Anda di halaman 1dari 29

KOMPONEN-KOMPONEN PEMBELAJARAN

Makalah
diajukan untuk memenuhi syarat tugas mata kuliah Kurikulum dan Pembelajaran

Disusun oleh:
Lupi Hermawan 1601983
Rizky Ramadhan 1602440

DEPARTEMEN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG


UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2018
BAB I

PEMBAHASAN

1. Pembelajaran sebagai Sistem


a. Sistem Pendidikan

Dalam menjalankan kehidupannya, manusia tidak lepas dan


tidak akan pernah lepas dari pendidikan, karena pada dasarnya
pendidikan memiliki fungsi untuk meningkatkan kualitas manusia
secara individu maupun kelompok, baik dalam aspek jasmani, rohani,
spiritual, material, maupun kematangan berpikir―dengan kata lain
pendidikan berfungsi untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia.

Langeveld (dalam Soelaeman, 1983) mengemukakan bahwa


pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh orang dewasa
terhadap pihak lain yang belum dewasa agar mencapai kedewasaan.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan
adalah sebuah perbuatan untuk mengubah manusia menjadi manusia
seutuhnya―yakni menjadi manusia yang memiliki kualitas pemikiran
yang matang sebagai faktor pendewasaan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sistem pendidikan


merupakan keseluruhan sistem yang terpadu dari satuan kegiatan
pendidikan yang berkaitan satu sama lain untuk mencapai tujuan
pendidikan. Dengan kata lain sistem pendidikan ialah kumpulan
komponen yang ada dalam pendidikan yang saling berkaitan satu sama
lain demi tercapainya tujuan pendidikan.

Sistem pendidikan di Indonesia sebagaimana disebutkan dalam


UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa
sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan
yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan
nasional. Tujuan pendidikan nasional yang dimaksud yakni untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.

b. Sistem Pembelajaran

Rusman (2016, hlm. 3) menyatakan bahwa pembelajaran adalah


proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar. Pembelajaran yang dilakukan oleh seorang
pendidik merupakan sebuah sistem karena pembelajaran adalah
kegiatan untuk membelajarkan peserta didik yang di dalamnya
melibatkan berbagai komponen.

Sistem dalam pembelajaran memiliki arti terdapat pemahaman


pendidik bahwa pada proses belajar mengajar harus didukung oleh
berbagai komponen secara utuh dan komprehensif―apabila salah satu
komponen ditinggalkan maka akan menimbulkan kegagalan pada
proses belajar mengajar tersebut. Dengan kata lain seorang pendidik
tidak cukup hanya menguasai materi atau pandai menggunakan media
dan metode saja, melainkan seorang pendidik harus mampu
melaksanakan semua faktor yang ada dalam pembelajaran secara
komprehensif.

2. Komponen-komponen Pembelajaran

Dalam praktik pembelajaran terdapat komponen-komponen yang dijadikan


sebagai acuan dalam menentukan bahan pembelajaran, seperti tujuan pembelajaran,
isi pembelajaran, metode/strategi pembelajaran, media pembelajaran, dan evaluasi
pembelajaran. Kelima komponen itu sangat berkaitan, karena pembelajaran
merujuk pada tujuan yang telah ditentukan, lalu dilanjutkan dengan bagaimana
materi itu disampaikan dan strategi seperti apa yang digunakan dengan
menggunakan media yang sesuai. Dalam menentukan evaluasi pun harus merujuk
pada tujuan dari pembelajaran, bahan, yang disediakan serta strategi dan media
yang digunakan, begitu juga dengan komponen lainnya saling bergantung. Berikut
penjelasan dari tiap-tiap komponen dalam pembelajaran.
A. Komponen Tujuan Pembelajaran
1. Hierarki Tujuan

Tujuan pembelajaran merupakan suatu target yang ingin dicapai,


oleh kegiatan pembelajaran. Tujuan pembelajaran memiliki tingkatan sesuai
dengan apa yang diharapkan atau yang ingin dicapai. Dimulai dari tujuan
pembelajaran (umum dan khusus), kemudian tujuan yang bertingkat,
berakumulasi, dan bersinergi dalam menciptakan tujuan yang tingkatannya
lebih tinggi. Secara umum jenjang hierarki tujuan pembelajaran sebagai
berikut; (a). Tujuan Pendidikan Nasional (membentuk manusia Indonesia
seutuhnya), (b). Tujuan Institusional (Jenjang dan jenis persekolahan), (c).
Tujuan Kurikuler (Mata Pelajaran), (d). Tujuan Pembelajaran Umum (Mata
Pelajaran), serta (e). Tujuan Pembelajaran Khusus (KBM/Bahasan).

1) Tujuan pendidikan Nasional

Tujuan pendidikan atau sering disebut juga dengan tujuan


pendidikan nasional merupakan tujuan yang sifatnya umum dan
merupakan tujuan jangka panjang yang didasari oleh falsafah
Negara. Sesuai dengan yang tercantum dalam Tap MPRS No. IV/
MPRS /1996 Bab II pasal 3 bahwa tujuan pendidikan yaitu
membentuk manusia sejati berdasarkan Pancasila sejati berdasarkan
ketentuan-ketentuan seperti yang dikehendaki pembukaan dan isi
Undang-undang Dasar 1945.

Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan


Nasional, tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan
bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia-
manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan
berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan
jasmani dan rohani, kepribadian yang manta dan mandiri, serta rasa
tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

2) Tujuan Institusional
Tujuan institusional merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan
dan biasanya terdapat pada sekolah atau lembaga pendidikan lainnya. Oleh
karena itu, tujuan ini akan berbeda di tiap sekolah atau lembaga pendidikan,
tergantung apa yang dicita-citakan oleh sekolah atau lembaga
pendidikannya. Tujuan institusional sifatnya lebih konkret jika
dibandingkan dengan tujuan pendidikan, tujuan ini juga dapat dilihat dari
kurikulum setiap lembaga pendidikan nasional.

3) Tujuan Kurikuler

Tujuan kurikuler adalah tujuan yang ingin dicapai oleh setiap bidang
studi/mata pelajaran. Tujuan ini dapat dilihat dari GBPP(Garis-garis Besar
Program Pendidikan) setiap bidang studi. Tujuan kurikuler merupakan
penjabaran dari tujuan institusional, sehingga hasil dari setiap tujuan ini
akan menggambarkan dari tujuan institusional.

4) Tujuan Instruksional/Pembelajaran
Tujuan instruksional adalah tujuan yang ingin dicapai dari setiap
kegiatan instruksional atau pembelajaran. Tujuan instruksional ini
dibedakan menjadi dua yaitu, tujuan instruksional umum dan tujuan
instruksional khusus.
a. Tujuan Instruksional Umum
Tujuan instruksional umum adalah tujuan yang perubahan
perilaku atau tingkah laku dan masih belum dapat di ukur dan lihat
lebih spesifik, tetapi hanya dapat dilihat dalam perubahan internal
saja. Tujuan ini dapat dilihat dar setiap pokok bahasan yang terdapat
dalam GBPP.
b. Tujuan Instruksional Khusus
Tujuan instruksional khusus adalah menjelaskan atau
spesifikasi maksud dari tujuan instruksional umum agar dapat
memudahkan dalam mengukur tingkat tercapainya. Di sini perilaku
dan tingkah laku sudah dapat di ukur
Untuk memudahkan dalam perumusan dari tujuan
instruksional khusus ini dapat dilakukan dngan memilahnya menjadi
empat komponen, yaitu ABCD. A= Audience, B= Behavior, C=
Condition, dan D= Degree (Baker, 1972).

Dari penjelasan tujuan-tujuan tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan dari


pembelajaran merupakan dasar atau acuan yang digunakan dalam menentukan
materi, strategi, media dan evaluasi pembelajaran. Tujuan dari pembelajaran ini
juga digunakan untuk melihat keberhasilan dalam mendidik dilihat dari segi
perilaku atau tingkah laku pembelajar agar sesuai dengan falsafah Negara.

2. Klasifikasi Tujuan Pembelajaran

Menurut Bloom dan kawan-kawan pengklasifikasian jenis perilaku disusun


secara hierarkis sehingga menjadi taraf-taraf yang menjadi semakin kompleks.

a. Kognitif :
 Mencakup pengetahuan ingatan yang pernah dipelajari dan disimpan dalam
ingatan
 Mencakup pemahaman untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang
dipelajari
 Mencakup kemampuan menerapkan suatu kaidah atau metode yang baru
 Mencakup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan
 Mencakup kemampuan membentuk suatu kesatuan
 Mencakup kemampuan untuk membentuk suatu pendapat
b. Afektif :
 Mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsang dan kesediaan untuk
memperhatikan
 Mencakup kerelaan untuk memperhatikan secara aktif
 Mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu
 Mencakup kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai
 Mencakup kemampuan untuk menghayati nilai-nilai kehidupan
c. Psikomotorik :
 Mencakup kemampuan untuk membedakan ciri-ciri fisik
 Mencakup kemampuan untuk menempatkan dirinya dalam memulai
gerakan
 Mencakup kemampuan untuk melakukan sesuatu rangkaian gerak gerik
 Mencakup kemampuan untuk melakukan sesuatu rangkaian gerak gerik
dengan lancar
 Mencakup kemampuan untuk melaksanakan suatu keterampilan dengan
lancar, efisien dan tepat
 Mencakup kemampuan untuk mengadakan perubahan dan menyesuaikan
Pola gerak gerik yang mahir
 Mencakup kemampuan untuk melahirkan aneka pola gerak gerik yang baru
3. Standar Kompetensi dan Dasar Kompetensi
1) Pengertian Standar Kompetensi
Standar Kompetensi mata pelajaran adalah deskripsi
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai setelah siswa
mempelajari mata pelajaran tertentu pada jenjang pendidikan tertentu
pula. Menurut Abdul Majid Standar kompetensi merupakan kerangka
yang menjelaskan dasar pengembangan program pembelajaran yang
terstruktur. Pada setiap mata pelajaran, standar kompetensi sudah
ditentukan oleh para pengembang kurikulum, yang dapat kita lihat dari
standar isi. Jika sekolah memandang perlu mengembangkan mata
pelajaran tertentu misalnya pengembangan kurikulum muatan lokal,
maka perlu dirumuskan standar kompetensinya sesuai dengan nama
mata pelajaran dalam muatan lokal tersebut,
2) Pengertian Kompetensi Dasar
Kompetensi Dasar adalah pengetahuan, keterampilan dan sikap
minimal yang harus dicapai oleh siswa untuk menunjukkan bahwa siswa
telah menguasai standar kompetensi yang telah ditetapkan, oleh karena
itulah maka kompetensi dasar merupakan penjabaran dari standar
kompetensi.
4. Kompetensi Inti

