Anda di halaman 1dari 19

8

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Kepatuhan


2.1.1 Definisi Kepatuhan
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, pengertian dari patuh
adalah taat, menurut perintah, taat pada hukum, taat pada peraturan
dan berdisiplin. Patuh dalam kamus ilmiah popular diartikan
sebagai tindakan taat, turut perintah, setia dan loyal akibat motif-
motif internal individu. Kepatuhan disini adalah ketaatan terhadap
pelaksanaan SPO yang telah ada.

Kepatuhan berasal dari kata dasar patuh, yang berarti disiplin dan
taat. Kepatuhan adalah tingkat seseorang melaksanakan suatu cara
atau berprilaku sesuai dengan apa yang disarankan atau dibebankan
kepadanya. Dalam hal ini kepatuhan pelaksanaan prosedur adalah
untuk selalu memenuhi petunjuk atau peraturan-peraturan dan
memahami etika keperawatan di tempat perawat tersebut bekerja
(Smet, 2007). Kepatuhan perawat adalah perilaku perawat sebagai
seorang profesional terhadap suatu anjuran, prosedur atau aturan
yang harus dilakukan atau ditaati (Setiadi, 2007).

Kepatuhan merupakan dasar seseorang berperilaku. Pada awalnya


individu mematuhi instruksi tanpa kerelaan untuk melakukan
tindakan tersebut dan seringkali karena ingin menghindari
hukuman jika dia tidak patuh, atau untuk memperoleh imbalan
yang dijanjikan jika dia mematuhi anjuran tersebut. Tahap ini
disebut tahap kepatuhan. Biasanya perubahan yang terjadi pada
tahap ini sifatnya sementara, artinyabahwa tindakan itu dilakukan
selama masih ada pengawasan. Tetapi begitu pengawasan itu
mengendur/hilang, perilaku itupun ditinggalkan. Kepatuhan
9

individu yang berdasarkan rasa terpaksa atau ketidakpahaman


tentang pentingnya perilaku yang baru, dapat disusul dengan
kepatuhan yang berbeda jenisnya, yaitu kepatuhan demi menjaga
hubungan baik dengan tokoh yang menganjurkan perubahan
tersebut. Perubahan perilaku individu baru dapat menjadi optimal
jika perubahan tersebut terjadi melalui proses internalisasi dimana
perilaku yang baru ini dianggap bernilai positif bagi diri individu
itu sendiri dan diintegrasikan dengan nilai-nilai lain dari hidupnya
(Novan, 2016)

2.1.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan


Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan menurut Setiadi
(2007) adalah sebagai berikut :
2.1.2.1 Faktor Internal
2.1.2.1.1 Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini
terjadi setelah seseorang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Penginderaan terjadi melalui pancaindra
manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran,
penciuman,asa dan raba. Pengetahuan
merupakan factor yang sangat penting
membentuk tindakan atau perilaku seseorang.
2.1.2.1.2 Sikap
Sikap merupakan penentu dari perilaku karena
keduanya berhubungan dengan persepsi,
kepribadian, perasaan, dan motivasi. Sikap
merupakan keadaan mental yang dipelajari dan
diorganisasikan melalui pengalaman yang
menhasilkan pengaruh spesifik pada respon
seseorang terhadap orang lain, objek dan situasi
yang berhubungan. Sikap menentukan
10

pandangan awal seseorang terhadap pekerjaan


dan tingakt kesesuaian antara individu dan
organisasi.
2.1.2.1.3 Kemampuan
Kemampuan adalah bakat seseorang untuk
melakukan tugas fisik atau mental. Kemampuan
seseorang pada umumnya stabil. Kemampuan
merupakai faktor yang dapat membedakan
karyawan berkinerja tinggi dan yang berkinerja
rendah. Kemampuan individu mempengaruhi
karakteristik pekerjaan, perilaku, tanggung
jawab, pendidikan dan memiliki hubungan
nyata terhadap kinerja pekerjaan.
2.1.2.1.4 Motivasi
Motivasi adalah konsep yang menggambarkan
kondisi ekstrinsik yang merangsang perilaku
tertentu, dan respon intrinsik yang
menampakkan perilaku manusia. Respon
intrinsik ditopang oleh sumber energi, yang
disebut motif yang dapat diartikan sebagai
kebutuhan, keinginan, atau dorongan. Motivasi
diukur dengan perilaku yang dapat diobservasi
dan dicatat. Motivasi dapat mempengaruhi
seseorang untuk melaksanakan suatu pekerjaan
yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
2.1.2.2 Faktor Eksternal
2.1.2.2.1 Karakteristik Organisasi
Keadaan dari organisasi dan struktur organisasi
ditentukan oleh filosofi dari manager organisasi
tersebut. Keadaan organisasi dan struktur
organisasi akan memotivasi atau gagal
memotivasi perawat profesional untuk
11

