Anda di halaman 1dari 12

‫‪1‬‬

‫] ‪[ KHUTBAH IDUL FITRI 1440 H‬‬

‫‪Menyambut Hari Kemenangan dengan‬‬


‫‪Cinta dan Perdamaian‬‬

‫السالم عليكم ورحمة هللا وبركاته‬

‫للاهُأ َ ْكبَ هرُ«ُ‪،» 9x‬‬


‫ُ‬
‫س ْب َحانَ ُللاُِبه ْك َرةًُ‬ ‫ا‪ُ،‬و ه‬‫ا‪ُ،‬و ْال َح ْمدهُهللُِ َك ِثي ًْر َ‬ ‫ُللاُأ َ ْكبَ هرُ َك ِبي ًْر َ‬
‫لِل ْ‬
‫ُال َح ْم ُده‬ ‫ُو ِ َُِّ‬ ‫‪ُ،‬وللاهُأ َ ْك َب هر‪ُ،‬للاهُأ َ ْكبَ هر َ‬ ‫ص ْيالً‪ُ،‬الَُ ِإلهَُ ِإالَُّللاه َ‬ ‫‪َ .‬وأ َ ِ‬
‫ا‪ُ،‬و ْال َح ْمدهُهللُِالَّ ِذىُ‬ ‫ش ْيءٍ ُفَقَدَّ َرههُت َ ْق ِدي ًْر َ‬ ‫ال َح ْمدهُهللُِالَّ ِذىُ َخلَقَ ُ هك َّلُ َ‬
‫ام ِد ِهُ‬ ‫اُوتَ ْد ِبي ًْرا‪ُ،‬ن َْح َمدهههُ ِب َج ِمي ِْع ُ َم َح ِ‬ ‫ُو ِع ْل ًم َ‬ ‫ُر ْح َمةً َ‬‫ش ْيءٍ َ‬ ‫َو ِس َع ُ هك َّل ُ َ‬
‫ش َهادَةًُ‬ ‫ُو ْحدَههُالَُش َِري َْكُلَهه‪َ ُ،‬‬ ‫َح ْمدًاُ َك ِثي ًْرا‪ُ،‬أ َ ْش َهدهُأ َ ْنُالَُ ِإلهَُ ِإالَُّللاه َ‬
‫ُوأَ ْش َُهده ُأ َ َّن ُ هم َح َّمدًا ُ َ‬
‫ع ْب ُدهُههُ‬ ‫أَدَّ ِخ هرهَا ُ ِلُيَ ْو ٍم ُ َكانَ ُش َُّرهه ُ هم ْست َ ِطي ًْرا‪َ ،‬‬
‫ا‪ُ،‬ودَا ِعيًاُ ِإلَىُ‬ ‫اُونَ ِذي ًْر َ‬ ‫قُبَ ِشي ًْر َ‬ ‫ىُو ِدي ِْن ْ‬
‫ُال َح ِّ ِ‬ ‫س ْولههه‪ُ،‬بَعَثَههُ ِب ْال ههدَ َ‬ ‫َو َر ه‬
‫س ْو ِل َكُ‬ ‫ُو َر ه‬ ‫ع ْب ِد َك َ‬ ‫علَى ُ َ‬ ‫ص ِِّل ُ َ‬ ‫ُو ِس َرا ًجا ُ همنِي ًْرا‪ُ ،‬اللَّ هه َّم ُ َ‬ ‫للاِ ُ ِبإِ ْذنِ ِه َ‬
‫تُ‬ ‫ص ِِّلُ َعلَ ْي ِهُ َُماُالَ َح ِ‬ ‫‪ُ،‬و َ‬ ‫ار َ‬ ‫ُوالنَّ َه ه‬ ‫بُاللَّ ْي هل َ‬ ‫َو َخ ِل ْي ِل َكُ هم َح َّمدٍُ َماُتَعَاقَ َ‬
‫س ِلِّ ْم ُتَ ْس ِل ْي ًماُ َك ِثي ًْرا‪ُ.‬أ َ َّماُبَ ْعده‪ُ:‬فَـيَاأَيُّ َهاُالنَّاسُاتَّقه َّ‬
‫واَُّللاَ‪ُ,‬‬ ‫اْأل َ ْن َو هُ‬
‫ار ُ َو َ‬
‫ضا ِئ ِلُ‬ ‫ضلَ هك ْم ُ ِب ْالفَ َ‬ ‫ُوأ َ ْف َ‬ ‫إل ْسالَ ِم‪َ ،‬‬ ‫علَى ُ َما ُ َهدَا هك ْم ُ ِل ِ‬ ‫َوا ْش هك هر ْوهه ُ َ‬
‫صلَ ُِة ُاْأل َ ْر َح ِام‪ُ .‬قَا َلُ‬ ‫ُمنَ ُاْأل ه َّم ِة ُال َمأ هم ْو َرةِ ُ ِب ِ‬ ‫ُو َج َعلَ هك ْم ِ‬ ‫اإل ْنعَ ِام‪َ ،‬‬ ‫َو ِ‬
‫علَى ُ َما ُ َهدَا هك ْم ُولَعَلَّ هك ْمُ‬ ‫ُو ِلت ه َك ِبِّ هرللاَ ُ َ‬ ‫ُو ِلت ه ْك ِملهوااْل ِعدَّة َ َ‬ ‫تَعَالَى ُ‪َ :‬‬
‫ت َ ْش هك هر ْونَُُ‬

‫‪BIMBINGAN MASYARAKAT ISLAM, KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KAB. BOALEMO‬‬


2
[ KHUTBAH IDUL FITRI 1440 H ]

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Pada pagi hari ini, seluruh umat islam merayakan kemenangan.


