Anda di halaman 1dari 58

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sejarah perkemangan jalan dimulai dengan sejarah manusi itu sendiri


dalam memenuhi kebutuhan hidup dan berkomunikasi dengan sesama. Pada
awalnya jalan raya merupakan jejak manusia, setelah hidup berkelompok
berubah menjadi setapak yang belum di berikan lapisan perkerasan. Dengan
perkembangan teknologi transportasi yang ditemukan manusia harus diimbangi
dengan perkembangan jalan. Jalan adalah bagian dari sistem transportasi
nasional yang mempunyai peranan penting terutama dalam mendukung kegiatan
dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya serta lingkungan. Jalan
dikembangkan melalui pendekatan pengembangan wilayah agar tercapai
keseimbangan dan pemerataan pembangunan antar daerah. Selain itu, jalan juga
berperan membentuk serta memperkokoh kesatuan nasional untuk
memantapkan pertahanan dan keamanan nasional, termasuk membentuk
struktur ruang dalam rangka mewujudkan sasaran pembangunan nasional.
Agar jalan dapat berperan secara optimal, maka jalan harus berada pada
keadaan baik dalam harus memenuhi kriteria konstruksi perkerasan yaitu tidak
mudah aus, dan tidak terjadinya perubahan bentuk (Deformasi), sehingga dapat
memberikan rasa aman dan nyaman kepada pemakai jalan. Akan tetapi masih
banyak ditemukan jalan yang kondisinya dalam keadaan tidak baik, hal ini
diakibatkan banyak jalan yang rusak sebelum mencapai umur rencananya. Ada
banyak faktor yang menjadi penyebab rusaknya jalan tersebut salah satunya
beban lalu lintas. Dimana lapisan yang langsung menerima beban lalu lintas
adalah lapisan permukaan (wearing course), sehingga lapisan ini mudah aus dan
berubah bentuk.

1
Hal inilah yang menyebabkan Pemerintah melakukan perbaikan –
perbaikan dan peningkatan kapasitas jalan terutama pada Struktur Ruas Jalan
Kawangu – Tanarara , Kecamatan Matawai Lapau, Kabupaten Sumba Timur.
Ruas Jalan Kawangu – Tanarara ini merupakan jalan penghubung antara
Kecamatan Matawai Lapau dengan Kecamatan Kambera dan diteruskan ke Ibu
Kota Kabupaten yang di bangun dengan biaya Anggaran Pendapatan Belanja
Daerah (APBD). Struktur lapis pekerasan yang digunakan adalah lapisan lentur
dengan campuran panas yang disebut Hot Mix. Campuran panas yang
digunakan adalah HRS atau Lataston . Jenis perkerasan HRS menunjukan
salah satu jenis campuran perkerasan aspal yang cocok untuk daerah tropis
karena memiliki kelenturan yang tinggi dan tahan terhadap kelelehan plastis.
Lapisan Lataston (HRS) terdiri dari dua macam lapisan, Lataston-WC dan
Lataston-Base.

Peningkatan dilakukan bukan hanya pada lapisan perkerasan tapi juga


bangunan pelengkap berupa drainase, tembok penahan, serta decker untuk
mendukung tingkat umur layanan (umur rencana) dan memenuhi fungsi jalan
tersebut. Hal inilah yang akhirnya penulis mengambil judul penulisan laporan
PKL yaitu, “Tinjauan Pelaksanaan Pekerjaan Hotmix (HRS – BASE) Pada
Proyek Peningkatan Kapasitas Jalan Kawangu – Tanarara, Kecamatan Matawai
Lapau, Kabupaten Sumba Timur”.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian pada latar belakang maka masalah yang akan
dibahas dalam laporan ini adalah “Bagaimana Proses Pekerjaan Lapisan
Permukaan (HRS-BASE), pengendalian tenaga kerja, material, biaya, kualitas
pekerjaan pada Proyek Peningkatan Kapasitas Jalan Kawangu – Tanarara,
Kecamatan Matawai Lapau, Kabupaten Sumba Timur”?.

2
1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan PKL
Adapun tujuan pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ini :
a. Memahami aspek pekerjaan konstruksi sesungguhnya.
b. Memahami pengendalian tenaga kerja, material, biaya, dan kualitas
pekerjaan pada proyek Peningkatan Struktur Jalan Kabupaten Sumba
Timur.
c. Mengetahui tugas – tugas sebagai pelaksana.

1.3.2. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan laporan Praktek Kerja Lapangan ini :

a. Mengidentifikasi tahapan pelaksanaan pekerjaa lapisan permukaan


(HRS – BASE)
b. Mengidentifikasi aspek pengendalian tenaga kerja, material, biaya, dan
kualitas pekerjaan Peningkatan Kapasitas Jalan Kawangu – Tanarara.
1.4. Metode Pembahasan.

Dalam penulisan laporan ini, penulis menggunakan beberapa metode antara lain

1. Metode Wawancara
Metode wawancara adalah cara pengumpulan data atau informasi dengan
melakukan tanya-jawab langsung baik kepada pelaksana proyek maupun
kepada para pekerja proyek yang berkaitan dengan pembangunan proyek.
2. Studi Pustaka
Dalam penyusunan laporan ini, penulis menggunakan beberapa literatur
sebagai acuan penulisan terutama buku-buku perpustakaan yang berkaitan
dengan laporan ini.

3
3. Dokumentasi
Penulis mengumpulkan data berupa gambar (foto) di lokasi proyek serta
kegiatan pengujian di laboratorium, sebagai bukti bahwa penulis telah
melaksanakan praktek kerja lapangan.

1.5. Tempat dan Waktu Pelaksanaan Kerja Praktek


a. Waktu
Waktu pelaksanaan praktek kerja lapangan berlangsung selama 1
bulan yaitu 09 Agustus – 19 Oktober tahun 2019.

b. Tempat pelaksanaan
Tempat pelaksanaan praktek kerja lapangan adalah di Ruas Jalan
Kawangu – Tanarara, Kecamatan Matawai Lapau dan di laboratorium PT.
Teratai, Kelurahan Temu, Kecamatan Kanatang, Kabupaten Sumba Timur
– Nusa Tenggara Timur.

4
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian

Menurut UU No. 38 Tahun 2004 dan PP No. 34 Tahun 2006 tentang


jalan , jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian
jalan termaksuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang
diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan atau diatas tanah
dan air. jalan berfungsi sebagai sarana transportasi darat yang
menghubungkan antar daerah yang satu dengan daerah yang lain dalam
menunjang pembangunan bangsa terutama pertumbuhan ekonomi, persatuan,
dan kesatuan serta membantu dalam pelayanan pemerataan dan penyebaran
pembangunan. Untuk mengoptimalkan fungsi jalan, maka jalan harus berada
pada keadaan baik dalam hal ini, yang memenuhi kriteria konstruksi
perkerasan.

Menurut Sukirman, 2003. Pekerasan jalan merupakan lapisan perkerasan


yang terletak di antara lapisan tanah dasar dan roda kendaraan, yang berfungsi
memberikan pelayanan kepada pengguna transportasi dan tidak terjadinya
kerusakan serta selama masa pelayanannya diharapkan tidak terjadi kerusakan
yang berarti. Perkerasan mempunyai daya dukung dan keawetan yang
memadai, tetapi juga ekonomis, maka perkerasan jalan dibuat berlapis-lapis.
Lapisan paling atas disebut sebagai lapisan permukaan yang merupakan
lapisan paling baik mutunya karena lapian ini yang langsung berhubungan
dengan beban lalulintas, di bawahnya terdapat lapis pondasi yang diletakan di
atas tanah dasar yang telah dipadatkan. Material utama pembentuk perkerasan
jelan adalah agregat. Dimana bahan pengikat yang digunakan berupa aspal

5
dan semen. Bahan pengikat ini berfungsi sebagai bahan pengikat agregat agar
terbentuk perkerasan jalan yang kedap air dan tahan aus.

2.2. Jenis Perkerasan Jalan

Konstruksi perkerasan jalan terdiri dari beberapa jenis berdasarkan


bahan pengikat yang menyusunnya serta komposisi dari komponen
konstruksi perkerasan itu sendiri (Sumber : Sukirman,1999. “Perkerasan
Lentur Jalan Raya”), antara lain :

a. Konstruksi Perkerasan Lentur (Flexible pavement),


Konstruksi perkerasan lentur yaitu perkerasan yang menggunakan aspal
sebagai bahan pengikat di mana lapisan-lapisan perkerasannya bersifat
memikul dan menyebarkan beban lalu lintas ke tanah dasar.
b. Konstruksi Perkerasan Kaku (Rigid pavement)
Konstruksi perkerasan kaku, yaitu perkerasan yang menggunakan
semen (Portland Cement) sebagai bahan pengikat dimana pelat beton
dengan atau tanpa tulangan diletakkan di atas tanah dasar dengan atau
tanpa lapis pondasi bawah sehingga beban lalu lintas sebagian besar
dipikul oleh pelat beton.
c. Konstruksi Perkerasan Komposit (Composite pavement)
Konstruksi pekerasan komposit, yaitu perkerasan kaku yang
dikombinasikan dengan perkerasan lentur dapat berupa perkerasan
lentur di atas perkerasan kaku, atau perkerasan kaku di atas perkerasan
lentur.
Konstruksi yang banyak di gunakan dalam pembangunan jalan di
Indonesia yaitu kostruksi perkerasan lentur (Flexsibel Panyement). Dimana
bahan pengikat yang digunakan adalah aspal, jalan yang bergelombang
(mengikuti tanah dasar) dan perubahan temperature yang mengubah
modulus kekakuan.

6
2.3. Fungsi Lapisan Perkerasan

Kontruksi perkerasan terdiri dari lapisan-lapisan yang diletakan diatas


tanah dasar yang telah dipadatkan. Lapisan-lapisan tersebut berfungsi untuk
menerima beban lalu lintas dan menyebarkan kelapisan dibawahnya.

