Anda di halaman 1dari 8

Perbandingan komposisi spesies lalat dalam ruangan dan luar ruangan

pada kasus forensik di Malaysia

Abstrak
Entomologi forensik mengacu pada ilmu mengenai pengumpulan dan analisis petunjuk
serangga untuk memperkirakan jangka waktu minimum sejak kematian. Penelitian ini bertujuan
untuk menginvestigasi adanya lalat yang penting menurut forensik pada 34 jenazah pada Pusat
Medis Universiti Kebangsaan Malaysia selama lebih dari tiga tahun. Spesimen entomologi
dikumpulkan pada lokasi kematian dan/atau selama autopsi. Spesimen hidup dipelihara sampai
dewasa sedangkan spesimen yang telah diawetkan akan diproses untuk identifikasi spesies. Lima
famili, tujuh genus dan sembilan spesies lalat diidentifikasi dari jenazah. Hasil penelitian
menunjukkan adanya belatung Chrysomya megacephala (Calliphoridae) dengan frekuensi
tertinggi (70,6%) pada tubuh jenazah, diikuti oleh Ch. Rufifacies (Calliphoridae) (44,1%),
sarcophagid fly (Sarcophagidae) (38,2%), Synthesiomya nudiseta (Muscidae) (20,6%),
Megaselia scalaris (Phoridae) (14,7%), Lucilia cuprina (Calliphoridae) (5,9%), Ch. Nigripes
(Calliphoridae) (5,9%), Eristalis spp. (Syrphidae) (5,9%) dan Hydrotaea spinigera (Muscidae)
(2,9%). Keanekaragaman lalat paling banyak terdapat pada jenazah yang didapatkan dalam
ruangan (delapan spesies) dibandingkan dengan luar ruangan (tiga spesies). Sementara
kerumunan yang tunggal dan ganda umum ditemukan pada kasus dalam ataupun luar ruangan,
beberapa kerumunan yang mencapai enam spesies ditemukan pada salah satu dari kasus dalam
ruangan. Meskipun banyak jumlah spesies lalat yang ditemukan pada jenazah, spesies yang
paling dominan masih terdiri dari Chrysoma, sedangkan S. nudiseta hanya ditemukan pada
jenazah yang ditemukan di dalam ruangan. Penelitian ini memberikan pengetahuan tambahan
dalam konteks entomologi forensik Malaysia dan distribusi dari lalat yang penting menurut
forensik yang terkait dengan ilmu forensik.

1. Pendahuluan
Jasad yang membusuk menyediakan ekosistem yang menyokong siklus hidup komunitas
arthropoda tertentu.1 Kemunculan organisme tersebut tidak hanya mengubah kondisi jasad, tapi
juga menyediakan lingkungan `yang memadai bagi spesies lain untuk menghuni jasad tersebut
dengan cara berurutan, terkait dengan tahap pembusukan tertentu. 2,3 Serangga Necrophagous
sebagai contohnya, menggunakan jasad yang membusuk sebagai sumber makanan, sementara
serangga lainnya seperti beberapa laba-laba dan Lepidoptera memanfaatkan kondisi lembab dari
kerangka jasad sebagai tempat tinggal. 4 Kehadiran serangga yang dapat diprediksi ini, yang
dikenal sebagai suksesi serangga, merupakan aspek penting untuk memperkirakan waktu yang
telah berlalu sejak kematian atau interval postmortem.5-7 Informasi berharga ini, digabungkan
dengan pengetahuan mengenai distribusi, biologi dan tingkah laku dari serangga, dapat
membantu investigasi forensik dengan menyediakan informasi tentang kapan, dimana dan
bagaimana seseorang meninggal atau kejahatan yang dilakukan.5,8
Di Malaysia, kasus entomologi forensik pertama kali dilaporkan oleh Reid 9 yang
menjelaskan terdapatnya larva Chrysomya megacephala (Fabricus) (Calliphoridae) dalam mayat
wanita. Ini kemudian diikuti oleh Lee10-12 dan Lee et al.13 yang meninjau dan memperbaharui
spesimen entomologi yang ditemukan dari kasus forensik dalam jangka waktu tiga dekade.
Penelitian pada bidang entomologi forensik menarik perhatian berbagai pekerja yang
berkontribusi dalam meninjau banyak kasus forensik di Malaysia 14-17 serta menjelaskan laporan
kasus terkait yang secara pasti akan meningkatkan pengetahuan di bidang ini. 18-20 Tidak ada
keraguan bahwa kombinasi tinjauan dari kasus yang demikian dapat meningkatkan pemahaman
penelitian di bidang ini, dan pada akhirnya bisa membantu penyidik dalam menginvestigasi
kasus kedepannya yang terkait dengan entomologi forensik.
Namun demikian, terlepas dari penelitian oleh Kumara et al. 17 yang melaporkan
terdapatnya lalat terkait dengan jenazah dalam/luar ruangan di bagian utara Malaysia, belum ada
penelitian komparatif yang dilakukan terhadap komposisi lalat di dalam/luar ruangan terutama di
bagian pusat Semenanjung Malaysia. Karena itu, penelitian ini merangkum kasus entomologi
forensik yang diterima oleh Pusat Medis Universiti Kebangsaan Malaysia di Kuala Lumpur dari
tahun 2010 sampai 2013, dengan perhatian terutama terhadap komposisi spesies antara kasus di
dalam dan luar ruangan.

