Anda di halaman 1dari 6

https://youtu.

be/FzdhU_imWCk
Zohan Syah Fatomi UTS: Fisika Komputasi October 14, 2019

Find Us :) and Subscribe!

Jawaban No. 1
567
= 283 → 1
2
283
= 141 → 1
2
141
= 70 → 1
2
70
= 35 → 0
2
35
= 17 → 1
2 (1)
17
=8→1
2
8
=4→0
2
4
=2→0
2
2
=1→0
2
1
=0→1
2
Sehingga menurut hasil dari perhitungan persamaan (1) kita dapat menyajikan bentuk
binary dari bilangan desimal 56710 yaitu (dari persamaan (1) tersebut sisa baginya ditulis
kembali namun dari bawah):
56710 = 10001101112 (2)
Bagaimana dengan nilai −56710 ? Bagaimanakah bentuk binarynya?
Dengan menggunakan prinsip Two's Complement kita bisa mengkonvert nilai −56710 tanpa
harus menggunakan perhitungan seperti persamaan (1).
Prinsipnya :
Pertama : Bentuklah hasil binary menjadi 16 bit!
Kedua : Bilangan 0 diganti dengan 1 dan bilangan 1 diganti dengan
bilangan 0, kecuali bilangan 1 terakhir di sebelah kanan dan bilangan
disebelah kanannya.

Dengan menggunakan prinsip di atas maka nilai dari persamaan (2) menjadi :
56710 = 10001101112
(3)
= 00000010001101112

1
https://youtu.be/FzdhU_imWCk
Zohan Syah Fatomi UTS: Fisika Komputasi October 14, 2019

Kemudian dengan menggunakan prinsip kedua kita akan mengubah bit 0 menjadi bit 1
dan sebaliknya dengan ketentuan disebelah kiri bit 1 yang paling kanan (sedangkan untuk bit
1 paling kanan dibiarkan saja). Untuk lebih jelasnya silahkan amati persamaan (4) berikut
ini.

56710 = 00000010001101112
(4)
−56710 = 11111101110010012

Dan ketika dijumlahkan hasilnya adalah 0, seperti persamaan (5) berikut ini.

56710 = 00000010001101112
−56710 = 11111101110010012
(5)
010 = 00000000000000002

2
https://youtu.be/FzdhU_imWCk
Zohan Syah Fatomi UTS: Fisika Komputasi October 14, 2019

Jawaban No. 2

Berbeda dengan jawaban no. 1 yang mengharuskan kita untuk membentuk angka desimal ke
dalam bentuk binary, di no. 2 kita harus mendapatkan nilai bilangan desimal dari bilangan
binary.
1. 00100110001110012 = ... 10 .
Maka kita bisa melakukan pemangkatan secara iteratif dengan basisnya adalah 2.
Seperti persamaan (6) berikut ini:
0 × 215 + 0 × 214 + 1 × 213 + 0 × 212 + 0 × 211 + 1 × 210 +
1 × 29 + 0 × 28 + 0 × 27 + 0 × 26 + 1 × 25 + 1 × 24 + 1 × 23 +
0 × 22 + 0 × 21 + 1 × 20 (6)
= 213 + 210 + 29 + 25 + 24 + 23 + 20
= 8192 + 1024 + 512 + 32 + 16 + 8 + 1 = 978510
2. 10000111001011002 = ... 10 .
Dengan cara yang sama seperti persamaan (6) maka kita bisa menyelesaikan bentuk
binary kedua.
1 × 215 + 0 × 214 + 0 × 213 + 0 × 212 + 0 × 211 + 1 × 210 +
1 × 29 + 1 × 28 + 0 × 27 + 1 × 26 + 1 × 25 + 1 × 24 + 1 × 23 +
1 × 22 + 0 × 21 + 0 × 20 (7)
= 215 + 210 + 29 + 28 + 26 + 25 + 24 + 23 + 22
= 32768 + 1024 + 512 + 256 + 64 + 32 + 16 + 8 + 4 = 3460410
3. Kemudian dari perintahnya kita disuruh untuk menghitung penjumlahan 2 desimal
tersebut. Sehingga,

978510 + 3460410 = 4438910 (8)


4. Kita juga harus melakuka penjumlahan kedua bentuk binary :
00100110001110012
10000111001011002 (9)
10101101011001012
5. Hasil dari persamaan (9) kita konversi ke dalam desimal :

10101101011001012 = 4438910 (10)


