Anda di halaman 1dari 13

DAMPAK KERUGIAN SERTA KERUSAKAN

LINGKUNGAN HIDUP AKIBAT


KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN TAHUN 1997-1998

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Isu Politik dan


Lingkungan”

Dosen Pengampu :
Prof. Drs. Nawiyanto, M.A., Ph.D

Disusun Oleh :
Bagus Bahtiar (170110301057)

ILMU SEJARAH
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JEMBER
2019

1
DAMPAK KERUGIAN SERTA KERUSAKAN
LINGKUNGAN HIDUP AKIBAT
KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN TAHUN 1997-1998

Bagus Bahtiar
Mahasiswa Ilmu Sejarah, 2017.
Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember.

ABSTRAK: tulisan ini menekankan pada tujuan untuk mengetahui apa saja
kerugian yang dialami baik secara ekonomi, Ekologi, maupun Sosial-Kultural
masyarakat (negara maupun masyarakat umum) Kebakaran hutan pada tahun
1997/1998 merupakan yang terbesar dari seabad terakhir. Dengan menggunakan
kajian pustaka dan berita sebagai sumber sekunder yang di rekontruksi secara
deskriptif-analitis sehingga dapat memaparkan mulai dari faktor penyebab meliputi
alamiah dan manusia sampai dengan upaya penanggulangan bencana yang
mendapat suplay tenaga dari operasi Haze Operation.

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Kebakaran hutan pada tahun 1997/1998 dianggap sebagai bencana
lingkungan yang terbesar dan terburuk di sepanjang abad. Pernyataan tersebut
dilandaskan pada luasan daerah terbakar dan dampaknya secara global serta
kontribusi dalam meningkatkan jumlah emisi karbon yang dihasilkan dari
kebakaran tersebut. Kebakaran hutan merupakan ancaman yang potensial
dalam menghambat pembangunan berkelanjutan sebab berimbas pada
terganggunnya ekosistem lingkungan itu sendiri. Di wilayah asia tenggara,
empatik masyarakat (lembaga) terhadap kasus kebakaran hutan yang terjadi
cukup signifikan dengan penandatanganan perjanjian Lintas Batas Pencemaran
Kabut oleh negara-negara Association of Sountheast Asian Nations (ASEAN)
pada bulan juni 2002 di Kuala Lumpur, Malaysia. Departemen kehutanan
Indonesia menyatakan bahwa “kebakaran hutan” menjadi salah satu prioritas
dan aksi menanggulanginya di imput dalam dokumen komitmen kepada
negara-negara yang tergabung dalam Consultative Group on Indonesia (CGI)

2
Bencana kebakaran tahun 1997/1998 ini telah berdampak pada
kenampaan lingkungan kota yang terdampak kabut asap serta banyak
orangutan yang menderita memenuhi redaksi berita berbagai koran dan televisi
sehingga menarik perhatian masyarakat luas. 1 Dalam upaya memadamkan
hutan yang terbakar ini negara terdampak seperti singapura, Malaysia dan
lembaga bantuan pembangunan turut serta. Malaysia pada 1997 mengirim
petugas pemadam untuk menangani seluruh wilayah sumatera dan Kalimantan
dengan estimasi waktu yang dihabiskan mencapai 25 hari dengan 37.983 titik
api, kode operasi tersebut diberi nama dengan Haze Operation. Dalam
Bappenas ABD tahun 1999 menyebutkan bahwa kebakaran pada tahun
1997/1998 setidaknya telah menghasilkan 60-70% emisi karbon di udara dan
merupakan bencana dengan kabut asap yang terbesar. Ditambah dengan
terbakarnya hutan provinsi Jambi, Riau dan Sumatera Selatan telah
menyebabkan kabut asap yang menyebar hingga wilayah Sumatera, Singapura,
dan daratan utama Malaysia lainnya. Secara keseluruhan menurut data
Bappenas wilayah yang terbakar pada 1997 meliputi Sumatera, Jawa,
Kalimantan, Sulawesi, dan Papua Barat.

