Anda di halaman 1dari 19

PRAKTIKUM EVALUASI PROYEK

“ TANAMAN BAYAM”

DISUSUN OLEH:

1. AGUS GUNAWAN 1706111280

2. FAUZIAH HAYATI 1706111346

3. RIBKA BETHARIA PASARIBU 1706113362

4. MUHAMMAD IFQAL 1706122334

JURUSAN AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS RIAU

PEKANBARU

2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tanaman bayam merupakan salah satu jenis sayuran komersial yang mudah

diperoleh disetiap pasar, baik pasar tradisional maupun pasar swalayan. Harganya

dapat terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Tumbuhan bayam ini awalnya

berasal dari negara Amerika beriklim tropis, namun sekarang tersebar keseluruh

dunia.

Di Indonesia hanya dikenal dua jenis bayam budidaya, yaitu bayam cabut

(Amaranthus tricolor L.) dan bayam petik (Amaranthus hybridus L.). Jenis ini

memang sengaja dibudidayakan untuk dikonsumsi karena rasa daunnya enak, empuk,

dan mempunyai kandungan gizi yang tinggi. Selain itu, daunnya yang segar

mempunyai nilai komersial yang tinggi (Bandinidan Nurudin,2001).

Bayam merupakan tanaman sayuran yang berasal dari daerah Amerika Tropik.

Bayam semula dikenal sebagai tanaman hias, namun dalam perkembangan

selanjutnya bayam dipromosikan sebagai bahan pangan sumber protein, vitamin A

dan C serta sedikit vitamin B dan mengandung garam-garam mineral seperti:

kalsium, posfor, dan besi (Sunarjono, 2006). `


Bayam biasa ditanam untuk dikonsumsi daunnya sebagai sayuran hijau.

Pertumbuhannya secara normal amat cepat, sehingga dalam waktu kurang dari satu

bulan bayam sudah bisa dipanen. Bayam telah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh

masyarakat Indonesia dan merupakan bahan sayuran daun yang bergizi tinggi dan

digemari oleh semua lapisan masyarakat. Daun bayam dapat dibuat berbagai sayur

mayur, bahkan disajikan sebagai hidangan mewah (elit). Bayam juga memiliki

beberapa manfaat diantaranya dapat memperbaiki daya kerja ginjal dan melancarkan

pencernaan. Beberapa negara berkembang telah mempromosikan bayam sebagai

sumber protein nabati, karena berfungsi ganda bagi pemenuhan kebutuhan gizi

maupun pelayanan kesehatan masyarakat (Sunarjono, 2006).

Umumnya bayam sangat memerlukan air dalam pertumbuhan dan

perkembangannya, karena tanaman tidak dapat hidup tanpa air. Untuk itu dibutuhkan

pemberian yang baik, agar dapat menghasilkan produksi yang banyak. Air merupakan

sistem pelarut dari sel dan memberikan suatu medium untuk pengangkutan didalam

tanah. Air dapat mempertahankan turgor yang sangat perlu dalam kerumitan

transpirasi dan pertumbuhan tanaman. Untuk pertumbuhan dan perkembangan

tanaman yang normal, tanaman memerlukan unsur hara, cahaya, karbondioksida, dan

air yang cukup. Kekurangan air mengakibatkan terganggunya perkembangan tanaman

dan akan mengganggu aktifitas fisiologis maupun morfologis, sehingga

mengakibatkan terhentinya pertumbuhan. Dalam pemberian air perlu diperhatikan

kebutuhan air dari setiap tanaman, demikian pula setiap tahap dari pertumbuhan

tanaman tertentu.
B. Rumusan Masalah

Dalam pembahasan laporan ini, ada beberapa topik yang menjadi masalah dalam

laporan ini, yakni :

1. Berapa Besar Biaya Yang Dikeluarkan Dalam Usahatani Bayam di Kartama,

Kecamatan Marpoyan Damai?

2. Berapa besar pendapatan dalam usahatani bayam di Kartama, Kecamatan

Marpoyan Damai?

