Anda di halaman 1dari 33

KERANGKA KONSEPTUAL DAN PELAPORAN KEUANGAN,

MANAJEMEN LABA,
KONSEKUENSI EKONOMIS LAPORAN KEUANGAN

(STUDI KASUS INDOFARMA)

OLEH :

KELOMPOK1

1. Aulia Rahmi Olanda


2. Elvira Maisya
3. Susanti
4. Vinna Marthadilova

MAGISTER AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI


UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul ” KERANGKA KONSEPTUAL DAN PELAPORAN
KEUAGAN, MANAJEMEN LABA, KONSEKUENSI EKONOMIS LAPORAN
KEUANGAN”,semoga dengan dibuatnya makalah ini pembaca dapat memahami
tentang materi tersebut.
Berbagai sumber referensi dasar dan esensial yang relevan dari internet
serta buku ekonomi manajerial lainnya memang sengaja dipilih dan digunakan
untuk memperkuat pembahasan dan membangun karangka penyajian yang
komperehensif , agar mudah dipahami dan dapat memenuhi harapan pembaca.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih mempunyai kekurangan baik
dari segi teknis maupun isi, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun demi pembuatan makalah selanjutnya. Oleh karena
itu,penulis berharap agar makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran
dan berguna bagi pembacanya.

Pekanbaru, Maret 2017

Penulis

1
BAB I
Pendahuluan

1. Latar Belakang
Pelaporan keuangan merupakan hal yang sangat penting dalam aktivitas
sebuah entitas, karena laporan keuanganmerupakan sarana pengkomunikasian
informasi keuangan kepada pihak-pihak eksternal yang akan dijadikan dasar
dalam pengambilan keputusan ekonomi. Hal ini dapat terlihat pada tujuan laporan
keuangan yaitu memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja
keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan
pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Selain itu, Laporan
keuangan juga menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas
penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.
Setiap entitas harus memiliki kemampuan yang baik dalam menyajikan
laporan keuangan setiap periodenya baik dalam hal keandalan, materialitas,
ataupun kualitas dari informasi yang terdapat dalam penyajian laporan keuangan.
Untuk memiliki kemampuan yang baik setiap perusahaan harus memahami dan
menerapkan standar akuntansi keuangan yang tertuang dalam PSAK, baik itu
mengenai kerangka konseptual dan pelaporan keuangan, manajemen laba, ataupun
konsekuensi ekonomi laporan keuangan. Dengan adanya PSAK ini diharapkan
seluruh entitas yang ada di Indonesia mampu menerapkan dengan baik dalam
menyajikan laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang
berlaku sehingga semua informasi dalam laporan keuangan dapat memberikan
keyakinan bagi penggunanya dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis (yang terdiri dari 4 orang) ingin
menyusun sebuah makalah dengan judul “Kerangka Konseptual dan Pelaporan
Keuangan, Manajemen Laba. Konsekuensi Ekonomis Laporan Keuangan”. Dalam
makalah ini penulis akan memapaparkan Kerangka Konseptual dan Pelaporan
Keuangan berdasarkan IFRS yang saat ini berlaku di Indonesia, tentang teori
manajemen laba dan analisi kasus studi PT. Indofarma, Tbk sebagai contoh kasus
manajemen laba yang pernah ada, serta konsekuensi ekonomis laporan keuangan.

2
Berdasarkan latar belakang yang telah kami jelaskan diatas maka makalah
ini berfokus pada “KERANGKA KONSEPTUAL DAN PELAPORAN
KEUAGAN, MANAJEEN LABA, KONSEKUENSI EKONOMIS
LAPORAN KEUANGAN”

2. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini kami akan membahas rumusan masalah yang terkait
mengenai:
1. Bagaimana kerangka konseptual dan pelaporan keuangan?
2. Bagaimana konsep dari manajemen laba?
3. Apa konsekuensi ekonomis dari laporan keuangan?

3. Tujuan
1. Mengetahui kerangka konseptual dan pelaporan keuangan.
2. Mengetahui konsep dari manajemen laba.
3. Mengetahuikonsekuensi ekonomis dari laporan keuangan

3
BAB II
PEMBAHASAN

1. Kerangka Konsetual dan Pelaporan Keuangan


Kerangka kerja konseptual (conceptual fraamework) serupa dengan
konstitusi (constitution) sutau sistem koheren yang terdiri dari tujuan dan konsep
fundamental yang saling berhubungan, yang menjadi landasan bagi penetapan
standar yang konsisten dan penentuan sifat, fungsi, serta bata-batas dari akuntansi
keuangan dan laporan keuangan.
Penyajian laporan keuangan harus disajikan dengan benar dan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku agar dapat dibandingkan, baik dengan laporan keuangan
periode sebelumnya maupun dengan laporan keuangan entitas lain. FASB (1978),
mendefinisikan kerangka konseptual sebagai suatu sistim yang koheren tentang
tujuan (objective) dan konsep dasar yang saling berkaitan, yang diharapkan dapat
menghasilkan standar-standar yang konsisten dan memberikan pedoman tentang
jenis, fungsi dan keterbatasan akuntansi dan pelaporan keuangan. Perlunya
kerangka konseptual :
a. Sebagai pedoman dalam menetukan standar akuntansi
b. Sebagai kerangka referensi untuk memecahkan masalah akuntansi apabila
standar yang sekarang ada tidak mengatur isu-isu yang baru muncul
c. Sebagai dasar membuat pertimbangan dalam penyajian laporan keuangan.
d. Meningkatkan daya banding dengan cara mengurangi berbagai alternatif
metode akuntansi yang ada.

Perkembangan Kerangka kerja Konseptual


FASB (Financial Accounting Standarts Board) memiliki kerangka konseptual.
Kerangka konseptual FASB dijelaskan dalam dokumen, Kerangka kerja untuk
persiapan dan penyajian laporan keuangan, dikembangkan dalam erangkaian
pernyataan konsep, yang pada umumnya di sebut sebagai kerangka konseptual.
IASB dan FASB sekarang bekerja pada sebuah proyek bersama untuk
mengembangkan kerangka kerja konseptual yang baik, yang memberikan dasar

4
yang kuat untuk mengembangkan standar akuntansi dimasa depan.Kerangka kerja
konseptual yang baik berlandaskan dan berhubungan dengan serangkaian konsep
serta tujuan fundamental. Hal ini akan memungkinkan FASB menerbitkan
standar-standar yang lebih baik dari waktu kewaktu. Sehingga masalah-masalah
praktis yang baru akan dapat di pecahkan secara cepat jika mengacu pada
kerangka teori dasar yang telah ada.Pada perkembangannya, FASB pada tahun
1976 telah mengembangkan kerangka kerja konseptual yang menjadi dasar bagi
penetapan standar akuntansi dan pemecahan kontroversi pelaporan keuangan.
Sejak saat itu FASB telah menerbitkan enam SFACs (Statement Of Financial
Accounting Concepts) yang berhubungan dengan pelaporan keuangan entitas,
yaitu:
1. SFACs No.1, “Objectives Of financial Reporting by Bussines Enterprises”
yang berisi tentang tujuan dan sasaran akuntansi.
2. SFACs No.2 “Qualitative Characteristic of Accounting Information” yang
menjelaskan karakteristik, yang membuat informasi akuntansi ini
bermanfaat.
3. SFACs No.3 “Element of Fnancial Statements of Business
Enterprises”yang memberikan definisi dan pos-pos yang terdapat dalam
laporan keuangan, seperti aktiva, kewajiban, pendapatan dan beban.
4. SFACs No.5 “Recognition and Measurement in financial statements of
Business Enterprises” yang menetapkan kriteria pengakuan dan
pengukuran fundamental serta pedoman tetang informasi apa yang
biasanya harus dimasukkan dalam laporan keuangan dan kapan waktunya.
5. SFACs No.6 “Element of Financial Statements” yang memperluas lingkup
SFACs no.3 dengan memasukkan anggota-anggota nirlaba.
6. SFACs No. 7” Using Cash Flow Information and Present Value in
Accounting Measurement” yang memberikan kerangka kerja bagi pemakai
arus kas masa depan yang diharapkan dan nilai sekarang sebagai dasar
pengukuran.

