Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Patient safety atau keselamatan pasien menjadi salah satu parameter akreditasi rumah
sakit yang tercantum pada UU No.44 Tahun 2009 yang menyebutkan dalam upaya
peningkatan mutu pelayanan rumah sakit wajib melakukan standar keselamatan pasein.
Dalam upaya peningkatkan mutu pelayanan pasien maka setiap rumah sakit harus melakukan
akreditasi dengan tujuannya adalah untuk menentukan apakah rumah sakit tersebut
memenuhi standar yang direncanakan untuk memperbaiki keselamatan dan mutu pelayanan
Sasaran Keselamatan Pasien merupakan syarat untuk diterapkan di semua rumah sakit
yang diakreditasi oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS). Penyusunan sasaran ini
mengacu kepada Nine Life-Saving Patient Safety Solutions dari WHO Patient Safety (2007)
yang digunakan juga oleh Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit PERSI (KKPRS
PERSI), dan dari Joint Commission International (JCI). Maksud dari Sasaran Keselamatan
Pasien adalah mendorong perbaikan spesifik dalam keselamatan pasien. Sasaran menyoroti
bagian-bagian yang bermasalah dalam pelayanan kesehatan dan menjelaskan bukti serta
solusi dari konsensus berbasis bukti dan keahlian atas permasalahan ini.
Dalam perkembangannya Rumah sakit melakukan suatu pendekatan untuk memperbaiki
keamanan obat-obat yang perlu diwaspadai (high-alert). Obat-obatan yang perlu diwaspadai
adalah obat yang sering menyebabkan terjadi kesalahan serius (sentinel event), obat yang
berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan (adverse outcome) seperti obat-
obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip atau (Look Alike Sound Alike)
Cara yang paling efektif untuk mengurangi atau mengeliminasi kejadian tersebut adalah
dengan meningkatkan proses pengelolaan obat-obat yang perlu diwaspadai termasuk
memindahkan elektrolit konsentrat dari unit pelayanan pasien ke farmasi. Rumah sakit secara
kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan atau prosedur untuk membuat daftar obat-obat
yang perlu diwaspadai berdasarkan data yang ada di rumah sakit. Pelayanan Kefarmasian di
Rumah Sakit merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan
Rumah Sakit yang berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan bahan medis habis pakai yang bermutu.

0
Pelayanan kefarmasian merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi,
mencegah, dan menyelesaikan masalah terkait obat. Pada pelaksanaanya Apoteker
bertanggung jawab terhadap pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis
habis sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta memastikan kualitas, manfaat, dan
keamanannya. Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
merupakan suatu siklus kegiatan, dimulai dari pemilihan, perencanaan kebutuhan,
pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pemusnahan dan penarikan,
pengendalian, dan administrasi yang diperlukan bagi kegiatan pelayanan kefarmasian.
Pengelolaan Sediaa farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai harus dilaksanakan
secara multidisiplin, terkoordinir dan menggunakan proses yang efektif untuk menjamin
kendali mutu dan kendali biaya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian obat high alert dan LASA?
2. Apa saja jenis obat high alert dan LASA?
3. Apa saja bahaya dari obat high alert dan LASA?
4. Bagaimana cara peyimpanan obat high alert dan LASA?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian obat high alert dan LASA.
2. Untuk mengetahui jenis obat high alert dan LASA.
3. Untuk mengetahui bahaya dari obat high alert dan LASA.
4. Untuk mengetahui cara peyimpanan obat high alert dan LASA.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Obat high alert dan LASA


High alert medication (HAM) atau obat-obatan yang perlu diwaspadai adalah
obat yang sering menyebabkan terjadinya kesalahan/kesalahan serius (sentinel event),
obat yang beresiko tinggi menyebabkan Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan (ROTD)
(Permenkes, 2011).
High alert juga didefinisikan oleh The Institute For Healthcare Improvement
(IHI) sebagai obat yang kemungkinan besar menyebabkan bahaya ketika digunakan. The
Joint Commission menggambarkan high alert sebagai obat yang memiliki resiko tinggi
menyebabkan bahaya ketika misuse.
Obat High alert adalah obat-obatan yang memiliki risiko lebih tinggi untuk
menyebabkan/ menimbulkan adanya komplikasi / membahayakan pasien secara
signifikan jika terdapat kesalahan penggunaan (dosis, interval, dan pemilihannya).
LASA atau Look Alike Sound Alike , yaitu obat yang memiliki kemasan mirip atau
obat yang memiliki nama yang terdengar mirip.

B. Jenis Obat high alert


Berdasarkan Permenkes No. 74 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit,
Kelompok Obat high-alertdiantaranya:
1. Obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (Nama Obat Rupa dan Ucapan
Mirip/NORUM, atau Look Alike Sound Alike/LASA)
2. Elektrolit konsentrasi tinggi (misalnya kalium klorida 2meq/ml atau yang lebih
pekat, kalium fosfat, natrium klorida lebih pekat dari 0,9%, dan magnesium sulfat
=50% atau lebih pekat).
3. Obat-Obat sitostatika.

