Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

BAYI TABUNG

Disusun
Oleh:

KELOMPOK 4

1. Raizal
2. Liza Julaini
3. Vebi Morinza
4. Regina Tirta Sari
5. Reky Susaino BB

Dosen Pembimbing : Edhitta Deviani, S. Kep. M. Si

AKDADEMI KEPERAWATAN UNIVERSITAS ABULYATAMA


ACEH BESAR
2018
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya saya
mampu menyelesaikan tugas Makalah ini yang berjudul “Bayi Tabung”
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang saya
hadapi. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah
akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Dan saya menyadari bahwa kelancaran
dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan
orang tua, sehingga kendala-kendala yang saya hadapi teratasi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang ‘Gizi
Ibu Hamil dan Menyusui

Banda Aceh, Mei 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah.......................................................................
B. Rumusan Masalah.................................................................................
C. Tujuan Penulisan...................................................................................

BAB II PEMBAHASAN........................................................................................3
A. Pengertian Bayi Tabung......................................................................3
B. Proses Bayi Tabung.............................................................................4
C. Teknik yang dilakukan dalam proses Bayi Tabung.............................6
D. Tujuan pelaksanaan teknik IVF – ET...............................................10
E. Masalah – Masalah Yang Muncul Dalam Penerapan Teknik
IVF-ET..............................................................................................13
F. Pandangan Etis Terhadap IVF – ET..................................................15

BAB III PENUTUP..............................................................................................16


A. Kesimpulan.......................................................................................16
B. Saran.................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................17

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Beberapa tahun terakhir perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
di berbagai bidang sungguh sangat mengagumkan. Berbagai macam
penelitian dan penemuan baru memunculkan sebuah kemajuan yang luar
biasa. Sama halnya dengan kemajuan dibidang bioteknologi. Perkembangan-
perkembangan bioteknologi bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup
manusia, salah satunya dalam bidang reproduksi. Masyarakat secara umum
mengetahui bahwa untuk menghasilkan keturunan diperlukan terjadinya
fertilisasi internal atau bertemunya sel sperma dan sel telur didalam tubuh
betina (induknya). Belakangan telah berkembang fertilisasi yang dilakukan
secara eksternal atau bertemunya sel telur dan sel sperma diluar tubuh betina
(induknya).
Fertilisasi atau pembuahan adalah proses bertemunya kedua sel gamet
(jantan dan betina) atau lebih tepatnya peleburan dua sel gamet dapat berupa
nucleus atau sel bernukeleus untuk kemudian membentuk zigot. Pada
dasarnya melibatkan plasmogami (penggabungan sitoplasma) dan kariogami
(penyatuan bahan nucleus). Setelah terjadi pembuahan zigot tumbuh
berkembang menjadi embrio.
Saat ini program bayi tabung menjadi salah satu masalah yang cukup
serius. Hal ini terjadi karena keinginan pasangan suami – istri yang tidak bisa
memiliki keturunan secara alamiah untuk memiliki anak tanpa melakukan
adopsi atau juga menolong pasangan suami – istri yang memiliki penyakit
atau kelainan yang menyebabkan kemungkinan untuk tidak memperoleh
keturunan.
Metode bayi tabung diterapkan pertama kalinya pada tanggal 26 Juli
1978 lewat kelahiran seorang bayi asal Inggris bernama louise Brown, di RS
Distrik Oldham, Manchester. Proses metode bayi tabung dilakukan oleh DR.
Patrick Steptoe ini dilakukan tujuh bulan sebelum Louise lahir, tepatnya

1
bulan November 1977, dengan cara memasukan embrio ke rahim Lesley
Brown.
Sejak saat itu, teknologi reproduksi yang dikenal dengan istilah In Vitro
Fertilization ( IVF ) ini menjadi awal perkembangan teknologi kedokteran
yang berkaitan dengan pembuahan buatan. Di Indonesia, IVF pertama kali
diterapkan di RS Anak – Ibu (RSAB) Harapan Kita, Jakarta pada 1987.
Teknik yang kini disebut IVF konvensional itu berhasil melahirkan bayi
tabung pertama, Nugroho Karyanto, pada 2 Mei 1988.

B. Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan bayi tabung?
b. Berapakah macam-macam bayi tabung menurut islam?
c. Bagaimana pandangan hukum islam tentang bayi tabung?
d. Bagaimana pandangan undang-undang tentang bayi tabung?

