Anda di halaman 1dari 1

Analisis Kasus Setya Novanto

Korupsi boleh dikatakan adalah penyakit kronis yang sejak lama telah menggerogoti bangsa
Indonesia. Selain merugikan, korupsi dari masa ke masa telah menjadi masalah besar yang sampai saat
ini belum ditemukan solusi terbaiknya. Hukum bagi para koruptor seakan tidak memberi efek jerah,
sehingga oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab selalu ketagihan untuk melakukannya lagi dan
lagi. Kepentingan pribadi maupun kelompok selama ini disebut sebagai salah satu benang merah awal
mulanya tindakan tidak terpuji tersebut dilakukan. Korupsi seakan telah mendarah daging dan telah
menjadi suatu kebiasaan bagi beberapa golongan masyarakat di Indonesia. Golongan yang terkenal
paling sering melakukan korupsi tidak lain adalah elit pejabat yang diharapkan mampu menjadi
pelaksana terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui program-program yang pro rakyat. Akan
tetapi, banyak dari mereka seakan asyik dan tak peduli akan hal tersebut. Malah ada beberapa oknum
yang telah terbukti secara nyata oleh lembaga antirasua atau KPK telah melakukan korupsi tetapi masih
saja berdalih tidak bersalah. Bukannya bersikap kesatria dan melalui semua proses hokum, oknum
tersebut justru melakukan perlawanan dan sederet upaya dalam berbagai macam cara sehingga terlepas
dari jeratan hukum.

Baru-baru ini Indonesia kembali dihebohkan dengan kasus mega proyek E-KTP yang disebut-
sebut melibahkan banyak wakil rakyat yang duduk nyaman dan berkantor di Senayan. Komisi
Pemberatasan Korupsi pada 17 Juli 2017 secara mengejutkan memberikan pengumuman bahwa Ketua
DPR RI, Setya Novanto, ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan kasus mega proyek E-KTP. Novanto
yang berlatar belakang pengusaha disebut menerima aliran dana panas tersebut senilai 100 Millyar.
Sebagai politisi Setya Novanto tentunya berdalih bahwa tidak bersalah dalam kasus tersebut. Sehari
setelah ditetapkan, Setya Novanto menggelar jumpa pers menanggapi penetapannya sebagai tersangka.
Novanto mengaku akan mengikuti proses hukum yang berjalan. Namun ia menolak mundur dari Ketua
DPR atau pun Ketua Umum Partai Golkar. Sebagai pucuk pimpinan parlemen, Novanto memberikan
sikap yang sangat tidak legowo dan cenderung hendak melakukan perlawanan agar lepas dari jeratan
hukum. Dan opini tersebut mendekati kenyataan setelah sebulan lebih berstatus tersangka, Novanto
resmi mendaftarkan gugatan praperadilan terhadap KPK ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Gugatan
terdaftar dalam nomor 97/Pid.Prap/2017/PN Jak.Sel. Novanto meminta penetapan statusnya sebagai
tersangka dibatalkan KPK. Benar-benar sebuah manuver hukum yang dilakukan oleh seorang elit politik
Indonesia. Tindakan ini tentunya menjadi jalan baru bagi setiap koruptor untuk biasa lepas jika terjerat
kasus korupsi.

Praperadilan yang telah didaftarkan Novanto boleh jadi menjadi suatu alasan untuk mengulur
waktu penyidikan oleh KPK dengan alasan menunggu praperadilan selasai yang mungkin saja biasa
menjadi opini yang nantinya mampu membebaskan Novanto jika menang dalam praperadilan. 11
September 2017 KPK memanggil Novanto untuk diperiksa sebagai tersangka. Namun, Novanto tak hadir
dengan alasan sakit. Sekjen Golkar Idrus Marham bersama tim kuasa hukum Novanto mengantarkan
surat dari dokter ke KPK. Menurut Idrus, Novanto saat itu masih menjalani perawatan di RS Siloam,
Semanggi, Jakarta. Hasil pemeriksaan medis, gula darah Novanto naik setelah melakukan olah raga pada
Minggu (10/9/2017). Sungguh bukan sebuah alasan yang etis untuk menghidar dari pemeriksaan dan
sangat mencoreng DPR sebagai wakil rakyat.