Penyebab dari terbakarnya hutan dan lahan di Indonesia pada tahun


1997/1998 meliputi pembukaan lahan untuk perkebunan sawit oleh
perusahaan, aktivitas masyarakat lokal dalam pembersihan atau pembukaan
lahan pertanian baru, dan adanya fenomena terjadinya bencana El Nino
(ENZO)2 yaitu kemarau panjang diakibatkan adanya variasi angin dan suhu
permukaan laut di wilayah tropis belahan timur Samudra Pasifik yang ireguler dan
berkala. ENSO berpengaruh terhadap cuaca di sebagian besar wilayah tropis dan
subtropics di Bumi. Bencana alam kebakaran hutan pada tahun 1997/1998 telah
berdampak besar baik dilihat secara ekonomi, kesehatan, ekologi, maupun sosial-
kultural masyarakat terdampak. Ditambah dengan kabut asap yang menyebar tidak

1
Disebutkan dalam Tempo.co pada 31 Oktober 2015. bahwa beberapa satwa di
lokasi kebakaran Kalimantan pada 1997 per agustus selama kurun waktu satu bulan tidak
terdengar suara katak. Ditambah dengan kesulitan ditemukannya beberapa satwa hutan
Kalimantan seperti burung, kera, dan beberapa mamalia lainnya.
2
Lucca Tacconi, “Kebakaran Hutan di Indonesia: penyebab, biaya, dan
implikasi kebijakan”. CIFOR Occasional Paper no 38(i). hlm 1

3
hanya di daerah daerah tersebut tetapi juga masuk pada daerah negara asing.
Sehingga membuat bencana tersebut menjadi isu yang global.

2. Rumusan Masalah

Pertama, apakah faktor utama penyebab kebakaran hutan dan lahan pada
kurun waktu 1997/1998. Kedua, Bagaimana dampak yang disebabkan oleh
kebakaran hutan tahun 1997/1998 secara ekonomi, ekologi, dan sosio-kultural.
Ketiga, bagaimanakah upaya penanggulangan kebakaran hutan dan kabut asap baik
pemerintah Indonesia maupun internasional.

3. Maksud dan Tujuan

tulisan ini dimaksudkan untuk memaparkan informasi tentang faktor,


permasalahan, dan dampak kebakaran hutan dan lahan tahun 1997/1998 baik
terhadap lingkungan hidup (ekosistem), ekonomi, sosial masyarakat dan
sebagainnya dengan tujuan agar mengetahui seberapa besar bencana kebakaran
hutan tersebut berpotensi merugikan masyarakat, pemerintah, maupun secara
global serta perubahan perubahan yang terjadi

BAHAN DAN METODE


Dalam upaya pengkajian sampai dengan analisis bahan yang digunakan
merujuk pada sumber sekunder atau sumber pustaka berupa buku dan jurnal yang
telah dipublikasikan dan beberapa berita dari surat kabar seperti Tempo.co.
Ditambah dengan beberapa acuan dari produk hukum yang ada sebagai pembanding
antara kebijakan yang ada dengan realitas serta kondisi relasi politis pemerintah
dengan pengusaha atau perusahaan. Data data yang ditemukan dari masing-masing
sumber disusun dengan kontruksi deskripsi-analitis secara historis agar mudah
dipahami untuk memaparkan dampak kerugian dan kerusakan akibat kebakaran
hutan dan lahan yang terjadi dalam kurun waktu 1997/1998.

4
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam kasus kebakaran hutan dan lahan tahun 1997/1998 merupakan sejarah
kelam bencana alam di sepanjang abad terakhir dengan meliputi wilayah
Kalimantan, Jawa, Sumatera, Sulawesi, sampai dengan Papua Barat. Luas areal
yang terbakar kurang lebih secara keseluruhan 9.755.000 hektar dalam perhitungan
Bappenas tahun 1999. Berikut tabel luas areal terbakar di masing masing
kepulauan.

Tabel 1. Perhitungan ADB untuk kawasan yang dilanda kebakaran tahun 1997/98
dalam satuan Hektar.

WILAYAH JUMLAH LAHAN TERBAKAR


Sumatera 1.755.000
Jawa 100.000
Kalimantan 6.500.000
Sulawesi 400.000
Papua Barat 1.000.000
TOTAL AREAL 9.755.000
Sumber: Bappenas-ADB (1999).

