Anda di halaman 1dari 23

KEMISKINAN DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN

(PEREKONOMIAN INDONESIA)

Dosen Pengampu: Dr. Made Heny Urmila Dewi, SE., M.Si.

Kelompok 5:

Ni Kadek Ani Jumariati (1707532004)

Ni Luh Rosa Aprilianti (1707532015)

Ni Komang Megi Megayani (1707532032)

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI REGULER DENPASAR

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2019
DAFTAR ISI

Daftar Isi ............................................................................................................................ i


BAB I ................................................................................................................................ 1
Pendahuluan ................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................................ 1
1.3 Tujuan .................................................................................................................. 1
BAB II............................................................................................................................... 2
Pembahasan ................................................................................................................... 2

2.1 Indeks dan Perkembangan Distribusi Pendapatan ............................................... 2

2.1.1 Distribusi Pendapatan Ukuran ............................................................... 2


2.1.2 Distribusi Fungsional ............................................................................. 6
2.1.3 Perkembangan Indeks Ketimpangan ..................................................... 7

2.2 Kebijakan Distribusi Pendapatan......................................................................... 9

2.1 Kemiskinan dalam Aspek Data dan Kebijakan ................................................. 11

2.3.1 Mengukur Kemiskinan Absolut........................................................... 11


2.3.2 Cakupan Kemiskinan Absolut ............................................................. 14
2.3.3 Karakteristik Ekonomi Kelompok Masyarakat Miskin ....................... 16
2.3.4 Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan ................................................... 16
2.3.5 Pertumbuhan dan Kemiskinan ............................................................. 17
BAB III ........................................................................................................................... 19
Penutup ........................................................................................................................... 19
3.1 Kesimpulan ........................................................................................................ 19
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 20

i
ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di sebagian besar negara berkembang, masalah kemiskinan dan pendapatan perkapita
yang rendah merupakan salah satu masalah utama dalam pembangunan ekonomi. Dengan
demikian dalam tujuan pembangunan ekonomi, kedua hal ini dinyatakan secara bersamaan,
bahkan tidak jarang dalam satu kalimat yaitu peningkatan pendapatan nasional dan
pengurangan kemiskinan. Dalam rencana pembangunan nasional Indonesia tujuan
peningkatan pendapatan dan mengurangi kemiskinan selalu dinyatakan secara bersama dalam
setiap penyusunan GBHN.
Distribusi pendapatan nasional yang tidak merata, tidak akan menciptakan kemakmuran
bagi masyarakat secara umum. Sistem distribusi yang tidak merata hanya akan menciptakan
kemakmuran bagi golongan tertentu saja.
Dampak yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia adalah bertambahnya jumlah rumah
tangga miskin di perdesaan maupun di perkotaan, rusaknya struktur sosial karena kehilangan
pekerjaan dan kehilangan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok (pendidikan,
kesehatan dasar, keluarga berencana dan sosial).
Maka dari pada itu distribusi pendapatan dan pemerataan pembangunan saling
berhubungan dan akan berdampak pada kesejahteraan ekonomi di Indonesia. Jika kedua
aspek tersebut mengalami hambatan, maka kesejahteraan ekonomi Indonesia terancam. Peran
pemerintah sangatlah penting dalam hal ini agar distribusi pendapatan dan pemerataan
pembangunan berjalan dengan baik.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana indeks dan perkembangan distribusi pendapatan?
1.2.2 Bagaimana kebijakan distribusi pendapatan?
1.2.3 Bagaimana kemiskinan dalam aspek data dan kebijakan?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui indeks dan perkembangan distribusi pendapatan.
1.3.2 Untuk mengetahui kebijakan distribusi pendapatan.
1.3.3 Untuk mengetahui kemiskinan dalam aspek data dan kebijakan.

1
BAB II
PEMBAHASAN

1.1 Indeks dan Perkembangan Distribusi Pendapatan


Para ekonom pada umumnya membedakan dua ukuran pokok distribusi pendapatan,
yang keduanya digunakan untuk tujuan analisis data kuantitatif tentang keadilan distribusi
pendapatan. Kedua ukuran tersebut adalah distribusi ukuran, yakni besar atau kecilnya bagian
pendapatan yang diterima masing-masing orang dan distribusi “fungsional” atau distribusi
kepemilikan faktor-faktor produksi. Dari kedua jenis distribusi pendapatan ini kemudian
dihitung indicator untuk menunjukkan distribusi pendapatan masyarakat.
2.1.1 Distribusi Pendapatan Ukuran
Distribusi pendapatan perorangan (personal distribution of income) atau distribusi
ukuran pendapatan (size distribution of income) merupakan ukuran yang paling sering
digunakan oleh para ekonom. Ukuran ini secara langsung menghitung jumlah pendapatan
yang diterima oleh setiap individu atau rumah tangga. Cara mendapatkan pendapatan itu
tidak dipermasalahkan. Yang diperhatikan disini adalah adalah seberapa banyak pendapatan
yang diterima seseorang, tidak peduli darimana sumbernya, entah itu berasal dari gajinya
karena bekerja, atau berasal dari sumber yang lain seperti bunga tabungan, laba, hasil sewa,
hadiah ataupun warisan. Selain itu lokasi sumber pendapatan (desa atau kota) maupun sector
atau bidang kegiatan yang menjadi sumber pendapatan (pertanian, manufaktur, perdagangan,
jasa) juga diabaikan.
Para ekonom dan ahli statistik cendrung mengurutkan semua individu tersebut semata-
mata berdasarkan pendapatan yang diterimanya, lantas membagi total populasi menjadi
sejumlah kelompok atau ukuran. Populasi dibagi menjadi lima kelompok atau kuntil
(quintiles) atau sepuluh kelompok yang disebut desil (decile).