C. Tujuan Penulisan
a. Untuk mengetahui pengertian bayi tabung.
b. Untuk mengetahui macam-macam bayi tabung.
c. Untuk mengetahui pandangan hukum islam tentang bayi tabung.
d. Untuk mengetahui pandangan undang-undang tentang bayi tabung.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Bayi Tabung


Bayi tabung atau pembuahan in vitro (bahasa Inggris: in vitro
fertilisation) adalah sebuah teknik pembuahan dimana sel telur (ovum)
dibuahi di luar tubuh wanita. Bayi tabung adalah salah satu metode untuk
mengatasi masalah kesuburan ketika metode lainnya tidak berhasil. Prosesnya
terdiri dari mengendalikan proses ovulasi secara hormonal, pemindahan sel
telur dari ovarium dan pembuahan oleh sel sperma dalam sebuah medium
cair.
Bayi tabung adalah suatu istilah teknis. Istilah ini tidak berarti bayi yang
terbentuk di dalam tabung, melainkan dimaksudkan sebagai metode untuk
membantu pasangan subur yang mengalami kesulitan di bidang ”pembuahan“
sel telur wanita oleh sel sperma pria. Secara teknis, dokter mengambil sel
telur dari indung telur wanita dengan alat yang disebut “laparoscop” yang
ditemuan dr. Patrick C. Steptoe dari Inggris. Sel telur itu kemudian diletakkan
dalam suatu mangkuk kecil dari kaca dan dipertemukan dengan sperma dari
suami wanita tadi. Setelah terjadi pembuahan di dalam mangkuk kaca
tersebut kemudian hasil pembuahan itu dimasukkan lagi ke dalam rahim sang
ibu untuk kemudian mengalami masa kehamilan dan melahirkan anak seperti
biasa.
Istilah bayi tabung (test tube baby) dalam bahasa kedokteran dikenal
dengan sebutan “In Vitro Fertilization and Embryo Transfer” (IVF-ET) atau
dalam khazanah hokum Islam dikenal dengan “Thifl al-Anabib” atau “Athfal
al-Anbubah”. Sedangkan dengan inseminiasi buatan (artificial insemination)
dalam hokum Islam dikenal dengan sebutan “At-Talqih al- Shinai”.
Secara teknis, kedua istilah ini memiliki perbedaan yang signifikan,
meskipun memiliki tujuan yang hampir sama yakni untuk menangani masalah
infertilitas atau kemandulan. Bayi tabung merupakan teknik pembuahan
(fertilisasi) antara sperma suami dan sel telur istri yang masing-masing

3
diambil kemudian disatukan di luar kandunga (in vitro) – sebagai lawan “di
dalam kandungan” (in vivo).
Pengertian Inseminasi buatan atau bayi tabung atau pembuahan In Vitro
Fertilization (IVF) adalah suatu upaya memperoleh kehamilan dengan jalan
mempertemukan sel sperma dan sel telur dalam suatu wadah khusus. Pada
kondisi normal, pertemuan ini berlangsung di dalam saluran tuba fallopi.
Pembuahan sel telur (ovum) yang dilakukan di luar tubuh calon ibu. Awalnya
tekhnik reproduksi ini ditunjukkan untuk pasangan infertile, yang mengalami
kerusakan saluran telur. Namun saat ini indikasinya telah diperluas, antara
lain jika calon ibu mempunyai lender mulut rahim yang abnormal, mutu calon
ayah kurang baik, adanya antibody pada atau terhadap sperma, tidak kunjung
hamil walaupun endometriosis telah diobati, serta pada gangguan kesuburan
yang tidak diketahui penyebabnya maka program bayi tabung ini biasa
dilakukan.
Bayi tabung merupakan pilihan untuk memperoleh keturunan bagi ibu-
ibu yang memiliki gangguan pada saluran tubanya. Pada kondisi normal, sel
telur yang telah matang akan dilepaskan oleh indung telur (ovarium) menuju
saluran tuba (tuba fallopi) untuk selanjutnya menunggu sel sperma yang akan
membuahi. Jika terdapat gangguan pada saluran tuba, maka proses ini tidak
akan berlangsung sebagaimana mestinya. Proses yang berlangsung di
laboratorium ini dilaksanakan sampai menghasilkan suatu embrio yang akan
ditempatkan pada rahim ibu. Embrio ini juga dapat disimpan dalam bentuk
beku (cryopreserved) dan dapat digunakan kelak jika dibutuhkan.