Jumlah luas lahan dan hutan yang terbakar tersebut merupakan akumulasi beberapa
vegetasi alam meliputi: hutan pegunungan, hutan dataran rendah, hutan payau dan
gambut, semak dan rumput kering, HTI, perkebunan dan lahan pertanian.3

Secara iklim Indonesia termasuk dalam daerah beriklim tropis dengan


kelembaban udara yang relatif tinggi (pada umumnya di atas 90%) sedangkan
temperatur tahunan ketika musim kemarau dapat mencapai 38°C. Salah satu faktor
penyebab kebakaran menurut CIFOR ialah adanya fenomena El Nino yaitu
kemarau panjang yang disebabkan oleh kondisi variasi angin. Kondisi yang
demikian memicu panas yang dapat menimbulkan api di lahan gambut wilayah
Kalimantan dan daerah lainnya. Tidak hanya itu perkembangan demografi
penduduk di daerah-daerah baru memaksa adanya alih-fungsi lahan menjadi

3
Data tabel tersebut Disusun berdasarkan dari hasil penelitian CIFOR terhadap
kasus kebakaran hutan di Indonesia yang merujuk pada pendataan oleh Bappenas-ABD
tahun 1999.

5
pemukiman, pertanian, dan perkebunan oleh perusahaan, masyarakat ataupun
negara. Di Riau aktivitas pembukaan lahan terjadi di kawasan-kawasan bergambut
yang digunakan untuk perkebunan dan aktivitas HTI memicu kebakaran lahan
seluas kurang lebih 26.000 hektar karena pengeringan lahan. Di tempat yang sama
sejak September 1997 sampai dengan mei 1998 luas areal yang terbakar mencapai
51.255 hektar meliputi: HPH 6.737 hektar, HPHTI 4.953 hektar, dan perkebunan
4
28.133 hektar, lainnya mencapai 11.431 hektar. penduduk di sekitar wilayah
hutan sering menggunakan api untuk persiapan lahan, baik untuk membuat lahan
pertanian maupun perkebunan. Tingginya anggaran produksi menjadikan penggunaan api
sebagai alternatif untuk memangkas biaya pembukaan maupun persiapan lahan dan efektif
dari segi waktu.

1. Faktor Penyebab Terjadinya Kebakaran Hutan Dan Lahan 1997/1998.

Dalam Kasus kebakaran hutan pada tahun 1997/1998 faktor-faktor


kebakaran secara umum dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor alam dan
faktor manusia:

1.1. Faktor Alam

Kondisi alam di negara yang termasuk kawasan tropis memiliki dua musim,
yaitu hujan dan kemarau. Ketika musim hujan potensi bencana yang paling kerap
terjadi di Indonesia adalah banjir bandang. Sementara ketika musim kemarau tiba
maka kawasan di hutan terutama yang memiliki vegetasi hutan gambut sangat
rawan terjadi kebakaran hutan. Pada kasus kebakaran hutan tahun 1997/1998 faktor
alam yang menyababkan kebakaran yang luar biasa itu terjadi akibat adanya
fenomena El Nino yaitu variasi angina yang membawa dampak terjadinya kemarau
panjang serta udara panas. Beberapa wilayah seperti Kalimantan yang memiliki
kawasan bergambut yang luas sangat potensial bagi terjadinya kebakaran hutan.

4
Tertera dalam artikel osf.oi karya afif nurkholis dkk. Tentang “analisis
temporal kebakaran hutan dan lahan di Indonesia 1997 dan 2015” hal 6

6
1.1. Faktor Manusia

Di Kalimantan kawasan terbesar yang terbakar meliputi wilayah hutan


dataran rendah dan lahan pertanian yang masing masing memiliki luas 2.375.000
dan 2.829.000 hektar. Kebakaran ini terutama akibat pembukaan lahan untuk
dijadikan perkebunan kelapa sawit dan HTI (Hutan Tanaman Industri). Di
Sumatera Selatan, kebakaran yang terjadi di lahan basah juga disebabkan oleh
kegiatan-kegiatan mata pencaharian masyarakat seperti persawahan atau pertanian.
Selama tahun-tahun di luar masa ENSO, pembukaan lahan gambut untuk
perkebunan tampaknya merupakan sumber utama kabut asap.
Proyek sawah sejuta hektar yang dicanangkan pemerintah kalimantan tengah
menjadi sumber utama dalam kasus kebakaran hutan maupun kabut asap dengan
adanya peningkatan aktivitas petani kecil dalam pembersihan lahan. yang juga
melanda Sarawak. Pembakaran hutan secara ektensif pada tahun 1997 di kalimantan
barat merupakan upaya dalam membuka lahan perkebunan kelapa sawit dan HTI di
lahan gambut.5 Lucca Tacconi menyebutkan bahwa tidak hanya di kalimantan tengah,
aktivitas pembakaran hutan karena pembukaan lahan di tahun 1997 terdeteksi di
beberapa wilayah seperti Sumatera, Sulawesi, Papua Barat, Kalimantan Barat dan
Kalimantan Timur
2. Dampak Kerugian Yang Disebabkan Oleh Kebakaran Hutan Tahun
1997/1998

