Anda di halaman 1dari 14

BAB 6 PENDIDIKAN KESEHATAN

Tujuan Instruksional Umum

Mengetahui strategi intervensi keperawatan komunitas melalui pendidikan kesehatan.

Tujuan Instruksional Khusus

1. Mengetahui tentang pengertian pendidikan kesehatan

2. Mengetahui tentang tujuan pendidikan kesehatan

3. Mengetahui tentang sasaran pendidikan kesehatan

4. Mengetahui tentang metodependidikan kesehatan

5. Mengetahui tentang mediapendidikan kesehatan

6. Mengetahui tentang prosespendidikan kesehatan

7. Mengetahui tentang teori health belief model

8. Mengetahui tentang perubahan perilaku

9. Mengetahui aplikasi pendidikan kesehatan dalam komunitas

PENDAHULUAN

Pendidikan kesehatan merupakan salah satu bentuk strategi intervensi atau upaya yang
dilakukan dalam pelayanan keperawatan komunitas. Pendidikan kesehatan mencakup pemberian
informasi yang sesuai, spesifik, diulang, terus menerus, sehingga dapat memfasilitasi perubahan
perilaku kesehatan. Program pendidikan kesehatan digunakan untuk meningkatkan kemampuan
seseorang dalam merubah gaya hidupnya menjadi positif, mendukung peningkatan kesehatan
dan kualitas hidup komunitas serta meningkatkan partisipasi seseorang dalam merawat
kesehatannya sendiri.Pendidikan kesehatan yang efektif dapat dilakukan dengan mengkaji
kebutuhan seseorang terhadap informasi, mengidentifikasi hambatan seseorang dalam belajar.
PENGERTIAN PENDIDIKAN KESEHATAN

Pendidikan kesehatan dilakukan untuk mengatasi masalah kurang pengetahuan. Terdapat


berbagai pengertian tentang pendidikan kesehatan, yaitu :

1. Azwar (2005), pendidikan kesehatan adalah unsur program kesehatan dan kedokteran yang
didalamnya terkandung rencana untuk mengubah perilaku perseorangan dan masyarakat dengan
tujuan untuk membantu tercapainya program pengobatan, rehabilitasi, pencegahan penyakit dan
peningkatan kesehatan.

2. Nyswander (1947), pendidikan kesehatan adalah suatu proses perubahan pada diri manusia
yang ada hubungannya dengan tercapainya tujuan kesehatan perorangan dan masyarakat.

3. Grout (1958), pendidikan kesehatan adalah upaya menerjemahkan apa yang telah diketahui
tentang kesehatan ke dalam perilaku yang diinginkan dari perorangan ataupun masyarakat
melalui proses pendidikan.

4. Rudd & Comings (1994) dalam Bies & McEwen (2001), pendidikan kesehatan merupakan
aktivitas belajar yang dirancang sedemikian rupa sesuai dengan kondisi klien dan situasi tempat
pembelajaran yang diberikan oleh tenaga professional kepada individu, keluarga, dan kelompok
masyarakat.

5. A Joint Committee on Terminologi in Health Education of United States (1973) dalam


Machfoedz, et.al. (2005), pendidikan kesehatan adalah suatu proses yang mencakup dimensi dan
kegiatan-kegiatan intelektual, psikologis dan sosial yang diperlukan untuk meningkatkan
kemampuan manusia dalam mengambil keputusan secara sadar dan yang
mempengaruhikesejahteraan diri, keluarga, dan masyarakat.

6. Stanhope & Lancaster (2004), pendidikan kesehatan adalah suatu kegiatan dalam rangka
upaya promotif dan preventifdengan melakukan penyebaran informasi dan
meningkatkanmotivasi masyarakat untuk berperilaku sehat.

7. Setiawati & Dermawan (2008), pendidikan kesehatan merupakan serangkaian upaya yang
ditujukkan untuk mempengaruhi orang lain, baik individu, kelompok, keluarga, maupun
masyarakat agar terlaksanannya perilaku hidup sehat.
Dari berbagai pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan kesehatan merupakan
upaya yang dilakukan untuk memberikan pengetahuan sebagai dasar perubahan perilaku yang
dapat meningkatkan status kesehatan individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat melalui
aktivitas belajar. Kegiatan pendidikan kesehatan diharapkan dapat membantu tercapainya
program pengobatan, rehabilitasi, pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan.