B. Proses Bayi Tabung


Menurut sejumlah ahli, inseminasi buatan atau bayi tabung secara garis
besar dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Pembuahan di dalam rahim. Bagian pertama ini dilakukan dengan dua
cara:
a) Cara pertama : Sel sperma laki-laki diambil, kemudian disuntikan
pada tempat yang sesuai dalam rahim sang istri sehingga sel sperma
tersebut akan bertemu dengan sel telur istri kemudian terjadi

4
pembuahan yang akan menyebabkan kehamilan. Cara seperti ini
dibolehkan oleh Syari'ah, karena tidak terjadi pencampuran nasab
dan ini seperti kehamilan dari hubungan seks antara suami dan istri.
b) Cara kedua : Sperma seorang laki-laki diambil, kemudian disuntikan
pada rahim istri orang lain, atau wanita lain, sehingga terjadi
pembuahan dan kehamilan. Cara seperti ini hukum haram, karena
akan terjadi percampuran nasab. Kasus ini serupa dengan adanya
seorang laki-laki yang berzina dengan wanita lain yang
menyebabkan wanita tersebut hamil.
2. Pembuahan di luar rahim. Bagian kedua ini dilakukan dengan lima cara :
a. Cara pertama : Sel sperma suami dan sel telur istrinya diambil dan
dikumpulkan dalam sebuah tabung agar terjadi pembuahan. Setelah
dirasa cukup, maka hasil pembuahan tadi dipindahkan ke dalam
rahim istrinya yang memiliki sel telur tersebut Hasil pembuahan tadi
akan berkembang di dalam rahim istri tersebut, sebagaimana orang
yang hamil kemudian melahirkan ana yang dikandungnya. Bayi
tabung dengan proses seperti di atas hukumnya boleh, karena tidak
ada percampuran nasab. (Dar al Ifta' al Misriyah, Fatawa Islamiyah :
9/ 3213-3228).
b. Cara kedua : Sel sperma seorang laki-laki dicampur dengan sel telur
seorang wanita yang bukan istrinya ke dalam satu tabung dengan
tujuan terjadinya pembuahan. Setelah itu, hasil pembuahan tadi
dimasukkan ke dalam rahim istri laki-laki tadi. Bayi tabung dengan
cara seperti ini jelas diharamkan dalam Islam, karena akan
menyebabkan tercampurnya nasab.
b) Cara ketiga : Sel sperma seorang laki-laki dicampur dengan sel telur
seorang wanita yang bukan istrinya ke dalam satu tabung dengan
tujuan terjadinya pembuahan. Setelah itu, hasil pembuahan tadi
dimasukkan ke dalam rahim wanita yang sudah berkeluarga. Ini
biasanya dilakukan oleh pasangan suami istri yang tidak mempunyai
anak, tetapi rahimnya masih bia berfungsi. Bayi tabung dengan
proses seperti ini jelas dilarang dalam Islam.

5
c) Cara keempat : Sel sperma suami dan sel telur istrinya diambil dan
dikumpulkan dalam sebuah tabung agar terjadi pembuahan. Setelah
dirasa cukup, maka hasil pembuahan tadi dipindahkan ke dalam
rahim seorang wanita lain. Ini jelas hukumnya haram. Sebagian
orang menamakannya " Menyewa Rahim ".
d) Cara kelima : Sperma suami dan sel telur istrinya yang pertama
diambil dan dikumpulkan dalam sebuah tabung agar terjadi
pembuahan. Setelah dirasa cukup, maka hasil pembuahan tadi
dipindahkan ke dalam rahim istri kedua dari laki-laki pemilik sperma
tersebut. Walaupun istrinya pertama yang mempunyai sel telur telah
rela dengan hal tersebut, tetap saja bayi tabung dengan proses
semacam ini haram.

C. Teknik yang dilakukan dalam proses Bayi Tabung


Infertilisasi atau yang biasa sering disebut “kemandulan” merupakan
suatu kondisi dimana pasangan suami istri (pasutri) tidak mampu untuk
mendapatkan keturunan setelah 1 (satu) tahun pernikahan dengan hubungan
seksual yang teratur, baik, serta tanpa upaya mencegah kehamilan. Secara
umum, banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya infertilitas pada
pasutri. Infertilitas pada laki-laki biasanya disebabkan oleh rendahnya
jumlah sel sperma yang terdapat dalam semen (sekresi cairan yang berisi sel-
sel sperma yang dihasilkan selama ejakulasi) dan kualitas sel sperma yang di
bawah standar.
Berdasarkan jumlah dan kualitas sel sperma yang terkandung dalam
satu mililiter semen, infertilitas pada laki-laki dapat dikelompokkan menjadi:
oligozoospermia (sel sperma hanya ada beberapa ratus sel saja),
kriptozoospermia (sel sperma hanya dapat dijumpai beberapa puluh atau
kurang), asthenospermia (sel sperma tidak memiliki kemampuan bergerak
secara leluasa untuk “mencari” sel telur), sel sperma yang ada memiliki
kelainan pada ekor namun kondisi kepala sperma (pembawa gen) masih baik,
dan azoospermia (tidak terdapatnya sperma yang matang).