5
Kerangka kerja konseptual untuk pelaporan keuangan
TINGKAT PERTAMA: TUJUAN DASAR

· Tujuan pelaporan keuangan (objectives of financial reporting) adalah untuk


menyediakan informasi:

1. Yang berguna bagi mereka yang memiliki pemahaman memadai tentang


aktivitas bisnis dan ekonomi untuk membuat keputusan investasi serta kredit
2. Untuk membantu investor yang ada dan potensial, kreditor yang ada dan
potensial, serta pemakai lainnya dalam menilai jumlah, waktu, dan
ketidakpastian arus kas masa depan
3. Tentang sumber daya ekonomi, klaimterhadap sumber daya tersebut, dan
perubahan di dalamnya.

6
Tujuan (objectives) dimulai dengan lebih banyak berfokus pada informasi
yang berguna bagi para investor dan kreditor dalam membuat keputusan. Fokus
ini lalu menyempit pada kepentingan investor dan kreditor atas prospek
penerimaan kas dari investasi mereka dalam, atau dari pinjaman yang telah
mereka berikan ke entitas bisnis. Pada akhirnya, tujuan berfokus pada laporan
keuangan yang menyediakan informasi yang berguna untuk menilai prospek arus
kas yang akan diterima entitas bisnis yaitu arus kas yang menjadi harapan investor
dan kreditor. Pendekatan ini dikenal sebagai kegunaan keputusan (decision
usefulness).

· Dalam menyediakan informasi kepada pemakai laporan keuangan, profesi


akuntan mengandalkan laporan keuangan bertujuan-umum (general-purpose
financial statement), yaitu menyediakan informasi paling bermanfaat dengan
biaya minimal kepada berbagai kelompok pemakai.

TINGKAT KEDUA : KONSEP-KONSEP FUNDAMENTAL

Karakteristik Kualitatif Informasi Akuntansi

Agar berguna dalam pengambilan keputusan (decision usefulness),


informasi akuntansi harus memiliki dua kualitas yaitu kualitas primer dan kualitas
sekunder. Tentu saja terdapat beberapa kendala untuk mencapai dua kualitas
tersebut.

Kualitas Primer

Relevansi (relevance) dan keandalan (reliability) harus melekat pada informasi


akuntansi.

1. Relevansi. Agar relevan informasi akuntansi harus mampu membuat


perbedaan dalam sebuah keputusan. Informasi itu mampu mempengaruhi
pengambilan keputusan dan berkaitan erat dengan keputusan yang akan
diambil, jika tidak berarti informasi tersebut dikatakan tidak relevan.
Informasi yang relevan harus memiliki nilai umpan balik (feed-back
value), yakni mampu membantu menjustifikasi dan mengoreksi harapan
masa lalu. Informasi juga harus memiliki nilai prediktif (predictive value)

7
yakni dapat digunakan untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa
yang akan datang. Selain itu kualitas relevan juga harus mempunyai
substansi tepat waktu (timeliness). Informasi harus disajikan kepada para
pemakai sebelum informasi itu kehilangan kapasitasnya untuk
mempengaruhi pengambilan keputusan.
2. Reliabilitas. Informasi dianggap andal jika dapat diverifikasi, netral,
disajikan secara tepat serta bebas dari kesalahan dan bias (penyimpangan).
Keandalan sangat diperlukan bagi individu-individu pemakai yang tidak
memiliki waktu atau keahlian untuk mengevaluasi isi faktual dari
informasi. Realibilitas sangat diperlukan oleh individu-individu yang tidak
memiliki waktu atau keahlian untuk mengevaluasi isi faktual dari
informasi.
 Daya Uji (verifiability): ditunjukkan ketika pengukur-pengukur
independen, dengan menggunakan metode pengukuran yang sama,
mendapatkan hasil yang serupa.
 Ketepatan penyajian (representational faithfulness): angka-angka dan
penjelasan dalam laporan keuangan mewakili apa yang benar-benar ada
dan terjadi.
 Netralitas(neutrality): informasi tidak dapat dipilih untuk kepentingan
sekelompok pemakai tertentu. Info yang disajikan harus faktual, benar dan
tidak bisa.

Kualitas Sekunder

Kualitas sekunder yang harus dimiliki informasi akuntansi adalah


keberdayabandingan (comparability) dan konsistensi (consistency).

1. Komparabilitas. Informasi akuntansi akan lebih bermanfaat jika dapat


dibandingkan antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lain dalam
satu industri (perbandingan horizontal) atau membandingkan perusahaan
yang sama untuk periode yang berbeda (perbandingan vertikal). Jadi
diperlukan standar dan ukuran tertentu.

8
2. Konsistensi. Sebuah entitas dikatakan konsisten dalam menggunakan
standar akuntansi apabila mengaplikasikan perlakuan akuntansi (metode
akuntansi) yang sama untuk kejadian-kejadian serupa, dari periode ke
periode.

TINGKAT KETIGA : PENGAKUAN DAN PENGUKURAN

Tingkat ketiga kerangka konseptual terdiri dari konsep-konsep yang


dipakai untuk mengimplementasikan tujuan dasar dari tingkat pertama. Konsep-
konsep ini menjelaskan apa, kapan, dan bagaimana unsur-unsur serta kejadian
keuangan harus diakui, diukur, dan dilaporkan oleh sistem akuntansi.

Asumsi-Asumsi Dasar.

Asumsi-asumsi menyediakan satu landasan bagi profesi akuntansi. Jadi, asumsi


dasar akuntansi adalah anggapan-anggapan yang digunakan oleh para akuntan
agar akuntansi dapat dipraktikkan.

