Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

PENENTUAN TETAPAN KALORIMETER


DAN
KALOR PELARUTAN

OLEH:
NI PUTU ASTINI (1713031004)/VA
I GUSTI AYU AGUNG MAS ROSMITA (1713031013)/VA
APLIANA PRISKILA MONE (1713031017)/VA

JURUSAN KIMIA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
2019
PERCOBAAN II
PENENTUAN TETAPAN KALORIMETER
DAN
KALOR PELARUTAN

I. Tujuan
1. Mengetahui sifat-sifat kalorimeter
2. Menentukan tetapan kalorimeter sebagai dasar percobaan-percobaan yang lain
3. Menentukan kalor pelarutan
4. Menentukan kalor reaksi secara tidak langsung dengan menggunakan hukum Hess
II. Dasar Teori
A. Penentuan Tetapan Kalorimeter
Alat yang digunakan untuk mengukur perubahan panas disebut dengan calorimeter.
Kalorimeter menggunakan teknik pencampuran dua zat di dalam suatu wadah. Setiap
kalorimeter mempunyai sifat yang khas dalam mengukur panas. Ini terjadi karena
kalorimeter tersebut terbuat dari berbagai jenis seperti polietena, gelas, dan logam sehingga
mempunyai kemampuan penyerap panas yang berbeda.
Kalorimeter dapat dibagi menjadi dua yaitu kalorimeter volume konstan dan kalori
meter tekanan konstan. Pada kalorimeter volume konstan digunakan untuk menentukan
perubahan kalor untuk reaksi pembakaran. Sedangkan kalorimeter tekanan konstan
digunakan untuk menentukan perubahan kalor untuk reaksi selain pembakaran. Secara kasar,
kalorimeter tekanan-konstan dapat dibuat dari dua cangkir kopi Styrofoam. Cangkir luar
membantu menyekat campuran reaksi dari lingkungan. Peralatan ini mengukur pengaruh
kalor pada berbagai reaksi, seperti penetralan asam-basa, kalor pelarutan, dan kalor
pengenceran. Karena tekanannya konstan, perubahan kalor untuk proses (qreaksi) sama
dengan perubahan entalpi (∆H).
Proses dalam kalorimeter berlangsung secara adiabatik, yaitu tidak ada energi yang
lepas atau masuk dari luar ke dalam kalorimeter. Zat yang akan direaksikan dimasukkan
dalam kalorimeter, dengan mengukur suhu sebelum dan sesudah reaksi dapat ditentukan
kapasitas panas dan kalor reaksi (Petrucci,1987).
Panas yang diserap oleh kalorimeter beserta termometernya dapat diketahui dari
konstanta atau tetapan kalorimeter yang digunakan dalam suatu percobaan. Tetapan
kalorimeter adalah kalor yang dibutuhkan untuk menaikan suhu kalorimeter sebesar 1 0C
pada air dengan massa 1 gram.Prinsip yang digunakan dalam pengukuran besaran kalor
dengan metode mencampur adalah pertukaran kalor antara dua benda yang suhu awalnya
berbeda. Tercapainya suatu suhu keseimbangan diantara kedua benda disebabkan oleh
besarnya kalor yang hilang pada benda yang lebih dingin. Pernyataan ini dinyatakan benar
jika tidak ada kalor yang diperoleh oleh sistem ke sekelilingnya.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menentukan tetapan kalorimeter adalah
dengan mencampurkan air dingin (massa m1 suhu T1) dan air panas (massa m2 dan T2)
dengan volume tertentu sehingga tetapan dalam kalorimeter dapat ditentukan.Jika
kalorimeter tidak menyerap panas dari pencampuran antara air panas dan air dingin ini,
maka kalor yang diberikan oleh air panas harus sama dengan kalor yang diserap oleh air
dingin. Namun, karena kalorimeter ikut menyerap panas, maka kalor yang diserap oleh
kalorimeter merupakan selisih kalor yang diberikan oleh air panas dikurangi dengan kalor
yang diserap oleh air dingin. Harga tetapan kalorimeter diperoleh dengan membagi jumlah
kalor yang diserap oleh kalorimeter dengan perubahan temperatur pada kalorimeter. Dengan
demikian, satuan dari tetapan kalorimeter adalah JK-1 (Retug, 2003).
Untuk meningkatkan suhu benda dari suhu awal t1 sampai suhu akhir t2, diperlukan
sejumlah kalor. Banyaknya kalor yang diperlukan suatu benda untuk menaikkan suhunya
sangat bergantung pada kapasitas kalor (C) dari bahan benda tersebut yang terlihat pada
persamaan berikut:
C = dQ/dT
Kapasitas kalor dapat dibedakan menjadi dua yaitu kapasitas kalor pada volume
konstan dan kapasitas kalor pada tekanan konstan. “Jika volume sistem konstan selama
proses dengan suhu berubah, kapasitas kalor disebut kapasitas kalor pada volume konstan
dan dinyatakan dengan Cv dan ditulis sebagai Cv = (dQ/dT)v” (Ainie, 2010: 76).
“Kapasitas kalor dari suatu sistem tidak dapat dihitung dari persamaan keadaan zat
(atau zat-zat) penyusun sistem. Banyak pengukuran eksperimental dari kapasitas kalor
dilakukan dengan tekanan luar konstan. Harga kapasitas kalor yang diperoleh disebut
kapasitas kalor pada tekanan konstan dan dinyatakan dengan C p“ (Ainie, 2010: 77).
Cp = (dQ/dT)p
Kalor jenis adalah kapasitas kalor bahan tiap satuan massanya, yaitu :
c = C/m
Salah satu sifat termometrik benda adalah kalor jenis. Dalam selang suhu yang tak
terlalu besar, biasanya c dapat dianggap konstan, sehingga apabila suatu benda bermassa m,
kalor jenis bahannya c dan suhunya T 1 maka untuk menaikkan suhunya menjadi T2
diperlukan kalor sebesar:
Q = m.c.(T2-T1)
Suhu dua benda akan menjadi setimbang saat sebuah benda dengan suhu tertentu
disinggungkan benda lain yang suhunya lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh perpindahan
suhu. Benda yang bersuhu lebih tinggi akan memberikan panasnya ke benda yang bersuhu
lebih rendah. Berdasarkan hukum kekekalan energi jumlah panas yang diberikan sama
dengan jumlah panas yang diterima oleh benda yang bersuhu lebih rendah (asas
Black).Dalam percobaan ini, sejumlah air yang telah diketahui massanya, dipanaskan
dengan menggunakan kompor listrik. Air yang suhunya lebih tinggi ini dimasukkan ke
dalam kalorimeter yang berisi air, massa air dingin sudah ditimbang terlebih dahulu. Dalam
hal ini air dingin dan kalorimeter adalah dua benda yang bersuhu sama yang akan menerima
panas dari air panas. Menurut asas Black diperoleh bahwa:
kalor yang dilepas (air panas) = kalor yang diterima (air dingin + kalorimeter)
m2.c.(T2-Ta) = m1.c (Ta-T1) + C(Ta-T1)
dimana, m1 = massa air dingin dengan suhu T1
m2 = massa air panas dengan suhu T2
c = kalor jenis air (1 kal/g.0C)
Ta = suhu akhir sistem
C = kapasitas kalor kalorimeter (Petrucci,1987).

