Anda di halaman 1dari 51

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di era yang sangat modern ini pastinya seluruh warga Indonesia tau apa itu listrik.
Menjadi suatu kebutuhan wajib bagi semua manusia di bumi ini. Begitu juga pada bidang
maritim, listrik perkapalan merupakan bidang yang memelajari tentang kelistrikan dalam skala
arus besar, serta mesin-mesin listrik yang digunakan di ligkungan kapal.Banyak peralatan saat
ini yang memanfaatkan ilmu elektronika. Ketika mengukur hal yang tidak nyata dalam bidang
kelistrikan dibutuhkan alat ukur elektronik untuk mengetahui bentuk amplitudo, frekuensi, dan
panjang gelombang listrik.
Salah satu alat yang dapat digunakan adalah osiloskop. Osiloskop merupakan alat ukur
elektronik yang dapat memetakan atau memproyeksikan sinyal listrik dan frekuensi menjadi
gambar grafik agar dapat dibaca dan mudah dipelajari. Dengan alat ini kita dapat mengamati
bentuk bentuk gelombang yang dihasilkan. Prinsip kerja yaitu dengan menggambarkan
pergerakan sinar elektron yang mengalir melalui objek yang dirangkai dengan Osiloskop. Pada
percobaan ini digunakan juga function generator, yaituadalah alat uji yang mampu
menghasilkan berbagai bentuk gelombang sederhana yangberfungsi sebagaipembuat sinyal
elektronik tertentu sesuai kebutuhan praktikum untuk dibaca osiloskop.Dengan demikian
praktikan diharapkan dapat memahami cara kerja dan cara pengoperasian osiloskop sehingga
dapat memanfaatkannya di kehidupan sehari – hari.
1.2 Rumusan Masalah
Untuk mengarahkan pembahasan secara lebih spesifik dan terarah, maka dirumuskan
permasalahan sebagai berikut.
1. Bagaimana cara kerja osiloskop
2. Bagaimana cara mengukur nilai frekuensi dan amplitudo gelombang
3. Bagaimana cara merubah skala tegangan dan waktu
4. Bagaimana perbandingan bentuk gelombang ketika skala perhitungan divariasikan

1.3 Tujuan Praktikum


Praktikum osiloskop ini bertujuan agar mahasiswa dapat mengetahui:
1. Mengetahui cara kerja osiloskop
2. Mengetahui cara mengukur nilai frekuensi dan amplitudo gelombang
3. Mengetahui cara merubah skala tegangan dan waktu
4. Mengetahui perbandingan bentuk gelombang ketika skala perhitungan divariasikan
Bab II
DasarTeori

2.1. Pengertian Osiloskop


Osiloskop adalah alat ukur elektronika yang berfungsi memproyeksikan bentuk sinyal
listrik agar dapat dilihat dan dipelajari. Osiloskop dilengkapi dengan tabung sinar katode.
Peranti pemancar elektron memproyeksikan sorotan elektron ke layar tabung sinar katode.
Sorotan elektron membekas pada layar. Suatu rangkaian khusus dalam osiloskop menyebabkan
sorotan bergerak berulang-ulang dari kiri ke kanan. Pengulangan ini menyebabkan bentuk
sinyal kontinyu sehingga dapat dipelajari. Berikut bentuk dari alat osiloskop pada umumnya.

Gambar 2.1. Osiloskop


(Sumber: https://teknikelektronika.com)

Osiloskop biasanya digunakan untuk mengamati bentuk gelombang yang tepat dari sinyal
listrik. Selain amplitudo sinyal, osiloskop dapat menunjukkan distorsi, waktu antara dua
peristiwa (seperti lebar pulsa, periode, atau waktu naik) dan waktu relatif dari dua sinyal terkait.
Osiloskop banyak digunakan pada industri-industri seperti penelitian, sains, engineering,
medikal dan telekomunikasi. Saat ini, terdapat 2 jenis Osiloskop yaitu Osiloskop Analog yang
menggunakan Teknologi CRT (Cathode Ray Tube) untuk menampilkan sinyal listriknya dan
Osiloskop Digital yang menggunakan LCD untuk menampilkan sinyal listrik atau gelombong.

2.1.1. Osiloskop Analog


Osiloskop jenis ini menggunakan tegangan yang diukur untuk menggerakkan berkas
electron dalam tabung sinar katoda sesuai bentuk gambar yang diukur. Pada layar
osiloskop langsung ditampilkan bentuk gelombang tersebut. Osiloskop analog Osiloskop
ini merupakan jenis yang paling tua dan sederhana.
Gambar 2.2. Osiloskop Analog

2.1.2. Osiloskop Digital


Osiloskop jenis ini mengambil bentuk gelombang yang diukur, lalu dengan
menggunakan ADC (Analog to Digital Converter), besaran tegangan yang diambil dirubah
menjadi besaran digital. Dalam osiloskop digital, gelombang yang akan ditampilkan lebih
dulu di-sampling dan didigitalisasikan. Osiloskop kemudian menyimpan nilai-nilai
tegangan ini bersama sama dengan skala waktu gelombangnya di memori. Pada
prinsipnya, osiloskop digital hanya mencuplik dan menyimpan demikian banyak nilai dan
kemudian berhenti. Ia mengulang proses ini lagi dan lagi sampai dihentikan.

Gambar 2.3. Osiloskop Digital

2.2.Bagian-bagianOsiloskop
Terdapat dua macam jenis osiloskop yaitu osiloskop analog dan digital. Osiloskop
memiliki bagian – bagian penting yang memiliki fungsi berbeda – beda. Berikut bagian –
bagian dari masing – masing jenis osiloskop.
2.2.1. BagianOsiloskop Analog
Berikut adalah gambar dan fungsi bagian-bagian utama osiloskop analog pada
umumnya:

Gambar 2.4. Tombol – Tombol Osiloskop Analog

No Bagian – Bagian Fungsi


Osiloskop
1 Tombol Power ON/OFF Tombol Power ON/OFF berfungsi untuk menghidupkan
dan mematikan osiloskop
2 Intensity Intensity digunakan untuk mengatur kecerahan tampilan
bentuk gelombang agar mudah dilihat
3 Focus Focus digunakan untuk mengatur penampilan bentuk
gelombang sehingga tidak kabur
4 Vertical Mode
5 Inv (Invert) Saat tombol Inv ditekan, sinyal input yang bersangkutan
akan dibalikan.
6 XY Pada fungsi XY ini digunakan, input saluran 1 akan
menjadi axis X dan input saluran 2 akan menjadi axis Y.
7 Triggering Mode
8 Triggering Source Sumber pengukuran data pada osiloskop yang didapat
dari channel1, channel2, line, atau sumber dari
rangkaian di luar osiloskop (EXT)
9 Level Trigger Level digunakan untuk mengatur gambar yang
diperoleh menjadi diam atau tidak bergerak.
10 Slope
11 Vertical Position Posistion yang digunakan untuk mengatur posisi
gelombang secara vertikal (masing-masing
saluran/channel memiliki pengatur position)
12 Vertical Variable Fungsi vertical variable pada osiloskop adalah untuk
mengatur kepekaan (sensitivitas) arah vertikal pada
saluran atau channel yang bersangkutan. Putaran
maksimum variable adalah cal yang berfungsi untuk
melakukan kalibrasi tegangan 1 volt tepat pada 1cm di
layar osiloskop.
13 Volt/Div Volt/Div digunakan untuk memilih besarnya tegangan
per sentimeter (volt/div) pada layar osiloskop.
Umumnya, osiloskop memiliki dua saluran (dual
channel) dengan dua sakelar volt/div. Biasanya tersedia
pilihan 0,01 v/div hingga 20 v/div.
14 Sakelar AC – DC – GND Pilihan AC digunakan untuk mengukur sinyal AC,
sinyal input yang mengandung DC akan ditahan/diblokir
oleh sebuah kapasitor. Sedangkan pada pilihan posisi
DC maka input terminal akan terhubung langsung
dengan penguat yang ada di dalam osiloskop dan
seluruh sinyal input akan ditampilkan pada layar
osiloskop.Jika tombol GND diaktifkan, maka terminal
input akan terbuka, input yang bersumber dari
penguatan internal osiloskop akan ditanahkan
(grounded).
15 Horizontal Position Untuk penyetelan tampilan kiri-kanan gelombang pada
layar display.
16 Horizontal Variable Fungsi variable pada bagian horizontal adalah untuk
mengatur kepekaan (sensitivitas) Time/Div.
17 Sweep Time/Div Sweep Time/Div digunakan untuk memilih skala
besaran waktu dari suatu periode atau per satu kotak cm
pada layar osiloskop.
18 X 10 MAG Untuk pembesaran (magnification) frekuensi hingga 10
kali lipat.
19 CAL (Time/Div) CAL berfungsi untuk kalibrasi Time/Div
20 Input Channel Sebagai vertical input untuk saluran/channel 1 dan 2
21 Konektor Ground Tempat untuk memasang kabel yang dihubungkan ke
ground (tanah) untuk keselamatan pengguna osiloskop.
22 EXT Trigger Trigger yang dikendalikan dari rangkaian di luar
osiloskop.
23 Layar Display Layar yang menampilkan gelombang yang terbentuk
dan digunakan untuk membaca dan mengukur
gelombang yang dihasilkan dari percobaan.

2.2.2. Bagian Osiloskop Digital

Gambar 2.5. Tombol – Tombol Osiloskop Digital

Padadasarnya, komponenosiloskop digital memilikifungsi yang


samadenganosiloskopdengantipe analog. Fungsidariosiloskop analog
kemudianlebihdikembangkandalamosiloskop digital.Hanyasaja, padaosiloskop digital
memilikitampilan digital yang dapatditampilkandalamlayar LCD untukhasiloutputnya.

2.3.PrinsipKerjaOsiloskop
Gambar 2.6. Prinsip Kerja Osiloskop
(Sumber : www.explainthatstuff.com)

A. Prinsip Kerja Osiloskop Analog


1. Padasaatosiloskopdihubungkandengansirkuituji, sinyalteganganbergerakmelalui
probe kesistem vertical.
2. Bergantungkepadapengaturanskalavertikal(volts/div), attenuator
akanmemperkecilsinyalmasuka2nsedangkan amplifier
akanmemperkuatsinyalmasukan.
3. Selanjutnyasinyaltersebutakanbergerakmelaluikepingpembelokvertikal.
mengakibatkantitikcahayabergerak (berkaselektron yang
menumbukfosforakanmenghasilkanpendarancahaya).
Teganganpositifakanmenyebabkantitiktersebutnaiksedangkantegangannegatifakan
menyebabkantitiktersebutturun.
4. Sinyalakanbergerak juga kebagiansistem trigger untukmemulaisapuan horizontal
(horizontal sweep). Sapuan horizontal
inimenyebabkantitikcahayabergerakmelintasilayar.
5. Secarabersamaankerjasistempenyapu horizontal
dansistemvertikalakanmenghasilkanpemetaansinyalpadalayar.

B. Prinsip Kerja Osiloskop Digital


1. Dalam osiloskop digital, gelombang yang akan ditampilkan lebih dulu disampling
(dicuplik) dan didigitalisasikan.
2. Osiloskop kemudian menyimpan nilai-nilai tegangan ini bersama sama dengan skala
waktu gelombangnya di memori.
3. Pada prinsipnya, osiloskop digital hanya mencuplik dan menyimpan demikian
banyak nilai dan kemudian berhenti. Ia mengulang proses ini lagi dan lagi sampai
dihentikan.
4. Beberapa DSO memungkinkan untuk memilih jumlah cuplikan yang disimpan
dalam memori per akuisisi (pengambilan) gelombang yang akan diukur.
5. Seperti ART, DSO melakukan dalam satu event pemicuan. namun demikian ia
secara rutin memperoleh, mengukur dan menyimpan sinyal masukan, mengalirkan
nilainya melalui memori dalam suatu proses kerja dengan cara; pertama yang
disimpan, yang pertama pula yang akan dikeluarkan, sambil menanti picu terjadi.
6. Sekali osiloskop ini mengenali event picu yang didefinisikan oleh penggunanya,
osiloskop mengambil sejumlah cuplikan yang kemudian mengirimkan informasi
gelombangnya ke peraga (layar).
7. Karena kerja pemicuan yang demikian ini, ia dapat menyimpan dan meragakan
informasi yang diperoleh sebelum picu (pretrigger) sampai 100 persen dari lokasi
memori yang disediakan.

2.4. FungsiOsiloskop
Secara umum osiloskop berfungsi untuk menganalisa tingkah laku besaran yang
berubah-ubah terhadap waktu yang ditampilkan pada layar, untuk melihat bentuk sinyal yang
sedang diamati. Osiloskop juga dibutuhkan dalam pengukuran rangkaian elektronik seperti
stasiun pemancar radio, TV, atau dalam kegunaan memonitor frekuensi elektronik misalnya
di rumah sakit dan untuk kegunaan-kegunaan lainnya. Berikut kegunaan osiloskop lebih
lengkapnya:
1. Mengukur besar tegangan listrik dan hubungannya terhadap waktu.
2. Mengukur frekuensi sinyal yang berosilasi.
3. Mengecek jalannya suatu sinyal pada sebuah rangakaian listrik.
4. Membedakan arus AC dengan arus DC.
5. Mengecek noise pada sebuah rangkaian listrik dan hubungannya terhadap waktu.