berpartisipasi pada tingkatan yang konsisten


sesuai dengan tujuan.
2.1.2.2.2 Karakteristik Kelompok
Anggota kelompok melaksanakan peran tugas,
peran pembentukan, pemeliharaan kelompok,
dan peran individu. Anggota melaksanakan hal
ini melalui hubungan interpersonal. Tekanan
dari kelompok sangat mempengaruhi hubungan
interpersonal dan tingkat kepatuhan individu
karena individu terpaksa mengalah dan
mengikuti perilaku mayoritas kelompok
meskipun sebenarnya individu itu tidak
menyetujuinya.
2.1.2.2.3 Karakteristik Pekerjaan
Karakteristik pekerjaan akan memberikan
motivasi bagi karyawan untuk lebih bekerja
dengan giat dan untuk menumbuhkan semangat
kerja yang lebih produktif karena karakteristik
pekerjaan adalah proses membuat pekerjaan
lebih berarti, menarik dan menantang sehingga
dapat mencegah seseorang dari kebosanan dan
membuat aktivitas pekerjaan terlihat lebih
bervariasi.
2.1.2.2.4 Karakterisitik Lingkungan
Apabila seseorang harus bekerja dalam
lingkungan yang terbatas dan berinteraksi secara
konstan dengan staff lain, pengunjung dan
tenaga kesehatan lain. Kondisi seperti ini dapat
menurunkan motivasi seseorang terhadap
pekerjaannya, dan dapat menyebabkan stress,
dan menimbulkan kepenatan.
Sedangkan beberapa variabel yang mempengaruhi tingkat
kepatuhan menurut Brunner & Suddarth (2009) adalah :
12

2.1.2.3 Faktor demografi seperti usia, jenis kelamin, status sosio


ekonomi dan pendidikan.
2.1.2.4 Faktor penyakit seperti keparahan penyakit.
2.1.2.5 Faktor program pelayanan seperti kompleksibilitas
program dan efek samping yang tidak menyenangkan
2.1.2.6 Faktor psikososial seperti intelegensia atau tingkat
pengetahuan, sikap tenaga kesehatan, penerimaan atau
penyangkalan terhadap penyakit, keyakinan agama atau
budaya, biaya finansial dan lainnya.

2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketidakpatuhan


Faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan menurut Niven (2012)
antara lain :
2.1.3.1 Pemahaman tentang instruksi, tidak seorangpun dapat
mematuhi instruksi jika ia salah paham tentang instruksi
yang diberikan.
2.1.3.2 Kualitas interaksi antara profesional kesehatan dengan
pasien merupakan bagian penting dalam menentukan
derajat kepatuhan.
2.1.3.3 Isolasi sosial dan keluarga, keluarga dapat menjadi faktor
yang sangat berpengaruh dalam menentukan keyakinan dan
nilai kesehatan serta juga dapat menentukan program
pengobatan yang mereka terima
2.1.3.4 Keyakinan, sikap dan kepribadian, Niven (2012) telah
membuat suatu usulan bahwa model keyakinan kesehatan
berguna untuk memperkirakan adanya ketidakpatuhan.
Ketidakpatuhan adalah perilaku yang dapat menimbulkan konflik
yang menghasilkan perasaan bersalah pada seseorang dimana
perilaku ditunjukan. Perilaku ini dapat berbentuk verbal dan
nonverbal. Perilaku ini menurut Murphy dalam Swansburg (2000)
terbagi menjadi :
13

