Anda di halaman 1dari 9

MACAM-MACAM TEKNIK SAMPLING

Cara Pengambilan Sampel bermacam-macam tergantung jenis penelitian


yang akan dilakukan. Secara garis besar, metode pengambilan sampel terdiri
dari 2 kelas besar yaitu
 Probability Sampling (Random Sample)
 Non- Probability Sampling (Non-Random Sample).
A. Probability Sampling/Acak (Random Sample)

Probability sampling adalah Metode pengambilan sampel secara


random atau acak. Dengan cara pengambilan sampel ini.
Seluruh anggota populasi diasumsikan memiliki kesempatan yang
sama untuk terpilih menjadi sampel penelitian. Metode ini terbagi menjadi
beberapa jenis yang lebih spesifik, antara lain:
1. Pengambilan Sampel Acak Sederhana (Simple Random Sampling)
Pengambilan sampel acak sederhana disebut juga Simple Random
Sampling. Teknik penarikan sampel menggunakan cara ini memberikan
kesempatan yang sama bagi setiap anggota populasi untuk menjadi sampel
penelitian. Cara pengambilannya menggunakan nomor undian.
Terdapat 2 pendapat mengenai metode pengambilan sampel acak
sederhana. Pendapat pertama menyatakan bahwa setiap nomor yang
terpilih harus dikembalikan lagi sehingga setiap sampel memiliki
presentase kesempatan yang sama. Pendapat kedua menyatakan bahwa
tidak diperlukan pengembalian pada pengambilan sampel menggunakan

1
metode ini. Namun, metode yang paling sering digunakan adalah Simple
Random Sampling dengan pengembalian.
Kelebihan metode ini yaitu dapat mengurangi bias dan dapat
mengetahui standard error penelitian. Sementara kekurangannya yaitu
tidak adanya jaminan bahwa sampel yang terpilih benar-benar dapat
merepresentasikan populasi yang dimaksud.
Contoh Pengambilan Sampel Metode Acak Sederhana:
Dalam suatu penelitian dibutuhkan 30 sampel, sedangkan populasi
penelitian berjumlah 100 orang. Selanjutnya peneliti membuat undian
untuk mendapatkan sampelpertama.
Setelah mendapatkan sampel pertama, maka nama yang terpilih
dikembalikan lagi agar populasi tetaputuh sehingga probabilitas
responden berikutnya tetap sama dengan responden pertama. Langkah
tersebut kembali dilakukan hingga jumlah sampel memenuhi kebutuhan
penelitian.
2. Pengambilan Sampel Acak Sistematis (Systematic Random Sampling)
Metode pengambilan sampel acak sistematis menggunakan interval
dalam memilih sampel penelitian. Misalnya sebuah penelitian
membutuhkan 10 sampel dari 100 orang, maka jumlah kelompok
intervalnya 100/10=10. Selanjutnya responden dibagike dalam masing-
masing kelompok lalu diambil secara acak tiap kelompok.
Contoh Sampel Acak Sistematis adalah pengambilan sampe
lpada setiap orang ke-10 yang datang kepuskesmas. Jadi setiap orang yang
datang di urutan 10,20,30 dan seterusnya maka itulah yang dijadikan
sampel penelitian.
3. Pengambilan Sampel Acak Berstrata (Stratified Random Sampling)
Metode Pengambilan sampel acak berstrata mengambil sampel
berdasar tingkatan tertentu. Misalnya penelitian mengenai motivasi kerja
pada manajer tingkat atas, manajer tingkat menengah dan manajer tingkat
bawah. Proses pengacakan diambil dari masing-masing kelompok
tersebut.

2
4. Pengambilan Sampel Acak Berdasar Area (Cluster Random
Sampling)
Cluster Sampling adalah teknik sampling secara berkelompok.
Pengambilan sampel jenis ini dilakukan berdasar kelompok / area tertentu.
Tujuan metode Cluster Random Sampling antara lain untuk meneliti
tentang suatu hal pada bagian-bagian yang berbeda di dalam suatu instansi.
Misalnya, penelitian tentang kepuasan pasien di ruang rawat inap,
ruang IGD, dan ruang poli di RS A dan lain sebagainya.
5. Teknik Pengambilan Sampel Acak Bertingkat (Multi Stage Sampling)
Proses pengambilan sampel jenis ini dilakukan secara bertingkat.
Baik itu bertingkat dua, tiga atau lebih.