Mereka memang layak untuk berbahagia. Dan Rasulullah saw pun
memerintahkan semua orang untuk berkumpul merayakan kemenangan
ini. Orang-orang tua, muda, remaja, anak-anak, laki-laki maupun
perempuan, bahkan mereka yang berhalangan pun dianjurkan untuk
datang sekedar untuk mendengarkan khutbah hari raya. Karena pada hari
inilah kita meraih kemenangan sesungguhnya. Tatkala cinta
mengalahkan iri dan dengki. Ketika dendam dan permusuhan terkikis oleh
kasih sayang. Saat kesabaran dan kejujuran menyingkirkan ego dan
dusta. Saatnya kita meraih kemenangan cinta dari Sang Pemilik
cinta. Inilah realisasi doa yang sering dibaca oleh Nabi Daud as

ُْ ‫لُُيهُقَ ُِرُبهُِن‬
ُ‫ي‬ ٍُ ‫ع َُم‬
َُ ُ‫ب‬
َُّ ‫ح‬
ُ‫كُ َُو ه‬
َُ ُّ‫حُب‬ ُْ ‫بُ َُم‬
ُِ ‫نُُيه‬ َُّ ‫ح‬
ُ‫كُ َُو ه‬
َُ َّ‫حُب‬ َُ ‫سُأ َُله‬
ُ‫كُ ه‬ ُْ َ ‫يُأ‬
ُ ِّ‫ُا َ ُللَّ هُه َُّمُُِإُن‬
ُ‫ُِإُلَىُ ه‬
َُ ِّ‫ح ُِب‬
‫ك‬
”Ya Allah karuniailah hamba cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-
Mu serta segala sesuatu yang mendekatkanku pada cinta-Mu” (HR Tirmidzi dari
Abu Darda’ ra)

Selama Ramadhan kita benar-benar merasakan apa sesungguhnya


arti cinta dan kasih sayang. Apa makna Rahmah yang sebenarnya.
Rahmah Allah diturunkan setiap harinya di sepertiga malam terakhir, saat
para pelantun istighfar memohon ampunan kepadaNya.

Rahmah, sebagai tanda pembuka bulan Ramadhan yaitu 10 hari


pertama di bulan ramadhan. Kasih sayang ini pula yang menjadi tujuan
pernikahan antara pasangan laki-laki dan perempuan, selain menjadi
tanda-tanda kebesaran-Nya. Dan Rahmah inilah yang kita ucapkan
sebagai salam pembuka ketika bertemu dengan sesama saudara. Dalam
al-Qur’an pun surat Ar-Rahman menjadi satu-satunya surat yang diambil
dari nama Allah (asmaul husna) yang maha penyayang.

BIMBINGAN MASYARAKAT ISLAM, KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KAB. BOALEMO


3
[ KHUTBAH IDUL FITRI 1440 H ]

Sebuah pertanyaan sederhana: Sudahkah benar-benar kita


menjadi seorang yang penyayang? Menyayangi fuqara, anak yatim,
janda-janda miskin dan orang-orang lemah serta tertindas juga mereka
yang tertimpa mushibah. Sudahkah bibir kita terbiasa menyampaikan
pesan kasih sayang melalui senyum dan perkataan yang baik. Sudahkan
tangan kita ringan mengulurkan bantuan dan shadaqah sebelum lidah
mereka mengirimkan pesan pertolongan. Sudahkah kita memaafkan
setiap orang yang berbeda dengan kita, berbeda dalam pola pikir dan
berbeda dalam pilihan politik.

Benarkah setelah sebulan kita dilatih untuk sabar dalam menahan


diri. Jangan sampai Rasa kasih saying dan sifat maaf dalam diri kita sirna
setelah ramadhan pergi. Mampukah kita menjadi seorang pemaaf yang
ikhlas & sanggup menjadikan masa lalu kita menjadi fitrah sehingga
menghasilkan hamba-hamba Allah yang suci tak ternoda dengan
datangnya hari idul fitri saat ini.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Di hari kemenangan ini selayaknya kita senandungkan tahmid,


tasbih dan takbir kepada Dzat yang Maha Besar, dari lubuk hati kita yang
terdalam dan diikuti oleh amal perbuatan.

Selesainya bulan Ramadhan bukan berarti misi meraih ketakwaan


telah berakhir. Karena justru mempertahankan kualitas ketakwaan ini
sangatlah berat. Apalagi jika kita mampu meningkatkannya, tentu
merupakan prestasi yang luar biasa. Di bulan Ramadhan sesuatu yang
bernilai lebih menjadi patokan dan nilai standar.