2.5. DefinisidanFungsidariFuntion Generator


Generator fungsi (function generator) juga memiliki pengertian sebuah alat ukur yang
menghasilkan, atau membangkitkan, dan memberikan suatu pilihan beberapa bentuk
gelombang yang frekwensi-frekwensinya diatur sepanjang rangkuman (range) yang lebar.
Bentuk-bentuk yang lazim digunakan adalah sinusoida, segitiga, persegi, dan gigi gergaji.
Frekuensi bentuk-bentuk gelombang ini dapat bisa diatur dari satu hertz sampai beberapa
ratus kilokertz (kHz) bahkan sampai megahertz (MHz).
Gambar 2.7. Function Generator

Generator fungsi juga bagian dari peralatan atau software uji coba elektronik yang
digunakan untuk menciptakan gelombang listrik. Gelombang ini bisa berulang-ulang atau
satu kali yang dalam kasus ini semacam sumber pemicu diperlukan, secara internal ataupun
eksternal. Pada function generator terdapat beberapa bagian, diantaranya sebagai berikut:
1. Saklar Daya : Untuk menyalakan generator sinyal, sambungkan generator
sinyal ke tegangan jala-jala, lalu tekan saklar daya ini.
2. Pengatur Frekuensi : Tekan atau putar untuk mengatur frekuensi keluaran dalam
range frekuensi yang telah dipilih.Indikator frekuensi: Menunjukkan nilai frekuensi
sekarang.
3. Amplitude Output : Putar searah jarum jam untuk mendapatkan tegangan output
yang maksimal, dan kebalikannya.
4. Selektor Fungsi : Tekan salah satu dari ketiga tombol ini untuk memilih bentuk
gelombang output yang diinginkan.
5. Terminal Output : terminal yang mengelurakan sinyal output utama.
6. Selektor Frekuensi : Tekan tombol yang relevan untuk memilih range frekuensi
yang dibutuhkan.

2.6. AplikasiOsiloskop di Darat (Land use)


Fungsi Gambar Keterangan
Dalam keidupan sehari – hari osiloskop
sangat berguna untuk melihat bentuk
isyarat elektronika. Misalnya, pada alat
Pendeteksi
elektronik yaitu komputer yang
Kerusakan
menghasilkan isyarat berbeda dengan
Komputer
isyarat listrik yang dihasilkan pada
osiloskop, maka dapat dipastikan adanya
kerusakan pada komputer tersebut.
Elektrokardiogram (ECG) merupakan
suatu prosedur diagnostik untuk
memeriksa ada tidaknya komplikasi atau
Pengukur kelainan dengan aktifitas kelistrikan
Detak jantung. ECG akan menterjemahkan
Jantung aktifitas kelistrikan jantung kedalam jejak
baris yang dapat digunakan oleh dokter
untuk mendeteksi abnormalitas detak dan
ritme jantung
Kita bisa menggunakan mikrofon (jenis
transducer yang mengubah energi suara
Mempelajari menjadi sinyal listrik) untuk mempelajari
Gelombang sinyal suara dengan memasangnya ke
Suara Osiloskop.

2.7. AplikasiOsiloskop di Laut (Marine Use)


Fungsi Gambar Keterangan
Karena komponen listrik di kapal
merupakan hal yang penting dan tidak
diperbolehkan adanya gangguan listrik
yang fatal ketika kapal berlayar, maka
Pendeteksi
sangat di anjurkan untuk melakukan
Kerusakan
pengecekan secara berkala. Pengecekan
Komponen
tersebut dapat menggunakan osiloskop
Listrik Kapal
untuk mengetahui adanya perbedaan
isyarat yang dihasilkan suatu komponen
dengan isyarat yang dibaca pada
osiloskop.
Alat BDI ini berfungsi sebagai indikator
visual dari suara yang dihasilkan oleh
gelombang kapal selam. Alat ini didesain
Bearing
oleh Havard Underwater Sound
Deviation
Laboratory (HUSL) dan menjadi
Indicator
perlengkapan standar angkatan laut (Carl:
(BDI)
1946). Inti dari rangkainnya adalah sensor
gelombang laut yang hasilnya di
visualisasikan oleh Osiloskop.
Fungsi Osiloskop pada sistem sonar
adalah untuk memvisualisasikan
gelombang, sehingga waktu yang
Sound
dibutuhkan gelombang ultrasonik untuk
Navigation
menghantam suatu benda lalu kembali
And Ranging
dapat diukur, dimana hasil dari waktu jeda
(SONAR)
ini dapat digunkan untuk memperkirakan
jarak suatu benda dari pemancar
gelombang ultrasonik.

Bab III
Data Praktikum

3.1. Peralatan dan Fungsi


No. Nama Peralatan Gambar Fungsi

Alat ukur elektronika yang


berfungsi memproyeksikan
1 Osiloskop bentuk sinyal listrik agar
dapat dilihat dan dipelajari.

Alat ukur elektronik yang


menghasilkan, atau
membangkitkan gelombang
2 Function Generator
berbentuk sinus, segitiga,
ramp, segi empat, dan bentuk
gelombang pulsa

Sebagai pengganti fungsi


kabel dalam osiloskop,
3 Probe Osiloskop
menghubungkan function
generator dan osiloskop
Untuk mengambil gambar
gelombang yang terbentuk
4 Kamera
untuk setiap variasi sehingga
dapat di bandingkan

3.2. Langkah Percobaan


1. Hubungkan osiloskop dan function generator dengan menggunakan kabel
2. Nyalakan osiloskop dan function generator
3. Lakukan pengamatan sesuai dengan tabel
4. Catat hasil pengamatan pada tabel
5. Ambil gambar tampilan osiloskop dengan menggunakan kamera

3.3. Data Hasil Percobaan


Percobaan I : Perubahan frekuensi
Voltage Scale : 2 V/div
Sweep Time : 100 µs
Frekuensi Tegangan Periode Amplitudo Gambar
No
(Hz) (v) (div) (div)

1 3000 4 3.3 2.3

2 4000 4 2.4 2.3


3 5000 4 1.9 2.3

4 6000 4 1.6 2.3

5 7000 4 1.4 2.3

Percobaan II : Perubahan amplitudo


Voltage Scale : 2 V/div
Sweep Time : 100 µs
Frekuensi Tegangan Periode Amplitudo Gambar
No
(Hz) (v) (div) (div)

1 4000 2 2.4 1.2


Frekuensi Tegangan Periode Amplitudo Gambar
No
(Hz) (v) (div) (div)

2 4000 4 2.4 2.3

3 4000 6 2.4 3.4

4 4000 8 2.4 4.4


Frekuensi Tegangan Periode Amplitudo Gambar
No
(Hz) (v) (div) (div)

5 4000 10 2.4 5.4

Percobaan III : Perubahan Sensitivitas Tegangan


Tegangan Output : 4 V
Frekuensi : 4 kHz
Sweep
Voltage Periode Amplitudo Gambar
No Time
Scale (div) (div)
(µs)

