Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan sangat penting bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, sebagai

petugaskesehatan khususnya perawat, memiliki tanggung jawab untuk

meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guna menunjang dalam

memberikan pelayanan dengan baik. Berdasarkan penelitian, ditemukan bahwa

peranan kebiasaan makanan rendah serat dapat menyebabkan konstipasi dimana

konstipasi menyebabkan tumpukan sisa makanan yang tidak di keluarkan akan

menekan organ-organ sekitarnya salah satunya adalah apendix sehingga tertekan

dan tersumbat, jika hal tersebut terus terjadi maka akan menyebabkan

pertumbuhan bakteri di area apendix dan menyebabkan apendisitis (Angkasa,

2016, http://harian.analisadaily.com di akses tanggal 01/07/2017)

Apendisitis adalah peradangan yang terjadi pada apendiks vermiformis, dan

merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering (Wijaya & Putri, 2013).

Orang yang menderita apendisitis biasanya akan merasakan nyeri pada perut

kanan bagian bawah, itu disebabkan karna ada infeksi pada daerah apendik atau

yang di kenal dengan usus buntu (Sugeng dan Kristiyanasari, 2013)

World Health Organization (WHO) pada tahun 2015 memperkirakan insiden

apendisitis di dunia mencapai 7 % dari keseluruhan jumlah penduduk di dunia.

Apendisitis dapat di temukan pada semua umur mulai dari 20 – 30 tahun. Insiden

apendisitis pada pria dengan perbandingan 1,4 % lebih banyak dari pada wanita,

1
dan anak kurang dari setahun jarang di temukan kasus apendisitis.(Angkasa,

2016, http://harian.analisadaily.comdi akses tanggal 01/07/2017)

Datadari Departemen Kesehatan (2015). Menurut survey di 15 provinsi

jumlah pasien rawat pada tahun 2014 di Indonesia menunjukkan jumlah

apendisitis sebanyak 4.351 kasus. Jumlah ini meningkat drastis dibandingkan

tahun sebelumnyayang hanya berjumlah 3.236 kasus (Albasit, 2016,

http://harialbasit09.blogspot.co.id. diakses tanggal 01/07/2017).

Di Sulawesi Tenggara dilaporkan bahwa penderita penyakit apendisitis pada

tiap tahun tergolong meningkat dengan jumlah penderita sebanyak 4.787 pada

tahun 2015 sedangkan pada tahun 2016 sebanyak 4.981 kasus (DinkesSultra,

2017)

Data dari rekam medik BLUD RS Konawe, diperoleh jumlah pasien apendisitis

pada tahun 2015 sebanyak 168 kasus, sedangkan di tahun 2016 sebanyak 182

kasus, dan pada tahun 2017 dari bulan Januari hingga April terdapat 17 kasus,

Pasien apendisitis merupakan penyakit terbesar ke 2 setelah Cedera kepala

ringan, dengan jumlah kasus dari tahun 2015- 2017 bulan april sebanyak kasus

(Rekam Medik BLUD RS Konawe, 2017).

Menurut Wijaya & Putri (2012) penatalaksanaan apendisitis dilakukan setelah

diagnosa apendisitis ditegakkan, pasien yang menderita apendisitis akan

mendapat tindakan apeendikomi agar mencegah komplikasi dan perforasi usus

yang pecah. Oleh karena itu seseorang yang mengalami apendiktomi akan

mengalami nyeri.

2
Penanganan nyeri pada pasien dapat dilakukan dengan tindakan farmakologi dan

non farmakologi, tindakan farmakologi berupa pemberian analgetik narkotik,

analgetik lokal, analgetik yang di kontrol klien dan obat-obatan non steroid

sesuai dosis tertentu, sedangkan tindakan non farmakologi dapat berupa tehnik

Ditraksi, Stimulasi Elektrik, dan Akupuntur (Zakiyah, 2015)

Ditraksi merupakan strategi pengalihan nyeri yang memfokuskan perhatian klien

ke stimulus yanglaindari pada terhadap rasa nyeri dan emosi negatif. Teknik

ditraksi memiliki berbagai jenis mulai dari ditraksi visual, ditraksi pendengaran,

ditraksi pernapasan dan ditraksi intelektual (Zakiyah, 2015)

Dalam sebuah penelitian yang berjudul “Pengaruh Terapi Murotal Al-Qur’an

Dalam Penurunan Nyeri Pasien Fraktur Ekstremitas”,dilakukan Suyanto (2013)

bahwa mendengarkan ayat suci Al-Qur’an dapat menstimulus gelombang delta

yang menyebabkan pendengar dalam keadaan tenang, tentram, dan

nyaman.Begitu pula padapasien persalinan kala satu disebutkan rata-rata

intensitas nyeri sebelum ditraksi murotal Al- Qur’an adalah skala 7 sedangkan

setelah dilakukan tehnik ditraksi murotal Al-Qur’an rata-rataintensitasa nyeri

adalah skala 5 (Handayani, dkk, 2014). Penelitian ini sejalan dengan penelitian

yang dilakukan oleh Khasanah (2015) bahwa terdapat pengaruh penurunan

intensitas nyeri pada pasien dengan teknik ditraksi murotal Al-Qur’an.

Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian

tentang “Penerapan Tehnik Ditraksi Murotal Al-Qur’an Terhadap Penurunan

Intensitas Nyeri Pada Pasien Post ApendiktomiDi Badan Layanan Umum Daerah

Rumah Sakit Konawe

3
B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ Bagaimanakah penerapan

tehnik ditraksi murotal al-qur’an terhadap penurunan intensitas nyeri pada

pasien post apendiktomi di Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit

Konawe?”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan umum pada penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran

tentang penerapan tehnik ditraksi murotal al-qur’an dalam penurunan

intensitas nyeri pada pasien post apendiktomi di Badan Layanan Umum

Daerah Rumah Sakit Konawe.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui intensitas nyeri sebelum dilakukan tindakan ditraksi

murotal al-qur’anpada kedua pasien post apendiktomi.

b. Untuk mengetahui intensitas nyeri setelah dilakukan tindakan ditraksi

murotal al-qur’an pada kedua pasien post apendiktomi.

c. Untuk menggambarkan perubahan intensitas nyeri sebelum dan sesudah

dilakukan tindakan ditraksi murotal al-qur’an pada kedua pasien post

apendiktomi.

D. Manfaat Penelitian

4
1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, hasil dari penerapan tehnik ditraksi murotal al-qur’an ini

diharapkan dapat menjadi sumber refrensi atau masukan perkembangan ilmu

keperawatan khususnya pada pasien post apendiktomi

2. Manfaat Praktis

a. Bagi institusi pendidikan Akper Pemkab Konawe, sebagai sumber

informasi dan bahan bacaan dalam meningkatkan khasanah ilmu

pengetahuan dibidang keperawatan medikal bedah.

b. Bagi profesi perawat merupan refrensi dan panduan dalam

memaksimalkan tugas utama perawat sebagai pemberi asuhan

keperawatan terutama dalam hal pemberian tehnik ditraksi terhadap

penurunan intensitas nyeri.

c. Bagi tempat penelitian yaitu sebagai bahan informasi bagi perawat di

BLUD RS Konawe untuk di jadikan sebagai tambahan pengetahuan

untuk bersikap baik dan benar dalam pemberian tehnik ditraksi terhadap

penurunan intensitas post apendiktomi

d. Bagi pasien dapat mengetahui dan menerapkan tehnik ditraksi dalam

menurunkan intensitas nyeri secara mandiri.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP PENYAKIT

1. Definisi

Apendisitis adalah peradangan yang terjadi pada apendiks vermiformis, dan

merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Apendisitis adalah

merupakan salah satu penyakit saluran cerna yang paling umum di temukan

dan paling sering memberikan keluhan abdomen yang akut (acu abdomen).

Apendiktomi adalah pengangkatan apendiks terinflamasi dapat dilakukan

pada pasien dengan menggunakan pendekatan endoskopi, namun adanya

perlengketan multiple posisi retroperitoneal dari apendiks atau robek perlu

dilakukan prosedur pembukaan(Wijaya & Putri, 2013)

Apendisitis merupakan peradangan pada usus buntu apendiks. Apendisitis

adalah kondisi dimana infeksi terjadi di umbai cacing dalam kasus ringan

dapat sembuh tanpa perawatan tetapi banyak kasus memerlukan operasi

laparatomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terisfeksi. Bila tidak

terawat angka kematian cukup tinggi di karenakan peritonitis dan shock ketika

umbai cacing yang terinfeksi hancur. (Jitowiyono dan Kristiyanasari , 2012).

2. Klasifikasi

Menurut Wijaya & Putri (2013) menjabarkan apendisitis terbagi atas 2 yaitu

sebagai berikut :

a. Apendisitis Akut

6
Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada

kuadran pada bawah kanan abdomen, penyebab paling umum untuk bedah

abdomen darurat. Apendisitis akut adalah nyeri atau rasa tidak enak di

sekitar umbilicus berlangsung antara 1 sampai 2 hari. Dalam beberapa

jamnyeri bergeser ke kuadran kanan bawah dengan disertai mual ,

anoreksiadan muntah.

b. Apendisitis Kronik

Apendisitis kronis adalah nyeri perut kanan bawah lebih dari 2 minggu,

radang kronik apendiks secara makroskopik dan mikroskopik, dan keluhan

menghilang setelah apendiktomi. Kriteria mikroskopik apendiks kronik

adalah fibrosis menyeluruh dinding apendiks, adanya jaringan parut dan

ulkus lama di mukosa, dan infiltrasi sel inflamasi kronik.

3. Anatomi Fisiologi

Gambar.2.1 Anatomi apendisitis (Yeni, 2012)

Fungsi apendiks tidak diketahui. Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml/hari.

Lendir secara normal dicurahkan kedalam lumen dan selan mengalir ke

secum. Hambatan aliran lendir di muara apendiks tampaknya berperan pada

7
patogenisasiapendisitis. Diperkirakan apendiks mempunyai peranan dalam

mekanisme imunologik. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh Gut

Asosiated Lympoid Tissue(GALT) yang terdapat di sepanjang saluran cerna

termasuk apendiks ialah Ig A. Immunoglobulin itu sangat efektif sebagai

pelindung terhadap infeksi. Namun pengangkatan apendiks tidak

mempengaruhi sistem imun tubuh sebab jumlah jaringan limfe disini kecil

sekali jika dibandingkan dengan jumlah saluran cerna di seluruh tubuh

(Wijaya & Putri, 2013)

4. Etiologi

Terjadinya apendisitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri. Namun

terdapat banyak sekali faktor pencetus terjadi penyakit ini. Obstruksi pada

lumen apendiks ini biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja keras

fekalit, hiperlapasia jaringan limfoid, penyakit cacing, parasit, benda asing

dalam tubuh, cancer primer dan striktur. Namun yang paling sering

menyebabkan obtruksi lumen apendiks adalah fekalit dan hiperlapasia

jaringan limfoid (Irga,2007 dalam Jitowiyono & Kristiyanasari 2012).

