Anda di halaman 1dari 25

Case Report Session

PERAWATAN LUKA OPERASI CAESAR

Case Report Session PERAWATAN LUKA OPERASI CAESAR Oleh : Elsy Mayasari 1840312310 Annissa Qatrunnada 1840312627

Oleh :

Elsy Mayasari

1840312310

Annissa Qatrunnada

1840312627

Preseptor:

Dr. dr. Joserizal Serudji, Sp.OG(K)

BAGIAN ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

RS PENDIDIKAN UNIVERSITAS ANDALAS

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG

2019

1.1 Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Seksio cesarea (SC) adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat

sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina. Tindakan SC

diperkirakan terus meningkat sebagai tindakan akhir dari berbagai kesulitan

persalinan, seperti persalinan lama, persalinan macet, atau gawat janin. 1

Menurut WHO, angka persalinan SC di dunia terus meningkat, sehingga

WHO merekomendasikan angka persalinan SC di suatu negara hanya 5-15%.

Indonesia memiliki angka persalinan SC yang meningkat sangat tajam, terutama

di kota-kota besar. Berdasarkan data Riskesdas 2010, angka persalinan SC sebesar

15,3%, terendah di Sulawesi Tenggara 5,5% dan tertinggi di DKI Jakarta 27,2%.

Angka persalinan SS di RS Sanglah Denpasar pada tahun 2001 sekitar 22,3 %,

dan pada tahun 2006 meningkat sampai 34,5%. 2

Menurut Bensons dan Pernolls, angka kematian pada operasi sesar adalah

40-80 tiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini menunjukan resiko 25 kali lebih

besar dibandingkan dengan persalinan melalui pervaginam. Pell dan Chamberlain

menyusun data statistik tentang 3.509 kasus seksio sesaria dan didapatkan indikasi

untuk tindakan SC adalah diproporsi janin panggul 21%, gawat janin 14%, plasenta

previa 11%, riwayat SC 11%, kelainan letak janin 10%, pre-eklamasi dan hipertensi

7% dengan angka kematian pada ibu sebelum dikoreksi 17% dan sesudah dikoreksi

0,5% sedangkan kematian janin 14,5%.

Perawatan luka post SC merupakan tindakan yang sangat bermanfaat, baik

dilihat dari segi kesehatan maupun dari segi kosmetiknya. Hal tersebut berguna

untuk mencegah terjadinya komplikasi pada ibu yang harus menjalani atau memilih

SC sebagai jalan untuk melahirkan bayi. Untuk itu, dibutuhkan tenaga medis

profesional yang mampu memahami dan menerapkan perawatan luka pasca SC

dengan baik dan benar.

1.2 Batasan Masalah

Case report session ini akan membahas definisi, indikasi, kontraindikasi,

dan komplikasi pada perawatan luka pasca SC.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan

penulisan

case

report

session

ini

adalah

untuk

menambah

wawasan sebagai dokter muda mengenai perawatan luka pasca SC.

1.4 Metode Penulisan

Metode

penulisan

case

report

session

ini

merupakan

studi

keperpustakaan yang merujuk ke beberapa literatur.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Seksio Caesarea

2.1.1

Definisi Seksio Caesarea

Seksio cesarea (SC) adalah suatu persalinan buatan, dimana janin

dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim

dengan syarat rahim dalam keadaan utuh, serta berat janin diatas 500 gram.

Seksio caesarea merupakan prosedur bedah untuk pelahiran janin dengan

insisi melalui abdomen dan uterus. 3,4

2.1.2

Indikasi Seksio Caesarea

Menurut Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan

Neonatal, indikasi SC adalah sebagai berikut: 5

1. Indikasi dari ibu

a. Proses

persalinan

normal

persalinan normal.

yang

lama

atau

kegagalan

proses

b. Ibu dengan masalah kesehatan seperti jantung, tekanan darah

tinggi atau penderita HIV.

c. Ibu dengan panggul sempit.

d. Riwayat memiliki masalah pada penyembuhan perineum pada

proses persalinan sebelumnya.

e. Riwayat SC sebelumnya.

2. Indikasi dari janin

a. Detak jantung janin melambat.

b. Posisi janin sungsang atau melintang.

c. Janin terlalu besar.

d. Plasenta previa.

e. Disproporsi kepala panggul.