Kontruksi perkerasan terdiri dari:


1. Lapisan permukaan (Surface Course)
2. Lapisan pondasi atas (Base Course)
3. Lapisan pondasi bawah (Subbase Course)
4. Lapisan tanah dasar (Subgrade)
Kontruksi perkerasan dapat dilihat pada gambar 2.1 dibawah ini:

Lapisan Permukaan

Lapisan Pondasi Atas

Lapisan Pondasi Bawah

Lapisan Tanah Dasar

Sumber : sukirman silvia


Gambar 2.1. Susunan Perkerasan Jalan

Beban lalu lintas yang bekerja diatas kontruksi perkerasan dapat


dibedakan atas :

a. Muatan kendaraan berupa gaya vertical.


b. Gaya rem kendaraaan berupa gaya horizontal.
c. Pukulan roda kendaraan berupa getaran-getaran.

Karena bersifat penyebaran gaya maka muatan yang diterima oleh


masing-masing lapisan berbeda. Lapisan permukaan harus mampu

7
menerima seluruh jenis gaya yang bekerja. Lapisan pondasi atas
menerima gaya vertical dan getar. Sedangkan tanah dasar dianggap
hanya menerima gaya vertikal saja.

2.3.1. Lapisan Permukaan (Surface Course)

Lapisan permukaan ini berfungsi sebagai:


a. Lapisan perkerasan yang menahan beban roda. Oleh karna itu lapisan ini
harus mempunyai stabilitas yang tinggi untuk menahan beban roda selama
umur rencana jalan.
b. Lapisan kedap air yaitu air tidak meresap kelapisan yang ada dibawahnya.
c. Lapisan aus (wearing course) yaitu lapisan yang langsung menderita
gesekan akibat rem kendaraan sehingga mudah menjadi aus.
d. Lapisan yang menyebarkan beban kelapisan bawah sehingga dapat dipikul
oleh lapisan lain.

Agar dapat memenuhi fungsi lapisan tersebut maka pada umumnya


lapisan permukaan dibuat dengan menggunakan bahan pengikat aspal
sehingga menghasilkan lapisan yang kedap air dengan stabilitas yang tinggi
dan daya tahan yang lama.

2.3.2. Lapisan Pondasi Atas (Base Course)

Lapisan perkerasan yang terletak diantara lapis pondasi bawah dan


lapis permukaan dinamakan lapisan pondasi atas. Fungsi lapisan pondasi atas
adalah:
a. Bagian perkerasan yang menahan gaya lintang dari beban roda dan
menyebarkan beban kelapisan dibawahnya.
b. Lapisan peresapan untuk lapisan pondasi bawah.
c. Bantalan terhadap lapisan permukaan.
Material yang akan digunakan untuk lapis pondasi atas adalah material
yang cukup kuat. Untuk lapisan pondasi atas tanpa bahan pengikat umumnya

8
menggunakan material dengan CBR 90 % dan plastisitas indeks (PI) < 4%.
Bahan alam seperti batu pecah, kerikil pecah, stabilitas tanah dengan semen
dan kapur dapat digunakan sebagai lapisan pondasi atas. Jenis lapis pondasi
atas yang umum digunakan di Indonesia antara lain :agregat bergradasi baik
yaitu batu pecah kelas A, kelas B dan Kelas C. dimana batu pecah kelas A
mempunyai gradasi lebih kasar dari batu pecah kelas B.

2.3.3. Lapisan Pondasi Bawah (Subbase Course)

Lapisan perkerasan yang terletak antara lapis pondasi atas dan tanah
tanah dasar dinamakan lapisan pondasi bawah. Lapisan pondasi bawah ini
berfungsi sebagai :

a. Bagian dari kontruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ketanah


dasar. Lapisan ini harus cukup kuat dan mempunyai CBR 65% dan
plastisitas indeks (PI) < 10%.
b. Efesiensi penggunaan material. Material pondasi bawah relatif murah
dibandingkan dengan lapisan perkerasan diatasnya.
c. Mengurangi tebal lapisan diatasnya yang lebih mahal.
d. Lapisan peresapan, agar air tanah tidak berkumpul dipondasi.
e. Lapisan pertama agar pekerjaan dapat berjalan lancar. Hal ini sehubungan
dengan kondisi lapangan yang memaksa harus segera menutup tanah dasar
dari pengaruh cuaca, atau lemahnya daya dukung tanah dasar menahan
roda – roda alat berat.

Jenis lapisan pondasi bawah yang umum digunakan di Indonesia antara lain :

a. Sirtu kelas A
b. Sirtu kelas B
c. Sirtu kelas c

9
Sirtu kelas A bergradasi lebih besar dari sirtu kelas B yang masing-masing
dapat dilihat pada spesifikasi yang diberikan.

2.3.4. Lapisan Tanah Dasar (Subgrade)

Lapisan ini terletak pada dasar lapisan yang berfungsi sebagai landasan
dari perkerasan jalan. Lapisan ini merupakan lapisan terpenting dari kontruksi
jalan, karna tanah dasar inilah yang mendukung seluruh kontruksi jalan beserta
muatan lalu lintas diatasnya dan mempunyai CBR 6 %. Lapisan tanah dasar
dapat berupa tanah asli yang dipadatkan jika tanah aslinya baik, tanah yang
didatangkan dari tempat lain yang dipadatkan atau tanah yang distabilisasi
dengan kapur atau bahan lainya. Pemadatan yang baik diperoleh jika dilakukan
pada kadar air optimum dan diusahakan kadar air tersebut konstan selama umur
rencana. Hal ini dapat dicapai dengan kelengkapan drainase yang memenuhi
syarat.
Kekuatan dan keawetan kontruksi perkerasan jalan sangat ditentukan
oleh sifat-sifat daya dukung tanah dasar. Masalah-masalah yang sering
ditemukan menyangkut tanah dasar adalah sebagai berikut:
a. Perubahan bentuk dari tiap jenis tanah tertentu akibat lalu lintas.
b. Sifat mengembang dan menyusut dari tanah tersebut akibat perubahan kadar
air.
c. Daya dukung tanah dasar yang tidak merata pada daerah-daerah dengan
macam tanah yang sangat berbeda.
d. Daya dukung tanah yang tidak merata akibat pelaksanaan yang kurang baik.
e. Perbedaan penurunan akibat terdapat lapisan-lapisan tanah lunak dibawah
tanah dasar yang mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk tetap. Hal ini
dapat diatasi dengan melakukan penyelidikan tanah dengan teliti.
Pemeriksaan dengan menggunakan alat bor dapat memnberikan gambaran
yang jelas tentang lapisan tanah dasar.
f. Kondisi geologis dari lokasi jalan perlu dipelajari dengan teliti, jika ada
kemungkinan lokasi jalan berada pada daerah petahan, dan lain sebagainya.

10
2.4. Jenis – Jenis Campuran Beraspal
Dalam spesifikasi terdapat berapa jenis campuran beraspal yaitu, Laston
(lapis aspal beton), latasir (lapisan tipis aspal pasir) dan Lataston (lapisan tipis
aspal beton).

a. Lapisan Aspal Beton (Laston, ATB)


Laston (ATB) terdiri dari tiga macam campuran yaitu Laston Lapis
aus (AC-WC), Laston lapisan pengikat (ATB-BC) dan Laston Lapis
Pondasi (AC-Base). Ukuran butir maksimum agregat masing-masing
campuran adalah 19 mm, 25,4 mm, dan 37,5 mm. laston dapat dgunakan
pada jalan lalu lintas ringan sampai lalu-lintas berat.

b. Lapisan Tipis Aspal Pasir (Sand Sheet)


Latasir merupakan campuran yang digunakan untuk jalan dengan lalu
lintas ringan terutaman di daerah yang sulit ditemukan agregat kasar. Latasir
biasanya memerlukan pengisi untuk memenuhi sifat – sifat campuran yang
disyaratkan. Campuran jenis ini umumnya mempunyai daya tahan yang
relatif rendah terhadap terjadinya alur, karna itu tidak dibenarkan dipasang
dengan lapisan yang tebal, pada jalan dengan lalu lintas berat atau pada
daerah tanjakan (manual Pekerjaan Campuran beraspal Panas departemen
permukiman dan prasarana wilayah).

c. Lapis Tipis Aspal Beton (Lataston,HRS)


Lataston adalah campuran antara aspal keras dari agregat bergradasi
senjang. Yang dimaksud dengan agregat bergradasi senjang adalah agregat
yang distribusi ukuran butirnya tidak menerus atau ada bagian ukuran yang
tidak ada, jika ada hanya sedikit. Terdapat dua jenis campuran lataston yaitu
lapis permukaan (HRS – wearing course) dan lataston untuk lapis
permukaan antara (HRS – base) pada jalan dengan lalu – lintas ringan
sampai lalu – lintas berat. Perbedaan keduanya adalah gradasi (analisa

11
saringan) lataston untuk lapisan permukaan (HRS – wearing course) lebih
halus di bandingkan gradasi lataston untuk lapisan permukaan antara (HRS
– base). Serta tekstur lapisan permukaan (HRS – wearing course) lebih
halus dari pada lapisan permukaan (HRS – Base). Untuk mendapatkan hasil
yang memuaskan, maka campuran harus dirancang sampai memenuhi
semua ketentuan yang diberikan dalam spesifikasi. Untuk memenuhinya di
perlukan gabungan antara pasir halus dengan batu pecah.

2.5. Fungsi Jalan dan Sistem Jaringan Jalan


Menurut UU No. 30 tahun 2004 dan PP No. 34 tahun 2000 jalan di
kelompokkan dalam Fungsi jalan, Sistem Jaringan Jalan.

