Anda di halaman 1dari 10

B.

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Klien dengan Kolitis Ulseratif

1. Pengkajian

1. Identitas

1) Identitas pasien

Meliputi : Nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama, pekerjaan, alamat, tanggal masuk rumah sakit,
tanggal pemeriksaan, diagnosa medis.

2) Identitas penanggung jawab

Meliputi : Nama, umur, pendidikan, pekerjaan, alamat, dan hubungan dengan klien.

2. Keluhan utama

Biasanya pada klien yang terkena kolitis ulseratif mengeluh nyeri perut, diare, demam, anoreksia.

3 Riwayat kesehatan

- Riwayat kesehatan sekarang

Perdarahan anus, diare dan sakit perut, peningkatan suhu tubuh, mual, muntah, anoreksia, perasaan
lemah, dan penurunan nafsu makan.

- Riwayat kesehatan dahulu

Untuk menentukan penyakit dasar kolitis ulseratif. Pengkajian predisposisi seperti genetik, lingkungan,
infeksi, imunitas, makanan dan merokok perlu di dokumentasikan. Anamnesis penyakit sistemik, seperti
DM, hipertensi, dan tuberculosis dipertimbangkan sebagai sarana pengkajian proferatif.

4. Pemeriksaan Fisik

a) Keadaan umum

b) Vital sign, meliputi

- Tekanan darah : Dalam batas normal (120/80 mmHg)


- Nadi : Takikardia atau diatas normal (> 100 x/menit)

- Suhu : Klien mengalami demam (> 37,5o C )

- Respirasi : Dalam batas normal (16- 20 x/menit)

c) Pemeriksaan sistem tubuh

· Sistem pencernaan : - Terjadi pembengkakan pada abdomen

- Nyeri tekan pada abdomen,

- Bising usus lebih dari normal (normalnya 5-35 x/menit)

- Anoreksia

· Sistem pernafasan : Respirasi normal (16-20 x/menit).

· Sistem kardiovaskuler : Peningkatan nadi (takikardi)

· Sistem neurologi : - Peningkatan suhu tubuh (demam)

- Kelemahan pada anggota gerak

· Sistem integumen : Kulit dan membran mukosa kering dan turgornya jelek.

· Sistem musculoskeletal : Kelemahan otot dan tonus otot buruk

· Sistem eliminasi : - Pada saat buang air besar mengalami diare

- Feses mengandung darah


d) Pola aktivitas sehari-hari berhubungan dengan :

- Aspek biologi : Keletihan, kelemahan, anoreksia, penurunan berat badan.

- Aspek psiko : Perilaku berhati-hati, gelisah.

- Aspek sosio : Ketidakmampuan aktif dalam sosial.

5. Pemeriksaan Diagnostik

· Kolonoskopi, ulserasi panjang terbagi oleh mukosa normal yang timbul di kolon kanan.

· Enema barium disertai pemeriksaan sinar X dan sigmoidoskopi akan memperlihatkan perdarahan
mukosa disertai ulkus

· Analisis darah akan memperlihatkan anemia dan penurunan kadar kalium

2. Diagnosa Keperawatan

Menurut Brunner & Suddarth, 2002, hal 1108, diagnosa keperawatan yang mungkin

muncul pada pasien dengan kolitis ulseratif :

1. Diare berhubungan dengan proses inflamasi

2. Nyeri abdomen, berhubungan dengan peningkatan peristaltik dan inflamasi

3. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh, berhubungan dengan pembatasan diet,
mual,

dan malabsorpsi

4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan keletihan.

3. Perencanaan

· Diagnosa 1 : Diare berhubungan dengan proses inflamasi

Ø Definisi :

Pengeluaran feses lunak dan tidak bermasa ( Wilkson, Judith M & Ahern,Nancy R.2009 )
Ø Tujuan :

Kebutuhan cairan dan elektrolit dapat terpenuhi secara adekuat

Ø Kriteria hasil :

- Turgor kulit kembali normal

- Input dan output seimbang

- Membran mukosa lembab

Intervensi

Rasional

Mandiri

- Awasi masukan dan keluaran, karakter dan jumlah feses, perkirakan kehilangan yang tak terlihat
misalnya berkeringat.

- Kaji tanda vital (TD, nadi, suhu)

- Observasi kulit kering berlebihan dan membran mukosa, penurunan turgor kulit, pengisian kapiler
lambat

- Pertahankan pembatasan per oral, tirah baring: hindari kerja

Kolaborasi

- Berikan cairan parenteral (infus)


- Pemberian obat anti diare

- Memberikan informasi tentang keseimbangan cairan.