Sedangkan dalam Wijaya & Putri (2013) penyebab usus buntu disebabkan

oleh :

a. Ulterasi pada mukosa

b. Obtruksi pada colon oleh fekalit

c. Pemberian barium

d. Berbagai macam penyakit cacing

e. Tumor

8
f. Sriktur karena fibrosis pada dinding usus.

5. Patofisiologi

Menurut Wijaya &Putri (2013) perjalanan penyakit apendisitis biasanya

disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks olehhiperlapasia folikel

limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan

sebelumnya atau neoplasma. Obtruksi tersebut menyebabkan mukus

diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin

banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga

menyebabkan peningkatan tekanan intralumen, tekanan tersebut meningkat

akan menghambat aliran limfe yang mengakibabkan edema. Diaforesis bakteri

dan ulserasi mukosa pada saat inilah terjadi apendiks akut fokal yang ditandai

oleh nyeri epigastrium.

Sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkatan hal tersebut

akan menyebabkan obtruksi vena, edema bertambah dan bakteri akan

menembus dinding apendiks. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai

peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di abdomen kanan bawah ,

keadaan ini disebut apendiks sukuratif akut. Aliran arteri terganggu akan

terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangrene stadium ini

disebut dengan apendisitis gangrenosa, Bila dinding yang telah rapuh ini

pecah akan terjadi apendisitis perforasi.

Semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan

akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut

9
infiltrate apendikularis,peradangan apendiks tersebutdapat menjadi abses atau

menghilang.

Apendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat atau tersumbat

kemungkinan akibat oleh fekolit (massa keras dari feses) atau benda asing.

Proses inflamasi meningkatkan tekanan ingkatan intraluminal, menimbulkan

nyeri abdoment atas atau menyebar hebat secara progresif, dalam beberapa

jam terlokalisasi dalam kuadran kanan bawah dari abdomen. Akhirnya

apendiks yang terinflamasi berisi pus. (Jitowiyono &Kristiyanasari , 2012)

6. Manifestasi Klinis

Menurut Wijaya & Putri (2013), bahwa tanda awal : nyeri pada

epigastrium region umbilikus disertai mual dan anoreksia adapun karakteristik

khas sebagai berikut :

a. Nyeri pindah ke kanan bawah (yang akan menetap dan diperberat bila

berjalan atau menunjukkan tanda ransangan peritoneum lokal di titik nyeri

tekan, nyeri lepas, defans muskular.

b. Nyeri pada peritoneum tidak langsung

c. Nyeri pada kuadran kanan bawah saat kuadran kiri bawah ditekan

(Rovsing Sign).

d. Nyeri kanan bawah bila tekanan disebelah kiri dilepas (Blumberg).

e. Nyeri kanan bawah bila peritonium bergerak seperti napas dalam,

berjalan, batuk, mengedan.

f. Nafsu makan menurun.

g. Demam yang tidak terlalu tinggi.

10
h. Biasanya terdapat kostipasi, tapi kadang-kadang terjadi diare.

7. Penatalaksanaan

Menurut Wijaya & Putri (2012) penatalaksanaan apendisitis dilakukan setelah

diagnosa apendisitis ditegakkan, pasien yang menderita apendisitis akan

mendapat tindakan agar mencegah komplikasi dan perforasi usus yang pecah.

Adapun penatalaksaaannya adalah sebagai berikut :

a. Sebelum operasi

1) Observasi

Dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan tanda dan gejala apendisitis

seringkali belum jelas, dalam keadaan ini observasi ketat perlu

dilakukan. Pasien diminta melakukan tirah baring dan dipuasakan.

Laksatif tidak boleh diberikan bila dicurigai adanya apendisitis atau

peritonitis lainnya. Pemeriksaan abdoment dan rectal serta

pemeriksaan darah (leukosit dan hitung jenis) diulang secara

periodik, foto abdoment dan toraks tegak dilakukan untuk mencari

kemungkinan adanya penyulit lain. Pada kebanyakan kasus,

diagnosis ditegakkan dengan lokalisasi nyeri di daerah kanan bawah

dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan.

2) Antibiotik

Apendisitis tanpa komplikasi biasanya tidak perlu di berikan

antibiotik kecuali apendisitis ganggrenosa atau apendisitis perforasi.

11
Penundaan tindak bedah sambil memberikan antibiotic dapat

mengakibatkan abses atau perporasi.

b. Operasi

1) Apendiktomi adalah operasi pengakatan apendik yang mengalami

peradangan akibat infeksi.

2) Apendiks di buang, jika apendiks mengalami perforasi bebas, maka

abdomen dicuci dengan garam fisiologis dan antibiotika

3) Abses apendiks diobati dengan antibiotika golongan IV, massanya

mungkin mengecil, atau abses mungkin memerlukan drainase dalam

jangka waktu beberapa hari. Apendiktomi di lakukan bila terjadi

abses, dilakukan operasi selektif selama 6 minggu sampai 3 bulan.

c. Pasca Operasi

Dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya

pendarahan di dalam, syok, hipertermia, atau gangguan pernapasan,

angkat sonde lambung bila pasien sudah sadar, sehingga aspirasu cairan

lambung dapat dicegah, baringkan pasien dalam posisi semi fowler.

Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan,selama itu

pasien dipuasakan, bila tindakan operasi lebih besar, misalnya pada

perforasi atau peritonitis umum, puasa diteruskan sampai fungsi usus

kembali normal. Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk

tegak ditempat tidur selama 2 x 30 menit. Hari kedua dapat dianjurkan

duduk di luar kamar.hari ke tujuh jahitas dapat diangkat dan pasien di

bolehkan pulang (Mansjoer, 2003 dalam Wijaya & Ptuti 2013).