6. Terbukti bahwa hasil dari persamaan (8) adalah sama dengan persamaan
(10).

3
https://youtu.be/FzdhU_imWCk
Zohan Syah Fatomi UTS: Fisika Komputasi October 14, 2019

Jawaban No. 3

Pada soal no. 3, algoritma yang dimaksud adalah bentuk diskritisasi terkait dengan sistem
yang sedang dibahas. Dalam hal ini merupakan persamaan pegas osilator harmonik yang
teredam, dituliskan dalam persamaan berikut ini :
d2 x
m = −kx − bv (11)
dt2

Dimana m ddt2x = −kx merupakan suku osilator harmonik dan −bv adalah suku peredaman-
2

nya.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membagi kedua ruas pada persaman (11)
dengan m, sehingga hasilnya adalah sebagai berikut :
d2 x k b
2
=a=− x− v (12)
dt m m
Dari persamaan (12) kita bisa membentuk diskritisasi dari percepatan :
d2 x k b
2
= ai = − x i − v i (13)
dt m m
Perlu diketahui bahwa persamaan (12) merupakan persamaan turunan orde 2 dari po-
sisi yaitu percepatan. Dari nilai tersebut kita bisa mendenisikan nilai kecepatan (turunan
pertama dari posisi) karena percepatan merupakan slope dari kecepatan.
Dengan menggunakan algoritma diskritasi Runge-Kutha maka didapatkan :

vi+1 = vi + hf 1 i
2
(14)

Dimana f 12 i bernilai sebagai berikut :

h
f 1 i = ai − ai (15)
2 2
Atau jika dimasukan ke dalam persamaan (14) maka menjadi :
h
vi+1 = vi + h(ai − ai ) (16)
2
Dengan cara yang sama akan didapatkan bentuk posisi yaitu :
h
xi+1 = xi + h(vi − vi ) (17)
2
Persamaan (16) dan (17) merupakan solusi dari soal no.3

4
https://youtu.be/FzdhU_imWCk
Zohan Syah Fatomi UTS: Fisika Komputasi October 14, 2019

Jawaban No. 4

Data dari soal :


m=1
k=1
b=1
(18)
h = 0.5
v(0) = v0 = 0
x(0) = x0 = 1

Dengan mengaplikasikan data pada persamaan (18) maka akan didapatkan bentuk per-
samaan (16) sebagai berikut :
0.5
vi+1 = vi + 0.5((−xi − vi ) − (−xi − vi )) (19)
2
dan persamaan persamaan (17) menjadi :
0.5
xi+1 = xi + 0.5(vi − vi ) (20)
2
1. Iterasi ke-1, i = 0, t = 0.5
Untuk kecepatan pada saat t = 0.5 (v(0.5)) maka :
0.5
vi+1 = vi + 0.5((−xi − vi ) − (−xi − vi ))
2
0.5
v1 = v0 + 0.5((−x0 − v0 ) − (−x0 − v0 ))
2
v1 = 0 + 0.5((−1 − 0) − 0.25(−1)) (21)
v1 = 0.5(−1 + 0.25)
v1 = 0.5(−0.75)
v1 = −0.375

Untuk posisi pada saat t = 0.5 (x(0.5)) maka :


0.5
xi+1 = xi + 0.5(vi − vi )
2
0.5
x1 = x0 + 0.5(v0 − v0 )
2 (22)
0.5
x1 = 1 + 0.5(− 0)
2
x1 = 1

5
https://youtu.be/FzdhU_imWCk
Zohan Syah Fatomi UTS: Fisika Komputasi October 14, 2019

2. Iterasi ke-2, i = 1, t = 1
Untuk kecepatan pada saat t = 1 (v(1)) maka :
0.5
vi+1 = vi + 0.5((−xi − vi ) − (−xi − vi ))
2
0.5
v2 = v1 + 0.5((−x1 − v1 ) − (−x1 − v1 ))
2 (23)
v2 = −0.375 + 0.5((−1 − 0.375) − 0.25(−1 − 0.375))
v2 = −0.375 + 0.5(−1.375 + 0.34375)
v2 = −0.890625

Untuk posisi pada saat t = 1 (x(1)) maka :


0.5
xi+1 = xi + 0.5(vi − vi )
2
0.5
x2 = x1 + 0.5(v1 −
2
v1 ) (24)
x2 = 1 + 0.5(−0.375 − (0.25 × −0.375))
x2 = 0.859375