2.1.3.5 Competitive Bomber, yang mudah menolak bekerja.


Orang ini sering menggerutu dengan bergumam dan
dengan wajah yang cemberut, dan pergi meninggalkan
pekerjaan atau tidak masuk kerja.
2.1.3.6 Martyred Accomodator, yang menggunakan kepatuhan
palsu. Orang tipe ini dapat bekerja sama tetapi juga sambil
melakukan ejekan, hinaan, mengeluh dan mengkritik
untuk mendapatkan dukungan yang lainnya.
2.1.3.7 Avoider, yang bekerja dengan menghindarkan
kesepakatan, berpartisipasi dan tidak merespon terhadap
pimpinan

2.2 Konsep Syok Hipovolemik


2.2.1 Definisi
Syok hipovolemik didefinisikan sebagai penurunan perfusi dan
oksigenasi jaringan disertai kolaps sirkulasi yang disebabkan oleh
hilangnya volume intravaskular akut akibat berbagai keadaan
bedah atau medis (Greenberg, 2005).

Syok hipovolemik merupakan syok yang paling sering dijumpai


pada anak, terjadi akibat kehilangan cairan tubuh yang berlebihan.
Penyebab tersering syok hipovolemik pada anak adalah muntah,
diare, glikosuria, kebocoran plasma (misalnya pada demam
berdarah dengue), sepsis, trauma, luka bakar, perdarahan saluran
cerna, perdarahan intrakranial. Akibat kehilangan cairan, terjadi
penurunan preload. Sesuai dengan hukum Starling, penurunan
preload ini akan berakibat pada penurunan isi sekuncup,
selanjutnya penurunan curah jantung. Baro receptor akan
merangsang syaraf simpatik untuk meningkatkan denyut jantung
dan vasokonstriksi untuk mempertahankan curah jantung dan
14

tekanan darah. Syok hipovolemik yang lama dapat mengakibatkan


gangguan fungsi organ-organ.
http://spesialis1.ika.fk.unair.ac.id/wpcontent/uploads/2017/03/P
GD04_Syok-Q.pdf (Diakses tanggal 5 Desember 2017)

2.2.2 Etiologi
Penurunan volume intravaskular yang terjadi pada syok
hipovolemik dapatdisebabkan oleh hilangnya darah, plasma atau
cairan dan elektrolit (Tierney,2001). Menurut Sudoyo et al. (2009),
penyebab syok hipovolemik, antara lain:
2.2.2.1 Kehilangan darah
2.2.2.1.1 Hematom subkapsular hati
2.2.2.1.2 Aneurisma aorta pecah
2.2.2.1.3 Perdarahan gastrointestinal
2.2.2.1.4 Trauma
2.2.2.2 Kehilangan Plasma
2.2.2.2.1 Luka bakar luas
2.2.2.2.2 Pankreatitis
2.2.2.2.3 Deskuamasi kulit
2.2.2.2.4 Sindrom Dumping
2.2.2.3 Kehilangan cairan ekstraselular
2.2.2.3.1 Muntah (vomitus)
2.2.2.3.2 Dehidrasi
2.2.2.3.3 Diare
2.2.2.3.4 Terapi diuretik yang agresif
2.2.2.3.5 Diabetes insipidus
2.2.2.3.6 Insufisiensi adrenal
2.2.3 Patofisiologi
Respon dini terhadap kehilangan darah adalah mekanisme
kompensasi tubuh yang berupa vasokonstriksi di kulit, otot, dan
sirkulasi viseral untuk menjaga aliran darah yang cukup ke ginjal,
15

jantung, dan otak. Respon terhadap berkurangnya volume sirkulasi


akut yang berkaitan dengan trauma adalahpeningkatan detak
jantung sebagai usaha untuk menjaga cardiac output. Dalam
banyak kasus, takikardi adalah tanda syok paling awal yang dapat
diukur(American College of Surgeons Committee on Trauma,
2008).

Pelepasan katekolamin endogen akan meningkatkan tahanan


vaskular perifer. Hal ini akan meningkatkan tekanan darah diastolik
dan menurun kantekanan nadi tetapi hanya sedikit meningkatkan
perfusi organ. Hormon-hormonlainnya yang bersifat vasoaktif
dilepaskan ke sirkulasi selama kondisi syok,termasuk histamin,
bradikinin, dan sejumlah prostanoid dan sitokin-sitokinlainnya.
Substansi-substansi ini mempunyai pengaruh besar terhadap
mikrosirkulasi dan permeabilitas vaskular (American College of
SurgeonsCommittee on Trauma, 2008).