1 100 5 2.4 1.1

2 100 2 2.4 2.3


3 100 1 2.4 4.4

4 100 0.5 2.4 8.6

5 100 0.2 2.4 2.3


Percobaan IV : Perubahan Sweep Time
Tegangan Output : 4 V
Frekuensi : 2 kHz

Sweep
Voltage Periode Amplitudo Gambar
No Time
Scale (div) (div)
(µs)

1 100 2 4.9 2.3

2 200 2 2.4 2.3

3 500 2 0.9 2.3


4 1000 2 0.5 2.3

5 2000 2 0.3 2.3

Percobaan V : Perubahan Bentuk Gelombang


Voltage Scale : 2 V/div
Sweep Time : 100 µs
Frekuens Teganga Bentuk
Periode Amplitudo
No i n gelomban Gambar
(cm) (cm)
(Hz) (v) g

1 3000 4 Sinusoid 3,3 2,4


2 3000 6 Sinusoid 3,3 3,4

3 4000 6 Sinusoid 2,4 3,4

4 4000 4 Sinusoid 2,4 2,4

5 4000 4 Square 2,4 2,4


6 4000 6 Square 2,4 3,4

7 3000 6 Square 3,3 3,4

8 3000 4 Square 3,3 2,4

9 3000 4 Triangular 3,3 2,4


10 3000 6 Triangular 3,3 3,4

11 4000 6 Triangular 2,4 3,4

12 4000 4 Triangular 2,4 2,4


BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

IV. 1 Perhitungan Hasil Praktikum


IV.1.1 Formula Perhitungan
 Periode
𝑇[𝑠] = 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 [𝑑𝑖𝑣] × 𝑠𝑘𝑎𝑙𝑎 𝑠𝑤𝑒𝑒𝑝 𝑡𝑖𝑚𝑒 [µ𝑠]
 Frekuensi
1
𝑓[𝐻𝑧] =
𝑇[𝑠]
 Amplitudo
𝑉𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 [𝑣]
𝐴= 𝑣
2 × 𝑉𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 𝑠𝑐𝑎𝑙𝑒 [ ]
𝑑𝑖𝑣
 Tegangan
V(Vpp) = Voltage Scale [V/div] x Amplitudo [div] x 2

IV.1.2 Hasil Praktikum


IV.1.2.1 Percobaan I : Perubahan Frekuensi
Tabel 1. Hasil PraktikumPerubahan Frekuensi

Percobaan 1: Perubahan Frekuensi


Voltage scale 2 V/div
Sweep time 100 µs
No Frekuensi Tegangan Out Periode Amplitudo
Hz V Div (s) Div (V)
1 3000 4 3.3 2.3
2 4000 4 2.4 2.3
3 5000 4 1.9 2.3
4 6000 4 1.6 2.3
5 7000 4 1.4 2.3
Contoh perhitungan 1 pada percobaan perubahan frekuensi dapat dihitung dengan :
 Periode
𝑇[𝑠] = 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 [𝑑𝑖𝑣] × 𝑠𝑤𝑒𝑒𝑝 𝑡𝑖𝑚𝑒 𝑠𝑐𝑎𝑙𝑒 [µ𝑠]
= 3.3 × 100µ
= 0.00033

 Frekuensi
1
𝑓[𝐻𝑧] =
𝑇[𝑠]
1
=
0.00033
= 3030
 Amplitude
𝑉𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 [𝑣]
𝐴= 𝑣
2 × 𝑉𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 𝑠𝑐𝑎𝑙𝑒 [ ]
𝑑𝑖𝑣
4
=
2 × 2
=1
 Tegangan
V(vpp) = Voltage Scale [v/div] x Amplitudo [div] x 2
=2x1x2
=4
Untuk perhitungan pada percobaan selanjutnya, perubahan frekuensi perhitungannya
menggunakan persamaan seperti di atas sehingga hasilnya akan disajikan di dalam tabel di
bawah ini.

Tabel 2. Hasil Perhitungan Terhadap Perubahan Frekuensi

Percobaan 1: Perubahan Frekuensi Hasil Perhitungan


Voltage scale 2 V/div
Sweep time 100 µs
No Frekuensi Tegangan Periode Amplitudo Periode Frekuensi Amplitudo Tegangan
Out
Hz V Div (s) Div (V) s Hz Div (V) V
1 3000 4 3.3 1.1 0.00033 3030,3 1 4
2 4000 4 2.4 1.1 0.00024 4166.66667 1 4
3 5000 4 1.9 1.1 0.00019 5263,15 1 4
4 6000 4 1.6 1.1 0.00016 6250 1 4
5 7000 4 1.4 1.1 0.00014 7142.85714 1 4
IV.1.2.2 Percobaan II : Perubahan amplitudo
Tabel 3. Hasil Praktikum Perubahan Amplitudo

Percobaan 2: Perubahan Amplitudo


Voltage scale 2 V/div
Sweep time 100 µs
No Frekuensi Tegangan Out Periode Amplitudo
Hz V Div (s) Div (V)
1 4000 2 2.4 1.2
2 4000 4 2.4 2.3
3 4000 6 2.4 3.4
4 4000 8 2.4 4.4
5 4000 10 2.4 5.4

Contoh perhitungan 1 pada percobaan perubahan frekuensi dapat dihitung sebagai


berikut:
 Periode
𝑇[𝑠] = 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 [𝑑𝑖𝑣] × 𝑠𝑤𝑒𝑒𝑝 𝑡𝑖𝑚𝑒 𝑠𝑐𝑎𝑙𝑒 [µ𝑠]
= 1.2 × 100µ
= 0.00012
 Frekuensi
1
𝑓[𝐻𝑧] =
𝑇[𝑠]
1
=
0.00012
= 8,333.333
 Amplitude
𝑉𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 [𝑣]
𝐴= 𝑣
2 × 𝑉𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 𝑠𝑐𝑎𝑙𝑒 [ ]
𝑑𝑖𝑣
2
=
2 × 2
= 0.5
 Tegangan
V(vpp) = Voltage Scale [v/div] x Amplitudo [div] x 2
= 2 x 0.5 x 2
=2
Untuk perhitungan percobaan selanjutnya untuk perubahan amplitudo
perhitungannya menggunakan persamaan seperti di atas sehingga hasilnya akan
disajikan dalam tabel 4 di bawah ini

Tabel 4. Hasil Perhitungan Terhadap Perubahan Amplitudo

Percobaan 2: Perubahan Amplitudo Hasil Perhitungan


Voltage scale 2 V/div
Sweep time 100 µs
No Frekuensi Tegangan Out Periode Amplitudo Periode Frekuensi Amplitudo Tegangan
Hz V Div (s) Div (V) s Hz Div (V) V
1 4000 2 2.4 1.2 0.00024 4000 0.5 4.8
2 4000 4 2.4 2.3 0.00024 4000 1 9.2
3 4000 6 2.4 3.4 0.00024 4000 1.5 13.6
4 4000 8 2.4 4.4 0.00024 4000 2 17.6
5 4000 10 2.4 5.4 0.00024 4000 2.5 21.6

