Anda di halaman 1dari 7

SEJARAH INDONESIA MASA ISLAM

KELOMPOK 1 :
1.Ardhiyanto Wisnu
2. Citra Ratna Agustina
3. Faizah Zukhrifa
4. Marchiliarno Aditya Rinaldi
5. M. Fadhli
6. Nabila Yasmin
7. Novinda Ayu Rizki
8. Zulkifli Pelana
Prodi : Pendidikan Sejarah (A) 2012

Fakultas Ilmu Sosial


Universitas Negeri Jakarta
2012
1. LATAR BELAKANG KEDATANGAN BANGSA EROPA KE NUSANTARA
Hindia Timur telah lama dikenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah seperti
vanili, lada, dan cengkeh. Rempah-rempah ini digunakan untuk mengawet makanan, bumbu
masakan, bahkan obat
Namun, jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453 ke Turki Utsmani mengakibatkan
pasokan rempah-rempah ke wilayah Eropa terputus. Hal ini dikarenakan boikot yang
dilakukan oleh Turki Utsmani. Situasi ini mendorong orang-orang Eropa menjelajahi jalur
pelayaran ke wilayah yang banyak memiliki bahan rempah-rempah, termasuk kepulauan
Nusantara (Indonesia). Dalam perkembangannya, mereka tidak saja berdagang, tetapi juga
menguasai sumber rempah-rempah di negara penghasil. Dimulailah era kolonialisasi Barat di
Asia. pada bab ini akan diuraikan tentang kedatangan bangsa Eropa hingga terbentuknya
kekuasaan kolonial Barat di Indonesia.

A. Kedatangan Bangsa Portugis


Portugis datang ke Nusantara dengan latar belakang ingin mencari sumber rempah-
rempah, dan menyebarkan agama Katolik. Dimana pada abad ke 14 rempah-rempah
merupakan komoditi yang penting di Eropa. Setelah Konstatinopel Jatuh ketangan Turki
Utsmani pada 1453 Portugis berupaya menjadi pusat perdagangan rempah-rempah di Eropa
yang berpusat di kota Lisbon. Dengan kata lain bangsa Portugis hendak memonopoli
perdagangan rempah di Eropa sehingga memberikan keuntungan yang besar.1

Pada tahun 1497, Vasco da Gama sampai di India. Pada tahun 1503, Albuquerque
berangkat menuju India. Pada tahun 1510, ia menaklukkan Goa, dan pada tahun 1511,
menaklukkan Malaka. Portugis datang ke Nusantara dengan dimulai menaklukkan Malaka
pada 1511 dibawah pimpinan Afonso deAlbuquerque. Portugis hendak menjadikan Malaka
menjadi pangkalan militer untuk menahan serangan orang melayu.2 Selain itu Alfonso
memerintahkan kapal-kapal untuk berlayar mencari “kepulauan rempah” yakni Maluku.
Francisco Serrao pada tahun 1512 mengadakan penyelidikan mengenai kepulauan rempah.
Selain mengadakan penyelidikan dia juga membantu untuk menghadapi musuh yang
menyerang sehingga menyebabkan dirinya disukai oleh penguasa setempat. Portugis berhasil
bekerjasama dengan Ternate, sehingga Portugis dapat memonopoli perdagangan rempah di
Ternate.3

B. Kedatangan Bangsa Spanyol


Latar belakang kedatangan Spanyol ke Nusantara tidak jauh berbeda dengan latar
belakang kedatangan bangsa Portugis, yakni ingin mencari sumber rempah-rempah,
menyebarkan agama Katolik. Dalam pembagian wilayah pelayaran antara Spanyol dan
Portugis ditentukan berdasarkan Perjanjian Thordesillas.

Ekspedisi pelayaran bangsa Spanyol untuk menemukan Kepulauan Rempah melalui


jalur ke arah barat dilakukan oleh armada Magellan.