Dampak kerugian yang diakibatkan kebakaran hutan dan lahan 1997/1998


meliputi kerugian ekoligis, ekonomis, sosial masyarakat, berikut pemaparannya:

2.1. Kerugian Secara Ekonomi Pada Tahun Kebakaran Hutan 1997/1998

Pada upaya perhitungan nilai kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh


kebakaran hutan 1997/1998 menggunakan dua studi kasus yang digunakan dalam
tingkatan nasional yaitu ABD dan ISAS karena dianggap cinci dan penyajiannya

5
Lucca Tacconi, Op.cit. hlm 6
7
dalam bentuk lampiran. Studi ADB menghitung biaya total ’kebakaran hutan
dan kekeringan’ di Indonesia. Namun, hasil dari studi ini sering dikutip oleh media,
dalam publikasi ilmiah dan juga dalam dokumen-dokumen resmi sebagai kerugian
akibat ’kebakaran hutan’ saja. Studi ISAS menggunakan nilai tukar Rupiah rata- rata
tahun 1997 sebesar 2500 rupiah per dolar, sedangkan studi ADB memakai nilai tukar
Rupiah rata-rata tahun 1998 sebesar 8000 rupiah per dolar. Kebakaran tahun
1997/98 mengakibatkan degradasi hutan dan deforestasi menelan biaya ekonomi
sekitar US $ 1,6-2,7 milyar dan biaya akibat pencemaran kabut sekitar US $ 674-
799 juta. Kerugian yang diderita akibat kebakaran hutan tersebut kemungkinan jauh
lebih besar lagi karena perkiraan dampak ekonomi bagi kegiatan bisnis di Indonesia
tidak tersedia. Valuasi biaya yang terkait dengan emisi karbon kemungkinan
mencapai US $ 2,8 milyar.6 Sementara hasil perhitungan kerugian ekonomi ulang
menunjukan anggaran yang masuk dalam kerugian kebakaran naik mencapai 4,86
milyar meliputi nilai uang dan kerugian non-uang. Anggaran sebesar itu
mencangkup kerusakan, kebakaran kayu, kematian pohon, HTI, kebun, Bangunan
dan biaya pengendalian dan estimasi anggaran yang keluar dalam penanganan
masalah kabut asap yang ada dalam sektor seperti kesehatan, pariwisata dan
transportasi.

2.2. Kerusakan Ekologi Sebagai Kerugian Dari Kebakaran Hutan 1997/1998

Kebakaran hutan membawa dampak yang besar pada keanekaragaman


hayati. Hutan yang terbakar berat akan sulit dipulihkan, karena struktur tanahnya
mengalami kerusakan. Hilangnya tumbuh-tumbuhan menyebabkan lahan terbuka,
sehingga mudah tererosi, dan tidak dapat lagi menahan banjir. Karena itu setelah
hutan terbakar, sering muncul bencana banjir pada musim hujan di berbagai daerah
yang hutannya terbakar. Hutan alam mungkin memerlukan ratusan tahun untuk
berkembang menjadi sistem yang rumit yang mengandung banyak spesies yang
saling tergantung satu sama lain.menurut Joko yang dimuat dalam
nasional.tempo.co mengatakan bahwa pengaruh kebakaran hutan sangat besar
terhadap hilangnya beberapa satwa liar seperti Orangutan, Beruk, Lutung dan