12
B. Teknik Ditraksi Murotal Al-Qur’an Terhadap Penurunan Intensitas

Nyeri

1. Konsep Nyeri

a. Definisi

Menurut Zakiyah (2015) nyeri menurut para ahli di jabarkan

sebagai berikut :

1) Mc Caffery 1997, nyeri didefinisikan sebagai fenomena yang

sulitr dipahami, kompleks, dan bersifat misteri yang

mempengaruhi seseorang, serta eksistensinya di ketahui bila

seseorang mengalaminya.

2) Kozier dan Erb 1983 nyeri adalah sensasi ketidaknyamanan yang

di manifestasikan sebagai suatu penderitaan yang diakibatkan oleh

persepsi yang nyata, ancaman, dan fantasi luka.

3) International Association For the Studi of Pain (IASP) (1979),

nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak

menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan

aktual atau potensial, atau di gambarkan dalam ragam yang

menyangkut kerusakan atau sesuatu yang digambarkan dengan

terjadinya kerusakan.

b. Fisiologis Nyeri

Reseptor nyeri disebut nociceptor merupakan ujung-ujung syaraf

bebas, tidak bermielin atau sedikit bermielin dari neuron afferen.

Nociceptor-nociceptor tersebar luas pada kulit dan mukosadan terdapat

13
ada struktur yang lebih dalam seperti visera, persendian, dinding arteri,

hati dan kandung empedu. Nociceptor memberi respon yang terpilih

terhadap stimulus yang membahayakan seperti stimulasi kimia,

thermal, listrik atau mekanis. Yang tergolong stimulasi terhadap nyeri

adalah histamine, brakidinin, prostaglandin, bermacam-macam asam.

Sebagian bahan tersebut dilepaskan oleh jaringan yang rusak. Anoksia

yang menimbulkan nyeri adalah oleh kimia yang dilepaskan oleh

jaringan anoksia yang rusak. Spasme otot menimbulkan nyeri karena

menekan pembuluh darah yang menjadi anoksia. Pembengkakan

jaringan menjadi nyeri karenaa tekanan (stimulasi mekanik) kepada

nociceptor yang menghubungkan jaringan (Long, B.C, 1996 dalam

Padila, 2014).

c. Etiologi Nyeri

1) Persepsi Nyeri

Persepsi tentang nyeri bergantung pada jaringan kerja neurologis

yang utuh. Neurofisiologi nyeri mengikuti proses yang dapat

diperkirakan :

a) Rangsangan bahaya diketahui melalui reseptor yang

ditemukan di kulit, jaringan subkutan, sendi, otot, periosteum,

fascia, dan visera. Nosiseptor (reseptor nyeri) adalah terminal

serat delta A kecil yang diaktivasi oleh rangsangan mekanis

atau panas dan serat aferen C yang diaktivasi oleh rangsangan

mekanis, termal, dan kimiawi (Bonica dan Mc Donald. 1995

14
dalam Padila. 2014). Rangsangan nosiseptif dibawah tingkat

kepala ditransmisikan melewati serat-serat aferen ini ke

kornudorsal medula spinalis.

b) Rangsangan kemudian ditransmisikan melalui struktur yang

sangat rumit yang mengandung berbagai susunan neurondan

sinaptik yang memfasilitasi derajat tinggi pemprosesan input

sensori. Beberapa impuls kemudian ditransmisikan melalui

neuron internunsial ke sel kornu anterior dan anterolateral,

tempatnya merangsang neuron yang mempersarafi otot skelet

dan neuron simpatik yang mempersarafi pembuluh darah,

visera, dan kelenjar keringat. Impuls nosiseptif lain

ditransmisikan ke sistem asenden yang berartikulasi dengan

batang otak.

c) Impuls yang naik ke otak kemudian masuk ke hipotalamus

yang mengatur sistem autonomik dan respons neuroendokrin

terhadap stres dan ke korteks serebral yang memberi fungsi

kognitif yang didasarkan pada pengalaman masa lalu ,

penilaian dan emosi.

2) Ekspresi Nyeri

Rasa nyeri muncul akibat respon psikis dan refleks fisik. Kualitas

rasa nyeri fisik dinyatakan sebagai nyeri tusukan, nyeri terbakar,

rasa sakit, denyutan, sensasi tajam, rasa mual, dan kram. Rasa

nyeri dalam persalinan menimbulkan gejala yang dapat dikenali.

15
peningkatan sistem saraf simpatik timbul sebagai respon terhadap

nyeri dan dapat mengakibatkan perubahan tekanan darah, denyut

nadi, pernapasan, dan warna kulit. Serangan mual, muntah dan

keringat berlebihan juga sangat sering terjadi (Bobak, 2014 dalam

Padila, 2014).

d. Klasifikasi Nyeri

1) Menurut Tempatnya

a) Perifer pain

Yaitu pada daerah perifer biasanya di rasakan pada

permukaan tubuh seperti kulit dan mukosa.

b) Deep pain

Yaitu nyeri yang dirasakan dari struktur somatic dalam

meliputi periosteum, otot, tendon, sendi, pembuluh darah.

c) Viseral/splanik pain

Nyeri terjadi pada organ viseral seperti renal colic,

cholesistitis, apendiksitis, ulkus gaster.

d) Reffered pain (nyeri alihan)

Nyeri yang diakibatkan penyakit organ atau struktur dalam

tubuh (vertebrata, alat-alat viseral, otot) yang ditransmisikan

kebagian tubuh di daerah yang jauh sehingga dirasakan nyeri

pada bagian tubuh tertentu tetapi sebetulnya bukan asal nyeri.

e) Psikogenic pain

16
Nyeri yang dirasakan tanpa penyebab organik tetapi akibat

trauma psikologis yang mempengaruhi keadaan fisik.