2.1.3 Jenis Seksio Caesarea

Menurut Wiknjosastro, SC dapat terbagi menjadi tiga jenis, yaitu: 3

1. Seksio caesarea transperitonealis profunda (SCTPP)

Merupakan jenis pembedahan yang paling banyak dilakukan dengan

cara

menginsisi

di

segmen

bagian

bawah

uterus.

Beberapa

keuntungan menggunakan jenis pembedahan ini, yaitu perdarahan

akibat luka insisi tidak banyak, bahaya peritonitis tidak besar, parut

uterus umumnya kuat, sehingga bahaya ruptur uteri di kemudian hari

tidak besar.

2. Seksio caesarea klasik

Merupakan tindakan pembedahan dengan pembuatan insisi pada

bagian tengah dari korpus uteri sepanjang 10-12 cm dengan ujung

bawah di atas batas plika vesio uteri. Tujuan insisi ini dibuat hanya

jika ada halangan untuk melakukan proses SCTPP, misalnya uterus

melekat dengan kuat pada dinding perut karena riwayat persalinan SC

sebelumnya, insisi di segmen bawah uterus menimbulkan bahaya.

Kerugian dari jenis pembedahan ini adalah lebih besarnya risiko

peritonitis dan 4 kali lebih berisiko mengalami ruptur uteri pada

kehamilan

selanjutnya.

Setelah

dilakukan

tindakan

SC

klasik

sebaiknya dilakukan sterilisasi atau histerektomi untuk menghindari

risiko yang ada.

3.

Seksio cesarea ekstraperitoneal

Insisi

pada

dinding

dan

fasia

abdomen

dan

musculus

rectus

dipisahkan

secara

tumpul.

Vesika

urinaria

diretraksi

ke

bawah

sedangkan

lipatan

peritoneum

dipotong

ke

arah

kepala

untuk

memaparkan segmen bawah uterus. Jenis pembedahan ini dilakukan

untuk mengurangi bahaya dari infeksi puerperal, namun dengan

adanya kemajuan pengobatan terhadap infeksi, pembedahan Sectio

Caesarea

ini

tidak

banyak

lagi

melakukan pembedahannya.

2.1.4 Komplikasi Seksio Caesarea

dilakukan

karena

sulit

dalam

Banyak ibu hamil yang meminta tindakan SC tanpa rekomendasi

medis, diduga karena kurangnya informasi tentang hal tersebut. Padahal,

risiko SC cukup banyak dan serius, sehingga jauh lebih berbahaya

dibanding persalinan normal, dan tidak hanya berdampak pada ibu,

namun janin juga berisiko. Berikut ini adalah beberapa komplikasi

operasi SC, yaitu: 5

a. Infeksi pada bekas jahitan

Apabila penyembuhan luka jahitan tidak sempurna, maka kuman

lebih mudah menginfeksi dan akan memperparah luka.

b. Kematiaan saat persalinan

Beberapa penelitian menunjukkan angka kematian ibu pada operasi

SC lebih tinggi dibanding persalinan normal. Kematian umumnya

disebabkan

kesalahan

pembiusan

ditangani dengan cepat.

atau

perdarahan

yang

tidak

c.

Sobeknya jahitan

Ada tujuh lapis jahitan yang dibuat saat operasi SC, yaitu jahitan pada

kulit, lapisan lemak, sarung otot, otot perut, lapisan dalam perut,

lapisan luar rahim, dan rahim. Jahitan ini bisa sobek pada persalinan

berikutnya. Makin sering menjalani operasi SC, maka makin besar

resiko terjadinya sobekan.

d. Masalah pernafasan

Bayi

yang

lahir

melalui

operasi

caesar

cenderung

mempunyai

masalah pernafasan, yaitu nafas menjadi tidak teratur.

2.2

Luka

2.2.1

Definisi Luka

Luka adalah rusaknya kesatuan/komponen jaringan, dimana secara

spesifik terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang. 7 Ketika luka

timbul, beberapa efek akan muncul:

a. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ

b. Respon stres simpatis

c. Perdarahan dan pembekuan darah

d. Kontaminasi bakteri

e. Kematian sel

2.2.2

Klasifikasi Luka

Menurut tingkat Kontaminasi terhadap luka: 7,8

a. Clean Wounds (Luka bersih), yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana

tidak terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem

pernafasan, pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih

biasanya menghasilkan luka yang tertutup; jika diperlukan dimasukkan

drainase tertutup (misal; Jackson Pratt). Kemungkinan terjadinya

infeksi luka sekitar 1% 5%.

b. Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi), merupakan

luka pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau

perkemihan dalam kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi,

kemungkinan timbulnya infeksi luka adalah 3% 11%.

c. Contamined Wounds (Luka terkontaminasi), termasuk luka terbuka,

fresh, luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar

dengan teknik aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna; pada

kategori

ini

juga

termasuk

insisi

akut,

inflamasi

nonpurulen.

