Anda di halaman 1dari 3

ANALISA KASUS

BANK CENTURY
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
HUKUM KEUANGAN NEGARA

DISUSUN OLEH :
MOH IQRA SYABANI KOROMPOT
201610110311389

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2019
LATAR BELAKANG KASUS BANK CENTURY
Hiruk pikuk seputar kasus Bank Century, yang kini telah berganti nama menjadi Bank
Mutiara, menyita perhatian banyak elemen masyarakat. Tema besar kasus tersebut adalah korupsi.
Lakon para legislator/Dewan Perwakilan Rakyat/DPR (baca: Panitia Khusus/Pansus Hak Angket
Bank Century) dalam upaya pembongkaran kasus Bank Century, disimak secara luas oleh
masyarakat melalui pemberitaan berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik. Bahkan
masyarakat sendiri dapat melihat jalannya persidangan Pansus Hak Angket Bank Century melalui
program Breaking News yang disiarkan secara langsung (Live Streaming) oleh beberapa televisi
swasta. Pemerintah (DepKeu) dan Bank Indonesia (BI) yang sementara ini dituduh sebagai pihak-
pihak yang paling bertanggungjawab atas pengucuran dana talangan (bailout) kepada Bank
Century—yang dinilai telah merugikan negara sekitar Rp6,76 Trilyun—melakukan pembelaan
diri, seolah tidak ada yang keliru dengan mekanisme dan keputusan yang telah diambilnya.
Para politisi di luar parlemen saling adu argumen. Di satu pihak partai politik tertentu
mempertanyakan komitmen partai lain atas koalisi politik yang telah mereka bangun bersama,
sedangkan di pihak lain partai yang dituduh“berkhianat” membela dirinya atas nama kebenaran
dan keberpihakan kepadarakyat. Rakyat yang tidak puas dengan kinerja parlemen dan pemerintah
melakukan unjuk rasa di mana-mana menuntut tegaknya kebenaran dan keadilan.
Secara kronologi kasus Bank Century dimulai pada tahun 1989 oleh Robert Tantular yang
mendirikan Bank Century Intervest Corporation (Bank CIC). Tahun 1999 pada bulan Maret Bank
CIC melakukan penawaran umum terbatas pertama dan Robert Tantular dinyatakan tidak lolos uji
kelayakan dan kepatutan oleh Bank Indonesia.
Pada tahun 2002 Auditor Bank Indonesia menemukan rasio modal Bank CIC amblas
hingga minus 83,06% dan CIC kekurangan modal sebesar Rp 2,67 triliun. Tahun 2003 bulan Maret
bank CIC melakukan penawaran umum terbatas ketiga.
Bulan Juni Bank CIC melakukan penawaran umum terbatas keempat. Pada tahun 2003
pun bank CIC diketahui terdapat masalah yang diindikasikan dengan adanya surat-surat berharga
valuta asing sekitar Rp 2 triliun yang tidak memiliki peringkat, berjangka panjang, berbunga
rendah, dan sulit dijual.
BI menyarankan merger untuk mengatasi ketidakberesan pada bank ini. Tahun 2004, 22
Oktober dileburlah Bank Danpac dan Bank Picco ke Bank CIC. Setelah penggabungan nama tiga
bank itu menjadi PT Bank Century Tbk, dan Bank Century memiliki 25 kantor cabang, 31 kantor
cabang pembantu, 7 kantor kas, dan 9 ATM. Tahun 2005 pada bulan Juni Budi Sampoerna menjadi
salah satu nasabah terbesar Bank Century Cabang Kertajaya Surabaya.
Banyak kasus hukum dan politik yang telah menggemparkan Indonesia. Mulai dari kasus
Antasari, Cicak vs Buaya yaitu perseteruan antara Kepolisian Negara RI (Polri) dan Kejaksaan
Agung dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kasus Bank Century, Gayus Tambunan,
dan sekarang adanya kasus Nazarudin.
Dalam hal ini yang akan diangkat jadi bahan utama analisis adalah Kasus Bank Century.
Kasus yang melibatkan mantan orang nomor satu keuangan Indonesia Menteri Keuangan Sri
Mulyani Indrawati ini menjadi berita utama media massa. Dimana kasus tersebut seakan selesai
dengan sendirinya setelah Sri Mulyani ditunjuk sebagai Managing Director Bank Dunia.
Barangkali ada yang mengatakan bahwa perseteruan itu belum selesai sepenuhnya karena
adanya gugatan praperadilan oleh sejumlah ahli hukum terhadap surat keputusan penghentian
penuntutan (SKPP) yang dikeluarkan oleh kejaksaan karena mereka melihat alasan yang
digunakan tidak tepat. Namun pemberitaan di media dalam beberapa minggu terakhir telah beralih
ke kasus Bank Century.
Kasus Bank Century merupakan kasus hukum yang disebabkan adanya dugaan
pelanggaran hukum yang dilakukan oleh sejumlah pejabat pemerintah dalam mengeluarkan dana
talangan sebesar Rp 6,7 triliun bagi bank yang bermasalah itu.
Kasus Bank Century juga memunculkan dugaan bahwa sebagian dana talangan tadi
mengalir ke sejumlah pejabat politik dan tim sukses Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009. Bahkan ada organisasi kemasyarakatan (ormas) yang
menyebut nama sejumlah tokoh yang menerima sejumlah uang secara terang-terangan. Tuduhan
ini kemudian diadukan ke Kepolisian Daerah (Polda) Jakarta Raya untuk diproses secara hukum.
Dalam laporan BPK ketika itu menunjukkan beberapa pelanggaran yang dilakukan Bank
Century sebelum diambil alih. BPK mengungkap sembilan temuan pelanggaran yang terjadi. Bank
Indonesia (BI) saat itu dipimpin oleh Boediono–sekarang wapres–dianggap tidak tegas pada
pelanggaran Bank Century yang terjadi dalam kurun waktu 2005-2008.
BI, diduga mengubah persyaratan CAR. Dengan maksud, Bank Century bisa mendapatkan
Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP).
Kemudian, soal keputusan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KKSK)–saat itu diketuai
Menkeu Sri Mulyani–dalam menangani Bank Century, tidak didasari data yang lengkap. Pada saat
penyerahan Bank Century, 21 November 2008, belum dibentuk berdasar UU. Lembaga Penjamin
Simpanan (LPS) juga diduga melakukan rekayasa peraturan agar Bank Century mendapat
tambahan dana. Beberapa hal kemudian terungkap pula, saat Bank Century dalam pengawasan
khusus, ada penarikan dana sebesar Rp 938 miliar yang tentu saja, menurut BPK, melanggar
peraturan BI. Pendek kata, terungkap beberapa praktik perbankan yang tidak sehat.