Kompetensi Inti adalah tingkat kemampuan untuk mencapai Standar


Kompetensi Lulusan yang harus dimiliki oleh peserta didik pada setiap tingkat
kelas atau program. Kompetensi Inti merupakan terjemahan atau
operasionalisasi SKL dalam bentuk kualitas. Kompetensi inti bukan untuk
diajarkan, melainkan untuk dibentuk melalui pembelajaran mata pelajaran yang
relevan. Setiap mata pelajaran harus tunduk pada kompetensi inti yang telah
dirumuskan. Dengan kata lain, semua mata pelajaran yang diajarkan dan
dipelajari pada kelas tersebut harus berkontribusi terhadap pembentukan
kompetensi inti. Ibaratnya, kompetensi inti merupakan pengikat kompetensi-
kompetensi yang harus dihasilkan dengan mempelajari setiap mata pelajaran.

5. Indikator Pembelajaran

Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai


oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan,
dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta
didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam
kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator juga
dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dari tiap lembaga pendidikan
agar sesuai dengan kebutuhan atau potensi daerah yang bersangkutan.

Menurut Darwin Syah indikator pembelajaran adalah karakteristik, ciri-ciri,


tanda-tanda perbuatan atau respons yang dilakukan oleh siswa, untuk
menunjukkan bahwa siswa telah memiliki kompetensi dasar tertentu.

B. Komponen Materi Pembelajaran


1. Pengertian Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran adalah “isi” dari kurikulum, merupakan


seperangkat alat, data dan informasi yang digunakan dalam membantu
kegiatan belajar mengajar serta disusun secara sistematis dan rinci agar
sesuai dengan standar kompetensi yang ditetapkan. Isi dari kurikulum terdiri
dari tiga unsur utama, yaitu logika (pengetahuan tentang benar-salah), etika
(pengetahuan tentang baik-buruk), estetika (pengetahuan tentang indah-
jelek). Sedangkan menurut Bloom dkk, bahan pembelajaran dibagi menjadi
kognitif (pengetahuan), afektif (sikap/nilai), dan psikomotorik
(keterampilan). Menurut Supriadie (1994) Isi kurikulum juga dapat
dikategorikan menjadi 6 jenis, yaitu; fakta, konsep/teori, prinsip, proses,
nilai, serta keterampilan.

Materi pembelajaran menempati posisi yang sangat penting dari


keseluruhan kegiatan belajar mengajar, sehingga harus dipersiapkan agar
pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran yang sesuai dengan
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Prinsip-prinsip yang dijadikan
dasar dalam menentukan materi pembelajaran adalah:

i. Relevansi (kesesuaian)
Materi pembelajaran relevan dengan tujuan pencapaian standar
kompetensi dan kompetensi dasar. Misalkan jika kemampuan yang
diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka materi
pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau prinsip
ataupun jenis materi lain.
ii. Konsistensi (keajegan)
Materi pembelajaran konsisten dengan tujuan pencapaian standar
kompetensi dan kompetensi dasar. Misalkan jika kompetensi dasar yang
harus dikuasai peserta didik ada dua macam maka materi yang diajarkan
harus juga meliputi dua macam.
iii. Adquency (kecukupan)
Materi pembelajaran yang diajarkan hendaknya cukup memadai
dalam membantu peserta didik menguasai kompetensi dasar yang diajarkan.
Materi tidak boleh terlalu sedikit dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu
sedikit maka kurang membantu tercapainya standar kompetensi dan
kompetensi dasar. Sebaliknya jika terlalu banyak maka akan mengakibatkan
keterlambatan dalam pencapaian target kurikulum.
2. Materi Pembelajaran Tematik
A. Pengertian Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang


menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran
sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.
Pembelajaran tematik juga lebih menitikberatkan pada keaktifan siswa
dalam proses pembelajaran, sehingga siswa mampu memperoleh
pengalaman secara langsung dan terlatih dalam menemukan jawaban
dari masalah yang ada.

B. Landasan Pembelajaran Tematik

Landasan Pembelajaran tematik mencakup:

a. Landasan filosofis dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi


oleh tiga aliran filsafat yaitu: (a) progresifisme, (b) konstruktivisme,
dan (c) humanisme.
 Aliran progresifisme yang memandang proses pembelajaran perlu
ditekankan pada pembentukan kekreatifan, pemberian sejumlah
kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan
pengalaman siswa.
 Aliran konstruktivisme yang melihat pengalaman langsung siswa
(direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut
aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan
manusia.
 Aliran humanisme yang melihat siswa dari segi
keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya.
b. Landasan psikologis. Dalam pembelajaran tematik terutama
berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik dan
psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama
dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan
kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai
dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologi belajar
memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi
pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan
bagaimana pula siswa harus mempelajarinya.
c. Landasan yuridis. Dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan
berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan
pembelajaran tematik di sekolah dasar. Landasan yuridis tersebut
adalah UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang
menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan
pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat
kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9). UU No.
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan
bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak
mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan
kemampuannya (Bab V Pasal 1-b).

C. Komponen Strategi Pembelajaran


1. Perbedaan Pendekatan, Strategi, Model, Metode dan Teknik

Dalam pembelajaran terdapat istilah-istilah yang memiliki


kemiripan makna, yang cukup membingungkan, istilah-istilah itu yaitu, (1).
Pendekatan pembelajaran, (2). Strategi pembelajaran, (3). Model
pembelajaran, (4). Metode pembelajaran dan (5) Teknik pembelajaran.