Ketahuilah: ibadah puasa yang kita laksanakan, membaca al-


Qur’an, Sholat Tarawih maupun witir, menahan diri, mengendalikan
nafsu. Semua Ini menjadi standar untuk meraih keridhoan Allah serta kita
meningkatkannya dengan kualitasnya masing-masing. Oleh karena itu
dari segi kuantitas mungkin bedanya tipis, semua kita diwajibkan
berpuasa sebulan penuh. Tapi tak semua kita mampu meraih kualitas
yang sama. Demikian pula sholat tarawih ataupun shalat tahajud. Coba
lihatlah masjid dari sejak shubuh sampai shubuh berikutnya. Jumlah
pengunjungnya berlipat dari hari biasa. Ada yang rela menyisihkan
rezekinya untuk memberi makanan berbuka kepada setiap orang yang
dikenalnya maupun yang tidak dikenalnya.

BIMBINGAN MASYARAKAT ISLAM, KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KAB. BOALEMO


4
[ KHUTBAH IDUL FITRI 1440 H ]

Demikian juga dengan membaca al-Qur’an, masing-masing


berusaha minimalnya mengkhatamkan sekali, ada yang dua, tiga dan
seterusnya. Bahkan ada yang baru mulai menghafal atau menambah
hafalan. Ada yang menjadikannya momentum untuk belajar membaca al-
Qur’an. Di antara keseluruhan malam di bulan ramadhan, ada salah satu
malam di bulan Ramadhan yang Allah lebihkan nilainya sama dengan
nilai 1000 bulan yang dikenal dengan Lailatul Qodar, Yaitu malam yang
bersentuhan dengan kemuliaan dan keberkahan al-Qur’an

Alangkah indahnya jika nilai standar masyarakat seperti ini. Jujur,


sabar, mampu menahan diri dan mengendalikan nafsu, disiplin,
dermawan dan mampu memaafkan dan mendambakan kedamaian. Inilah
orang-orang pilihan dalam masyarakat. Tentu sifat diatas yang seperti itu
sangatlah luar biasa. Inilah puncak peradaban umat yang digambarkan
al-Qur’an, pelaku-pelakunya adalah Hamba-hamba Allah yang sangat
mengidam-idamkan karakteristik Menjadi pemimpin orang-orang
bertaqwa bagi setiap ummat yang berbahagiah di hari kemenangan
sebagaimana yang mereka ucapkan melalui doa dan pengharapan
mereka pada Firman Allah sebagai berikut:

ُ‫َاُوذه ِ ِّريَّا ِتنَاُقه َّرة َُأ َ ْعيه ٍن‬


َ ‫اجن‬ِ ‫َاُم ْنُأ َ ْز َو‬ َ َ‫« َوالَّذِينَ ُيَقهولهون‬
ِ ‫ُربَّنَاُهَبْ ُلَن‬
»‫اجعَ ْلنَاُ ِل ْل همت َّ ِقينَ ُ ِإ َما ًما‬
ْ ‫َو‬
”Dan orang-orang yang berkata: wahai Tuhan kami anugerahkanlah kepada
kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penenang hati dan jadikan kami
pemimpin bagi orang-orang bertakwa” (al-Furqon:74).

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Karena itu pengorbanan kita di bulan Ramadhan jangan pernah kita


sia-siakan. Mata kita, kita biarkan menahan ngantuk untuk melakukan
shalat malam. Perut kita, tenggorokan, mulut, bahkan nafsu dan syahwat
kita. Semua kita tahan dengan baik. Apakah setelah ini kita mencoba
untuk melepaskannya kembali?.... Tidak sayangkah kita dengan
anyaman kesabaran yang telah kita perbuat selama sebulan
itu. Menahan lapar dan dahaga di musim panas yang cukup terik.
Bukankah ini sebuah pengorbanan.

BIMBINGAN MASYARAKAT ISLAM, KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KAB. BOALEMO


5
[ KHUTBAH IDUL FITRI 1440 H ]

Siapa yang tahu kalau kita pura-pura berpuasa, padahal bisa saja
kita minum di tempat tersembunyi untuk menghilangkan dahaga dan haus
kita? Tak salah jika bulan ini disebut dengan bulan Ramadhan. Ibnu
Manzhur dalam kamusnya ”Lisanul Arab” mengatakan bahwa bulan ini
dinamakan Ramadhan sebab tenggorokan orang yang berpuasa terasa
kering dan panas karena menahan haus dan dahaga. Akar katanya
berasal dari ”ramadha” yang berarti sangat panas. Saat ini kita berpuasa
di bulan Ramadhan yang sesungguhnya, yaitu di musim panas yang terik.

Selama itu pula, di bulan ini kita menganyam kejujuran, kedisiplinan,


kepekaan dan solidaritas sosial, kita begitu menjaga puasa kita agar tidak
rusak dan hilang pahalanya, berbohong dan amarah pun kita tahan demi
berkahnya puasa kita. Lantas alasan apakah yang membuat kita hendak
mengurai anyaman yang mulai menguat itu? Orang yang melakukan hal
ini seperti halnya seorang perempuan bodoh yang merusak dan mengurai
anyaman yang telah dibuatnya.