B. Penentuan Kalor Pelarutan


Kalor (Q) merupakan bentuk energi yang dipindahkan melalui batas-batas sistem,
sebagai akibat adanya perbedaan suhu antara sistem dengan lingkungan. Q bertanda positif
apabila sistem menyerap kalor dan Q bertanda negatif apabila sistem melepas kalor. Kalor
bukan merupakan fungsi keadaan karena besarnya tergantung pada proses.
Kalorimeter merupakan alat yang dapat digunakan untuk menentukan kalor pelarutan.
Kalor pelarutan atau panas pelarutan adalah panas yang dilepas atau diserap ketika satu
mol senyawa dilarutkan dalam pelarut berlebih yaitu sampai suatu keadaan yang mana
pada penambahan pelarut selanjutnya tidak ada panas yang diserap atau dilepaskan lagi.
Dengan kata lain pelarutan pada suatu temperatur T didefinisikan sebagai kalor yang
diserap atau dilepas oleh system selama proses berlangsung, pada saat temperature awal
maupun temperatu rakhir system sama dengan T.
Jika pada proses pelarutan itu dilepaskan panas, maka pelarutan itu bersifat eksotermis,
sebaliknya jika diperlukan panas disebut endotermis. Jika tarik menarik zat terlarut -
pelarut lebih kuat dibandingkan tarik-menarik pelarut-pelarut dan tarik-menarik zat terlarut
- zat terlarut, maka proses pelarutanlah yang akan berlangsung dengan kata lain proses
eksotermik (ΔHlarutan< 0). Jika interaksi zat terlarut – pelarut lebih lemah dibandingkan
interaksi pelarut – pelarut dan interaksi zat terlarut – zat terlarut, maka prosesnya
endotermik (ΔHlarutan> 0). (Chang, 2003)
Kalor pelarutan dibedakan menjadi dua yaitu panas pelarutan integral dan kalor
pelarutan diferensial. Kalor pelarutan integral didefinisikan sebagai perubahan entalpi jika
1 mol zat dilarutkan dalam n mol pelarut. Kalor pelarutan diferensial didefinisikan sebagai
perubahan entalpi jika 1 mol zat terlarut dilarutkan dalam jumlah larutan yang tidak
terhingga, sehingga konsentrasinya tidak berubah dengan penambahan 1 mol zat terlarut
(S.Dogra,1990). Perubahan entalpi pelarutan adalah kalor yang menyertai proses
penambahan sejumlah tertentu zat terlarut terhadap zat pelarut pada suhu dan tekanan tetap.
Entalpi pelarutan standar merupakan perubahan entalpi standar jika zat itu melarut di
dalam pelarut dangan jumlah tertentu. Jika melarut dalam pelarut dengan jumlah tak
hingga, sehingga interaksi antara 2 ion dapat diabaikan (Atkins, 1999).
Kalor reaksi atau pelarutan biasanya ditentukan menggunakan kalorimeter adiabat.
Dalam calorimeter terjadi perubahan temperature karena pembebasan atau penyerapan
kalor reaksi oleh sistem. Sehingga reaksi dalam kalorimeter adiabat dapat ditulis sebagai
berikut:
A (To) + B (To) → C (T1) + D (T1)
A, B :pereaksi To : temperatur awal
C,D : hasil reaksi T1 : temperatur akhir
Kalor reaksi pada temperature awal (To) dan temperature akhir (T1) akan melibatkan
baik pereaksi maupun hasil reaksi, yang dapat dinyatakan sebagai hubungan antara
temperature dengan masing-masing harga kapasitas kalor.
ΔH To = Cp (C + D + S) (T1 – To)
ΔH T1 = Cp (A + B + S) (T1 – To) dimana, Cp = harga air kalorimeter.