6
Infertilitas pada perempuan dapat disebabkan oleh tersumbatnya saluran
Fallopi akibat infeksi berulang pada alat kelamin dalam, ovulasi, yang tidak
normal endometriosis dan kerusakan lapisan tuba Fallopi (Corabian, 1997).
Keadaan lain yang menimbulkan infertilitas adalah kecenderungan
pasutri untuk menunda kehamilan sampai perempuan berusia 30 tahun.
Secara umum, perempuan mencapai puncak kesuburan pada usia 18 atau 19
tahun, dan mulai menurun secara perlahan pada usia 35 tahun, bahkan
menurun secara tajam pada usia 49 tahun dan pada akhirnya terjadi
menopaus. Menopause bahkan dapat berlangsung lebih awal, yaitu pada 40
tahun. Pada pria, umur 50 tahun, fertilitasnya tidak jauh berbeda dengan
ketika berusia 25 atau 30 tahun.
1. Assisted Reproductive Technology (ART)

Gambar 1. Prosedur ART


Sumber : Microsoft® Encarta® Reference Library 2003. © 1993-2002
Microsoft Corporation.

Infertilitas dapat diatasi dengan cara konvensional, misalnya: induksi


ovulasi dengan terapi hormon, inseminasi buatan dan operasi. Namun, jika
upaya tersebut tidak berhasil mengatasi infertilitas yang terjadi, pasutri
dapat mencoba sistem ART. Assisted Reproductive Technology (ART)
merupakan istilah untuk sejumlah prosedur medis yang digunakan dalam
menyatukan sel telur dan sel sperma sehingga dapat membantu pasutri
yang infertil dalam memperoleh keturunan.

7
Berdasarkan teknik yang digunakan, ART dapat dikelompokkan
menjadi 4 (empat) metode, yaitu In Vitro Fertilization (IVF), Zygote
IntraFallopian Transfer (ZIFT), Intra Cytoplasmic Sperm Injection (ICSI)
dan Gamete IntraFallopian Transfer (GIFT). Pada IVF, ZIFT dan ICSI
persatuan antara sel telur dan sel sperma diinduksi secara buatan pada
laboratorium sebelum ditransplantasikan kembali ke dalam sistem
reproduksi pasien, sedangkan pada GIFT campuran sel telur dan sel
sperma yang belum mengalami fertilisasi dimasukkan ke dalam saluran
Fallopi pasien, sehingga fertilisasi terjadi secara alami.
Dari keempat metode ART tersebut, IVF merupakan metode yang
paling banyak diaplikasikan untuk membantu pasutri yang infertil. IVF
digunakan untuk mengatasi masalah kemandulan yang terutama
disebabkan oleh kerusakan maupun tersumbatnya saluran Fallopi karena
penyakit, endometriosis atau sterilisasi. Sebelum IVF dilaksanakan, pasutri
harus diajak berkonsultasi dengan sungguh-sungguh untuk mengambil
keputusan tersebut, mengingat pertimbangan tingkat keberhasilan, faktor
finansial (biaya) dan tekanan emosional yang besar, serta alternatif lain
yang mungkin dapat digunakan untuk menggantikan teknik IVF.
2. Teknik Fertilisasi In Vitro Dan Transplantasi Embrio

Gambar 3. Teknik Fertilisasi In Vitro dan Transplantasi Embrio


Sumber : http://www.justeves.com/ipl/ivf_et.shtml

8
Secara teknis, IVF dibagi menjadi 4 (empat) tahap berikut:
a) Tahap pertama, yaitu tahap induksi ovulasi.
Pada tahap ini dilakukan stimulasi pertumbuhan sel telur
sebanyak mungkin yang dilakukan dengan pemberian Follicle
Stimulating Hormone (FSH). Saat ini, FSH telah dimurnikan dan
diperbanyak dengan teknologi rekombinasi DNA, misalnya nama
dagang Gonal-f®, sehingga dapat digunakan untuk membantu
stimulasi pertumbuhan sel telur pada perempuan yang kekurangan
hormon FSH. Setelah dihasilkan cukup banyak sel telur, diberikan
hormon human Chorion Gonadotropin (hCG) untuk menstimulasi
pelepasan sel telur yang matang. Seperti halnya FSH, hCG juga telah
diproduksi dengan teknologi rekombinasi DNA, misalnya Ovidrel®
yang dapat diinjeksikan langsung ke jaringan di bawah kulit. Jika
tidak terdapat sel telur yang matang, maturasi satu atau lebih sel telur
dapat dilakukan dengan menggunakan metode OS (Ovarian
Stimulation).
b) Tahap kedua, yaitu tahap pengambilan sel telur.
Pada tahap ini, hasil pematangan sel telur dari ovarium diamati,
misalnya dengan menggunakan metode laparoskopi atau metode
vaginal ultrasonik. Sel telur yang telah matang akan diambil dari
ovarium dengan menggunakan jarum yang runcing, kemudian
dipindahkan ke dalam cawan petri yang telah berisi medium
pertumbuhan.
c) Tahap ketiga, yaitu fertilisasi sel telur.
Pada tahap ini, sel sperma motil yang telah diperoleh dari metode
swim-u (Henkel dan Schill, 2003) dimasukkan ke dalam cawan Petri
yang telah berisi sel telur, kemudian disimpan di dalam inkubator.
Pemeriksaan gamet dilakukan pada interval waktu antara fertilisasi
dan maturasi. Setelah terjadi fertilisasi, embrio dibiarkan di dalam
inkubator selama 3 – 5 hari.