B. Non- Probability Sampling /Tidak Acak (Non Random Sample)

1. Purposive Sampling
Purposive Sampling adalah teknik sampling yang cukup sering
digunakan. Metode ini menggunakan kriteria yang telah dipilih oleh
peneliti dalam memilih sampel. Kriteria pemilihan sampel terbagi
menjadi criteria inklusi dan eksklusi.
Kriteria inklusi merupakan criteria sampel yang diinginkan peneliti
berdasarkan tujuan penelitian. Sedangkan criteria eksklusi merupakan
criteria khusus yang menyebabkan calon responden yang memenuhi
criteria inklusi harus dikeluarkan dari kelompok penelitian. Misalnya,
calon responden mengalami penyakit penyerta atau gangguan psikologis
yang dapat memengaruhi hasil penelitian.

3
Contoh Purposive Sampling: penelitian tentang nyeri pada pasien
diabetes mellitus yang mengalami luka pada tungkai kaki. Maka criteria
inklusi yang dipakai antara lain:
2. Snowball Sampling
Snowball Sampling adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan
wawancara atau korespondensi. Metode ini meminta informasi dari sampel
pertama untuk mendapatkan sampel berikutnya, demikian secara terus
menerus hingga seluruh kebutuhan sampel penelitian dapat terpenuhi.
Metode pengambilan sampel Snowball atau Bola salju ini sangat
cocok untuk penelitian mengenai hal-hal yang sensitive dan membutuhkan
privasi tingkat tinggi, misalnya penelitian tentang kaum waria, penderita
HIV, dan kelompok khusus lainnya.
3. Accidental Sampling
Pada metode penentuan sampel tanpa sengaja (accidental) ini,
peneliti mengambil sampel yang kebetulan ditemuinya pada saat itu.
Penelitian ini cocok untuk meneliti jenis kasus penyakit langka yang
sampelnya sulit didapatkan.
Contoh penggunan metode ini, peneliti ingin meneliti tentang
penyakit Steven Johnson Syndrom yaitu penyakit yang merusak seluruh
mukosa atau lapisan tubuh akibat reaksi tubuh terhadap antibiotik.
Kasus Steven Johnson Syndrome ini cukup langka dan sulit sekali
menemukan kasus tersebut. Dengan demikian, peneliti mengambil sampel
saat itu juga, saat menemukan kasus tersebut. Kemudian peneliti
melanjutkan pencarian sampel hingga periode tertentu yang telah
ditentukan oleh peneliti.
Tehnik pengambilan sampel dengan cara ini juga cocok untuk
penelitian yang bersifat umum, misalnya seorangpeneliti ingin meneliti
kebersihan Kota Bandung. Selanjutnya dia menanyakan tentang
kebersihan Kota Bandung pada warga Bandung yang diatemui saat itu.
4. Quota Sampling
Metode pengambilan sampel ini disebut juga Quota Sampling.
Tehnik sampling ini mengambil jumlah sampel sebanyak jumlah yang

4
telah ditentukan oleh peneliti. Kelebihan metode ini yaitu praktis karena
sampel penelitian sudah diketahui sebelumnya, sedangkan kekurangannya
yaitu bias penelitian cukup tinggi jika menggunakan metode ini.
Teknik pengambilan sampel dengan cara ini biasanya digunakan
pada penelitian yang memiliki jumlah sampel terbatas. Misalnya,
penelitian pada pasien lupus atau penderita penyakit tertentu. Dalam suatu
area terdapat 10 penderita lupus, maka populasi tersebut dijadikan sampel
secara keseluruhan ,inilah yang disebut sebagai Total Quota Sampling.