Digunakannya kapasitas kalor zat pereaksi akan memberikan kalor reaksi pada
temperatur akhir (T1) dan penggunaan kapasitas kalor hasil reaksi memberikan kalor reaksi
pada temperatur awal (To). Tetapi untuk kedua keadaan ini juga perlu diketahui harga
kapasitas kalor kalorimeter yang digunakan yang dinyatakan sebagai harga air kalorimeter.
Nilai air calorimeter atau tetapan kalorimeter, Cp(S) dalam percobaan ini dapat
ditentukan dengan dua cara yaitu sebagai berikut.
1) Pada air yang telah ada dalam kalori meter ditambahkan air dengan temperature
berbeda. Dari harga kapasitas kalor dan temperatur air baik yang berada dalam
calorimeter maupun yang dituangkan dan temperature setelah pencampuran dapat
dihitung harga nilai air calorimeter berdasarkan Hukum Black.
2) Harga Cp(S) juga dapat ditentukan dengan menggunakan reaksi yang kalor reaksinya
telah diketahui, missal reaksi NaOH dan HCl dengan kalor reaksi ΔH = -13,64
kkal/mol (Wiratini, 2014).
Alat calorimeter tidak mungkin sepenuhnya adiabat, dimungkinkan terjadi pertukaran
kalor antara kalorimeter dan lingkungannya. Pengadukan campuran reaksi walau
diperlukan dapat menimbulkan kalo rmelalui gesekan. Selain itu termometer kadang
terlalu lambat mengikuti perubahan temperatur sehingga pembacaan temperatur akhir
memerlukan koreksi.
Secara teoritis, panas pelarutan (kalor pelarutan) suatu senyawa harus diukur pada
proses pelarutan tak terhingga, tetapi pada prakteknya pelarut yang ditambahkan
jumlahnya terbatas, yaitu sampai tidak lagi timbul perubahan panas ketika ditambahkan
lebih banyak pelarut. Kalor pelarutan suatu padatan dapat ditulis sebagai berikut.
X (s) + aq → X (aq) ΔH
X adalah senyawa yang panas pelarutannya ditentukan. Senyawa X dapat berwujud
padat, cair atau gas.
Pelarut yang digunakan dalam kalor pelarutan yaitu air. Air mempunyai kemampuan
melarutkan berbagai jenis zat. Walaupun air bukan pelarut universal tetapi banyak dapat
melarutkan senyawa ionik, senyawa organik dan senyawa anorganik yang polar dan dapat
melarutkan senyawa yang polaritasnya rendah tetapi berinteraksi khusus dengan air.
Dalam percobaan ini akan ditentukan kalor pelarutan dua senyawa, yaitu CuSO4.5
H2O dan CuSO4 (anhidrat). Reaksinya adalah sebagai berikut:
CuSO4(s) + H2O CuSO4.5 H2O(s)
Panas reaksi sangat sulit untuk ditentukan. Cara yang digunakan untuk menentukan
panas reaksi digunakan Hukum Hess sehingga panas reaksi dapat dihitung secara tidak
langsung. Hukum Hess juga disebut hukum penjumlahan kalor. Bunyi dari hukum Hess
yaitu “Perubahan entalpi suatu reaksi hanya tergantung pada keadaan awal (zat – zat
pereaksi) dan keadaan akhir (zat – zat hasil reaksi) dari suatu reaksi dan tidak tergantung
pada jalannya reaksi”.
ΔHreaksi= ΔH1 + ΔH2 +....... ΔHn
III. Alat dan Bahan
A. Penentuan Tetapan Kalorimeter
Tabel 1. Alat
No. Nama Alat Ukuran Jumlah
1. Kalorimeter - 1 buah
2. Gelas Ukur 50 mL 1 buah
3. Pemanas - 1 buah
4. Termometer 100oC 1 buah
5. Batang Pengaduk - 1 buah
6. Gelas Kimia 100 mL 2 buah