f) Phantom pain

Nyeri yang dirasakan pada bagian tubuh yang sebenarnya

bagian tubuh tersebut sudah tidak ada. Contoh : nyeri pada

ujung kaki yang sebetulnya sudah diamputasi.

g) Interactable pain

Nyeri yang resisten (Kusnanto, 2000. dalam Padila, 2014)

2) Klasifikasi nyeri secara umum dibagi menjadi 2 yaitu :

a) Nyeri akut

Nyeri akut merupakan nyeri yang timbul secara mendadak

dan cepat menghilang. Tidak melebihi 6 bulan, serta ditandai

dengan adanya peningkatan tegangan otot.

b) Nyeri kronis

Nyeri kronis merupakan nyeri yang timbul secara perlahan-

lahan, biasanya berlangsung dalam waktu yang cukup lama,

yaitu lebih dari 6 bulan. Yang termasuk dalam kategori nyeri

kronis adalah nyeri terminal, sindrom nyeri kronis, dan nyeri

psikosomatis (Musrifatul & Hidayat, 2008 dalam Padila,

2014).

3) Menurut sifatnya :

a) Insidental

17
Nyeri timbul sewaktu-waktu kemudian menghilang. Misalnya

pada trauma ringan.

b) Stedy

Nyeri yang timbul menetap dan dirasakan dalam waktu lama,

misalnya abses.

c) Paroxymal

Nyeri yang dirasakan dengan intensitas tinggi dan kuat,

biasanya menetap kurang lebih 10-15 menit kemudian hilang

dan timbul lagi (Kusnanto, 2000 dalam Padila, 2014).

e. Skala Nyeri

Ada beberapa cara untuk mengukur tingkat nyeri :

1) Skala nyeri bourbonnais berdasarkan penilaian objektif (Ellen,

2000 dalam Padila, 2014), yaitu :

Tidak Nyeri Nyeri Nyeri Nyeri


Nyeri Ringan Sedang Berat terkontrol Berat tidak
terkontrol

Gambar 2.2 Skala Bourbonaris (Padila, 2014)

Keterangan :

Semakin besar nilai, maka semakin berat intensitas nyerinya :

a) Skala 0 = Tidak nyeri

b) Skala 1 – 3 = Nyeri ringan

Secara objektif klien dapat berkomunikasi dengan baik,

tindakan manual dirasakan sangat membantu.

18
c) Skala 4 – 6 = Nyeri sedang

Secara objektif klien mendesis, menyeringai, dapat

menunjukkan lokasi nyeri dengan tepat dan dapat

mendeskripsikan nyeri, klien dapat mengikuti perintah dengan

baik dan responsif terhadap tindakan manual.

d) Skala 7 – 9 = Nyeri berat

Secara objektif terkadang klien dapat mengikuti perintah tapi

masih responsif terhadap tindakan manual, dapat menunjukan

lokasi nyeri tapi tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat

diatasi dengan alih posisi, napas panjang, destruksi dll.

e) Skala 10 = Nyeri sangat berat (panik tidak terkontrol)

Secara objektif klien tidak mau berkomunikasi dengan baik,

berteriak dan histeris, klien tidak dapat mengikuti perintah

lagi, selalu mengejan tanpa dapat dikendalikan, menarik-narik

apa saja yang tergapai, dan tidak dapat menunjukkan lokasi

nyeri. (Barbara, 1998 dalam Padila, 2014).

2) skala nyeri McGill (McGill scale) mengukur intensitas nyeri

dengan menggunakan lima angka, yaitu :

Gambar. 2.2 Skala face (Padila, 2014)

19
Keterangan :

a) 0 = Tidak nyeri

b) 1 = Nyeri ringan

c) 2 = Nyeri sedang

d) 3 = Nyeri berat

e) 4 = Nyeri sangat berat

f) 5 = Nyeri hebat

f. Faktor-Faktor yang mempengaruhi nyeri

Menurut Zakiyah (2015) faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri

antara lain :

1) Usia

Usia mempengaruhi persepsi dan eksperesi seseorang terhadap

nyeri. Perbedaan perkembangan pada orang dewasa dan anak

sangat mempengaruhi bagaimana bereaksi terhadap nyeri.

2) Jenis kelamin

Secara umum pria dan wanita tidak berbeda dalam berespon nyeri

akan tetapi kebudayaan mempengaruhi pria dan wanita dimana

seorang pria tidak boleh menangis dan harus berani sedangkan

pada wanita noleh menangis dalam situasai yang sama.

3) Kebudayaan

Pengaruh kebudayaan dapat menimbulkan anggapan pada orang

bahwa memperlihatkan kesakitan berarti memperlihatkan

20
kelemahan pada dirinya, dalam hal seperti itu maka sifat tenang

dan pengendalian diri merupakan sifat yang terpuji.

4) Perhatian

Perhatian yang meningkat dihubungkan dengan peningkatan nyeri

sedangkan pengalihan perhatian terhadap nyeri dihubungkan

dengan penurunan sensasi nyeri.

5) Makna nyeri

Makna seseorang yang dikaitkan dengan nyeri dapat

mempengaruhi pengalaman nyeri dan cara seseorang beradaptasi

terhdap nyeri. Tiap klien akan memberikan respon yang berbeda

apabila nyeri tersebut memberikan kesan suatu ancaman,

kehilangan, hukuman, atau suatu tantangan.

6) Ansietas

Hubungan antara ansietas dengan nyeri merupakan suatu hal yang

kompleks. Ansietas dapat meningkatkan persepsi nyeri dan

sebaliknya, nyeri juga dapat menyebabkan timbulnya ansietas bagi

klien yang mengalami nyeri.

7) Mekanisme koping

Gaya koping dapat mempengaruhi klien dalam mengatasi nyeri.