2.5.1. Fungsi Jalan


Berdasarkan fungsi jalan dapat dibedakan atas:
1. Jalan arteri yaitu jalan yang melayani angkutan utama dengan ciri-ciri
perjalanan jarakjauh, kecepatan rata-rata tinggi dan jumlah jalan
masuk dibatasi secara efisien.
2. Jalan kolektor yaitu jalan yang melayani angkutan pengumpulan atau
pembagian dengan ciri-ciri perjalan jarak sedang dan jumlah jalan
masuk dibatasi.
3. Jalan lokal yaitu jalan yang melayani angkutan setempat dengan ciri-
ciri perjalanan jalan dekat, kecepatan rata-rata rendah dan jumlah jalan
masuk tidak dibatasi.
4. Jalan lingkungan yaitu jalan yang melayani angkutan setempat dengan
ciri perjalan dekat dan kecepatan rata – rata rendah.

12
2.5.2 Sistem Jaringan Jalan
Sistem jaringan jalan adalah satu kesatuan ruas jalan yang saling
menghubungkan dan mengikat pusat - pusat pertumbuhan dengan wilayah
yang berada dalam pengaruh pelayanannya dalam satu hubungan hierarki.
Sistem jaringan jalan dapat di bagi menjadi 2 yaitu :

1. Sistem Jaringan Primer


Sitem jaringan primer merupakan jalan dengan peranan pelayanan
distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah
ditingkat nasional dengan menghubungkan semua simpul jasa
distribusi yang berwujud pusat – pusat kegiatan yaitu menghubungkan
secara menerus pusat kegiatan lokal sampai kepusat kegiatan
lingkungan dan antar pusat kegiatan nasional.
Sistem jaringan jalan primer terdiri dari :
a. Jalan arteri primer merupakan jalan yang menghubungkan antar
pusat kegiatan wilayah. Dimana percepatan rencana > 60 km/jam
dan lebar badan jalan > 11 m.
b. Jalan kolektor primer merupakan jalan yang menghubungkan antar
pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan local antar kegiatan
wilayah. Dimana kecepatan rencana > 40 km /jam dan lebar badan
jalan > 9 m.
c. Jalan lokal primer merupakan jalan yang menghubungkan pusat
kegiatan nasional dengan pusat kegiatan lingkungan, antar pusat
kegiatan lokal. Dimana kecepatan rencana >20 km/jam dan lebar
jalan 7,5 m.
d. Jalan lingkungan primer merupakan jalan yang menghubungkan
antar pusat kegiatan didalam kawasan perdesaan dan jalan didalam
lingkungan kawasan perdesaan. Dimana kecepatan rencana > 15
km/jam dan lebar badan jalan > 6,5 m.

13
2. Sistem Jaringan Sekunder
Sistem jaringan sekunder merupakan sistem jaringan jalan dengan
peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat
didalam kawasan perkotaan.
Sistem jaringan sekunder terdiri dari :
a. Jalan arteri sekunder merupakan jalan yang menghubungkan
kawasan primer dengan kawasan sekunder kesatuan dan
sebaliknya. Dimana kecepatan rencana > 30 km/jam dan lebar
badan jalan > 11 m.
b. Jalan kolektor sekunder merupakan jalan yang menghubungkan
kawasan sekunder kedua dengan dengan kawasan sekunder kedua
atau kawasan sekunder ketiga. Dimana kecepatan rencana > 20
km/jam dan lebar badan jalan 9 m
c. Jalan lokal sekunder merupakan jalan yang menghubungkan
kawasan sekunder kesatu dengan perumahan, kawasan sekunder
kedua dengan perumahan, kawasan sekunder ketiga dan seterusnya
sampai perumahan. Dimana kecepatan rencana >10 km/jam dan
lebar badan jalan > 7,5 m.
d. Jalan lingkungan sekunder merupakan jalan yang menghubungkan
antar persil dalam kawasan perkotaan. Dimana kecepatan rencana
> 10 km/jam dan lebar badan jalan > 6,5 m.

2.6. Pekerjaan Lapis Pondasi (HRS – BASE)


HRS – BASE (Hot Rolled Sheets – BASE) adalah jenis lapis tipis aspal
beton (Lataston) yang merupakan jenis perkerasan lentur (akan melendut ketika
menerima beban). Agregat yang digunakan pada pekerjaan lapis pondasi
merupakan agregat hasil produksi dari mesin pemecah (Stone Crusher). Dengan
demikian kestabilan yang diperoleh lebih besar dan lebih tahan terhadap
deformasi yang timbul. Tebal lapisan permukaan HRS–BASE yaitu 4 cm.

14
Fungsi dari Lapis pondasi HRS pada perkerasan jalan yaitu :

2.6.1. Pekerjaan Lapisan Pondasi Batu Pecah


Lapisan pondasi adalah lapisan kontruksi yang menerima beban dari
pondasi atas yang diteruskan kelapisan tanah dasar. Menurut Hendra
Suryadharma 1999, pondasi jalan dengan konstruksi batu pecah
merupakan pengembangan sebagai pengganti pondasi batu belah (telford).
Prinsipnya hampir sama dengan konstruksi macadam (bound Makadam).
Bahan yang dipakai adalah batu pecah hasil dari mesin pemecah batu
(stone crusher).
Berikut adalah proses pekerjaan lapisan pondasi batu pecah :
a. Pencampuran batu pecah, batu pecah yang digunakan yang digunakan
berupa batu pecah 3/5, 2/3 dan ditambah fraksi halus (pasir) < 9 mm.
b. Penghamparan campuran batu pecah dengan menggunakan grader.
c. Pemadatan dengan Vibrator Roller.

2.7. Bahan Yang Digunakan Dalam Pekerjaan Lapisan HRS – BASE


Bahan – bahan material yang digunakan pada pekerjaan lapis pondasi
HRS sebagai berikut :

2.7.1 Agregat
Agregat adalah material berbutir yang keras. Istilah agregat
mencakup antara lain batu bulat, batu pecah, abu batu dan pasir. Agregat
dibutuhkan pada lapisan struktur perkerasan karena merupakan bahan
utama dalam pembuatan konstruksi perkerasan jalan. Pada campuran
aspal agregat memberikan kontribusi besar terhadap berat campuran,
sehingga sifat – sifat agregat merupakan salah satu factor penentu dan
kinerja campuran tersebut. Sifat – sifat agregat yang harus diperiksa

15
antara lain : ukuran butir, gradasi, kebersihan, kekerasan, bentuk partakel,
tekstur permukaan, penyerapan, kelekatan terhadap aspal.

A. Agregat Kasar
Agregat kasar untuk rancangan campuran adalah agregat yang
tertahan ayakan atau saringan No. 8 ( 2,36 mm) yang dilakukan
secara basah, harus bersih, keras, awet dan bebas dari lempung atau
bahan yang tidak dikehendaki lainya (spesifikasi umum 2010).
Tabel 2.1. Ketentuan Agregat Kasar.
Pengujian Standar nilai
Abrasi dengan Campuran AC SNI 2417: 2008 Maks.
mesin Los Bergradasi 30%
Angeles kasar
Semua jenis Maks.40%
campuran
aspal
bergradasi
lainnya
Kelekatan agregat terhadap SNI 03-2439-1991 Min. 95%
aspal
Partikel pipih dan lonjong ASTM D4791 Maks.
Perbandingan 1:5 10%
Material lolos ayakan No. 200 SNI 03-4142-1996 Maks. 1%

Catatan :
(*) 95/90 menunjukkan bahwa 95% agregat kasar mempunyai muka
bidang pecah satu atau lebih dan 90% agregat kasar mempunyai muka
bidang pecah dua atau lebih.

16
B. Agregat Halus
Agregat halus adalah agregat yang terdiri dari pasir atau
pengayakan batu pecah yang lolos saringan No. 8 (2,36mm) atau ukuran
butirannya lebih halus dari saringan No. 8. Agregat halus harus
merupakan bahan yang bersih, keras, bebas dari lempung atau bahan yang
tidak di kehendaki. Pasir hanya boleh digunakan dalam campuran aspal
panas tidak boleh lebih dari 15%.
Tabel 2.2. Ketentuan Agregat Halus
Pengujian Standar Nilai
Nilai Setara Pasir SNI 03-4428-1997 Min. 50% untuk
SS,HRS, dan AC
bergradasi halus
Min. 70% untuk Ac
bergradasi kasar
Material lolos SNI 03-4428-1997 Maks. 8%
ayakan No. 200
Kadar Lempung SNI 3423:2008 Maks. 1%
Sumber : Spesifikasi umum 2010

2.7.2. Bahan Pengisi (Filler)


Bahan pengisi (Filler) adalah butir – butir yang ukuran lebih kecil
dari 0,075 mm yang merupakan bagian butiran batuan yang lolos
saringan No. 200. Bahan pengisi yang ditambahkan harus dari semen
Portland, debu batu kapur atau abu terbang. Bahan tersebut harus bebas
dari bahan yang tidak dikehendaki. Semua campuran beraspal harus
mengandung bahan pengisi yang ditambahkan tidak kurang dari 1% dan
maksimum 2% dari berat total agregat.

17
2.7.3. Bahan Pengikat

Bahan pengikat yang diguanakan adalah aspal. Aspal merupakan


material yang berwarna hitam kecoklatan yang bersifat viskoelastis
sehingga akan melunak dan mencair bila mendapat cukup pemanasan
dan sebaliknya. Aspal yang digunakan pada umunya aspal dengan angka
penetrasi 60 – 70. Aspal yang digunakan sebagai material perkerasan
jalan berfungsi sebagai :

1. Bahan pengikat memberikan ikatan yang kuat antara aspal dan


agregat
2. Bahan pengikat sebagai pengisi rongga antara butir agregat dan pori-
pori yang ada didalam butir agregat itu sendiri.

