Anda di halaman 1dari 9

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Evidence based

Evidence based artinya berdasarkan bukti, artinya tidak lagi berdasarkan pengalaman
atau kebiasaan semata. Semua harus berdasarkan bukti. Bukti inipun tidak sekedar bukti
tapi bukti ilmiah terkini yang bias dipertanggung jawabkan.
Suatu istilah yang luas yang digunakan dalam proses pemberian informasi
berdasarkan bukti dari penelitian (Gray, 1997). Jadi, evidence based midwifery adalah
pemberian informasi kebidanan berdasarkan bukti dari penelitian yang bisa
dipertanggungjawabkan.
B. Manfaat Evidence Base

Manfaat yang dapat diperoleh dari pemanfaatan Evidence Base antara lain:

a. Keamanan bagi nakes karena intervensi yang dilakukan berdasarkan bukti ilmiah.

b. Meningkatkan kompetensi (kognitif).

c. Memenuhi tuntutan dan kewajiban sebagi professional dalam memberikan asuhan


yang bermutu.

d. Memenuhi kepuasan pelanggan yang mana dalam asuhan kebidanan klien


mengharapkan asuhan yang benar, seseuai dengan bukti dan teori serta
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

C. Evidence based pranikah

Kesehatan pranikah merupakan suatu proses untuk meningkatkan kemampuan


masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya yang ditunjukan pada
masyarakat reproduktif pranikah. Pelayanan kebidanan diawali dengan pemeliharaan
kesehatan para calon ibu.
Remaja wanita yang akan memasuki jenjang perkawinan perlu dijaga kondisi
kesehatannya. Kepada para remaja diberi pengertian tentang hubungan seksual yang
sehat, kesiapan mental dalam menghadapi kehamilan dan pengetahuan tentang proses
kehamilan dan persalinan, serta pemeliharaan kesehatan dalam masa pra dan pasca
kehamilan.
Promosi kesehatan pada masa pra kehamilan disampaikan pada kelompok remaja
wanita atau pada wanita yang akan menikah. Penyampaian nasehat tentang kesehatan
pada masa pra nikah ini disesuaikan dengan tingkat intelektual pada calon ibu. Nasehat
atau informasi yang diberikan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti karena
bersifat pribadi dan sensitive.
Remaja calon ibu yang mengalami masalah akibat gangguan system reproduksinya
harus segera ditangani. Gangguan system reproduksi tidak berdiri sendiri. Gangguang
tersebut dapat berpengaruh pada kondisi pisikologi dan lingkungan sosial remaja itu
sendiri. Bila masalah kesehatan remaja tersebut sangat kompleks, sebaiknya
dikonsultasikan keahli yang relevan atau dirujuk keyunit pelayanan kesehatan yang
fasilitasnya yang lebih lengkap. Faktor keluarga juga turut mempengaruhi kondisi
kesehatan para remaja yang akan memasuki pintu gerbang pernikahan. Bidan dapat
menggunakan pengaruh keluarga untuk memperkuat mental remaja dalam memasuki
masa perakwinan dan kehamilan.
D. Tujuan pemeriksaan
untuk mengetahui secara dini kondisi kesehatan para remaja. Jika ditemukan penyakit
atau kelainan didalam diri remaja, maka tindakan pengobatan dapat segera dilakukan.
Bila penyakit atau kelainan tersebut tidak diatasi, maka diupayakan masalah tersebut
tidak bertambah berat atau menular kepada pasangannya. Misalnya remaja penderita
penyakit jantung yang sedang hamil harus memeriksakan kesehatannya secara teratur.
Remaja yang menderita AIDS harus mengaja pasangannya agar tidak terkena virus HIV
dengan menggunakan kondom saat bersenggama bila sudah menikah.
Pembinaan kesehatan remaja, terutama remaja wanita, tidak hanya ditujukan hanya
pada masalah gangguan kesehatan (penyakit system reproduksi). Fakta perkembangan
psikologis dan social perlu diperhatikan juga dalam membina kesehatan remaja. Remaja
yang tumbuh kembang secara biologis diikuti dengan perkembangan psikologis dan
sosialnya. Alam dan pikiran remaja perlu diketahui di dalam membina kesehatan.
Penyampaian pesan kesehatan dilakukan melalui bahasa remaja.
Bimbingan terhadap remaja antara lain mencakup hal-hal sebagai berikut :
a. Perkawinan yang sehat.
Remaja dibimbing tentang bagaimana mempersiapkan diri menghadapi
perkawinan ditinjau dari sudut kesehatan. Perkawinan bukan hanya sekedar
hubungan antara suami dan istri. Perkawinan menghasilkan keturunan. Bayi yang
dilahirkan atau keturunan ini diharapkan adalah bayi yang sehat dan direncanakan.
b. Keluarga yang sehat.
Remaja diajarkan tentang keluarga sehat dan cara mewujudkan serta
membinanya. Keluarga yang diidamkan (sejahtera) adalah keluarga yang memiliki
norma keluarga kecil (jumlah keluarga yang ideal terdiri atas suami, istri, dan dua
anak),bahagia, sejahtera, aman, tenteram, disertai rasa ketakwaan kepada Tuhan
YME. Keluarga sejahtera juga memiliki kemampuan social ekonomi yang
mendukung kehidupan anggota keluarganya serta mampu menabung untuk masa
depan. Selain itu, keluarga sejahtera juga dapat membantu dan mendorong
peningkatan taraf hidup keluarga lain.
c. Sistem reproduksi dan masalahnya.
Tidak semua remaja memahami system reproduksi manusia. Membicarakan
system reproduksi dianggap tabu bagi beberapa kalangan remaja. Penjelasan
mengenai perubahan yang terjadi pada system reproduksi pada masa kehamilan,
persalinan, dan pascapersalinan perlu diberikan. Penjelasan mengenai perawatan
bayi serta gangguan system reproduksi, seperti gangguan menstruasi, kelainan
system reproduksi dan penyakit, juga hendaknya diberikan. Penyakit system
reproduksi yang dimaksud adalah penyakit-penyakit hubungan seksual, HIV/AIDS,
dan tumor.
d. Penyakit yang berpengaruh terhadap kehamilan dan persalinan atau sebaliknya.
Remaja yang siap sebagai ibu harus dapat mengetahui penyakit-penyakit yang
memberatkan kehamilan dan membahayakan masa kehamilan atau persalinan.
Penyakit yang perlu dan penting dijelaskan sewaktu mengadakan bimbingan, antara
lain penyakit jantung, penyakit ginjal, hipertensi, DM, anemia, dan tumor.
e. Sikap dan perilaku pada masa kehamilan dan persalinan.
Perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi pada masa kehamilan dan
persalinan. Perubahan sikap dan perilaku dapat mengganggu kesehatan, misalnya
pada masa hamil muda terjadi gangguan psikologi seperti benci dengan seseorang
(suami) atau benda tertentu. Emosi yang berlebihan dimungkinkan akibat perubahan
perilaku. Pada masa persalinan atau pascapersalinan gangguan jiwa juga mungkin
terjadi.
E. Pentingnya Periksa Kesehatan Pra Nikah

