Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam penyelenggaraan pemerintahan Negara untuk mewujudkan tujuan
bernegara menimbulkan hak dan kewajiban Negara, yang perlu dikelola dalam
suatu sistem pengelolaan keuangan Negara. Pengelolaan keuangan Negara
sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang dasar Negara Republik Indonesia
tahun 1945 perlu dilaksanakan secara profesional, terbuka dan bertanggung jawab
untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, yang diwujudkan dalam anggaran
pendapatan dan belanja Negara (APBN) sebagai landasan hukum pengelolaan
keuangan Negara tersebut pada tgl 5 April 2003 telah diundangkan Undang-
undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang keuangan Negara, Undang-undang Nomor
17 Tahun 2003 ini menjabarkan aturan-aturan pokok yang telah ditetapkan dalam
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ke dalam asas-asas
umum pengelolaan keuangan Negara. Sesuai dengan ketentuan dalam pasal 29
Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang keuangan Negara, dalam rangka
pengelolaan dan pertanggung jawaban keuangan Negara yang ditetapkan dalam
APBN dan APBD, perlu ditetapkan kaidah-kaidah hukum administrasi keuangan
Negara. dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara disebutkan bahwa perbendaharaan negara adalah “Pengelolaan dan
pertanggungjawaban keuangan negara, termasuk investasi, dan kekayaan yang
dipisahkan, yang ditetapkan di dalam APBN dan APBD“.
Pengertian Ruang Lingkup dan Asas Umum perbendaharaan Negara
Undang-undang tentang perbendaharaan Negara ini dimaksudkan untuk
mewujudkan tujuan bernegara menimbulkan hak dan kewajiban Negara, yang
perlu dikelola dalam suatu sistem pengelolaan keuangan Negara. Dalam Undang-
undang Perbendaharaan Negara ini ditetapkan bahwa Perbendaharaan Negara
adalah pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara, termasuk investasi
dan kekayaan yang dipisahkan, yang ditetapkan dalam APBN dan APBD. Sesuai
dengan pengertian tersebut dalam Undang-undang Perbendaharaan Negara ini
diatur ruang lingkup dan asas umum Perbendaharaan Negara. kewenangan pejabat
perbendaharaan Negara, pelaksanakan pendapatan dan belanja Negara/daerah

1
pengelolaan investasi dan barang milik Negara/daerah piñatausahaan dan
pertanggungjawaban APBN/APBD, pengendalian intern pemerintah, penyelesaian
kerugian Negara/daerah serta pengelolaan keuangan badan layanan umum.
Berdasarkan pengertian diatas Perbendaharaan Negara secara umum adalah
pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan Negara. Termasuk Investasi, dan
kekayaan, yang ditetapkan dalam APBN dan APBD.

1.2 Identifikasi Masalah


Adapun rumusan permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu :
1. Bagaimana konsep dari sistem perbendaharaan?
2. Bagaimana sistem perbendaharaan di Indonesia ?
3. Bagaimana perkembangan dan implementasi sistem perbendaharaan di
Indonesia?
4. Bagaimana kasus sistem perbendaharaan di Indonesia?

1.3 Tujuan Makalah


Adapun tujuan dari makalah ini, yaitu:
1. Memahami definisi sistem perbendaharaan.
2. Mengetahui sistem perbendaharaan di Indonesia.
3. Mengetahui perkembangan dan implementasi sistem perbendaharaan di
Indonesia.
4. Menganalisis kasus sistem perbendaharaan di Indonesia

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Sistem Perbendaharaan


 Sejarah Direktorat Jenderal Perbendaharaan
Sistem perbendahaan negara Indonesia dikelola oleh Direktorat Jenderal
Perbendaharaan (Ditjen PBN). Ditjen PBN saat ini adalah Marwanto
Harjowiryono (periode 2013-sekarang). Terbentuknya Direktorat Jenderal
Perbendaharaan (Ditjen PBN) tidak terlepas dari konsekuensi pelaksanaan
reformasi penyempurnaan manajemen keuangan Negara di Indonesia. Ketika
semangat mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance)

2
digulirkan, Pemerintah Pusat menempuh langkah perubahan melalui reformasi
hukum dan reformasi organisasi. Secara paralel, reformasi hukum yang ditandai
dengan lahirnya Paket Undang-Undang Bidang Keuangan Negara diiringi dengan
perubahan organisasional di tubuh Departemen Keuangan guna menyelaraskan
perangkat organisasi dengan penegasan fungsi Departemen Keuangan selaku
institusi Pengelola Fiskal.
Selaku institusi Pengelola Fiskal, Departemen Keuangan membagi
pemisahan kewenangan, yang antara lain adalah fungsi-fungsi pengkajian,
penganggaran, dan perbendaharaan. Inilah alasan kuat terjadinya penyempurnaan
organisasi (reorganisasi) dengan "terbentuknya" 3 (tiga) organisasi dengan
nomenklatur baru, yaitu Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan
Keuangan (Ditjen APK), Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Ditjen
Perbendaharaan), dan Badan Pengkajian Ekonomi, Keuangan, dan Kerjasama
Internasional (BAPEKKI). Suatu Perubahan organisasi yang ditandai dengan
memisahkan fungsi-fungsi yang berbeda namun berada dalam satu naungan
organisasi, serta menyatukan fungsi-fungsi yang sama namun tersebar di berbagai
unit.
Ditjen PBN sendiri bukanlah organisasi yang sama sekali baru. "Core
function"nya tersebar di berbagai unit Eselon I dengan fungsi paling dominan,
yaitu fungsi pelaksanaan anggaran, pengelolaan kas Negara, pengelolaan barang
milik kekayaan Negara, dan pengelolaan hutang luar negeri berada di bawah unit
Eselon I Direktorat Jenderal Anggaran (DJA). Sementera itu, fungsi
perbendaharaan lainnya tersebar di beberapa unit Eselon I dan II yaitu fungsi
pengelolaan hutang dalam negeri pada Pusat Manajemen Obligasi Negara
(PMON), pengelolaan penerusan pinjaman dan pengelolaaan kasnya pada Ditjen
Lembaga Keuangan (Ditjen LK), dan penyusunan pertanggungjawaban
pelaksanaan anggaran pada Badan Akuntansi Keuangan Negara (BAKUN), serta
fungsi pengolahan data pada Kantor Pengelolahan Data Informasi Keuangan
Regional (KPDIKR) BINTEK.
Selanjutnya, dengan terbitnya Keputusan Presiden Nomor 35, 36, dan 37
Tahun 2004 dan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 302/KMK/2004 dan
Nomor 303/KMK/2004, secara hukum meleburlah unit-unit pengelola fungsi