Tabel 2.3. Ketentuan – ketentuan untuk Aspal Keras


No. Jenis Pengujian Metode Tipe aspal
Pengujian Pen.
60-70
1 Penetrasi pada 250 C SNI 06-2456- 60-70
1991
2 Visikositas 1350 C SNI 06-6441- 385
2000
3 Titi Lembek (0C) SNI 06-2434- ≥48
1991
4 Duktilitas pada 250C SNI 06-2432- ≥100
1991
5 Titik Nyala (0C) SNI 06-2433- ≥232
1991
6 Kelarutan dalam Touene ASTM D5546 ≥99
(%)
7 Berat Jenis SNI 06-2441- ≥1,0

18
1991
8 Berat yang hilang (%) SNI 06-2441- ≤0,8 2)
1991
Sumber : spesifikasi umum 2010

2.7.4. Bahan Aditif Anti Pengelupasan


Bahan aditif harus ditambahkan kedalam bahan aspal dalam bentuk
cairan dengan menggunakan pompa penakar. Bahan aditif anti
pengelupasan ditambahkan bertujuan agar tidak terjadinya pengelupasan
antara aspal dan agregat. Kuantitas pemakaian aditif anti Pengelupasan
dalam rentang 0,2% - 0,3% terhadap berat aspal. Jenis aditif yang
digunakan haruslah yang disetujui Direksi Pekerjaan.

19
BAB III

TINJAUAN PELAKSANAAN

3. 1. Tinjauan Umum.
Dalam pelaksanaan pekerjaan suatu konstruksi jalan raya ada beberapa
tahapan kegiatan yang merupakan pelaksanaan atas sebuah hasil perencanaan
mulai dari pengukuran sampai selesai masa pemeliharaan. Pelaksanaan proyek
ini dimulai dari pengukuran, pengambilan dokumentasi, pembersihan lokasi, dan
pekerjaan Lapisan HRS – BASE

3.1.1 Data Umum Proyek


Nama Paket : Peningkatan Jalan Kawangu - Tanarara
Lokasi : Kecamatan Matawai Lapau , Sumba Timur
Nomor kontrak : BM.622/PPK/237/VI/2016
Nilai Kontrak : Rp 3.945.570.000,-
Tanggal Kontrak : 22 JUNI 2019
Waktu pelaksanaan : 150 hari kelender
Waktu pemeliharaan : 720 hari kelender
Sumber dana : APBD KABUPATEN SUMBA TIMUR
Kontraktor : PT. TERATAI
Konsultan : CV. WIDYA JASA KONSULINDO

3.1.2. Lokasi Proyek


Proyek Peningkatan Kapasitas Jalan Kawangu - Tanarara, berdasarkan
APBD Kabupaten Sumba Timur. Proyek ini berada di kawasan Kecamatan

20
Matawai Lapau dengan panjang total peningkatan jalan yaitu sepanjang 3
Km.

3.1.3. Ruang Lingkup Pekerjaan


Pada pelaksanaan proyek Peningkatan Kapasitas Jalan Kawangu -
Tanarara yang dikerjakan oleh kontraktor PT. Teratai. Pada pelaksanaan
konstruksi ini mencakup berbagai pekerjaan antara lain :
a. Pekerjaan persiapan lahan
b. Pekerjaan saluran dan tembok penahan tanah
c. Lapisan pondasi angregat A
d. Lapis pengikat (Prime Coat)
e. Lapis perkerasan HRS -BASE

Dalam pelaksanaan pekerjaan lapisan perkerasan HRS – BASE ada


beberapa hal penting agar pelaksanaan pekerjaan tersebut dapat berjalan dengan
baik adalah sebagai berikut :

A. Peralatan yang di gunakan


Peralatan merupakan suatu sarana penunjang yang sangat diperlukan
dalam pekerjaan ini. Ketersediaan dan kesiapan dari peralatan sangat
mempengaruhi jalannya pekerjaan tersebut. Peralatan yang digunakan
dalam pekerjaan terbagi dalam peralatan dilaboratorium dan dilapangan :

a. Peralatan di Laboratorium
1. AMP (Asphalt Mixing Plant)
Asphalt mixing plant (AMP) merupakan seperangkat peralatan
mekanik dan elektronik dimana agregat dipanaskan, dikeringkan, dan
dicampurkan dengan aspal untuk menghasilkan campuran beraspal
panas yang memenuhi persyaratn tertentu. AMP yang digunakan
dalam konstruksi ini adalah AMP takaran. Proses pencampuran ini

21
dilakukan pada temperature 145 0
C – 165 0
C sehingga siap
dihamparkan dilokasi dan dipadatkan.

Gambar 3.2. AMP

2. Stone Crusher
Stone Crusher digunakan untuk pemecah batu kali menjadi batu pecah
sesuai ukuran atau gradasi yang diinginkan dalam pekerjaan konstruksi
jalan. Stone Crusher dapat dibedakan menjadi 2 yaitu pemecah batu jenis
konus (cone) dan pemecah batu jenis bentur (impact).

22
Gambar 3.3. Stone Crusher

b. Peralatan Di lapangan.
1. Asphalt Sprayer
Asphalt Sprayer digunakan dalam pekerjaan jalan baik dalam
prime coat (lapis resap pengikat) dan pekerjaan tack coat (lapis
perekat).

Gambar 3.4. Asphalt Sprayer

23
2. Tandem Roller
Tadem Roller merupakan alat pemadatan dengan roda baja,
mempunyai roda belakang dan depan. Berat dari Tandem Roller
bervariasi dari 3 – 14 ton atau lebih tergantung lebar roda bajanya.
Alat ini biasanya digunakan setelah penghamaparan material Aspal
beton atau pemadatan awal (Breakdown Rolling). Banyak lintasan
Tandem Roller sebanyak 5 passing.

Gambar 3.5. Tandem Roller

24
3. Tire Phneumatic Roller
Alat pemadatan roda karet Pneumatic merupakan alat
pemadatan dengan roda karet, mempunyai dua gandar dengan roda
karet 3 – 4 roda di bagian depan dan 4 - 5 roda di bagian belakang.
Berat total alat ini bervariasi dari 10 – 35 ton tergantung pada ukuran
dan jenisnya. Alat ini biasanya digunakan pada saat pemadatan antara
(Intermediate Rolling). Banyak lintasan Tire Phneumatic Roller
sebanyak 12 passing.

Gambar 3.6.Tire Roller

4. Aphalt Finisher
Aphalt Finisher merupakan alat penghampar material beraspal dan
memberikan pemadatan sehingga diperoleh hamparan dengan tekstur yang
seragam, alur, ketebalan, dan kemiringan yang sesuai dengan rencana.
Secara garis besar bagian utama dari finisher dibedakan menjadi dua. yaitu
unit Tracktor dan unit sepatu (screed).

25
`

Gambar 3.7. Asphalt Finisher

5. Dump Truk
Dump Truk digunakan untuk mengangkut tanah galian, material
serta campuran aspal beton panas. Dalam pekerjaan ini Dump truck yang
digunakan ada dua jenis menurut kapasitasnya. Kapasitas 5 ton untuk
material lapisan pondasi dan bahu jalan dan kapasitas 13 ton untuk
campuran aspal beton panas sekali angkut.

Gambar 3.8.Dump Truck

26
6. Water Tank
Alat ini berfungsi sebagai penyedia air bersih yang digunakan dalam
proses pemadatan agregat dan material beraspal panas oleh alat berat.

Gambar 3.9. Water Tank

7. Motor Greader (Mesin Penghampar)


Motor Greader digunakan untuk penggusuran tanah, perataan tanah
dan membentuk permukaan badan jalan serta bahu jalan.

Gambar 3.10. Motor Grader

27
8. Compressor
Alat ini berfungsi membersikan kotoran dan debu yang berada
dipermukaan asphalt lama sebelum dan sesudah proses peleburan lapis
pengikat (prime coat) dan lapisan perekat (teak coat).

Gambar 3.11. Compressor

9. Whell Loader
Whell Loader igunakan untuk menggali, mengeruk material berupa
pasir dan krikil di quary serta mengangkut material ke bin dingin atau
kedalam dump truck.

Gambar 3.12. Wheel Loader

28
10. Excavator
Alat ini berguna sebagai penggali untuk penyiapan lahan pekerjaan
jalan serta pergerukan tanah galian atau material dari quary ke dalam
dump truck.

Gambar 3.13. Excavator

B. Sumber dan Macam – Macam Material


Kebutuhan berbagai macam material yang dibutuhkan dalam
pelaksanaan proyek tersebut diambil dari panda yang terdekat dengan base
camp yakni panda kambaniru. Semua material tersebut harus terlebih dahulu
dilakukan pengujian di laboratorium dan harus memenuhi persyaratan yang
telah ditentukan. Adapun material – material yang dibutuhkan dalam
pelaksanaan proyek tersebut adalah :
1. Batu Pecah
Material ini diperoleh dari quary Kanatang yang kemudian dipecahkan
dengan menggunakan alat pemecah batu (stone crusher). Dari stone
crusher tersebut dihasilkan batu pecah ¾, batu pecah 1/2, dan abu batu
(filler) :

29
Gambar 3.14. batu pecah ¾

Gambar 3.15. Batu Pecah ½


2. Aspal
Aspal yang didapat dari pertamina dengan perbandingan campuran aspal
60/70.
3. Pasir alam
Pasir alam diperoleh dari Kanatang.

Gambar 3.16.Pasir Alam kanatang

30
3.2. Menajemen Proyek
Menurut Ervianto, 2007 tentang Manajemen Proyek Konstruksi.
Manajemen proyek adalah pengendalian dan koordinasi suatu proyek dari awal
(gagasan) hingga berakhirnya proyek untuk menjamin pelaksanaan proyek
secara tepat waktu, tepat biaya dan tepat mutu.
Fungsi dasar manajemen proyek terdiri dari :
a. Pengelolaan lingkup proyek
Lingkup proyek adalah total jumlah kegiatan atau item pekerjaan yang
harus dilakukan untuk menghasilkan produk yang diinginkan proyek
tersebut.
b. Pengelolaan waktu atau jadwal
waktu atau jadwal adalah salah satu sasaran proyek, sehingga
keterlambatan akan mengakibatkan berbagai bentuk kerugian, pengelolaan
ini meliputi perencanaan penyusunan dan pengendalian jadwal.
c. Pengelolaan biaya
Pengelolaan biaya meliputi segala aspek yang berkaitan dengan
hubungan antara dana dan kegiatan proyek, agar pengelolaan biaya bisa
efektif terutama dalam aspek perencanaan dan pengendalian proyek, maka
disusun berbagai macam - macam teknik dan metode, misalnya teknik
menyusun angaran biaya proyek ataupun konsep nilai hasil.

d. Pengelolaan kualitas mutu


Mutu dalam kaitanya dengan proyek diartikan sebagai memenuhi syarat
untuk penggunaan yang telah ditentukan.