Magellan pada tahun 1519 memulai pelayarannya dari Spanyol, dengan lima kapal
hitam berlayar dari pelabuhan Sanlucar de Barrameda dengan awak berjumlah 270 orang.
Mereka berlayar ke arah barat melewati Samudera Atlantik kemudian berlayar menyusuri
ujung selatan Benua Amerika. Hal ini merupakan rute yang berbeda dari pendahulunya
Colombus, yang mana Colombus hanya mencapai Karibia tidak mencapai Hindia yang
sebenarnya. Magellan dan para awaknya memasuki Samudra Pasifik pada 28 November 1520
yang menyisakan tiga dari lima kapal saat pertama berlayar.4

Selama empat belas minggu, mereka merayap ke utara dan ke barat sambil
terombang-ambing arah angin yang berubah-ubah. Akhirnya mereka sampai di Filipina pada
tahun 1521 dengan Magellan yang kehilangan nyawanya.5 Perjalanan armada Spanyol ini
terbilang kurang berhasil karena hasil yang didapat berupa rempah-rempah tidak sebanding
dengan jumlah nyawa, perbekalan, dan waktu yang dihabiskan untuk ekspedisi tersebut. Dari
Filipina dengan sisa-sisa ekspedisi Magellan mereka berlayar ke arah Maluku, lalu di Maluku
mereka mencoba berusaha mendekati penguasa setempat, dalam hal ini Kerajaan Tidore.
Selain itu mereka juga berperang melawan Portugis yang bekerjasama dengan Kerajaan
Ternate.

C. Kedatangan Bangsa Belanda


Pada akhir abad ke-16, bangsa Belanda dibawah tekanan yang besar berusaha
melebarkan sayapnya ke seberang lautan. Perang kemerdekaan Belanda melawan Spanyol
membawa perubahan yang besar. Dahulu, bangsa Belanda bertindak sebagai perantara dalam
menjual rempah-rempah secara eceran dari Portugis ke Eropa bagian utara. Menyatunya
takhta Spanyol dengan Portugis pada 1580 mengacaukan jalur mereka untuk mendapatkan
rempah-rempah dari Portugis, hal ini mendorong mereka untuk mencari sendiri sumber
rempah-rempah tersebut, dalam hal ini adalah Asia.6 Bangsa Belanda berlayar ke Nusantara
menggunakan petunjuk dari Jan Huygen van Lin-schoten seorang Belanda yang awalnya
bekerja pada Portugis. Dia menerbitkan bukunya Iti-nerario naer Portugaels Indiesn
(Pedoman Perjalanan ke Timur atau Hindia Portugis), yang memuat peta-peta dan deskripsi
terperinci mengenai penemuan-penemuan Portugis. Dari buku itu bangsa Belanda dapat
mengetahui kekayaan Asia dan problem-problem bangsa Portugis di sana.7 Oleh sebab itu,
bangsa Belanda meningkatkan penyempurnaan konstruksi kapal dan persenjataan mereka.

Pada 1596, pelayaran Belanda yang dipimpin de Houtman tiba di Banten, yang
merupakan pelabuhan lada terbesar di Jawa Barat. Pada 1597, mereka kembali ke Belanda
dengan membawa cukup banyak rempah-rempah di atas kapal mereka. Setelah itu, banyak
perusahaan-perusahaan ekspedisi Belanda bersaing untuk mendapatkan rempah-rempah di
Indonesia. Pada 1598, 22 buah kapal milik lima perusahaan yang berbeda mengadakan
pelayaran. Pada bulan Maret 1599, armada di bawah pimpinan Jacob van Neck tiba di
“Kepulauan Rempah” Maluku, kapal-kapalnya kembali ke Belanda pada 1599-1600 dengan
membawa rempah-rempah yang cukup banyak dan keuntungan sebanyak 400 persen. Terjadi
persaingan antar perwakilan dagang Belanda yang mengakibatkan naiknya harga, sementara
meningkatnya pasokan menyebabkan turunnya keuntungan yang diperoleh. Pada 1598,
parlemen Belanda mengajukan usulan agar perseroan-perseroan yang saling bersaing tersebut
bergabung ke dalam suatu kesatuan. Pada 1602, perseroan-perseroan yang bersaing itu
akhirnya tergabung membentuk Maskapai Hindia Timur, VOC.
2. PERBEDAAN LATAR BELAKANG KEDATANGAN BANGSA PORTUGIS,
SPANYOL, DENGAN BELANDA
Kedatangan bangsa Portugis dan Spanyol memiliki latar belakang yang sama yakni,
ingin mencari sumber rempah-rempah dan menyebarkan agama. Namun, keberadaan mereka
di Nusantara tidak berlangsung lama karena dalam ekspedisinya ke Nusantara mereka
cenderung menggunakan jalan peperangan, sehingga tidak disukai oleh masyarakat setempat.
Karena hal tersebut usaha mereka untuk memonopoli perdagangan rempah di Indonesia tidak
dapat tercapai, karena baik Portugis dan Spanyol saling memperebutkan pengaruh mereka di
Maluku, dan dalam perdagangan pun keduanya tidak memiliki kongsi dagang yang berfungsi
untuk melancarkan usahanya dalam perdagangan di Maluku.