3
perbendaharaan tersebut menjadi satu Direktorat Jenderal Perbendaharaan, yang
terdiri dari 1 Sekretariat Ditjen dan 7 Direktorat teknis pada kantor pusat serta 30
Kantor Wilayah Ditjen PBN dan sejumlah KPPN pada kantor instansi vertikal
(lihat organisasi). Pelantikan Direktur Jenderal Perbendaharaan dan seluruh
pejabat Eselon II pada bulan Oktober 2004 pun merupakan titik awal sinergi
organisasi baru tersebut. Hingga kini, telah terjadi beberapa kali pergantian
pejabat Eselon II dan jajaran di bawahnya.
Paradigma baru yang muncul paska 2002 menyadarkan betapa pentingnya
pembagian kewenangan dan mekanisme check and balance dalam pengelolaan
keuangan negara. Mekanisme check and balance berguna untuk
mewujudkan pengelolaan keuangan negara yang transparan, efektif, efisien dan
dapat dipertanggungjawabkan. Itulah yang melatarbelakangi lahirnya paket
Undang-Undang Keuangan Negara yang terdiri atas :
 Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara
 Undang-Undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
 Undang-Undang Nomor 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan
dan Tanggung Jawab Keuangan Negara

 Visi dan Misi Ditjen Perbendaharaan


Visi : “Menjadi pengelola perbendaharaan negara yang unggul di tingkat dunia”
Misi :
 Mewujudkan pengelolaan kas dan investasi yang pruden, efisien, dan

optimal
 Mendukung kinerja pelaksanaan anggaran yang tepat waktu, efektif, dan
akuntabel
 Mewujudkan akuntansi dan pelaporan keuangan negara yang akuntabel,
transparan, dan tepat waktu
 Mengembangkan kapasitas pendukung sisten perbendaharaan yang andal,
professional, dan modern.
 Tugas dan Fungsi Ditjen Perbendaharaan
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2015 Tentang
Kementerian Keuangan, maka tugas dan fungsi dari Ditjen Perbendahraan adalah :
Tugas : Menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang
pelaksanaan anggaran, pengelolaan kas dan investasi, pembinaan pengelolaan

4
keuangan Badan Layanan Umum, dan akuntansi dan pelaporan keuangan
pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Fungsi :
 perumusan kebijakan di bidang pelaksanaan anggaran, pengelolaan kas
dan investasi, pembinaan pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum,
serta akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah;
 pelaksanaan kebijakan di bidang pelaksanaan anggaran, pengelolaan kas
dan investasi, pembinaan pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum,
serta akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah;
 penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pelaksanaan
anggaran, pengelolaan kas dan investasi, pembinaan pengelolaan keuangan
Badan Layanan Umum, serta akuntansi dan pelaporan keuangan
pemerintah;
 pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang pelaksanaan
anggaran, pengelolaan kas dan investasi, pembinaan pengelolaan keuangan
Badan Layanan Umum, serta akuntansi dan pelaporan keuangan
pemerintah;
 pelaksanaan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pelaksanaan
anggaran, pengelolaan kas dan investasi, pembinaan pengelolaan keuangan
Badan Layanan Umum, serta akuntansi dan pelaporan keuangan
pemerintah;
 pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Perbendaharaan; dan
 pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri.
Pengertian Perbendaharaan Negara
Perbendaharaan Negara menurut UU No. 1 Tahun 2004 adalah
“pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara, termasuk investasi dan
kekayaan yang dipisahkan, yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara/Daerah (APBN/APBD)”. Sejalan dengan perkembangan
kebutuhan pengelolaan keuangan negara, dirasakan semakin pentingnya fungsi
perbendaharaan dalam rangka pengelolaan sumber daya keuangan pemerintah
yang terbatas secara efisien. Sejalan dengan perkembangan kebutuhan
pengelolaan keuangan negara, dirasakan semakin pentingnya fungsi
perbendaharaan dalam rangka pengelolaan sumber daya keuangan pemerintah
yang terbatas secara efisien.