Ada 3 faktor penentu keberhasilan pada proyek Peningkatan Struktur Jalan


Kawangu - Tanarara yaitu :
1. Biaya yang ditetapkan proyek tersebut dikerjakan dengan biaya yang
disepakati yaitu sebesar Rp Rp 3.945.570.000,- (Tiga miliyar Sembilan ratus

31
empat puluh lima juta lima ratus tujuh puluh ribu rupiah) yang berasal dari
APBD Kabupaten Sumba Timur.
2. Mutu yang disyaratkan harus diselesaikan sesuai dengan kontrak kerja antara
Dinas Pekerja Umum Kabupaten Sumba Timur Bidang Bina Marga dan PT.
Teratai sebagai pelaksana.
3. Waktu yang ditetapkan dalam proyek Peningkatan kapasitas jalan Kawangu -
Tanarara selama 150 hari.

3.2.1. Pihak – Pihak yang Terkait dalam Proyek


Pihak – pihak yang terlibat dalam proyek Peningkatan kapasitas jalan
Kawangu - Tanarara dan tugasnya masing – masing :

1. Pemilik (Owner)
Pemilik proyek atau pemberi tugas atau pengguna jasa adalah orang/badan
yang memiliki proyek dan memberikan pekerjaan atau menyuruh
memberikan pekerjaan kepada pihak penyedia jasa dan membayar biaya
pekerjaan tersebut.

Hak dan kewajiban pengguna jasa


1. Menunjuk penyedia jasa (konsultan dan kontraktor).
2. Meminta Laporan secara periodik mengenai pelaksnaaan pekerjaan
yang telah dilakukan oleh penyedia jasa.
3. Menyediakan fasilitas baik berupa sarana dan prasarana yang
dibutuhkan oleh pihak penyedia jasa untuk kelancaran pekerjaan.
4. Menyediakan lahan untuk pelaksanaan pekerjaan.
5. Menyediakan dana dan kemudian membayar kepada pihak penyedia
jasa sejumlah biaya yang diperlukan untuk mewujudkan sebuah
bangunan.

32
6. Ikut mengawasi jalannya pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan
dengan jalan menempatkan atau menunjuk suatu badan atau orang
untuk bertindak atas nama pemilik.
7. Mengesahkan perubahan dalam pekerjaan (bila terjadi).
8. Menerima dan mengesahkan pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan
oleh penyedia jasa jika produknya telah sesuai dengan apa yang
dikehendaki.

2. Konsultan
Pihak atau badan yang disebut sebagai konsultan dapat dibagi menjadi
dua, yaitu : konsultan perencana dan konsultan pengawas.
a. Konsultan Perencana
Konsultan perencana adalah orang/badan yang membuat perencanaan
bangunan secara lengkap baik bidang arsitektur, sipil, maupun bidang
lain yang melekat erat dan membentuk sebuah sistem bangunan.
b. Konsultan Pengawas
Konsultan Pengawas adalah orang/badan yang ditunjuk pengguna jasa
untuk membantu dalam pengelolaan pelaksanaan pekerjaan
pembangunan mulai dari awal hingga berakhirnya pekerjaan
pembangunan.

Hak dan Kewajiban Konsultan Pengawas :


1. Menyelesaikan pekerjaan dalam waktu yang telah ditetapkan
2. Membimbing dan mengadakan pengawasan secara periodic dalam
pelaksanaan pekerjaan
3. Melakukan perhitungan prestasi pekerjaan
4. Mengkoordinasikan dan mengendalikan kegiatan konstruksi serta
aliran informasi antar berbagai bidang agar pelaksanaan pekerjaan
berjalan lancar.

33
5. Menghindari kesalahan yang mungkin terjadi sedini mungkin serta
menghindari pembengkakan biaya.
6. Mengatasi dan memecahkan persoalan yang timbul di lapangan
agar dicapai hasil akhir sesuai dengan yang diharapkan dengan
kualitas,kuantitas, serta waktu pelaksanaan yang telah ditetapkan.
7. Menerima/menolak material/peralatan yang didatangkan oleh
kontraktor
8. Menghentikan sementara bila terjadi penyimpangan dari peraturan
yang berlaku.
9. Menyusun laporan kemajuan pekerjaan (harian, mingguan,
bulanan).
10. Menyiapkan dan menghitung adanya kemungkinan tambah atau
berkurangnya pekerjaan.

3. Kontraktor
Kontraktor adalah orang/badan yang menerima pekerjaan dan
menyelenggarakan pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan biaya yang telah
ditetapkan berdasarkan gambar rencana dan pertaturan dan syarat-syarat
yang telah ditetapkan.

Hak dan Kewajiban Kontraktor adalah :


1. Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan gambar rencana, peraturan dan
syarat-syarat, risalah penjelasan pekerjaan, dan syarat-syarat tambahan
yang telah ditetapkan oleh pengguna jasa.
2. Membuat gambar-gambar pelaksanaan yang disahkan oleh konsultan
pengawas sebagai wakil dari pengguna jasa.
3. Menyediakan alat keselamatan pekerjaan seperti yang diwajibkan
dalam peraturan untuk menjaga keselamatan pekerja dan masyarakat
4. Membuat laporan hasil pekerjaan berupa laporan haria, mingguan,
bulanan.

34
5. Menyerahkan seluruh atau sebagian pekerjaan yang telah diselesaikan
sesuai dengan ketetapan yang berlaku

Pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proyek meliputi beberapa


kelompok antara lain sebagai berikut :

PEMILIK PROYEK
.

KONSULTAN KONTRAKTOR
SUPERVISI

Hubungan Kontraktual

Hubungan Koordinasi

Gambar.3.17. Skema Hubungan Kerja

Hubungan kerja ketiga pihak yang terjadi yaitu pemilik proyek,


Konsultan supervisi dan Kontraktor yaitu :
1. Hubungan Antara Pemilik Proyek dan Konsultan
Hubungan antara kedua unsur pengelola proyek ini erat sekali, dimana
konsultan merupakan wakil pemilik proyek dalam hal menyangkut
pengawasan seperti tertera dalam bagan diatas.
2. Hubungan Antara Kontraktor dan Konsultan Pengawas
Hubungan antara kedua unsur pengelola ini dimana semua kegiatan
menyangkut pelaksanaan yang dilaksanakan oleh kontraktor baru dapat
dikerjakan melalui konsultasi atau koordinasi dengan konsultan
pengawas..
3. Hubungan antara pemilik proyek dan kontraktor

35
Hubungan ini terbatas pada hal–hal yang bersifat prinsip-prinsip tertentu
antara lain memberikan penjelasan kepada pemilik proyek jika pemilik
proyek mengadakan peninjauan atau inpeksi lapangan dan melakukan
pembayaran atas kemajuan proyek.

3.2.2. Struktur organisasi


Struktur organisasi adalah struktur hubungan tugas, wewenang dan
tanggung jawab dari setiap komponen kerja dengan oarang – orang dalam
organisasi untuk mencapai tujuan. Personalia yang menduduki jabatan dan
struktur organisasi biasanya disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi,
serta keahlian dan kemampuan dari masing- masing tenaga kerja sehingga
dapat bekerja dengan hasil yang optimal. Pada Peningkatan kapasitas jalan
Kawangu - Tanarara , PT. Teratai (sebagai kontraktor pelaksana) dan CV.
Widya Jasa Konsulindo (sebagai konsultan pengawas).
Ir. Iwan Yonathan

Derektur Utama

Saleh Sandrima, ST

General
Superintendent

Melyani T.
Feldi Y.V.Lonameo
Riwu.STT.Par
Logistik
Administrasi

Yulius W.M.Meha,ST Damianus Laura,ST Apris R. Nggili,ST

Material Engineer Pelaksana Lapangan Highway Engineer

Simson U.L Sobang Yulius Wungo

Labtech Mekanik

Gambar 3.18. Struktur organisasi kontraktor

36
Uraian Tugas dan Jabatan
1. Kepala proyek
Uraian tugas dan tanggung jawabnya adalah sebagai berikut:
1) Penanggung jawab tertinggi secara umum atas semua kegiatan dan
sebab akibat yang dilakukan sehubungtan dengan perusahaan yang
dipimpinnya.
2) Mengambil keputusan tertinggi dalam perusahaan.
3) Membuat keputusan dan kebijakan atas semua masalah yang
dihadapi oleh level dibawahnya.
4) Menandatangani seluruh yang berhubungan dengan kontrak kerja

2. Teknik/ Adkon
Tugas kepala urusan teknik yaitu :
1) Membantu pelaksana kegiatan dalam mengendalikan proyek sejak
awal kegiatan sampai pelaksanaan kegiatan.
2) Membantu mengevaluasi pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan
sehingga sesuai dengan yang direncanakan.
3) Memberikan saran-saran teknis kepada pelaksanaan kegiatan.
4) Mengambil keputusan yang berhubungan dengan proyek atas
persetujuan pelaksana kegiatan.
5) Mengumpulkan, meneliti dan mengelola data yang berhubungan
dengan pelaksanaan proyek.

3. Quality Control
Tugas Quality yaitu :
1) Memeriksa kualitas hasil pekerjaan yang telah selesai.

37
2) Memberikan saran kepada pelaksana agar hasil pekerjaan tersebut
sesuai dengan dokumen.
3) Memeriksa kualitas material yang akan digunakan dalam pelaksanaan
pekerjaan.

