Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Proses globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi informasi
memberikan dampak terhadap nilai-nilai sosial dan budaya pada masyarakat.
Tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama untuk menyesuaikan
dengan berbagai perubahan, serta mengelola konflik dan stressor, stressor tersebut
yang menjadi dampak terjadinya masalah kejiwaan pada individu. Jika individu
tidak mampu melakukan koping dengan adaptif maka individu berisiko
mengalami gangguan jiwa (Mohamed et.al, 2015).
Menurut data WHO (2016), terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi,
60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena
dimensia. Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang jumlahnya selalu
meningkat setiap tahun (WHO, 2015). Skizofrenia di tandai dengan pikiran yang
tidak logis, perilaku, dan pembicaraan yang aneh, delusi , dan halusinasi (APA,
2015). Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Brunelin et al. 2012) yaitu ;
sekitar 50% sampai 70% pasien skizofrenia mengalami gangguan persepsi sensori
: halusinasi.
Berdasarkan data riset kesehatan dasar (Riskesdas, 2018) Terungkap,
antara lain, prevalensi rumah tangga dengan anggota rumah tangga (ART)
gangguan jiwa skizofrenia atau psikosis menurut provinsi, pada tahun 2013-
2018, ditempati Provinsi Bali. Posisi terendah yaitu Provinsi Kepulauan Riau
dengan poin 3.0. Sedangkan proporsi rumah tangga di Indonesia memiliki
ART gangguan jiwa skizofrenia atau psikosis yang pernah di pasung tiga
bulan terakhir sebesar 31,5 persen.
Di Provinsi Bengkulu khususnya di Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ)
Soeprapto Provinsi Bengkulu data orang yang mengalami gangguan jiwa yang
dirawat inap dalam tiga tahun terakhir yaitu ; tahun 2016 sebanyak 4.391 orang,
tahun 2017 sebanyak 4.655 orang, tahun 2018 sebanyak 4.707 orang, sedangkan
data orang yang mengalami gangguan jiwa dirawat jalan dalam tiga tahun
terakhir yaitu ; tahun 2016 sebanyak 15.273 orang, tahun 2017 sebanyak 21.862
orang, dan tahun 2018 sebanyak 28.777 orang. Berdasarkan data instalasi rekam
medik tahun 2018 di RSKJ Soeprapto Provinsi Bengkulu pasien yang terdiagnosa
medis Skizofrenia dengan gejala halusinasi sebanyak 12.576 pasien. Sedangkan
data pasien di di ruang rawat inap tahun 2018 di ruang rawat inap murai A pasien
yang mengalami halusinasi sebanyak 25%, di ruang rawat inap murai B sebanyak
20%, di ruang rawat inap murai C sebanyak 14%, dan di ruang rawat inap
anggrek sebanyak 10%. Di Rumah Sakit Jiwa di Indonesia, sekitar 70%
halusinasi yang dialami oleh pasien gangguan jiwa adalah halusinasi
pendengaran, 20% halusinasi penglihatan, dan 10% adalah halusinasi penciuman,
pengecapan dan perabaan.
Halusinasi merupakan suatu gangguan persepsi dimana klien
mempersepsikan sesuatu hal yang tidak terjadi, suatu penghayatan yang dialami
panca indra tanpa stimulus ekstern (persepsi palsu) (Maramis, 2005).Halusinasi
pendengaran terjadi ketika klien mendengar suara-suara yang tidak berkaitan
dengan stimulus atau rangsangan yang nyata dan orang lain tidak mendengarnya.
Bentuk halusinasi bisa berupa suara-suara bising atau mendengung. Tapi paling
sering berupa kata-kata yang tersusun rapi dalam bentuk kalimat Biasanya
kalimat tersebut membicarakan mengenai keadaan pasien yang ditujukan pada
dirinya.
Muhith (2015) mengatakan bahwa dampak yang dapat di timbulkan oleh
pasien yang mengalami halusinasi pendengaran jika tidak diatasi adalah
kehilangan kontrol dirinya. Pasien akan mengalami panik dan perilakunya di
kendalikan oleh halusinasi pendengaran. Akibat dari halusinasi pasien menjadi
marah, bahkan menciderai diri, orang lain dan lingkungan karena suara halusinasi
pendengaran tersebut (Dermawan dan Rusdi, 2013).