Kemungkinan infeksi luka 10% 17%.

d. Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi), yaitu terdapatnya

mikroorganisme pada luka.

Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka, dibagi menjadi:

a. Stadium I : Luka Superfisial (“Non-Blanching Erithema) : yaitu luka

yang terjadi pada lapisan epidermis kulit.

b. Stadium II : Luka “Partial Thickness” : yaitu hilangnya lapisan kulit

pada lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka

superficial dan adanya tanda klinis seperti abrasi, blister atau lubang

yang dangkal.

c. Stadium III : Luka “Full Thickness” : yaitu hilangnya kulit keseluruhan

meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas

sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya.

Lukanya sampai pada lapisan epidermis, dermis dan fasia tetapi tidak

mengenai otot. Luka timbul secara klinis sebagai suatu lubang yang

dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya.

d. Stadium IV : Luka “Full Thickness” yang telah mencapai lapisan otot,

tendon dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas.

Menurut waktu penyembuhan luka dibagi menjadi:

a. Luka akut yaitu luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep

penyembuhan yang telah disepakati.

b. Luka kronis yaitu luka yang mengalami kegagalan dalam proses

penyembuhan, dapat karena faktor eksogen dan endogen.

2.2.3 Proses Penyembuhan Luka

Tubuh secara normal akan berespon terhadap cedera dengan jalan

“proses peradangan”, yang dikarakteristikkan dengan lima tanda utama:

bengkak (swelling), kemerahan (redness), panas (heat), Nyeri (pain) dan

kerusakan fungsi (impaired function). 6,8

Proses penyembuhannya mencakup beberapa fase:

a. Fase Inflamasi

Fase inflamasi adalah adanya respon vaskuler dan seluler yang terjadi

akibat perlukaan yang terjadi pada jaringan lunak. Tujuan yang hendak

dicapai adalah menghentikan perdarahan dan membersihkan area luka

dari benda asing, sel-sel mati dan bakteri untuk mempersiapkan

dimulainya

proses

penyembuhan.

Pada

awal

fase

ini

kerusakan

pembuluh darah akan menyebabkan keluarnya platelet yang berfungsi

sebagai hemostasis. Platelet akan menutupi vaskuler yang terbuka (clot)

dan

juga

mengeluarkan

“substansi

vasokonstriksi”

yang

mengakibatkan pembuluh darah kapiler vasokonstriksi. Selanjutnya

terjadi penempelan endotel yang akan menutup pembuluh darah.

Periode ini berlangsung 5-10 menit dan setelah itu akan terjadi

vasodilatasi kapiler akibat stimulasi saraf sensoris (Local sensory nerve

endding), local reflex action dan adanya substansi vasodilator (histamin,

bradikinin,

serotonin

dan

sitokin).

Histamin

juga

menyebabkan

peningkatan permeabilitas vena, sehingga cairan plasma darah keluar

dari pembuluh darah dan masuk ke daerah luka dan secara klinis terjadi

oedema jaringan dan keadaan lingkungan tersebut menjadi asidosis.

Secara klinis fase inflamasi ini ditandai dengan : eritema, hangat pada

kulit, oedema dan rasa sakit yang berlangsung sampai hari ke-3 atau

hari ke-4.

b. Fase Proliferatif

Proses kegiatan seluler yang penting pada fase ini adalah memperbaiki

dan menyembuhkan luka dan ditandai dengan proliferasi sel. Peran

fibroblas sangat besar pada proses perbaikan yaitu bertanggung jawab

pada persiapan

menghasilkan

produk

struktur

protein

yang akan

digunakan selama proses reonstruksi jaringan.