Pada syok perdarahan yang dini, mekanisme pengembalian darah


vena dilakukan dengan mekanisme kompensasi dari kontraksi
volume darah dalam sistem vena yang tidak berperan dalam
pengaturan tekanan vena sistemik. Namun kompensasi mekanisme
ini terbatas. Metode yang paling efektif dalam mengembalikan
cardiac output dan perfusi end-organ adalah dengan menambah
volume cairan tubuh/darah (American College of Surgeons
Committee onTrauma, 2008).

Pada tingkat selular, sel-sel dengan perfusi dan oksigenasi yang


tidakmemadai mengalami kekurangan substrat esensial yang
diperlukan untuk proses metabolisme aerobik normal dan produksi
energi. Pada tahap awal, terjadi kompensasi dengan proses
pergantian menjadi metabolisme anaerobik yang mengakibatkan
16

pembentukan asam laktat dan berkembang menjadi


asidosismetabolik. Bila syok berkepanjangan dan pengaliran
substrat esensial untuk pembentukan ATP tidak memadai, maka
membran sel akan kehilangan kemampuan untuk mempertahankan
kekuatannya dan gradien elektrik normal punakan hilang
(American College of Surgeons Committee on Trauma, 2008).

Pembengkakan retikulum endoplasma adalah tanda struktural


pertama darihipoksia seluler, menyusul segera kerusakan
mitokondria, robeknya lisosom, danlepasnya enzim-enzim yang
mencerna elemen-elemen struktur intraseluler lainnya. Natrium dan
air masuk ke dalam sel dan terjadilah pembengkakan
sel.Penumpukan kalium intraseluler juga terjadi. Bila proses ini
tidak membaik, makaakan terjadi kerusakan seluler yang progresif,
penambahan pembengkakan jaringan, dan kematian sel. Proses ini
meningkatkan dampak kehilangan darah dan hipoperfusi jaringan
(American College of Surgeons Committee on Trauma, 2008).

2.2.4 Gejala Klinis


Gejala dan tanda yang disebabkan oleh syok hipovolemik akibat
nonperdarahan serta perdarahan adalah sama meskipun ada sedikit
perbedaan dalam kecepatan timbulnya syok (Baren et al.,
2009).Gejala klinis pada suatu perdarahan bisa belum terlihat jika
kekurangan darah kurang dari 10% dari total volume darah karena
pada saat ini masih dapat dikompensasi oleh tubuh. Bila perdarahan
terus berlangsung maka tubuh tidak mampu lagi
mengkompensasinya dan menimbulkan gejala-gejala klinis. Secara
umum, syok hipovolemik menimbulkan gejala peningkatan
frekuensi jantung dan nadi (takikardi), pengisian nadi yang lemah,
kulit dingin dengan turgor yang jelek,ujung-ujung ekstremitas
dingin, dan pengisian kapiler lambat (Hardisman, 2013).Pasien
17

hamil bisa saja menunjukkan tanda dan gejala syok hipovolemik


yang atipikal hingga kehilangan 1500 ml darah tanpa terjadi
perubahan tekanan darah (Strickler, 2010).

Keparahan dari syok hipovolemik tidak hanya tergantung pada


jumlah kehilangan volume dan kecepatan kehilangan volume,
tetapi juga usia dan status kesehatan individu sebelumnya (Kelley,
2005).Secara klinis, syok hipovolemik diklasifikasikan menjadi
ringan, sedangdan berat. Pada syok ringan, yaitu kehilangan
volume darah 20%, vasokonstriksidimulai dan distribusi aliran
darah mulai terhambat. Pada syok sedang, yaitu kehilangan volume
darah 20-40%, terjadi penurunan perfusi ke beberapa organseperti
ginjal, limpa, dan pankreas. Pada syok berat, dengan kehilangan
volumedarah lebih dari 40%, terjadi penurunan perfusi ke otak dan
jantung (Kelley,2005).

Perubahan dari syok hipovolemik ringan menjadi berat dapat


terjadi bertahap atau malah sangat cepat, terutama pada pasien
lanjut dan yang memiliki penyakit berat (Baren et al., 2009).