Menjelang hari pernikahan semua calon mempelai pasti sibuk mempersiapkan diri
memastikan bahwa semua rencana telah tersusun dengan baik. Sayangnya masih banyak
dari masyarakat kita yang saking terlalu sibuk mempersiapkan hari H, sampai lupa dengan
hal kecil yang mungkin terlihat sepele padahal penting dan besar sekali manfaatnya.
Periksa kesehatan pra nikah memang belum umum dilakukan di Indonesia, tetapi tahukah
bahwa pemeriksaan ini merupakan salah satu prosedur menjelang pernikahan yang sangat
dianjurkan oleh pakar kesehatan
Bila ditinjau secara psikologis, sebenarnya pemeriksaan itu akan dapat membantu
menyiapkan mental pasangan. Sedangkan secara medis, pemeriksaan itu sebagai ikhtiar
(usaha) yang bisa membantu mencegah hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari
sehingga dapat menjadi langkah antisipasi dan tindakan preventif yang dilakukan jauh-
jauh hari untuk menghindarkan penyesalan dan penderitaan rumah tangga.
Para ahli abstetri (ilmu kebidanan) dan ginekologi (ilmu keturunan) menyatakan bahwa
sebaiknya calon pengantin memeriksakan dirinya tiga bulan sebelum melakukan janji
pernikahan. Rentang waktu itu diperlukan untuk melakukan pengobatan jika ternyata salah
seorang atau keduanya menderita gangguan tertentu. Jenis pemeriksaan kesehatan
pranikah dapat disesuaikan dengan gejala tertentu yang dialami calon pengantin secara
jujur, berani dan objektif. Misalnya, pemeriksaan harus dilakukan lebih spesifik jika dalam
keluarga didapati riwayat kesehatan yang kurang baik. Namun, jika semuanya lancar-
lancar saja, maka hanya dilakukan pemeriksaan standar, yaitu cek darah dan urine.