6
Ibid,. Hlm 8
8
bahkan Kelalawar.
Luas hutan hujan tropika di dunia hanya meliputi 7 % dari luas permukaan
bumi, tetapi mengandung lebih dari 50 % total jenis yang ada di seluruh dunia. luas
Indonesia hanya 1.3 % dari luas bumi, tetapi memiliki keanekaragaman hayati yang
tinggi, meliputi : 10 % dari total jenis tumbuhan berbunga, 12 % dari total jenis
mamalia, 16 % dari total jenis reptilia, 17 % dari total jenis burung dan 25 % dari
total jenis ikan di seluruh dunia. Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi pusat
perhatian dunia internasional dalam hal keanekaragaman hayatinya.
Berbagai jenis kayu kini telah menjadi langka. Kayu eboni kayu ulin, ramin
, dan beberapa jenis meranti. adalah contoh dari beberapa jenis kayu yang sudah
sulit ditemukan di alam. Selain itu, puluhan jenis kayu kurang dikenal (lesser-
known species) saat ini mungkin telah menjadi langka atau punah sebelum
diketahui secara pasti nilai/manfaat dan sifat-sifatnya. maka diperlukan kegiatan
konservasi Setiap species mempunyai kecepatan tumbuh yang berbeda-beda, ada
yang tergolong fast growing spesies terutama untuk jenis-jenis pioner, tetapi ada
yang termasuk dalam slow growing spesies. Untuk keberlanjutan pemanenan
jangka panjang jenis pohon yang lambat pertumbuhannya seperti Shorea ovalis, S.
seminis, S. leavis, Vatica sp., Koompassia keanekaragaman hayati.7 Selama
beberapa dekade, hutan-hutan Dipterocarpaceae di Indonesia sering mengalami
kebakaran baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja yang berdampak
langsung dengan hilangnya sejumlah spesies flora dan fauna tertentu. Kehilangan
keanekaragaman hayati secara umum juga berarti bahwa spesies yang memiliki
potensi ekonomi dan sosial mungkin hilang sebelum mereka ditemukan.
Dari adanya kebakaran hutan dan lahan berpengaruh terhadap emisi karbon
yang terbentuk. Berdasarkan studi ADB, dari estimasi 206,6 juta ton emisis karbon
akibat kebakaran hutan 1997/1998, 156,3 juta (sekitar 75%) dihasilkan dari gambut
yang terbakar, yang juga menghasilkan sekitar 5 juta ton (60%) bahan partikel debu
dari total 8,2 juta. Estimasi-estimasi ini didasarkan atas asumsi bahwa sekitar 750,000
ha (50%) kawasan yang diidentifikasi sebagai hutan rawa gambut dalam estimasi

7
Fachmi Rasyid.”Permasalahan Dan Dampak Kebakaran Hutan” Jurnal
Lingkar Widyaiswana: Edisi 1 No. 4, Oktober – Desember 2014, P.47-59. Hlm
10
9
ADB sebenarnya adalah lahan gambut.8 Pada dasarnya kerugian ekologis masih
sangat luas meliputi pencemaran udara akibat kabut asap, hilangnya vegetasi hutan
menyebabkan kontruksi tanah yang tidak kuat ketika hujan berpotensi banjir atau
longsor, dan pencemaran tanah.

2.3. Kerugian Secara Sosial Masyarakat


Peristiwa kebakaran hutan tahun 1997/1998 merupakan peristiwa terbesar dan
menyumbang besar dalam emisi karbon akibat kabut asap yang mencemari udara.
Kerugian di sektor pedesaan disebabkan oleh kebakaran hutan liar oleh kegiatan
pertanian atau kegiatan lainnya. Pada kasus isu ini kurang mendapat perhatian
karena kebanyakan organisasi yang terlibat dalam penilaian dampak kebakaran
hutan sebagian besar menaruh perhatian pada hutan dan keanekaragaman hayati.
dampaknya terhadap sektor pedesaan kurang penting, sehingga membatasi perhatian
para pemangku kepentingan nasional dan lokal mengenai topik ini dan/atau juga
merupakan penilaian yang sulit dan mahal untuk dilakukan. Data yang tersedia
menunjukkan bahwa paling sedikit ada beberapa kawasan pedesaan yang
kemungkinan terkena dampak kebakaran hutan liar.

Selain itu ada laporan-laporan potensi dampak negatif kabut asap terhadap
produksi pertanian, misalnya kelapa sawit, karena mempengaruhi proses
fotosintesis, tetapi laporan lain menyatakan bahwa penyebabnya adalah musim
kemarau. Namun, ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa asap akibat
kebakaran.9 mengenai dampak kabut asap dan kebakaran hutan terhadap sektor
pedesaan secara khusus berdampak pada pola interaksi masyarakat yang berubah
(berkurang) pasca kebakaran hutan 1997/1998 karena pekatnya kabut asap yang
ada. Ditambah dengan dampak kesehatan masyarakat juga terganggu akibat kabut
pekat dari kebakaran hutan yang terjadi di waktu-waktu tersebut. Kabut asap
menjadi masalah bagi banyak kota di dunia dan terus mengancamlingkungan.
Menurut Environmental Protection Agency (EPA) U.S.A., udara menjadi sangat
berbahaya karena melewati batas 80 bagian persejuta (ppb). Kabut asap dalam