5
Sesuai dengan pengertian tersebut dalam Undang-undang perbendaharaan
Negara ini diatur ruang lingkup dan asas umum perbendaharaan negara kewenangan
pejabat perbendaharaan negara, pelaksanakan pendapatan dan belanja Negara/daerah
pengelolaan investasi dan barang milik Negara/daerah, penatausahaan dan
pertanggungjawaban APBN/APBD, pengendalian intern pemerintah, penyelesaian
kerugian Negara/daerah serta pengelolaan keuangan badan layanan umum.
Fungsi perbendaharaan tersebut meliputi :
1. perencanaan kas yang baik;
2. pencegahan agar jangan sampai terjadi kebocoran dan penyimpangan;
3. pencarian sumber pembiayaan yang paling murah; dan
4. pemanfaatan dana yang menganggur (idle cash) untuk meningkatkan nilai
tambah sumber daya keuangan.
Tugas perbendaharaan, yaitu;
1. bendaharawan umum, adalah bendaharawan yang mempunyai tugas untuk
menerima pendapatan negara yang terkumpul dari masyarakat, kemudian
dari persediaan yang ada akan dikeluarkannya lagi untuk kepentingan
umum. Contohnya kepala kas negara , bank Indonesia, kepala kantor pos
dll
2. bendaharawan khusus, adalah bendaharawan yang mengurus pengeluaran
negara dari persediaan uang yang ada padanya dan diterima dari
bendaharawan umum. Untuk itu ia diharuskan membuat
pertanggungjawaban atas pengeluaran yang telah dilakukannya dengan
mengirimkan surat pertanggungjawaban (SPJ) yang dibuat tiap-tiap bulan.
Ruang Lingkup Perbendaharaan
Ruang lingkup seperti tertuang dalam pasal 2 UU Perbendaharaan Negara
adalah, Perbendaharaan Negara sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 angka 1,
meliputi :
a. pelaksanaan pendapatan dan belanja negara/daerah;
b. pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran negara/daerah;
c. pengelolaan kas;
d. pengelolaan piutang dan utang negara/daerah;
e. pengelolaan investasi dan barang milik negara/daerah;
f. penyelenggaraan akuntansi dan sistem informasi manajemen keuangan
negara/daerah;
g. penyusunan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD;
h. penyelesaian kerugian negara/daerah;
i. pengelolaan Badan Layanan Umum;

6
j. perumusan standar, kebijakan, serta sistem dan prosedur yang berkaitan
dengan pengelolaan keuangan negara dalam rangka pelaksanaan
APBN/APBD.
Asas Umum Perbendaharaan Negara
Dalam pasal 3 dalam UU Perbedaan Negara disebutkan :
a) Undang-undang tentang APBN merupakan dasar bagi Pemerintah Pusat
untuk melakukan Penerimaan dan Pengeluaran negara
b) Peraturan daerah tentang APBD dasar bagi pemerintah daerah untuk
melakukan penerimaan dan pengeluaran daerah
c) Setiap pejabat dilarang melakukan tindakan yang berakibat pengeluaran
atas beban APBN/APBD jika anggaran untuk membiayai pengeluaran
tidak tersedia atau tidak cukup tersedia
d) Semua pengeluaran negara termasuk subsidi dan bantuan lainnya yang
sesuai dengan program pemerintah pusat, dibiayai dengan APBN.
Program pemerintah pusat dimaksud diusulkan di dalam Rancangan
Undang-Undang tentang APBN serta disusun sesuai dengan kebutuhan
penyelenggaraan pemerintahan negara dan kemampuan dalam
menghimpun pendapatan negara dengan berpedoman kepada rencana kerja
pemerintah dalam rangka mewujudkan tercapainya tujuan bernegara
e) Semua pengeluaran daerah termasuk subsidi dan bantuan lainnya yang
sesuai dengan program pemerintah daerah, dibiayai dengan APBD.
Program pemerintah daerah dimaksud diusulkan di dalam Rancangan
Undang-Undang tentang APBD serta disusun sesuai dengan kebutuhan
penyelenggaraan pemerintahan daerah dan kemampuan dalam
menghimpun pendapatan daerah dengan berpedoman kepada rencana kerja
pemerintah dalam rangka mewujudkan tercapainya tujuan bernegara
f) Anggaran untuk membiayai pengeluaran yang sifatnya mendesak atau
tidak terduga disediakan dalam bagian anggaran tersendiri yang
selanjutnya diatur dalam peraturan pemerintah
g) Kelambatan pembayaran atas tagihan yang berkaitan dengan pelaksanaan
APBN/APBD dapat mengakibatkan pengenaan denda dan bunga.
Landasan Hukum Perbendaharaan
Salah satu reformasi dalam bidang keuangan Negara adalah reformasi
bidang pengelolaan barang/milik kekayaan Negara. Sebagai landasan tersebut