2
Daftar Obat High Alert dan LASA

Tabel Daftar obat-obat high alert (ISMP, 2012)


Kelas/kategori obat
Adrenergic agonists IV (epinephrine, phenylephrine, noreinephrine)
Adrenergik antagonists IV (propanolol, metoprolol, labetolol)
Anesthetic agents, general, inhaled and IV (propofol, ketamine)
Antiarrhythmic, IV (lidocaine, amiodarone)
Antithrombotic agents, including :

 Anticoagulants (warfarin, low-molecular-wight heparin, IV unfractioned


heparin)
 Factor Xa inhibitors (fondaparinux)
 Direct thrombin inhibitors (argatroban, bivalirudin, dabigatran etexillate,
lepirudin)
 Thrombolytics (alteplase, reteplase, tenecteplase)
 Glycoprotein IIb/IIIa inhibitors (eptifibatide)

Cardioplegic solutions
Chemotherapeutic agents, parenteral and oral
Dextrose, hypertonic, 20% or greater
Tabel 1. Lanjutan
Dyalisis solutions, peritoneal and hemodialysis
Epidural or intrathecal medications
Hypoglicemics, oral
Inotropic medications, IV (digoxin, milrinone)
Insulin, subcutaneous and IV
Liposomal forms of drugs (liposomal amphotericin B) and conventional
counterparts (amphotericin B desoxycholate)
Moderate sedation agents, IV (dexmedetomidine, midazolam)
Moderate sedation agents, oral, for children (chloral hydrate)
Narcotics/opioids

 IV
 Transdermal
 Oral (including liquid concentrates, immediate and sustained-release
formulations)

Neuromuscular blocking agents (succinylcholine, rocuronium, vecuronium)


Parenteral nutrition preparations
Radiocontrast agents, IV
Sterile water for injection, inhalation, and irrigation (excluding pour bottles) in
containers of 100 mL or more

3
Sodium chloride for injection, hypertonic, greater than 0.9% concentration
Obat spesifik
Epoprostenol (Fiolan), IV
Magnesium sulfate injection
Methotrexate, oral, non-oncologic use
Opium tincture
Oxytocin, IV
Nitroprusside sodium for injection
Potassium chloride for injection concentrate
Potassium phosphates injection
Promethazine, IV
Vasopressin, IV or intraosseous

 Contoh obat LASA sebagai berikut :

4
C. Bahaya Obat High Alert dan LASA
Resiko yang tinggi dari obat high alert ini dapat menyebabkan komplikasi, efek
samping, atau bahaya. Hal ini dikarenakan adanya dosis terapeutik dan keamanan yang
sempit sehingga menyebabkan insiden yang tinggi untuk terjadi kesalahan (John
Dempsey Hospital, 2008).
Obat-obatan yang disebutkan dalam isu keselamatan pasien itu salah satunya
adalah pemberian elektrolit konsentrat secara tidak sengaja (kalium klorida 2 meq/ml
atau yang lebih pekat, kalium fosfat, natrium klorida yang lebih pekat dari 0,9%, dan
magnesium sulfat yang lebih pekat dari 50%). Cara yang paling efektif untuk mengurangi
dan mengeliminasi terjadinya kejadian tersebut yaitu dengan meningkatkan proses
pengelolaan obat-obatan yang perlu diwaspadai termasuk memindahkan elektrolit
konsentrat dari unit pelayanan pasien ke farmasi. Rumah sakit dapat secara kolaboratif
untuk mengembangkan suatu kebijakan untuk membuat daftar obat yang perlu
diwaspadai berdasarkan data rumah sakit. Kebijakan ini juga dapat mengidentifikasi
daerah mana saja yang membutuhkan elktrolit konsentrat, seperti Instalasi Gawat Darurat
(IGD) atau kamar operasi, serta pemberian label secara benar pada elektrolit dan
bagaimana penyimpanannya di area tersebut sehingga dapat membatasi akses untuk
mencegah pemberian yang tidak sengaja/kurang hati-hati (DepKes, 2008).
Jadi, obat yang perlu diwaspadai merupakan obat yang memerlukan kewaspadaan
tinggi, terdaftar dalam kategori obat berisiko tinggi, dapat menyebabkan cedera serius
pada pasien jika terjadi kesalahan dalam penggunaan.

5
D. Cara penyimpanan obat high alert dan LASA
Lokasi penyimpanan obat yang perlu diwaspadai berada di logistik farmasi dan
pelayanan farmasi, khusus untuk elektrolit konsentrasi tinggi terdapat juga di unit
pelayanan, yaitu ICU dan kamar bersalin (VK) dalam jumlah yang terbatas. Obat
disimpan sesuai dengan kriteria penyimpanan perbekalan farmasi, utamanya dengan
memperhatikan jenis sediaan obat (rak/kotak penyimpanan, lemari pendingin), sistem
FIFO dan FEFO serta ditempatkan sesuai ketentuan obat“High Alert”.