 Pendekatan Pembelajaran, sebagai titik tolak atau sudut pandang


terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan
tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum,
di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari
metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari
pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu:
(1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada
siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran
yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered
approach).
 Strategi Pembelajaran, Menurut Wina Sanjaya (2008) strategi
pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus
dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai
secara efektif dan efisien. Yang berarti, bahwa strategi pembelajaran
masih bersifat konseptual mengenai keputusan yang akan diambil
dalam pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya,
pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu:
(1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning
(Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian
dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan
antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran
deduktif.
 Teknik pembelajaran, merupakan cara yang dilakukan seseorang
dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik.
 Taktik pembelajaran, merupakan gaya seseorang dalam
melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang
sifatnya individual.
 Model pembelajaran, merupakan bentuk pembelajaran yang
tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh
guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus
atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik
pembelajaran.

Dari penjelasan-penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa


terdapat perbedaan antara model pembelajaran, pendekatan pembelajaran,
strategi pembelajaran, teknik dan metode pembelajaran. Walaupun
perbedaan itu tidak begitu tegas, karena semua istilah merupakan satu
kesatuan yang saling menunjang, untuk melaksanakan proses pembelajaran.
Jadi model pembelajaran adalah pembungkus proses pembelajaran yang di
dalamnya ada pendekatan, strategi, metode dan teknik.

2. Strategi pembelajaran

Dalam strategi pembelajaran banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor


yang tidak dapat dipisahkan, faktor-faktor tersebut adalah, 1) tujuan, 2)
materi, 3) siswa, 4) fasilitas, 5) waktu, dan 6) guru. Ke-enam faktor tersebut
sangat mempengaruhi dalam menentukan strategi pembelajaran, karena
keberhasilan pembelajaran tidak terlepas dalam pemilihan strategi
pembelajaran yang tepat.

Dalam pembelajaran, terdapat beberapa strategi yang dapat digunakan,


seperti
a. Strategi pembelajaran induktif
Strategi pembelajaran induktif adalah sebuah pembelajaran yang
bersifat langsung tapi sangat efektif untuk membantu siswa
mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan keterampilan
berpikir kritis. Strategi ini juga disebut strategi pembelajaran dari khusus ke
umum, karena dalam metode ini siswa akan diberi suatu masalah atau pola
yang sifatnya khusus atau abstrak lalu membimbingnya untuk menemukan
dan menjabarkan masalah atau pola tersebut.
Ciri-ciri dari strategi pembelajaran induktif adalah :
 Penekanan pada keterampilan berpikir dan tujuan-tujuan afektif
 Berstruktur rendah
 Penggunaan waktu yang kurang efisien
 Memberi kesempatan yang banyak untuk belajar sewaktu-waktu.
b. Strategi pembelajaran deduktif
Pembelajaran deduktif disebut pula pembelajaran langsung (direct
instruction). Strategi berpikir deduktif adalah strategi berpikir yang
menerapkan hal – hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya
dihubungkan dalam bagian – bagiannya yang khusus. Strategi deduktif ini
merupakan pemberian penjelasan tentang prinsip – prinsip isi pelajaran,
kemudian dijelaskan dalam bentuk penerapannya atau contoh- contohnya
dalam situasi tertentu. Strategi ini menjelaskan teori ke bentuk realitas atau
menjelaskan hal – hal yang bersifat umum ke yang bersifat khusus.
Ciri-ciri pembelajaran deduktif adalah sebagai berikut :
 Berorientasi pada siswa dan materi
 Berstruktur tinggi
 Penggunaan waktu yang lebih efisien.
3. Penggunaan Strategi Pembelajaran
Dalam pembelajaran harus memenuhi sejumlah kriteria, antara lain:
a. Memiliki tingkat relevansi epistemologi yang tinggi, artinya proses
belajar yang dilakukan relevan dengan hakikat ilmu yang dipelajari.
b. Memiliki tingkat relevansi psikologis, dalam hal ini ilmu dipandang
sebagai alat berpikir.
c. Memiliki tingkat relevansi sosiologis, ilmu dapat dilihat dalam
pengaplikasian nilai-nilai sosial, seperti saling menghargai pendapat,
bekerja sama, dan lainnya.

Selain itu selain terdapat contoh-contoh dalam penerapan strategi


pembelajaran:

 Metode audio visual, materi disajikan tidak dalam bentuk bahan


tercetak tetapi dikemas dalam bentuk audio visual, seperti program
televisi, CD, VCD, dan DVD,
 Metode Brainstorming, metode yang mengeksplorasi kemampuan dan
pengalaman yang dimiliki untuk dikemukakan kepada orang lain
(sharing information). Selain itu informasi baru juga dapat dikaitkan
dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.
 Studi kasus, metode yang digunakan untuk mengetahui keterampilan
dari peserta didik dalam mengatasi permasalahan, melalui analisis dan
evaluasi dari fakta-fakta yang ada.