Tabel 5.1: Distribusi Ukuran Pendapatan Perorangan di Satu Negara Berdasarkan


Pangsa Pendapatan – Kuintil dan Desil

Individu Pendapatan/orang Pangsan (%) Pangsan (%)


(unit barang) Kuintil Desil
1 0,8
2 1,0 1,8
3 1,4

2
4 1,8 5 3,2
5 1,9
6 2,0 3,9
7 2,4
8 2,7 9 5,1
9 2,8
10 3,0 5,8
11 3,4
12 3,8 13 7,2
13 4,2
14 4,8 9,0
15 5,9
16 7,1 22 13,0
17 10,5
18 12,0 22,5
19 13,5
20 15,0 51 28,5
Total (Pendapatan Nasional) 100 100 100
Catatan: ukuran ketimpangan = jumlah pendapatan dari 40 persen rumah tangga
termiskin dibagi dengan jumlah pendapatan dari 20 persen rumah tangga terkaya =
14/51 = 0,28

Dalam tabel tersebut, semua penduduk negara tersebut diwakili oleh 20 individu (atau
lebih tepatnya rumah tangga). Kedua puluh rumah tangga tersebut kemudian diurutkan
berdasarkan jumlah pendapatannya per tahun dari yang terendah (0,8 unit), hingga yang
tertinggi (15 unit). Adapun pendapatan total atau pendapatan nasional yang merupakan
penjumlahan dari pendapatan semua individu adalah 100 unit, seperti tampak pada kolom 2
dalam tabel tersebut. Dalam kolom 3, segenap rumah tangga digolong-golongkan menjadi 5
kelompok yang masing-masing terdiri dari 4 individu atau rumah tangga. Kuintil pertama
menunjukkan 20 persen populasi terbawah pada skala pendapatan. Kelompok ini hanya
menerima 5 persen (dalam hal ini adalah 5 unit uang) dari pendapatan nasional total.
Kelompok kedua (individu 5-8) menerima 9 persen dari pendapatam total. Dengan kata lain,
40 persen populasi terendah (kuintil 1 dan 2) hanya menerima 14 persen dari pendapatan

3
total, sedangkan 20 persen teratas (kuintil ke lima) dari populasi menerima 51 persen dari
pendapatan total.
Ada tiga alat ukur tingkat ketimpangan pendapatan dengan bantuan distribusi ukuran,
yakni:
1. Rasio Kutnezs
Ukuran umum yang memperlihatkan tingkat ketimpangan pendapatan dapat
ditemukan dalam kolom 3, yaitu perbandingan antara pendapatan yang diterima oleh
20 persen anggota kelompok teratas dan 40 persen anggota kelompok terbawah. Rasio
yang sering disebut sebagai rasio Kutnezs inilah (dinamai berdasarkan nama
pemenang Nobel Simon Kutnezs), yang sering dipakai sebagai ukuran tingkat
ketimpangan antara dua kelompok ekstrim, yaitu kelompok yang sangat miskin dan
kelompok yang sangat kaya di satu Negara. Rasio ketimpangan dalam contoh ini
adalah 14 dibagi dengan 51 atau sekitar 0,28.
2. Kurva Lorenz
Metode lainnya yang lazim dipakai untuk menganalisis statistic pendapatan
perorangan adalah dengan menggunakan kurva Lorenz (Lorenz Curve). Kurva Lorenz
menunjukkan hubungan kuantitatif actual antara persentase penerima pendapatan
dengan persentase pendapatan total yang benar-benar mereka terima selama,
misalnya, satu tahun. Pada peraga 1, garishorisontal menunjukkan persentase
kumulatif penerima pendaptan, sedangkan sumbu vertical menyatakan baian dari
pendapatan total yang diterima masing-masing persentase kelompok penduduk
tersebut. Masing-masing sumbu berakhir pada titik 100 persen, sehingga dia
berbentuk bujur sangkar. Satu garis diagonal ditarik dari titik nol pada sudut kiri
bawah menuju ke sudut kanan atas, pada setiap titik yang terdapat pada garis diagonal
itu, persentase pendapatan yang diterima persis sama dengan persentase jumlah
penerimanya, misalnya titik tengah garis diagonal menunjukkan 50 persen pendapatan
yang diterima oleh 50 persen penduduk,begitu seterusnya pada setiap titik di garis
diagonal. Dengan kata lain, garis diagonal tersebut menunjukkan “pemerataan
sempurna” (perfect equality) dalam distribusi ukuran pendapatan.

4
Semakin jauh jarak kurva Lorenz dari garis diagonal (yang merupakan garis
pemerataan sempurna), maka semakin timpang atau tidak merata distribusi
pendapatannya. Kasus ektrem dari ketidakmerataan sempurna (yaitu, apabila hanya
seorang saja yang menerima seluruhpendapatan nasional, sementara orang-orang
lainnya sama sekali tidak menerima pendapatan), akan diperhatikan oleh Kurva
Lorenz yang berhimpit dengan sumbu horizontal sebelah bawah dan sumbu vertical
sebelah kanan. Oleh karena itu tidak ada suatu negara pun yang memperlihatkan
pemerataan sempurna di dalam distribusi pendapatannya, semua kurva Lorenz dari
setiap negara akan berada di sebelah kanan garis diagonal. Semakin parah
ketidakmerataannya atau ketimpangan distribusi pendapatan di satu negara, maka
bentuk kurva Lorenznya pun akan semakin melengkung mendekati sumbu horizontal
bagian bawah.
3. Koefisien Gini dan Ukuran Ketimpangan Agregat
Perangkat yang terakhir dan sangat mudah digunakan untuk mengukur derajat
ketimpangan pendapatan relative di satu Negara, adalah dengan menghitung rasio
bidang yang terletak di antara garis diagonal dan kurva Lorenz dibagi dengan luas
separuh segi empat di mana kurva Lorenz tersebut berada. Pada Peraga 2, rasio ini
adalah rasio daerah A yang diberi warna agak gelap dengan luas segitiga BCD.rasio
ini dikenal dengan nama rasio konsentrasi Gini (Gini concentration ratio) atau
sederhananya disebut koefisien Gini (Gini coefficient).
Koefisien Gini adalah ukuran ketimpangan agregat yang angkanya berkisar
antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan sempurna). Dibawah ini
merupakan contoh distribusi pendapat.