9
d) Tahap keempat, yaitu transfer embrio.
Tahap ini merupakan tahap akhir, berupa pengembalian embrio
hasil fertilisasi yang telah mencapai tahap blastula. Embrio
ditransplantasikan ke dalam rahim melalui kateter Teflon tanpa
pembiusan. Dengan cara ini pasien dapat kembali ke rumah segera
setelah transfer embrio. Untuk meningkatkan peluang terjadinya
kehamilan, maka beberapa embrio ditransplantasikan ke dalam rahim
(Corabian, 1997).
Dalam aplikasinya, teknik IVF perlu mempertimbangkan tingkat
kesuksesan. Definisi tingkat kesuksesan dalam IVF adalah jumlah
kehamilan yang diperoleh setelah aplikasi IVF dibagi dengan jumlah
aplikasi IVF yang telah dilakukan untuk mendapatkan kehamilan. Ada
beberapa variasi dalam perhitungan ini. Jumlah kehamilan yang diperoleh
setelah aplikasi IVF dapat dihitung yang menghasilkan kelahiran hidup
saja, maupun jumlah keseluruhan termasuk kelahiran mati. Sedangkan
jumlah aplikasi IVF yang telah dilakukan biasanya ditentukan berdasarkan
siklus IVF-ET termasuk teknik IVF itu sendiri sampai pemindahan embrio
ke dalam rahim.
Secara statistik, teknik IVF-ET dapat meningkatkan angka kehamilan
pada pasien yang mengalami masalah infertilitas penyumbatan saluran
Fallopi secara signifikan jika dibandingkan dengan teknik perawatan
konvensional yang lainnya. Kehamilan spontan yang terjadi pada pasien
dengan penyumbatan saluran Fallopi memiliki tingkat kelahiran hidup
1,4%, sedangkan dengan teknik IVF sekitar 8% - 12% per siklus
perawatan (Corabian, 1997).

D. Tujuan pelaksanaan teknik IVF – ET


Secara mendasar, teknik IVF dikembangkan untuk menolong pasutri
yang mengalami infertilitas agar dapat memperoleh keturunan. Namun pada
perkembangannya, teknik IVF memungkinkan manusia untuk memanipulasi
sifat-sifat genetik bahkan menentukan jenis kelamin keturunannya.

10
Sejauh teknik IVF dilaksanakan hanya untuk menolong pasutri yang
sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan dalam masalah reproduksinya,
teknik ini dapat diterima secara etis. Dengan memperoleh keturunan, sisi
kemanusiaan pasutri yang bersangkutan akan meningkat dan teknik tersebut
sama sekali tidak mengurangi nilai kemanusiaan anak yang akan dilahirkan
karena proses yang terjadi di luar tubuh hanyalah pembuahan sel telur oleh
sel sperma, sedangkan proses selanjutnya terjadi di dalam tubuh ibu seperti
halnya kehamilan normal.
1. Sumber sel telur dan sel sperma serta tempat transplantasi embrio
Teknik IVF memungkinkan bahwa sumber sel telur dan sel sperma
tidak hanya berasal dari pasutri yang bersangkutan, melainkan dapat
berasal dari donor sel telur dan donor sel sperma. Demikian pula dengan
tempat transplantasi embrio. Jika rahim pasien tidak memungkinkan
untuk pertumbuhan embrio, maka embrio dapat ditransplantasikan ke
rahim perempuan lain (surrogate mother). Hal ini menimbulkan masalah
etis.
Dipandang dari sisi etis, menurut kelompok kami, teknik IVF yang
dilakukan dengan sel telur dan sel sperma dari pasutri itu sendiri dapat
diterima secara etis, terlebih jika embrio yang dihasilkan
ditransplantasikan kembali ke dalam rahim pemilik sel telur itu sendiri.
Donor sel telur, donor sel sperma atau gabungan keduanya dapat
menghasilkan individu baru yang tidak jelas garis keturunanya, dan jika
donor gamet tersebut diperoleh dari bank sperma maupun pihak-pihak
lain yang tidak jelas asal usulnya secara etis sulit untuk diterima.
Demikian pula transplantasi embrio ke rahim perempuan lain yang
menimbulkan banyak kesulitan, terutama tentang hak kepemilikan anak.
2. Jumlah embrio tansplantasi dan aborsi.
Untuk meningkatkan peluang terjadinya kehamilan, maka jumlah
embrio yang ditransplantasikan biasanya lebih dari satu. Kebanyakan
prosedur IVF yang telah dilaksanakan, mentransplantasikan 4 embrio ke
dalam rahim. Jika dari keempatnya berhasil berkembang lebih dari satu,
maka akan memicu terjadinya kehamilan kembar. Hal ini akan