D. Komponen Media Pembelajaran


1. Pengertian Media Pembelajaran

Terdapat beragam bentuk dan jenis sumber pesan dalam proses


pembelajaran. Dengan kata lain, penyampai pesan pembelajaran dapat
diperankan oleh pendidik, buku, atau sumber lain. Pesan pembelajaran yang
disampaikan biasanya merupakan materi pelajaran sedangkan perantara
yang digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut berupa metode atau
teknik, strategi pembelajaran, dan alat bantu seperti gambar, foto, diagram,
komik, dan lain-lain. Santyasa (dalam Yuliyanti, 2014, hlm. 2) menyatakan
bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan
untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran) sehingga dapat
merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan siswa dalam kegiatan
belajar untuk mencapai tujuan belajar.

2. Fungsi Media Pembelajaran


Degeng (2001, hlm. 9-12) mengemukakan secara terperinci fungsi
media dalam pembelajaran sebagai berikut,

a. Media memungkinkan peserta didik menyaksikan benda/peristiwa


yang ada/terjadi pada masa lampau. Dengan perantaraan gambar,
potret, slide, film, dan sebagainya, peserta didik dapat memperoleh
gambaran yang nyata tentang peristiwa/benda bersejarah;
b. Media memungkinkan peserta didik mengamati benda/peristiwa
yang sukar dikunjungi, baik karena tempatnya jauh atau karena
berbahaya atau terlarang. Misalnya, film tentang kehidupan harimau
di hutan, keadaan dan kesibukan di pusat reaktor nuklir, dan
sebagainya;
c. Media memungkinkan peserta didik untuk memperoleh gambaran
yang jelas tentang benda/hal-hal yang sukar diamati secara langsung
karena ukurannya yang tidak memungkinkan, baik terlalu besar atau
terlalu kecil. Misalnya, dengan perantaraan maket peserta didik
dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang bendungan dan
kompleks pembangkit listrik, dengan slide atau film peserta didik
dapat memperoleh gambaran tentang bakteri, ameba, dan
sebagainya;
d. Media memungkinkan peserta didik mendengar suara yang sukar
ditangkap telinga secara langsung. Misalnya rekaman denyut
jantung dan sebagainya;
e. Media memungkinkan peserta didik mengamati dengan teliti
binatang-binatang yang sukar diamati secara langsung karena sukar
ditangkap. Dengan bantuan gambar, potret, slide, film, atau rekaman
peserta didik dapat mengamati berbagai macam serangga, burung
hantu, kelelawar, dan sebagainya;
f. Media memungkinkan peserta didik mengamati peristiwa-peristiwa
yang jarang terjadi atau yang berbahaya didekati. Dengan film, slide,
video cassette, peserta didik dapat mengamati pelangi, gunung
meletus, perang, dan sebagainya;
g. Media memungkinkan peserta didik dapat mengamati dengan jelas
benda-benda yang mudah rusak/sukar diawetkan. Dengan
menggunakan model/benda tiruan peserta didik dapat memperoleh
gambaran yang jelas tentang organ-organ tubuh, jantung, paru-paru,
dan sebagainya;
h. Media memungkinkan peserta didik dengan mudah membandingkan
sesuatu. Dengan bantuan gambar, foto, atau model peserta didik
dapat dengan mudah membandingkan dua benda yang berbeda sifat,
ukuran, ataupun bentuknya;
i. Media dapat memperlihatkan secara cepat suatu proses yang
berlangsung secara lambat. Dengan media film proses
perkembangan katak dari telur menjadi katak hanya ditunjukkan
dalam beberapa menit. Demikian pula bunga dari kuncup sampai
mekar dapat ditunjukkan film dalam beberapa detik saja;
j. Media dapat memperlihatkan secara lambat gerakan-gerakan yang
berlangsung amat cepat. Media film dapat memperlihatkan gerakan
lompat tinggi, salto, dan sebagainya secara lambat bahkan dapat juga
dihentikan jika diperlukan untuk diamati secara teliti;
k. Media memudahkan peserta didik mengamati gerakan-gerakan
mesin/alat yang sukar diamati secara langsung. Dengan film dapat
dengan mudah diamati jalannya mesin motor empat tak dan
sebagainya;
l. Media memungkinkan untuk menunjukkan bagian-bagian
tersembunyi dari suatu benda/alat. Dengan diagram, gambar, bagan,
dapat ditunjukkan bagian-bagian mesin yang sukar diamati secara
langsung;
m. Media dapat menyajikan ringkasan dari suatu rangkaian pengamatan
yang panjang/lama. Misalnya, setelah peserta didik mengamati
proses penggilingan tebu pada suatu pabrik gula, kemudian diberi
kesempatan untuk melihat film yang menyajikan secara ringkas
proses penggilingan tebu. Dengan demikian, maka gambaran yang
diperoleh peserta didik tentang proses penggilingan tebu akan lebih
mantap dan jelas;
n. Media memungkinkan dapat menjangkau sasaran yang besar
jumlahnya. Dengan CCTV radio pendidikan, ratusan peserta didik
dapat mengikuti kuliah yang disajikan oleh seorang dosen dalam
waktu yang sama;
o. Media memungkinkan peserta didik dapat belajar sesuai dengan
kemampuan, minat, dan temponya masing-masing. Dengan modul
atau pembelajaran berprogram, peserta didik dapat belajar sesuai
dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing.
3. Perbedaan Media Pembelajaran dengan Alat Peraga

Media pembelajaran dan alat peraga merupakan dua hal yang dapat
membantu proses pembelajaran. Dengan adanya kedua hal tersebut
pemahaman peserta didik terhadap materi yang diajarkan dapat meningkat
lebih baik. Di sisi lain kedua hal tersebut memiliki perbedaan. Perbedaan
antara media pembelajaran dan alat peraga terletak pada fungsinya. Media
pembelajaran berfungsi sebagai sarana yang menyampaikan atau pelajaran,
sedangkan alat peraga berfungsi hanya sebagai pendukung dan memperjelas
apa yang ingin disampaikan atau memperjelas tentang pelajaran yang
sedang dipelajari. Misalnya, dalam pembelajaran matematika seorang
pendidik membawa sebuah kerucut lalu lintas sebagai contoh bangun ruang
kerucut.