5
2.1.2 Distribusi Fungsional
Ukuran distribusi pendapatan kedua yang lazim digunakan adalah distribusi pendapatan
fungsional atau pangsa distribusi pendapatan per factor ekonomi. Ukuran ini berfokus pada
bagian dari pendapatan nasional total yang diterima oleh masing-masing factor produksi
(tanah, tenaga kerja, dan modal). Teori distribusi pendapatan fungsional ini pada dasarnya
mempersoalkan persentase pendapatan tenaga kerja secara keselruhan dan membandingkan
dengan persentase pendapatan total yang dibagikan dalam bentuk sewa, bunga, dan laba
(masing-masing merupakan perolehan dari tanah, modal uang, dan modal fisik).
Peraga 3 memberikan ilustrasi sederhana dibawah tentang teori distribusi tradisional
mengenai pendapatan fungsional. Dalam peraga tersebut, diasumsikan bahwa hanya terdapat
dua factor produksi saja yaitu modal, yang persediaannya dianggap tetap atau baku dan
tenaga kerja, yang merupakan satu-satunya faktor produksi variabel (kuantitanya dapat
berubahsetiap saat). Sayangnya, relevansi teori fungsional menjadi kurang tajam karena tidak
memperhitungkan pentingnya peranan dan pengaruh kekuatan-kekuatan di luar pasar yang
menentukan harga factor-faktor produksi ini, misalnya, peran kekuatan tawar menawar secara
kolektif antara pihak pengusaha dan serikat-serikat buruh dalam menentukan upah disektor
modern, dan kekuatan para monopolis serta pemilik tanah yang kaya mampu memanipulasi
harga modal, tanah, dan outputnya demi keuntungan pribadi.

6
2.1.3 Perkembangan Indeks Ketimpangan
Sebagai hasil dari penerapan berbagai cara untuk mencapai ukuran pembagian
pendapatan di bawah ini disampaikan data mengenai koefisien Gini untuk periode 1964/65
sampai 1976 dan untuk periode 2002-2007, dan persentase pendapatan yang diterima oleh
berbagai kelompok masyarakat di Indonesia dari 2002 sampai 2007 untuk menghitung
koefisien Kutnezs
Tabel 5.2: Koefisien Gini pengeluaran di Indonesia, 1964/65-1976
Pengeluaran Konsumsi Per Kapita
Keterangan Data Susenas
1964-65a 1967b 1970 1976
Perkotaan
Jawa 0,313 0,323 0,386 0,386
Luar Jawa 0,403 t.a. 0,332 0,329
Indonesia 0,356 t.a. 0,341 0,377

Pedesaan
Jawa 0,336 0,294 0,312 0,302
Luar jawa 0,349 t.a. 0,313 0,313
Indonesia 0,358 t.a. 0,318 0,354
a
Data untuk November 1964 – Februari 1965.
b
Data untuk September – Oktober 1967.
c
Data untuk periode Januari – April.
Sumber: A. Booth dan P. Mc Cawley 1990 (h242)
Sayang sekali tidak diperoleh data mengenai ketimpangan distribusi pendapatan
Indonesia untuk seluruh periode perekonomian Indonesia. Namun dapat di duga bahwa
distribusinya lebih timpang pada waktu pemerintahan Sukarno, lebih kurang timpang (lebih
merata) pada pemerintahan Suharto. Tabel 5.2 menunjukkan bahwa tingkat ketimpangan
pembagian pendapatan secara keseluruhan pada tahun 1964/65 hampir sama untuk perkotaan
dan pedesaan dan termasuk pada ketimpangan yang sedang. Sedangkan pembagian
pendapatan perkotaan di Jawa lebih merata dibandingkan di pedesaan di Jawa, namun
sebaliknya terjadi di Luar Jawa, yakni di pedesaan lebih merata. Kalau kita bergerak dari
tahun 1964/65 maka distribusi pendapatan di perkotaan Jawa selalu menjadi lebih timpang,
sedangkan di daerah pedesaan di Jawa selalu menjadi lebih merata sampai tahun 1976. Hal

7
ini mungkin disebabkan oleh karena UUPM dan UUPMDN dan beberapa kebijaksanaan
lainnya yang mulai dilaksanakan pada awal pemerintahan Suharto lebih banyak dimanfaatkan
oleh orang-orang kaya perkotaan di Jawa sehingga distribusi pendapatan di perkotaan Jawa
menjadi lebih timpang. Hal yag sebaliknya terjadi di pedesaan di Jawa, yakni program
pembangunan pertanian dan pedesaan, terutama program BIMAS-INMAS, lebih banyak
dinikmati oleh golongan miskin di Jawa sehingga distribusi pendapatannya menjadi lebih
merata (koefisien Gini menurun). Koefisien Gini secara keseluruhan di perkotaan menjadi
lebih timpang, sedangkan di pedesaan sedikit menjadi lebih baik bila kita bergerak dari
1964/65 menuju 1976.

Tabel 5.3: Persentase Pendapatan yang diterima Oleh Berbagai Kelompok Penduduk di
Indonesia, Rasio Kutnezs dan Gini Rasio,2002-2007.