Untuk cek darah, biasanya diperlukan khususnya untuk memastikan si calon ibu tidak
mengalami talasemia, infeksi pada darah dan sebagainya. Dalam pengalaman medis,
kadang kala ditemukan gejala anti phospholipid syndrome (APS), yaitu suatu kelainan
pada darah yang bisa mengakibatkan sulitnya menjaga kehamilan atau menyebabkan
keguguran berulang. Jika ada kasus seperti itu, biasanya para dokter akan melakukan
tindakan tertentu sebagai langkah , sehingga pada saat pengantin perempuan hamil dia
dapat mempertahankan bayinya.
Hasil analisa data medis mengungkapkan bahwa kasus yang paling banyak terjadi
pada calon ibu khususnya di Indonesia adalah terjangkitnya virus toksoplasma. Virus yang
bisa mengakibatkan kecacatan pada bayi ini biasanya disebabkan seringnya kaum
perempuan mengkonsumsi daging yang kurang matang atau tersebar melalui kotoran atau
bulu binatang piaraan. Oleh karena itu, untuk mengetahuinya, agar dapat ditangani Secara
dini diperlukan pemeriksaan toksoplasma, rubella, virus cytomegalo, dan herpes yaitu
yang sering disingkat dengan istilah pemeriksaan terhadap TORCH.
Demikian pula, pada calon pengantin pria biasanya diperlukan untuk dilakukan
pemeriksaan sejumlah infeksi seperti sipilis dan gonorrhea. Selain itu banyak juga dari
pengalaman klinis dilakukan pemeriksaan sperma untuk memastikan kesuburan untuk
calon mempelai pria. Dalam kapasitas ini, pemeriksaan sperma dilakukan dalam tiga
kategori yaitu jumlah sperma, gerakan sperma dan bentuk sperma.
Sperma yang baik menurut para ahli, jumlahnya harus lebih dari 20 juta setiap cc-nya
dengan gerakan lebih dari 50% dan memiliki bentuk normal lebih dari 30% . Bila dalam
pemeriksaan ditemukan kelainan pada sperma, maka waktu tiga bulan setelah pemeriksaan
dianggap sudah cukup untuk melakukan penyembuhan. Demikian halnya bagi calon
mempelai wanita, jangka waktu tiga bulan juga dianggap memadai untuk memperbaiki
siklus menstruasi calon pengantin wanita yang memiliki masa menstruasi tidak lancar
dengan disiplin mengikuti terapi khusus dan intens secara kontinyu.
Pemeriksaan standar menyangkut darah antara lain dilakukan untuk mengetahui
jenis resus. Seperti bangsa Asia lainnya, perempuan Indonesia memiliki resus darah
positif. Sedangkan bangsa Eropa dan Kaukasia biasanya memiliki resus negatif. Karena
itu, pemeriksaan resus untuk pasangan campuran yang berasal dari dua bangsa berbeda
sangatlah penting. Resus berfungsi sama dengan sidik jari yaitu sebagai penentu. Setelah
mengetahui golongan dara seseorang seperti A, B, O biasanya resusnya juga ditentukan
untuk mempermudah identifikasi. Hal itu karena perbedaan resus pada pasangan bisa
berdampak fatal saat kehamilan.
Jika ibu memiliki resus positif dan embrio menunjukkan resus negatif, maka biasanya
disarankan para ahli medis untuk melakukan pengguguran sejak dini karena tidak mungkin
janin akan bertahan hidup secara normal di dalam rahim ibu. Meskipun pasangan ingin
tetap mempertahankan janin, nantinya akan gugur juga. Pengalaman ini biasanya di
kalangan medis disebut sebagai kasus incompabilitas resus.