TUJUAN PENDIDI KAN KESEHATAN

Pendidikan kesehatan diberikan untuk membantu individu, keluarga dan masyarakat


untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Pendidikan kesehatan bertujuan untuk
mengubah perilaku individu, keluarga, serta masyarakat dari perilaku tidak sehat menjadi sehat.
Perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesehatan menjadi perilaku yang sesuai dengan
nilai-nilai kesehatan atau dari perilaku negatif ke perilaku yang positif. Perilaku-perilaku yang
perlu dirubah misalnya adalah merokok, minum minuman keras, membuang sampah
sembarangan tidak mencuci tangan sebelum makan, ibu hamil tidak memeriksakan
kehamilannya, bayi tidak diberikan ASI ekslusif, dan lain sebagainya. Pendidikan kesehatan juga
bertujuan untuk mengubah perilaku yang kaitannya dengan budaya. Sikap dan perilaku
merupakan bagian dari budaya yang ada di lingkungannya.

SASARAN PENDIDIKAN KESEHATAN

1. Sasaran primer

Masyarakat pada umumnya menjadi sasaran langsung segala upaya pendidikan


kesehatan. Sesuai dengan permasalahan kesehatan, maka sasaran ini dapat dikelompokkan
menjadi kepala keluarga untuk masalah kesehatan umum, ibu hamil, dan menyusui untuk
masalah KIA, anak sekolah untuk kesehatan remaja, dan sebagainya. Upaya promosi yang
dilakukan terhadap sasaran primer ini sejalan dengan strategi pemberdayaan masyarakat
(empowerment).
2. Sasaran sekunder

Sasaran sekunder pendidikan kesehatan adalah tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh
adat, dan sebagainya. Setelah diberikan pendidikan kesehatan, diharapkan kepada kelompok ini
akan memberikan pendidikan kesehatan pada masyarakat di lingkungannya. Selain itu juga
diharapkan mereka mampu menjadi role model serta memberikan contoh penerapan pendidikan
kesehatan yang telah diberikan. Upaya pendidikan kesehatan pada sasaran sekunder ini sejalan
dengan strategi dukungan sosial (social support).

3. Sasaran tersier

Sasaran tersier dari keputusan atau penentu kebijakan sesuai dengan ruang lingkup
pendidikan kesehatan misalnya lingkup rukun tetangga, rukun warga, dusun, desa, kecamatan,
kabupaten, dan lain sebagainya. Pendidikan kesehatan melalui kebijakan-kebijakan atau
keputusan-keputusan akan berdampak pada perilaku kelompok sasaran sekunder maupun primer.
Upaya ini sejalan dengan strategi advokasi pendidikan kesehatan adalah pembuat pendidikan
kesehatan.

METODE PENDIDIKAN KESEHATAN

Metode pendidikan kesehatan merupakan cara atau strategi yang digunakan agar pesan
atau informasi kesehatan yang diberikan dapat dengan mudah dipahami sasaran. Dalam
keperawatan sasaran pendidkan kesehatan adalah individu, keluarga, kelompok serta masyarakat.
Menurut Notoatmodjo (2007), metode pendidikan kesehatan yang dapat diterapkan antara lain :

1. Metode Pendidikan Individual

Dalam komunitas, metode ini digunakan untuk membina perilaku baru, atau membina individu
yang mulai tertarik kepada suatu perubahan atau inovasi.Dasar digunakannya pendekatan
individual karena setiap orang mempunyai masalah atau alasan berbeda sehubungan dengan
penerimaan atau perubahan perilaku baru tersebut. Misalnya membina seorang kepala keluarga
yang menderita hipertensi dan sedang tertarik untuk menerapkan terapi relaksasi otot progresif
karena baru saja mengikuti penyuluhan di Balai Desa. Pendekatan yang digunakan agar individu
tersebut menerapkan terapi relaksasi tersebut adalah dengan pendekatan perseorangan.
Pembinaan perseorangan dalam hal ini tidak hanya berarti pembinaan kepada kepala keluarga
saja, tetapi juga kepada istri atau keluarga tersebut.