3. Berapa nilai kelayakan usahatani bayam di Kartama, Kecamatan Marpoyan

Damai?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui besar biaya yang dikeluarkan oleh petani

2. Untuk mengetahui pendapatan yang diperoleh oleh petani bayam di Kartama,

Kecamatan Marpoyan Damai?

3. untuk mengetahui kelayakan dari usahatani bayam di Kartama, Kecamatan

Marpoyan Damai?
II. PEMBAHASAN

2.1 ASPEK MANAJEMEN DALAM USAHA

A. PERENCANAAN (PLANNING)

Menurut Entang dalam Tahir Marzuki (2005), planning usahatani akan

menolong keluarga tani di pedesaan. Diantaranya pertama, mendidik para petani

agar mampu berpikir dalam menciptakan suatu gagasan yang dapat

menguntungkan usahataninya. Kedua, mendidik para petani agar mampu mengambil

sikap atau suatu keputusan yang tegas dan tepat serta harus didasarkan pada

pertimbangan yang ada. Ketiga, membantu petani dalam memperincikan

secara jelas kebutuhan sarana produksi yang diperlukan seperti bibit

unggul, pupuk dan obat-obatan. Keempat, membantu petani dalam mendapatkan

kredit utang yang akan dipinjamnya sekaligus juga dengan cara-cara

pengembaliannya. Kelima, membantu dalam meramalkan jumlah produksi dan

pendapatan yang diharapkan (Soekartawi, 2005).

Planning yang dilakukan oleh responden adalah planning input-input dan sarana

produksi mencakup kegiatan mengidentifikasi input-input dan sarana produksi yang

dibutuhkan, baik dari segi jenis, jumlah dan mutu atau spesifikasinya. Setelah itu

maka disusun rencana dan sistem pengadaannya. Dua hal mendasar yang perlu

menjadi titik perhatian dalam memilih sistem pengadaan adalah membuat sendiri atau

membeli.

B. Pengorganisasian (Organizing)

Organizing adalah suatu aktivitas pengaturan dalam sumber daya manusia dan

sumber daya fisik yang lainnya yang dimiliki oleh perusahaan untuk bisa
melaksanakan rencana yang sudah ditetapkan dan mencapai tujuan utama perusahaan.

Dalam bahasa yang lebih sederhana organizing merupakan seluruh proses dalam

mengelompokkan semua orang, alat, tugas tanggung-jawab dan wewenang yang

dimiliki sedemikian rupa hingga memunculkan kesatuan yang bisa digerakkan dalam

mencapai tujuan.

Organizing yang dilakukan responden adalah organizing mengenai sumberdaya

berupa input-input dan sarana produksi yang akan digunakan akan sangat berguna

bagi pencapaian efisiensi usaha dan waktu. Organizing tersebut terutama menyangkut

bagaimana mengalokasikan berbagai input dan fasilitas yang akan digunakan

dalam proses produksi sehingga proses produksi dapat berjalan secara efektif dan

efisien. Pencapaian efektivitas dalam organizing menekankan pada penempatan

fasilitas dan input-input secara tepat dalam suatu rangkaian proses, baik dari segi

jumlah maupun mutu dan kapasitas. Dilain pihak, pencapaian efisiensi dalam

organizing input-input dan fasilitas produksi lebih mengarah kepada optimasi

penggunaan berbagai sumberdaya tersebut sehingga dapat dihasilkan output

maksimum dengan biaya minimum. Dalam usahatani organizing input-input dan

fasilitas produksi menjadi penentu dalam pencapaian optimalitas alokasi

sumber-sumber produksi (Soekartawi, 2005).

C. Penggerakan (Actuating)

Actuating adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota

kelompok berusaha untuk mencapai sasaran yang sesuai dengan perencanaan

manejerial dan usaha-usaha organisasi. Jadi actuating artinya menggerakkan orang-

orang agar mau bekerja dengan sendirinya atau dengan kesadaran secara bersama-
sama untuk mencapai tujuan dikehendaki secara efektif. Actuating dalam usaha

produksi pertanian meliputi actuating anggaran, proses, masukan, jadwal kerja

yang merupakan upaya untuk memperoleh hasil maksimal dari usaha produksi.