1. Asumsi entitas ekonomi (economic entity assumption). Akuntansi


memandang bahwa perusahaan merupakan unit yang berdiri sendiri dan
terpisah dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan (pemilik, kreditor,
karyawan, dan lainnya).
2. Asumsi kelangsungan hidup (going concern assumption). Sebagian besar
metode akuntansi di dasarkan pada asumsi kelangsungan hidup yaitu
perusahaan bisnis akan memiliki umur yang panjang.pengalaman
mengindikasikan bahwa, meskipun banyak mengalami kegagalan bisnis,
perusahaan dapat memiliki kelangsungan hidup yang panjang.
3. Asumsi unit moneter ( monetary unit assumption). Akuntansi
menggunakan unit moneter sebagai alat pengukur suatu obyek atau
aktivitas perusahaan dan menganggap nilai uang adalah stabil dari waktu
ke waktu.
4. Asumsi periodisitas (periodicity assumption). Cara yang paling akurat
untuk mengukur hasil operasi perusahaan adalah dengan mengukurnya
pada saat perusahaan tersebut di likuidasi. Namun, pengambil keputusan
tidak bisa menunggu selama itu untuk menerima informasi semacam itu.

9
Asumsi periodisitas (periodicity assumption) atau periode waktu
menyiratkan bahwa aktivitas ekonomi sebuah perusahaan dapat di
pisahkan dalam periode waktu artifisial periode waktu ini bervariasi, tetapi
yang paling umum yaitu secara bulanan, kuartalan dan tahunan.

Prinsip-Prinsip Dasar Akuntansi

1. Biaya historis (historical cost). GAAP mewajibkan sebagian besar aktiva dan
kewajiban diperlakukan dan dilaporkan berdasarkan harga akuisisi. Kos(cost)
memiliki keunggulan yang penting dibandingkan penilaian yang lainnya yaitu
dapat diandalkan.
2. Pengakuan pendapatan. Pendapatan umumnya diakui jika (1) telah direalisasi
atau dapat direalisasikan dan (2) telah dihasilkan.
3. Prinsip Penandingan (matching principle). Beban untuk suatu periode
ditentukan dengan mengaitkannya dengan pendapatan tertentu atau dengan
periode tertentu.. Beban diakui : jika terdapat hubungan langsung atau sebab
akibat dengan penjualan produk atau penyerahan jasa, pada periode terjadinya,
yakni pada saat kas dikeluarkan jika tidak terdapat hub. Langsung atau sebab
akibat dengan penjualan produk atau jasa, dengan alokasi yang sistematis dan
rasional, jika butir 1 dan 2 tidak terpenuhi. Contoh: depresiasi.
4. Prinsip Pengungkapan Penuh (full disclosure principle) Mengakui sifat dan
jumlah informasi yang dimasukkan dalam laporan keuangan mencerminkan
trade off penilaian, seperti :
 Hal-hal yang harus diungkapkan karena mempengaruhi keputusan
pemakai
 Kebutuhan untuk menyajikan secara penuh agar informasi dapat dipahami.

Catatan atas laporan keuangan umumnya ditujukan untuk memperkuat atau


memperjelas pos-pos yang disajikan dalam bagian utama laporan keuangan.

10
Tujuan pelaporan keuangan

Dalam upaya membangun pondasi bagi akuntansi dan pelaporan keuangan,


profesi akuntansi telah mengidentifikasi sekelompok tujuan pelaporan keuangan
(objectives of financial reporting) oleh perusahaan bisnis. Pelaporan keuangan
harus menyediakan infomasi berikut:

1. Berguna bagi investor serta kreditor saat ini atau potensial dan para
pemakailainnya untuk membuat keputusan investasi,kredit, dan keputusan serupa
secara rasional.
2. Membantu investor serta kreditor saat ini atau potensi dan para pemakai lainnya
dalammenilai jumlah, penetapan waktu, dan ketidakpastian penerimaan kas
prospektif dari dividen atau bunga dan hasil dari penjualan, penebusan, atau jatuh
tempo sekuritas atau pinjaman.
3. Dengan jelas menggambarkan sumber daya ekonomi dari sebuah perusahaan,
klaim terhadap sumber daya tersebut (kewajiban perusahaan untuk mentransfer

11
sumber daya ke entitas lainnya dan ekuitas pemilik), dan pengaruh dari transaksi,
kejadian, serta situasi yang mengubah sumber daya perusahaan dan klaim pihak
lain terhadap sumber daya tersebut.

Laporan Keuangan Interim (PSAK NO 3)

Laporan keuangan interim merupakan laporan keuangan yang berisi laporan


keuangan lengkap (seperti yang dijelaskan psak no 1 : penyajian laporan
keuangan) atau laporan keuangan ringkas (seperti yang dijelaskan di pernyataan
ini ) untuk satu periode interim. Periode interim adalah suatu periode pelaporan
keuangan yang lebih pendek dari pada satu tahun buku penuh.
Isi Laporan Keuangan Interim
Menurut PSAK No 1, Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen-
komponen berikut ini:
a. Laporan posisi keuangan pada akhir periode
b. Laporan laba rugi komprehensif selama periode
c. Laporan perubahan ekuitas selama periode
d. Laporan arus kas selama periode
e. Catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan
informasi penjelasan lainnya
f. Laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang disajikan ketika
entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat
penyajian kembali pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi
pos-pos dalam laporan keuangannya. Entitas diperkenankan menggunakan judul
laporan selain yang digunakan dalam Pernyataan ini.

Laporan Arus Kas


Menurut PSAK no 2, informasi tentang arus kas entitas berguna bagi para
pengguna laporan keuangan sebagai dasar untuk menilai kemampuan entitas
dalam mengahasilkan kas dan setara kas setara menilai kebutuhan entitas untuk
menggunakan arus kas tersebut. Arus kas adalah arus masuk dan keluar kas setara
kas. Penyajian laporan arus kas meliputi :

12
a. Aktifitas Investasi adalah perolehan dan pelepasan asset jangka panjang serta
investasi lain yang tidak termasuk setara kas.
b. Aktifitas Operasi adalah aktifitas penghasil utama pendapatan entitas dan aktifitas
lain yang bukan merupakan aktifitas investasi dan pendanaan.
c. Aktifitas pendanaan adalah aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam
jumlah serta komposisi kontribusi modal pinjaman entitas.

2. Manajemen Laba
a. Konsep Manajemen Laba
Manajemen laba didefinisikan sebagai usaha manajer untuk melakukan
manipulasi laporan keuangan dengan sengaja dalam batasan yang dibolehkan oleh
prinsip-prinsip akuntansi yang bertujuan untuk memberikan informasi yang
menyesatkan kepada para pengguna laporan keuangan untuk kepentingan para
manajer (Meutia, 2004).
Menurut Sulistyanto (2008) manajemen laba dilakukan dengan
mempermainkan komponen-komponen akrual dalam laporan keuangan, sebab
pada komponen akrual dapat dilakukan permainan angka melalui metode
akuntansi yang digunakan sesuai dengan keinginan orang yang melakukan
pencatatan dan penyusunan laporan keuangan. Komponan akrual merupakan
komponen yang tidak memerlukan bukti kas secara fisik sehingga
mempermainkan besar kecilnya komponen akrual tidak harus disertai dengan kas
yang diterima atau dikeluarkan perusahaan (Sulistyanto, 2008 dalam Nuraini,
2012).
Manajemen laba dalam lingkup yang lebih luas dapat didefiniskan sebagai
tindakan manajer dalam meningkatkan (menurunkan) laba saat ini atas suatu
usaha dan manajer bertanggung jawab tanpa mengakibatkan peningkatan
(penurunan) profitabilitas ekonomi jangka panjang unit tersebut (Sugiri, 1998
dalam Arif, 2012). Menurut Scott (2009) terdapat dua cara untuk mamahami
manajemen laba.