2.2.5 Diagnosa
Syok hipovolemik didiagnosis ketika ditemukan tanda berupa
ketidakstabilan hemodinamik dan ditemukan adanya sumber
perdarahan (Baren et al., 2009). Ketidakstabilan hemodinamik yang
terjadi pada kondisi syok hipovolemik berupa penurunan curah
jantung, penurunan tekanan darah, peningkatan tahanan pembuluh
darah, dan penurunan tekanan vena sentral (Leksana, 2015).

Pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis


adanya syok hipovolemik tersebut dapat berupa pemeriksaan
pengisian dan frekuensi nadi, tekanan darah, pengisian kapiler yang
18

dilakukan pada ujung-ujung jari, suhu dan turgor kulit (Hardisman,


2013).

Penurunan tekanan darah sistolik lebih lambat terjadi karena


adanya mekanisme kompensasi tubuh terhadap terjadinya
hipovolemia. Pada awal-awal terjadinya kehilangan darah, terjadi
respon sistem saraf simpatis yang mengakibatkan peningkatan
kontraktilitas dan frekuensi jantung. Dengan demikian, pada tahap
awal tekanan darah sistolik dapat dipertahankan. Namun
kompensasi yang terjadi tidak banyak pada pembuluh perifer
sehingga terjadi penurunan diastolik dan penurunan tekanan nadi.
Oleh sebab itu, pemeriksaan klinis yang seksama sangat penting
dilakukan karena pemeriksaan yang hanya berdasarkan pada
perubahan tekanan darah sistolik dan frekuensi nadi dapat
menyebabkan kesalahan atau keterlambatan diagnosa dan
penatalaksanaan (Harisman, 2013).

Setelah pemeriksaan fisik dilakukan, langkah diagnosis selanjutnya


tergantung pada penyebab yang mungkin pada hipovolemik dan
stabilitas dari kondisi pasien itu sendiri. Pemeriksaan laboratorium
awal yang mungkin ditemukan pada keadaan syok hipovolemik,
antara lain (Schub dan March, 2014):
2.2.5.1 Complete Blood Count (CBC), mungkin terjadi
penurunan hemoglobin, hematokrit dan platelet.
2.2.5.2 Blood Urea Nitrogen (BUN), mungkin meningkat
menandakan adanya disfungsi ginjal.
2.2.5.3 Kadar elektrolit dalam serum mungkin
menunjukkan abnormalitas.
2.2.5.4 Produksi urin, mungkin <400 ml/hari atau tidak ada
sama sekali.
19

2.2.5.5 Pulse oximetry, mungkin menunjukkan penurunan


saturasi oksigen.
2.2.5.6 AGDA, mungkin mengidentifikasi adanya asidosis
metabolik.
Untuk pemeriksaan penunjang, dapat dilakukan pemeriksaan
berikut, antara lain (Kolecki dan Menckhoff, 2014):
2.2.5.7 Ultrasonografi, jika dicurigai terjadi aneurisma aorta
abdominalis.
2.2.5.8 Endoskopi dan gastric lavage, jika dicuriga adanya
perdarahan gastrointestinal.
2.2.5.9 Pemeriksaan FAST, jika dicurigai terjadi cedera
abdomen.
2.2.5.10 Pemeriksaan radiologi, jika dicuriga terjadi fraktur.

2.2.6 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan awal pada syok hipovolemik meliputi penilaian
ABC, yaitu pada airway dan breathing, pastikan jalan napas paten
dengan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat. Pemberian oksigen
tambahan dapat diberikan untuk mempertahankan saturasi oksigen
di atas 95%. Pada circulation, hal utama yang perlu diperhatikan
adalah kontrol perdarahan yang terlihat, lakukan akses intravena,
dan nilai perfusi jaringan (American College of Surgeons
Committee on Trauma, 2008).

Akses intravena dilakukan dengan memasang 2 kateter intravena


ukuran besar (minimal nomor 16) pada vena perifer. Lokasi terbaik
untuk intravena perifer pada orang dewasa adalah vena di lengan
bawah atau kubiti. Namun, bila keadaan tidak memungkinkan pada
pembuluh darah perifer, maka dapat digunakan pembuluh darah
sentral. Bila kaketer intravena sudah terpasang, contoh darah
diambil untuk pemeriksaan golongan darah dan crossmatch,
20

pemeriksaan laboratorium yang sesuai, dan tes kehamilan pada


semua wanita usia subur. (American College of Surgeons
Committee on Trauma, 2008).