…ُ‫ُأ َُْن َُكاُث َا‬


ُ ‫اُمنُبَ ْع ِدُقه َّو ٍة‬
ِ ‫تُغ َْزلَ َه‬ َ َ‫َوالَُت َ هكونهواُْ َكالَّ ِتيُنَق‬
ْ ‫ض‬
”Janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benang yang
sudah dipintalnya dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…” (Surat Annahl: 92)

Ketahuilah, para sahabat Nabi saw selama enam bulan pasca


Ramadhan selalu berdoa supaya amal yang mereka kerjakan di bulan
Ramadhan diterima oleh Allah karena mereka mengetahui kualitas
pahala dari Allah serta keberkahan bulan mulia ini. Enam bulan
setelahnya mereka pun berdoa dan berharap supaya dipertemukan
kembali dengan bulan Ramadhan berikutnya.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Di bulan ramadhan kita belajar berbagi, antara si kaya dan si miskin,


di bulan ini kita dilatih untuk bersatu, semuanya harus membatalkan
puasa begitu azan maghrib berkumandang dan semuanya dilarang untuk
makan dan minum begitu waktu imsak telah tiba. Maka saatnya kita cari
titik-titik yang bisa menyatukan kita dan toleran dalam hal-hal yang
mengharuskan kita berbeda.

BIMBINGAN MASYARAKAT ISLAM, KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KAB. BOALEMO


6
[ KHUTBAH IDUL FITRI 1440 H ]

Maka setelah bulan Ramadhan berlalu, seluruh ibadah yang telah


kita laksanakan harus dioptimalkan kembali di sebelas bulan yang akan
datang. Tak lain hanyalah untuk mengingatkan bahwa kelak di hari kiamat
tak ada yang bisa kita andalkan selain tabungan amal yang telah kita
laksanakan tersebut.

Seandainya Allah memberi kita kesempatan untuk hidup 60-70


tahun sanggupkah kita menyiapkan diri untuk menempuh keabadian
nasib kita yang tidak diketahui di hari pembalasan kelak. Orang yang
cerdas akan pandai merencanakan dengan baik dan tidak mudah tergoda
oleh hal-hal yang menjauhkannya dari tujuannya yang sesungguhnya.

Kelak nanti di hari kiamat tak lagi didengar alasan dan udzur
ataupun meminta maaf atas kesalahan dan dosa orang-orang zhalim.
Karena pintu taubat dan amal telah benar-benar tertutup. Dan saatnya
pembalasan akan segera dimulai setelah pengadilan benar-benar
ditegakkan dengan transparan. Oleh karena hari-hari kita di dunia harus
lebih baik dari hari sebelumnya. Imam Hasan bin Ali mengatakan :

ُِ ‫نُ َُكانَُُُيَ ُْو هُم ُههُ َُكُأ َ ُْم‬


ُ‫س ُِهُُفَ هُه َُوُ َُم ُْغُبه ُْون‬ ُْ ‫َُم‬
”Barangsiapa yang (kualitas) harinya sama dengan kemarin maka ia tertipu”

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah

Hari ini Bulan Syawal telah menyambangi kita, artinya bulan


Ramadhan telah pergi. Ada banyak pelajaran yang kita dapatkan selama
sebulan penuh untuk melatih kejujuran, disiplin, sabar, toleran, bersyukur,
bersedekah, tekun dan lain sebagainya. Dan satu hal yang menjadi tema
pokok kita pagi ini, yaitu belajar memaafkan dan saling mengasihi.

Idul fitri ini menjadi begitu istimewa sebab ia datang bertepatan


dengan momentum pasca pemilu yang telah membuat kita terpolarisasi,
terbelah menjadi dua kubu yang saling berhadapan. Dalam konteks
sekarang ini yang paling terpenting adalah puasa sosial. Puasa sosial
berarti latihan menahan diri dari perasaan, berpikir, perilaku dan tindakan
negative kepada orang lain, benci yang berlebihan kepada orang atau
kelompok yang berbeda pilihan politik atau kepercayaan, menahan diri
untuk memposting status di media sosial yang bisa menyakiti orang lain
dan menahan diri untuk menyebarkan hoax dan ujaran kebencian.

BIMBINGAN MASYARAKAT ISLAM, KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KAB. BOALEMO


7
[ KHUTBAH IDUL FITRI 1440 H ]

Selama sebulan lamanya kebiasaan-kebiasaan negatif itu


diupayakan untuk dihindari. Maka di sebelas bulan lainnya kebiasaan ini
seyogyanya harus hilang. Mari kita renungkan hadis ini,
ُِ‫هواُو هك ْونه ْواُ ِعبَادَُللا‬
َ ‫سد‬ َ ‫ضواُوالَت َ َحا‬ ‫غ ه‬ َ ‫طعهواُوالَتَدَابَ هراُوالَتَبَا‬ َ ‫الَتَقَا‬
ُ .‫ث‬ ٍُ ‫ُوالَُيَ ِح ُّلُُِل هم ْس ِل ٍمُأَ ْنُيَ ْه هج َرُأَخَاههُفَ ْوقَ ُثَ َال‬.‫ا‬
َُ ً‫ِإ ْخوان‬
“Janganlah kalian saling memutuskan hubungan, jangan saling memalingkan
muka, saling membenci, saling iri, tetapi jadilah kalian hamba Allah yang
bersaudara. Dan tidaklah halal bagi seorang muslim untuk mengabaikan dan
tidak menyapa saudaranya lebih dari tiga hari.” (Muttafaq ‘alaih)
Saling menghormati, menghargai perbedaan, mengasihi dan
meminta maaf bisa menjadi pilihan untuk mencairkan suasana. Biarkan
momentum Ramadhan yang telah kita lewati membakar seluruh
perbedaan. Mari kembali menjadi masyarakat yang satu padu, bangsa
yang satu yang kembali bergandengan tangan dengan mengedepankan
ukhuwah atau persaudaraan. Sungguh, lebih banyak persamaan yang
kita miliki dari pada perbedaan.