Sedangkan kedatangan bangsa Belanda selain mencari rempah-rempah dan


menyebarkan agama calvinisme, mereka mendirikan tempat berpijak atau pangkalan di Jawa
yang membuat Belanda sangat kuat pengaruhnya di Indonesia. Selain itu, bangsa Belanda
memiliki organisasi kongsi dagang yakni VOC, yang menggabungkan kepentingan para
pedagang Belanda ke dalam suatu kesatuan. Jadi, dalam memonopoli perdagangan rempah di
Indonesia mereka memiliki armada yang kuat dan konstruksi kapal dan persenjataan yang
lebih maju dibandingkan Portugis dan Spanyol.8

3. VOC DAN POLITIK PERDAGANGANNYA


A. Latarbelakang Terbentuknya VOC

Selama abad ke 16 perdagangan rempah-rempah didominasi oleh Portugis dengan


menggunakan Lisbon sebagai pelabuhan utama. Sebelum revolusi di negeri Belanda kota
Antwerp memegang peranan penting sebagai distributor di Eropa Utara, akan tetapi setelah
tahun 1591 Portugis melakukan kerjasama dengan firma-firma dari Jerman, Spanyol dan
Italia menggunakan Hamburg sebagai pelabuhan utama sebagai tempat untuk
mendistribusikan barang-barang dari Asia, memindah jalur perdagangan tidak melewati
Belanda. Namun ternyata perdagangan yang dilakukan Portugis tidak efisien dan tidak
mampu menyuplai permintaan yang terus meninggi, terutama lada. Suplai yang tidak lancar
menyebabkan harga lada meroket pada saat itu. Selain itu Unifikasi Portugal dan Kerajaan
Spanyol (yang sedang dalam keadaan perang dengan Belanda pada saat itu) pada tahun 1580,
menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi Belanda. ketiga faktor tersebutlah yang
mendorong Belanda memasuki perdagangan rempah-rempah Interkontinental. Akhirnya Jan
Huyghen van Linschoten dan Cornelis de Houtman menemukan "jalur rahasia" pelayaran
Portugis, yang membawa pelayaran pertama Cornelis de Houtman ke Banten, pelabuhan
utama di Jawa pada tahun 1595-1597.9

Kini mulailah zaman yang dikenal sebagai zaman pelayaran-pelayaran “liar” (wilde
vaart), yaitu ketika perusahaan – perusahaan ekspedisi Belanda yang saling bersaing untuk
memperoleh rempah – rempah Indonesia. Pada tahun 1598, 22 buah kapal milik lima
perusahaan yang berbeda mengadakan pelayaran; 14 diantaranya akhirnya kembali. Tahun
1599-1600, kapal-kapal Belanda banyak mengangkut rempah-rempah dari Maluku dan
memperoleh laba 400%, maka pada tahun 1601 empatbelas kapal diberangkatkan dari
Belanda.

Pada saat itu ada empat perwakilan dagang Belanda yang bersaing di Banten ;
persaingan di seluruh wilayah Indonesia yang menghasilkan rempah-rempah itu
menyebabkan naiknya harga. Sementara itu, di Parlemen Belanda (Staten Generaal)
mengajukan sebuah usulan supaya perseroan – perseroan yang saling bersaing itu sebaiknya
bergabung dalam satu kesatuan. Hingga pada bulan Maret 1602, perseroan – perseroan
tersebut bergabung membentuk Perserikatan Maskapai Hindia Timur, VOC (Vereenig-de
Oost-Indische Compagnie).10

Di masa itu, terjadi persaingan sengit di antara negara-negara Eropa, yaitu Portugis,
Spanyol kemudian juga Inggris, Perancis dan Belanda, untuk memperebutkan hegemoni
perdagangan di Asia Timur. Untuk menghadapai masalah ini, oleh Staaten Generaal di
Belanda, VOC diberi wewenang memiliki tentara yang harus mereka biayai sendiri. Selain
itu, VOC juga mempunyai hak, atas nama Pemerintah Belanda -yang waktu itu masih
berbentuk Republik- untuk membuat perjanjian kenegaraan dan menyatakan perang terhadap
suatu negara. Wewenang ini yang mengakibatkan, bahwa suatu perkumpulan dagang seperti
VOC, dapat bertindak seperti layaknya satu negara.

Perusahaan ini mendirikan markasnya di Batavia (sekarang Jakarta) di pulau Jawa.