4. Logistik
Tugas logistik yaitu :
1) Mengadakan semua bahan ataumaterial yang dibutuhkan untuk
pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
2) Bertanggung jawab kepada general superintendent.
3) Melakukan survey dan memberikan informasi kepada general
suprintendent tentang sumber dan harga bahan serta sewa alat.
4) Melaksanakan administrasi tentang pengadaan, penyimpanan dan
pemakaian bahan atau material.

5. Surveyor
Tugas Surveyor yaitu :
1) Melakukan pengukuran yang berhubungan dengan data pendukung
dan persyaratan pekerjaan dilapangan.
2) Bertanggung jawab kepada highway engineer.
3) Selalu melakukan koordinasi dengan pelaksana dalam rangka
kelancaran pelaksanaan pekerjaan.

6. Pelaksana
Tugas pelaksana yaitu :

1. Memimpin dan melaksanakan seluruh item pekerjaan dilapangan


sesuai kontrak.
2. Bertanggung jawab kepada highway engineer.

38
3. Membaca dan memahami semua gambar kerja untuk dapat
dilaksanakan sesuai syarat kontrak.
4. Membuat laporan harian, mingguan dan bulanan tentang pelaksanaan
pekerjaan dilapangan.
5. Mengkoordinir dan mengawasi tentang kecepatan penggunaan bahan,
peralatan, tenaga kerja dan proses pelaksanaan kontruksi yang efektif
dan efisian.
6. Merencanakan dan mengendalikan pelaksanaan keselamatan dan
kesehatan kerja.

3.2.3. Rencana waktu pelaksanaan proyek


Melaksanakan suatu proyek tidak akan terarah secara jelas tanpa
adanya suatu rencana kerja. Seringkali terdapat banyak keterlambatan
pekerjaan atau masalah-masalah lain yang sering timbul, oleh karena itu tim
proyek perlu membuat jadwal pelaksanaan proyek/time schedule (Lihat di
Lampiran) sehingga hal-hal tersebut bisa diatasi.
Sistem pengendalian waktu ini sangat berguna untuk mengatahui
kemajuan (Realisasi) suatu proyek, hal ini bertujuan untuk menghindari
keterlambatan dalam pelaksanaan proyek. Pada proyek ini prestasi mengalami
kemajuan atau lebih cepat dari rencana. Hal ini menurut pengamatan
dilapangan karena tenaga kerja cukup, peralatan yang digunakan memadai
dan sudah berada dilapangan saat akan digunakan, saat memulai suatu
pekerjaan, material yang dibutuhkan telah siap dilapangan, dan cuaca baik.
Jadwal pelaksanaan proyek adalah cara yang dapat menunjukan kapan
berlangsungnya setiap kegiatan-kegiatan proyek. Rencana kerja yang paling
sering digunakan adalah diagram batang (bar charts) karena sederhana, mudah
dalam pembentukannya dan mudah dimengerti oleh pemakainya.
Bar charts adalah sekumpulan daftar kegiatan yang disusun dalam
kolom arah vertikal. Kolom arah horisontal menunjukan skala waktu. Saat

39
mulai dan akhir dari sebuah kegiatan dapat terlihat dengan jelas, sedangkan
durasi kegiatan digambarkan oleh panjangnya diagram batang.
Proses penyusunan diagram batang dilakukan dengan langkah sebagai
berikut :
1) Daftar item kegiatan, yang berisi seluruh jenis kegiatan pekerjaan yang
ada dalam rencana pelaksanaan pembangunan
2) Urutan pekerjaan, dari daftar item tersebut diatas disusun urutan
pelaksanaan pekerjaan berdasarkan prioritas item kagiatan yang akan
dilaksanakan kemudian, dan tidak mengesampingkan kemungkinan
pelaksanaan pekerjaan secara bersamaan.
3) Waktu pelaksanaan pekerjaan, adalah jangka waktu pelaksanaan dari
seluruh kegiatan yang dihitung dari permulaan kegiatan sampai seluruh
kegiatan berakhir.

3.2.4. Rencana Anggaran Biaya Proyek

Sistem manajemen proyek harus dapat memberikan cara yang logis


untuk dapat menyusun anggaran keuangan proyek yang realistis dan bertahap
waktu, atau disebut sebagai anggaran yang berorientasi pada keluaran-
keluaran.

Anggaran yang berorientasi pada keluaran-keluaran mempunyai


kelebihan dibandingkan dengan sistem anggaran tradisional yang biasanya
didasarkan pada kegiatan dan jenis pengeluaran. Penyusunan anggaran
tradisional memusatkan pada jenis-jenis pengeluaran (mata anggaran),
sedangkan anggaran yang berorientasikan pada pengeluaran memusatkan pada
keluaran-keluaran dan kegiatan-kegiatannya. Dengan sistem anggaran
tradisional, sukar menetukan pengaruh perubahan tingkat sumber daya
terhadap proyek, sedangkan dengan anggaran yang berorientasi pada
keluaran-keluaran memudahkan untuk menentukan bagaimana perubahan
pada sumber daya akan mempengaruhi proyek. Sistem anggaran tradisional

40
tidak memperlihatkan saat kapan dana dibutuhkan atau arus pembayaran (cash
flow), sedangkan sistem anggaran yang berorientasi pada keluaran
memperlihatkan waktunya dengan mengkaitkan biaya proyek dengan jadwal
proyek. Penyusunan anggaran yang berorientasi pada keluaran merupakan
penjabaran yang logis dari daftar kegiatan dan jadwal kegiatan.
Untuk setiap keluaran proyek, lukiskan kegiatan-kegiatan menurut
kerangka waktunya, kemudian perkiraan biaya untuk setiap kegiatan menurut
jenis pengeluaran yang bisa (seperti : peralatan, tenaga kerja, tanah dan
sebagainya). Lakukan seperti ini untuk setiap pengeluaran, kemudian
tambahkan untuk memperoleh seluruh jumlah. Dengan penyusunan anggaran
belanja seperti diuraikan diatas, tim proyek akan berkeyakinan lebih besar
tentang perkiraan pembiayaan yang realistis.
Dengan demikian, urutan langkah-langkah penyusunan anggaran
keuangan proyek adalah sebagai berikut :
1) Menetukan keluaran-keluaran yang harus dicapai.
2) Menentukan kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk dapat menghasilkan
pengeluaran yang telah ditetapkan.
3) Menetukan sumber daya yang diperlukan untuk setiap kegiatan dalam
rangka upaya mencapai pengeluaran tersebut.
4) Menyusun jadwal waktu kegiatan-kegiatan berupa bagan balok.
5) Menentukan pembiayaan yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan dengan
mengkaitkan pula sumber daya yang diperlukan.
6) Menentukan arus pembayaran (cash flow) setiap periode waktu tertentu
berdasarkan jadwal waktu kegiatan yang telah tersusun, misalnya setiap
triwulan.

3.3. Tinjauan Khusus


Pada tinjauan khusus ini penulis akan membahas pada pekerjaan HRS-
BASE, produksi campuran, penghamparan dan pemadatan lapisan HRS-
BASE

41
.

3.3.1. Pengertian dan Fungsi HRS-BASE


HRS-BASE adalah lapis tipis aspal beton lapis pondasi yang
terdiri dari campuran antara agregat bergradasi senjang, filler, zat aditif,
semen dan aspal keras dengan berbandingan tertentu, yang dicampur dan
dipadatkan dalam keadaan panas dengan suhu 1450C – 1650C. Lapisan
HRS-BASE memiliki sifat fleksibel yang tinggi, awet dan tahan
terhadap kelelehan. Campuran ini lebih tahan terhadap retak, tetapi
mudah mengalami deformasi plastis yang berupa timbulnya alur
(rutting) pada permukaan perkerasan, terutama akibat lalulintas berat.
Campuran ini terdiri dari batu pecah ¾”, batu pecah ½”, pasir, abu batu,
semen, bahan tambahan (zat aditif), dan aspal dengan komposisi tertentu
sesuai JMF (Job Mix Formula) dengan suhu 1450C - 1650C sehingga
campuran menjadi homogen. Ukuran maksimum agregat campuran
HRS-BASE maupun HRS-WC adalah 19 mm, tetapi HRS-BASE
mempunyai grasi yang lebih kasar daripada HRS-WC.

3.3.2. Pengertian AMP dan Komponen dari AMP


Asphalt Mixing Plant merupakan alat penghasil material Hotmix
yang setiap harinya mampu memproduksi 170 ton material Hotmix.
Tipe pencampuran yang digunakan jenis penakaran (Type batch plant)
dengan kapasitas batch 700 kg. AMP ini memiliki komponen –
komponen yang dapat mengatur pemasukan bahan mentah dengan
kwalitas yang tepat pada setiap takaran campuran dengan demikian
pengontrolan lebih baik dilakukan. Bagian – bagian dari AMP jenis
Timbangan (Batch Plant) sebagai berikut:

42
Gambar 3.19. AMP
1) Bin Dingin (Cold Bin)
Bin Dingin merupakan bak tempat penampung material
agregat dari tiap – tiap fraksi dari agregat kasar sampai agregat halus
yang diperlukan dalam produksi campuran panas. Bin dingin dalam
proyek ini terdapat 4 bak penampung (Bin) yang masing – masing
bin berisi agregat.
2) Pintu pengaturan pengeluaran agregat dari bin (Cold Feed Gate)
Bagian ini merupakan pintu bukaan agregat pada bin dingin
yang dipasang di bagian bawah dimana pintu ini dilengkapi dengan
skala yang angkanya menunjukkan besarnya lubang bukaan yang
dapat diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhan.
3) Sistem pemasok agregat dingin (Cold Elevator)
Sistem pemasok agregat dingin ini bertujuan untuk
mengangkut agregat dari Bin dingin menuju kedrum pengering
(Dryer)
4) Pengering (Dryer)
Pada bagian ini agregat dikeringkan dengan cara dipanaskan
dan dikeringkan dengan temperatur yang diminta. pengeringan ini

43
berfungi untung menghilangkan kadar air yang terkandung dalam
agregat dan memanaskan agregat.
5) Pengumpul debu (Dust Collector)
Pengumpul debu berfungsi sebagai alat pengontrol polusi
udara di lingkungan lokasi AMP yang ditimbulkan dari blower dan
disalurkan lewat cerobong asap pembakar.
6) Cerobong pembuangan (Exhaust Stack)
Alat ini merupakan cerobong pembuangan asap pembakaran.
7) Unit ayakan panas (Hot Screening Unit)
Unit ayakan panas berupa saringan yang membagi dalam
beberapa ukuran yang selanjutnya dikirim ke bin panas.
8) Bin panas (Hot Bin)
Bin panas adalah tempat penyimpanan/penampung sementara
agregat panas sebelum dicampur dalam pugmill.