Kelompok penduduk 2002 2003 2004 2005 2006 2007


40% Terendah 20,92 20,57 20,80 18,81 19,75 19,10
40% Menengah 38,89 37,10 37,13 38,10 38,10 36,11
20% terkaya 42,19 42,33 42,07 42,15 42,15 44,79
Rasio Kutnezs 0,50 0,49 0,49 0,42 0,47 0,43
Gini Rasio 0,33 0,32 0,32 0,36 0,33 0,37
Sumber: BPS seperti pada BI LIPI 2007.

Kalau kita bergerak dari periode 1970an ke periode 2000an, maka dapat kita katakan
bahwa tidak terjadi perubahan yang berarti mengenai ketimpangan distribusi pendapatan di
Indonesia, masih tetap secara umum berada pada ketimpangan yang sedang baik ditunjukkan
oleh koefisien Kutnezs maupun koefisien Gini. Pada awal periode (2002-2004) bagian
pendapatan yang diterima oleh 40 persen termiskin relatif tetap sekitar 20 persen dan bagian
yang diterima oleh 20 persen terkaya juga tetap (sekitar 42 persen), sehingga koefisien
Kutnezs juga relatif konstan (bedanya 0,01 karena pembulatan), dan koefisien Gini juga
menunjukkan hal yang sama daro 0,33 (pada tahun 2002) menjadi 0,32 pada dua tahun
setelah itu. Dari tahun 2004 ke 2005 distribusi pendapatan menjadi sedikit lebih buruk,
bagian yang diterima oleh 40 persen termiskin menurun dan bagian yang diterima oleh 20
persen terkaya meningkat sehingga koefisien Kutnezs mengalami penurunan. Hal ini juga
ditunjukkan oleh Koefisien Gini yag menunjukkan distribusi pendapatan menjadi lebih
timpang. Memburukknya distribusi pendapatan dari tahun 2006 ke 2007 (ditunjukkan oleh
menurunnya koefisien Kutnezs dan menaiknya koefisien Gini) mungkin dapat dijelaskan

8
karena adanya kenaikan harga-harga sebagai akibat naiknya harga bensi ketika itu. Kenaikan
harga-harga rupanya lebih menguntungkan kelompok kaya dibandingkan dengan kelompok
miskin, sebagaimana diperjuangkan oleh para demonstran yang menentang kenaikan harga
premium waktu itu.

2.2 Kebijaksanaan Distribusi Pendapatan


Pilihan kebijaksanaan berikut ini berlaku untuk mengubah, memperbaiki distribusi
pendapatan dan sekaligus memerangi kemiskinan. Ada beberapa pilihan, yakni:
1. Perbaikan distribusi pendapatan fungsional melalui serangkaian kebijakan yang
khusus dirancang untuk mengubah harga-harga relatif faktor produksi. Kebijaksanaan
ini dapat berupa:
1) Upah buruh, dilaksanakan dengan menentukan tingkat upah minimum nasional
dan regional, seperti yang dilaksanakan di Indonesia. Pemerintah menentukan
tingkat upah minimum yang lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat upah yang
ditentukan di pasar bebas atas permintaan dan penawaran. Dengan kebijaksanaan
ini para investor menganggap buruh menjadi terlalu mahal dan mereka memilih
teknologi produksi yang hemat tenaga kerja. Bagian upah pada perekonomian
nasional menjadi lebih kecil, dan kemungkinan jumlah orang miskin menjadi
lebih besar.
2) Bunga modal, dilaksanakan dengan menentukan harga modal terlalu murah
dibandingkan dengan harga modal yang ditetapkan atas permintaan dan
penawaran. Ini bisa dikerjakan dengan, misalnya, pemberian kemudahan prosedur
investasi, keringanan pajak bagi pengusaha, subsidi tingkat bunga (tingkat bunga
yang lebih rendah untuk investasi), penetapan kurs valuta asing yang terlalu
tinggi, dan penurunan bea masuk bagi impor barang-barang modal seperti traktor
dan mesin-mesin otomatis relatif terhadap barang konsumsi. Semua kebijaksanaan
ini mengakibatkan harga modal terlalu murah, yang akibat akhirnya para
pengusaha akan memilih teknologi produksi yang padat modal, sehingga distribusi
pendapatan menjadi lebih buruk dan jumlah orang miskin bertambah.
2. Perbaikan distribusi ukuran melalui redistribusi progresif kepemilikan aset.
Hal ini akan sangat tergantung pada distribusi kepemilikan aset (sumber daya
atau faktor produksi) di antara berbagai kelompok masyarakat, terutama modal fisik
dan tanah, modal finansial seperti saham dan obligasi, serta sumber daya manusia
dalam bentuk pendidikan dan kesehatan yang lebih baik.