Pos kolonial lainnya juga didirikan di tempat lainnya di Hindia Timur yang kemudian
menjadi Indonesia, seperti di kepulauan rempah-rempah (Maluku), yang termasuk Kepulauan
Banda di mana VOC manjalankan monopoli atas pala dan fuli.

Tujuan VOC ini mencasri laba sebanyak mungking serta memperkuat kedudukan
Belanda menghadapi perlawanan Portugis dan Spanyol.11

B. Kebijakan Politik Perdagangan VOC

Berdirinya VOC dibantu oleh Pemerintahan Republik Belanda dibawah Van


Oldenbarneveldt. Oleh beliau, VOC diberi hak-hak sedemikian rupa sehingga menjadi suatu
badan yang seolah-olah berdaulat. Pada tanggal 20 Maret 1602 Staten Generaal
mengeluarkan sebuah surat izin (Octrooi) yang berlaku 21 tahun dan dapat diperbaharui
seterusnya.

Hak-hak tersebut berisi:

o Hak monopoli untuk berdagang antara Amerika Selatan dan Afrika


o Hak untuk memelihara angkatan perang, berperang, mendirikan benteng-benteng dan
menajajah
o Hak untuk mengangkat pegawai-pegawainya
o Hak untuk memberi pengadilan
o Hak untuk mencetak dan mengedarkan mata uang sendiri

Selain mempunyai hak, VOC juga mempunyai kewajiban yang harus dipenihi
terhadap pemerintah Belanda, antara lain;
o Bertanggung jawab kepada Staten Generaal (Dewan Perwakilan Rakyat Belanda),
dan
o Pada saat perang terjadi, mereka harus membantu pemerinta Belanda , berupa uang
dan angkatan perang.

Seperti halnya Portugis, VOC juga memiliki suatu jaringan birokrasi dan
persenjataan, cara berdagang yang tidak lazim di Asia itu (kecuali Cheng He) dapat disebut
sebagai beaurotic and amred trade (perdagangan yang didasari birokrasi dan tentara).
Wujudnya dalah benteng –benteng dengan pegawai dan tentaranya serta suatu hubungan
surat-menyurat yang aktif dan laporan – laporan yang panjang dan lengkap antara berbagai
pejabat di daerah dengan pusat di Batavia. Wilayah – wilayah yang dikuasai VOC untuk
kepentingan dagangnya dikoordnasi oleh seorang goeverneur, sedangkan di wilayah-wilayah
lain yang tidak memiliki ikatan politik ditempatkan seorang opperhoofd (kepala) atau seorang
gezaghebber (penguasa).

Ciri lain sistem perdaangan VOC adalah yang dinamakan partnership (kemitraan).
VOC mengupayakan suatu sistem monopoli atas rempah-rempah dengan cara membina
kemitraan dengan para penguasa lokal. Sampai sekitar pertengahan abad ke – 16 kemitraan
itu berhasil dibangun karena para penguasa local membutuhkan VOC untuk memerangi
Portugis. Hal ini disebabkan adanya kepentingan bersama dalam menghadapi Portugis, walau
pada pihak VOC ada tambahan kepentingan dagang sedangkan pada pihak penguasa lokal
praktis unsur ekonomi itu tidak ada.12

Catatan Akhir:

1 M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2008), hlm. 41
2 M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2008), hlm. 43
3 M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2008), hlm. 45
4 Jack Turner. Sejarah Rempah; Dari Erotisme sampai Imperialisme. (Jakarta: Komunitas Bambu, 2011), hlm. 35
5 Jack Turner. Sejarah Rempah; Dari Erotisme sampai Imperialisme. (Jakarta: Komunitas Bambu, 2011), hlm. 36
6. M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2008), hlm. 49

7 M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2008), hlm. 49
8 M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2008), hlm.50
9 M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2008), hlm. 50-52
10 M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2008), hlm. 51
11 HM. Nasruddin Anshoriy Ch, Bangsa Gagal Mencari Identitas Kebangsaan, (Yogyakarta: PT LKiS Pelangi

Aksara Yogyakarta, 2008), hlm. 51


12 Poesponegoro dan Nugroho, Sejarah Nasional Indonesia IV, hlm. 21-44.
Daftar Pustaka

• Poesponegoro, Marwati. 2008 Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta:


Balai Pustaka

• Poesponegoro, Marwati. 2008 Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta:


Balai Pustaka

• Ricklefs, M. C. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta:


Serambi Ilmu Semesta.

• Turner, Jack. 2011. Sejarah Rempah; Dari Erotisme sampai Imperialisme.


Jakarta: Komunitas Bambu.