2. Metode Pendidikan Kelompok

Pemilihan metode kelompok harus memperhatikan besarnya kelompok sasaran serta tingkat
pendidikan formal sasaran.

Kelompok dalam metode ini dibagi menjadi 2 (dua), yaitu

a. Kelompok Besar

Kelompok besar yang dimaksudkan apabila peserta lebih dari 15 orang. Metode yang sesuai
untuk kelompok besar antara lain:

1) Ceramah

Metode ceramah merupakan penyampaian pesan atau informasi secara verbal atau lisan yang
meliputi tanya jawab, memberikan gambar dan contoh-contoh. Metode ini sesuai diberikan untuk
sasaran yang berpendidikan tinggi maupun rendah serta paling tepat digunakan untuk
memberikan informasi yang berupa garis besar dan sebagai pengantar untuk metode yang lain.
Hal tersebut dilakukan untuk menarikminat dan meningkatkan konsentrasi. Keuntungan metode
ceramah adalah ekonomis, sederhana, jumlah sasaran banyak.Kelemahan metode ceramah adalah
pesan atau informasi yang disampaikan cenderung tidak mengendap lama, sasaran cenderung
pasif sertakurang sesuai untuk pesan atau informasi yang kompleks.

2) Seminar

Metode seminar hanya sesuai untuk sasaran kelompok besar dengan pendidikan menengah ke
atas. Seminar merupakan suatu penyajian (presentasi) dari suatu ahli atau beberapa ahli tentang
suatu topik yang dianggap penting di masyarakat.

b. Kelompok Kecil

Kelompok kecil yang dimaksudkan apabila peserta kurang dari 15 orang. Metode yang sesuai
untuk kelompok kecil antara lain:
1) Diskusi Kelompok

Metode ini membutuhkan peran aktif dari peserta untuk mengeluarkan pendapat berkaiatan
dengan informasi yang dibahas.

2) Curah Pendapat (Brain Storming)

Metode ini merupakan modifikasi metode diskusi kelompok. Pada metode ini pemimpin diskusi
memberikan pertanyaan dan setiap peserta memberikan jawaban atau tanggapan (curah
pendapat). Tanggapan tersebut kemudian ditampung dan dicatat dalam papan tulis atau flipchart.
Setelah semua peserta menyampaikan tanggapannya, maka tiap peserta dapat mengomentari
tanggapan-tanggapan sebelumnya dan akhirnya terjadilah diskusi.

3) Role Play

Metode ini melibatkan peran aktif peserta dengan memainkan sebuah peran tertentu sesuai
dengan topik yang telah ditentukan dalam pendidikan kesehatan. Pesan-pesan kesehatan dalam
metode ini disampaikan melalui peran- peran nyata yang diperagakan oleh peserta.

3. Metode Pendidikan Massa

Metode ini sesuai untuk ditujuakan kepada masyarakat luas. Pendekatan ini biasanya digunakan
untuk menggugah kesadaran masyarakat terhadap suatu inovasi awarness, dan belum begitu
diharapkan sampai pada perubahan perilaku. Bentuk pendekatan yang digunakan biasanya tidak
langsung yaitu melalui media massa.

Contoh metode yang sesuai untuk pendekatan massa antara lain ceramah umum (public
speaking), pidato-pidato, simulasi, maupun tulisan-tulisan di majalah, koran, spanduk, poster,
dan lain sebagainya.

MEDIA PENDIDIKAN KESEHATAN

Media merupakan alat yang secara menyampaikan isi pesan atau informasi. Media yang tepat
dapat fisik digunakan untuk membantu mempermudah proses penyampaian informasi kesehatan
yang akan diberikan. Media dapat juga memberikan motivasi dan pengaruh psikologis, dengan
demikian akan timbul keyakinan sehingga perubahan kognitif, afektif, dan psikomotor dapat
tercapai optimal. Informasi yang diberikan pada awalnya akan tersimpan dalam memori angka
pendek. Infomasi ini akan bertahan selama 20 detik sebelum akhirnya dilupakan atau diproses
untuk masuk ke memori jangka panjang. Informasi akan tersimpan di memori jangka panjang
apabila pendidikan kesehatan diterapkan ke siatuasi nyata sehingga tidak mudah untuk dilupakan
(Edelman & Mandle, 2010). Informasi dalam pendidikan kesehtaan akan mudah dipahami
apabila menggunakan media dalam penyampaiannya. Media dalam pendidikan kesehatan dapat
dikelompokkan menjadi 3 bentuk yaitu:

1. Media visual (visual aids)

Visual aids berguna dalam menstimulasi indera penglihatan.Contohnya media poster, leaflet,
slide, maupun selebaran.