Pada jaringan lunak yang normal (tanpa perlukaan), pemaparan sel

fibroblas sangat jarang dan biasanya bersembunyi di matriks jaringan

penunjang. Sesudah terjadi luka, fibroblas akan aktif bergerak dari

jaringan sekitar luka ke dalam daerah luka, kemudian akan berkembang

(proliferasi) serta mengeluarkan beberapa substansi (kolagen, elastin,

hyaluronic acid, fibronectin dan proteoglycans) yang berperan dalam

membangun (rekontruksi) jaringan baru. Fungsi kolagen yang lebih

spesifik adalah membentuk cikal bakal jaringan baru (connective tissue

matrix)

dan

dengan

dikeluarkannya

substrat

oleh

fibroblas,

memberikan pertanda bahwa makrofag, pembuluh darah baru dan juga

fibroblas

sebagai

kesatuan

unit

dapat

memasuki

kawasan

luka.Sejumlah sel dan pembuluh darah baru yang tertanam didalam

jaringan baru tersebut disebut sebagai jaringan “granulasi”.

Fase proliferasi akan berakhir jika epitel dermis dan lapisan kolagen

telah terbentuk, terlihat proses kontraksi dan akan dipercepat oleh

berbagai growth faktor yang dibentuk oleh makrofag dan platelet.

c. Fase Maturasi

Fase ini dimulai pada minggu ke-3 setelah perlukaan dan berakhir

sampai kurang lebih 12 bulan. Tujuan dari fase maturasi adalah ;

menyempurnakan

terbentuknya

jaringan

baru

menjadi

jaringan

penyembuhan

yang

kuat

dan

bermutu.

Fibroblas

sudah

mulai

meninggalkan jaringan granulasi, warna kemerahan dari jaringa mulai

berkurang karena pembuluh mulai regresi dan serat fibrin dari kolagen

bertambah banyak untuk memperkuat jaringan parut. Kekuatan dari

jaringan parut akan mencapai puncaknya pada minggu ke-10 setelah

perlukaan.

Untuk mencapai penyembuhan yang optimal diperlukan keseimbangan

antara kolagen yang diproduksi dengan yang dipecahkan. Kolagen

yang

berlebihan

akan

terjadi

penebalan

jaringan

parut

atau

hypertrophic

scar,

sebaliknya

produksi

yang

berkurang

akan

menurunkan kekuatan jaringan parut dan luka akan selalu terbuka.

Luka dikatakan sembuh jika terjadi kontinuitas lapisan kulit dan

kekuatan

jaringan

parut

mampu

atau

tidak

mengganggu

untuk

melakukan aktifitas normal. Meskipun proses penyembuhanluka sama

bagi setiap penderita, namun outcome atau hasil yang dicapai sangat

tergantung pada kondisi biologis masing-masing individu, lokasi serta

luasnya luka. Penderita muda dan sehat akan mencapai proses yang

cepat dibandingkan dengan kurang gizi, diserta penyakit sistemik

(diabetes mielitus).

2.2.4 Faktor yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka 8

a. Usia

Semakin tua seseorang maka akan menurunkan kemampuan

penyembuhan jaringan.

b. Infeksi

Infeksi tidak hanya menghambat proses penyembuhan luka tetapi

dapat juga menyebabkan kerusakan pada jaringan sel penunjang,

sehingga akan menambah ukuran dari luka itu sendiri, baik panjang

maupun kedalaman luka.

c. Hipovolemia

Kurangnya volume darah akan mengakibatkan vasokonstriksi

dan

menurunnya

penyembuhan luka.

d. Hematoma

ketersediaan

oksigen

dan

nutrisi

untuk

Hematoma merupakan bekuan darah.Seringkali darah pada luka

secara bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi. Tetapi

jika terdapat bekuan yang besar hal tersebut memerlukan waktu untuk

dapat diabsorbsi tubuh, sehingga menghambat proses penyembuhan

luka dan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri.

e. Benda asing

Benda

asing

seperti

pasir

atau

mikroorganisme

akan

menyebabkan

terbentuknya

suatu

abses

sebelum

benda

tersebut

diangkat. Abses ini timbul dari serum, fibrin, jaringan sel mati dan

lekosit (sel darah merah), yang membentuk suatu cairan yang kental

yang disebut dengan nanah (“Pus”).

f. Iskemik

Iskemi merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan

suplai darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah.

Hal ini dapat terjadi akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. Dapat

juga

terjadi

akibat

faktor

internal

yaitu

adanya

obstruksi

pada

pembuluh darah itu sendiri.