Actuating yang dilakukan responden pada suatu usahatani jagung meliputi

actuating terhadap penggunaan faktor produksi lahan, bibit, pupuk, obat-

obatan dan persediaan modal untuk membiayai usaha pertanian. Dengan actuating

yang baik terhadap penggunaan faktor-faktor produksi dapat menentukan efisien

tidaknya suatu usahatani. Seringkali dijumpai makin luas lahan yang dipakai sebagai

usaha pertanian akan semakin tidak efisien lahan tersebut.Hal ini didasarkan pada

pemikiran bahwa luasnya lahan mengakibatkan upaya untuk melakukan tindakan

yang mengarah pada segi efisiensi akan berkurang disebabkan lemahnya actuating

terhadap penggunaan faktor produksi bibit, pupuk, obat-obatan dan terbatasnya

persediaan modal untuk pembiayaan usaha pertanian dalam skala tersebut.

Sebaliknya pada luas lahan yang sempit, upaya actuating terhadap faktor produksi

semakin baik, sebab diperlukan modal yang tidak terlalu besar sehingga

usaha pertanian seperti ini lebih efisien. Meskipun demikian, luasan yang terlalu kecil

cenderung menghasilkan usaha yang tidak efisien pula (Soekartawi, 1999).

D. Pengawasan (Controlling)

Controlling adalah serangkaian proses pengamatan terhadap kegiatan yang

dilakukan, serta menilai apakah kegiatan tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan

rencana atau tidak. Controlling juga berarti mencari informasi tentang berbagai

penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dan melakukan tindakan pencegahan bila

diperlukan. Hal ini sering juga disebut follow up.


Controlling dalam usaha produksi pertanian berfungsi untuk menjamin agar

proses produksi berjalan pada rel yang telah direncanakan. Dalam usahatani

responden, misalnya controlling dapat dilakukan pada masalah kelebihan

penggunaan air, kelebihan biaya pada suatu tahap proses produksi dan lain-lain.

Faktor produksi tersebut berpengaruh pada biaya produksi sedangkan keduanya

akan mempengaruhi penerimaan usahatani. Penerimaan usahatani akan terkait dengan

jumlah produk yang dihasilkan dengan harga komoditas. Salah satu yang menentukan

komoditas adalah jumlah permintaan dan penawaran harga produk dan faktor

produksi yang sering mengalami perubahan akan berpengaruh terhadap tingkat

keuntungan yang diterima. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani

adalah luas usaha, tingkat produksi, pilihan kombinasi usaha dan juga intensitas

pengusahaan tanaman (Hernanto, 1991).

2.2 ASPEK FINANSIAL

1.1. Aspek Finansial

A. Modal

Modal merupakan sarana atau bekal untuk melaksanakan usaha (Gilarso,

1993). Secara ekonomi modal adalah barang-barang yang bernilai ekonomi yang

digunakan untuk menghasilkan tambahan kekayaan ataupun untuk meningkatkan

produksi. Modal dalam usahatani bersamaan dengan faktor produksi lainnya akan

menghasilkan produk. Modal ini semakin berperan dengan berkembangnya usahatani


tersebut. Pada usahatani sederhana peran modal yang diperlukan kecil, namun

semakin maju usahatani modal yang diperlukan semakin besar.

1) Modal Tetap

Modal tetap adalah modal yang sifatnya tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya

produksi, misalnya biaya penyusutan alat, iuran air, sewa lahan, dan lain sebagainya.

Adapun modal tetap yang dikeluarkan oleh responden dapat dilihat pada tabel

berikut:

Tetap

Jenis alat Jumlah Harga/unit Umur ekonomis Penyusutan


Cangkul 2 Rp75.000 3 Rp40.000
Sepatu boot 2 Rp65.000 3 Rp36.600
Gembor 2 Rp50.000 3 Rp25.000
Topi 2 Rp10.000 3 Rp5.000
TOTAL Rp106.600
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa total modal tetap yang dikeluarkan

oleh petani responden sebesar Rp106,600 yang terdiri dari biaya penyusutan alat.