2. Media dengar (audio aids)

Audio aids berguna dalam menstimulasi indera pendengar.

Contohnya tape, radio, maupun pemutar audio lainnya.

3. Media lihat dengar (audio visual aids)

Audio visual aids dapat membantu menstimulasi indera penglihatan dan indera pendengaran.
Contohnya film maupun video.

Menurut Notoatmodjo (2007), informasi akan tersimpan sebanyak 20% apabila


disampaikan melalui media visual, 50% apabila melalui media audio visual, dan 70% apabila
dilaksanakan dalam praktik nyata. Pendidikan kesehatan yang melibatkan banyak indera, baik
penglihatan maupun pendengaran akan lebih mudah dingat dibandingkan dengan menggunakan
satu indera saja.

PROSES PENDIDIKAN KESEHATAN

Prinsip pokok dalam pendidikan kesehatan adalah proses belajar yang terdiri dari komponen
input, proses, dan output .
Input Output
Proses

1. Input

Menyangkut pada sasaran belajar yaitu individu, kelompok, serta masyarakat dengan berbagai
latar belakangnya.

2. Proses

Mekanisme dan interaksi terjadinya perubahan kemampuan (perilaku) pada diri subjek belajar
tersebut. Dalam proses terjadi pengaruh timbal balik antara berbagai faktor antara lain subjek
belajar, pengajar (pendidik dan fasilitator), metode, teknik belajar alat bantu serta materi atau
bahan yang dipelajari.

3. Output

Merupakan hasil belajar itu sendiri yaitu berupa kemampuan atau perubahan perilaku dari
subjek belajar.

TEORI HEALTH BELIEF MODEL

Model kepercayaan kesehatan sangat dekat dengan bidang pendidikan kesehatan. Model ini
menganggap bahwa perilaku kesehatan merupakan fungsi dari pengetahuan maupun sikap.
Secara khusus model ini menegaskan bahwa persepsi seseorang tentang kerentanan dan manfaat
pengobatan dapat mempengaruhi keputusan seseorang dalam perilaku-perilaku kesehatannya
(Edelman & Mandle, 2010). Munculnya model ini didasarkan pada adanya masalah-masalah
kesehatan yang ditandai dengan kegagalan orang atau masyarakat untuk menerima usaha-usaha
pencegahan atau penyembuhan penyakit yang diberikan penyedia pelavanan kesehatan. Konsep
Health Belief Model (HBM) digambarkan sebagai berikut:
Model kepercayaan kesehatan menurut Edelman & Mandle (2006) memiliki 5 (lima) komponen
kunci yang membuat seseorang bertindak untuk mencegah atau mengobati penyakitnya, yaitu :

1. Kerentanan yang dirasakan (Perceived Susceptibility)

Tindakan pencegahan peryakit akan muncul apabila seseorang penyakit tersebut.

2. Keseriusan yang dirasakan (Perceived Seriousness)

Dorongan untuk melakukan tindakan pencegahan terhadap suatu penyakit karena keseriusan
yang dirasakannya.

3. Manfaat yang dirasakan dan Hambatan yang dihadapi (Perceived Benfits and Barriers)

Perasaan rentan terhadap suatu penyakit yang dirasakan dapat membuat seseorang untuk
melakukan suatu tindakan tertentu.

Tindakan ini tergantung pada manfaat yang dirasakan dan hambatan yang ditemuakn dalam
mengambil tindakan tersebut. Pada umumnya, manfaat tindakan lebih menentukan daripada
hambatan yang mungkin ditemukan dalam mengambil tindakan tersebut.

4. Ancaman yang dirasakan (Perceived Threat

Dorongan untuk pengobatan terhadap suatu penyakit muncul karena adanya ancaman yang
dirasakan dari penyakitnya.