Tabel 2. Bahan
No. Nama Bahan Konsentrasi Jumlah
1. Air dingin - 50 mL
2. Air panas - 50 mL

B. Penentuan Kalor Pelarutan


Tabel 3. Alat
No. Nama Alat Ukuran Jumlah
1. Kalorimeter - 1 set
2. Termometer 100°C 1 buah
3. Gelas Ukur 100 mL 1 buah
4. Gelas Kimia 250 mL 1 buah
5. Mortal dan pansel - 1 set
6. Neraca analitik - 1 buah
7. Spatula - 1 buah
8. Stopwatch - 1 buah
9. Kaca arloji - 2 buah
10. Cawan porselin - 1 buah

Tabel 4. Bahan
No. Nama Bahan Konsentrasi Jumlah
1. Kristal CuSO4.5H2O - 5 gram
2. Kristal CuSO4 anhidrat - 5 gram
3. Aquades - 100 mL

IV. Prosedur Praktikum


A. Penentuan Tetapan Kalorimeter

Gambar 1

Dirangkai alat seperti Gambar 1 di atas!

Dimasukkan 50 mL air dingin ke dalam kalorimeter


sambil di aduk dan dicatat suhu air dalam kalorimeter
pada ½ menit pertama sampai ½ menit ketiga

Tepat pada ½ menit ke empat, dimasukkan 50 mL air


panas (45oC) ke dalam kalorimeter yang telah berisi air
tersebut.

Diaduk dan dicatat suhu air dalam kalorimeter mulai ½


menit ke lima, pencatatan suhu dilakukan hingga
mencapai suhu yang hampir konstan

Dibuat kurva hubungan antara waktu dengan suhu


untuk memperoleh suhu pencampuran melalui
ekstrapolasi
B. Penentuan Kalor Pelarutan

Ditimbang sebanyak 10 gram kristal CuSO4.5H2O

Digerus kristal CuSO4.5H2O tersebut menggunakan mortal


dan pansel, sehingga diperoleh serbuk halus berwarna putih
kebiruan

Ditimbang secara teliti CuSO4.5H2O yang telah dihaluskan

Disiapkan kalorimeter beserta termometer dan pengaduknya.