7
adalah UU No. 01 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara yaitu dalam
pengelolaan kekayaan Negara harus diatur dalam peraturan pemerintah tersendiri.
Pengertian Sistem Informasi Perbendaharaan
Sistem Informasi Perbendaharaan menurut (Ditjen Perbendaharaan) adalah
: “Sistem Informasi Perbendaharaan adalah suatu sistem yang digunakan oleh
bagian bendahara dalam proses pengelolaan, pengolahan, dan penyimpanan data
keuangan. Diantaranya meliputi, pembayaran, pembelian, pemeliharaan dan
pembuatan laporan”.
2.2 Sistem Perbendaharaan di Indonesia
Sistem Perbendaharaan di Indonesia telah menggunakan sebuah sistem yang
cukup komprehensif yakni SPAN. SPAN (Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara)
adalah program reformasi di bidang perbendaharaan keuangan Negara yang dimulai
pada tahun 2008 hingga 2010.
Untuk mencapai misi Ditjen PBN saat itu, “Menjadi pengelola
perbendaharaan negara yang profesional, transparan dan akuntabel guna
mewujudkan bangsa yang mandiri dan sejahtera”, maka Ditjen PBN lakukan
penataan organisasi Kantor Pusat dan kantor vertical di daerah. Reorganisasi di
Kantor Pusat meliputi:
 Penggabungan Direktorat Pengelolaan Dana investasi dan Direktorat
Pengelolaan Penerusan Pinjaman menjadi Direktorat Sistem Manajemen
Investasi (Dit.SMI).
 Pembentukan Direktorat Transformasi Perbendaharaan (Dit.TP) sebagai
motor implemantasi Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara
(SPAN).
Guna mewujudkan perbaikan pengelolaan kas negara yang sesuai world
best practices dan meningkatkan penerimaan negara, maka Ditjen PBN
melaksanakan mekanisme perencanaan kas, Treasury Single Account (TSA) dan
Treasury Notional Pooling (TNP).
Pada tanggal 10 Juli 2009, proyek Sistem Perbendaharaan dan Anggaran
Negara (SPAN) dimulai dengan penandatanganan kontrak antara Kementerian
Keuangan dengan LG CNS Co. Ltd. Korea. SPAN mempunyai target
untuk mengimplementasikan konsep Integrated Financial Management

8
Information System (IFMIS) ke dalam sistem penganggaran dan perbendaharaan
negara.
SPAN mengintegrasikan proses bisnis mulai dari perencanaan, pelaksanaan,
hingga ke pelaporan keuangan Negara dalam satu aplikasi teknologi informasi dengan
database yang terpusat. SPAN merupakan implementasi dari program Reformasi
Penganggaran dan Perbendaharaan Negara (RPPN) dan merupakan komponen terbesar
dari program Government Financial Management and Revenue Administration Project
(GFMRAP) yang menjadi pondasi untuk reformasi PFM (Public Financial Management ).
Tujuan SPAN
SPAN bertujuan untuk meningkatkan efektifitas, efisiensi, akuntabilitas, dan
transparansi di dalam pengelolaan keuangan negara. Efektifitas diperoleh melalui akurasi
data sedangkan efisiensi diperoleh melalui integrasi sistem sehingga pengelolaan
keuangan negara menjadi akuntabel dan transparan. Pengembangan SPAN juga untuk
memenuhi amanat dari Undang-undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
dan Undang-undang No.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharan Negara. SPAN juga akan
meningkatkan kinerja pengelolaan keuangan Negara Indonesia sesuai standar
internasional dan hal ini akan secara signifikan meningkatkan kredibilitas Indonesia di
mata dunia.
2.3 Perkembangan dan Implementasi SPAN di Indonesia
Sejarah dan Perkembangan SPAN
Pengembangan SPAN secara langsung disponsori oleh Menteri Keuangan yang
dituangkan melalui Surat Keputusan Menteri Keuangan No.114/KMK.01/2010 tentang
Program RPPN dan Keputusan Menteri Keuangan No. 203/KMK.01/2010 tentang Tim
RPPN. Selanjutnya, dibentuk Tim Koordinasi Teknis RPPN yang melibatkan Direktorat
Jenderal Anggaran, Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan Sekretariat Jenderal
Kemenkeu (dalam hal ini Pusintek) untuk melaksanakan pengembangan SPAN.
Implementasi SPAN didukung oleh beberapa konsultan yang ditunjuk setelah melalui
proses lelang, yaitu : Ecorys, konsultan Business Process Improvement (BPI). LG CNS,
konsultan pengembang TI SPAN. PwC, Change Management and Communication (CMC),
Quadra, konsultan pengembang SAKTI (Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi). Dan
konsultan pengembangan service desk SPAN.
SPAN dikembangkan dengan menggunakan aplikasi berstandar internasional
yang dikenal dengan istilah Commercial Off-The-Shelf (COTS) , yang dalam hal ini

9
menggunakan Oracle e-business suite R12 dan Hyperion. Oracle e-business suite R12
dipergunakan dalam proses pelaksanaan anggaran sedangkan Hyperion digunakan
dalam proses penyusunan anggaran. Hal ini akan menjadikan SPAN sebagai sistem
informasi manajemen keuangan yang terintegrasi (Integrated Financial Management
Information System - IFMIS).
Pertama kali, dilakukan penyempurnaan proses bisnis persiapan dan
pelaksanaan anggaran, kemudian dilakukan penggantian sistem TI SPAN (Oracle) pada
sistem yang sedang berjalan saat ini. Sesudahnya, dilakukan penyesuaian (customization)
antara proses bisnis dengan sistem TI SPAN (Oracle). Selanjutnya dilakukan user
acceptance test (UAT) , piloting , dan peluncuran (roll out ). Pada saat tersebut SPAN
dapat dikatakan go-live atau berhasil digunakan oleh seluruh pihak yang terkait. Proses
pergantian sistemnya dilakukan secara bertahap pada saat uji coba dan tahap
peluncuran. Berarti pada masa itu sebagian unit kerja masih menggunakan sistem lama
dan sebagiannya sudah menggunakan SPAN. Sedangkan pada saat go live seluruh unit
kerja sudah menggunakan SPAN.
Penyempurnaan Proses Bisnis (Business Process Improvement – BPI) dilakukan
melalui beberapa fase. Pertama, adalah fase assessment pada proses bisnis yang sedang
berjalan. Kedua, adalah penentuan arah perubahan proses bisnis di masa depan (future
vision). Ketiga, pendetilan dari proses bisnis SPAN berdasarkan hasil di fase kedua.
Keempat, mempersiapkan strategi implementasi proses bisnis baru, termasuk proses
transisi perubahannya.
Penyempurnaan proses bisnis dalam rangka SPAN dilakukan dengan pembagian
pada modul-modul, yaitu :
1. Modul Perencanaan Anggaran (Budget Preparation) : Penyempurnaan proses
bisnis ini dilakukan oleh Ditjen Anggaran yang mencakup proses perencanaan
anggaran hingga proses penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran
Kementerian/Lembaga (RKA-KL).
2. Modul Manajemen DIPA (Spending Authority Management) : Penyempurnaan
proses bisnis ini dilakukan oleh Ditjen Perbendaharaan, c.q Dit Transformasi
Perbendaharaan. Cakupannya adalah pada proses penyusunan dan pengesahan
DIPA serta proses revisi DIPA.
5. Modul Manajemen Komitmen (Commitment Management) : Penyempurnaan
proses bisnis ini dilakukan oleh Ditjen Perbendaharaan, c.q Dit Transformasi