Allahu Akbar x 3, walillahil hamd


Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Jama’ah Shalat Idul Fitri
Rahimakumullah

Untuk menutup khutbah idul fitri kali ini. Marilah kita juga berbuat
baik kepada siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Yang paling
terpenting adalah dua orang yang begitu dekat dengan kita semenjak kita
dilahirkan hingga saat ini, yakni orang tua kita yang cinta dan kasihnya
tak pernah hilang sepanjang waktu.
Islam sebagai agama tidak hanya mengajarkan kepada ummatnya
untuk berbuat baik kepada Allah dan Rasul-Nya saja. Islam juga
mengajarkan ummatnya untuk berbuat baik kepada sesama manusia
terutama terhadap kedua orang tua kita.
Seorang sahabat bertanya kepada rasulullah SAW : Wahai
Rasulullah…… Apakah hak-hak seorang Ibu dan Bapak? Rasul
menjawab : Mereka bisa menjadi JANNAH mu dan JAHANNAM mu.
Keridloan mereka akan membawamu ke surga namun sebaliknya
kemurkaan dan kemarahan mereka akan menyeretmu ke neraka
jahannam. Sebagaiman hadits dibawah ini:

BIMBINGAN MASYARAKAT ISLAM, KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KAB. BOALEMO


8
[ KHUTBAH IDUL FITRI 1440 H ]

ُ
ْ ‫س ْخ ِط‬
ُ‫ُال َوا ِلدَي ِْن‬ ‫س ْخ ه‬
‫طُللاُِفِىُ ه‬ ‫ُو ه‬ ْ ‫ض‬
َ ‫ىُال َوا ِلدَي ِْن‬ َ ‫ُر‬
ِ ‫ُفى‬
ِ ِ‫ضىُللا‬
َ ‫ِر‬
“Keridloan Allah tergantung kepada keridloan orang tua dan kemarahan Allah
tergantung kemarahan orang tua”

Jamaah Sholat ied yang dirahmati Allah….

Berbahagialah kita yang masih memiliki Ibu dan Bapak ataupun


salah satu diantaranya. Terutama ibu yang bisa membawa kita masuk
surga. Apabila mereka sudah tua renta, tak berdaya, tergelatak tidak bisa
apa-apa. Hari-harinya sudah tidak lagi ceria, menunggu masa sakaratul
maut seraya menahan rasa sakitnya. Ingin berbuat banyak namun sudah
tidak bisa. Ingin minta tolong, malu dengan anak dan menantunya. Semua
keinginan dikubur dalam hatinya. Menunggu dan menunggu siapa yang
peduli dan dapat memberi kasih sayang kepadanya….

Dalam Kondisi seperti ini para hadirin semua……….


Inilah ladang amal kita yang sangat besar. Apabila kita termasuk
anak yang peduli, mau meringankan beban mereka, mengurusi mereka,
mengasihi, menyayangi dan meringankan beban hidupnya. Maka
surgalah balasannya. Kita harus menyadari, apapun yang pernah kita
lakukan selaku anak kepada bapak ibu kita. Berapapun yang pernah kita
berikan kepada mereka. Demi Allah…. Belum bisa setimpal dan jauh dari
pengorbanan orang tua kepada kita.
Kasih sayang mereka tidak terbalaskan dengan cinta dan
penghormatan kita kepada mereka. Ingatlah masa-masa kecil ketika kita
tidak bisa berbuat apa-apa. Kita dicium, digendong dan dituntun oleh
mereka. Bagaimana sekarang ketika mereka yang tidak bisa berbuat apa-
apa, tergeletak sakit sendirian dirumah tua. Berapa kali kita
menengoknya, menciumnya, menggendongnya dan menuntunnya?
Berapa kali kita suapi mereka sebagaimana dulu mereka menyuapi kita?
Berapa kali kita ucapkan terima kasih kepadanya? Berapa kali kita
tersenyum kepada mereka? Berapa kali kita memeluk mereka dengan
penuh kasih sayang sebagaimana mereka memeluk kita sembari
mencium kita?
Demi Allah, tak sedetikpun mereka meminta balasan atas jerih
payah mereka membesarkan kita. Tak serupiah pun mereka meminta dari
gaji ataupun penghasilan yang kita punya untuk membayar setiap
pengorbanan mereka untuk membesarkan kita hingga hari ini. Sungguh,

BIMBINGAN MASYARAKAT ISLAM, KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KAB. BOALEMO


9
[ KHUTBAH IDUL FITRI 1440 H ]

melihat kita dalam keadaan tersenyum bahagiah adalah kebahagiaan


bagi mereka.

Oleh karena itu Hadirin rahimakumullah….