13
1. Pertama, sebagai perilaku oportunistik manajemen untuk
memaksimumkan utilitasnya dalam menghadapi kompensasi, kontrak
utang dan biaya politik.
2. Kedua, memandang manajemen laba dari perspektif kontrak efisien,
yaitu manajemen laba memberi manajer suatu fleksibilitas untuk
melindungi diri mereka sendiri dan perusahaan dalam mengantisipasi
kejadian-kejadian yang tak terduga untuk keuntungan semua pihak
yang terlibat dalam kontrak. Manajemen laba memiliki pola-pola
tertentu di dalam prakteknya.
Menurut Scott (2009) manajemen laba dilakukan dengan pola sebagai
berikut:
1. Taking a bath. Pola manajemen laba yang melaporkan laba pada periode
berjalan dengan nilai yang sangat rendah atau sangat tinggi.
2. Income minimization. Pola manajemen ini seperti taking a bath tapi tidak
se-ekstrim pola taking a bath. Menjadikan laba di periode berjalan lebih
rendah dari pada laba sesungguhnya.
3. Income maximization. Pola manajemen laba ini berkebalikan dengan
income minimization. Melaporkan laba lebih tinggi dari pada laba
sesungguhnya.
4. Income smoothing. Pola manajemen laba yang paling menarik yaitu
dengan cara melaporkan tingkatan laba yang cenderung berfluktualisasi
yang normal pada periode-periode tertentu.
Tindakan para manajer perusahaan yang melakukan pemanipulasian
laporan keuangan dengan menaikkan (menurunkan) laba perusahaan dinilai
merugikan para pengguna laporan keuangan. Praktik manajemen laba dapat
membuat para investor mengambil keputusan investasi yang salah. Manajer
perusahaan memiliki motivasi-motivasi tertentu dalam memanipulasi data
keuangan perusahaan. Scott (2009) menemukan beberapa motivasi terjadinya
manajemen laba, yaitu:

14
1. Bonus purposes. Manajer akan melakukan tindakan oportunistik dengan
memaksimalkan laba saat ini untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan
pribadi.
2. Political motivation. Banyak perusahaan memiliki politik yang terlihat.
Terutama untuk perusahaan yang menaungi hajat hidup banyak orang
seperti perusahaan minyak, gas, dll. Beberapa perusahaan melakukan
earnings management untuk mengurangi visibilitasnya.
3. Taxation motivation. Pajak pendapatan mungkin motivasi yang paling
nyata dari manajemen laba. Otoritas perpajakan cenderung memaksakan
peraturan akuntansi mereka dalam menghitung pajak pendapatan,
mengurangi ruang lingkup perusahaan untuk melakukan manuver.
4. Perubahan CEO. Beberapa dari motivasi manajemen laba ada pada saat
adanya perubahan CEO. Hipotesis perencanaan bonus memprediksikan
bahwa pengunduran diri CEO akan beberapa terlibat dalam strategi
maksimalisasi laba untuk meningkatkan bonus mereka.
5. IPO. Perusahaan yang akan melakukan IPO belum memiliki nilai pasar
yang telah terbangun. Dan memungkinkan manajer dari perusahaan going
public akan melakukan manajemen laba untuk menaikkan harga saham
mereka.
6. Informasi kepada investor

b. Sasaran Manajemen Laba


Menurut Ayres (1994:27-29) terdapat unsur-unsur laporan keuangan yang
dapat dijadikan sasaran untuk dilakukan manajemen laba yaitu :
a. Kebijakan Akuntansi. Keputusan manajer untuk menerapkan suatu
kebijakan akuntansi yang wajib diterapkan oleh suatu perusahaan, yaitu
antara menerapkan akuntansi lebih awal dari waktu yang ditetapkan atau
menundanya sampai saat berlakunya kebijakan tersebut.
b. Pendapatan. Dengan mempercepat atau menunda pengakuan akan
pendapatan.

15
c. Biaya. Menganggap sebagai ongkos (beban biaya) atau menganggap
sebagai suatu tambahan investasi atas suatu biaya (amortize or capitalize
of investment).
c. Praktek Manajemen Laba
Praktek manajemen laba dapat ditinjau dari dua perspektif yang berbeda, yaitu:
1) Etika Bisnis. Didalam etika, dapat dianalisis sebab-sebab manajer
melakukan manajemen laba.
2) Teori Akuntansi Positif. Didalam teori ini, dapat dianalisis dan
diidentifikasikan berbagai bentuk praktek manajemen laba yang
dilakukan oleh manajer perusahaan.
Tinjauan etika manajemen laba yang dilihat dari sudut pandang teori
akuntansi positif dapat dijelaskan melalui teori kontrak (contracting theory).
Godfrey, Hodgson dan Holmes (1997) menjelaskan bahwa riset dan teori
akuntansi positif didasarkan pada asumsi mengenai perilaku individu yang terlibat
dalam proses kontrak. Proses kontrak tersebut menghasilkan hubungan keagenan
(agency relationship). Hubungan keagenan muncul ketika salah satu pihak
(principal) mengontrak pihak lain (agen) untuk melakukan tindakan yang
diinginkan oleh principal. Dengan kontrak tersebut, principal mendelegasikan
wewenang pengambilan keputusan kepada agen. Baik principal maupun agen,
kedua-duanya adalah utility maximizer, maka tidak ada alasan yang dapat diyakini
bahwa agen akan selalu bertindak untuk kepentingan principal. Masalah keagenan
(agency problem) muncul karena adanya perilaku oportunis dari agen, yaitu
perilaku manajemen (agen) untuk memaksimumkan kesejahteraannya sendiri
yang berlawanan dengan kepentingan principal dan akhirnya menjadi insentif bagi
manajer untuk melakukan manajemen laba.
d. Teori Keagenan (Agency Theory) dan Manajemen Laba
Penjelasan mengenai konsep manajemen laba menggunakan pendekatan
teori keagenan yang terkait dengan hubungan atau kontrak diantara para anggota
perusahaan, terutama hubungan antara pemilik (prinsipal) dengan manajemen
(agent). Jensen dan Meckling (1976) mendefinisikan hubungan keagenan sebagai
sebuah kontrak antara satu orang atau lebih pemilik (prinsipal) yang menyewa