4. Jenis Media Pembelajaran

Berdasarkan kriteria aksesibilitasnya Rahardjo (dalam Mahnun,


2012, hlm. 30) menyatakan bahwa media terdapat dua jenis, yakni:

a. Media yang dimanfaatkan (media by utilization), maksudnya media


yang biasanya dibuat untuk kepentingan komersial yang terdapat di
pasar bebas. Dalam hal ini, pendidik tinggal memilih dan
memanfaatkannya walaupun masih harus mengeluarkan sejumlah
biaya.
b. Media yang dirancang (media by design) yang harus dikembangkan
sendiri. Dalam hal ini, pendidik dituntut untuk mampu merancang
dan mengembangkan sendiri media tersebut sesuai dengan sarana
dan kelengkapan yang dimilikinya.
5. Prinsip Pemilihan Media Pembelajaran

Setelah menentukan pilihan media yang akan digunakan dalam


pembelajaran, pendidik dituntut untuk memanfaatkan media tersebut dalam
pembelajaran semaksimal mungkin. Namun, media yang baik tidak
menjamin keberhasilan pembelajaran Maka dari itu, sebelum menentukan
media pembelajaran seorang pendidik harus memperhatikan prinsip-prinsip
pemilihan media. Beberapa prinsip pemilihan media menurut Rahardjo
(dalam Mahnun, 2012, hlm. 29) yakni:

a. Kejelasan maksud dan tujuan pemilihan media, apakah untuk


keperluan hiburan, informasi umum, pembelajaran, dan sebagainya;
b. Familiaritas media, yang melibatkan pengetahuan akan sifat dan
ciri-ciri media yang akan dipilih; dan
c. Sejumlah media dapat diperbandingkan karena adanya beberapa
pilihan yang kiranya lebih sesuai dengan tujuan pengajaran.

Selain dengan memperhatikan prinsip-prinsip tersebut, masih ada


berbagai pertimbangan yang harus dilakukan oleh seorang pendidik.
Beberapa hal yang perlu untuk dipertimbangkan adalah: peserta didik,
tujuan pembelajaran, strategi pembelajaran, kemampuan dalam merancang
dan menggunakan media, biaya, sarana dan prasarana, serta efisiensi dan
keefektifan.

E. Komponen Evaluasi Pembelajaran


a. Pengertian Evaluasi Pembelajaran

Dalam kegiatan evaluasi pembelajaran terdapat tiga hal yang saling


berkaitan, yakni evaluasi, pengukuran, dan tes. Evaluasi merupakan sebuah
proses pengumpulan, analisis, serta interpretasi data yang dilakukan untuk
menentukan sejauh mana peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran.
Pengukuran merupakan sebuah proses yang menghasilkan gambaran berupa
angka mengenai tingkatan ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh peserta didik.
Dan tes adalah sebuah alat untuk mengukur suatu sampel perilaku.

Solikan (2011, hlm. 1) mengemukakan bahwa evaluasi adalah


proses pemberian pertimbangan atau makna mengenai nilai dan arti dari
sesuatu yang dipertimbangkan. Sesuatu yang dipertimbangkan tersebut
dapat berupa orang, benda, kegiatan, keadaan, atau suatu kesatuan tertentu.
Pengukuran adalah proses pengumpulan data atau informasi yang dilakukan
secara objektif. Melalui kegiatan pengukuran segala program yang
menyangkut perkembangan dalam bidang apa saja yang dapat dikontrol dan
dievaluasi. Hasil pengukuran berupa kuantifikasi dari jarak, waktu, jumlah,
dan ukuran dsb. dinyatakan dalam bentuk angka yang dapat diolah secara
statistik. Sedangkan tes adalah instrumen atau alat yang digunakan untuk
memperoleh informasi tentang individu atau objek.

Evaluasi pembelajaran dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu


formatif dan sumatif. Evaluasi formatif bertujuan untuk memperbaiki
proses belajar mengajar. Hasil tes seperti kuis misalnya, dianalisis untuk
mengetahui konsep mana yang belum dipahami sebagian besar peserta
didik. Kemudian diikuti dengan kegiatan remedial, yaitu menjelaskan
kembali konsep-konsep tersebut. Evaluasi untuk perbaikan bisa dilakukan
dengan membuat angket untuk peserta didik. Angket ini berisi tentang
pertanyaan mengenai pelaksanaan pembelajaran menurut perspektif
peserta didik. Hasilnya dianalisis untuk mengetahui aspek mana yang
harus diperbaiki.