Inilah salah satu waktu yang tepat bagi kita untuk mengulurkan
tangan dan bersimpuh dihadapannya. Ciumlah tangan yang dulu lembut
membelai kita namun sekarang sudah mulai keriput di makan usia.
Tangan yang menyuapi kita dengan cinta dan kasih, tangan yang
membersihkan kotoran tatkala kita belum tahu apa-apa dan mempunyai
apa-apa. Lantas ketika kita sudah memiliki segalanya lalu kita melupakan
mereka. Minta maaflah kepadanya, selagi mereka masih ada. Teleponlah
mereka ketika mereka jauh dihadapan kita, Mohon keikhlasan dan do’a
restunya. Sungguh suara kita dari kejauhan pun sudah membuat mereka
berbahagia. Mari do’akan mereka agar diberi kemudahan oleh Allah SWT
dalam menjalani hidupnya. Do’akan agar ia tetap terjaga iman islamnya.
Do’akan ketika ia kembali menghadap Allah dengan khusnul khotimah
dan kita sabar menghadapinya.
Namun Hadirin Rahimakumullah………
Apabila kedua orang tua kita sudah tiada, bukan berarti kita tidak
bisa menebus kesalahan kita kepada mereka. Dalam sebuah hadits
disebutkan bahwa apabila seseorang yang kedua orangtuanya sudah
meninggal dunia sedang ia mendurhakainya, kemudian ia sering
mendoakan dan meminta ampunan untuknya, dengan sebab itulah ia
dapat digolongkan sebagai anak yang berbakti kepada orang tua.
Oleh karena itu, sekiranya ada waktu luang, kunjungilah makam
orang tua, lihatlah ia. Tergeletak didalam kubur tak berdaya, memohon
belas kasihan do’a dari anak dan keluarganya. Ia pasti akan tersenyum
ketika ada yang mendatangi dan mendoakannya. Tentunya ia akan sedih
jika penghuni kubur yang lain dikirim do’a sementara ia tidak ada satupun
yang mengunjunginya. Hadiahkanlah surat al fatehah untuk mereka
sebagai hadiah terindah dari kita, sebutlah nama mereka dalam sujud
terakhir kita, demi Allah itu lebih utama dan paling utama.
Marilah hadirin, selagi kita masih diberi umur panjang, kita jadikan
momentum Idulfitri ini untuk dapat berbakti kepada orang tua baik mereka
masih ada maupun sudah tiada.

BIMBINGAN MASYARAKAT ISLAM, KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KAB. BOALEMO


10
[ KHUTBAH IDUL FITRI 1440 H ]

Marilah kita senantiasa mendekatkan diri, taqorrub kepada Allah


SWT dimanapun kita berada. Marilah kita membina persahabatan kepada
semua dengan penuh kasih sayang. Pererat batin antara kita agar tercipta
suasana yang marhamah penuh cinta dan kasih sayang. Dengan hati
terbuka, wajah yang berseri-seri serta senyum manis yang kita berikan
kepada setiap orang, kita ulurkan tangan untuk saling bermaaf-maafan.
Kita buka lembaran baru yang masih putih dan kita tutup halaman yang
lama yang mungkin banyak terdapat kotoran dan noda seraya
mengucapkan MINAL AIDIN WAL FAIZIN MOHON MAAF LAHIR DAN
BATHIN, semoga Allah mengumpulkan kita semua dan mencatat kita
semua dalam kelompok orang-orang yang telah diampuniNya,
diridhoiNya dan memasukkan kita semua dalam golongan orang-orang
yang bertakwa.

ُ‫ُواَ ْدخُـُِْلنَا‬
َ َ‫ُواْلم ُــ َُْقبه ْو ِليْن‬
َ َ‫ُواْلفَائِ ِزيْن‬
َ َ‫ُمنَ ُاْلعَائُِ ِديْن‬ َ ‫َجعَلَنَاُللاه‬
ِ ‫ُواِيَّا هك ْم‬
َ َ‫ُواَقه ْو هلُقَ ْو ِلىُ َهذ‬
ُ‫اُوا ْست َ ْغ ِف هر‬ َ َ‫صا ِل ِحيْن‬
َّ ‫ىُز ْم َرةُِ ِعبَا ِد ِهُال‬ ‫َواِيَّا هُك ْمُفِ ه‬
ُ‫روه‬ْ ‫تُفَا ْست َ ْغ ِف‬ ِ ‫ْنَُواْل هم ْس ِل َما‬
َ ‫سائِ ِرُاْل هم ْس ِل ِمي‬َ ‫ُو ِل‬
َ ‫ي‬ َ ‫ىُولَ هك ْم‬
َّ َ‫ُو ِل َوا ِلد‬ َ ‫للاَُ ِل‬
ُ
َّ ‫اِنَّههُ هه َواْلغَفه ْو هر‬
‫ُالر ِح ْي هُم‬

BIMBINGAN MASYARAKAT ISLAM, KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KAB. BOALEMO


