Anda di halaman 1dari 10

PROPOSAL

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK PADA PASIEN DENGAN RESIKO


PERILAKU KEKERASAN
DI RUANG DRUPADI

OLEH :

1. Kadek Muliana ( 16089014067 )


2. Kadek Rusmini Setiawati ( 16089014087 )
3. I Kadek Bayu Permana ( 16089014024 )
4. Dewa Made Dika Sancaya ( 16089014041 )
5. P. Shely Anesya ( 16089014073 )
6. Ni Putu Riskayanti ( 16089014082 )
7. Ana Khulil Jannah ( 16089014011 )

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BULELENG
TAHUN AJARAN 2019
PROPOSAL
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK TERHADAP RESIKO PERILAKU
KEKERASAN

A. LATAR BELAKANG

Skizofrenia menurut Maramis adalah suatu psikosa fungsional

dengan gangguan utama pada proses pikir serta disharmonisasi antara proses

pikir, afek atau emosi, kemampuan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan

terutama karena waham dan halusinasi. Afek dan emosi inadekuat, ambi valensi

dan perilaku bizar.Skizofrenia berasal dari kata “skizo” yang berarti retakan atau

pecah (split), dan“frenia” yang berarti jiwa skizofrenia adalah orang yang

mengalami keretakan kepribadian (splitting of personality). Keretakan

kepribadian pada seseorang adalah perilaku yang menyimpang, misalnya cemas

yang berlebihan sehingga menimbulkan kekerasan pada orang lai (Hawari, 2001

dalam jurnal Erviana dan Arif, 2008).

Perilaku kekerasan adalah suatu bentu prilaku yang bertujuan

melukai seseorng secara fisik maupun psikologis. Marah tidak memiliki tujuan

khusus, tapi lebih merujuk pada suatu perangkat perasaan-perasaan tertentu yang

biasanya disebut dengan perasaan marah. (Dermawan dan Rusdi, 2013).

Salah satu bentuk terapi perilaku adalah dengan tehnik relaksasi.

Relaksasi merupakan upaya untuk mengendurkan tegangan, pertama-tama

jasmaniah yang ada pada akhirnya mengakibatkan mengendurnya ketegangan

jiwa Wiramihardja (2004). Cara relaksasi dapat bersifat respiratoris yaitu dengan
mengatur mekanisme atau aktifitas pernafasan atau otot dilakukan dengan tempo

atau irama intensitas yang lebih lambat. (Erviana dan Arif, 2008).

Teknik memukul bantal dimaksudkan untuk memulihkan gangguan

perilaku yang terganggu (maladaptif) menjadi perilaku yang adaptif (mampu

menyesuaikan diri). Kemampuan adaptasi penderita perlu dipulihkan agar

penderita mampu berfungsi kembali secara wajar. Untuk mengurangi resiko

melakukan menciderai diri atau orang lain dikarenakan status emosi pasien,

maka perlu dilakukan terapi yang berguna untuk menyalurkan energi yang

konstruktif dengan cara fisik, salah satunya adalah memukul bantal. Teknik ini

digunakan agar energi marah yang dialami oleh pasien dapat tersalurkan dengan

baik sehingga tidak menciderai diri dengan orang lain dan adaptasi menjadi

adaptif.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum
Meningkatnya kemampuan pasien dalam menurunkan tingkat emosi Pada

pasien dengan resiko perilaku kekerasan.

2. Tujuan Khusus
 Klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang dilakukan klien
 Klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang dapat mencegah prilaku
kekerasan
 Klien dapat mendemonstrasikan teknik relaksasi nafas dalam.
 Klien dapat mendemonstrasikan kegiatan fisik yang dapat mencegah
prilaku kekerasan yaitu memukul bantal
C. Karakteristik Klien
1). Kriteria pasien
 Pasien dengan Resiko Perilaku Kekerasan di ruang Drupadi
 Pasien yang koperatif
 Pasien yang tingkah lakunya sudah bisa diarahkan.
2). Proses seleksi
 Mengidentifikasi pasien yang masuk kriteria
 Mengumpulkan pasien yang masuk criteria
 Membuat kontrak dengan pasien yang setuju ikut TAK, meliputi:
menjelaskan tujuan TAK pada pasien, rencana kegiatan kelompok
dan aturan main dalam kelompok (Eko prabowo, 2014: 243)
E. Metode
1. Diskusi dan tanya jawab
2. Bermain peran/ simulasi
3. Demonstrasi
F. Pengorganisasian
1. Leader : Ni Putu Riskayanti
 Menyiapkan proposal kegiatan TAK RPK
 Menyampaikan tujuan dan peraturan kegiatan terapi aktifitas
kelompok sebelum kegiatan dimulai.
 Menjelaskan aturan permainan.
 Mampu memotivasi pasien untuk aktif dalam kelompok dan
memperkenalkan dirinya.
 Mampu memimpin terapi aktivitas kelompok dengan baik dan tertib
 Menetralisir bila ada masalah yang timbul dalam kegiatan.
2. Co-leader : Dewa Made Dika Sancaya
 Mendampingi leader
 Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang dari perencanaan
yang telah dibuat
 Mengambil alih posisi leader jika leader mengalami blocking dalam
proses terapi
 Memutar musik dan mengatur waktu tiap tahapan kegiatan
3. Fasilitator :
- I Kadek Muliana
- I Kadek Bayu Permana
- P. Shely Anesya
- Ana Khulil Jannah
 Menyediakan fasilitas selama kegiatan berlangsung.
 Memfasilitasi dan memberikan stimulus dan motivator pada pasien untuk
aktif mengikuti jalannya terapi.
4. Observasi: Kadek Rusmini Setiawati
 Mengobservasi jalannya proses kegiatan
 Mengamati serta mencatat aspek yang dimulai tiap-tiap pasien
 Mengobservasi jalannya kegiatan dari mulai persiapan, proses, hingga
penutupan.
 Waktu dan Tempat
Hari / Tanggal : Rabu, 17 Juli 2019
Jam : 08.00-08.30
Tempat : Ruang Drupadi
 Media dan Alat
1. HP
2. Bola Tennis
3. Bantal
4. Buku catatan dan pulpen