Evaluasi sumatif bertujuan untuk menetapkan tingkat keberhasilan


peserta didik. Nilai yang dicapai peserta didik ditetapkan lulus atau belum.
Evaluasi sumatif bisa terdiri dari beberapa kegiatan pengukuran dan
penilaian. Hal ini harus dijelaskan kepada peserta didik di awal pelajaran,
yaitu tentang penentuan nilai akhir. Bobot dari tugas, ujian tengah semester,
dan ujian akhir semester harus dijelaskan kepada peserta didik.
b. Hubungan dan Perbedaan antara Evaluasi, Penilaian, Pengukuran, dan
Tes

Tes merupakan instrumen untuk mengukur kemampuan individu yang


kemudian dilakukan proses untuk mengukur kemampuan individu tersebut
yang disebut dengan testing. Testing menghasilkan hasil tes atau lembar
kerja yang kemudian dilakukan pengukuran. Pengukuran merupakan proses
membandingkan hasil tes dengan standar ukuran tertentu. Pengukuran ini
bersifat kuantitatif karena hasil yang diciptakan berupa angka atau skor
yang kemudian digunakan untuk penilaian. Penilaian merupakan proses
untuk memberikan deskripsi tinggi atau rendah, baik atau buruk dari hasil
pengukuran yang berupa angka tersebut. Penilaian ini bersifat kualitatif
karena hasil dari penilaian berupa deskripsi yang kemudian dilakukan
evaluasi terhadapnya. Evaluasi adalah pengambilan keputusan atas hasil
penilaian, apakah individu tersebut berhasil atau tidak.

Apabila dibentuk ke dalam tabel, maka perbedaan di antara keempat hal


tersebut di atas adalah:

Definisi Proses Hasil


Tes Instrumen untuk Testing Hasil tes atau
mengukur kemampuan lembar kerja
individu
Pengukuran Proses menentukan Membandingkan Angka atau skor
kuantitas yang hasil tes dengan yang bersifat
menghasilkan angka standar tertentu kuantitatif
Penilaian Pengambilan Pemberian atribut Deskripsi yang
keputusan terhadap terhadap hasil bersifat kualitatif
sesuatu dengan ukuran pengukuran
baik atau buruk
Evaluasi Kegiatan yang Pengambilan Justifikasi
meliputi dua unsur, keputusan
yakni pengukuran dan terhadap hasil
penilaian
penilaian berhasil
atau tidak

c. Teknik Pengukuran

Dalam pelaksanaan pengukuran, data dapat diperoleh melalui tes


dan non tes. Gabel (dalam Wulan, 2007, hlm. 2) menyatakan bahwa yang
termasuk ke dalam tes yakni tes benar-salah, tes pilihan ganda, tes
melengkapi, dan tes jawaban terbatas. Sementara yang termasuk ke dalam
non-tes yakni esai, penilaian praktik, penilaian proyek, kuesioner, inventaris,
daftar cek, penilaian oleh teman sebaya, penilaian diri, portofolio, observasi,
diskusi, serta wawancara.

d. Pendekatan dalam Penilaian

Harun (2004, hlm. 3) menyatakan bahwa terdapat dua jenis


pendekatan dalam penilaian, yakni:

a. Penilaian Acuan Patokan

Penilaian Acuan Patokan pada dasarnya berarti penilaian yang


membandingkan hasil belajar peserta didik terhadap suatu patokan yang
telah ditetapkan sebelumnya. Sebelum usaha penilaian dilakukan harus
ditetapkan patokan yang akan digunakan sebagai pembanding terlebih
dahulu. Dengan demikian patokan ini tidak dicari-cari di tempat lain dan
pula tidak dicari di dalam sekelompok hasil pengukuran.

b. Penilaian Acuan Norma

Penilaian Acuan Norma ialah penilaian yang membandingkan


hasil belajar peserta didik terhadap hasil dalam kelompoknya.
Pendekatan penilaian ini dapat dikatakan sebagai pendekatan “apa
adanya” dalam arti bahwa patokan pembanding semata-mata diambil
dari kenyataan-kenyataan yang diperoleh pada saat
pengukuran/penilaian berlangsung, yaitu hasil belajar peserta didik yang
diukur beserta pengolahannya, penilaian, ataupun patokan yang terletak
di luar hasil-hasil pengukuran kelompok manusia.

e. Justifikasi/Pengambilan Keputusan

Riyana (dalam Mulyadiprana, 2012, hlm. 51) menjelaskan bahwa


keputusan (judgement) merupakan hasil pertimbangan atau perbandingan
antara objek yang dinilai berdasarkan hasil pengukuran terhadap objek
tersebut dengan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Judgement hasil
evaluasi ini bersifat kualitatif. Evaluasi pembelajaran harus memenuhi
persyaratan teknis yang memadai, agar informasi yang diperoleh benar-
benar akurat, sehingga keputusan-keputusan yang diambil berdasarkan data
itu sangat tepat.

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, pengambilan keputusan


atau justifikasi dilakukan dengan membandingkan temuan dengan kriteria
yang telah ditetapkan pada tujuan pembelajaran atau standar pendidikan
pada setiap komponen evaluasi, yakni reaksi, belajar, perilaku, dan hasil.
Apabila dibuat tabel, maka rancangan pengambilan keputusan adalah
sebagai berikut.