16
orang lain (agent) untuk melakukan beberapa jasa atas nama pemilik yang
meliputi pendelegasian wewenang pengambilan keputusan kepada agen.
Michelson et al (1995) mendefinisikan keagenan sebagai suatu hubungan
berdasarkan persetujuan antara dua pihak, dimana manajemen (agent) setuju
untuk bertindak atas nama pihak lain yaitu pemilik (prinsipal). Pemilik akan
mendelegasikan tanggungjawab kepada manajemen, dan manajemen setuju untuk
bertindak atas perintah atau wewenang yang diberikan pemilik.
Prinsipal dan agent diasumsikan sebagai pihak-pihak yang mempunyai
rasio ekonomi dan dimotivasi oleh kepentingan pribadi sehingga, walau terdapat
kontrak, agent tidak akan melakukan hal yang terbaik untuk kepentingan pemilik.
Hal ini disebabkan agent juga memiliki kepentingan memaksimalkan
kesejahteraannya. Informasi dalam teori agensi digunakan untuk pengambilan
keputusan oleh prinsipal dan agen, serta untuk mengevaluasi dan membagi hasil
sesuai kontrak kerja yang telah disetujui. Hal ini dapat memotivasi agen untuk
berusaha seoptimal mungkin dan menyajikan laporan akuntansi sesuai dengan
harapan prinsipal sehingga dapat meningkatkan kepercayaan prinsipal kepada
agen (Faozi, 2002).
Dalam hubungan antara agen dan prinsipal, akan timbul masalah jika
terdapat informasi yang asimetri (information asymetry). Scott (1997) menyatakan
apabila beberapa pihak yang terkait dalam transaksi bisnis lebih memiliki
informasi daripada pihak lainnya, maka kondisi tersebut dikatakan sebagai
asimetri informasi. Asimetri informasi dapat berupa informasi yang terdistribusi
dengan tidak merata diantara agen dan prinsipal, serta tidak mungkinnya prinsipal
untuk mengamati secara langsung usaha yang dilakukan oleh agen. Hal ini
menyebabkan agen cenderung melakukan perilaku yang tidak semestinya
(disfunctional behaviour).
Salah satu disfunctional behaviour yang dilakukan agen adalah
pemanipulasian data dalam laporan keuangan agar sesuai dengan harapan
prinsipal meskipun laporan tersebut tidak menggambarkan kondisi perusahaan
yang sebenarnya.

17
Pemanipulasian data dalam laporan keuangan tersebut dapat berupa
praktek manajemen laba (earning management). Manajemen laba merupakan
proses yang dilakukan manajer dalam batasan general accepted accounting
principles, yang sengaja mengarah pada suatu tingkatan yang diinginkan atas laba
yang dilaporkan (Assih, 2000). Manajemen laba dapat terjadi ketika manajemen
lebih menggunakan judgement dalam menyusun laporan keuangan serta dalam
memilih transaksi-transaksi yang dapat merubah laporan keuangan (Healy &
Wahlen, 1998). Sedangkan menurut Scott (2000),manajemen laba merupakan
pemilihan kebijakan akuntansi untuk mencapai tujuan khusus.
d. Pengaruh Asimetri Informasi Terhadap Manajemen Laba
Keberadaan asimetri informasi dianggap sebagai penyebab manajemen
laba. Richardson (1998) dalam Rahmawati dkk. (2006) meneliti hubungan
asimetri informasi dan manajemen laba pada semua perusahaan yang terdaftar di
NYSE pada periode akhir juni selama 1988-1992. Hasil penelitiannya, bahwa
terdapat hubungan yang sistematis antara magnitut asimetri informasi dan tingkat
manajemen laba. Fleksibilitas manajemen untuk memanajemeni laba dapat
dikurangi dengan menyediakan informasi yang lebih berkualitas bagi pihak luar.
Kualitas laporan keuangan akan mencerminkan tingkat manajemen laba.
Bhattacharya dan Spiegel (1991) dalam Richardson (1998) melakukan
penelitian, bahwa asimetri informasi menyebabkan ketidakinginan untuk
berdagang dan meningkatkan cost of capital sebagai “pelindung harga” investor
itu sendiri melawan kerugian potensial dari perdagangan dengan partisipan pasar
yang diinformasikan dengan baik. Lev (1998) dalam Rahmawati dkk. (2006)
berpendapat bahwa ukuran pengamatan atas likuiditas pasar dapat digunakan
untuk mengidentifikasi tingkat penerimaan asimetri informasi yang dihadapi
partisipan dalam pasar modal. Bid-ask spreads adalah salah satu pengukuran dari
likuiditas pasar yang telah digunakan secara luas dalam penelitian terdahulu
sebagai pengukur asimetri informasi antara manajemen dan pemegang saham
perusahaan. Sebagai bukti dari kemampuan bid-ask spreads dalam menangkap
bukti seputar perusahaan ditunjukkan oleh Healy, Palepu dan Sweeney (1995) dan
Welker (1995) dalam Rahmawati dkk. (2006) yaitu orang yang melaporkan bukti

18
dari hubungan yang negatif antara bid-ask spreads dan kebijakan pengungkapan
perusahaan.
Penelitian Richardson (1998) dalam Rahmawati dkk. (2006) menunjukkan
adanya hubungan antara asimetri informasi dengan manajemen laba. Ketika
asimetri informasi tinggi, stakeholder tidak memiliki sumber daya yang cukup,
insentif, atau akses atas informasi yang relevan untuk memonitor tindakan
manajer, dan hal ini memberikan kesempatan atas praktek manajemen laba.
Adanya asimetri informasi akan mendorong manajer untuk menyajikan informasi
yang tidak sebenarnya terutama jika informasi tersebut berkaitan dengan
pengukuran kinerja manajer.
Glosten dan Milgrow (1985) dalam Lobo dan Zhou (2001) menyatakan
bahwa peningkatan informasi dalam laporan keuangan akan menurunkan asimetri
informasi. Dengan demikian, peningkatan pengungkapan akan menyebabkan
fleksibilitas manajer untuk melakukan manajemen laba akan berkurang karena
berkurangnya asimetri informasi antara manajemen dengan pemegang saham dan
pengguna laporan keuangan lainnya.

3. Konsekuensi Ekonomis Laporan Keuangan


Economic consequences adalah konsep yang menyatakan bahwa,
walaupun bertentangan dengan implikasi teori pasar modal efisien, pilihan
kebijakan akuntansi dapat mempengaruhinilai perusahaan. Walaupun dengan
implikasi kebijakan teori pasar modal efisien, tampak bahwa pilihan kebijakan
akuntansi memiliki konsekuensi ekonomi bagi pamakai laporan keuangan,
walaupun tidak secara langsung mempengaruhi aliran kas perusahaan.Zeff (1978)
mendefinisikan economic consequences sebagai dampak laporan akuntansi
terhadap perilaku pengambilan keputusan bisnis, pemerintah, dan kreditor. Esensi
definisi tersebut adalah bahwa laporan akuntansi dapat mempengaruhi (affect)
keputusan nyata oleh manajer dan pihak lain, tidak hanya sekedar
menggambarkan (reflecting) hasil keputusanyang dibuat.
Pemahaman konsep konsekuensi ekonomi dalam pemilihan kebijakan
akuntansimerupakan hal penting karena beberapa alasan :