Kemudian dimasukkan tepat 100 mL aquades

Dicatat suhu air pada kalorimeter tersebut mulai dari ½ menit


pertama sampai ½ menit ke tiga. Digunakan stopwatch untuk
mengukur waktu.

Tepat pada ½ menit ke empat, dimasukkan 5 gram


CuSO4.5H2O dan sambil diaduk. Catat suhu mulai ½ menit
kelima sampai didapatkan suhu yang hampir konstan
Dipanaskan 5 gram serbuk CuSO4.5H2O yang lain dalam
cawan porselin. Diaduk perlahan-lahan sampai semua air
hidrat yang terdapat pada serbuk kristal tersebut menguap
(warna menjadi putih)

Dinginkan serbuk anhidrat tersebut dalam desikator untuk


mencegah serbuk anhidrat menyerap uap air kembali dari
udara

Dengan menggunakan serbuk kristal CuSO4 anhidrat, diulangi


percobaan dengan cara yang sama seperti langkah-langkah di
atas.

V. Tabel Pengamatan
A. Penentuan Tetapan Kalorimeter
Catat hasil pengamatan ke dalam tabel berikut!
Waktu (menit) Suhu (oC)
0 28oC
0,5 29oC
1 29oC
1,5 29oC
2 Penambahan air panas
2,5 44,5oC
3 44oC
3,5 44oC
4 44oC
4,5 43,5oC
5 43,5oC
5,5 43,5oC

B. Penentuan Kalor Pelarutan


Catat hasil pengamatan penambahan CuSO4.5H2O dan CuSO4 pada tabel berikut!
Waktu Suhu air Waktu Suhu air
o
(menit) ( C) (menit) (oC)
(penambahan CuSO4.5H2O) (penambahan CuSO4)
o
0 28,5 C 0 28oC
o
0,5 28,5 C 0,5 28,5oC
1,0 28,5oC 1,0 28,5oC
1,5 28,5oC 1,5 28,5oC
2,0 penambahan CuSO4.5H2O 2,0 penambahan CuSO4
2,5 28oC 2,5 31,5oC
3,0 28oC 3,0 31,5oC
3,5 28oC 3,5 31oC
4,0 28oC 4,0 31oC
4,5 28oC 4,5 31oC
5,0 28oC 5,0 31oC

Massa CuSO4.5H2O = 5 garm


Massa CuSO4 anhidrat = 5 garm

VI. Analisis Data


A. Penentuan Tetapan Kalorimeter

Kurva Hubungan Suhu terhadap Waktu


Penentuan Tetapan Kalorimeter
y = -0.3214x + 45.143
50
R² = 0.8438
40
y = 0.3x + 28.65
30
R² = 0.6
20

10

0
0 1 2 3 4 5 6

Suhu sebelum penambahan air panas


Suhu setelah penambahan air panas
Linear (Suhu sebelum penambahan air panas)
Linear (Suhu setelah penambahan air panas )

 Berdasarkan kurva yang telah dibuat, maka dari ekstrapolasi dapat diketahui ∆T
pencampuran air panas dengan air dingin
 ∆T = T2 - T1
∆T = 44,498oC – 29,25oC
∆T = 15,248oC
 ∆Tpanas = T2panas - T1panas
∆Tpanas = 44,498oC – 65oC
∆Tpanas = -20,502oC
 ∆Tdingin = ∆T
∆Tdingin = 15,248oC
Massa air dingin (m1) = 50 gram
Massa air panas (m2) = 50 gram
Maka dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut:
 Kalor (energi panas) yang diserap oleh air dingin
Qpanas = m1 x c x ∆Tpanas
Qpanas = 50 g x 4,2 J/g°C x -20,502 oC
Qpanas = -4305,42 J
 Kalor (energi panas) yang dilepaskan oleh air panas
Qdingin = m2 x c x ∆Tdingin
Qdingin = 50 g x 4,2 J/g°C x 15,248oC
Qdingin =3202,08 J
 Qlepas = Qterima
Qpanas = -Qdingin + Qkalorimeter
-4305,42 J = - 3202,08 J + C × ∆T
4305,42 J - 3202,08 J = C × 15,248oC
1103,34 J = C × 15,248oC
1103,34 J
C= 15,248o C