Untuk mengontrol akibat yang ditimbulkan dari halusinasi, dibutuhkan
penanganan yang tepat seperti meningkatkan peran perawat dalam melakukan
asuhan keperawatan kepada pasien gangguan sensori persepsi : halusinasi.
Tindakan yang dapat dilakukan yaitu ; bina hubungan saling percaya dengan
pasien, bantu pasien mengenal halusinasinya, diskusikan dengan pasien cara
mengontrol halusinasi dengan menghardik, lakukan aktivitas terjadwal, bantu
pasien memanfaatkan obat dengan baik serta berikan dukungan keluarga dalam
mengontrol halusinasi (Keliat, 2011).
Salah satu tindakan keperawatan yang dapat diberikan kepada pasien
gangguan persepsi sensori : halusinasi yaitu melakukan aktivitas terjadwal seperti
melakukan senam aerobic low impact. Senam Aerobic low impact merupakan
gerakan senam yang dilakukan dengan intensitas rendah, antara lain dengan
hentakan-hentakan ringan, dalam posisi kaki tetap dilantai (Yuda 2006).
Dengan dilakukan nya penerapan Senam aerobic low impact diharapkan
dapat mempertahankan aliran darah keotak, meningkatkan persendian nutrisi otak,
memfasilitasi metabolisme neurotransmiter dan seluler yang mendukung dan
menjaga fungsi otak sehingga halusinasi pasien dapat berkurang (Kuntaraf, 2005).
Berdasarkan masalah di atas, penulis tertarik untuk mengangkat masalah
ini dan membuat studi kasus dengan judul “ Penerapan Senam Aerobic Low
Impact Pada Pasien Halusinasi Pendengaran Di Rumah Sakit Khusus Jiwa
Soeprapto Bengkulu Tahun 2020.
B. Batasan masalah
Dalam karya tulis ilmiah ini penulis hanya membahas tentang penerapan
senam aerobic low impact pada klien yang mengalami gangguan persepsi sensori
: halusinasi di Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ) Soeprapto Bengkulu.
C. Tujuan penelitian
1. Tujuan umum
Memberikan penerapan senam aerobic low impact pada klien dengan masalah
gangguan persepsi sensori : halusinasi di Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ)
Soeprapto Bengkulu.
2. Tujuan khusus
a. Mendeskripsikan pengkajian pada klien dengan masalah gangguan
persepsi sensori : halusinasi dengan penerapan senam aerobic low impact
di Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ) Bengkulu.
b. Mendeskripsikan diagnosa keperawatan pada klien dengan masalah
gangguan persepsi sensori : halusinasi dengan penerapan senam aerobic
low impact di Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ) Bengkulu.
c. Mendeskripsikan rencana keperawatan pada klien dengan masalah
gangguan persepsi sensori : halusinasi dengan penerapan senam aerobic
low impact di Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ) Bengkulu.
d. Mendeskripsikan implementasi keperawatan pada klien dengan masalah
gangguan persepsi sensori : halusinasi dengan penerapan senam aerobic
low impact di Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ) Bengkulu.
e. Mendeskripsikan evaluasi keperawatan pada klien dengan masalah
gangguan persepsi sensori : halusinasi dengan penerapan senam aerobic
low impact di Rumah Sakit Khusus Jiwa (RSKJ) Bengkulu.
D. Manfaat
1. Bagi mahasiswa
Karya tulis ilmiah ini diharapkan dapat memberikan informasi dari
penerapan senam aerobic low impact pada klien gangguan persepsi sensori :
halusinasi.
2. Bagi klien dan keluarga
Mendapatkan pengalaman serta dapat menerapkan ilmu pengetahuan
yang diketahui dalam merawat keluarga yang mengalami gangguan persepsi
sensori : halusinasi.
3. Bagi pelayanan kesehatan
Penerapan senam aerobic low impact ini dapat di jadikan dasar
informasi dan pertimbangan untuk menambah pengetahuan, keterampilan dan
sikap dalam meningkatkan pelayanan perawatan.
4. Bagi akademik
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan dan referensi
untuk meningkatkan kualitas pendidikan keperawatan pada klien dengan
gangguan jiwa.