Setelah akses intravena terpasang, selanjutnya dilakukan resusitasi


cairan. Tujuan resusitasi cairan adalah untuk mengganti volume
darah yang hilang dan mengembalikan perfusi organ (Kelley,
2005). Tahap awal terapi dilakukan dengan memberikan bolus
cairan secepatnya. Dosis umumnya 1-2 liter untuk dewasa. Cairan
resusitasi yang digunakan adalah cairan isotonik NaCl 0,9% atau
Ringer Laktat. Pemberian cairan terus dilanjutkan bersamaan
dengan pemantauan tanda vital dan hemodinamik (Hardisman,
2013).

Jumlah darah dan cairan yang diperlukan untuk resusitasi sulit


diprediksi dalam evaluasi awal pasien. Adalah sangat penting untuk
menilai respon pasien terhadap resusitasi cairan dengan adanya
bukti perfusi dan oksigenasi yang adekuat, yaitu produksi urin,
tingkat kesadaran, dan perfusi perifer serta kembalinya tekanan
darah yang normal (American College of Surgeons Committee on
Trauma, 2008).

Jika setelah pemberian cairan tidak terjadi perbaikan tanda-tanda


hemodinamik, maka dapat dipersiapkan untuk memberi transfusi
darah (Harisman, 2013). Tujuan utama transfusi darah adalah untuk
mengembalikan kapasitas angkut oksigen di dalam intravaskular
(American College of Surgeons Committee on Trauma, 2008).

Untuk melakukan transfusi, harus didasari dengan jumlah


kehilangan perdarahan, kemampuan kompensasi pasien, dan
21

ketersediaan darah. Jika pasien sampai di IGD dengan derajat syok


yang berat dan golongan darah spesifik tidak tersedia, maka dapat
diberikan tranfusi darah dengan golongan O. Golongan darah
spesifik biasanya dapat tersedia dalam waktu 10-15 menit (Kelley,
2005).

Evaluasi harus dilakukan untuk melihat perbaikan pasien syok


hipovolemik. Jumlah produksi urin merupakan indikator yang
cukup sensitif dari perfusi ginjal karena menandakan aliran darah
ke ginjal yang adekuat. Jumlah produksi urin yang normal sekitar
0,5 ml/kgBB/jam pada orang dewasa (American College of
Surgeons Committee on Trauma, 2008). Defisit basa juga dapat
digunakan untuk evaluasi resusitasi, prediksi morbiditas serta
mortalitas pada pasien syok hipovolemik (Privette dan Dicker,
2013).

2.3 Konsep Standar Prosedur Operasional (SPO)


2.3.1 Pengertian SPO
Merupakan tatacara atau tahapan yang harus dilalui dalam suatu
proses kerja tertentu, yang dapat diterima oleh seseorang yang
berwenang atau bertanggung jawab untuk mempertahankan tingkat
penampilan atau kondisi tertentu sehingga suatu kegiatan dapat
diselesaikan secara efektif dan efisien (Depkes RI, 2004)
Suatu standar / pedoman tertulis yang digunakan untuk mendorong
dan menggerakkan suatu kelompok untuk mencapai tujuan
organisasi. Standar prosedur operasional merupakan tatacara atau
tahapan yang dibakukan dan yang harus dilalui untuk
menyelesaikan suatu proses kerja tertentu (Perry dan Potter, 2005)
SPO adalah tatacara atau tahapan yang harus dilalui untuk
menyelesaikan suatu proses kerja tertentu. Dalam menjalankan
operasional organisasi, peran petugas memiliki kedudukan dan
22

fungsi yang sangat signifikan. Oleh karena itu diperlukan standar-


standar prosedur operasional sebagai acuan kerja secara sungguh-
sungguh untuk menjadi sumber daya manusia yang professional,
handal sehingga dapat mewujudkan visi dan misi suatu organisasi
(Sumijatun, 2010).