C = 72,3596 J oC-1

B. Penentuan Kalor Pelarutan


1. Penentuan Kalor Pelarutan pada CuSO4.5H2O
 Buat kurva yang menghubungkan suhu (T) terhadap waktu (t), kemudian tentukan
ΔT melalui ekstrapolasi
Kurva Hubungan Suhu terhadap Waktu
Penentuan Kalor Pelarutan Tembaga Sulfat Hidrat
28.6
y = 28.5
28.5
28.4
28.3
28.2
28.1
y = 28
28
27.9
0 1 2 3 4 5 6

Suhu sebelum penambahan Tembaga Sulfat Hidrat


Suhu setelah penambahan Tembaga Sulfat Hidrat
Linear (Suhu sebelum penambahan Tembaga Sulfat Hidrat)
Linear (Suhu setelah penambahan Tembaga Sulfat Hidrat)

- Massa Kristal CuSO4.5H2O = 5,000 gram


- Volume Air = 50 mL
- Massa Jenis Air = 1 g/mL
- Kalor Jenis Air (C) = 4,20 J/g°C
- Kapasitas Kalorimeter (C) = 72,3596 J oC-1
Perhitungan:
 Massa air = 100 gram
 Massa Larutan = Massa air + massa kristal CuSO4.5H2O
Massa Larutan = 100 g + 5 g
Massa Larutan = 105 g
 ΔT = T2 – T1
ΔT = 28oC – 28,5oC
ΔT = -0,5oC
a. Perhitungan mol CuSO4.5H2O
massa CuSO 4 .5H 2 O
Mol (n) CuSO4.5H2O =
Mr CuSO 4 .5H 2 O
5g
Mol (n) CuSO4.5H2O =
250 g / mol
Mol (n) CuSO4.5H2O = 0,02 mol
b. Perhitungan Kalor
Q = Q larutan + Q kalorimeter
Q = m.c.∆T + C.∆T
Q = 105 g × 4,2 J/goC × (-0,5oC) + 72,3596 J oC-1 ×(- 0,5oC)
Q = -256,679 J
c. Perhitungan Kalor Pelarutan
Q
ΔH =
mol
 256,679 J
ΔH =
0,02mol
ΔH = - 12833,95 J mol-1
ΔH = - 12,83395 kJ mol-1
2. Penentuan Kalor Pelarutan pada CuSO4
 Buat kurva yang menghubungkan suhu (T) terhadap waktu (t), kemudian tentukan
ΔT melalui ekstrapolasi

Kurva Hubungan Suhu terhadap Waktu


Penentuan Kalor Pelarutan Tembaga Sulfat
Anhidrat
32 y = -0.1429x + 31.619
R² = 0.4286
31
30
29 y = 0.3x + 28.15
R² = 0.6
28
27
0 1 2 3 4 5 6

Suhu sebelum penambahan Tembaga Sulfat Anhidrat


Suhu setelah penambahan Tembaga Sulfat Anhidrat
Linear (Suhu sebelum penambahan Tembaga Sulfat Anhidrat)
Linear (Suhu setelah penambahan Tembaga Sulfat Anhidrat)
Linear (Suhu setelah penambahan Tembaga Sulfat Anhidrat)

- Massa Kristal CuSO4 = 5,000 gram


- Volume Air = 50 mL
- Massa Jenis Air = 1 g/mL
- Kalor Jenis Air (C) = 4,20 J/g°C
- Kapasitas Kalorimeter (C) = 72,3596 J oC-1

Perhitungan:
 Massa air = 100 gram
 Massa Larutan = Massa air + massa kristal CuSO4
Massa Larutan = 100 g + 5 g
Massa Larutan = 105 g
 ΔT = T 2 – T1
ΔT = 31,333oC - 28,75oC
ΔT = 2,583oC
a. Perhitungan mol CuSO4
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐶𝑢𝑆𝑂4
Mol (n) CuSO4 = 𝑀𝑟 𝐶𝑢𝑆𝑂4
5𝑔
Mol (n) CuSO4 = 160𝑔/𝑚𝑜𝑙

Mol (n) CuSO4 = 𝟎, 𝟎𝟑𝟏𝟐 𝒎𝒐𝒍


b. PerhitunganKalor
Q = Q larutan + Q kalorimeter
Q = m.c.∆T + C.∆T
Q = 105 g × 4,2 J/goC × 2,583oC + 72,3596 J oC-1 × 2,583oC
Q = 1326,007 J
c. Perhitungan Kalor Pelarutan
Q
ΔH =
mol
1326,007 J
ΔH =
0,0312mol
ΔH = 42500,22 J mol-1
ΔH = 42,50022 kJ mol-1
Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, diperoleh bahwa nilai kalor
pelarutan pada CuSO4.5H2O adalah - 12,83395 kJ mol-1 dan kalor pelarutan pada
CuSO4 adalah 42,50022 kJ mol-1. Dengan menggunakan hukum Hess, maka dapat
dibuat suatu rumusan sebagai berikut.

