Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

MAKROGNATIA DAN MIKROGNATIA

DISUSUN OLEH:
ABDUL FATAH R H - G99172063

PEMBIMBING:
drg. SANDY TRIMELDA, Sp.Ort

KEPANITERAAN KLINIK PROGRAM STUDI KEDOKTERAN


BAGIAN ILMU PENYAKIT GIGI DAN MULUT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA
2019
HALAMAN PENGESAHAN

Referensi Artikel ini disusun untuk memenuhi persyaratan Kepaniteraan Klinik


Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret /
RSUD Dr. Moewardi. Referensi artikel dengan judul:

MAKROGNATIA DAN MIKROGNATIA

Hari, tanggal: , Juni 2019

Oleh:
Abdul Fatah R H G99181001

Mengetahui dan menyetujui,


Pembimbing Presentasi

drg. SANDY TRIMELDA, Sp.Ort


BAB I

PENDAHULUAN

Makrognatia adalah suatu keadaan dimana mandibula dan regio


protuberansia lebih besar dari ukuran normal pada umumnya. Istilah lain untuk
makrognatia adalah megagnitia. Sementara mikrognatia sendiri adalah malformasi
wajah dengan karekteristik mandibula atau maksila dengan ukuran yang lebih kecil
dari normal serta bentuk yang abnormal. Istilah mikrognatia sering disamakan
dengan mandibular hypoplasia. Etiologi pada mikrognatia sampai saat ini masih
belum jelas, namun ada kemungkinan adanya gangguan perkembangan baik
kongenital maupun yang di dapat. Sementara untuk etiologi dari makrognatia
meiliki hubungan dengan perkembangan protuberansia yang berlebihan dan dapat
bersifat kongenital maupun didapat.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Makrognatia adalah suatu keadaan dimana mandibula dan regio
protuberansia lebih besar dari ukuran normal pada umumnya. Istilah lain untuk
makrognatia adalah megagnitia. Gejala klinis pada makrognatia yaitu dagu yang
berkembang lebih besar. Sebagian makrognatia tidak menyebabkan terjadi
maloklusi (Patel, 2009)
Mikrognatia adalah malformasi wajah dengan karekteristik mandibula atau
maksila dengan ukuran yang lebih kecil dari normal serta bentuk yang abnormal.
Istilah mikrognatia sering disamakan dengan mandibular hypoplasia. Pada
kejadia mikrognatia biasanya disertai dengan microglossi (lidah kecil). Jika
terdapat mikrognatia, microglossi dan celah pada palatum mole disebut
sindroma Pierre Robin (Patel, 2009)

B. Etiologi
Etiologi pada mikrognatia sampai saat ini masih belum jelas, namun ada
kemungkinan adanya gangguan perkembangan baik kongenital maupun yang di
dapat. Pada mikrognatia dapat mengakibatkan perubahan bentuk dentofasial dan
terganggunya fungsi mengunyah, pembentukan fonetik maupun masalah pada
penampilaan. Dengan demikian ada kemungkinan anak akan mengalami
gangguan pertumbuhan baik secara fisik maupun psikologis (Goodman, 1977).
Sementara untuk etiologi dari makrognatia memiliki hubungan dengan
perkembangan protuberansia yang berlebihan dan dapat bersifat kongenital
maupun didapat. Beberapa kondisi yang berhubungan dengan makrognatia
adalah gigantisme pituitary, Paget’s disease, dan akromegali. Pertumbuhan
yang berlebihan ini dipercaya karena adanya pelepasan hormone pertumbuhan
yang berlebihan yang disebabkan oleh tumor hipofisa jinak (adenoma. Penderita
makrognatia biasanya menunjukkan gejala hipertiroidisme, lemah otot,
parestesi, pada tulang muka dan rahang terlihat perubahan orofasial seperti
penonjolan tulang frontal, hipertrofi tulang hidung dan pertumbuhan berlebih
mandibula yang dapat menyebabkan rahang menonjol (prognatisme)
(Morokumo, 2010).