11
menimbulkan masalah, antara lain kondisi kesehatan ibu yang
bersangkutan maupun janin yang dikandungnya. Biasanya untuk
meningkatkan peluang tumbuh embrio terbaik, dokter melakukan aborsi
terhadap embrio lain.
Menurut kelompok kami, pengguguran embrio yang dilakukan
sebelum 14 hari sejak terjadinya fertilisasi masih dianggap etis. Hal itu
sesuai dengan pernyataan dari ESHRE Task Force on Ethics and Law
dalam jurnal The moral status of the pre-implantation embrio, bahwa
pengguguran tersebut dapat diterima secara umum, karena pada umur
tersebut belum terjadi diferensiasi jaringan embrio. Hal ini diperkuat
dengan pernyataan Hadiwardoyo (1989), bahwa embrio yang berumur
kurang dari 14 hari belum memiliki otak dan jantung. Dengan demikian,
aborsi pada embrio yang berumur kurang dari 14 hari tidak akan
mengurangi hak hidup seseorang.
3. Kriopreservasi, donasi dan penelitian embrio pra-implantasi
Pertimbangan untuk melaksanakan pembekuan embrio pra-
implantasi bukan sepenuhnya berasal dari seorang peneliti saja, akan
tetapi harus mendapat persetujuan dari pasutri pemikik embrio.
Pembekuan embrio yang belum ditransplantasikan, dilakukan dengan
tujuan untuk mengawetkan embrio yang dianggap memiliki kondisi baik
setelah melewati hasil evaluasi genetik yang digunakan sebagai cadangan.
Masalah etis yang muncul adalah apakah embrio cadangan tersebut akan
dibekukan dan disimpan begitu saja?
Embrio yang telah dikriopreservasi tersebut dapat didonasikan
kepada pasutri lain atau digunakan sebagai bahan penelitian. Dilihat dari
sudut etis, seperti yang telah dijelaskan di muka sangatlah sulit jika
embrio yang merupakan calon manusia tersebut didonasikan kepada
pasutri lain, sekalipun keduanya masih memiliki hubungan saudara. Hal
ini juga didasarkan pada alasan bahwa embrio manusia bukan merupakan
barang yang dapat dengan mudah diberikan kepada orang lain.
Menurut kelompok kami, secara etis penelitian terhadap embrio
masih mungkin untuk dilaksanakan, sejauh mendapat persetujuan dari

12
pasutri pemilik embrio dan embrio mempunyai umur tidak lebih dari 14
hari setelah fertilisasi (tanpa memperhitungkan lamanya waktu
pembekuan). Meskipun embrio merupakan calon manusia, namun seperti
halnya aborsi yang dibahas sebelumnya, pengguguran embrio yang belum
mengalami diferensiasi jaringan, dan belum memiliki otak serta jantung
tidak mengurangi hak hidup dan nilai kemanusiaan. Penelitian terhadap
embrio ini akan memberikan sumbangan yang sangat berguna bagi
pengembangan teknik IVF, sehingga dapat meningkatkan peluang
keberhasilannya.

E. Masalah – Masalah Yang Muncul Dalam Penerapan Teknik IVF-ET


Masalah utama dalam kehamilan yang berasal dari teknik IVF adalah
peningkatan kemungkinan kehamilan kembar yang disebabkan oleh
penggunaan hormon yang merangsang ovarium, serta transplantasi lebih dari
satu embrio yang dimaksudkan untuk meningkatkan peluang terjadinya
kehamilan. Tingkat kehamilan kembar berkisar antara 17,3% - 38%. Angka
tersebut lebih besar secara signifikan jika dibandingkan dengan tingkat
kehamilan kembar yang terjadi pada kehamilan spontan yaitu sebesar 1%
(Corabian, 1997).
Menurut Koivurova, dkk. (2002), kehamilan kembar merupakan faktor
risiko penting yang memicu kelahiran prematur, kelahiran dengan berat badan
yang rendah, dan masa kehamilan yang singkat. Bayi yang lahir dengan
kondisi tersebut memerlukan perawatan medis intensif yang lebih lama jika
dibandingkan dengan bayi dari proses kehamilan spontan. Selain peningkatan
angka kehamilan kembar, teknik IVF juga berakibat pada kelahiran dengan
penyakit tertentu (misalnya infeksi kelahiran, hipoglikemia,
hiperbilirubinemia, gangguan pernapasan, pertumbuhan paru-paru yang tidak
normal, dan pendarahan pada otak), serta kelahiran bayi dengan kelainan
organ tubuh bawaan.
Di Finlandia, teknik IVF dipantau melalui metode MBR (Medical Birth
Register), yang dikelola oleh STAKES, suatu badan yang bergerak dalam
bidang pengembangan kesejahteraan dan kesehatan nasional, sejak tahun