5. Teknik Sampel Jenuh


Teknik Sampling Jenuha dalah teknik penentuan sampel yang
menjadikan semua anggota populasi sebagai sampel dengan syarat
populasi yang ada kurang dari 30 orang

CONTOH-CONTOH DATA NOMINAL, ORDINAL, INTERVAL DAN


RASIO

1. Nominal
Data berjenis nominal membedakan data dalam kelompok yang bersifat
kualitatif. Dalam ilmu statistika, data nominal merupakan data dengan level
pengukuran yang paling rendah.
Contohnya :

 data jenis kelamin pada sampel penelitian Departemen Pendidikan, data


siswa dikategorikan menjadi ’laki-laki’ yang diwaliki angka 1 dan
’perempuan’ yang diwakili angka 2. Konsekuensi dari data nominal adalah
tidak mungkin seseorang memiliki dua kategori sekaligus dan angka yang
digunakan di sini hanya sebagai kode/simbol saja sehingga tidak dapat
dilakukan operasi matematika.

5
 Mengelompokan eskul disuatu SMA dari bidang olahraga, data eskul
dikategorikan menjadi “basket” yang diwakili dengan huruf A, kemudian
“footsal” diwakili dengan huruf B dan “bolavoli” diwakili oleh huruf C.
 Pengelompokan rumah-rumah dalam suatu perumahan, misal dari sebelah
“utara” komplek A, “barat” adalah komplek B, “selatan” adalah C danarah
“timur” adlah komplek D.
 Sebuah gedung bioskop, para penonton diberikan no kursi duduk yang
berbeda agar tidak terjadi perebutan kursi.
 Dalam salah pesantren antara santriwan dan santriwati asramanya
dipisahkan dengan diberi symbol untuk santriwan A2 sedangkan untuk
santriwati adalah B2.

2. Ordinal
Dalam ilmu statistika, data berjenis ordinal mempunyai level pengukuran
yang lebih tinggi daripada data nominal dan termasuk data kualitatif. Pada data
nominal semua data dianggap bersifat kualitatif dan setara, sedangkan pada data
ordinal terdapat klasifikasi data berdasarkan tingkatannya.
Contohnya:

 Mengenai tingkat pendidikan yang dikategorikan menjadi ’SD’ yang


diwakili angka 1, ’SMP’ yang diwakili angka 2, ’SMA’ yang diwakili
angka 3, ’Diploma’ yang diwakili angka 4, dan ’Sarjana’ yang diwakili
angka 5. Sama halnya dengan data nominal, meskipun tingkatannya lebih
tinggi, data ordinal tetap tidak dapat dilakukan operasi matematika. Angka
yang digunakan hanya sebagai kode/simbol saja, dalam contoh tadi tingkat
pendidikan tertinggi adalah ’Sarjana’ dan terendah adalah ’SD’ (Sarjana >
Diploma > SMA > SMP > SD).
 Suatu peringkat ranking disuatu kelas misalkan Ihsan ranking 1 dan udin
ranking 2 berarti ihsan lebih pintar dari pada udin.
 Penghitungan suara dalam pemilu, misalkan total suara Demokrat 60%,
PDI 30%, Golkar 20% berarti suara tertinggi di pegang oleh demokrat
sebagai peringkat 1, sehinnga menjadi pemenang dalam pemilu tersebut.

6
 Dalam suatu survei bahwa pelajar di jawa barat 67% mengaku mengalami
seks pranikahsedangkan pelajar di jawa timur hampir 84% mengalami seks
pranikah, dalam hal ini jawatimur memegang angka tertinggi dalam survei
ini.
 Pada tingkatan Taekwondo memiliki beberapa tahapan sabuk misalkan
dari awal sabuk putih, kuning, hijau, biru, merah dan yang terakhir hitam.
3. Interval
Data berjenis interval termasuk dalam kelompok data kuantitatif. Dalam
ilmu statistika, data Interval mempunyai tingkat pengukuran yang lebih tinggi dari
pada data nominal maupun ordinal. Angka yang digunakan dalam data ini, selain
menunjukkan urutan juga dapat dilakukan operasi matematika. Angka nol yang
digunakan pada data interval bukan merupakan nilai nol yang nyata.
Contohnya:

 Interval nilai pelajaran matematika siswa SMA 4 Surabaya adalah antara 0


sampai 100. Bila siswa A dan B masing-masing mempunyai nilai 45 dan
90, bukan berarti tingkat kecerdasan B dua kali A. Nilai 0 sampai 100
hanya merupakan rentang yang dibuat berdasarkan kategori pelajaran
matematika dan mungkin berbeda dengan mata pelajaran lain.
 Dasar Pemrograman memiliki 1 SKS, waktunya adalah 50 menit,
begitupun dengan Teknik Digital yang memiliki 2 sks berarti waktunya
100 menit, dan yang terakhir yaitu kalkulus memiliki 3 SKS waktunya
adalah 150 menit sehingga dapat disimpulkan bahwa selisih data diatas
adalah 50 menit.
 Kecepatan masing – masing orang dalam berkendara di jalan raya,
Maharani jika berkendaraan dengan kecepatan 20 – 40 km/jam masuk
keukuran pelan, untuk Ichsan dalam berkendaraan memiliki kecepatan 50
– 60 km/jam maka masuk kedalam ukuran sedang dan yang terakhir
Valentina Rosi dalam berkendaraannya selalu berkecepatan 70 – 80
km/jam maka masuk keukuran cepat.
 Rata – rata tinggi badanberdasarkanusia, untukanak – anak yang berusia 6
– 12 memiliki rata – rata tinggi badan 130 – 145 cm, untuk remaja yang
berusia 13 – 18 memiliki rata – rata tinggi badan 146 – 160 cm, dan untuk

7
dewasa yang berusia 19 – 26 cm memiliki rata – rata tinggi badan 161 –
199 cm.
 Pengiriman barang keberbagai tempat, seperti contoh diatas Sinta
mengirimkan barang dari Bandung ke Jakarta dengan hargaRp. 10.000,-
/kg, dan Santi mengirimkan dari bandungke Yogyakarta dengan harga Rp.
20.000,- /kg sedangkan Santa mengirimkan barang dari Bandung ke
Surabaya dengan harga Rp. 30.000,- /kg.

4. Rasio
Dalam ilmu statistika, data rasio merupakan tipe data dengan level
pengukuran yang paling tinggi dibandingkan dengan tipe data lain. Data ini
termasuk dalam kelompok data kuantitatif. Angka yang digunakan pada data ini
menunjukkan angka yang sesungguhnya, bukan hanya sebagai symbol dan
memiliki nilai nol yang sesungguhnya. Pada data ini, dapat dilakukan berbagai
operasi matematika.

Contohnya :

 Dalam sebuah bank, seseorang mempunyai tabungan dengan saldo


10.000.000 rupiah. Angka tersebut menunjukkan bahwa orang tersebut
benar-benar mempunyai saldo sebesar 10.000.000 rupiah. Jika seseorang
mempunyai saldo -1.000.000 rupiah berarti orang tersebu tmempunyai
hutang sebesar 1.000.000 rupiah. Sedangkan jika seseorang mempunyai
saldo 0 rupiah berarti orang tersebut tidak mempunyai tabungan maupun
hutang.
 Nilai raport siswa SMA dimana masing – masing siswa memiliki nilai
yang berbeda yaitu Muizmen dapatkan nilai 100 (A), Cinta 80 (B),
danPutri 60 (C) jika dilihat dari skala rasio nilai Muiz memiliki nilai lebih
20 dari pada nilai Cinta, Cinta memiliki nilai lebih 20 dari pada nilai Putri,
dan nilai putri kurang 40 untuk sama dengan Muiz.
 Berat bayi dimana bayi A beratnya adalah 3, B adalah 2, dan C adalah
1, jika dilihat menggunakan skala rasio berat badan bayi A tiga kali lipat
dari berat badan bayi C, berat badan bayi B dua kali lipat dari C.

8
 Tinggi badan dari masing – masing data yang dikumpulkan, jika dilihat
dari skalarasio Ichsan lebih tinggi 10 cm dari pada Muiz, dan Muiz lebih
tinggi 10 cm dari pada Chaby, dan chaby paling pendek diantara Ichsan
dengan Muiz.
 Pekerjaan dan penghasilan bulanan, dimana gajihnya bermacam – macam,
jika dilihat berdasarkan skala rasio gajih Ichsan lebih besar dari pada gajih
Kosim sebagai karyawan, dan gajih Udin lebih lebih kecil dari pada gajih
Kosim.