C. Patofisiologi
Mikrognatia dapat terjadi karena adanya hypoplasia pada mandibula
diantara minggu ke 7 dan ke 11 pada kehamilan. Oligohidramnion dapat
berberan dalam etiologi pada mikrognatia karena kekurangan cairan amnion
dapat menyebabkan deformasi dari dagu dan terjepitnya lidah diantara langit-
langit. Kegagalan pembentukan mandibula menyebabkan posisi lidah lebih ke
atas, mencegah palatine lateran menyatu di garis tengah dan menjelaskan bahwa
mikrognatia sering disertai keluhan lain seperti bibir sumbing (Copel, 2012).
Perkembangan dari struktur anatomi yang berbeda pada mandibula dan
pertumbuhan keseluruhan dari mandibula diatur oleh beberapa faktor yaitu
aktifitas otot mastikasi prenatal, pertumbuhan lidah, nervus alveolar inferor dan
percabangannya, serta perkembangan dan migrasi gigi. Perkembangan
mandibula pada janin normalnya melibatkan faktor multifactorial, maka
kelainan perkembangan otot mastikasi atau nervusnya dapat menyebabkan
hiplastik mandibula (Copel, 2012)
Sementara untuk makrognatia disebabkan oleh pertumbuhan berlebihan
akibat pelepasan hormone pertumbuhan yang berlebihan karena adanya tumor
hipofisa jinak (adenoma). Selain itu, logamen articular menjadi longgar dan
memungkinkan mandibula untuk bergerak ke depan. Ketika gigi anterior rahang
bawah tumbuh untuk pertama kali, rahang bawah akan mendesak maju sehingga
bagian posterior rahang bawah lebih luas dibandingkan bagian anterior rahang
atas. Peristiwa ini terus terjadi dan berkembang sehingga menyebabkan
makrognatia (Lubowitz, 2011).

D. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis dari mikrognatia adalah kerusakan keselarasan gigi dan
menyempitnya cavum oris serta terjadinya maloklusi. Kemudian dagu yang
mengalami penyusutan dengan wajah yang kecil. Selain itu didapatkan kesulitan
pemberian makanan pada anak dan dalam menyebutkan artikulasi yang tepat
dalam berbicara. Manifestasi klinis tersebut disebabkan oleh rahang kecil yang
belum tumbuh. Sementara dapat terlihat ketidak selarasan dari tepi alveolar pada
neonatus, sedangkan pada orang dewasa terdapat ketidak selarasan gigi
(Panchal, et al, 2004).
Manifestasi klinis pada makrognatia yaitu didapatkan ukuran rahang yang
lebih besar dari orang normal, rusaknya keselarasan gigi dan sulitnya artikulasi
yang tepat. Bisa dilakukan pemeriksaan penunjang rontgen gigi dan skull ray.

Gambar 1. Mikrognatia

Gambar 2. Makrognatia

E. Diagnosis
Dalam mendiagnosis mikrognatia perlu dilakukan pemeriksaan fisik serta
pemeriksaan penunjang. Pada pemeriksaan fisik akan didapatkan ukuran rahang
yang lebih keci dari ukuran normal. Sedangkan pada bayi didapatkan adanya
kesusahan dalam minum. Selanjutnya perlu dilakukan pemeriksaan penunjang
seperti MRI, foto rontgen, dan foto rontgen gigi. Sedangkan untuk mendiagnosis
makrognatia perlu dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Pada pemeriksaan fisik akan didapatkan rahang lebih besar dari ukuran normal,
terdapat kerusakan keselarasan gigi, maloklusi, serta sulitnya artikulasi. Pada
makrognatia dapat dilakukan pemeriksaan penunjang seperti dental x-ray dan
rontgen.

F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada mikrognatia yaitu bisa dibagi ke dalam dua waktu
yaitu pre natal dan post natal:
1. Pre natal: mengurangi tekanan intrauterine dan memperpanjang
masa kehamilan
2. Post natal: dapat dilakukan trakeostomi dan distraction osteogenesis

Pada makrognatia dapat dilakukan tatalaksana pembedahan, yaitu bedah


ortognatik (orthognatic surgery) (Van DH, 1997).

G. Komplikasi
Pada mikrognatia didapatkan komplikasi terparah yaitu mengalami resiko
yang tinggi untuk mengalami defek kongenital pada masa kehidupannya.
Sementara pada makrognatia akan didapatkan sulitnya artikulasi yang tepat,
rusaknya keselarasan gigi serta maloklusi.

H. Prognosis
Berdasarkan hasil studi, dapat disimpulkan bahwa prognosis fetus yang
didiagnosis in utero sebagai mikrognatia memiliki prognosis buruk dan akan
memiliki resiko yang tinggi untuk mengalami defek kongenital. Sementara pada
makrognatia akan didapatkan kerusakan keselarasan gigi dan maloklusi.