9) Sistem pemasok bahan pengisi (Filler Elevator)


Sistem pemasok bahan pengisi berfungsi untuk pemasok bahan
pengisi.
10) Tangki aspal (Asphalt Storage)
Tangki Aspal merupakan tempat untuk menampung aspal yang
sudah dipanaskan dan siap untuk ditimbang dan dimasukkan ke
dalam campuran.
11) Timbangan Agregat (Weight Hopper)
Timbangan Agregat berfungsi untuk menimbang sesuai dengan
komposisi yang sudah direncanakan sebelum dimasukkan kedalam
unit pencampuran.
12) Unit Pencampuran (Mixer atau Pugmil)
Unit pencampuran yang dimulai dari fraksi yang paling kecil
sampai fraksi yang paling kasar. Mixer pug mill terdiri dari as

44
kembar dengan arah gerak yang berlawanan. Pencampuran ini
berlangsung selama 40 detik.
13) Ruang sistem control operasi ( Operasi Control System)
Ruang sistem control operasi merupakan tempat untuk
mengontrol seluruh kegiatan operasi unit peralatan pencampuran
aspal panas (AMP). Dimana pengoperasiaan dilakukan dengan
mengatur sekelar menggunakan tangan atau secara manual.

3.3.3. Proses pembuatan material Hot Mix (HRS-BASE)


a. Asphalt dicairkan dan dipanaskan dalam ketel sampai suhu 1600C dan
dipompa ke dalam timbangan AMP.
b. Material agregat kasar (batu pecah 3/4 dan ½) dan agregat halus (pasir dan
abu batu) diangkut dan ditempatkan terpisah dalam cold bin masing –
masing, yang selanjutnya diangkut ke Blower atau pengering dengan
mengunakan cold elevator.
c. Jumlah material yang dikeluarkan dari cold bin ditentukan berdasarkan
kebutuhan yang ditentukan sesuai JMF dengan menyetel pembukaan
Hopper, dimana terlebih dahulu dilakukan proses kalibrasi.
d. Setelah bahan dipanaskan dalam Blower, material dibawa dengan hot
elevator ke unit ayakan yang berupa saringan panas untuk dipisahkan
berdasarkan ukurannya.
e. Sebelum material dimasukkan dalam unit pencampuran (Pugmill), masing
– masing material ditimbang.
f. Setelah material selesai ditimbang baik itu batu pecah ¾, ½, pasir, abu
batu, semen, dan zat aditif. Campuran agregat tersebut ditambahkan
asphalt panas yang terlebih dahulu telah ditimbang sehingga didapat suatu
campuran yang homogen .
g. Setelah campuran Hot Mix telah siap, campuran tersebut di bawah ke
lokasi penghamparan dengan menggunakan Dump Truck yang disertakan
dengan tiket pengiriman.

45
Aspal Panas Penyimpanan Timban
keras kan aspal panas gan

Penyim
Timbu Bin Camp
Pema Sarin pan Timban cam
nan din uran
nas gan agrega gan pur
agreg gin panas
t
at
panas
Penyimpanan bahan Timban
tambahan gan

Gambar 3.20. Bagan Alir Pengoperasiaan AMP Jenis Takaran

3.3.4. Komposisi Campuran Hot Mix Di AMP


Kapasitas Asphalt Mixing Plant (AMP) = 700 Kg.
Job Mix Formula untuk lapisan AC – WC
a. CA ( batu pecah ¾ ) = 16 % = 105 Kg
b. MA ( batu pecah ½ ) = 18 % = 118 Kg
c. SN ( pasir alam) = 45 % = 295 Kg
d. DC ( abu batu) = 20 % = 131 Kg
e. Semen = 1 % = 7 Kg
f. Asphalt = 6 % = 44 Kg +
700 Kg

Volume HotmiX HRS-BASE yang digunakan dalam proyek peningkatan jalan


Kawangu – Tanarara Kecamatan Matawai Lapau :

Dimana, Panjang jalan yang dikerjakan = 35000 m

46
Tebal = 0,04 m

Lebar jalan =3 m

Bj AC-WC = 2,24 T/m2

Rumus Volume Hotmix :

= Panjang jalan x Tebal x Lebar jalan x Bj AC-WC

= 3.500 m x 0,04 m x 6 m x 2,24

= 1.881,6 m3

Jadi total volume Hotmix yang digunakan : 1.881,6 m3

3.3.5. Kebutuhan Bahan


Kebutuhan bahan yang digunakan untuk lapis HRS-BASE pada Peningkatan
Struktur Jalan Kawangu - Tanarara dengan volume Hotmix 1.189,92 ton
sebagai berikut :
1 Ton = 1000 kg
Maka, 1.189,92 ton = 1.189.920Kg
1. Batu Pecah
a. Batu pecah ¾ dengan komposisi 16 %
16 % ×537,6 𝑡𝑜𝑛
Jumlah batu pecah yang digunakan = 100 𝑥 2,24

= 3,828 𝑚3
b. Batu pecah ½ dengan komposisi 18 %
18 % × 537,6 𝑡𝑜𝑛
Jumlah batu pecah yang digunakan = 100 𝑋 2,24

= 43,2 𝑚3
c. Pasir dengan komposisi 45 %

47
45 % ×537,6 𝑡𝑜𝑛
Jumlah pasir yang digunakan = 100 𝑥 2,24

= 108 𝑚3
d. Abu batu dengan komposisi 20 %
20 % × 537,6 𝑡𝑜𝑛
Jumlah abu batu yang digunakan = 100 𝑥 2,24

= 48 𝑚3
e. Semen dengan komposisi 1 %
1 % × 537,6 𝑡𝑜𝑛
jumlah semen yang digunakan =
100

= 5,376 𝑡𝑜𝑛 = 5376 𝑘𝑔


1 zak semen = 50 kg
Jadi jumlah semen yang digunakan dalam zak
5376 𝑘𝑔
= = 107,52 𝑧𝑎𝑘 = 107 𝑧𝑎𝑘
50 𝑘𝑔

f. Aspal dengan komposisi 6 %


6 % ×537.600 𝐾𝑔
Jumlah aspal yang digunakan = 100

= 32256 Kg
1 zak Aspal = 50 kg
Jadi jumlah aspal yang dibutuhkan dalam zak
32256 Kg
= = 645,12𝑧𝑎𝑘 = 645 𝑧𝑎𝑘 𝑎𝑠𝑝𝑎𝑙
50 𝐾𝑔

3.3.6. Gambar Sketsa


Seperti yang dikemukakan oleh penulis pada batasan masalah yaitu penulis
hanya meninjau pada pekerjaan lapisan HRS-BASE. Dibawah ini adalah
gambar profil melintang jalan.

48
AC - WC
AGREGAT
A
TIMBUNAN
PILIHAN

GALIAN
BIASA
TIMBUNAN
PILIHAN

Gambar 3.21. Gambar Melintang Jalan

3.3.7. Prosedur Pelaksanaan


1. Persiapan Pelaksanaan
a. Mempelajari gambar kerja yang diberikan direksi teknik
b. Menentukan lebar dan panjang jalan

2. Pelaksanaan Pekerjaan
a. Pengangkutan
Campuran Hotmix diangkut kelokasi dengan menggunakan dump truck
sejauh 150 km. Sebelum dump truck di gunakan untuk pengangkutan
terlebih dahulu di periksa dan diberi pelapis pada bak truck dengan
menggunakan solar. Sebelum dump truck diberangkatkan, dilakukan
pengetesan suhu berkisar 1450C – 1650C dan pada saat tiba dilokasi

49
penghamparan dilakukan pengetesan suhu 1300C – 1500C. Selama
pengangkutan campuran Hotmix ditutup dengan terpal, agar terlindung
dari cuaca dan perubahan suhu secara dratis.

b. Penghamparan
Prosedur pelaksanaannya adalah :
1. Sebelum penghamparan permukaan jalan di patching dan di beri
tack out (lapisan perekat) dimana tebal lapisan tack out 0.15 liter .
2. Sebelum hotmix dihamparkan maka dilakukan pemeriksaan suhu
yaitu berkisar 1300C – 1500C. Pemeriksaan ini dilakukan bertujuan
untuk mengetahui suhu dari campuran. Sebab suhu terlalu rendah
maka campuran beraspal tidak dapat dihamparkan sebaliknya kalau
suhu diatas dari suhu yang direncanakan maka aspal tidak dapat di
hamparkan karena agregat tidak dapat memikul beban lagi karena
panas berlebihan.
3. Setelah dilakukan pengetesan suhu dan sesuai dengan suhu yang
direncanakan maka pekerjaan penghamparan dapat dilakukan
dengan menggunakan Aspalt Finisher.
4. Sebelum dijalankan maka ditentukan ketebalan hamparan dan
kemiringan. Ketebalan aspal yang dihampar 4 cm
5. Campuran Hotmix dipindahkan dari dump truck ke hopper finisher.
6. Operator menjalankan aspal finisher sehingga campuran Hotmix di
hamparkan secara merata.
7. Ketebalan hamparan harus selalu dikontrol dengan jalan
memasukkan kawat penghampar, sehingga diketahui ketebalan
Hotmix yang diinginkan.

c. Pemadatan
Pemadatan campuran beraspal adalah proses pemadatan dan
pengurangan volume udara pada campuran beraspal. Pemadatan ini

50
bertujuan untuk memperoleh kekuatan dan stabilitas campuran serta
menggurangi rongga udara agar kedap air. sifat kedap tersebut dapat
mencegah penuaan aspal akibat oksidasi dan mencegah masuknya air
ke lapis pondasi agregat.
Pada pemadatan campuran Hotmix digunakan cara pemadatan sebagai
berikut :
1. Pada bagian jalan lurus, pemadatan dimulai dari tepi perkerasan
menuju ke tengah jalan.
2. Pada bagian mendaki dan menurun, dimulai dari bagian yang
rendah jalan menuju kebagian jalan yang agak tinggi
3. Mesin gilas roda 2 ditempatkan pada lintasan pertama dan roda
karet pada bagian kedua, di mana masing – masing sudah diisi
dengan air bersih.