10
Perbendaharaan. Cakupannya adalah pada proses manajemen supplier dan
manajemen kontrak (komitmen).
6. Modul Manajemen Pembayaran (payment Management) : Penyempurnaan
proses bisnis ini dilakukan oleh Ditjen Perbendaharaan, c.q Dit Transformasi
Perbendaharaan. Cakupannya adalah pada proses manajemen pencairan dana
untuk seluruh jenis pembayaran.
7. Modul Manajemen Penerimaan (Receipt Management ) : Penyempurnaan
proses bisnis ini dilakukan oleh Ditjen Perbendaharaan, c.q Dit Transformasi
Perbendaharaan. Cakupannya adalah pada proses manajemen penerimaan
negara untuk seluruh jenis setoran.
8. Modul Manajemen Kas (Cash Management) : Penyempurnaan proses bisnis ini
dilakukan oleh Ditjen Perbendaharaan, c.q Dit Transformasi Perbendaharaan.
Cakupannya adalah pada proses manajemen rekening, settlement, cash
forecasting , dan hal-hal lain yang terkait dengan treasury.
9. Modul Pelaporan dan Akuntansi (Reporting and Accounting) : Penyempurnaan
proses bisnis ini dilakukan oleh Ditjen Perbendaharaan, c.q Dit Transformasi
Perbendaharaan. Cakupannya adalah pada penyempurnaan proses pelaporan
untuk semua jenis laporan dan penyempurnaan sistem akuntansi.
10. Modul Satuan Kerja (Satker) : Penyempurnaan proses bisnis ini dilakukan oleh
Ditjen Perbendaharaan, c.q Dit Transformasi Perbendaharaan. Cakupannya
adalah pada penyempurnaan proses bisnis di satuan kerja yang nantinya akan
terkoneksi dengan SPAN.
SPAN menekankan pada perubahan dari aspek cara kerja (proses bisnis) dan
organisasi dengan memanfaatkan TI. Oleh karena itu, terdapat tiga pilar penopang dalam
mengembangkan SPAN. Pilar pertama, penyempurnaan proses bisnis, pilar kedua,
penyempurnaan TI (aplikasi dan infrastruktur), dan pilar ketiga, manajemen perubahan
dan komunikasi (Change Management and Communication - CMC).
SPAN nantinya akan digunakan oleh Ditjen Anggaran dalam rangka perencanaan
anggaran dan Ditjen Perbendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran. Selain itu,
SPAN juga akan digunakan oleh para pengelola BA 999 seperti DJA, DJPK, DJKN, DJPU,
dan DJPB.
Satuan kerja sebagai unit yang bertanggung jawab atas perencanaan,
pelaksanaan kegiatan, pertanggungjawaban, dan pelaporan keuangan akan diberikan
satu aplikasi yang disebut Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI). Sistem ini
menggabungkan dan menyempurnakan 8 aplikasi yang saat ini digunakan oleh satker.

11
Nantinya hanya data keuangan dari aplikasi SAKTI yang akan terhubung ke SPAN melalui
beberapa jalur yakni melalui ADK yang disampaikan ke KPPN atau melalui portal span
yang berbasis web.
Implementasi SPAN
SPAN mulai dikembangkan sejak tahun 2009 dan go live (terimplementasi) pada
tahun anggaran 2013. Sebelum itu, pada tahun 2012 dilakukan piloting dan roll out di
semua unit kerja yang terkait pada Ditjen Anggaran dan Ditjen Perbendaharaan. Pada
saat SPAN terimplementasi, sistem yang saat ini berjalan tidak akan digunakan lagi.
SPAN adalah sebuah perubahan yang berskala besar karena mempengaruhi
proses bisnis, TI, dan organisasi dari tiga instansi besar di Kementerian Keuangan (DJA,
DJPB, dan Setjen (Pusintek)). Agar proses perubahan tersebut berjalan dengan baik maka
berbagai program manajemen perubahan dan komunikasi dikembangkan dan
dikomunikasikan. Melalui program manajemen perubahan diharapkan dapat
meningkatkan keberhasilah impementsi SPAN.
Perubahan proses bisnis dan TI tentu akan membawa perubahan kepada
struktur organisasi maupun SDM yang akan menjalankannya. Saat itu, dilakukan
pemetaan dampak perubahan proses bisnis terhadap struktur organisasi. Hasil
pemetaan dijadikan dasar dalam penyusunan struktur organisasi yang baru guna
menunjang pelaksanaan proses bisnis baru secara efisien dan efektif. Perubahan
terhadap proses bisnis dan sistem juga memerlukan peningkatan kemampuan SDM
untuk dapat menjalankannya. Oleh karena itu, telah dipersiapkan berbagai program
training intensif yang bertujuan meningkatkan kemampuan SDM di ketiga unit yang
terlibat. Pemahaman seluruh pihak terkait tentang urgensi SPAN sehingga memberikan
komitmennya untuk ikut serta mensukseskannya. Sedangkan melalui komunikasi,
dikomunikasikan secara regular dan konsisten berbagai perkembangan dan yang harus
dipersiapkan untuk implementasi SPAN sehingga para pemangku kepentingan mampu
mengantisipasi rencana perubahan yang akan terjadi serta secara pro-aktif bisa
berkontribusi di dalamnya.
Informasi tahapan perubahan yang dijalankan dalam implementasi SPAN
disampaikan kepada seluruh pegawai melalui berbagai media komunikasi seperti website
(www.span.depkeu.go.id), newsletter Kabar SPAN dan program sosialisasi. Dengan
terlibat secara aktif dalam berbagai program komunikasi dan pelatihan yang telah
disediakan, maka diharapkan SPAN dapat berjalan sesuai rencana serta memberi