HUBUNGAN ANTARA MIKROGNATIA DAN OBSTRUCTIVE SLEEP


APNEA
Pada saat neonatus, mandibula relatif datar dengan ramus yang pendek dan
penempelan yang tidak jelas pada dasar tengkorak. Selama masa bayi, mandibula
cenderung mengalami retroposisi (retrognathia) dan dapat juga mengalami ukuran
mandibular berkurang (micrognathia) yang dapat mengakibatkan posisi posterior-
inferior dari pangkal lidah, yang berlabuh ke mandibula. Keadaan ini menyebabkan
perpindahan lidah ke hipofaring (glossoptosis). Kombinasi faktor-faktor ini
menyebabkan obstruksi di pangkal lidah.
Etiologi deformitas mandibula yang terlihat pada PRS tidak jelas tetapi
mungkin merupakan hasil dari fleksi leher ekstrem dalam kombinasi dengan faktor-
faktor lain selama minggu keenam sampai ke 12 kehamilan. Trias mikrognatia,
glossoptosis, dan obstruksi jalan nafas berbasis lidah ini pertama kali dijelaskan
pada 1920-an oleh Pierre Robin dan dapat dilihat sebagai temuan terisolasi atau
sebagai bagian dari sindrom yang mendasarinya.

Banyak penelitian melaporkan tingginya tingkat OSA dalam PRS, tetapi


sebagian besar seri terbatas pada pasien yang dirujuk secara klinis untuk intervensi
karena obstruksi jalan napas atas. Dalam satu studi retrospektif baru-baru ini, OSA
diidentifikasi pada 11 dari 13 bayi dengan PRS, dengan AHI rata-rata 33,5/jam. Commented [DS1]: Anderson IC, Sedaghat AR, McGinley
BM, Redett RJ, Boss EF, Ishman SL. Prevalence and severity
Ada sejumlah besar variabilitas yang terlihat dalam seri ini, mulai dari 0 hingga of obstructive sleep apnea and snoring in infants with Pierre
Robin sequence. Cleft Palate Craniofac J. 2011;48:614–618
85,7 penghalang per jam. Satu studi prospektif yang melibatkan sembilan bayi
dengan PRS menemukan bahwa 72% sering mendengkur dan semuanya memiliki
Commented [DS2]: Maclean JE, Fitzsimons D, Fitzgerald
OSA yang signifikan, dengan AHI rata-rata 45,2 / jam. Konsekuensi OSA pada DA, Waters KA. The spectrum of sleep-disordered breathing
symptoms and respiratory events in infants with cleft lip
and/or palate. Archs Dis Childh. 2012;97:1058–1063
bayi-bayi ini didokumentasikan dengan baik, dan termasuk cedera otak, kegagalan
untuk berkembang, dan cor pulmonale [10,11].

Sementara PRS banyak ditemukan dalam isolasi, fitur-fiturnya juga dapat


dilihat sebagai bagian dari sindrom yang diidentifikasi (Tabel 1). Sindrom Stickler,
sindrom Treacher Collins, dan sindrom velocardiofacial adalah tiga dari sindrom
yang lebih dikenal luas yang dapat menampilkan fenotipe PRS dengan temuan
karakteristik tambahan yang dibahas di bawah ini. Microsomia hemifacial juga
berbagi beberapa fitur fenotipik yang sama seperti kondisi lain dengan temuan PRS,
tetapi mikrotia dan hipoplasia mandibula biasanya unilateral.
BAB III
KESIMPULAN

Dapat disimpulkan bahwa makrognatia dan mikrognatia merupakan


kelainan pada rahang dimana hal tersebut bisa dikarenakan banyak hal salah
satunya yaitu kegagalan pembentukan mandibula pada mikrognatia dan
berlebihnya produksi hormon pertumbuhan pada makrognatia. Pada mikrognatia
dapat dilakukan penatalaksanaan pre natal dan post natal sementara pada
makrognatia dilakukan pembedahan.
DAFTAR PUSTAKA

Goodman RM, Gorlin RJ (1977). Atlas of the face in genetic disorders. 2nd
ed. St Louis: The CV Mosby Co.

Lubowits A. Macrognathia. 2011. (http://www.medindia.net/patients


/patientinfo/pagets_macrognathia.htm).

Morokumo et al. 2010. Abnormal fetal movement, micrognatia and


pulmonary hypoplasia: a case report. Abnormal fetal movement.
http://www.ncbi.nlm.gov/pmc/articles/PMC2931455/pdf/1741-2393-10-46.pdf

Patel A (2009). The developmental disturbances of jaws.

Van Der Haven I, Mulder JW, Van Der Wal KG, et al. 1997. The jaw index:
New guide defining micrognathia in newborns. Cleft Palate Craniofac J 34:240.

Wittenborn W, Panchal J, Marsh JL, et al. 2004. Neonatal distraction


surgery for micrognathia reduces obstructive apnea and the need for tracheotomy.
J Craniofac Surg 15:623