19
1. Konsep itu sendiri merupakan hal yang menarik.
2. Usul bahwa kebijakan akuntansi bukan merupakan persoalan,
bertentangan denganpengalaman akuntan.
3. Hadirnya konsekuensi ekonomi menimbulkan pertanyaan mengapa
konsekuensiekonomi tersebut ada.
Esensi dari economic consequences adalah bahwa kebijakan akuntansi dan
perubahan kebijakan akuntansi tersebut merupakan suatu permasalahan (matter),
terutama permasalahanbagi manajemen. Akan tetapi, apabila hal tersebut
merupakan permasalahan bagi manajemen,kebijakan akuntansi juga permasalahan
bagi investor yang memiliki perusahaan karena manajer dapat mengubah hasil
operasi perusahaan sesungguhnya dengan melakukan perubahan kebijakan
akuntansi. Economic consequences muncul karena perusahaan melakukan kontrak
seperti kompensasi eksekutif (executive compensation) dan kontrak utang (debt
contract). Kebijakan akuntansi yang digunakan dapat merupakan sumber
informasi yang penting bagi investor. Manajer dapat menggunakan sumber
informasi berupa pilihan kebijakan akuntansi yang dipilih sebagai signal tentang
informasi dalam dari perusahaan. Alasan lain munculnya konsekuensi ekonomi
adalah karena :
a. Economic consequences muncul karena perusahaan melakukan kontrak
seperti kompensasi eksekutif (executive compensation) dan kontrak utang
(debt contract).
b. Kebijakan akuntansi yang digunakan dapat merupakan sumber informasi
yang penting bagi investor. Manajer dapat menggunakan sumber informasi
berupa pilihan kebijakan akuntansi yang dipilih sebagai signal tentang
informasi dalam dari perusahaan.
c. Teori pasar modal efisien gagal menjelaskan perilaku pasar. Berdasarkan
teori pasar modal efisien, suatu perubahan akuntansi direaksi oleh pasar
hanya apabila perubahan akuntansi tersebut berpengaruh terhadap arus kas
perusahaan.
d. Economic consequences diperlukan untuk mengetahui respon pasar atas
perubahan kebijakan akuntansi walaupun perubahan kebijakan akuntansi

20
tersebut tidak berpengaruh secara langsung terhadap arus kas. Karena itu,
economic consequences merupakan salah satu anomali pasar modal
efisien. Teori akuntansi positif (PAT) adalah penjelasan terhadap adanya
economic consequences.
Teori pasar modal efisien gagal menjelaskan perilaku pasar. Berdasarkan
teori pasar modal efisien, suatu perubahan akuntansi direaksi oleh pasar hanya
apabila perubahan akuntansi tersebut berpengaruh terhadap arus kas perusahaan.
Economic consequencesdiperlukan untuk mengetahui respon pasar atas perubahan
kebijakan akuntansi walaupun perubahan kebijakan akuntansi tersebut tidak
berpengaruh secara langsung terhadap arus kas.
Karena itu, economic consequences merupakan salah satu anomali pasar
modal efisien. Teoriakuntansi positif (Positive Accounting Theory/PAT) adalah
penjelasan terhadap adanya economic consequences. PAT adalah teori yang
berkaitan dengan prediksi tindakan atas adanya pilihan kebijakan akuntansi oleh
manajer dan bagaimana manajer merespon suatu standar baru. Komponen PAT
meliputi:
1. Bonus Plan Hypothesis
2. Debt Covenant Hypothesis
3. Political Cost Hypothesis
Bonus Plan Hypothesis – Manajer yang memiliki program bonus akan
memilih kebijakanakuntansi yang menggeser laba dari periode yang akan datang
ke periode sekarang.
Debt Covenant Hypothesis – Semakin dekat perusahaan terhadap
pelanggaran kovenan utang berbasis akuntansi, semakin mungkin manajer
memilih prosedur akuntansi yang menggeser laba dari periode yang akan datang
ke periode sekarang.
Political Cost Hypothesis – Semakin besar biaya politik yang dihadapi
perusahaan, semakin mungkin manajer memilih prosedur akuntansi yang
menggeser laba periode sekarang ke periode yang akan datang.

21
Berikut beberapa perubahan yang terjadi dalam hal judul laporan, definisi,
komponen laporan keuangan, informasi komparatif dan penyajian penghasilan
komprehensif lain:

Hal PSAK 1 2013 PASAK 1 2009

Judul Laporan Laporan Laba Rugi dan Laporan Laba Rugi


Penghasilan Komprehensif Lain Komprehensif

Definisi Tidak memberikan definisi: Tidak memberikan


defenisi tersebut
Laba Rugi,Pemilik,Penyesuaian
Reklasifikasi, tidak praktis, Total
penghasilan Komprehensif

Komponen -Laporan posisi keuangan -Laporan posisi


Laporan keuangan
Keuangan -Laporan laba rugi dan
penghasilan komprehensif lain -Laporan laba rugi
komprehensif
-Laporan perubahan ekuitas
-Laporan perubahan
-Laporan arus kas ekuitas
-Catatan atas laporan keuangan- -Laporan arus kas
Informasi komparatif
-Catatan atas laporan
keuangan

Informasi -Informasi komparatif minimum Tidak terdapat


Komparatif pengaturan
-Informasi komparatif tambahan

Penyajian Disajikan berdasarkan kelompok: Disajikan dalam


Penghasilan kelompok Penghasilan
Komprehensif 1. Pos-pos yang akan komprehensif lain
Lain direklasifikasikan ke laba rugi
2. Pos-pos yang tidak akan
direklasifikasikan ke laba rugi

22
Perbedaan PSAK 1 dengan IAS 1

• Ruang lingkup – tidak berlaku untuk entitas Syariah (par 2)


• Menghilangkan kemungkinan penggunaan untuk entitas sektor publik (par
5)
• Tambahan aturan regulator pasar modal sbagai suatu acuan untuk entitas
yang berada di bawah pengawasanya dalam definisi SAK (par 7)
• Menghilangkan kalimat memperkenankan entitas menggunakan judul lain
untuk komponen laporan keuangan – untuk keseragaman (par 10)
• Tanggung jawab laporan keuangan – karena peraturan hanya mengatur
untuk sebagian entitas.
• Perbedaan fomart, aset tetap setelah aset lancar dan ekuitas setelah
liabilitas
• Penyimpangan dari SAK tidak diadopsi karena tidak sesuai konteks
Indonesia
• Aset biolojik
Tanggal efektif, ketentuan transisi dan penarikan IAS 1 2003

Penerapan PSAK No. 1 tahun 2013 digunakan untuk penyusunan


dan penyajian laporan keuangan bertujuan umum (general purpose
financial statements) agar dapat dibandingkan dengan periode
sebelumnya dan entitas lain.
Pernyataan ini mengatur:
– persyaratan bagi penyajian laporan keuangan
– struktur laporan keuangan
– persyaratan minimum
– isi laporan keuangan

Entitas menerapkan Pernyataan ini dalam penyusunan dan penyajian


laporan keuangan bertujuan umum sesuai dengan Standar Akuntansi
Keuangan.Pernyataan ini tidak berlaku bagi penyusunan dan penyajian
laporan keuangan entitas syariah.

23
4. Analisis Kasus PT. Indofarma Tbk

PT. INDOFARMA merupakan pabrik obat yang didirikan pada tahun


1918 dengan nama Pabrik Obat Manggarai. Pada tahun 1950, Pabrik Obat
Manggarai ini diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia dan dikelola oleh
Departemen Kesehatan. Pada tahun 1979, nama pabrik obat ini diubah menjadi
Pusat Produksi Farmasi Departemen Kesehatan. Kemudian, berdasarkan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP) No. 20 tahun 1981, Pemerintah
menetapkan Pusat Produksi Farmasi Departemen Kesehatan menjadi Perusahaan
Umum Indonesia Farma (Perum Indofarma). Selanjutnya pada tahun 1996, status
badan hukum Perum Indofarma diubah menjadi Perusahaan Perseroan (Persero)
berdasarkan PP No. 34 tahun 1995.