Klien yang mempunyai lokus kendali internal mempersepsikan

diri mereka sebagai klien yang dapat mengendalikan lingkungan

mereka serta hasik akhir dari suatu peristiwa seperti nyeri, klien

21
tersebut juga melaporkan bahwa nyeri yang dialami tidak terlalu

berat.

8) Keletihan

Rasa keletihan menyebabakan peningkatan sensasi nyeri dan dapat

menurunkan kemampuan koping untuk mengatasi nyeri, apabila

kelelahan disertai dengan masalah tidur maka sensasi nyeri terasa

bertambah berat.

9) Pengalaman sebelumnya

Seseorang klien yang tidak pernah merasakan nyeri, maka

persepsi pertama dapat menggangu mekanisme koping terhadap

nyeri, akan tetapi pengalaman nyeri sebelumnya tidak selalu

berarti bahwa klien tersebut akan dengan mudah menerima nyeri

pada masa yang akan datang.

10) Dukungan keluarga dan sosial

Kehadiran orang terdekat dan bagaimana sikap mereka terhadap

klien dapat mempengaruhi respons terhadap nyeri. Walaupun

nyeri dirasakan tetapi kehadiran kehadiran orang terdekat dapat

meminimalkan rasa kesepian dan ketakutan.

2. Konsep Distraksi

Menurut Zakiyah (2015) dalam bukunya menjelaskan tentang konsep dari

ditraksi sebagai berikut :

a. Definisi

22
Ditraksi merupakan strategi pengalihan nyeri yang memfokuskan

perhatian klien ke stimulus yang lain dari pada rasa nyeri dan emosi

negatif. Teknik ditraksi dapat mengatasi nyeri berdasarkan teori bahwa

aktivitas retikuler menghambat stimulus nyeri, jika seseorang

menerima input sensori yang berlebihan dapat menyebabkan

terhambatnya impuls nyeri ke otak (nyeri berkurangatau tidak di

rasakan klien).

b. Jenis-Jenis Ditraksi

Menurut Zakiya (2015) ada beberapa macam ditraksi yaitu :

1) Ditraksi visual

Ditraksi visual meliputi melihat pertandingan, menonton televisi,

membaca koran, serta melihat pemandangan dan gambar.

2) Ditraksi pendengaran

Ditraksi pendengaran dapat dilakukan dengan cara mendengarkan

musik yang disukai atau suara burung serta gemercik air, klien

dianjurkan untuk memilih musik yang disukai dan musik tenang

seperti musik klasik dan bacaan al-qur’an. Klien akan diminta

berkonsentrasi pada lirik dan irama lagu. Klien juga diperbolehkan

untuk menggerakkan tubuh mengikuti irama seperti mengetukkan

jari atau atau menggoyangkan kaki.

Ditraksi pendengaran yang efektif dapat dilakukan pada saat

ditraksi, salah satunya murotal al-qur’an.

3) Ditraksi pernapasan

23
Bernapas ritmik, klien dianjurkan untuk fokus memandang pada

satu objek atau memejamkan mata dan melakukan inhalasi

perlahan melalui hidung dengan hitungan satu sampai empat dan

kemudian menghembuskan napas melalui mulut secara perlahan

dengan menghitung satu sampai empat (dalam hati). Anjurkan

klien untuk berkonsentrasi pada sensasi pernapasan hingga

berbentu pola pernapasan ritmik.

4) Ditraksi intelektual

Mengisi teka-teki silang, bermain kartu, melakukan kegemaran

(ditempat tidur) seperti mengumpulkan perangko, menulis cerita

merupan beberapa contoh ditraksi intelektual.

c. Standar Operasional Prosedur Ditraksi Audio (Murotal Qur’an)

Menurut Nurjannah (2015) menjelaskan Standar Operasional Prosedur

(SOP) teknik ditraksi sebagai berikut :

1) Pengertian

Terapi murotal adalah rekaman surah Al-Qur’an yang dilagukan

oleh seseorang qori’ (pembaca Al-Qur’an), lantunan Al-Qur’an

secara fisik mengandung unsur suara manusia.

2) Tujuan

Tujuan terapi murotal adalah untuk menurunkan hormon-hormon

strees,mengaktifkan hormon endorfin alami, meningkatkan

perasaan rileks,mengalihkan perhatian dari rasa takut, cemas,

tegang, memperbaiki zat kimia tubuh, sehingga menurunkan

24
tekanan darah serta memperlambat pernapasan, detak jantung,

denyut nadi,dan aktivitas gelombang otak.

3) Manfaat

a) Mendengarkan bacaan al-qur’an dengan tartil akan

mendapatkan ketenangan jiwa.

b) Lantunan al-qur’an secara fisik mengandung unsur suara

manusia merupakan instrumen penyembuhan yang

menakjubkan dan alat yang paling mudah dijangkau.

4) Persiapan

a) Persiapan pasien

Pasien dan keluarga diberi penjelasan tentang hal-hal yang

akan dilakukan.

b) Persiapan Alat

 Earphone

 MP3/Tablet berisikan murotal (Surah Ar-Rahman)

5) Pelaksanaan

a) Menyiapakan alat didekat pasien

b) Mencuci tangan.

c) Menutup sampiran

d) Memastikan privasi pasien terjaga.

e) Menghubungkan earphone dengan MP3/Tablet berisikan

murotal ( Surah Ar-Rahman)

f) Pasien berbaring di tempat tidur.

25
g) Letakkan earphone diatas telinga kiri dan kanan

h) Dengarkan murotal selama 15 menit.

i) Mengevaluasi hasil ditraksi (skala nyeri dan ekpresi)

j) Menganjurkan pasien mengulangi tindakan ketika nyeri

mulai di rasakan

k) Berpamitan pada pasien

l) Mendokumentasikan tindakan dan respon pasien dalam

catatan perawatan.

C. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Menurut Jitowiyono & Kristiyanasari (2012) ,pengkajian pada pasien

apendisitis dimulai dari identitas klien nama, umur, jenis kelamin, status

perkawinan, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat, dan

nomer register, identititas penanggung jawab dan riwayat penyakit

sekarang.

Keluhan utama klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium

menjalar ke perut kanan bawah timbul keluhan nyeri perut kanan bawah

mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di

epigastrium setelah beberapa waktu yang lalu. Sifat keluhan nyeri

dirasakan terus menerus dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang

lama. Keluhan yang menyertai biasanya klien mengeluh rasa mual,

muntah dan panas. Riwayat kesehatan yang lalu biasanya berhubungan

dengan masalah kesehatan klien sekarang. Periksaan fisik, keadaaan

26
umum klien tampak sakit ringan/sedang/berat. Berat badan sebagai

indikator untuk menentukan dosis obat.

Sirkulasi klien mungkin takikardia. Respirasi : Takipnoe, pernapasan

dangkal. Aktivitas/istrahat : Malaise. Elimiminasi konstipasi pada awitan

awal, diare kadang-kadang. Distensi abdomen, nyeri tekan/lepas,

kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus.

Data psikologis klien nampak gelisah. Ada perubahan denyut nadai

dan pernapasan. Ada perasaan takut. Penampilan tidak tenang.

2. Diagnosa Keperawatan

Menurut Nurarif dan Kusuma (2015) diagnosa keperawtan pada

pasien apendisitis adalah sebagai berikut :

a. Nyeri akut b.d inflamasi dan infeksi

b. Ansietas b.d prognosis penyakit rencana pembedahan.

c. Resiko ketidakefektifan perfusi gastrointestinal b.d proses infeksi,

penurunan sirkulasi darahke gastrointestinal, hemoragi

gastrointestinal akut.

d. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktiv, mekanisme

kerja peristaltik usus menurun.

e. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhsn tubuh b.d faktor

biologis, ketidakmampuan untuk mencerna makanan.

f. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas.

g. Resiko infeksi b.d tidak adekuatnya pertahanan tubuh.

27
3. Implementasi Kepererawatan

Menurut Jitowiyono & Kristiyanasari (2012) implementasi keperawatan

pada pasien apendisitis adalah pemberian asuhan keperawatan secara

nyata beruba serangkaian kegiatan sistematis berdasarkan perencanaan

untuk mencapai hasil yang optimal. Pada tahap ini perawat

menggunakan segala kemampuan yang dimiliki dalam melaksanakan

tindakan keperawatan terhadap klien baik secara umum maupun secara

khusus pada klien post apendiktomi. Pada pelaksanaan ini perawat

melakukan fungsinya secara independen, interdependen, dan dependen.

Pada fungsi independen adalah mengcakup dari semua kegiatan

yang diprakarsai oleh perawat itu sendiri sesuai dengan kemampuan dan

keterampilan yang dimilikinya. Pada fungsi interdependen adalah

dimana fungsi dilakukan dengan bekerja sama dengan profesi/disiplin

ilmu yang lain dalam keperawatan maupun pelayanan klesehatan,

sedangkan fungsi dependen adalah fungsi yang dilaksanakan oleh

perawat berdasarkan atas pesan orang lain.

4. Evaluasi keperawatan

Menurut Putra (2014) dalam bukunya menjelaskan. Evaluasi merupakan

tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang

menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan

pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. Meskipun tahap evaluasi

diletakkan pada akhir proses keperawatan, evaluasi merupakan bagian

integral pada tahap proses keperawatan.

28
Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam

mencapai tujuan. Hal ini bisa dilaksanakan dengan mengadakan

hubungan komunikasi dengan klien.

Menurut Putra (2014) evaluasi terdiri dari 2 macam yaitu :

a. Evaluasi formatif (berjalan)

1) Hasil observasi dan analisa perawat terhadap respon pasien

segera pada saat /setelah dilakukan tindakan keperawatan

2) Ditulis pada catatan perawatan

3) Contoh : membantu pasien duduk semifowler, pasien dapat

duduk selama 30 menit tanpa pusing

b. Evaluasi sumatif (akhir)

Adalah Rekapitulasi dan kesimpulan dari observasi dan analisa

status kesehatan sesuai yang ada pada tujuan dan ditulis pada catatan

perkembangan.

Format yang digunakan adalah format SOAP yakni :

1) S : Data Subjektif

Adalah perkembangan keadaan yang didasarkan pada apa yang

dirasakan, dikeluhkan, dan dikemukakan klien.

2) O : Data Objektif

Perkembangan yang bisa diamati dan diukur oleh perawat atau

tim kesehatan lain.

3) A : Analisis

29
Penilaian dari kedua jenis data (baik subjektif maupun objektif)

apakah berkembangan ke arah perbaikan atau kemunduran.

4) P : Perencanaan

Rencana penanganan klien yang didasarkan pada hasil analisis

diatas yang berisi “melanjutkan” perencanaan sebelumnya

apabila keadaan atau masalah belum teratasi.

30
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain penelitian

Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan metode studi

kasus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan intensitas nyeri

sebelum dan sesudah penerapan teknik ditraksi pada pasien post apendiktomi

di Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Konawe.

