuk
mengisyaratkan bahwa ia siap dan bahwa hendaknya sang ayah melaksanakan
perintah allah yang sedang maupun yang akan diterimannnya.

Ucapan sang anak :


   

Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, bukan berkata:” sembelihlah aku”,


mengisyaratkan sebab kepatuhannya, yakni karena hal tersebut adalah perintah
allah swt. Bagaimanapuj bentuk, cara, dan kandungan apa yagn diperintahkannya.
Ia sepenuhnya pasrah. Kalimat ini juga dapat merupakan obat pelipur lara bagi
keduannya dalam menghadapi ujian berat itu.

Ucapan sang anak

    



insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar" dengan mengkaitkan kesabarannya dengan
kehendak allah sambil menyebut terdahulu kehendaknya, menunjukkan beta tinggi dan sopan santun sang anak
kepada allah swt. Tidak dapat diragukan bahwa jauh sebelum peristiwa ini pastilah sang ayah telah menanamkan
dalam hati dan benak anaknya tentang keesaan allah dan sifat-sifatnya yang indah serta bagaimana seharusnya
bersikap kepada-nya sikap dan ucapan sang anaa\k direkam oleh ayat ini adlah buah pendidikan tersebut.

Penafsiran ayat ash-shoffat: 103-106

  


   
   
    
   
  

103. tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran
keduanya ).

104. dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,

105. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu[1284] Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan
kepada orang-orang yang berbuat baik.

106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.


Ayat yang lalu menguraikan kesedian anak untuk disembelih atas perintah allah. Maka, tanpa ragi dan menunda-
nunda, tatkala keduanya telah berserah diri secara penuh dan tulus kepada alllah Swt. dan Ibrahim membaringkan
anaknya atas pelipis(nya), sebagaimana binatang yang akan disembelih, ketika itu terbuktilah (nyatalah kesabaran
keduanya ). Pisau yang demikian tajam –atas kuasa kami-tidak melukai sang anak sedikit pun, dan kami melalu
malaikat memanggilnya : "Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”. Menyangkut
penyembelihan anakmu itu dan engkau telah melaksanakannya sekuat kemampuanmu, maka karena itu kami
memberimu ganjaran dengan menjadikanmu Imam dan teladan bagi orang –orang bertakwa serta menganugrahkan
kepadamu aneka keanugrahan”, sesungguhnya demikian kami member balasan kepada al-Muhsinin. Sesunggguhnya
ini, yak nni perintah penyembelihan anak serta kewajiban memenuhinya, Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian
yang nyata. Yang tidak dapat dipikul kecuali oleh manusia pilihan .

Kata () tallahu eambil dari lata () at-tall yakni tempat tinggi. Ada juga yang memahaminya dalam arti tumpukkan
pasir/tanah yang keras. Kata tallahu dari segi bahasa berarti melempar atau menjatuhkan seseorang ke atas
tumpukkan. Maknayat ini adalah membaringkan dan meletakkan pelapisnya dengan mantap pada satu temat yang
mantap dan keras agar tidak bergerak.

Kaliamt () shaddaqta ar-ru’ya/ telah membenarkan mimpi itu, yakni melaksanakan sesuai batas kemampuanmu apa
yang diperintahkan allah melalui mimpi itu. Boleh jadi Nabi Ibrahim as. Hanya bermimpi menyembelih anaknyua,
tanpa melihat adanya darah yang memancar, appalagi mengakibatkan kematian sang anak. Boleh kadi juga beliau
melihat dalam mimpi itu sang anak berlumuran darah, dan itulah yang akan beliau lakukan, tetapi perintah yang
dimimpikan oti dobatalkan ol;eh allah Swt. Dengan demikian, nabi Ibrahim as telah membenarkan perintah yang
dikandung mimpi sampai batas yang dikehendaki allah.eandainya tidak ada pangggulan itu, tentu ia akan terus
berupaya sehingga terpenuhi perintahnya.

Kita boleh bertanya, mengapa allah memerintahkan menyembelihj, lalu sebelum selesai penyembelihan itu, perintah
tersebut dibatalkan? Nabi Ibrahim a,s hidup pada masa persimpangan pemikiran manusia menyangkut pengorbanan
manusia kepada tuhamn. Ketika itu, hamper diseantero dunia, masyarakat manusia rela mempersembahkan manusia
sesaji kepada tuhan yang disembah. Dimesir misalnya, gadis cantik dipersembahakn a kepada dewa sungai nill. Di
kan’an , irak, yang dipersembahkan kepada dewa baal adalah bayi. Berbeda dengan suku astec di mecsiko, merka
mempersembahkannya kepada dewa matahari, jantung dan darah manusia. Di eropa timur, orang –orang Viking
yang menyembah dewa perang, yaitu yang mereka namai “Odion”, mempersembahkan pemuka aga mereka kepada
dewa itu. Demikianlah dalamn berbagai tempat dibumi ini. Pada masa bnabi Ibrahim itum muncul ide yang
menyatakan tidaklah wajar mempersembajkan manusia kepada tuhan, manusia terlalu mahal untuk itu. Nah, melalui
perintah allah kepada nabi Ibrahim Yang maha kuasa itu bagaikan menyatakan bahwa tidak ada sesuatu yang m,ala
jika p[anggilan ilahi tellah datang, anak satu-satunya yang paling dicintai oleh seorang ayah dari pada dirinya
sendiri- jika panggilan-uya datang-sang anak pun harus dikorbankan, dan itulah yang dibuktikan oleh Nabi Ibrahim
as, tetaoi selanjutnya allah membataklan penyembelihan itu setelah tersanggah dalih tentang “kemahalan jiwa
manusia”. Allah sekalli lagi bermaksud mengajarkan bahwa memang jiwa manusia tidak boleh dijadikan sebgai
sesai kepada-NYa,, hanya saja larangan itu bkan karena manusia terlalu mahal- sebgaimana dalih mereka0 tetapi
karena allah maha kasih kepadda manusia. Kasih saying-nya kepada makluk ini menjadikan dia melarang
persembahan manusia sebagai korman. Bukan larangan berkorban, dank arena iotu kesedian berkorvban engan apa
saja dilambangkan dengna penyembelihan kambving- atau untua. Sai, dan domba-yang sempurna.

Firmannya: () sesungghnya ni benar-benar suatu ujian yuang nyata, agaknya dapat diketahui dengan membayangkan
keadaan nabi Ibrahim as. Ketika itu. Anak yang telah beliau nanti –nantikan bertahun-tahun lamanya, kioni harus
beliau semnbelih pada masa remaja-sementara riwayat menyatakan sekitar tiga belas tahunb anak itu, disamping itu
buah hatu dan harapannya, ia pun melukiskan oleh ayat itu , disamping buah hadi dan haraopannya, iua pun
dilukiskan oleh ayat diatas sebagai (_ berusaha bersama dengannya. Lali, yang d\lebih memilukan hati lagi adalah
bahwa nak iut harus disembelihnya sendiri.