Alat-alat yang digunakan oleh petani adalah cangkul, sepatu boot, gembor, topi.

2) Modal Tidak Tetap

Modal tidak tetap adalah modal yang sifatnya dipengaruhi oleh besar kecilnya

produksi, misalnya biaya saprodi, biaya tenaga kerja, dan lain sebagainya. Adapun

modal tidak tetap yang dikeluarkan oleh responden dapat dilihat pada tabel berikut :

Tidak Tetap
Jenis Jumlah Harga
Benih 1 bungkus Rp110.000
Pupuk kandang/Ha 36 karung Rp270.000
TOTAL Rp380.000
Berdasarkan tabel diatas, total modal tidak tetap yang dikeluarkan oleh petani

responden sebesar Rp380.000. Modal tidak tetap terdiri dari benih bayam dan pupuk.

Jenis benih yang digunakan adalah Bayam Hijau sebanyak 1 bungkus. Pupuk yang

digunakan adalah pupuk kandang sebanyak 36 karung yang berukuran 20 kg dengan

harga Rp7.500/Karung.

B. Analisa Rugi/Laba

Laba rugi adalah suatu laporan keuangan yang di dalamnya menjelaskan

tentang kinerja keuangan suatu entitas bisnis dalam satu periode akuntansi. Di dalam

laporan ini terdapat informasi ringkas mengenai jumlah biaya-biaya yang dikeluarkan

untuk operasional suatu perusahaan serta laba yang didapatkan selama perusahaan

tersebut beroperasi. Laporan laba rugi (income statement) suatu entitas bisnis sangat

diperlukan untuk mengetahui kondisi dan perkembangan perusahan, apakah

memperoleh laba selama menjalankan usaha atau justru merugi.

 Pendapatan Kotor

Pendapatan kotor (bahasa Inggris: gross income) umumnya didefinisikan

sebagai suatu jumlah yang diterima oleh perusahaan atau orang pribadi

sebelum dikurangi pajak dan pengurangannya. Untuk bisnis, jumlah ini

merupakan biaya perolehan dikurangi penjualan bersih sebelum pajak dari

penjualan.

TR= Py.Y

Ket:

Py: Harga produk (Rp/ikat)

Y: Jumlah (Ikat/Musim tanam)


TR= Rp.500 x 3000 ikat

= Rp1.500.000

Jadi, Pendapatan Kotor yang didapat dari usahatani Bayam sebesar Rp1.500.000

 Pendapatan Bersih

Pendapatan Bersih adalah net incomeyaitu selisih positif dari total

pendapatan (operasional dan non-operasional) dengan total biaya (operasional

dan non-operasional) dalam satu periode setelah dikurangi dengan taksiran

pajak pendapatan.

π = TR – TC

π = Y.Py –(TVC+TFC)

keterangan:

π = Pendapatan Bersih Usahatani (Rp/Musim Tanam/ Ha)

Y = Jumlah Produksi (Kg/Musim Tanam/ Ha)

Py = Harga Produksi (Rp/Kg)

TVC = Total Biaya Variable (Rp/Musim Tanam/ Ha)

TFC = Total Biaya Tetap (Rp/Musim Tanam/ Ha)

π = Rp1.500.000 – Rp.486.600

= Rp1.013.400
Jadi, Pendapatan bersih yang didapat dari usahatani Bayam sebesar Rp1.013.400

C. EFISIENSI USAHATANI

Untuk menganalisis tingkat efisiensi ekonomis usahatani digunakan

Return Cost of Ratio (RCR), menurut Hernanto (1988):

𝑇𝑅
RCR = 𝑇𝐶

Keterangan:

RCR = Return Cost Of Ratio

TR = Total Revenue (Rp/ Ha /Musim Tanam)

TC = Total Cost (Rp/ Ha /Musim Tanam)

RCR > 1 = usahatani tersebut efisien

RCR < 1 = usahatani tersebut tidak efisien

RCR = 1 = usahatani tersebut berada pada titik impas

𝑅𝑝1.500.000
RCR= 𝑅𝑝 486.600

= 3,08

Jadi, berdasarkan perhitungan diatas, nilai RCR yang didapat sebesar 3,08 yang

menunjukkan bahwa kegiatan usahatani yang dilakukan efisien atau layak.