B. Subyek Penelitian

Subyek pada penelitian ini adalah pasien yang mengalami post apendiktomi

dengan diagnosa nyeri di BLUD RS Konawe yang berjumlah 2 orang. Dengan

kriteria sebagai berikut :

1. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi adalah karekteristik umumsubjek penelitian dari suatu

populasi target dan terjangkau yang akan deliti. Adapun kriteria inklusi

penelitian adalah :

a. Pasien yang dirawat Di BLUD RS Konawe.

b. Pasien dengan post apendiktomi sebelum 8 jam pertama setelah

operasi.

c. Pasien yang belum di berikan Analgetik.

d. Pasien dalam keadaan sadar dan tidak demam.

e. Pasien yang beragama islam.

f. Pasien yang sudah menandatangani informed consent.

g. Pasien yang koperatif.

31
h. Pasien dengan skala nyeri ringan (1-3) hingga sedang (4-6)

2. Kriteria Eksklusi

Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan subjek

yang memenuhi kriteria inklusi dari studi karema berbagai sebab.

Adapun kriteria eksklusi penelitian adalah :

a. Pasien dengan nyeri skala berat (7-9) hingga skala sangat/berat

tidak terkontrol (10)

b. Pasien tidak kooperatif.

c. Pasien dengan kondisi demam.

d. Pasien tidak sadar.

D. Fokus Studi

Fokus studi pada penelitian ini adalah perubahan intensitas nyeri pasien

setelah dilakukan tindakan ditraksi murotal Al-Qur’an pada pasien post

apendiktomisebelum 8 jam pertama setelah operasi.

E. Definisi Operasional

1. Apendiktomi adalah operasi pengangkatan apendik yang terinflamasi

menggunakan pendekatan endoskopi

2. Nyeri adalah perasaan yang tidak nyaman yang dirasakan pasien post

apendiktomi di area bekas operasi dengan sensasinya berupa rasah pedih

di kulit.

3. Ditraksi murotal Al-Qur’an adalah strategi pengalihan nyeri yang

memfokuskan perhatian klien ke fokus yang lain, dengan menggunakan

32
terapi audio murotal Al-Qur’an sehingga intensitas nyeri pasien post

apendiktomi dapat berkurang.

F. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan

Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Agustus tahun 2017 selama 4

haripada tanggal 15 sampai 16 agustus 2017 dan 22 sampai 23 agustus 2017

yang bertempat di ruang perawatan BLUD RS Konawe.

G. Pengumpulan Data

1. Instrumen Penelitian

Pada penelitian ini peneliti menggunakan lembar observasi penilaian skala

intensitas nyeri dengan skala nyeri Bourbonaris yang berupa lembaran

yang berisi skala numerik intensitas nyeri (0-10).

2. Pengumpulan data

a. Metode pengumpulan data

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan wawancara,

observasi dan dokumentasi terhadap pasien yang mengalami nyeri pada

post apendiktomi

b. Langkah pengumpulan data

1) Mengurus perizinan dengan intitusi terkait yaitu BLUD RS Konawe

2) Menjelaskan maksud, tujuan, dan waktu penelitian pada kepala

ruangan atau perawat penanggung jawab di tempat penelitian dan

meminta persetujuan untuk melibatkan subjek dalam penelitian.

3) Mengidentifikasi pasien yang sesuai dengan kriteria inklusi dan

melakukan informed consent.

33
4) Melakukan pengkajian skala nyeri pasien sebelum tindakan ditraksi

murotal Al-Qur’an

5) Memberikan tehnik ditraksi murotal Al-Qur’an pada pasien yang

telah di tentukan

6) Mengindentifikasi perubahan intensitas nyeri pada pasien setelah

pemberian tehnik ditraksi murotal Al-Qur’an.

7) Melakukan pendokumentasian tindakan yang telah diberikan.

8) Pengolahan dan analisa data yang telah diperoleh.

9) Penyajian data.

H. Analisis dan Penyajian Data.

Analisis dan penyajian data dilakukan secara deskriptifdimana cara ini

digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan data yang

telah terkumpul untuk membuat suatu kesimpulan. Pengolahan data ini

dilakukan untuk mengetahui adanya perubahan intensitas nyeri setelah

dilakukan tindakan ditraksi murotal Al-Qur’an pada pasien post apendiktomi.

I. Etika Penelitian

MenurutHandayani (2015). Etika penelitian meliputi kejujuran dalam

pengumpulan data, pelaksanaan dan metode dari penelitian yang dilakukan

setelah mendapat persetujuan, barulah peneliti dapat melakukan penelitian

dengan menekankan masalah etika yang meliputi :

1. Informed Consent (Lembar Persetujuan)

Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang akan diteliti

yang memenuhi kriteria inklusi dan disertai judul penelitian dan manfaat

34
penelitian, bila subjek menolak maka peneliti tidak memaksa dan tetap

menghormati hak-hak subjek.

2. Anonimity (Tanpa Nama)

Untuk menjaga kerahasiaan peneliti tidak akan mencantumkan nama

responden tetapi lembar tersebut diberi kode.

3. Confidentiality (Kerahasiaan)

Menjelaskan masalah-masalah responden yang harus dirahasiakan

dalam penelitian. Kerahasiaan informasi yang telah dikumpulkan dijamin

kerahasiaannyaoleh peneliti, hanya data tertentu yang akan dilaporkan

pada hasil riset.

4. Justice (Keadilan)

Penelitian yang dilakukan harus memperhatikan prinsip keadilan

antara responden yang satu dengan yang lainnya sehingga hasil penelitian

yang dilakukan tingkat keakuratan dapat dipertanggungjawabkan.

5. Nonmalesifience (Terhindar dari Cedera)

Dalam penelitian baik peneliti maupun responden agar terhindar dari

cedera.

6. Benefience (Bermanfaat)

Diharapkan penelitian yang dilakukan bermanfaat baik bagi peneliti.

35
36