12
manfaat signifikan bagi para pegawai, Kementerian Keuangan serta masyarakat
Indonesia pada umumnya.
2.4 Kasus Sistem perbendaharaan di Indonesia
(Meninjau Perbendaharaan Ke Empat Penjuru Dunia )
Lihatlah dunia luar dan bandingkan dengan keadaan di negerimu. Pelajari
yang terbaik dari mereka dan terapkan dengan penyesuaian seperlunya. Demikian
benang merah yang dapat ditarik dari hasil workshop studi banding sistem
perbendaharaan yang diselenggarakan Direktorat Transformasi Perbendaharaan
pada tanggal 22-24 Juni 2009 di Jakarta. Sesuai dengan namanya, workshop ini
merupakan pembahasan dari “buah tangan” berupa ilmu, pengalaman dan tinjauan
langsung beberapa pejabat dari Departemen Keuangan (DJA, Setjen, dan Ditjen
Perbendaharaan) yang melakukan studi banding ke luar negeri. Negara-negara
yang menjadi perbandingan adalah Australia, United Kingdom, Perancis, Rusia,
Mexico dan Korea. Studi banding ini dimaksudkan untuk memperhatikan
kesesuaian antara model dan fitur dari sistem perbendaharaan yang
diimplementasikan di negara lain dengan sistem perbendaharaan di Indonesia.
Khusus di Mexico dan Korea, studi perbandingan difokuskan pada hubungan
antara persiapan anggaran dan pelaksanaannya, khususnya yang terkait dengan
pengukuran kinerja dan penerapan anggaran berbasis kinerja. Studi banding
meliputi pengamatan langsung ke beberapa unit-unit pemerintah yang
menjalankan fungsi perbendaharaan di negara tujuan dan wawancara dengan
beberapa pejabat strategisnya.
Dari studi banding ini diharapkan diperoleh pemahaman tentang sistem
perbendaharaan di negara pembanding dan hal-hal yang melatarbelakanginya,
memberikan usulan penyempurnaan sistem perbendaharaan di Indonesia serta
mendukung rencana pengembangan Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara
(SPAN). Acara workshop dimulai dengan laporan pelaksanaan kegiatan oleh
Kasubdit Transformasi Proses Bisnis Eksternal, Sudarto. Dalam laporannya,
beliau menyatakan bahwa workshop ini berupaya mewujudkan karakteristik
sebuah learning organization dan melakukan kodifikasi hasil studi banding yang
telah dilaksanakan. Workshop selanjutnya dibuka oleh Direktur Transformasi

13
Perbendaharaan, Paruli Lubis dan Pjs. Sekretaris Ditjen Perbendaharaan, K. A.
Badaruddin.
Dalam arahannya, Bapak Paruli mengharapkan agar workshop yang
dilaksanakan dapat memberikan nilai tambah bagi organisasi. Beliau juga
menegaskan agar pengembangan sistem perbendaharaan didasarkan atas kerangka
peraturan perundangan. Mengambil pengalaman dari negara lain menjadi penting
untuk mempelajari langkah sukses yang telah diraih dan menghindari masalah
serupa yang mungkin timbul. Terkait dengan SPAN, beliau mengingatkan bahwa
SPAN tidak semata merupakan proyek teknologi informasi. SPAN juga terkait
dengan business process dan manajemen perubahan. Senada dengan Bapak Paruli,
Bapak Badaruddin menyampaikan dibutuhkan tiga hal yang penting dilakukan
untuk mendukung pelaksanaan SPAN yaitu open minded (keterbukaan),
koordinasi dan introspeksi. Workshop yang dilaksanakan selama tiga hari ini
dihadiri oleh beberapa pejabat eselon II dan III lingkup Ditjen Perbendaharaan,
baik di pusat maupun di daerah. Selama workshop berlangsung, para peserta
mengikuti pemaparan dan mendiskusikan hasil studi banding yang disampaikan
oleh pejabat yang melakukan perjalanan. Sistem Ketatanegaraan dan Manajemen
Keuangan Sektor Publik di Australia menjadi tema sesi pertama. Sebagai penyaji
adalah Saiful Islam dan Nuryanto dengan moderator Bapak Tri Buwono Tunggal.
Dalam paparannya, penyaji berpendapat bahwa terdapat kaitan yang
sangat erat antara pengelolaan keuangan dengan sistem ketatanegaraan suatu
negara. Pembagian kewenangan antara pemerintah nasional dan pemerintah
propinsi turut serta menjadi topik bahasan pada sesi ini. Sesi kedua adalah Sistem
Perbendaharaan di Australia dengan tiga orang penyaji yaitu Alfiker Siringoringo,
W. Pram Sihombing dan Fauzi Syamsuri serta Bapak Iskandar sebagai moderator.
Dari hasil studi, penyaji menemukan bahwa ternyata Treasury di Australia
berbeda dengan di Indonesia. Department of Treasury Australia berfokus pada
pengelolaan kas and hutang.
Perbedaan lainnya adalah ternyata pemerintah Australia tidak mengelola
banyak aset karena tidak banyak aset yang dimiliki. Untuk mendukung
manajemen kas, perencanaan kas dibuat dalam kerangka satu tahun yang
kemudian di-update setiap bulan dalam bentuk harian. Meskipun semua transaksi