∆H1
CuSO4.5H2O(s) CuSO4 (aq)

∆H3
∆H2

CuSO4 (s)

CuSO4.5H2O(s) +H2O(l) → CuSO4(aq) ΔH1 = - 12,83395 kJ mol-1


CuSO4(s)+ H2O→CuSO4(aq) ΔH2 = 42,50022 kJ mol-1
CuSO4(s) → CuSO4.5H2O(s) ∆H3 = ...?

∆H3 = ∆H2 - ∆H1


= 542,50022 kJ mol-1– (- 12,83395 kJ mol-1)
= +555,334 kJ mol-1
Dengan demikian, perubahan energi yang terjadi adalah sebesar +555,334 kJ mol-1

VII. Pembahasan
 PenentuanTetapan Kalorimeter
Dalam menentukan banyaknya panas yang diserap oleh kalorimeter perlu
diketahui tetapan kalorimeter yang digunakan dalam percobaan. Tetapan kalorimeter
adalah nilai kalor yang dibutuhkan untuk menaikan suhu kalorimeter sebesar 1 oC
pada aquades dengan massa 1 gram. Tujuan dilakukannya percobaan penentuan
tetapan kalorimeter yaitu untuk mengetahui tetapan kalorimeter yang akan digunakan
pada percobaan selanjutnya. Kalorimeter ini tidak boleh ditukar maupun diganti
karena kalorimeter memiliki tetapan yang berbeda-beda. Berdasarkan percobaan
yang dilakukan
Pengukuran suhu aquades dingin dilakukan setiap 30 detik dan berhenti hingga
suhu dari aquades konstan (minimal tiga titik konstan) yaitu sebesar 29oC. Sebelum
memasukkan air panas ke dalam bejana kalorimeter, suhu dari air panas diukur. Suhu
dari air panas yaitu 65oC. Ketika air panas dimasukkan ke dalam bejana kalorimeter
yang berisi air dingin terjadi peningkatan suhu dari 29 oC menjadi 44,5 oC.
Peningkatan suhu ini diakibatkan karena kalor dari aquades panas diserap oleh
aquades dingin dan kalorimeter. Secara teori, pengamatan ini sesuai dengan hukum
kekalan energi (Asas Black) yaitu jumlah panas yang diberikan sama dengan jumlah
panas yang diterima oleh benda yang bersuhu lebih rendah. Suhu konstan saat
mencapai suhu 43,5 oC.
Dari pengamatan dan analisis data yang telah dilakukan maka tetapan kalor
pada kalorimeter ini didapatkan sebesar 72,3596 J oC-1
 Penentuan Kalor Pelarutan CuSO4.5H2O dan CuSO4 anhidrat
Pada percobaan ini dilakukan penentuan panas pelarutan senyawa CuSO4.5H2O
dan CuSO4 anhidrat. Kalorimeter yang digunakan pada percobaan ini telah diketahui
ketetapannya melalui percobaan sebelumnya. Besar tetapan kalorimeter yang
diperoleh yaitu sebesar 72,3596 J oC-1.
Pada percobaan pertama dilakukan pengukuran kalor CuSO4.5H2O. Kristal
CuSO4.5H2O yang telah digerus dimasukkan ke dalam kalorimeter pada menit ke dua,
kemudian mencapai titik kesetimbangan pada menit ke 5 dengan memperoleh enam
titik yang konstan pada suhu 28oC. Berdasarkan hasil percobaan dan analisis data
kalor CuSO4.5H2O sebesar -256,679 J dan kalor pelarutannya (∆H1 ) sebesar -
12,83395 kJ mol-1 yang perhitungannya dapat dilihat pada analisis data.
Pada percobaan kedua dilakukan pengukuran kalor CuSO4anhidrat yang
diperoleh dari memanaskan CuSO4.5H2O dengan pemanas listrik. Serbuk CuSO4
anhidrat dimasukkan ke dalam kalorimeter pada menit ke dua,kemudian mencapai
titik kesetimbang pada menit ke 5 dengan memperoleh empat titik yang konstan pada
suhu 31oC. Berdasarkan hasil percobaan dan analisis data kalor CuSO 4anhidrat
sebesar 1326,007 J dan kalor pelarutannya (∆H2) sebesar 42,50022 kJ mol-1.
Berdasarkan analisis perhitungan, diperoleh nilai kalor pelarutan pada
CuSO4.5H2O (∆H1) berharga negatif, yang menyatakan bahwa reaksi tersebut
melepas kalor (reaksi eksoterm). Sedangkan kalor pelarutan pada CuSO 4anhidrat
(∆H2) berharga positif, yang menyatakan reaksi tersebut menyerap kalor (reaksi
endoterm). Berdasarkan data kalor pelarutan CuSO4 anhidrat dan CuSO4.5H2O yang
diperoleh, nilai kalor pelarutan pada CuSO4.5H2O lebih kecil dibandingkan dengan
CuSO4anhidrat yang menandakan kalor yang diserap dalam pelarutan CuSO 4.5H2O
lebih kecil dibandingkan dengan kalor pelarutan CuSO4 anhidrat. Hal ini disebabkan
oleh:
1. Pada CuSO4.5H2O terdapat lima molekul air yang terhidrat sehingga massa
CuSO4 sesungguhnya (dalam CuSO4.5H2O) lebih kecil jika dibandingkan
dengan massa CuSO4 anhidrat.Karena kalor berbanding lurus denganmassa,
maka zat yang massanya lebih besar, dalam hal ini adalah CuSO4 anhidrat,
akan menghasilkan kalor yang lebih besar.
2. Pada CuSO4.5H2O molekul air terhidrat dari kristal akan bergabung dengan
air dingin dalam kalorimeter. Hal Ini jelas berpengaruh pada kalor yang
dihasilkan.
Nilai perubahan energi yang terjadi pada dua senyawa CuSO4(s) dan
CuSO4.5H2O(s) dengan reaksi sebagai berikut
CuSO4(s) → CuSO4.5H2O(s)
∆H3 = ∆H2 - ∆H1, sehingga perubahan energi yang terjadi adalah sebesar +555,334 kJ
mol-1