5. Isyarat atas Petunjuk untuk bertindak (Cues to Action)

Isyarat atau petunjuk dari orang lain misalnya petugas kesehatan sangat diperlukan karena dapat
mempengarhui penerimaan yang benar mengenai kondisi yang memerlukan tindakan untuk
meningkatkan atau mempertahankan derajat kesehatan.
PERUBAHAN PERILAKU

Perilaku merupakan aksi dari individu terhadap reaksi dari hubungannya (Suryani, 2003).
Pentingnya mempelajari perilaku karena tujuan pendidikan kesehatan adalah merubah perilaku
tidak sehat menjadi perilaku sehat. Jika sudah terbentuk perilaku sehat, maka pendidikan
kesehatan bertujuan untuk mempertahankannya. Perilaku sehat merupakan perilaku yang
didasarkan pada prinsip-prinsip kesehatan. Klasifikasi perilaku kesehatan dibagi menjadi 3 (tiga)
bagian, yaitu perilaku pemeliharaan kosehatan, perilaku pencarian dan penggunaan fasilitas
pelayanan kesehatan, dan perilaku kesehatan lingkungan.

Menurut Green dalam Notoatmodjo (2007), perilaku dipengaruhi oleh 3 (tiga) faktor utama,
yaitu :

1. Faktor predisposisi

Faktor predisposisi mencakup pengetahuan dan sikap, tradisi dan kepercayaan, sistem nilai,
tingkat pendidikan, dan tingkat sosial ekonomi terhadap ksehatan, Pendidikan kesehatan dalam
faktor predisposisi ini ditujukan untuk menggugah kesadaran, meningkatkan pengetahuan
masyarakat tentang pemeliharaan dan peningkatan kesadaran. Bentuk pendidikan kesehatan yang
dilakukan berupa penyuluhan kesehatan. Faktor predisposisi yang positif akan mempermudah
terjadinya perubahan perilaku.

Sebaliknya, faktor predisposisi yang negatif alkan menjadi penghambat perubahan perilaku.

Contoh bentuk kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan penyuluhan tentang
terapi alternatif atau komplementer dengan memperhatikan faktor predisposisi serta sesuai
kemampuan dan kebutuhan masyarakat. Secara umum, terapi yang diajarkan cenderung jenis
terapi yang murah dan mudah dilakukan tanpa mengurangi esensi manfaat kesehatan dari terapi
yang diberikan.

2. Faktor enabling /pemungkin

Faktor enabling mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan yang
dibutuhkan dalam pelaksanaan perilaku kesehatan. Bentuk pendidikan kesehatan yang dilakukan
dapat berupa upaya untuk memberdayakan masyarakat agar mampu menyediakan dan
memanfaatkan fasilitas atau sarana prasana kesehatan. Contoh bentuk kegiatan dengan
mengadakan penyuluhan tentang pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin atau pentingnya
membawa balita ke posyandu rutin setiap bulan.

3. Faktor reinforcing/penguat

Faktor reinforcing meliputi sikap dan perilaku keluarga, petugas kesehatan (perawat), tokoh
masyarakat (toma), dan tokoh agama (toga). Termasuk juga aturan-aturan yang ada dapat berupa
undang-undang dan lain-lain. Bentuk strategi pendidikan kesehatan ini adalah dengan
menjadikan petugas kesehatan, toma, maupun toga sebagai role model atau contoh dalam
perilaku hidup bersih dan sehat. Oleh karena itu pendidikan kesehatan harus diberikan secara
intensif kepada toma maupun toga. Sejalan dengan itu, diharapkan juga akan muncul aturan-
aturan atau program oleh toma maupun toga yang telah diberikan pendidikan kesehatan untuk
menggerakkan masyakat dalam menerapkan perilaku yang menunjang kesehatan.

Apabila konsep Blum yang menjelaskan bahwa derajat kesehatan itu dipengaruhi oleh 4 faktor
utama, yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan (herediter), maka promosi
kesehatan dalam konsep Green adalah intervensi terhadap perilaku. Kedua konsep tersebut dapat
diilustrasikan pada bagan hubungan status kesehatan. perilaku, dan pendidikan kesehatan.