2.3.2 Tujuan SPO


2.3.2.1 Tujuan Umum
Agar berbagai proses kerja rutin terlaksana dengan efisien,
efektif dan aman, serta meningkatkan mutu pelayanan
melalui pemenuhan pencapaian standar profesi dan standar
pelayanan rumah sakit.
2.3.2.2 Tujuan Khusus
2.3.2.2.1 Menjaga konstitusi tingkat penampilan kerja
atau kinerja.
2.3.2.2.2 Meminimalkan kegagalan, kesalahan dan
kelalaian dalam proses pelaksanaan kegiatan.
2.3.2.2.3 Merupakan parameter untuk menilai mutu
kinerja dan pelayanan.
2.3.2.2.4 Memastikan penggunaan sumber daya secara
efisien dan efektif.
2.3.2.2.5 Menjelaskan alur tugas, wewenang dan
tanggung jawab dari petugas terkait.
2.3.2.2.6 Mengarahkan pendokumentasian yang adekuat
adan akurat.
2.3.2.2.7 Melindungi rumah sakit dan petugas bila
terjadi suatu kesalahan administrasi dan
lainnya.

2.3.3 Fungsi SPO


Fungsi SPO menurut Sumijatun (2010) berupa :
23

2.3.3.1 Memperlancar tugas petugas/pegawai atau tim/unit kerja.


2.3.3.2 Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan.
2.3.3.3 Mengarahkan petugas untuk sama-sama disiplin dalam
bertugas.
2.3.3.4 Sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan rutin.
Peran petugas dalam menjalankan operasional memiliki kedudukan
dan fungsi yang sangat signifikan. Oleh karena itu diperlukan SPO
sebagai acuan kerja secara sungguh-sungguh untuk menjadi sumber
daya manusia yang professional, handal sehingga dapat
mewijudkan visi dan misi perusahaan atau instansi tersebut
(Sumijatun, 2010).

2.3.4 Keuntungan Adanya SPO


2.3.4.1 Sebagai pedoman bagi pelaksana.
2.3.4.2 Menjadi alat komunikasi dan pengawasan.
2.3.4.3 Pekerjaan diselesaikan secara konsisten.
2.3.4.4 Petugas akan lebih memiliki rasa percaya diri
2.3.4.5 Dapat dijadikan alat pelatihan dan pengukuran kinerja
petugas

2.3.5 Prinsip SPO


2.3.5.1 SPO memuat segala indikasi dan syarat yang harus
dipenuhi pada setiap upaya, dan tahapan yang harus dilalui
setiap kegiatan pelayanan.
2.3.5.2 SPO memberikan arahan kegiatan yang langsung atau
tidak langsung.
2.3.5.3 Selalu berubah mengikuti perubahan standar profesi serta
perkembangan IPTEK profesi yang bersangkutan serta
kebijakan dan peraturan formal.
2.3.5.4 Menggunakan bahasa sehari-hari, harus memudahkan
pemakaian, mempunyai urutan tidak bermakna ganda.
24

2.4 Kerangka Konsep


25

Faktor Internal

Pengetahuan

Sikap

Kemampuan

Motivasi Kepatuhan penerapan


standar prosedur
operasional

Faktor Eksternal

Karakteristik Organisasi Patuh Tidak patuh

Karakteristik Kelompok

Karakteristik Pekerjaan

Karakteristik Lingkungan

Keterangan :

: Bagian yang diteliti

: Bagian yang tidak diteliti

Gambar 2.1 Kerangka Konsep

2.5 Hipotesis
26

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap tujuan penelitian yang


diturunkan dari kerangka penelitian yang telah dibuat (V. Wiratna
Sujarweni, 2014). Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini
ialah :
Jika Ha <0,05 maka hipotesis diterima yang berarti ada faktor-faktor
berhubungan dengan kepatuhan perawat dalam penerapan standar prosedur
operasional (SPO) terhadap syok hivopolemik di IGD RSUD Ulin
Banjarmasin. Sedangkan Jika Ha >0,05 maka hipotesis ditolak yang berarti
tidak ada faktor-faktor berhubungan dengan kepatuhan perawat dalam
penerapan standar prosedur operasional (SPO) terhadap syok hivopolemik
di IGD RSUD Ulin Banjarmasin.