‫‪11‬‬
‫] ‪[ KHUTBAH IDUL FITRI 1440 H‬‬

‫‪Khutbah Kedua‬‬

‫س ْب َحانَ ُللاُ‬ ‫اُو ه‬‫هللُ َك ِثي ًْر َ‬ ‫ُكبيراُواْل َح ْمدهُ ِ‬ ‫َ‬ ‫للاهُا َ ْكبَ ْرُ‪ُ.×9‬للاهُا َ ْكبَ ْر‬ ‫ُ‬
‫ُوهللُِاْل َح ْم ُده‬ ‫ُوللاهُا َ ْكبَ ْرُللاهُا َ ْك َب ْر َ‬ ‫ص ْيالًُالَُاِلَهَُاِالَُّللاه َ‬ ‫ُوُأ َ ْ‬ ‫به ْك َرة ً َ‬
‫ُواِ ْمتُِنَانِ ِه‪ُ.‬‬ ‫لى ُت َ ْوفِ ْي ِق ِه َ‬ ‫ع َ‬ ‫ش ْك هر ُلَهه ُ َ‬ ‫‪.‬وال ُّ‬ ‫سانِ ِه ُُ َ‬ ‫لى ُاِ ْح َ‬ ‫ع َ‬ ‫اْل َح ْمده ُهللِ ُ َ‬
‫س ِيِّدَنَاُ‬ ‫ه‪ُ.‬وا َ ْش َهدهُا َ َّن ُ َ‬ ‫ُو ْحدَههُالَ ُش َِري َْك ُلَه َ‬ ‫َوا َ ْش َهدهُاَ ْن ُالَ ُاِلَهَ ُاِالَُّللاه َ‬
‫س ِلِّ ْمُ‬
‫ُو َ‬ ‫ص ِِّل َ‬ ‫ُرض َْوانِ ِهُ‪ُ.‬الل هه َّمُ َ‬ ‫لى ِ‬ ‫س ْولهههُالدَّا ِعىُاِ َ‬ ‫ُو َر ه‬ ‫ع ْبدههه َ‬ ‫هم َح َّمدًاُ َ‬
‫سُِلِّ ْمُت َ ْس ِل ْي ًماُ ِكثي ًْرا‪ُ.‬ا َ َّماُ‬ ‫ُو َ‬ ‫ص َحا ِب ِه َ‬ ‫ُواَ ْ‬ ‫علَىُا َ ِل ِه َ‬ ‫ٍُو َ‬ ‫س ِيِّ ِدنَاُ هم َح َّمد َُ‬ ‫علَىُ َ‬ ‫َ‬
‫ع َّما ُنَ َهىُ‬ ‫ُوا ْنت َ هه ْوا ُ َ‬ ‫اس ُاِتَّقهوللاَ ُ ِف ْي َما ُا َ َم َر‪َ .‬‬ ‫بَ ْعده ُفَيا َ ُاَيُّ َها ُالنَّ ه‬
‫ُوثَـُنَّىُ ِب َمآلُ‬ ‫‪.‬وا ْعلَ هم ْواُا َ َّنُللاُِّا َ َم َر هك ْمُ ِبا َ ْم ٍرُبَدَأَُ ِف ْي ِهُ ِبنَ ْف ِس ِه َ‬ ‫َوزَ َج َر َ‬
‫ئِ َكتِ ِهُ ِبقه ْد ِس ِهُ‬
‫لىُالنَّ ِبىُيآُاَيُّ َهاُالَّ ِذيْنَ ُ‬ ‫ع َ‬ ‫صلُّ ْونَ ُ َ‬ ‫ُو َمآلُئِ َكتَههُيه َ‬ ‫َوقَا َلُتَعاَلَىُاِ َّنُللاَ َ‬
‫س ِيِّ ِدنَاُ‬ ‫علَىُ َ‬ ‫س ِلِّ ْمُ َ‬
‫ُو َ‬ ‫ص ِِّل َ‬ ‫س ِلِّ هم ْواُت َ ْس ِل ْي ًما‪ُ.‬الل هه َّمُ َ‬ ‫ُو َ‬ ‫علَ ْي ِه َ‬ ‫صلُّ ْواُ َ‬ ‫آ َمنه ْواُ َ‬
‫علَىُ‬ ‫ُو َ‬ ‫س ِيِّ ِدنا َ ُ هم َح َّم ٍد َ‬ ‫ُآل ُ َ‬ ‫علَى ِ‬ ‫ُو َ‬ ‫س ِلِّ ْم َ‬ ‫ُو َ‬ ‫علَ ْي ِه َ‬ ‫صلَّى ُللاه ُ َ‬ ‫هم َح َّم ٍد ُ َ‬
‫اءُ‬ ‫ع ِن ُاْل هخلَفَ ِ‬ ‫ضُ َ‬ ‫ار َ‬ ‫ُو ْ‬ ‫ُواْلم ُــ َآل ِئ َك ِة ُاْلمـُـ هقَ َّر ِبيْنَ َ‬ ‫س ِل َك َ‬ ‫ُو هر ه‬ ‫ا َ ْن ِبيآ ِئ َك َ‬
‫ص َحابَ ِةُ‬ ‫ع ْنُبَ ِقيَّ ِةُال َّ‬ ‫ىُو َ‬ ‫ع ِل َ‬ ‫عثْ َم َ‬
‫انُو َ‬ ‫ع َم َُرُ َو ه‬ ‫ُو ه‬ ‫الرا ِش ِديْنَ ُا َ ِبىُبَ ْك ٍر َ‬ ‫َّ‬
‫ضُ‬ ‫ار َ‬ ‫ُو ْ‬ ‫ْن َ‬ ‫انُاِلَىُيَ ْو ِمُال ِدِّي ُِ‬ ‫س ٍ‬ ‫ُوتَا ِب ِعيُالتَّا ِب ِعيْنَ ُلَ هه ْمُ ِبا ِْح َ‬ ‫َوالتَّا ِب ِعيْنَ َ‬
‫اح ِميْنَُ‪.‬‬ ‫ُالر ِ‬ ‫عنَّاُ َمعَ هه ْمُ ِب َر ْح َمتِ َكُيَاُا َ ْر َح َم َّ‬ ‫َ‬
‫تُ‬ ‫ُواْل هم ْس ِل َما ِ‬ ‫ُواْل هم ْس ِل ِميْنَ َ‬ ‫ت َ‬ ‫ُواْل همؤْ ِمنَا ِ‬ ‫الل هه َّم ُا ْغ ِف ْر ُ ِل ْل همؤْ ِم ِنيْنَ َ‬
‫ُوأ َ ِذ َّلُ‬ ‫ُواْلمُـ ه ْس ِل ِميْنَ َ‬ ‫ت‪ُ.‬الل هُه َّمُاَ ِع َّزُاْ ِال ْسالَ َم َ‬ ‫ُواْالَ ْم َوا ِ‬ ‫ُم ْن هه ْم َ‬‫يآء ِ‬ ‫اَالَ ْح ِ‬
‫ص ْرُ َم ْنُ‬ ‫ْنُوا ْن ه‬ ‫ص ْرُ ِعبَادَ َكُاْلمـــهـ َو ِ ِّح ِدي َ‬ ‫ْنَُوا ْن ه‬ ‫ُواْلمـُـ ه ْش ُِر ِكي َ‬ ‫ش ُْر َك َ‬ ‫ال ِ ِّ‬
‫ُو ُدَ ِ ِّم ْر ُا َ ْعدَا َءال ِدِّي ِْنُ‬ ‫اخذه ْل ُ َم ْن ُ َخذَ َل ُاْلمـُـ ه ْس ِل ِميْنَ َ‬ ‫ُ‪.‬و ْ‬ ‫ص َر ُال ِدِّيْنَ َ‬ ‫نَ َ‬
‫َوا ْع ِلُ َك ِل َماتِ َكُاِلَىُيَ ْو ِمُال ِدِّي ِْنُ‪.‬‬
‫ُواْ ِلم َحنَ ُ‬ ‫س ْو َء ُاْل ِفتْنَ ِة َ‬ ‫ُو ه‬ ‫ُواْ ِلم َحنَ َ‬ ‫ُواْ َلوُبَاءَُ َ‬ ‫عنَّاُاْلبَالَ َء َ‬ ‫الل هه َّم ُا ْدفَ ُْع ُ َ‬
‫سا ِئ ِرُ‬ ‫ُو َ‬ ‫صةً َ‬ ‫ع ْن ُبَلَ ِدنَا ُاِ ْندهو ِن ْي ِسيَّا ُخآ َُّ‬ ‫طنَ ُ َ‬ ‫ُو َما ُبَ َ‬ ‫ُم ْن َها َ‬ ‫ظ َه َر ِ‬ ‫َما ُ َ‬