Menurut Rogers & Skoemaker dalam Sumijatun et al (2006) menyebutkan bahwa terdapat 5
(lima) langkah menuju perubahan perilaku, yaitu:

1. Awareness (Fase Kesadaran)

Pada fase ini individu mengetahui adanya gagasan baru tetapi tidak mendalam. Tugas tenaga
kesehatan adalah menyadarkan masyarakat dengan jalan memberikan penerangan yang bersia
informatif dan eduaktif.

2. Interest (Fase Perhatian)

Pada fase ini individu mulai menunjukkan perhatian terhadap usaha perubahan. Masyarakat
sudah mulai menunjukkan perubahan terhadap usaha-usaha perubahan. Kegiatan pendidikan
kesehatan di tingkatkan dengan memberikan penerangan kembali melalui poster, radio, TV,
pamflet, dan lain sebagainya.
3. Evaluation (Fase Penilaian)

Pada fase ini individu mulai membandingkan dan mencari keterangan lebih lanjut lagi mengenai
gagasan baru yang akan dicobanya. Individu atau masyarakat mulai mengadakan pertimbangan
sehingga perlu pendekatan secara individual agar merasa lebih jelas dan dapat mengemukakan
kesulitan yang dihadapi. Tugas dari petugas kesehatan adalah meyakinkan serta memberi
bimbingan dan penyuluhan yang mantap.

4. Trial (Fase Coba-Coba)

Fase ini merupakan fase kritis karena fase ini menentukan diterima atau ditolaknya gagasan baru
tersebut. Tugas dari tenaga kesehatan adalah mengawasi dan lebih menyakinkan lagi agar tidak
terjadi drop out.

5. Adaptation (Fase Penerimaan)

Pada fase ini individu atau masyarakat telah bertingkah laku baru, sesuai dengan yang
diharapkan. Tugas pendidikan kesehatan adalah memelihara dan mengontrol secara terus
menerus.

APLIKASI PENDIDIKAN KESEHATAN DALAM KOMUNITAS

Pendidikan kesehatan merupakan bentuk intervensi keperawatan komunitas yang ditujukan agar
perilaku masyarakat yang berisiko maupun yang telah mengalami penyakit mempunyai pengaruh
positif terhadap pemeliharaan kesehatan dan peningkatan kesehatan.

Secara umum pendidikan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan merupakan
upaya untuk mengaktualisasikan potensi kesehatan dari individu, keluarga, komunitas dan
masyarakat (Nies&McEwen, 2007). Perawat dapat mengembangkan berbagai aktivitas yang
memberikan klien informasi baru dan kesempatan untuk mempraktekan keterampilan baru.
Contoh pendidikan kesehatan dalam komunitas:

1. Pendidikan kesehatan pada masalah KIA

a. Pendidikan kesehatan mengenai pentingya pemberian ASI eksklusif

b. Pendidikan kesehatan mengenai cara menyusui yang baik

c. Pendidikan kesehatan mengenai gizi balita dan makanan pendamping ASI

d. Pendidikan kesehatan mengenai cara memilih alat kontrasepsi yang aman

e. Pendidikan kesehatan mengenai manfaat dan cara melakukan pijat bayi

2. Pendidikan kesehatan pada masalah remaja

a. Pendidikan kesehatan mengenai bahaya NAPZA

b. Pendidikan kesehatan mengenai bahaya seks bebas

c. Pendidikan kesehatan mengenai kesehatan reproduksi remaja

e. Pendidikan kesehatan mengenai peran remaja masa kini

3. Pendidikan kesehatan pada lansia

a. Pendidikan kesehatan mengenai gaya hidup sehat

b. Pendidikan kesehatan mengenai menjadi lansia bahagia

c. Pendidikan kesehatan pemeriksaan kesehatan secara rutin

d. Pendidikan kesehatan mengenai senam kesehatan pada lansia

4. Pendidikan kesehatan pada masalah lingkungan

a. Pendidikan kesehatan mengenai pengelolaan sampah yang sehat dan bermanfaat


b. Pendidikan kesehatan mengenai budaya hidup bersih dan sehat

c. Pendidikan kesehatan mengenai bahaya lingkungan yang tidak sehat

d.Pendidikan kesehatan mengenai pentingya jamban