1. Penyimpanan obat high alert


a. Obat high alert disimpan ditempat terpisah, akses terbatas, diberi label High alert
b. Pengecekan dengan 2 (dua) orang petugas yang berbeda untuk menjamin
kebenaran obat high alert yang digunakan
c. Tidak menyimpan obat kategori kewaspadaan tinggi di meja dekat pasien tanpa
pengawasan

2. Penyimpanan elektrolit konsentrsi tinggi


a. Asisten apoteker (logistik farmasi / pelayanan farmasi) yang menerima obat
segera memisahkan obat yang termasuk kelompok obat yang “High Alert” sesuai
Daftar Obat High Alert RSM Siti Khodijah Gurah
b. Tempelkan stiker bertuliskan “High Alert” pada setiap kemasan obat high alert.
c. Obat high alert disimpan terpisah dari obat lain

3. Penyimpanan LASA

a. LASA (Look Alike Sound Alike) merupakan sebuah peringatan (warning)


untuk keselamatan pasien (patient safety) : obat-obatan yang bentuk / rupanya
mirip dan pengucapannya / namanya mirip TIDAK BOLEH diletakkan
berdekatan.
b. Obat kategori Look Alike Sound Alike (LASA) diberikan penanda dengan
stiker LASA pada tempat penyimpanan obat.
c. Apabila obat dikemas dalam paket untuk kebutuhan pasien, maka diberikan
tanda LASA pada kemasan primer obat.

6
d. Walaupun terletak pada kelompok abjad yang sama harus diselingi dengan
minimal 2 (dua) obat dengan kategori LASA diantara atau ditengahnya.
e. Biasakan mengeja nama obat dengan kategori LASA saat memberi/menerima
instruksi

7
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Obat High alert adalah obat-obatan yang memiliki risiko lebih tinggi untuk
menyebabkan/ menimbulkan adanya komplikasi / membahayakan pasien secara signifikan
jika terdapat kesalahan penggunaan (dosis, interval, dan pemilihannya). LASA atau Look
Alike Sound Alike , yaitu obat yang memiliki kemasan mirip atau obat yang memiliki nama
yang terdengar mirip.

Berdasarkan Permenkes No. 74 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit,


Kelompok Obat high-alertdiantaranya:

a. Obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (Nama Obat Rupa dan Ucapan
Mirip/NORUM, atau Look Alike Sound Alike/LASA)
b. Elektrolit konsentrasi tinggi (misalnya kalium klorida 2meq/ml atau yang lebih pekat,
kalium fosfat, natrium klorida lebih pekat dari 0,9%, dan magnesium sulfat =50% atau
lebih pekat).
c. Obat-Obat sitostatika.

Resiko yang tinggi dari obat high alert ini dapat menyebabkan komplikasi, efek samping,
atau bahaya. Hal ini dikarenakan adanya dosis terapeutik dan keamanan yang sempit
sehingga menyebabkan insiden yang tinggi untuk terjadi kesalahan (John Dempsey Hospital,
2008).

Lokasi penyimpanan obat yang perlu diwaspadai berada di logistik farmasi dan
pelayanan farmasi, khusus untuk elektrolit konsentrasi tinggi terdapat juga di unit
pelayanan, yaitu ICU dan kamar bersalin (VK) dalam jumlah yang terbatas. Obat
disimpan sesuai dengan kriteria penyimpanan perbekalan farmasi, utamanya dengan
memperhatikan jenis sediaan obat (rak/kotak penyimpanan, lemari pendingin), sistem
FIFO dan FEFO serta ditempatkan sesuai ketentuan obat“High Alert

8
B. Saran
Disarankan agar mahasiswa dapat memperdalam pengetahuan tentang obat high alert
karena sangat penting ketika memasuki dunia pekerjaan selain itu agar pelayanan
kefarmasian di Apotek, Rumah sakit dan tempat pelayanan keseatan lainnya dapat berjalan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

9
DAFTAR PUSTAKA

Hermanto, B., Risdiana, I. and Harimurti, S., 2015. Pengelolaan Obat High Alert Medication
Pada Tahap Distribusi Dan Penyimpanan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II.
Tusholihah, L., 2018. Gambaran Penyimpanan Obat-Obat High Alert Di Unit Pelayanan
Instalasi Farmasi Rsud Kanjuruhan “Kepanjen” Kabupaten Malang (Doctoral
dissertation, Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang).
Sulistyorini, S., 2019. Ketepatan Penyimpanan Obat High–Alert Di Instalasi Farmasi Rsi
Nashrul Ummah Kabupaten Lamongan (Doctoral dissertation, Universitas
Muhammadiyah Gresik).

10