9
Hal ini dilaksanakan melalui UUPA (Undang-undang Pokok Agraria) 1960,
yang membatasi jumlah pemilikan tanah pertanian. Pajak dividen obligasi dan pajak
terhadap hasil (bagian laba) saham, berbagai jenis bea siswa dan bantuan sekolah
sampai perguruan tinggi, wajib belajar, dan asuransi kesehatan bagi rakyat miskin.
Cara lain dapat dilakukan melalui pemberian kredit komersial dengan bunga pasar
yang wajar (bukannya dengan bunga rentenir yang sangat tinggi) bagi para wirausaha
kecil (kredit ini bisa disebut "pinjaman mikro" seperti kredit usaha rakyat, kredit
usaha tani,dan sebagainya.
Akan tetapi kebijakan-kebijakan pemerataan dan pengentasan kemiskinan ini
sering memerlukan kebijaksanaan pelengkap, tanpa kebijaksanaan pelengkap tersebut
kebijaksanaan pemerataan dan pengentasan kemiskinan tidak bisa berjalan seperti
yang diharapkan. Misalnya, ada UUPA, tetapi tidak dibarengi oleh kebijaksanaan
harga tanah dan pupuk yang memadai, penggarap tanah tidak mampu membeli sarana
produksi pertanian sehingga land reform tidak berjalan dengan baik. Demikian juga
program pendidikan, tanpa diikuti oleh program penyediaan kesempatan kerja yang
memadai, program pendidikan dan pelatihan tersebut menjadi mubazir.
3. Pengurangan distribusi ukuran golongan atas melalui pajak mubazir yang progresif.
Satu contoh yang diterapkan di Indonesia adalah pajak penghasilan perorangan
dan badan yang mempunyai sifat progresif. Pajak kekayaan, (akumulasi aset dan
penghasilan) merupakan pajak properti perorangan dan perusahaan yang bersifat
progresif, yang biasanya dikenakan kepada mereka yang kaya raya.
Sayangnya, seperti pada banyak kebijaksanaan lainnya, banyak kebijaksanaan
progresif berubah secara ajaib menjadi pajak yang regresif dalam pelaksanaannya.
Kelompok masyarakat rendah dan menengah menanggung beban pajak yang lebih
besar dibandingkan kelompok berpenghasilan tinggi.
4. Pembayaran transfer secara langsung dan penyediaan berbagai barang dan jasa publik.
Transfer langsung dilaksanakan melalui BLT (bantuan langsung tunai) kepada
orang miskin yang berhak menerima. Penyediaan barang dan jasa publik dilaksanakan
melalui beras murah untuk orang miskin (raskin), penyediaan asuransi kesehatan bagi
golongan miskin (jamkesmas).
Meskipun pemerintah Indonesia telah melaksanakan berbagai program
pemerataan distribusi dan program pengentasan kemiskinan seperti disajikan di atas,
ternyata ketimpangan distribusi masih belum memuaskan dan masih banyak jumlah
orang miskin yang luput dari program, di samping dalam jumlah yang tidak sedikit,
10
sangat sulit untuk menyaring orang-orang yang benar- benar tidak mampu dengan
orang-orang yang sebenarnya tidak berhak atas bantuan yang disediakan.

2.3 Kemiskinan dalam Aspek Data dan Kebijakan


Yang dimaksud dengan kemiskinan di sini adalah penduduk miskin, yakni penduduk
yang tidak mampu mendapatkan sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Mereka hidup di bawah tingkat pendapatan riil minimun tertentu – atau dibawah “garis
kemiskinan internasional”. Garis tersebut tidak mengenal tapal batas antar negara, tidak
tergantung pada tingkat pendapatan per kapita di satu negara, dan juga memperhitungkan
perbedaan tingkat harga antar negara dengan mengukur penduduk miskin sebagai orang yang
hidup kurang dari US$1 per hari dalam dolar paritas daya beli (ppp). Kemiskinan absolut
dapat da memang terjadi dimana-mana, di Jakarta, di Bali, di Nusa Penida, di Medan,
walaupun kadarnya (dilihat dalam persentase terhadap jumlah penduduk) berbeda-beda dari
satu tempat ke tempat lainnya.

2.3.1 Mengukur Kemiskinan Absolut


Kemiskinan absolut dapat diukur dengan angka, atau “hitungan per kepala
(headcount)”,H, untuk mengetahui seberapa banyak orang yang penghasilannya berada
dibawah garis kemiskinan absolut, Yp. Ketika hitungan per kepala tersebut dianggap sebagai
bagian dari populasi total, N, kita memperoleh indeks per kepala (headcount index), H/N.
Garis kemiskinan ditetapkan pada tingkat yang selalu konstan secara riil, sehingga kita dapat
menelusuri kemajuan yang diperoleh dalam menangulangi kemiskinan pada level absolut
sepanjang waktu. Gagasan yang mendasari penetapan level ini adalah satu standar minimum
di mana seseorang hidup dalam “kesengsaraan absolut manusia”, yaitu ketika kesehatan
seseorang sangat buruk.
Dalam banyak hal, metode dan pnyederhanaan perhitungan jumlah penduduk yang
masih hidup di bawah garis kemiskinan itu sendiri memang masih mengandung banyak
keterbatasan. Oleh karena itu beberapa ekonom mencoba mengalkulasikan indikator jurang
kemiskinan (poverty gap) yang mengukur pendapatan total yang diperlukan untuk
mengangkat mereka yang masih di bawah garis kemiskinan ke atas garis itu. Pada peraga di
bawah ini, meskipun di negara A dan B, 50 persen penduduknya sama-sama masih berada di
bawah garis kemiskinan, namun jurang kemiskinan di A ternyata lebih lebar daripada yang
ada di negara B. Dengan demikian negara A harus berusaha lebih keras guna memerangi
kemiskinan absolut penduduknya.

11
Kita juga tertarik mempelajari seberapa jauhkah pendapatan kelompok miskin berada di
bawah garis kemiskinan. “Kekurangan pendapatan total” atau jurag kemiskinan total (total
poverty gap = TPG) dari kaum miskin didefinisikan sebagai:
𝐻

TPG = ∑(𝑌𝑝 − 𝑌𝑖 )
𝑖=1

Kita dapat mengartika TPG secara sederhana (dalam hal ini tidak diperhitungkan biaya
administrasi atau efek ekuilibrium) sebagai jumlah uang per hari yang diperlukan untuk
mengangkat perekonomian setiap orang miskin di negara itu sampai pada standar minimum
yang telah ditentukan. Jika dihitung atas dasar per kapita, kekurangan pendapatan rata-rata,
atau jurang kemiskinan rata-ratanya, (average poverty gap) adalah:
𝐴𝑃𝐺 = 𝑇𝑃𝐺/𝐻
Sering kali, kita juga tertarik mempelajari ukuran kekurangan pendapatan dalam
hubungannya dengan garis kemiskinan, sehingga kita dapat menggunakan jurang kemiskinan
yang dinormalisasikan (normalized poverty gap =NPG) = APG/Yp sebagai ukuran
kekurangan pendapatan; ukuran ini berkisar antara nol dan satu, sehingga ukuran ini
bermanfaat jika kita menginginkan ukuran jurang tanpa unit, agar perbandingan antar negara
atau antar waktu bisa lebih baik.