13
1987. MBR mendata angka kelahiran bayi yang berhasil dilahirkan dengan
bantuan teknik IVF. Dari hasil penelitian Gissler, dkk. (2004), diperoleh data
bahwa kelahiran prematur sebesar 17%, insiden kelahiran dengan berat badan
rendah sebesar 19% dan kelahiran dengan masa kehamilan yang singkat
sebesar 6,9%, masing-masing untuk kehamilan tunggal. Selain kelahiran
hidup, Gissler, dkk. (2004) juga mengemukakan bahwa teknik IVF juga
membawa risiko kematian janin pada sekitar masa kelahiran (perinatal
mortality), yaitu sebesar 12 kasus dalam 1000 kehamilan tunggal. Sedangkan
untuk kehamilan kembar, persentase kasus kelahiran prematur sebesar 49%,
dan insiden kelahiran dengan berat badan rendah sebesar 46%. Tingginya
angka ini antara lain disebabkan karena terjadinya kasus kembar tiga (triplet),
kembar empat (quadruplet), dan seterusnya.
Kelainan organ tubuh bawaan yang tercatat oleh MBR dalam penelitian
Gissler, dkk. (2004) adalah sebesar 422 kasus dalam 10.000 kelahiran. Angka
tersebut lebih besar secara signifikan jika dibandingkan dengan tingkat cacat
organ tubuh bawaan pada populasi secara umum yaitu sebesar 288 kasus
dalam 10.000 kelahiran. Cacat bawaan yang mungkin terjadi misalnya trisomi
21, bibir sumbing, dan kerusakan sel-sel saraf.
Dari hasil penelitiannya, Koivurova, dkk. (2002) menyimpulkan bahwa
risiko kelahiran prematur pada kehamilan dengan teknik IVF hampir enam
kali lipat lebih besar daripada yang terjadi pada populasi secara umum,
kelahiran dengan berat badan rendah hampir sepuluh kali lipat lebih tinggi,
dan kelahiran dengan penyakit tertentu lebih dari dua kali lipat dari kondisi
yang terjadi pada populasi secara umum. Dengan demikian, jumlah embrio
yang ditransplantasikan kembali ke dalam rahim harus dibatasi agar risiko
terjadinya kehamilan kembar pun dapat dikurangi.
Teknik standar IVF dapat dimodifikasi dalam bentuk kriopreservasi, yang
memungkinkan kelebihan embrio dapat disimpan dalam suhu yang rendah
dan dipindahkan pada siklus IVF berikutnya, sehingga dapat dilakukan lebih
dari satu kali transfer embrio dari proses stimulasi ovarium yang sama.
Kriopreservasi ini dimaksudkan untuk meminimalisasi risiko pembelahan

14
ganda yang dapat memicu kehamilan kembar jika digunakan lebih dari empat
embrio (Dulioust, dkk. 1999).
Dari hasil penelitian, kriopreservasi tidak memicu kelainan mayor
maupun penyakit pada embrio yang dibekukan, bahkan ketika embrio
tersebut ditransplantasikan kembali ke dalam rahim, dilahirkan dan menjadi
dewasa. Hal ini dikemukakan pula oleh ESHRE (European Society of Human
Reproduction and Embriology) 2001, suatu lembaga yang bergerak di bidang
yang berhubungan dengan reproduksi manusia dan embriologi, bahwa tidak
ada bukti-bukti konkrit yang menunjukkan bahwa kriopreservasi merupakan
prosedur yang membahayakan untuk masa depan embrio tersebut.