14
dan pelaporan dilaksanakan secara elektronik dan ditunjang dengan teknologi
informasi yang handal, perencanaan kas dibuat dalam format yang sederhana.
Begitu juga dengan Laporan Kas Posisi yang hanya berisi ringkasan cash in dan
cash out (tidak detil).
Kerangka manajemen kas dan langkah yang diambil Treasury Australia
dalam keadaan idle cash (kelebihan kas) maupun cash shortage (kekurangan kas)
turut memperkaya pemahaman peserta. Sesi kedua ini bertambah menarik dengan
paparan penyaji tentang tujuh area pengelolaan perbendaharaan antara Australia
dan perbandingannya di Indonesia. Area tersebut meliputi investasi idle cash,
manajemen saldo kas, perencanaan kas, manajemen rekening, sistem pembayaran,
keamanan serta sistem teknologi informasi.
Secara keseluruhan sistem perbendaharaan di Australia telah berjalan
dengan baik. Di akhir sesi, berdasarkan tujuh area tersebut penyaji turut
menyampaikan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk meningkatkan
kualitas pelaksanaan fungsi perbendaharaan di Indonesia. Sesi ketiga yang
mengangkat tema Akuntansi Berbasis Akrual : Studi Kasus Australia disajikan
oleh Margustienny Oemar Ali dan Syaiful. Sesi ini dipandu oleh Ibu Anandy Wati.
Beberapa isu yang menarik untuk dicermati pada sesi ini antara lain kewajiban
tiap-tiap satker di Australia dalam proses akuntansi dan penyusun laporan
keuangan, kesederhanaan tiap proses yang dijalankan serta keterlibatan akuntan
swasta dalam proses konsolidasi laporan keuangan tingkat nasional di Department
of Finance and Deregulation.
Sesi ketiga mengangkat tema sistem perbendaharaan di Rusia, Perancis
dan United Kingdom. Sesi ini dibawakan oleh Sudarto dan M. Ali Hanafiah dan
dipandu oleh Bapak Rudi Widodo. Salah satu catatan penting pada sesi ini adalah
adanya beberapa persamaan dalam penerapan sistem perbendaharaan di tiga
negara di Eropa ini. Persamaan tersebut meliputi pemisahan kewenangan yang
jelas antara Chief Financial Officer (CFO) dan Chief Operating Officer (COO),
penerapan Rekening Tunggal Perbendaharaan (Treasury Single Account - TSA),
Perencanaan Kas serta Akuntabilitas yang didukung teknologi informasi yang
handal.

15
Satu perbedaan yang mendasar adalah pola sentralisasi pengelolaan
keuangan di Perancis. Sentralisasi pengelolaan keuangan di Perancis dilakukan
dengan menempatkan Public Accountant sebagai wakil Departemen Keuangan di
tingkat satker. Para Public Accountant inilah yang melakukan pekerjaan yang
terkait dengan akuntansi, pengelolaan database dan perencanaan kas. Sedangkan
di Rusia dan United Kingdom tugas-tugas tersebut dikerjakan oleh satker. Melihat
konsepsi pejabat perbendaharaan sebagaimana diamanatkan dalam UU
Perbendaharaan Negara, Indonesia lebih cenderung mengarah pada konsep
pemisahan COO dan CFO sebagaimana diterapkan di Perancis.
Satu hal yang menarik pada perencanaan kas di United Kingdom adalah
penerapan reward and punishment terhadap ketepatan forecast yang dilakukan
satker, sesuatu yang belum ada di Indonesia. Sesi terakhir adalah Persiapan dan
Pelaksanaan Anggaran : Studi Kasus Korea dan Mexico. Sesi yang kembali
dipandu oleh Bapak Rudi Widodo ini dibawakan oleh Didyk Choirul dan Ludiro.
Pada bagian pembahasan studi kasus Korea, didapati bahwa lembaga yang
berperan dalam penganggaran adalah Ministry of Strategy and Finance (MOSF)
yang menggabungkan fungsi Bappenas dan kewenangan Menteri Keuangan.
Dalam hal proses pembahasan anggaran, peranan legislatif sangat tinggi bahkan
terlibat dalam pembahasan RKAKL, sesuatu yang tidak terdapat di Indonesia.
Dalam mengukur kinerja satker, Korea telah menerapkan Performance
Management (PM). Model ini mengukur kinerja satker pada hasil-hasil yang
dapat diperoleh. PM dilakukan mulai dari tahap perencanaan anggaran dan
dilanjutkan dengan pengujian terhadap pemenuhan PM yang telah ditentukan
sepanjang pelaksanaan anggaran. Sanksi berupa penurunan anggaran diberikan
terhadap satker yang memiliki performance yang buruk. Model ini dapat
diterapkan mengingat MOSF memiliki power (kewenangan) yang lebih kuat dari
pada kementerian/lembaga. Pada bagian pembahasan studi kasus Mexico,
ditemukan bahwa 43% APBN Mexico digunakan untuk belanja sosial, sedangkan
untuk belanja modal diserahkan kepada pihak swasta.
Mexico termasuk terlambat dalam memodernisasi manajemen
keuangannya. Reformasi di bidang peraturan baru dimulai di tahun 2006,
sedangkan di bidang penerimaan baru dimulai di tahun 2007. Meskipun reformasi