 

g. Diabetes

 

Hambatan

terhadap

sekresi

insulin

akan

mengakibatkan

peningkatan gula darah, nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel.

Akibat hal tersebut juga akan terjadi penurunan protein-kalori tubuh.

h. Pengobatan

Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh

terhadap cedera

Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan

Antibiotik : efektif diberikan segera sebelum pembedahan untuk

bakteri penyebab kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan setelah

luka pembedahan tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi

intravaskular.

2.2.5

Komplikasi dari Luka 6,9

a. Infeksi Luka Operasi (ILO)

Merupakan

infeksi

luka

dimana

insisi

luka

operasi

terkontaminasi. Adanya rongga pada jahitan, hematoma dan sisa

benang

operasi

dapat

menjadi

predisposisi

infeksi.

Persiapan

prabedah yang tidak adekuat seperti antibiotik profilak, dan strelititas

selama operasi sangat berpengaruh. Proses peradangan biasanya

muncul dalam 36-48 jam, denyut nadi dan temperatur tubuh pasien

biasanya

meningkat,

sel

darah

putih

meningkat,

menjadi bengkak, hangat dan nyeri.

b. Dehiscence dan Eviserasi

luka

biasanya

Dehiscene: Terbukanya jahitan luka partial ataupun total.

Eviserasi: keluarnya isi dari dalam luka.

Sejumlah faktor meliputi, kegemukan, kurang nutrisi, ,multiple

trauma, gagal untuk menyatu, batuk yang berlebihan, muntah, dan

dehidrasi, mempertinggi resiko pasien mengalami dehiscence luka.

Dehiscence luka dapat terjadi 4 5 hari setelah operasi sebelum

kolagen meluas di daerah luka.

c. Keloid dan jaringan parut hipertrofik

Keloid dan jaringan parut hipertrofik timbul karena reaksi serat

kolagen yang berlebihan dalam proses penyembuhan luka.

2.3

Perawatan Luka Post Operasi SC

2.3.1

Prinsip Perawatan Luka 8

Tujuan

perawatan

luka

adalah

untuk

mencegah

infeksi,

menilai

kerusakan

yang

terjadi

pada

menyembuhkan luka.

struktur

yang

terkena

a. Pembalutan dan perawatan luka

dan

untuk

Penutup/pembalut luka berfungsi sebagai penghalang dan pelindung

terhadap infeksi selama proses penyembuhan yang dikenal sebagai

reepitelisasi. Pertahankan penutupan luka ini selama hari pertama

setelah

pembedahan

untuk

mencegah

reepitelisasi berlangsung.

infeksi

selama

proses

Jika pada pembalut luka terdapat perdarahan sedikit atau keluar cairan

tidak terlalu banyak, jangan mengganti pembalut, tapi:

Perkuat pembalutnya

Pantau keluar cairan dan darah

Jika perdarahan tetap bertambah banyak atau sudah membasahis

etengahnya

atau

lebih,

buka

pembalut,

inspeksi

luka,

atasi

penyebabnya dan ganti dengan pembalut baru.

Jika pembalut agak kendor, jangan ganti pembalut tapi diplester

untuk mengencangkan. Ganti pembalut dengan cara yang steril.

Luka harus dijaga tetap kering dan bersih, tidak boleh terdapat

bukti infeksi atau seroma sampai ibu diperbolehkan pulang dari

rumah sakit.

b. Infeksi Luka

a. Tanda klinis: Nyeri, bengkak, kemerahan, panas dan bisa bernanah.

b. Tatalaksana

Buka luka jika dicurigai terdapat nanah.

Bersihkan luka dengan cairan desinfektan.

Tutup ringan luka dengan kasa lembab. Ganti balutan setiap hari,

lebih sering bila perlu.

Berikan antibiotik sampai sampai 48 jam bebas demam.

c. Memulangkan pasien

Perawatan 3-4 hari cukup untuk pasien. Diedukasi pasien untuk

perawatan luka (mengganti kasa).

Pasien diminta kontrol setelah 7 hari pasien pulang.

Pasien

perlu

segera

datang

kembali

jika

demam, nyeri perut berlebihan.

d. Pelepasan jahitan

terdapat

perdarahan,

Jahitan fasia merupakan hal uatama pada bedah abdomen

Pelepasan jahitan kulit 5 hari seletah penjahitan.