Dalam pelaksanaan pemadatan dapat dilakuakan dengan 3 cara :

1. Pemadatan awal (Breakdown Rolling)


Pemadatan awal adalah pemadatan yang dilakukan setelah
penghamparan pada selang temperature yang disyaratkan.
Pemadatan ini berfungsi memberi pemadatan awal agar campuran
beraspal menjadi relatife stabil untuk dilewati pemadatan
berikutnya. Jumlah lintasan pada pemadatan awal ini yaitu 3
passing dengan menggunakan alat Tandem Roller.
2. Pemadatan antara (Intermediate Rolling)
Pemadatan antara merupakan pemadatan utama yang berfungsi
untuk mencapai kepadatan yang diinginkan, dengan jumlah
pemadatn sebanyak 12 passing. Pemadatan antara harus segera
dilakukan setelah pemadatan awal selesai. Pemadatn antara
umumnya dilakukan alat pemadatan ban karet pneumatic
(Pneumatic Tireal Roller) .
3. Pemadatan akhir (Finish Rolling)

51
Pemadatn akhir umunya dilakukan untuk meningkatkan
penampakan permukaan. Jumlah lintasan pada pemadatan akhir 1
lintasan – 2 lintasan. Pemadatan ini dilakukan dengan alat
pemadatan mesin gilas roda baja statis (dalam proyek ini tidak
dilakukan pemadatan akhir).

3.4. Pengendalian Pelaksanaan Pekerjaan


Sistem pengendalian kontruksi dalam proyek merupakan salah satu
komponen yang sangat penting untuk mengontrol pelaksanaan setiap pekerjaan
pada proyek tersebut.Sistem pengendalian dilakukan karena hal – hal yang
terjadi dalam pelaksanaan sebuah proyek bisa saja menyimpang dari rencana
semula.hal ini dapat menimbulkan masalah pada proyek tersebut.

Dengan adanya suatu sistem pengendalian yang baik segala kesulitan


yang terjadi dapat diselesaikan dengan baik,sehingga tujuan dari proyek tersebut
dapat tercapai.

Dalam menjalankan sistem pengendalian dalam sebuah proyek


kontruksi,ada tiga(3) aspek yang perlu diketahui yaitu :

a. Pengendalian Waktu
b. Pengendalian Biaya
c. Pengendalian Mutu

3.4.1. Pengendalian Waktu


Sistem pengendalian waktu ini sangat berguna untuk mengatahui
kemajuan suatu proyek. Hal ini bertujuan untuk menghindari keterlambatan
dalam pelaksanaan proyek.

Pada proyek ini prestasi mengalami kemajuan atau lebih cepat dari
rencana. Hal ini menurut pengamatan dilapangan karena :

52
1. Apakah tenaga kerja cukup.
2. Peralatan yang digunakan cukup memadai dan sudah berada dilapangan
saat akan digunakan.
3. Saat memulai suatu pekerjaan, material yang dibutuhkan telah siap
dilapangan (material yang digunakan berada tepat waktu dilapangan).
4. Cuaca baik
Jadwal pelaksanaan pekerjaan dalam 1 hari lamanya 8 jam yang terhitung
dari pukul 08.00 – 17.00 WITA dengan waktu istirahat dari pukul 12.00 -
13.00 WITA. Biasanya pada waktu tertentu dilakukan rapat koordinasi
untuk mengevaluasi masalah – masalah yang dihadapi selama proyek
berjalan.

Untuk itu perlunya koordinasi yang baik antara pihak kontraktor dan
konsultan pengawas dalam hal kebutuhan tenaga kerja dan peralatan
dilapangan sehingga penggendaliaan waktu pelaksanaan dapat dapat berjaan
sesuai penjadwalan waktu yang telah direncanakan

3.4.2. Pengendalian Biaya


Tujuan utama dari sistem pengedalian biaya adalah untuk memberi
peringatan dini jika terjadi penyimpangan atau kesalahan yang berakibatkan
pada peningkatan pengeluaaran yang tidak sesuai dengan Rencana Anggaran
Biaya (RAB). Yang harus diperhatikan dalam sistem pengendalian biaya ini
adalah:

a. Bahan
Biaya yang dikeluarkan untuk memasok bahan material dalam
perkerjaan lokasi proyek harus sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya
(RAB).

b. Upah Tenaga Kerja

53
Dalam pengaturan pembiayaan upah tenaga kerja haruslah memakai
perhitungan analisa tenaga kerja yang sesuai dengan kontrak kerja.
Perhitungan analisa kerja bertujun untuk mengetahui beberapa banyak
jumlah tenaga kerja dalam pelaksanaan pekerjaan agar tidak terjadi
kesalahan dalam perekrutan tenaga kerja kelokasi proyek.

c. Peralatan
Analisa perhitungan peralatan yang digunakan dalam pelaksanaan
pekerjaan adalah alat berat, sedangkan peralatan pertukangan tidak
temasuk dalam perhitungan analisa peralatan. Karena biasanya dalam
pelaksanaan pekerjaan mulai kerjanya haruslah sesuai dengan time
schedule. Sehingga pengadaan alat berat ke lokasi proyek harus
bertepatan dengan waktu alat bekerja, karena apabila alat berat
diturunkan kelokasi proyek sebelum waktu alat berat tersebut bekerja,
maka akan terjadi pembengkakan biaya.

3.4.3. Pengendalian Mutu


Memenuhi standar mutu merupakan salah satu sasaran dari sebuah
pengelolaan disamping biaya dan waktu. Namun untuk mendapatkan mutu
pekerjaan sesuai yang diharapkan tidaklah gampang. Dalam hal ini, bahan
material dan metode pelaksanaan yang digunakan harus memehuhi kriteria
dan spesifikasi sehingga pekerjaan yang dilaksanakan dapat berfungsi selama
kurun waktu yang direncanakan. Pengendalian mutu meliputi:

1. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam proyek ini adalah bahan yang
memenuhi persyaratan spesifikasi. Dalam pengendalian mutu dilakukan
pengujian exktrasi untuk melihat kadar aspal dan gradasi bahan sesuai
spesifikasi yang ada.

54
2. Metode pelaksanaan
Metode pelaksanaan yang digunakan dalam proyek ini mulai dari
penghamparan campuran Hotmix dan pemadatan sesuai spesifikasi.

55
BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Dengan meninjau langsung pelaksanaan pekerjaan lapisan perkerasan AC-


WC pada Proyek Peningkatan Jalan Kawangu - tanarara penulis mengambil
beberapa kesimpulan ;

1. Lapisan AC – WC merupakan lapisan perkerasan yang terdiri dari


campuran beberapa fraksi batu pecah ( batu pecah ½ , batu pecah 3/4, pasir
dan filler ( abu batu) dan bahan pengikat berupa Aspal, dengan komposisi
tertentu yang dicampur pada suhu 1450C – 1650C.
2. Bahan – bahan material, tenaga kerja, dan peralatan yang digunakan dalam
Lapisan AC – WC sesuai dengan syarat mutu yang telah ditentukan
berdasarkan spesifikasi yang dikelurkan dan kontrak kerja.
3. Suhu campuran aspal beton panas tidak boleh dihamparkan apabila suhu
dibawah dari 1450C karena campuran aspal tidak dapat dipadatkan
(campuran menjadi dingin) dan suhu diatas dari 1650C akan mengakibatkan
agregat tidak mampu menahan beban, karena mudah terbakar.
4. Keterlambatan waktu pelaksanaan yang diakibatkan karena kurangnya
koordinasi antar pihak kontraktor dan konsultan pengawas.

4.2. Saran

Adapun saran yang ingin penulis sampaikan kepada pihak kontraktor dan
adik-adik semester adalah :

1. Meningkatkan kerja sama atau koordinasi antara semua komponen yang


terlibat antara satu dengan yang lain agar kemajuan pekerjaan menjadi
lebih lancar.

56
2. Pengawas pekerjaan agar selalu ada dilapangan untuk menghindari adanya
kekeliruan dalam proses pelaksanaan serta proyek pun dapat terlaksana
sesuai jadwal yang direncanakan.
3. Dalam pelaksanaan pekerjaan diharapkan menggunakan tenaga yang ahli
dan berpengalaman dibidangnya, hal ini untuk mengurangi kesalahan
dalam pelaksanaan.
4. Kepada adik-adik mahasiswa agar menggunakan kesempatan PKL dengan
baik untuk menerapkan dan mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh
selama mengikuti perkuliahan dan juga didalam melaksanakan PKL harus
sungguh-sungguh dan jangan pernah malu bertanya atau takut akan
sesuatu yang tidak kita mengerti agar tidak menjadi hal baru apabila sudah
terjun langsung ke lapangan pada saat bekerja.

57
DAFTAR PUSTAKA

Bina Marga, Spesifikasi Jalan-Jilid 3; 1996

Silvia Sukirman, 1999. Perkerasan lentur. Bandung ; Nova.

Silvia Rostianingsih, 1986. Manajemen Proyek

Wulfram, Manajemen Proyek ; 2002 .

58