16
keuangan Mexico termasuk relatif baru, satu kemajuan penting telah dicapai.
Pemerintah tidak hanya mengetahui seberapa besar anggaran yang terpakai, tetapi
juga seberapa jauh pencapaian terhadap kinerja yang diinginkan.
Hasil pembahasan keempat sesi di atas selanjutnya dikelompokkan ke
dalam enam aspek yang menjadi fokus perbandingan, yaitu sistem pemerintahan,
pembagian kewenangan, manajemen kas, fungsi perbendaharaan di daerah, sistem
perbankan dan keamanan transaksi elektronik serta kaitan antara manajemen kas
dan manajemen hutang.
Dari hasil pembahasan juga diperoleh beberapa alternatif usulan yang
meliputi empat aspek utama yaitu manajemen kas, manajemen pembayaran,
akuntansi dan pelaporan serta manajemen keuangan di tingkat satker. Meskipun
perjalanan ini bukanlah perjalanan spiritual, namun dapat dirasakan “spirit” dari
mereka yang melakukan studi banding. Masih banyak yang harus dibenahi untuk
menjadikan Ditjen Perbendaharaan sebagai “The Real Treasurer”.

BAB IIII
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
UU No 1 Tahun 2014 tentang Pembendaharaan Negara dimaksudkan untuk
memberikan landasan hukum di bidang administrasi keuangan negara. Dalam Undang-
undang Pembendaharaan Negara ini ditetapkan bahwa Pembendaharaan Negara adalah
pengelolaan dan pertanggung jawaban keuangan negara, termasuk investasi dan
kekayaan negara yang dipisahkan, yang ditetapkan dalam APBN dan APBD.

17
Fungsi perbendaharaan negara tersebut meliputi : perencanaan kas yang baik,
pencegahan agar jangan sampai terjadi kebocoran dan penyimpangan, pencarian
sumber pembiayaan yang paling murah, pemanfaatan dana yang menggangur (idle cash)
untuk meningkatkan nilai, dan tambah sumber daya keuangan.
Sistem perbendaharaan negara Indonesia dikelola oleh Direktorat Jenderal
Perbendaharaan (Ditjen PBN). Sistem Informasi Perbendaharaan menurut (Ditjen
Perbendaharaan) adalah : “Sistem Informasi Perbendaharaan adalah suatu sistem
yang digunakan oleh bagian bendahara dalam proses pengelolaan, pengolahan,
dan penyimpanan data keuangan. Sistem Perbendaharaan di Indonesia telah
menggunakan sebuah sistem yang cukup komprehensif yakni SPAN. SPAN (Sistem
Perbendaharaan dan Anggaran Negara) adalah program reformasi di bidang
perbendaharaan keuangan Negara yang dimulai pada tahun 2008 hingga 2010.
Pada 10 Juli 2009, proyek SPAN dimulai dengan penandatanganan
kontrak antara Kementerian Keuangan dengan LG CNS Co. Ltd. Korea. SPAN
mempunyai target untuk mengimplementasikan konsep Integrated
Financial Management Information System (IFMIS) ke dalam sistem
penganggaran dan perbendaharaan negara.
SPAN bertujuan untuk meningkatkan efektifitas, efisiensi, akuntabilitas,
dan transparansi di dalam pengelolaan keuangan negara. Hingga saat ini SPAN
sangat membantu dalam mewujudkan visi dan misi dari Diyejn Perbendaharaan
Negara Indonesia.

3.2 Saran
Sistem perbendaharaan di Indonesia sudah cukup baik dijalankan, hanya saja
menurut kami sebaiknya untuk sistem perbendaharaan tersebut tharus erus dilakukan
inovasi dan pembenahan lebih baik, mengingat perkembangan zaman dan bisnis saat ini
yang melaju sangat pesat.

18
DAFTAR PUSTAKA

Atep Adya dan Bambang Trihartanto. Perbendaharaan dan Pemeriksaan


Keuangan Negara/Daerah. PT Elex Media Komputindo. Jakarta: 2005
Riawan,W Tjandra. Hukum Keuangan Negara. PT Gramedia Widiasarana
Indonesia
Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara
Undang-Undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
Undang-Undang Nomor 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan
dan Tanggung Jawab Keuangan Negara
http://www.djpbn.kemenkeu.go.id/portal/id/profil/modernisasi-pengelolaan-
keuangan-negara/sistem-perbendaharaan-dan-anggaran-negara-span.html ᄃ
http://ceuloro.blogspot.co.id/2015/03/makalah-perbendaharaan-negara.html
https://drive.google.com/file/d/0BxYGyCNncyo6Y09DVWJjTWs1MEk/view

19