IV.1.2.3 Percobaan III : Perubahan Sensitivitas Tegangan


Tabel 5. Hasil Praktikum Perubahan Sensitivitas tegangan
Percobaan 3: Perubahan Sensitivitas Tegangan
Tegangan Output 4 V
Frekuensi 4000 Hz
No Sweep Time Voltage Scale Periode Amplitudo
µs V Div (s) Div (V)
1 100 5 2.4 1.1
2 100 2 2.4 2.3
3 100 1 2.4 4.4
4 100 0.5 2.4 8.6
5 100 0.2 2.4 23
Contoh perhitungan 1 pada percobaan perubahan frekuensi dapat dihitung dengan:
 Periode
𝑇[𝑠] = 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 [𝑑𝑖𝑣] × 𝑠𝑤𝑒𝑒𝑝 𝑡𝑖𝑚𝑒 𝑠𝑐𝑎𝑙𝑒 [µ𝑠]
= 2.4 × 100µ
= 0.00024
 Frekuensi
1
𝑓[𝐻𝑧] =
𝑇[𝑠]
1
=
0.00024
= 4,166.667
 Amplitude
𝑉𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 [𝑣]
𝐴= 𝑣
2 × 𝑉𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 𝑠𝑐𝑎𝑙𝑒 [ ]
𝑑𝑖𝑣
4
=
5 × 2
= 0.4

 Tegangan
V(vpp) = Voltage Scale [v/div] x Amplitudo [div] x 2
= 5 x 0.4 x 2
=4
Untuk perhitungan percobaan selanjutnya untuk Perubahan Sensitivitas tegangan
perhitungannya menggunakan persamaan seperti di atas sehingga hasilnya akan disajikan
dalam tabel 6 di bawah ini

Tabel 6. Hasil Praktikum Terhadap Perubahan Sensitivitas tegangan


Percobaan 3: Perubahan Sensitivitas Tegangan Hasil Perhitungan
Tegangan Output 4 V
Frekuensi 4000 Hz
No Sweep Voltage Periode Amplitudo Periode Frekuensi Amplitudo Tegangan
Time Scale
µs V Div (s) Div (V) s Hz V Vpp
1 100 5 2.4 1.1 0.00024 4,166.667 1.1 4.8
2 100 2 2.4 2.3 0.00024 4,166.667 2.3 9.2
3 100 1 2.4 4.4 0.00024 4,166.667 4.4 13.6
4 100 0.5 2.4 8.6 0.00024 4,166.667 8.6 17.6
5 100 0.2 2.4 23 0.00024 4,166.667 23 21.6
IV.1.2.4 Percobaan IV : Perubahan sweep time
Tabel 7. Hasil Praktikum Perubahan sweep time

Percobaan 4: Perubahan Sweep Time


Tegangan Output 4 V
Frekuensi 2000 Hz
No Sweep Time Voltage Scale Periode Amplitudo
µs V Div (s) Div (V)
1 100 2 4.9 2.3
2 200 2 2.4 2.3
3 500 2 0.9 2.3
4 1000 2 0.5 2.3
5 2000 2 0.3 2.3
Contoh perhitungan 1 pada percobaan perubahan sweep time dapat dihitung dengan:
 Periode
𝑇[𝑠] = 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 [𝑑𝑖𝑣] × 𝑠𝑤𝑒𝑒𝑝 𝑡𝑖𝑚𝑒 𝑠𝑐𝑎𝑙𝑒 [µ𝑠]
= 4.9 × 100µ
= 0.00049
 Frekuensi
1
𝑓[𝐻𝑧] =
𝑇[𝑠]
1
=
0.00049
=2040.81
 Amplitude
𝑉𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 [𝑣]
𝐴= 𝑣
2 × 𝑉𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 𝑠𝑐𝑎𝑙𝑒 [ ]
𝑑𝑖𝑣
4
=
2 × 2
=1
 Tegangan
V(vpp) = Voltage Scale [v/div] x Amplitudo [div] x 2
=2x1x 2
=4
Untuk perhitungan percobaan selanjutnya untuk Perubahan sweep time
tegangan perhitungannya menggunakan persamaan seperti di atas sehingga hasilnya
akan disajikan dalam tabel 8 di bawah ini

Tabel 8. Hasil Praktikum Terhadap Perubahan Sweep Time

Percobaan 4: Perubahan Sweep Time Hasil Perhitungan


Tegangan Output 4 V
Frekuensi 2000 Hz
No Sweep Time Voltage Periode Amplitudo Periode Frekuensi Amplitudo Tegangan
Scale
µs V Div (s) Div (V) s Hz V V
1 100 2 4.9 1.1 0.00049 2040.81 2.3 4
2 200 2 2.4 1.1 0.00024 4166.6 2.3 4
3 500 2 0.9 1.1 0.00009 11111.11 2.3 4
4 1000 2 0.5 1.1 0.00005 20000 2.3 4
5 2000 2 0.3 1.1 0.00003 33333.33 2.3 4
1
IV.1.2.5 Percobaan V : Perubahan bentuk gelombang
Tabel 9. Hasil Praktikum Perubahan bentuk gelombang

Percobaan 5: Perubahan Bentuk Gelombang


Voltage Scale 2 V/div
Sweep Time 100 µs
Frekuensi Tegangan Out Bentuk Periode Amplitudo
No
Hz V Gelombang Div (s) Div (V)
1 3000 4 Sinusoid 3.3 2.4
2 3000 6 Sinusoid 3.3 3.4
3 4000 6 Sinusoid 2.4 3.4
4 4000 4 Sinusoid 2.4 2.4
5 4000 4 Square 2.4 2.4
6 4000 6 Square 2.4 3.4
7 3000 6 Square 3.3 3.4
8 3000 4 Square 3.3 2.4
9 3000 4 Triangle 3.3 2.4
10 3000 6 Triangle 3.3 3.4
11 4000 6 Triangle 2.4 3.4
12 4000 4 Triangle 2.4 2.4

Contoh perhitungan 1 pada percobaan perubahan bentuk gelombangdapat dihitung


sbb:
 Periode
𝑇[𝑠] = 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 [𝑑𝑖𝑣] × 𝑠𝑤𝑒𝑒𝑝 𝑡𝑖𝑚𝑒 𝑠𝑐𝑎𝑙𝑒 [µ𝑠]
= 3.3 × 100µ
= 0.00033
 Frekuensi
1
𝑓[𝐻𝑧] =
𝑇[𝑠]
1
=
0.00033
= 3030,30
 Amplitude
𝑉𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 [𝑣]
𝐴= 𝑣
2 × 𝑉𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 𝑠𝑐𝑎𝑙𝑒 [ ]
𝑑𝑖𝑣
4
=
2 × 2
=1
 Tegangan
V(vpp) = Voltage Scale [v/div] x Amplitudo [div] x 2
=2x1x 2
=4