VIII. Kesimpulan
1. Berdasarkan percobaan yang dilakukan diketahui sifat dari kalorimeter adalah
menyerap panas dari sistem (aquades panas).
2. Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan diperoleh tetapan sebesar 72,3596 J oC1.
3. Kurva hubungan antara waktu dengan suhu untuk memperoleh suhu percampuran
melalui ekstrapolasi pada percobaan dapat dilihat sebagai berikut:
Kurva Hubungan Suhu terhadap Waktu
Penentuan Tetapan Kalorimeter
y = -0.3214x + 45.143
50
R² = 0.8438
40
y = 0.3x + 28.65
30
R² = 0.6
20

10

0
0 1 2 3 4 5 6

Suhu sebelum penambahan air panas


Suhu setelah penambahan air panas
Linear (Suhu sebelum penambahan air panas)
Linear (Suhu setelah penambahan air panas )

4. Berdasarkan percobaan yang dilakukan diperoleh kalor pelarutan CuSO4.5H2O yaitu


-12,83395 kJ/mol dan kalor pelarutan pada CuSO4 anhidrat adalah 42,50022 kJ/mol.
5. Besarnya kalor reaksi dari CuSO4 anhidrat menjadi CuSO4.5H2O adalah +555,334
kJ/mol.
DAFTAR PUSTAKA
Atkins.1999. Kimia Fisika Jilid I. Terjemahan. Jakarta:Erlangga
Chang, Raymond. 2003. Kimia Dasar Konsep – Konsep Inti. Jakarta: Erlangga
Retug, Nyoman., dan I.D.K. Sastrawidana. 2003. Penuntun Praktikum Kimia Fisika.
Singaraja: Jurusan Pendidikan Kimia, Fakultas Pendidikan MIPA, IKIP Negeri
Singaraja.
Wiratini, Ni Made dan I N Retug. 2014. Buku Penuntun Praktikum Kimia Fisika.
Singaraja: UNDIKSHA
Lampiran Gambar

Anda mungkin juga menyukai