Calon pengantin juga sering diminta untuk melakukan pemeriksaan
darah anticardiolipin antibody (ACA). Penyakit yang berkaitan dengan hal itu bisa
mengakibatkan aliran darah mengental sehingga darah si ibu sulit mengirimkan makanan
kepada janin yang berada di dalam rahimnya. Selain itu, jika salah satu calon pengantin
memiliki catatan down syndrome karena kromosom dalam keluarganya, maka perlu
dilakukan pemeriksaan lebih intensif lagi. Sebab, riwayat itu bisa mengakibatkan bayi
lahir idiot.
Adapun suntikan Tetanus Toxoid yang lebih dikenal dengan suntikan TT sebenarnya
dimaksudkan untuk mencegah timbulnya tetanus pada luka yang dapat terjadi pada vagina
mempelai wanita yang diakibatkan hubungan seksual pertama. Suntikan TT biasanya juga
diperlukan dan dianjurkan oleh para medis bagi para ibu hamil di usia kehamilan 5-6 bulan
untuk mencegah terjadinya tetanus pada luka ibu ataupun bayi saat proses kelahiran.
Sedangkan kekhawatiran adanya manipulasi serum TT pada suntikan yang diganti dengan
serum kontrasepsi oleh para medis sebaiknya dihilangkan dan jika terbukti adanya
pengalaman sebelumnya atau indikasi kuat mal praktik yang disengaja tersebut, maka
dapat dilaporkan para pihak terkait dan yang berwenang, dan hal itu di samping melanggar
kode etik kedokteran, juga merupakan suatu tindak pidana.
F. Jenis pemeriksaan kesehatan pra nikah yang perlu dilakukan

1. Pemeriksaan hematologi rutin dan analisa hemoglobin, untuk mengetahui adanya


kelainan atau penyakit darah.
2. Pemeriksaan urinalisis lengkap, untuk memantau fungsi ginjal dan penyakit lain yang
berhubungan dengan ginjal atau saluran kemih, pemeriksaan golongan darah dan
rhesus yang akan berguna bagi calon janin.
Mengetahui Rhesus kedua calon mempelai seringkali merupakan hal yang diabaikan,
padahal hal tersebut adalah hal yang penting. Kebanyakan bangsa Asia memiliki
Rhesus positif, sedangkan bangsa Eropa rata-rata negatif. Terkadang, pasangan suami-
isteri tidak tahu Rhesus darah pasangan masing-masing. Padahal, jika Rhesusnya
bersilangan, bisa mempengaruhi kualitas keturunan. Jika seorang perempuan (Rhesus
negatif) menikah dengan laki-laki (Rhesus positif), bayi pertamanya memiliki
kemungkinan untuk ber-Rhesus negatif atau positif. Jika bayi mempunyai Rhesus
negatif, tidak ada masalah. Tetapi, jika ia ber-Rhesus positif, masalah mungkin timbul
pada kehamilan berikutnya. Bila ternyata kehamilan yang kedua merupakan janin
yang ber-Rhesus positif, kehamilan ini berbahaya. Karena antibodi antirhesus dari ibu
dapat memasuki sel darah merah janin. Sebaliknya, tidak masalah jika si perempuan
ber-Rhesus positif dan si pria negatif. Karena itu sangat penting untuk mengetahui
Rhesus kedua calon mempelai.
3. Pemeriksaan gula darah untuk memantau kemungkinan diabetes melitus.
4. Pemeriksaan HbsAG untuk mengetahui kemungkinan peradangan hati.
5. Pemeriksaan VDLR/ RPR untuk mengetahui adanya kemungkinan penyakit sifilis.
6. Pemeriksaan TORC untuk mendeteksi infeksi yang disebabkan parasit Toxoplasma,
virus Rubella dan virus Cytomegalo yang bila menyerang pada perempuan di masa
kehamilan nanti.