Komponen Kriteria Keputusan


Reaksi Positif Program pembelajaran
Belajar Life skil dapat dipelajari dapat dilanjutkan untuk
oleh peserta didik angkatan berikutnya atau
Perilaku Ada perubahan perilaku diterapkan pada program
peserta didik ke arah pembelajaran yang lain.
yang lebih baik
Hasil Life skill telah
diterapkan oleh peserta
didik
Reaksi Negatif Program pembelajaran
Belajar Peserta didik hanya perlu diperbaiki pada
sedikit yang dapat komponen yang masih
mempelajari life skill kurang, seperti materi
Perilaku Peserta didik tidak pembelajaran,
mengalami perubahan kompetensi guru,
perilaku yang positif metode mengajar, dan
Hasil Peserta didik tidak sebagainya
menerapkan life skill
dalam kehidupannya

3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan


pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari
silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya
mencapai Kompetensi Dasar. Setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban
menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung
secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta
didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik
serta psikologis peserta didik. RPP disusun berdasarkan kompetensi dasar atau
subtema yang dilaksanakan kali pertemuan atau lebih.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan


(Permendikbud) No. 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan
Menengah, komponen RPP terdiri atas:

a. Identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan;


b. Identitas mata pelajaran atau tema/subtema;
c. Kelas/semester;
d. Materi pokok;
e. Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian
kompetensi dasar dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah
jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan kompetensi dasar yang
harus dicapai;
f. Tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan kompetensi dasar,
dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan
diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
g. Kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi;
h. Materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang
relevan dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan
indikator ketercapaian kompetensi;
i. Metode pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai
kompetensi dasar yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik
dan kompetensi dasar yang akan dicapai;
j. Media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk
menyampaikan materi pelajaran;
k. Sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam
sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan;
l. Langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan,
inti, dan penutup; dan
m. Penilaian hasil pembelajaran.

Selain itu, dalam penyusunan RPP hendaknya memperhatikan prinsip-


prinsip penyusunan RPP, yakni:

a. Perbedaan individual peserta didik antara lain kemampuan awal, tingkat


intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, kemampuan sosial,
emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang
budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.
b. Partisipasi aktif peserta didik
c. Berpusat pada peserta didik untuk mendorong semangat belajar,
motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi, dan kemandirian.
d. Pengembangan budaya membaca dan menulis yang dirancang untuk
mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan,
dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.
e. Pemberian umpan balik dan tindak lanjut RPP memuat rancangan
program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan
remedi.
f. Penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan antara kompetensi dasar,
materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian
kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan
pengalaman belajar.
g. Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata
pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.
h. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi,
sistematis, dan efektif seusai dengan situasi dan kondisi.
BAB II

KESIMPULAN

 Sistem pembelajaran merupakan proses yang kompleks, meliputi berbagai


komponen yang saling berhubungan. Bila pembelajaran hendak
dilaksanakan secara baik, maka berbagai komponen dan kaitannya satu
sama lain perlu dikenali, dikaji, dan dikembangkan sehingga mekanisme
kerja antarkomponen tersebut menyeluruh dan membuahkan hasil yang
optimal.
 Komponen-komponen pembelajaran terdiri atas: a) Tujuan Pembelajaran;
b) Isi Pembelajaran; c) Metode/Strategi Pembelajaran; d) Media
Pembelajaran; dan e) Evaluasi Pembelajaran.
 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan
pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP mengacu
pada Standar Isi dan disesuaikan dengan pendekatan pembelajaran yang
digunakan.
DAFTAR PUSTAKA

 Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran


(hxxp://smacepiring.wordpress.com/)
 Depdiknas. (2006). Model Pembelajaran Tematik Kelas Awal Sekolah
Dasar. Jakarta: Puskur Balitbang
 https://nurfitriyanielfima.wordpress.com/2013/10/09/pengertian-standar-
kompetensi-sk-kompetensi-dasar-kd-dan-indikator/
 https://www.padamu.net/materi-pembelajaran
 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2016). Kamus Besar Bahasa
Indonesia Daring. Diakses dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/
 Mahnun, N. (2012). Media Pembelajaran (Kajian terhadap Langkah-
langkah Pemilihan Media dan Implementasinya dalam Pembelajaran).
Jurnal Pemikiran Islam, 37, (1), 27-35
 Mulyadiprana, A. (2012). Komponen-komponen Pembelajaran. [pdf].
Diakses dari
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196209061986011
-AHMAD_MULYADIPRANA/PDF/Komponen_Pembelajaran.pdf
 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 20 Tahun 2016 tentang
Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah
 Rusman. (2016). Model-model Pembelajaran: Mengembangkan
Profesionalisme Guru. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
 Siahaan, P. (2012). Evaluasi, Pengukuran, Tes, Penilaian (Asesmen), dan
Penilaian Kelas. [pdf]. Diakses dari
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._FISIKA/195803011980021-
PARSAORAN_SIAHAAN/Presentasi_Kuliah/Pengertian_dasar_Evaluasi_dll-
DOMAIN_BELAJAR.pdf
 Soelaeman, M.I. (1983). Landasan Pendidikan. Bandung: IKIP
 Solikan (2011). Pengertian dan Hubungan antara Tes, Pengukuran, dan
Evaluasi. [pdf]. Diakses dari http://skp.unair.ac.id/repository/Guru-
Indonesia/PENGERTIANDANHUBUN_Solikan_16692.pdf
 Suyitno, Y. dkk. (2016). Landasan Pendidikan. Bandung: Sub Koordinator
MKDP Landasan Pendidikan Departemen Pedagogik FIP UPI
 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional
 Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
 Wulan, A. R. (2012). Pengertian dan Esensi Konsep Evaluasi, Asesmen,
Tes, dan Pengukuran. [pdf]. Diakses dari
http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI.PENDIDIKAN_IPA/197404171999032-
ANA_RATNAWULAN/pengertian_asesmen.pdf
LAMPIRAN