Untuk perhitungan percobaan selanjutnya untuk Perubahan bentuk


gelombangtegangan perhitungannya menggunakan persamaan seperti di atas sehingga
hasilnya akan disajikan dalam tabel 10 dibawah ini

Tabel 10. Hasil Praktikum Terhadap Perubahan Sweep Time

Percobaan 5: Perubahan Bentuk Gelombang Hasil Perhitungan


Voltage
Scale 2 V/div
Sweep Time 100 µs
Tegangan
Frekuensi Bentuk Periode Amplitudo Periode Frekuensi Tegangan Amplitudo
No Out
Hz V Gelombang Div (s) Div (V) s Hz V V
1 3000 4 Sinusoid 3.3 2.4 0.00033 3030.3 4 1
2 3000 6 Sinusoid 3.3 3.4 0.00033 3030.3 6 1.5
3 4000 6 Sinusoid 2.4 3.4 0.00024 4166.66667 6 1.5
4 4000 4 Sinusoid 2.4 2.4 0.00024 4166.66667 4 1
5 4000 4 Square 2.4 2.4 0.00024 4166.66667 4 1
6 4000 6 Square 2.4 3.4 0.00024 4166.66667 6 1.5
7 3000 6 Square 3.3 3.4 0.00033 3030.3 6 1.5
8 3000 4 Square 3.3 2.4 0.00033 3030.3 4 1
9 3000 4 Triangle 3.3 2.4 0.00033 3030.3 4 1
10 3000 6 Triangle 3.3 3.4 0.00033 3030.3 6 1.5
11 4000 6 Triangle 2.4 3.4 0.00024 4166.66667 6 1.5
12 4000 4 Triangle 2.4 2.4 0.00024 4166.66667 4 1
IV. 2 Analisa Grafik

4.1.
A. Percobaan 1 : Perubahan Frekuensi
a. Perbandingan Frekuensi Dengan Periode

Frekuensi x Periode (Pengamatan)


8000
7000
6000
Frekuensi (Hz)

5000
4000
3000
2000
1000
0
0 0.00005 0.0001 0.00015 0.0002 0.00025 0.0003 0.00035
Periode (sekon)

Frekuensi x Periode (Perhitungan)


8000
7000
6000
Frekuensi (Hz)

5000
4000
3000
2000
1000
0
0 0.00005 0.0001 0.00015 0.0002 0.00025 0.0003 0.00035
Periode (sekon)

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai frekuensi ketika pengamatan maupun
perhitungan berbanding terbalik dengan nilai periode yang didapat. Semakin besar
frekuensi maka nilai periode akan semakin kecil. Hal ini sudah sesuai rumus f = 1/T
tetapi pada grafik menunjukkan perbedaan nilai frekuensi diakibatkan kurang teliti saat
pengamatan.

b. Perbandingan Frekuensi Pengamatan Dengan Frekuensi Hitungan


Frekuensi Pengamatan x Frekuensi Hitungan
8000
7000
6000
Frekuensi (Hz)
5000
4000
Pengamatan
3000
2000 Perhitungan
1000
0
0 1 2 3 4 5 6
Percobaan ke -

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai frekuensi ketika perhitungan berbanding
lurus dengan nilai frekuensi ketika pengamatan. Hal ini sudah sesuai tetapi frekuensi
perhitungan memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan frekuensi pengamatan,
perbedaan nilai tersebut dapat disebabkan karena kurang ketelitian ketika melakukan
pengamatan.

c. Perbandingan Tegangan Pengamatan Dengan Tegangan Hitungan

Tegangan Pengamatan x Tegangan Hitungan


4.2
4.1
4
3.9
3.8
3.7
3.6
3.5
3.4
3.3
3.2
Tegangan (Volt)

3.1
3
2.9
2.8
2.7
2.6
2.5
2.4
2.3
2.2
2.1
2
1.9
1.8 Pengamatan
1.7
1.6
1.5
1.4
1.3
1.2 Perhitungan
1.1
1
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 1 2 3 4 5 6
Percobaan ke -

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai tegangan pengamatan dan tegangan
perhitungan tetap pada satu titik. Hal ini sudah sesuai tetapi pada grafik menunjukkan
perbedaan nilai frekuensi diakibatkan kurang teliti saat pengamatan.

d. Perbandingan Amplitudo Pengamatan Dengan Amplitudo Hitungan


Amplitudo Pengamatan x Amplitudo Hitungan
1.2

Amplitudo (div) 1.1

1
Pengamatan

0.9 Perhitungan

0.8
0 1 2 3 4 5 6
Percobaan ke -

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa hubungan antara nilai amplitudo perhitungan
dan nilai amplitudo ketika pengamatan memiliki nilai yang tidak sama. Hal ini sudah
sesuai tetapi pada grafik menunjukkan perbedaan nilai diakibatkan kurang teliti saat
pengamatan.

e. Perbandingan Periode Pengamatan Dengan Periode Hitungan

Periode Pengamatan x Periode Hitungan


3.5

3
Periode (div)

2.5

2 Pengamatan
Perhitungan
1.5

1
0 1 2 3 4 5 6
Percobaan ke -

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai hubungan antara nilai periode
pengamatan dan nilai periode perhitungan memiliki nilai yang sama dan sama – sama
mengalami penurunan (berbanding terbalik) terhadap urutan percobaan. Hal ini sudah
sesuai dan tidak ada kesalahan pengamatan.

B. Percobaan 2 : Perubahan Amplitudo


a. Perbandingan Frekuensi Dengan Periode

Frekuensi x Periode
9000
8000
7000
Frekuensi (Hz)

6000
5000
Pengamatan
4000
3000 Perhitungan
2000
1000
0
0.00012 0.00024 0.00025 0.00025 0.00025
Periode (sekon)

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa hubungan frekuensi dengan periode saat
pengamatan maupun saat perhitungan tetap pada satu titik. Ini disebabkan karena pada
percobaan 2 frekuensi merupakan variabel tetap sehingga periode juga bernilai tetap.
Hal ini sudah sesuai tetapi pada grafik menunjukkan perbedaan nilai frekuensi
diakibatkan kurang teliti saat pengamatan.

b. Perbandingan Frekuensi Pengamatan Dengan Frekuensi Hitungan

Frekuensi Pengamatan x Frekuensi Hitungan


9000
8000
7000
Frekuensi (Hz)

6000
5000
Pengamatan
4000
3000 Perhitungan
2000
1000
0
1 2 3 4 5
Percobaan ke -
Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa hubungan antara frekuensi perhitungan dan
frekuensi ketika pengamatan tetap pada suatu titik dari setiap percobaan. Hal ini sudah
sesuai tetapi pada grafik menunjukkan perbedaan nilai frekuensi diakibatkan kurang
teliti saat pengamatan.