H. Seting Tempat
L CL
O

P P

F F

P P

F F

P P
Keterangan:
L : Leader
CL : Co-Leader
O : Observer
F : Fasilitator
P : Pasien

I. Tata tertib dan Antisipasi Masalah


1.Tata Tertib pelaksanaan TAK

J. Proses Pelaksanaan
A. Langkah-langkah kegiatan
1. Persiapan
 Mengingatkan kontrak dengan pasien yang telah mengikuti proses seleksi
 Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
 Salam dari terapis pasien
 Hidupkan lagi lagu pada tape dan edarkan bola tenis. Pada saat tape
dimatikan, minta anggota kelompok yang memegang bola untuk
memperkenalkan diri kepada kelompok yang lainnya yaitu, nama
lengkap, nama panggilan, asal dan hobi dan memakai name tag.
b. Evalusi / validasi
 Menanyakan perasaan pasien saat ini
 Menanyakan apakah apakah ada kejadian perilaku kekerasan: penyebab,
tanda dan gejala, perilaku kekerasan serta akibatnya.
c. Kontrak
 Terapis menjelaskan tujuan kegiatan yaitu cara fisik untuk mencegah
perilaku kekerasan.
 Mejelaskan aturan main yaitu:
 Peserta bersedia mengikuti kegiatan TAK sampai dengan selesai.
 Peseta Tidak diperkenankan makan, minum, merokok selama
kegiatan TAK berlangsung.
 Jika ingin mengajukan/menjawab pertanyaan, peserta mengangkat
tangan kanan dan berbicara setelah dipersilahkan oleh leader.
 Peserta yang ingin ke kamar mandi dipersilakan dengan seijin leader.
 Lama kegiatan 50 menit.
3. Tahap kerja
 Hidupkan lagu dan edarkan pada bola tenis berlawanan dengan arah
jarum jam.
 Pasien yang memegang bola melakukan teknik nafas dalam diawali oleh
co-leader memberikan contoh.
 Ulangi sampai semua anggota kelompok mendapat giliran
 Kegiatan dilanjutkan dengan tekhnik mengontrol perilakuk kekerasan
dengan teknik memukul bantal.
 Hidupkan lagu dan edarkan pada bola tenis berlawanan dengan arah
jarum jam
 Pasien yang memegang bola melakukan teknik memukul bantal diawali
oleh co-leader memberikan contoh
 Ulangi a dan b sampai semua anggota kelompok mendapat giliran
 Berikan pujian untuk tiap keberhasilan anggota kelompok dengan
memberi tepuk tangan.
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
 Terapis menanyakan perasaan klien setelah selesai mengikuti TAK
 Menanyakan ulang cara baru yang sehat mencegah perilaku kekerasan.
b. Tindak lanjut
 Terapis menganjurkan klien menggunakan cara yang telah dipelajari jika
ada stimulus penyebab perilaku kekerasan
 Menganjurkan klien berlatih secara teratur cara yang telah dipelajari.
 Memasukan dalam jadwal kegiatan harian klien.
c. Kontrak yang akan datang
 Terapis membuat kesepakatan dengan klien untuk mempelajari cara baru
yang lain yaitu interaksi sosial yang asertif.
 Terapis membuat kesepakatan waktu dan tempat.

K. Evaluasi dan Dokumentasi


1. Evaluasi
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap
kerja. Aspek yang di evaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan
TAK. Untuk TAK stimulasi persepsi Perilaku Kekerasan Sesi 2, kemampuan
yang diharapkan adalah dua kemampuan mencegah perilaku kekerasan secara
fisik. Formulir evaluasi adalah sebagai berikut:

SESI 2 TAK
STIMULASI PERSEPSI : PERILAKU KEKERASAN
Kemampuan Mencegah Perilaku kekerasan fisik
Aspek Yang Dinilai dalam TAK sesi 2:
No Aspek Nama Pasien
yang
Dinilai
Yeni Sumadi Anik Rijasa Sunadi Swandewi
1. Nafas
Dalam
2 Memukul
Bantal

Petunjuk:
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien
2. Untuk setiap klien beri penilaian atas kemampuan mempraktikkan dua
cara fisik mencegah perilaku kekerasan, beri tanda √ jika klien mampu
dan tanda X jika klien tidak mampu.
M. Antisipasi Masalah

1. Penanganan terhadap klien yag tidak aktif dalam aktivitas


Memanggil klien

Memberi kesempatan pada klien untuk menjawab sapaan perawat atau
klien lain.
2. Bila klien meninggalkan kegiatan tanpa izin
 Panggil nama klien
 Tanyakan alasan klien meninggalankan kegiatan
3. Bila klien lain ingin ikut
 Berikan penjelasan bahwa ada kegiatan ini ditujukan kepada klien yang
telah dipilih
 Katakan pada klien bahwa ada kegiatan lain yang mungkin diikuti oleh
klien tersebut
 Jika klien memaksa beri kesempatan untuk masuk dengan tidak memberi
pesan pada kegiata ini