Kasus Posisi
Kasus Indofarma ini bermula saat perusahaan yang memproduksi 80%
(delapan puluh persen) obat generik itu mengalami kerugian sebesar Rp. 20,097
(dua puluh koma Sembilan puluh tujuh) miliar pada akhir tahun 2002. Padahal
hingga kuartal in tahun yang sama, laba bersih Indofarma mencapai Rp. 88,57
(delapan puluh delapan koma lima puluh tujuh) miliar.1
Kerugian ini sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari kekeliruan yang
dilakukan oleh manajemen padatahuntahun sebelumnya yang pada akhirnya
berdampak pada tahun-tahun berikutnya. Faktor penyebab kerugian itu menurut
manajemen Indofarma:2
1. Adanya perubahan regulasi pemerintah,yaitu:
a. sejak dihapuskannya subsidi pengadaan obat generik yang diberlakukan secara
efektif sejak tahun 2001;
b penerapan Undang-undang Otonomi Daerah yang mengharuskan tender
pengadaan obat generic dilakukan secara desentralisasi di tingkat Kabupaten dan
Kota atau hilangnya captive market.
2. Persaingan yang semakin ketat antar produsen obat dan mengarah pada
terjadinya perang harga dengan memberikan diskon yang pada akhirnya
mengakibatkan beban pokokpenjualan meningkat;

24
3. Komposisiportofolioprodukyang sangat bergantung pada obat generik yang saat
ini mencapai lebih dari 80% (delapan puluh person) dari total penjualan dan
penjualan obatgenerik ini menurun sejalan adanya pe-rubahan regulasi pemerintah
ditambah dengan kondisi pasar yang over supply selama tahun 2003;
4. Pengembangan 40 (empat puluh) jenis obat-obat ethical yang berharga murah
dengan merek (low-price branded generic) sampai sekarang belum membuahkan
hasil yang maksimal.
5. Inefisiensi produksi yang disebabkan oleh kapasitas menganggur (idle cpacity)
dari
fasilitas produksi, adanya kapasitas menganggur karena penambahan fasilitas
produksi tanpamemperhatikan kebutuhan riil pasar dengan sangat besamya
fasilitas produksi yang tidak didukung oleh daya serap pasar mengakibatkan
utilisasi fasilitas produksi menjadi sangat rendah dan bahkan sampai dibawah
10% (sepuluh persen). Dengan demikian maka harga pokok produk menjadi
tinggi karena overhead cost-nya sangat tinggi;
6. Sejak tahun 2000 Perusahaan mendirikan anak perusahaan yaitu PT. Indofarma
Global Medika(IGM) yang menjadi distributor untuk semua produk Indofarma.
Pendirian IGM ini
dengan investasi yang sangat tinggi seperti pergudangan, sarana trans-portasi,
SDM, teknologi infpormasi dan Iain-lain. Tetapi harga produk sudah ditentukan
oleh pemerintah mang-akibatkan marjin keun-tungan yang diperoleh IGM ini
sangat kecil dan ini yang mengakibat-kan rendahnya tingkat pengembalian
investasi;
7. Adanya Peningkatan persediaan (obat jadi, bahan baku, alat-alat kesehatan dan
Iain-lain) tapi tidak melalui perencanaan yang baik dan juga tidak didukung oleh
kebutuhan atau daya serap pasar khususnya alat-alat kesehatan. Yang pada
akhirnya overstock barang menjadi rusak karena terlalu lama dalam gudang dan 8.
akhirnya tidak dapat dijual. Memasuki akhir tahun 2003 manajemen menemukan
overstock tersebut yang keadaannya masuk dalam kategori rusak, kadaluarsa,
tidak dapat dipakai, tidak bergerak dan tidak dapat diserap pasar. Untuk itu
diputuskan untuk melakukan penghapus bukuan (write off). Setelah dihitung over

25
stock tersebut mencapai angka sebesar Rp. 80,04 (delapan puluh koma nol empat)
miliar dan ini secara otomatis berdampak pada kenaikan biaya yang
diperhitungkan dalam cadangan penyisihan nilai persediaan.
8.Beban usaha mengalami peningkatan sebesar Rp. 183,88 (seratus delapan puluh
tiga koma delapan puluh delapan) miliar yang juga mendorong meningkatnya
kerugian ditambah dengan beban bungan pinjaman sebesar Rp. 40,95 (empat
puluh koma sembilan puluh lima) miliar.

26
ANALISIS KASUS PT. INDOFARMA Tbk
Kasus Indofarma ini bermula saat perusahaan yang memproduksi 80% (delapan
puluh persen) obat generik itu mengalami kerugian sebesar Rp. 20,097 (dua puluh
koma Sembilan puluh tujuh) miliar pada akhir tahun 2002. Padahal hingga kuartal
III tahun yang sama, laba bersih Indofarma mencapai Rp. 88,57 (delapan puluh
delapan koma lima puluh tujuh) miliar Kerugian ini sebenarnya tidak bisa
dilepaskan dari kekeliruan yang dilakukan oleh manajemen pada tahun tahun
sebelumnya yang pada akhirnya berdampak pada tahun-tahun berikutnya.
Faktor penyebab kerugian itu menurut manajemen Indofarma :
1. Adanya Perubahan Regulasi pemerintah.
2. Persaingan yang semakni ketat antar produsen obat
3. Komposisiportofolioprodukyangsangat bergantung pada obat generic
4. Pengembangan 40 (empat puluh)jenis obat-obat ethical yangberharga murah
dengan merek(low-price branded generic)
5. Inefisiensi produksi yangdisebabkan oleh kapasitasmenganggur (idle
capacity) darifasilitas produksi
6. Sejak tahun 2000 Perusahaanmendirikan anak perusahaanyaitu PT. Indofarma
GlobalMedika(IGM) yang menjadi distributoruntuk semua produkIndofarma
7. Adanya Peningkatan persediaan(obat jadi, bahan baku, alat-alatkesehatan dan
Iain-lain) tapi tidakmelalui perencanaan yang baikdan juga tidak didukung
olehkebutuhan atau daya serap pasarkhususnya alat-alat kesehatan.
8. Beban usaha mengalami peningkatansebesar Rp. 183,88(seratus delapan
puluh tiga komadelapan puluh delapan) miliaryang juga mendorong
meningkatnyakerugian ditambah denganbeban bungan pinjaman sebesarRp.
40,95 (empat puluh komasembilan puluh lima) miliar.