c. Perbandingan Tegangan Pengamatan Dengan Tegangan Hitungan

Tegangan Pengamatan x Tegangan Hitungan


12

10
Tegangan (Volt)

6 Pengamatan

4 Perhitungan

0
1 2 3 4 5
Percobaan ke -
Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai tegangan ketika perhitungan berbanding
lurus dengan nilai tegangan ketika pengamatan. Hal ini sudah sesuai tetapi tegangan
perhitungan memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan tegangan pengamatan pada
beberapa percobaan Perbedaan nilai tersebut dapat disebabkan karena kurang
ketelitian ketika melakukan pengamatan.

d. Perbandingan Amplitudo Pengamatan Dengan Amplitudo Hitungan


Amplitudo Pengamatan x Amplitudo Hitungan
3

2.5
Amplitudo (div)
2

1.5 Pengamatan

1 Perhitungan

0.5

0
1 2 3 4 5
Percobaan ke -
Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai amplitudo ketika perhitungan berbeda
dengan hasil pengamatan. Hal ini dikarenakan kurang telitinya pada saat pembacaan
pada osiloskop

Perbandingan Periode Pengamatan Dengan Periode Hitungan

Periode Pengamatan x Periode Hitungan


3

2.5
Periode(div)

1.5 Pengamatan

1 Perhitungan

0.5

0
1 2 3 4 5
Percobaan ke -
Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa hubungan antara nilai periode perhitungan
dan nilai periode ketika pengamatan memiliki nilai yang sama dan konstan. Hal ini
sudah sesuai dan tidak ada kesalahan pengamatan.

C. Percobaan 3 : Perubahan Sensitivitas Tegangan


a. Perbandingan Amplitudo Pengamatan Dengan Amplitudo Hitungan

Amplitudo Pengamatan x Amplitudo


Hitungan
9
8
7
Amplitudo (div)

6
5
4 Pengamatan
3 Perhitungan
2
1
0
0 1 2 3 4 5 6
Percobaan ke -

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai amplitudo ketika perhitungan
berbanding lurus dengan nilai amplitudo ketika pengamatan. Amplitudo pengamatan
mengalami kenaikan di setiap percobaan dan memiliki nilai yang hampir sama dengan
amplitudo perhitungan. Hal ini dikarenakan kurang telitinya pada saat pembacaan data
pada osiloskop.

b. Perbandingan Periode Pengamatan Dengan Periode Hitungan

Periode Pengamatan x Periode Hitungan

2.5
Periode (div)

1.5 Pengamatan
Perhitungan
1

0.5

0
0 1 2 3 4 5 6
Percobaan ke -
Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa hubungan antara nilai periode perhitungan
dan nilai periode ketika pengamatan memiliki nilai yang sama dan konstan. Hal ini
sudah sesuai dan tidak ada kesalahan pengamatan.

c. Perbandingan Tegangan Pengamatan Dengan Tegangan Hitungan

Tegangan Pengamatan x Tegangan Hitungan

4.7
4.6
4.5
4.4
4.3
4.2
4.1
4
3.9
3.8
3.7
3.6
Tegangan (Volt)

3.5
3.4
3.3
3.2
3.1
3
2.9
2.8
2.7
2.6
2.5
2.4 Pengamatan
2.3
2.2
2.1
2
1.9
1.8 Perhitungan
1.7
1.6
1.5
1.4
1.3
1.2
1.1
1
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 1 2 3 4 5 6
Percobaan ke -

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai tegangan pengamatan tetap pada satu
titik sedangkan tegangan perhitungan pada percobaan 3 sampai 5 yang hanya tetap
pada satu titik sehingga terjadi perbedaan nilai antar tegangan. Hal ini tidak sesuai
diakibatkan kurang teliti saat pengamatan.

D. Percobaan 4 : Perubahan Sweep Time


a. Perbandingan Periode Dengan Sweep Time
Periode x Sweep Time

5.1

4.1
Periode (div)

3.1
Pengamatan
2.1 Perhitungan

1.1

0.1
0 500 1000 1500 2000 2500
Sweep Time (micro sec)

Pada grafik diatas dapat disimpulkan bahwa hubungan antara nilai sweep time dengan
nilai periode yaitu berbanding terbalik. Semakin besar nilai sweep time maka nilai
periode akan semakin kecil. Dan juga dari grafik terjadi perbedaan nilai antara
pengamatan dan nilai perhitungan dikarenakan kurang teliti atau kesalahan pada saat
praktikum osiloskop

b. Perbandingan Periode Pengamatan Dengan Periode Hitungan

Periode Pengamatan x Periode Hitungan

5.1

4.1
Periode (div)

3.1
Pengamatan
2.1 Perhitungan

1.1

0.1
0 1 2 3 4 5 6
Percobaan ke -

Pada grafik daitas terjadi perbedaan nilai antara pengamatan dan nilai
perhitungan. Hal ini mungkin di sebabkan karena kurang teliti dalam pembacaan data
osiloskop atau kesalahan pada saat praktikum osiloskop
E. Percobaan 5 : Perubahan Bentuk Gelombang

a. Perbandingan Frekuensi Dengan Periode Gelombang Sinusoidal

Frekuensi x Periode (Sinusoidal)


4500
4250
4000
Frekuensi (Hz)

3750
3500
Pengamatan
3250
Perhitungan
3000
2750
2500
0.00032 0.00032 0.00024 0.00024
Periode (sekon)

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai periode ketika pengamatan maupun
perhitungan berbanding terbalik dengan nilai frekuensi yang didapat sesuai dengan
rumus f = 1/T. Semakin besar periode maka frekuensi akan semakin kecil. Hal ini
sudah sesuai tetapi pada grafik diatas menunjukkan perbedaan nilai antara hitungan
dengan pengamatan yang diakibatkan kurang teliti saat pengamatan.

b. Perbandingan Frekuensi Dengan Periode Gelombang Square


Frekuensi Vs Periode (Square)
8750
8500
8250
8000
7750
7500
7250
7000
6750
Frekuensi (Hz)

6500
6250
6000
5750
5500 Pengamatan
5250
5000
4750 Perhitungan
4500
4250
4000
3750
3500
3250
3000
2750
2500
0.00024 0.00024 0.00033 0.00033
Periode (sekon)

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai periode ketika pengamatan maupun
perhitungan berbanding terbalik dengan nilai frekuensi yang didapat sesuai dengan
rumus f = 1/T. Semakin besar periode maka frekuensi akan semakin kecil. Hal ini
sudah sesuai tetapi grafik menunjukkan nilai hitungan lebih besar dari pengamatan
yang diakibatkan kurang teliti saat pengamatan.

c. Perbandingan Frekuensi Dengan Periode Gelombang Triangular

Frekuensi Vs Periode (Trianguler)


4500
4250
4000
Frekuensi (Hz)

3750
3500
Pengamatan
3250
Perhitungan
3000
2750
2500
0.00033 0.00033 0.00024 0.00024
Periode (sekon)