2.3.2 Perawatan Luka di Rumah

Waktu penyembuhan pasca operasi caaesar sangat lama dibanding

persalinan normal. Waktu normal penyembuhan luka operasi caesar lebih

kurang

3

sampai

4

minggu,

atau

lebih

lama.

Penting

mengetahui

perawatan

luka

caesar,

karena

infeksi

akan

memperlama

masa

penyembuhan. Cara merawat luka operasi dirumah:

a. Menjaga kebersihan luka

Menjaga luka bekas operasi sangat penting. Seperti ketika selesai

mandi

bersihkan

luka

bekas

operasi

dengan

cairan

antiseptik

dengan cotton bud atau kapas. Pastikan kedua tangan bersih.

Hindari menutup terlalu ketat.

b. Penggunaan pakaian

Gunakan pakaian longgar dan juga nyaman. Diharuskan menutup

luka dengan perban yang tidak terlalu ketat agar tidak iritasi.

c. Olahraga

Lakukan olahraga ringan, seperti jalan santai akan membantu

proses penyembuhan,sirlulasi darah tubuh meningkat, sistem imun

meningkat. Jalan santai dianjurkan kurang lebih 15 menit.

d. Pola makan

Konsumsi makanan sehat mengandung banyak zat gizi serta nutrisi

seimbang. Konsumsilah makanan mengandung vitamin A, vitamin

C, protein yang cukup, dan zink.

BAB 3

LAPORAN KASUS

3.1 Laporan Kasus Ibu

IDENTITAS

Nama

: Ny. EY

No. MR

: 01.22.57

Usia

: 33 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Limau Manis, Padang

Pekerjaan

: Karyawan swasta

Agama

: Islam

Status Menikah

: Menikah

Tanggal Masuk RS

: 21 Mei 2019

ANAMNESIS

Seorang pasien perempuan berusia 33 tahun datang ke Poli Kebidanan RSP

Universitas Andalas pada tanggal 21 Mei 2019 dengan:

Keluhan Utama:

Pasien kontrol luka post operasi SC.

Riwayat Penyakit Sekarang:

- Nyeri pada luka bekas operasi (+), bengkak (-), kemerahan (+), nanah (-),

darah (-)

- ASI (+)

- Perdarah pervaginam (-)

- BAK (+)

Riwayat Kehamilan/KB/Ginekologi:

Riwayat menstruasi: menarche usia 14 tahun, haid teratur, 1x tiap bulan, lamanya

3-6 hari, 2-3x ganti pembalut setiap hari, nyeri haid (+).

Riwayat Persalinan:

- Pasien telah melahirkan anak ke-3.

- Riwayat SC 2 kali.

- Riwayat abortus 1 kali.

Riwayat Penyakit Dahulu:

Tidak ada riwayat penyakit jantung, paru, ginjal, hepar, diabetes melitus, dan

hipertensi.

Riwayat Penyakit Keluarga:

Tidak ada anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit keturunan, penyakit

menular, dan kejiwaan.

Riwayat Pekerjaan, Sosial Ekonomi, Kejiwaan & Kebiasaan:

- Pasien seorang karyawan swasta.

- Riwayat kebiasaan: merokok, minum alkohol, dan narkoba tidak ada.

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum : Ringan

Kesadaran

: CMC

Tekanan Darah

: 110/80 mmHg

Nadi

: 80x/i

Napas

: 18x/i

Anemis

: -/-

Suhu

: 36,5 o C

Edema

: -\-

Kulit

: teraba hangat, turgor baik

KGB

: tidak teraba pembesaran KGB

Kepala

: normocephal

Rambut

: rambut hitam dan tidak mudah rontok

Mata

: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

Telinga

: tidak ada kelainan

Hidung

: tidak ada kelainan

Tenggorokan

: tidak ada kelainan

Gigi & Mulut

: karies dentis (-)

Leher

: JVP 5-2 cmH 2 O, pembesaran kelenjar tiroid (-)

Dada

: cor dan pulmo dalam batas normal

 

Perut

: status obstetrikus

Punggung

: tidak ada kelainan

Alat Kelamin

: status obstetrikus

Anus

: tidak dilakukan

Ekstremitas

: akral hangat, CRT < 2 detik

 

Status Obstetrikus

Abdomen

Inspeksi

: tampak luka bekas operasi SC

Palpasi

: supel, nyeri tekan (+)

Auskultasi

: bising usus (+)

Genitalia

: tidak diperiksa

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium

Tidak dilakukan.