F. Pandangan Etis Terhadap IVF – ET


Ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang biologi yang berkembang
sangat cepat ternyata menimbulkan berbagai tanggapan di kalangan
masyarakat. Ada sebagian masyarakat yang setuju namun ada sebagian pula
yang menentang hal itu. Kesan pro dan kontra merupakan tanggapan dari
munculnya teknologi-teknologi baru. Berbagai perkembangan teknologi
inilah yang mengakibatkan banyak perubahan yang dapat mempengaruhi
kehidupan manusia.
Masalah etis suatu perkembangan teknologi merupakan dampak dari
perkembangan teknologi itu sendiri. Pertanyaan mengenai etis atau tidaknya
suatu masalah akan muncul pada saat kita dihadapkan pada situasi-situasi
khusus. Dalam bidang bioteknologi tidak ada batasan-batasan yang jelas
mengenai etis atau tidaknya suatu masalah. Dua golongan pendapat ini tidak
bisa hanya dijawab dengan jawaban singkat, bahwa salah satu dari keduanya
adalah benar. Bisa saja golongan pro dapat dianggap etis dan golongan kontra
dianggap tidak etis, demikian pula sebaliknya, tergantung dipandang dari
sudut pandang apa?. Memang kedua pilihan tersebut di atas tidak ada yang
sempurna, masing-masing pasti memiliki kelebihan dan kekuranggan. Dalam
menyikapi masalah tesebut kita perlu membuat rumusan-rumusan atau
batasan-batasan tentang posisi etis atau tidaknya. Batasan etis ini diharapkan
membantu memudahkan dalam pengambilan keputusan.

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bayi tabung atau pembuahan in vitro (bahasa Inggris: in vitro
fertilisation) adalah sebuah teknik pembuahan dimana sel telur (ovum)
dibuahi di luar tubuh wanita. Bayi tabung adalah salah satu metode untuk
mengatasi masalah kesuburan ketika metode lainnya tidak berhasil. Prosesnya
terdiri dari mengendalikan proses ovulasi secara hormonal, pemindahan sel
telur dari ovariumdan pembuahan oleh sel sperma dalam sebuah medium cair.
Inseminasi buatan atau bayi tabung secara garis besar dibagi menjadi
dua, yaitu : pembuahan di dalam rahim dan pembuahan di luar rahim.
Teknik bayi tabung dan inseminasi buatan yang dibenarkan menurut
moral dan hukum islam adalah teknik yang tidak melibatkan pihak ketiga
serta perbuatan itu dilakukan karena adanya hajat dan tidak untuk main-main
atau percobaan. Sedangkan teknik bayi tabung atau inseminasi buatan yang
melibatkan pihak ketiga hukumnya haram.
Mengenai status anak hasil inseminasi dengan donor sperma atau ovum
menurut hukum islam adalah tidak sah dan statusnya sama dengan anak hasil
prostitusi UU Perkawinan pasal 42 No.1/1974 : ” Anak yang sah adalah anak
yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah ” maka
memberikan pengertian bahwa bayi tabung dengan bantuan donor dapat
dipandang sah karena ia terlahir dari perkawinan yang sah. Tetapi inseminasi
buatan dengan sperma atau ovum donor tidak di izinkan karena tidak sesuai
dengan Pancasila, UUD 1945 pasal 29 ayat 1.

B. Saran
Dalam pembuatan makalah ini, penulis mengharapkan bahwa dalam
melakukan bayi tabung dapat sesuai prosedur yang telah ditentukan. Dan juga
dapat menaati aturan yang telah ada. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi pembaca. 

16
DAFTAR PUSTAKA

Corabian, P. 1997. In vitro fertilization and embrio transfer as a treatment for


infertility - Technology Assessment Report. Alberta Heritage Foundation
for Medical Research.

Dulioust, E. Busnel, M. C., Carlier, M., Roubertoux, P., Auroux, M., 1999.
Embrio cryopreservation and development: facts, questions and
responsibility. Human Reproduction. 14, 1141-1145.

ESHRE Task Force on Ethics and Law. 2001. The moral status of the pre-
implantation embrio. Human Reproduction. 16, 1046-1048.

Gissler, M., Klemetti, R., Sevón, T., and Hemminki, E., 2004. Monitoring of IVF
birth outcomes in Finland: a data quality study. BMC Medical
Informatics and Decision Making. 4, 3.

Hadiwardoyo, A. P. 1989. Etika Medis. Kanisius. Yogyakarta.

Henkel, R. R. and Schill, W. B., 2003. Sperm preparation for ART.Reprod Biol
Endocrinol. 1, 108.

http://www.ahmadzain.com/read/karya-tulis/330/hukum-inseminasi-buatan-bayi-
tabung/ Diakses : 15-05-2015 : 10.31

https://keperawatanreligionirinegemasari.wordpress.com/ Diakses : 15-05-2015 :


10.30

https://syavy.wordpress.com/2013/06/10/bayi-tabung-menurut-hukum-islam/

https://syavy.wordpress.com/2013/06/10/bayi-tabung-menurut-hukum-islam/
Diakses : 15-05-2015 : 10.40

Koivurova, S., Hartikainen, A. L., Gissler, M., Hemminki, E., Sovio, U., Järvelin,
M. R., 2002. Neonatal outcome and congenital malformations in children
born after in-vitro fertilization. Human Reproduction. 17, 1391-1398.

Paladin, 1971. Human Reproduction from the Science Journal. Granada. London.

17