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai periode ketika pengamatan maupun
perhitungan berbanding terbalik dengan nilai frekuensi yang didapat sesuai dengan
rumus f = 1/T. Semakin besar periode maka frekuensi akan semakin kecil. Hal ini
sudah sesuai tetapi grafik menunjukkan nilai hitungan lebih besar dari pengamatan
yang diakibatkan kurang teliti saat pengamatan.
d. Perbandingan Tegangan Gelombang Sinusoid

Tegangan (Perhitungan x Pengamatan)


7

Tgeangan (Volt) 6

4
Pengamatan

3 Perhitungan

1
1 2 3 4
Percobaan ke-

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa antara nilai tegangan pengamatan dengan
tegangan perhitungan hampir memiliki nilai yang sama. Dimana nilai tegangan
perhitungan memiliki nilai lebih tinggi dari tegangan pengamatan. Hal ini terjadi
karena kurangnya ketelitian dalam melakukan pengamatan

e. Perbandingan Tegangan Gelombang Square

Tegangan (Perhitungan x Pengamatan)


7

6
Tgeangan (Volt)

4
Pengamatan

3 Perhitungan

1
1 2 3 4
Percobaan ke-

f. Perbandingan Tegangan Gelombang Trianguler


Tegangan (Perhitungan x Pengamatan)
7

Tgeangan (Volt) 5

4
Pengamatan

3 Perhitungan

1
1 2 3 4
Percobaan ke-

4.2.Perbandingan Bentuk Gelombang

Gambar 4.2. Bentuk Gelombang


(sumber : www.wikipedia.com)

4.3.1. Gelombang Sinusoidal


Gelombang sinusioda merupakan gelombang dasar yang salah satunya dihasilkan
dari putaran generator. Disebut gelombang sinus karena berbentuk grafik persamaan
sinusoida. Sumber suara atau bunyi dari alam jika dikonversi ke sinyal listrik dan dilihat
dengan osiloskop juga berbentuk gelombang sinus.
Gambar 4.3. Gelombang Hasil Pemrosesan Penguat
(Sumber: http://edywijaya29.blogspot.co.id/)

Gambar 4.4. Proses Digital to Analog Converter


(Sumber: http://edywijaya29.blogspot.co.id/)

Gambar 4.5. Gelombang Sinusoidal Hasil Praktikum

4.3.2. Gelombang Square


Square wave atau gelombang kotak banyak dikenal dalam sistem digital. Sinyal atau
gelombang jenis ini dapat dikonversi ke bentuk sinus dengan mengguakan sistem ADC
(Analog to Digital Converter).
Sistem-sistem audio dewasa ini sudah banyak yang menerapkan pengolah digital.
Sinyal aduio berupa sinyal sinus dirubah ke dalam bentuk gelombang kotak kemudian
dikuantisasi kemudian dirubah ke dalam data stream atau urutan data yang selanjutnya
menjadi data digital. Data tersebut selanjutnya diolah dalam pengolah digital. Keluaran
pengolah digital selanjutnya dirubah lagi ke dalam bentuk sinyal sinusoida untuk
dikuatkan dan digunakan untuk menggerakkan speaker.

Gambar 4.6. Proses Analog to Digital Converter


(Sumber: http://edywijaya29.blogspot.co.id/)

Gambar 4.7. Gelombang Square Hasil Praktikum

4.3.3. Gelombang Triangular


Sawtooth Wave adalah gelombang gigi gergaji atau triangular. Gelombang ini dapat
dihasilkan dari gelombang sinusoida dengan rangkaian khusus. Pada sistem audio sinyal
ini jarang digunakan. Penggunaan gelombang ini biasanya pada bagian penguat vertikal
dari system penerima televisi hitam-putih maupun televisi berwarna.

Gambar 4.8. Penguat integrator menghasilkan sinyal segitiga


(Sumber: http://edywijaya29.blogspot.co.id/)
Gambar 4.9. Gelombang Triangular
Bab V
Kesimpulan

Dari praktikum yang telah dilaksanakan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Pada saat osiloskop dihubungkan dengan sirkuit uji, sinyal tegangan bergerak melalui
probe ke sistem vertical.Bergantung kepada pengaturan skala vertikal(volts/div),
attenuator akan memperkecil sinyal masukan sedangkan amplifier akan memperkuat
sinyal masukan. Selanjutnya sinyal tersebut akan bergerak melalui keping pembelok
vertikal. mengakibatkan titik cahaya bergerak (berkas elektron yang menumbuk fosfor
akan menghasilkan pendaran cahaya). Tegangan positif akan menyebabkan titik tersebut
naik sedangkan tegangan negatif akan menyebabkan titik tersebut turun.Sinyal akan
bergerak juga ke bagian sistem trigger untuk memulai sapuan horizontal (horizontal
sweep). Sapuan horizontal ini menyebabkan titik cahaya bergerak melintasi layar. Secara
bersamaan kerja sistem penyapu horizontal dan sistem vertikal akan menghasilkan
pemetaan sinyal pada layar.
2. Berikut hasil pengukuran pada praktikum osiloskop :
1
 Pengukuran Frekuensi, 𝑓[𝐻𝑧] = 𝑇[𝑠]. Semakin kecil nilai periode,maka hasil output

frekuensi akan semakin besar yang dapat dilihat dari rumus tersebut bahwa frekuensi
dan periode berbanding terbalik.
ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑢𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛 [𝑑𝑖𝑣]
 Pengukuran amplitude, 𝐴 = × 𝑣𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 𝑠𝑐𝑎𝑙𝑒. Semakin besar
1 [𝑑𝑖𝑣]

voltage scale maka semakin besar pula output amplitude yang dihasilkan dan dapat di
lihat pada rumus tersebut bahwa amplitude dengan voltage scale berbanding lurus.
3. Pengukuran tegangan, V(v) = A x Jumlah divisi,semakin besar amplitudo yang
dihasilkan,maka tegangan yang didapat akan semakin besar, dapat dilihat dari rumus
tersebut bahwa tegangan dengan amplitudo berbanding lurus.
4. Macam-maca bentuk gelombang pada percobaan osiloskop analog
A) Sinusoidal
Gelombang sinusioda merupakan gelombang dasar yang salah satunya dihasilkan
dari putaran generator. Disebut gelombang sinus karena berbentuk grafik persamaan
sinusoida..
B) Square
Square wave atau gelombang kotak banyak dikenal dalam sistem digital. Sinyal atau
gelombang jenis ini dapat dikonversi ke bentuk sinus dengan mengguakan sistem
ADC (Analog to Digital Converter).

C) Triangular
Gelombang ini dapat dihasilkan dari gelombang sinusoida dengan rangkaian khusus.
Pada sistem audio sinyal ini jarang digunakan. Penggunaan gelombang ini biasanya
pada bagian penguat vertikal dari system penerima televisi hitam-putih maupun
televisi berwarna.