G. Manfaat Periksa Kesehatan Pra Nikah

Dengan melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum menikah kita dapat


mengetahui kondisi pasangan serta proyeksi masa depan pernikahan, terutama yang
berkaitan dengan masalah kesehatan reproduksi (fertilitas) dan genetika (keturunan),
dan Anda juga dapat mengetahui penyakit-penyakit yang nantinya bila tak segera
ditanggulangi dapat membahayakan Anda dan pasangan termasuk calon keturunan.

Prosedur Periksa Kesehatan Pra Nikah :


Prosedur yang harus dilakukan sebenarnya tidak berbeda jauh dengan pemeriksaan
kesehatan lain biasanya. Anda dan pasangan membuat janji terlebih dahulu dengan
dokter spesialis atau dokter umum kemudian setelah melakukan wawancara singkat
tentang sejarah kesehatan, Anda dan pasangan wajib melakukan pemeriksaan fisik dan
rangkaian tes radiologi dan laboratorium untuk mendeteksi kelainan-kelainan apa saja
yang mungkin diderita. Idealnya, pemeriksaan kesehatan pra nikah dilakukan enam
bulan menjelang pernikahan. Namun ukuran itu sebenarnya bersifat fleksibel dalam
arti kapanpun dapat dilakukan asal pernikahan belum dilangsungkan, agar penyakit-
penyakit yang mungkin terdeteksi dapat ditanggulangi terlebih dahulu.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dengan melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum menikah kita dapat
mengetahui kondisi pasangan serta proyeksi masa depan pernikahan, terutama yang
berkaitan dengan masalah kesehatan reproduksi (fertilitas) dan genetika (keturunan),
dan Anda juga dapat mengetahui penyakit-penyakit yang nantinya bila tak segera
ditanggulangi dapat membahayakan Anda dan pasangan termasuk calon keturunan.

B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

Evidence Based Midwifery di Royal College Midwives Inggris


: http://www.rcm.org.uk/ebm/volume-11-2013/volume-11-issue-1/the-physical-effect-of-
exercise-in-pregnancy-on-pre-eclampsia-gestational-diabetes-birthweight-and-type-of-
delivery-a-struct/ Midwifery Today :

http://www.midwiferytoday.com/articles/midwifestouch.asp

International Breastfeeding Journal


:http://www.internationalbreastfeedingjournal.com/content

Comfort in Labor : http://Childbirthconnection.org.

Journal of Advance Research in Biological Sciences


: http://www.ejmanager.com/mnstemps/86/86-1363938342.pdf?t=1370044205

American Journal of Obstetric and Gynecology : http://ajcn.nutrition.org/

NICE. Antenatal Care, routine care for the healthy pregnant woman. 2 ed. London: Royal
College of Obstetricians and Gynaecologists; 2008.

Saifuddin AB, Wiknjosastro GH, Affandi B, Waspodo D, editors. Buku Panduan Praktis
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2002.