Seperti dalam ukuran ketimpangan, ada beberapa kriteria ukuran kemiskinan yang
diinginkan, yang telah diterima secara luas oleh para ekonom, yaitu prinsip-prinsip
anonimitas, independensi populasi, monotonisitas, dan sensitivitas distribusional. Kedua

12
prinsip yang pertama (anonimitas dan independensi populasi) sangat mirip karakteristik yang
digunakan untuk membahas indeks ketimpangan. Ukuran cakupan kemiskinan tidak boleh
tergantung pada siapa yang miskin atau apakah negara tersebut mempunyai jumlah penduduk
yng banyak atau sedikit. Prinsip monotonisitas berarti bahwa dan jika anda memberi
sejumlah uang kepada seseorang yang berada di bawah garis kemiskinan, jika semua
pendapatan yang lain tetap, maka kemiskinan yang terjadi tidak mungkin lebih tinggi dari
pada sebelumnya. Jika ukuran kemiskinan selalu lebih rendah setelah pemberian transfer
tersebut, sifat ini disebut mempunyai monotonisitas yang kuat (strong monotocity). Rasio
headcount memenuhi asas monotonisitas, namun bukan yang kuat. Prinsip sensitivitas
distribusional menyatakan bahwa, dengan semua hal lain konstan, jika ada mentransfer
pendapatan dari orang miskin ke orang kaya, maka akibatnya perekonomian akan menjadi
lebih miskin. Ukuran rasio headcount memenuhi syarat anonimitas, independensi populasi,
dan monotonisitas, namun gagal memenuhi syarat sensitivitas distribusional (dengan kata
lain, rasio ini tidak akan menghitung dampak deferensial dari, katakanlah, kenaikan harga
beras). Sedangkan headcount yang sederhana gagal, bahkan untuk memenuhi prinsip
independensi populasi.

Indeks kemiskinan yang terkenal yang memenuhi ke empat kriteria di atas adalah
indeks Sen dan bentuk tertentu dari Indeks Poster-Grer-Thornbeck (FGT) yang sering disebut
sebagai kelas Pαdari ukuran kemiskinan.Pα dapat ditulis sbb:
∑𝐻
𝑖=1(𝑌𝑝− 𝑌𝑖 )

𝑃∝ = 1⁄𝑁
𝑌𝑝
Dimana Yi adalah pendapatan dari orang miskin yang ke i, Yp adalah garis kemiskinan
dan N adalah jumlah penduduk. Indeks Pαmempunyai bentuk yang berbeda-beda tergantung
pada nilai α. Jika α=0 maka pembilangnya sama dengan H dan ia menjadi sama rasio
headcount H/N. Jika nilai α=1 maka akan diperoleh jurang kemiskinan yang dinormalisasi.
Jika α=2 ukuran yang dihasilkan adalah
𝑃2 = (𝐻 ⁄𝑁) {𝑁𝑃𝐺 2 + (1 − 𝑁𝑃𝐺)2 (𝐶𝑉𝑝 )2 }

dimana NPG = normalized poverty gap = APG/Yp, CVp = koefisien variasi pendapatan antar
kaum miskin. Rumus P2 ini berisi ukuran CVpdan memenuhi keempat kriteria kemiskinan di
atas. Jelaksan P2meningkat jika H/N, NPG, dan CVpmeningkat. Ukuran kemiskinan P2 ini
makin banyak digunakan oleh Bank Dunia, bank pembangunan regional, sebagian besar
lembaga PBB, dan dalam penelitian empiris mengenai kemiskinan.

13
Ukuran kemiskinan lain diperkenalkan oleh UNDP yang dikenal dengan human
Poverty index = HPI (indeks kemiskinan manusia = IKM ). UNDP yakin bahwa kemiskinan
manusia harus diukur dalam satuan hilangnya tiga hal utama (three key deprivations), yaitu
kehidupan (lebih dari 30 persen penduduk negara-negara yang paling miskin cenderung
bertahan hidup kurang dari 40 tahun), pendidikan dasar (diukur oleh persentase penduduk
dewasa yang buta huruf), dan keseluruhan ketetapan ekonomi (yang diukur oleh persentase
penduduk yang tidak memiliki akses terhadap pelayanankesehatan dan air bersih ditambah
dengan persentase anak-anak di bawah usia 5 tahun yang kekurangan berat badan). Oleh
karena nilai IKM menunjukkan proporsi penduduk yang secara luas dipengaruhi oleh
hilangnya tiga hal utama (daya hidup, ilmu pengetahuan dan ketetapan ekonomi) maka IKM
yang rendah menunjukkan hal yang bagus (yakni sedikitnya persentase penduduk yang
mengalami kehilangan tiga hal tersebut). Nilai IPM yang tinggi menunjukkan kehilangan
yang lebih besar.

2.3.2 Cakupan Kemiskinan Absolut


Jumlah dan persentase penduduk miskin untuk 1976-1999, dan garis kemiskinan di
Indonesia untuk tahun 2005 sampai dengan 2007 disajikan dalam dua tabel berikut.
Tabel 5.4: Jumlah dan Persentase penduduk miskin di Indonesia 1976-1999
Penduduk Miskin
Tahun
% dari jumlah penduduk1976 Jumlah (juta orang)
1976 40,08 54,2
1978 33,31 47,2
1980 28,56 42,3
1981 26,85 40,6
1984 21,64 35,0
1987 17,42 30,0
1990 15,08 27,2
1993 13,67 25,9
1996 11,34 22,5
1998 20,30 49,5
1999 23,00 48,5
Sumber: BPS seperti pada Tambunan, Tabel 3.8.