USG

Tidak ada

DIAGNOSIS

P3A1H2 post SCTPP atas indikasi bekas SC 1 kali

TATALAKSANA

- Kloramfenikol salap

- Antalgin 4x1 cap

BAB 4

DISKUSI

Pasien perempuan usia 33 tahun datang ke Poliklinik Kebidanan RSP

Universitas Andalas pada tanggal 21 Mei 2019 dengan keluhan utama kontrol

luka post operasi SC.

Pada pasien ini setelah operasi SC dipasangkan kasa steril pada bekas

sayatan SC. Sehabis operasi, luka yang timbul langsung ditutup dengan kasa steril

selagi di ruang tindakan dan biasanya tidak perlu diganti sampai diangkat

jahitannya, kecuali bila terjadi perdarahan sampai darahnya menembus di atas

kasa, barulah diganti dengan kasa steril. Pada saat mengganti kasa yang lama

perlu diperhatikan teknik asespsis supaya tidak terjadi infeksi. Jahitan luka dibuka

setengahnya pada hari kelima dan sisanya dibuka pada hari ke enam atau ke tujuh.

Untuk menghindarkan infeksi dan risiko sangat tinggi maka diperlukan pemberian

antibiotic profilaksis, yang dalam kasus ini diberikan Chloramphenicol salf.

Luka abdomen harus diinspeksi setiap hari. Umumnya luka jahitan pada kulit

dilepaskan 3-5 hari postoperasi dan digantikan dengan Steri-Strips. Idealnya,

balutan luka diganti setiap hari dan diganti menggunakan bahan hidrasi yang baik.

Pada luka yang nekrosis, digunakan balutan tipis untuk mengeringkan dan

mengikat

jaringan

sekitarnya

ke

balutan

dalam

setiap

penggantian

balutan.

Pembersihan yang sering harus dihindari karena hal tersebut menyebabkan jaringan

vital terganggu dan memperlambat penyembuhan luka.

Perawatan 3-4 hari di rumah sakit cukup untuk mengembalikan fisik ibu yang

baru bersalin dengan operasi. Biasanya, pasien diminta datang kembali ke dokter

untuk pemantauan perawatan luka tujuh hari setelah pulang. Pasien boleh andi

seperti biasa, setelah hari ke-5 operasi. Setelah itu, keringkan dan rawat luka seperti

biasa.

Hal-hal yang perlu dilakukan untuk perawatan luka post operasi caesarea di

rumah yaitu menjaga kebersihan luka, melakukan olahraga ringan, dan makan

makanan bergizi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Andayasari L, Muljati S, Sihombing M, Arlinda D, Opitasari C, Mogsa DF.

Proporsi Seksio Sesarea dan Faktor yang Berhubungan dengan Seksio Sesarea

di Jakarta. Buletin Penelitian Kesehatan. 2015 Juni;43(2): 105-16.

2. Gondo HK, Sugiharta K. Profil Operasi Seksio Sesarea di SMF Obstetri dan

Ginekologi RSUP Sangalah Denpasar Bali Tahun 2001 dan 2006. CDK.

2010;37(2): 97-101.

3. Praworihardjo S. Ilmu Kebidanan ed. 4. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono

Praworihardjo; 2008.

4. Mansjoer A. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika;

2002.

5. Prawirohardjo S. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan

Neonatal. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2009.

6. Adrriaansz G., Saiffudin AB, Wiknjosastro GH, Waspodo D. Pengantar Dalam :

Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Edisi

Pertama. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta 2000

7. Wibowo B, Parathon H, Antibiotika profilaksis untuk pembedahan. Materi

pelatihan

antibiotika

profilaksis,

Bagian

SMF

Kebidanan

dan

penyakit

kandungan FK UNDIP/RS. Dr. Kariadi Semarang, Desember 2003.

8. Lorenz HP, Longaker MT. Wounds: Biology, pathology, and management. In:

Surgery basic science and clinical evidence. Editor: Norton JA, Spinger-Verlag,

New York, vol 1 2011:221-37

9. Mangram AJ, Horan TC, Pearson ML. Guideline for prevention of surgical site

infection. In: Infection control and hospital epidemiologi. Vol 20 no. 4 March

2003 pp.250-278.