8
Lucca Taccino. Op.cit. Hlm 14
9
Ibid. Hlm 7-8
10
keadaan berat berdampak pada saluran pernapasan manusia serta memicu penyakit
saluran pernapasan seperti penyakit emphysema,bronchitis, dan asma.10

3. Penanggulangan Bencana Alam Kebakaran Hutan 1997/1998

Besaran anggaran yang telah di keluarkan pemerintah untuk mengatasi


masalah kebakaran hutan masih tetap tidak menanggulangi dampak dampak yang
melibatkan masyarakat seperti dampak kabut asap kebakaran hutan. Maka dalam
upaya penanggulangan bencana pemerintah tidak hanya bergerak sendiri namun
terdapat negara asing yang turut terlibat dalam mengatasi isu kebakaran hutan
meliputi negara Malaysia, singapura dan sebagainya. Dalam upaya mengatasi
masalah kebakaran hutan terdapat beberapa alternatif penanganannya yaitu melalui
strategi kebijakan hukum dan penentuan sikap yang jelas terhadap pelanggaran
hukum kehutanan, kerja sama antar-negara Dalam upaya memadamkan hutan
yang terbakar ini negara terdampak seperti singapura, Malaysia dan lembaga
bantuan pembangunan turut serta. Seperti pada operasi Haze Operation pada
1997 untuk pemadaman 37.983 titik bara api . karena dalam realitas nya
kebakaran hutan tahun 1997/1998 di Indonesia memiliki kaitan erat terhadap
pembukaan lahan untuk perkebunan ataupun kondisi sosial kultural
masyarakat. Maka penguatan terhadap independensi serta kekuatan hukum
yang jelas perlu dibangun agar negara dapat berdiri sebagai pemilik keputusan
yang sah dalam pengelolahan lahan dan hutan.

10
Anih Sri Suryani. “Penanganan Asap Kabut Akibat Kebakaran Hutan Di
Wilayah Perbatasan Indonesia”. Aspirasi Vol. 3no. 1, Juni 2012. Hlm 64
11
KESIMPULAN

Faktor utama terjadinya kebakaran hutan dan lahan tahun 1997/1998


dipengaruhi oleh dua hal yaitu alam dan manusia. Alam erat kaitannya dengan
kemarau dari adanya fenomena El Nino dan manusia terkait pembukaan hutan dan
lahan sebagai lahan pertanian dan perkebunan terutama kelapa sawit. Kekuatan
hukum yang kesulitan untuk menjerat para pembakar hutan ini kemudian menjadi
polemik panjang dalam birokrasi dan kebijakan negara terhadap pengusaha.

Kebakaran hutan dan lahan yang begitu luas kemudian berdampak nyata
bagi kehidupan sosial masyarakat, kerugian ekonomi negara maupun masyarakat
karena tidak dapat beraktivitas seperti biasanya akibat dari kabut asap. Dan
kerugian ekologis yang berkaitan erat dengan rusaknya ekosistem alam, tanah,
satwa, dan vegetasi hutan, ditambah dengan pencemaran udara yang dihasilkan dari
kebakaran hutan. Dampak yang tidak langsung kemudian terjadinya perubahan
perilaku sosial-kultural masyarakat dimana hilangnya interaksi akibat dari kabut
asap yang berbahaya. Maka dalam tindakan tindakan yang mengarah pada
penanggulangan bencana kebakaran hutan. Pemerintah dibantu dengan operasi
Haze Operation untuk memadamkan api yang menyebar di hampir seluruh
kepulauan di Indonesia pada tahun 1997/1998.

12
DAFTAR SUMBER
SUMBER BUKU
Tacconi, Lucca. “Kebakaran Hutan di Indonesia: penyebab, biaya, dan implikasi
kebijakan”. CIFOR Occasional Paper no 38(i).

SUMBER JURNAL

Nurkholis, afif, dkk. artikel ilmiah: “analisis temporal kebakaran hutan dan lahan
di Indonesia 1997 dan 2015”

Rasyid, Fachmi..”Permasalahan Dan Dampak Kebakaran Hutan” Jurnal Lingkar


Widyaiswana: Edisi 1 No. 4, Oktober – Desember 2014, P.47-59.

Suryani, Anih Sri. “Penanganan Asap Kabut Akibat Kebakaran Hutan Di Wilayah
Perbatasan Indonesia”. Aspirasi Vol. 3no. 1, Juni 2012

SUMBER BERITA
https://nasional.tempo.co/read/714720/kabut-asap-dan-kebakaran-hutan-satwa-pun-
terancam-punah/full&view=ok

13