- Hipotensi (termasuk postural), takikardia, demam dapat menunjukan respon terhadap dan efek
kehilangan cairan.

- Menunjukan kehilangan cairan berlebihan atau dehidrasi

- Kolon distirahatkan untuk menyembuhkan dan untuk menurunkan kehilangan cairan usus.

- Cairan parenteral membantu mengganti cairan elektrolit untuk memperbaiki kehilangan cairan.

- Menurunkan kehilangan cairan dari usus

· Diagnosa 2 : Nyeri abdomen, berhubungan dengan peningkatan peristaltik dan

inflamasi

Ø Definisi :

pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan yang aktual /
potensial/ digambarkan dengan istilah seperti ( International Asociation for the study of pain ) : awitan
yang tiba-tiba atau perlahan dengan intensitas ringan sampai berat dengan akhir yang dapat diantisispasi
atau dapat diramalkan dan durassinya kurang dari enam bulan ( Wilkson, Judith M & Ahern,Nancy
R.2009 )

Ø Tujuan :

Mengurangi rasa nyeri dan meningkatkan rasa nyaman.


Ø Kriteria hasil :

- Klien tampak rileks

- Klien tidak mengeluh nyeri lagi

Intervensi

Rasional

Mandiri

- Observasi tingkat nyeri, lokasi nyeri, frekuensi dan tindakan penghilang yang digunakan.

- Berikan pilihan tindakan nyaman : dorong teknik relaksasi, distraksiaktifitas hiburan

Kolaborasi

- Pemberian obat analgetik

- Informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan keefektifan intervensi.

- Meningkatkan relaksasi dan memampukan pasien untuk memfokuskan perhatian : dapat


meningkatkan koping

- Dapat membantu mengurangi nyeri

· Diagnosa 3 : Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh, berhubungan dengan


pembatasan diet, mual, dan malabsorpsi

Ø Definisi :

Asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik ( Wilkson, Judith M &
Ahern,Nancy R.2009 )
Ø Tujuan :

Memenuhi dan mempertahankan kebutuhan nutrisi yang adekuat.

Ø Kriteria Hasil :

- Berat badan meningkat

- Pola eliminasi kembali normal

Intervensi

Rasional

Mandiri

- Timbang berat badan tiap hari.

- Anjurkan istirahat sebelum makan.

- Berikan kebersihan oral.

- Batasi makanan yang dapat menyebabkan kram abdomen, flatus (misalnya produk susu).

Kolaborasi

- Pertahankan puasa sesuai indikasi.


- Kolaborasi dengan tim gizi, untuk Tambahkan diet sesuai indikasi misalnya cairan jernih maju menjadi
makanan yang dihancurkan. Kemudian protein tinggi, tinggi kalori dan rendah serat sesuai indikasi.

- Berikan obat sesuai dengan indikasi.

- Berikan nutrisi parenteral total, terapi IV sesuai indikasi.

- Memberikan informasi tentang kebutuhan diet atau keefektifan terapi.

- Menenangkan peristaltik dan meningkatkan energi untuk makan.

- Mulut yang bersih dapat meningkatkan rasa makanan.

- Mencegah serangan akut/eksaserbasi gejala.

- istirahat usus menurunkan peristaltic dan diare dimana menyebabkan malabsorpsi atau kehilangan
nutrisi.

- Memungkinkan saluran usus untuk mematikan kembali proses pencernaan. Protein perlu untuk
penyembuhan integritas jaringan.
- Membantu dalam mengatasi masalah malabsorpsi nutrisi.

- Program ini mengistirahatkan saluran GI sementara memberikan nutrisi penting.

· Diagnosa 4 : Intoleransi aktifitas berhubungan dengan keletihan

Ø Definisi :

Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk melanjutkan atau menyelesaikan aktifitas sehari-
hari yang ingin atau harus dilakukan ( Wilkson, Judith M & Ahern,Nancy R.2009 )

Ø Tujuan :

Mengembalikan kemampuan pasien dalam beraktivitas

Ø Kriteria hasil :

Klien dapat beraktivitas dengan normal kembali

Intervensi

Rasional

- Memfasilitasi aktivitas yang tidak dapat pasien lakukan.

- Memberi motivasi

- Lakukan latihan gerakan pada pasien


- Dapat membantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya.

- Motivasi akan memberi dorongan pasien untuk dapat melakukan aktivitas kembali.

- Mengembalikan kemampuan gerak pasien.