Rata-Rata Biaya Produksi yang Digunakan Petani Bayam di Kartama (0,06 Ha):

No Uraian Jumlah
1 Pendapatan

Penjualan bayam Rp1.500.000

Jumlah pendapatan Rp1.500.000


2 Biaya operasional

Biaya tetap Rp106.6000


Biaya tidak tetap
Benih Rp110.000
Pupuk kandang Rp270.000
Jumlah biaya operasional Rp486.600
Sisa hasil usaha (SHU) Rp1.013.400

Berdasarkan tabel diatas, diketahui pendapatan yang diterima oleh responden

sebesar Rp1.500.000 dari hasil penjualan Bayam sebanyak 3000 ikat per Ha dengan

harga jual Rp500. Biaya operasional terdiri dari biaya tetap dan biaya tidak tetap.

Biaya tetap terdiri dari alat yang digunakan dalam usahatani, yaitu sebesar Rp.

106.600. Sedangkan biaya tidak tetap terdiri dari benih dan pupuk kandang yang

digunakan dalam usahatani, yaitu sebesar Rp.380.000.

Efisien ekonomi, R/C Ratio adalah analisis yang mengukur layak tidaknya

suatu usahatani untuk diusahakan dengan pertimbangan melalui kriteria yang ada.

No Kriteria Jumlah (Rp)


1 Biaya total (TC) 486.600
2 Penerimaan (TR) 1.500.000
3 Pendapatan (TR-TC) 1.013.400
4 RC Ratio=TR/TC 3,08
Biaya total usahatani (TC) responden di Kartama adalah sebesar Rp486.600,

dengan penerimaan (TR) sebesar Rp1.500.000. Pendapatan usahatani responden

sebesar Rp1.013.400 yang diperoleh dari penerimaan (TR) dikurangi dengan biaya

total (TC). Sehingga efisiensi usahatani dapat dihitung dengan analisis R/C ratio

digunakan untuk mengetahui kelayakan usahatani dengan memperbandingkan antara

total penerimaan dengan total biaya dengan kriteria jika R/C-Ratio >1 = “Untung”

berarti bahwa usahatani bayam layak untuk diusahakan, jika R/C-Ratio = 1 =

“Impas” yang berarti tidak rugi dan tidak untung atau bahwa usahatani bayam tidak

mengalami kerugian, dan R/C-Ratio < 1 = “Rugi” artinya adalah bahwa usahatani

bayam tidak layak diusahakan. Sesuai dengan analisis efisiensi tersebut, maka didapat

bahwa usahatani bayam petani responden di Kartama adalah efisien. Usahatani di

daerah ini memiliki R/C-Ratio >1 =”Untung” yang berarti bahwa usahatani

responden layak untuk diusahakan, dengan penerimaan (TR) sebesar Rp1.500.00

dibagi dengan biaya total (TC) sebesar Rp486.600 sehingga didapat hasil R/C ratio

adalah sebesar 3,08.