‫‪BIMBINGAN MASYARAKAT ISLAM, KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KAB. BOALEMO‬‬


‫‪12‬‬
‫] ‪[ KHUTBAH IDUL FITRI 1440 H‬‬

‫ب ُاْلعَالَ ِميْنَ ‪َ .‬‬


‫ُربَّنَا ُ َ‬
‫ظلَ ْمنَاُ‬ ‫ُر َّ‬ ‫ان ُاْلمـُـ ه ْس ِل ِميْنَ ُعآ َّمةً ُيَا َ‬ ‫اْلبه ْلدَ ِ‬
‫ُمنَ ُاْلخَا ِس ِريْنَ َ‬
‫‪ُ.‬ربَّنَاُ‬ ‫َاُوت َ ْر َح ْمنَاُلَنَ هك ْون ََّن ِ‬
‫سن ََاواِ ْن ُلَ ْم ُت َ ْغ ِف ْر ُلَن َُ‬
‫ا َ ْنفه َ‬
‫عذ َ َ‬
‫ابُالنَّار‬ ‫سنَةً َ‬
‫ُوقِنَاُ َ‬ ‫آلخ َرةُِ َح َ‬ ‫ُوفِىُاْ ِ‬ ‫سنَةً َ‬
‫آتِناَُفِىُالدُّ ْنيَاُ َح َ‬

‫ام ُ َُوُأ َُْنُت ه ُْم ُُِب َُ‬


‫خُْي ٍُر ُ ِمنَ ُاْلعَائُِ ِديْنَ ُ‬ ‫ع ٍُ‬ ‫للاه ُ ُِمُنَّا ُ َُو ُِمُْن هُك ُْم ُ َُو هُك َُّ‬
‫ل ُ َُ‬ ‫لُ ُ‬ ‫ُت َُقَُبَّ َُ‬
‫َواْلفَا ِئ ِزيْنَُ ُ‬
‫ُ‬
‫والسالم عليكم ورحمة هللاه وبركاته‬

‫‪BIMBINGAN MASYARAKAT ISLAM, KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KAB. BOALEMO‬‬