14
Tabel 5.5: garis kemiskinan dan Jumlah Penduduk Miskin, 2005-2007
Garis Kemiskinan (Rp/kapita/bulan) Jumlah
Persentase
Daerah/ Non Penduduk
Bahan Penduduk
Tahun Bahan Jumlah Miskin
makanan Miskin
Makanan (juta)
Perkotaan
2005 103 992 46 807 150 799 12,40 11,37
2006 126 527 48 797 175 324 14,29 13,36
2007 132 258 55 683 187 941 13,56 12,52
Pedesaan
2005 84 014 33 245 117 259 22,70 19,51
2006 103 180 28 076 131 256 24,76 21,90
2007 116 265 30 572 146 837 23,61 20,37
Kota + Desa
2005 91 072 38 036 129 108 35,10 15,97
2006 114 619 38 228 152 847 39,05 17,75
2007 123 992 42 704 166 696 37,17 16,58
Sumber: BPS seperti pada BI LPI 2007.
Dari Tabel 5.4 di atas ternyata bahwa pembangunan ekonomi telah menurunkan
persentase penduduk midkin lebih dari 40 persen dari jumlah penduduk (atau sekitar 54 juta
orang) pada tahun 1976 menjadi sekitar 11,34 persen dari jumlah penduduk (atau sekitar 22,5
juta orang) pada tahun 1996, untuk kemudian sebagai akibat dari krisis ekonomi meningkat
menjadi sekitar 23 persen dari jumlah penduduk (atau sekitar 49 juta orang) pada tahun 1999.
Setelah itu terus mengalami penurunan sehingga menjadi sekitar 16 persen dari jumlah
penduduk (atau sejumlah 37 juta orang) pada tahun 2007 (lihat Tabel 5.5). dapat dikatakan
bahwa persentase yang cukup tinggi dari seluruh penduduk Indonesia (16-18%) masih berada
dibawah garis kemiskinan dan merupakan tugas yang berat bagi pemerintah sekarang kalau
kita perhatikan kutipan pada awal bab ini bahwa urusan yang belum terselesaikan pada abad
21 adalah pemberantasan kemiskinan ( Juan Somavia, United nations World Summit for
Socisl Development, 1995) atau masalah kemiskinan menjadi tujuan pembangunan milenium
dewasa ini di Indonesia.

15
2.3.3 Karakteristik Ekonomi Kelompok Masyarakat Miskin
Perpaduan tingkat pendapatan per kapita yang rendah dan distribusi pendapatan yang
sangat tidak merata akan menghasilkan kemiskinan absolute yang parah. Pada tingkap
pendapatn tertentu, semakin tinggi pendapatan per kapita yang ada, maka akan semakin
rendah jumlah kemiskinan absolut. Tingginya tingkat pndapatan per kapita tidak menjamin
lebih rendahnya tingkat kemiskinan absolut.
Sebagian besar kelompok penduduk miskin bertempat tinggal di daerah-daerah
pedesaan, sebagian besar dari pengeluaran pemerintah justru lebih tercurah ke daerah-daerah
perkotaan dan berbagai sektor ekonominya. Di Indonesia, nelayan ikan sangat miskin
dibandingkan petani. Hal ini disebabkan karena nelayan tidak punya tanah dan proses
produksinya tidak bersifat cultivation, seperti halnya di pertanian. Dengan demikisn,di
Indonesia nilai tambah produk pertanian jauh lebih tinggi daripada nilai tambah dari produk-
produk ikan.
Pada umumnya buruh-buruh pertanian tidak memiliki tanah sendiri. Mereka disebut
sebagai petani gurem, yang merupakan golongan termiskin dari kelompok tani. Ada 3 faktor
penyebab utama sektor pertanian merupakan pusat kemiskinan di Indonesia.
1. Tingkat produktivitas yang rendah disebabkan karena jumlah pekerja di sektor
tersebut terlalu banyak, sedangkan tanah, capital, teknologi terbatas, dan tingkat
pendidikan petani yang rata-rata sangat rendah.
2. Daya saing petani antar komoditas pertanian terhadap komoditas industri semakin
lemah. Perbedaan harga ini disebabkan antara lain oleh perbedaan nilai tambah antara
hasil pertanian dan hasil industri serta tat niaga yang lebih menguntungkan produsen
di sektor industri.
3. Tingkat diversifikasi usaha di sektor pertanian ke jenis-jenis komoditas bukan bahan
makanan yang memiliki prospek pasar dan harga yang lebih baik masih sangat
terbatas.

2.3.4 Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan


Tidak sulit mencari faktor-faktor penyebab kemiskinan, tetapi dari faktor-faktor
tersebut sangat sulit memastikan mana yang merupakan penyebab sebenarnya atau utama
serta mana yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap perubahan kemiskinan.
Kalau diuraikan satu persatu, jumlah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi, langsung
maupun tidak langsung, tingkat kemiskinan cukup banyak, mulai dari tingkat pertumbuhan
output (atau produktivitas tenaga kerja), tingkat upah neto, distribusi pendapatan, kesempatan

16
kerja (termasuk jenis pekerjaan yang tersedia), tingkat inflasi, pajak dan subsidi, investasi,
alokasi serta kualitas sumber daya alam, ketersediaan fasilitas umum (seperti pendidikan
dasar, kesehatan, informasi, transportasi, listrik, air, dan lokasi pemukiman), penggunaan
teknologi, tingkat dan jenis pendidikan, kondisi fisik dan alam di satu wilayah, etos kerja dan
motivasi kerja, kultur/budaya atau tradisi, hingga politik, bencana alam, dan peperangan.
Kalau diamati, sebagian besar dari faktor-faktor tersebut juga saling mempengaruhi
satu sama lainnya. Misalnya, tingkat pajak yang tinggi membuat tingkat upah neto rendah
dan ini bisa mengurangi motivasi kerja seseorang sehingga produktivitasnya menurun;
produktivitas menurun selanjutnya dapat mengakibatkan tingkat upah netonya berkurang
lagi; dan begitu seterusnya. Jadi, tidak mudah untuk memastikan apakah karena pajak naik
atau produktivitasnya yang turun membuat pekerja tersebut menjadi miskin karena upah
netonya menjadi rendah.