27
Adapun tinjauan keuangan PT. Indofarma, Tbk selama 5 tahun yaitu tahun
1999-2003
DESKRIPSI 1999 2000 2001 2002 2003
Penjual Bersih 392,02 493,37 615,43 687,98 498,21
Laba Kotor 182,06 272,54 303,79 123,16 136,84
Laba (Rugi) Usaha 125,92 182,07 172,33 (52,26) (47,05)
Laba (Rugi) Bersih 117,01 110,29 122,54 (59,82) (129,57)
Total Aktiva 487,51 538,17 811,62 810,03 635,96
Aktiva Lancar 421,71 432,79 688,96 647,16 443,65
Aktiva Tidak Lancar 65,80 105,38 122,66 162,87 192,96
Total Kewajiban 239,92 245,61 294,19 412,03 368,01
Kewajiban Lancar 239,92 245,61 289,76 373,22 343,16
Kewajiban Tidak lancar - - 4,43 38,81 24,85
Ekuitas 247,59 292,57 520,84 390,43 260,86

Analisis Kasus
Awal mula dari kasus ini karena selama 2 (dua) tahun berturut-turut
Indofarma mengalami kerugian yaitu pada tahun 2002 dan 2003. Padahal tahun
2001 perusahaan farmasi tersebut meraih laba yang cukup besar (lihat tabel 1).
Setelah dilakukan pemeriksaan oleh Bapepam ternyata telah adanya kesalahan
dalam penyajian informasi di dalam Laporan Keuangan 2001. Kejadian ini
merupakan suatu bentuk pelanggaran terhadap ketentuan Pasar Modal (UUPM
dan peraturan Bapepam) dan Pedoman Standar Akuntan Publik (PSAK). Bahwa
di dalam ketentuan Pasar Modal yaitu yang terdapat dalam Pasal 69 ayat (l)
UUPM:"Laporan Keuangan yang disampaikan kepada Bapepam wajib disusun
berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum."
Adapun bukti-bukti yang ditemukan adalah sebagai berikut :
1. Nilai Barang Dalam Proses dinilai lebih tinggi dari nilai seharusnya
(oversteated) dalam penyajian nilai persediaan barang dalam proses pada
tahun buku 2001 sebesar Rp 28.870.000.000,00. Akibat overstated
tersebut, maka Harga Pokok Penjualan akan understated sebesar Rp

28
28.870.000.000,00 dan laba bersih juga akan mengalami overstated
dengan nilai yang sama pula.
2. Berdasarkan angka 2 huruf a pearaturan Bapepam nomor VIII.G.7 tentang
pedoman penyajian laporan keuangan disebutkan bahwa “manajemen
emiten atau perusahaan public vertanggungjawab atas penyusunan dan
penyajian laporan keuangan”
3. Dalam pedoman standar akuntansi public (PSAK) kerangka dasar
penyusunan dan penyajian laporan keuangan khususnya berkaitan dengan
materialitas, paragraph 30 dinyatakan bahwa “….informasi dipandang
material kalau kelalaian mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat
informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai yang
diambil atas dasar laporan keuangan…”
4. Dalam PSAK kerangka dasar penyusunan dan penyajian alaporan
keuangan khususnya berkaitan dengan keandalan, paragraph 31
menyatakan bahwa “…. Agar bermanfaat, informasi juga harus andal
(realiabel) informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari pengertian
yang menyesatkan, kesalahan material dan dapat diandalkan pemakai
sebagai penyajian yang tulus dan jujur (faithfull representation) dari yang
seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat
disajikan”.
5. PSAK No 1 Paragaraf 10 bahwa “ laporan keuangan harus menyajikan
secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, perubahan ekuitas, dan
arus kas perusahaan dengan menerapkan PSAK secara benar disertai
pengungkapan yang diharuskan PSAK dalam catatan atas laporan
keuangan….”
6. Berdasarkan pasal 5 huruf n undang-undang No 8 tahun 1995 tentang
pasar modal dan pasal 64 peraturan pemerintah nomor 45 tahun 1995
sebagaimana telah diubah dengan peraturan pemerintah no 12 tahun 2004
tentang penyelenggaraan kegiatan dibidang pasar modal, kepada direksi
yang menjabat pada periode terbitnya laporan keuangan tahun periode
2001 diberikan sanksi administrative berupa denda sebesar Rp.

29
500.000.000,00 dan memerintahkan kepada direksi PT. Indofarma Tbk
untuk :
a. Segera membenahi dan atau menysusun system pengendalian internal
dan system akuntansi perusahaan yang memadai untuk menghindari
timbulnya permasalahan yang sama dikemudian hari. Pembenahan dan
atau penyusunan system pengendalian internal dan system akuntansi
perusahaan tersbut sudah harus diselesaikan selambat-lambatnya pada
akhir semester 1 tahun buku 2005
b. Menyampaikan laporan perkembangan atau pembenahan dan atau
penyusunan system pengendaliaan internal dan system akuntansi
perusahaan tersebut secara berkala setiap akhir bulan kepada
BAPEPAM
c. Menunjuk akuntan public yang terdaftar di BAPEPAM untuk
melakukan audit khusus untuk melakukan penilaian atas system
pengendalian internal dan item akuntansi tersebut apabila perusahaan
telah selesai melakukan pembenahan adan atu penyusunan system
pengendalian internal dan system akuntansi perusahaan. Hasil audit
khusus tersebut wajib disampaikan ke BAPEPAM

30
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kerangka


konseptual dan pelaporan keuangan dapat diringkas dalam bagan yang
menjelaskan 3 level dalam yaitu First Level merupakan basic objective, Second
Level merupakan karakteristik keuangan dan Unsur Iaporan keuangan, Third
Level merupakan Recognition, measurement, and disclosure concepts.
Pilihan metode akuntansi yang secara sengaja dipilih oleh manajemen untuk
tujuan tertentu dikenal dengan sebutan manajemen laba. Tiga alasan manajer
melakukan manajemen laba adalah meningkatkan kepercayaan pemegang saham
terhadap manajer, Manajemen laba dapat memperbaiki hubungan dengan pihak
kreditor, menarik investor untuk menanamkan modalnya terutama pada
perusahaan go publik pada saat IPO.
Hal ini dapat tercermin dalam kasus yang pernah terjadi pada PT. Indofarma,
Tbk. Teori economic consequences sebagai dampak laporan akuntansi terhadap
perilaku pengambilan keputusan bisnis, pemerintah, dan kreditor.Economic
consequences muncul karena perusahaan melakukan kontrak seperti kompensasi
eksekutif (executive compensation) dan kontrak utang (debt contract).

31
DAFTAR PUSTAKA

Aribowo, Tjiptono. 2012. Teori Akuntansi Normatif dan Positif, (Online),


(http://msa15.blogspot.com/2012/02/teori-akuntansi-normatif-dan-
positif.html.)
Erika.2012. A Conceptual Framework for Financial Accounting and Reporting,
(Online), (http://erika0391989.wordpress.com/2012/02/08/a-conceptual-
framework-for-financial-accounting-and-reporting/.
IAI. 2012. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Ikatan Akuntan Indonesia
Koran Tempo. 2012. Bapepam Temukan Indikasi, (Online),
(http://kumpulanberitalama.blogspot.com/2012/10/korantempo-bapepam-
temukan-indikasi.html.)
Simbolon, Harry Andrian. 2011. Perbedan Kerangka Konseptual USGAAP dan
IfRS, (Online),
(http://akuntansibisnis.wordpress.com/2011/04/07/perbedaan-kerangka-
konseptual-usgaap-dan-ifrs/.)

32