 BEP

Analisis titik impas atau disebut break event point/BEP analysis adalah
suatu teknik analsis yang berguna untuk mengetahui hubungan antara biaya,volume
penjualan dan profit. Hasil analisis BEP dapat dimanfaatkan untuk merencanakan
tingkat laba yang diinginkan pada biaya dan volume penjualan tertentu atau
menargetkan volume penjualan tertentu atau menargetkan volume penjualan yang
mungkin dicapai pada biaya dan laba tertentu. Suatu perusahaan dikatakan break
event apabila setelah dibuat perhitungan laba rugi dari suatu periode kerja atau dari
suatu kegiatan tertentu, perusahaan itu tidak memperoleh laba tetapi juga tidak
mengalami kerugian. BEP dibagi menjadi dua yaitu BEP unit dan BEP sales.
BEP sangat penting dalam membuat usaha agar tidak mengalami kerugian,
atau manufaktur, manfaat dari BEP adalah :
a. Alat perencanaan untuk menghasilkan laba.
b. Memberikan informasi mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta
hubungannya dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat
penjualan yang bersangkutan.
c. Mengevaluasi laba dari perusahaan secara keseluruhan.
Dalam hal ini data yang diperoleh dari responden yaitu modal awal yang
dikeluarkan oleh pak mundofir selaku petani bayam adalah sebesar Rp486.600 dan
telah memetik hasil panen bayam per musim tanam sebesar 3000 ikat/musim tanam,
dimana penjualan bayam seharga Rp500.-/ikat. Adapun analisis break event point
dalam kegiatan usahatani komoditi bayam di Kartama dimana kondisi titik impas
tercapai saat hubungan antara biaya dan penjualan menghasilkan laba sebelum bunga
dan pajak (eraning before interest and tax/EBIT) sama dengan nol dapat dievaluasi
sebagai berikut :
Diketahui : FC = Rp106.600
P = Rp 500/ikat
VC = Rp380.000
S = Rp1.500.000
AVC = Rp126.6
Ditanya : BEPq dan BEP(dalam rupiah) = ... ?
Penyelesaian :
TFC
a. BEPQ = P−AVC
Rp106.600
BEPQ = Rp500−Rp126.6

BEPQ = 373.4 / 374 Ikat

TFC
b. BEPdalam rupiah = TVC
1−
S

Rp106.600
BEPdalam rupiah = Rp380.000
1−
Rp1.500.000
BEPdalam rupiah = Rp142.133

Jadi, berdasarkan uraian di atas usahatani komoditi bayam yang dikelola oleh
pak Mundofir minimal harus memproduksi 374 ikat per musim tanam dan harga jual
minimal Rp124.133 per musim tanam untuk mencapai titik impas. Dalam analisis
data yang didapat lahan bayam yang dikelola sudah melebihi jumlah minimal
produksi atau hasil panen per bulan= 3000 ikat > BEPQ = 374 ikat dan hasil yang
didapatkan dari penjualan bayam sudah melebihi jumlah minimal penjualan atau
pendapatan per bulan = Rp1.500.000 > BEPdalam rupiah = Rp142.133,33.
III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Aspek finansial yang diperhatikan dalam usahatani di Kartama adalah modal,

rugi/laba, dan Analisis usahatani. Modal yang dikeluarkan petani responden terdiri

dari modal tetap (biaya penyusutan alat) dan modal tidak tetap (benih dan pupuk,).

Total modal yang dikeluarkan petani responden sebesar Rp486.600. Dilihat dari

laporan rugi/laba, usahatani petani responden memiliki keuntungan Rp1.013.40 per

Musim Tanam Untuk Produksi Bayam sebanyak 3000 ikat dengan harga jual Rp500

per ikat. Usahatani responden dikatakan layak untuk diusahakan, dengan penerimaan

(TR) sebesar Rp1.500.000 dibagi dengan biaya total (TC) sebesar Rp486.600

sehingga didapat hasil R/C ratio adalah sebesar 3,08. Dalam analisis data yang

didapat Lahan Bayam yang dikelola sudah melebihi jumlah minimal produksi atau

hasil panen per bulan= 3000/Musim Tanam > BEPQ = 374 ikat dan hasil yang

didapatkan dari penjualan bayam sudah melebihi jumlah minimal penjualan atau

pendapatan per bulan = Rp1.500.000 > BEPdalam rupiah = Rp142.133,33.

3.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan saran sebagai berikut :

1. Usahatani komoditi bayam petani responden sudah termasuk ke kategori layak,


tetapi alangkah lebih baiknya jika menambah tenaga kerja untuk dapat lebih
memaksimalkan kegiatan budidaya agar mendapatkan hasil produksi yang
optimal.
DOKUMENTASI