2.3.5 Pertumbuhan dan Kemiskinan


Pertama, kemiskinan yang meluas menciptakan kondisi yang membuat kaum miskin
tidak mempunyai akses terhadap pinjaman kredit, tidak mampu membiayai pendidikan
anaknya, dan, dengan ketiadaan peluang investasi fisik maupun moneter, mempunyai banyak
anak sebagai sumber keamanan keuangan di masa tuanya nanti. Faktor-faktor ini secara
bersama-sama menyebabkan pertumbuhan per kapita lebih kecil daripada jika distribusi
pendapatan lebih merata.
Kedua, akal sehat, yang didukung dengan banyaknya data empiris terbaru,
menyaksikan fakta bahwa, tidak seperti sejarah yang pernah dialami oleh negara-negara yang
sekarang sudah maju, kaum kaya di negara-negara miskin sekarang tidak dikenal karena
hematnya atau hasrat mereka untuk menabung atau menginvestasikan bagian yang besar dari
pendapatan mereka di dalam perekonomian negara mereka sendiri.
Ketiga, pendapatan yang rendah dan standar hidup yang buruk yang dialami oleh
golongan miskin, yang tercermin dari kesehatan, gizi, dan pendidikan yang rendah, dapat
menurunkan produktivitas ekonomi mereka dan akibatnya secara langsung maupun tidak
langsung menyebabkan perekonomian tumbuh lambat.
Keempat, peningkatan tingkat pendapatan golongan miskin akan mendorong kenaikan
permintaan produk kebutuhan rumah tangga buatan lokal, seperti makanan dan pakaian,
secara menyeluruh, sementara golongan kaya cenderung membelanjakan sebagian besar
pendapatannya untuk barang-barang mewah impor. Meningkatkan permintaan untuk barang-

17
barang buatan lokal memberikan rangsangan yang lebih besar kepada produksi lokal,
memperbesar kesempatan kerja lokal, dan menumbuhkan investasi lokal.
Kelima dan yang terakhir, penurunan kemiskinan secara massal dapat menstimulasi
ekspansi ekonomi yang lebih sehat karena merupakan insentif materi dan psikologis yang
kuat bagi meluasnya partisipasi publik dalam proses pembangunan. Sebaliknya, lebarnya
kesenjangan pendapatan dan besarnya kemiskinan absolut dapat menjadi pendorong negatif
materi dan psikologis yang sama kuatnya terhadap kemajuan ekonomi. Kondisi yang terakhir
bahkan dapat menciptakan penolakan masyarakat luas terhadap kemajuan dan ketidaksabaran
terhadap laju pembangunan atau terhadap kegagalan untuk mengubah kondisi material
mereka.
Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang cepat dan
penanggulangan kemiskinan bukanlah tujuan yang saling bertentangan. Bank Dunia
menyimpulkan hal yang serupa pada laporannya mengenai kemiskinan pada tahun 1990,
ketika badan tersebut menyatakan hal ini:
Diskusi mengenai kebijakan yang berkenaan dengan golongan miskin biasanya
berfokus pada trade-off antara pertumbuhan dan kemiskinan. Namun telaah terhadap
pengalaman berbagai negara menyimpulkan bahwa kedua hal tersebut bukanlah trade-off
yang tidak dapat diatasi. Dengan kebijakan yang tepat, golongan miskin dapat berpartisipasi
dan berkontribusi terhadap pertumbuhan, dan jika mereka dapat melaksanakan hal tersebut,
penurunan tingkat kemiskinan yang cepat akan konsisten dengan pertumbuhan yang
berkelanjutan.

18
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
3.1.1 Ada dua jenis distribusi pendapatan, ukuran dan fungsional. Dari distribusi ukuran
dapat dibuat kurva lorens, atau dihitung koefisien Kutnezs dan koefisien Gini yang
dapat dipakai untuk tujuan analisis dan kuantitatif tentang keadilan distribusi
pendapatan. Ukuran yang paling biasa dipakai di Indonesia adalah koefisien Kutnezs,
koefisien Gini, sedangkan kurva Lorens tidak. Distribusi fungsional memberikan
kerangka analisis kebijaksanaan yang menjelaskan keadilan distribusi pendapatan
berdasarkan kepemilikan faktor produksi.
3.1.2 Berbagai kebijaksanaan yang bertujuan untuk memperbaiki distribusi pendapatan
ukuran dan fungsional telah dilaksanakan oleh pemerintah, namun sampai sejauh ini
tampaknya baru berhasil mempertahankan pembagian pendapatan pada tingkat
ketimpangan sedang dan belum begitu berhasil menurunkan jumlah orang miskin.
3.1.3 Perpaduan tingkat pendapatan perkapita yang rendah dan distribusi pendapatan yang
tidak merata akan menghasilkan kemiskinan absolut yang parah atau dengan kata lain
banyak penduduk yang hidup dibawah tingkat pendapatan riil minimum tertentu atau
dibawah “garis kemiskinan internasional”. Ada beberapa ukuran untuk penduduk
miskin, yakni dengan menghitung jumlah mereka atau disebut “hitungan per kepala
(headcount), indeks per kepala (headcount index), jurang kemiskinan (poverty gap
total atau average atau normalized), Indeks Poster-Greer-Thornbeck (FGT) dan
human poverty index (indeks kemiskinan manusia =IKM).

19
DAFTAR PUSTAKA

Nehen, Ketut. 2016. Perekonomian Indonesia. Denpasar: Udayana University Press.

20