2. Material dan Metode


Penelitian ini melibatkan semua kasus forensik yang dikerumuni oleh spesimen serangga
yang diterima oleh Unit Forensik, Pusat Medis Universiti Kebangsaan Malaysia di Kuala
Lumpur, Malaysia (3.10oN, 101.73oE) dari Januari 2010 sampai Desember 2013. Secara umum,
Malaysia mengalami suhu sama sepanjang tahun dengan rata-rata 27oC dan kelembaban relatif
tahunan kira-kira 80%. Pada daerah penelitian, curah hujan maksimum biasanya terjadi pada
bulan April-Mei dan Oktober-November, sedangkan curah hujan minimum terjadi pada bulan
Februari serta dari bulan Juni sampai Juli.21
Sejak lokasi kematian dikunjungi oleh ahli entomologi segera setelah mayat ditemukan,
perubahan fisik dari lokasi kejadian, jika ada, sangat minimal dan sudah dicatat melalui
percakapan dengan petugas kepolisian dan kerabat atau tetangga dari jenazah. Informasi
mengenai jenazah seperti nama, jenis kelamin, umur, lokasi dimana jasad ditemukan,
kemungkinan penyebab kematian, jika tersedia, telah dicatat. Semua spesimen serangga
dikumpulkan dari jasad yang membusuk dan lingkungan sekitar selama kunjungan ke lokasi
kematian dan/atau selama autopsi, berdasarkan metode yang dijelaskan oleh Amendt et al.22.
Spesimen dikumpulkan dalam dua tempat; 1) dipelihara dalam botol kaca yang mengandung
ethanol 70%, dan 2) dikultur dalam hati sapi disediakan secara ad libitum. Puparium lalat, jika
ditemukan, ditempatkan dalam kotak plastic kosong. Semua spesimen hidup dan yang diawetkan
lalu dikirim ke Laboratorium Entomologi Forensik untuk dianalisis.
Di laboratorium, sampel larva yang diawetkan dipersiapkan menurut metode yang
dijelaskan oleh Omar et al.,23 sementara larva yang hidup dipelihara sampai ke fase dewasa di
dalam ruangan dengan suhu 27,2 ± 0,4oC, RH 65,6 ± 3,1%, lama penyinaran (L:D)(h) 12:12.
Larva dan dewasa yang muncul selanjutnya diidentifikasi menggunakan beberapa petunjuk
identifikasi24-28 dan merujuk pada koleksi serangga di Laboratorium Entomologi Forensik,
Universiti Kebangsaan Malaysia.

3. Hasil
Sejumlah 34 jasad (25 pria dan 9 wanita) yang dikerumuni spesimen entomologi telah
diambil untuk penelitian ini. Dua puluh sembilan kasus (85,3%) ditemukan di dalam ruangan,
sedangkan lima kasus sisanya (14,7%) berada di luar ruangan (Fig. 1). Dari 29 kasus yang
ditemukan dalam ruangan, 27,6% (n=8) diantaranya terdapat pada bangunan bertingkat tinggi
(tingkat kelima dan lebih).
Jumlah kasus yang dikerumuni oleh berbagai taksa lalat menurut lokasi kematian, baik di
dalam maupun di luar ruangan telah dicatat (Fig. 2). Terdapat delapan spesies lalat berbeda yang
mengerumuni jasad dalam ruangan sementara hanya tiga spesies yang ditemukan mengerumuni
jasad di luar ruangan. Belatung lalat Ch. Megacephala terdapat pada jasad yang ditemukan pada
kedua lokasi dengan frekuensi tertinggi (70,6%), n=24) diikuti oleh Ch. Rufifacies (Macquart)
(Calliphoridae) dengan 44,1% (n=14). Belatung lalat lainnya seperti sarkofagid hanya terdapat
pada jasad dalam ruangan dengan 38,2% (n=13), diikuti oleh Synthesiomyia nudiseta (Wulp)
(Muscidae) (20,6%, n=7), Megaselia scalaris (Loew) (Phoridae) (14,7%), n=5), Lucilia cuprina
(Wiedemann) (Calliphoridae) (5,9%, n=2), Ch. Nigripes Aubertin (Calliphoridae) (5,9%, n=2),
dan Hydrotaea spinigera Stein (Muscidae) (2,9%, n=1). Belatung Eristalis spp. (Syrphidae)
ditemukan mengerumuni dua jasad luar ruangan (5,9%) yang serupa dengan kecenderungannya
untuk menghuni lingkungan yang berair. Rincian untuk setiap kasus dirangkum pada Tabel 1.
Mayoritas kerumunan terdiri dari spesies yang ganda sebanyak 38,3% (n=13) dari jumlah
kasus, diikuti oleh kerumunan tunggal sejumlah 35,3% (n=12). Jasad yang dikerumuni oleh tiga
spesies atau lebih hanya terdapat pada kasus dalam ruangan, sejumlah 14,7% (n=5) dengan tiga
kerumunan, 8,8% (n=3) dengan empat kerumunan sementara satu kasus menunjukkan
kerumunan sampai dengan enam spesies (Fig. 3). Kerumunan dari lalat forensik ditabulasi
menurut di dalam atau di luar ruangan (Tabel 2).

4. Pembahasan
Dalam hal lokasi kematian, mayoritas (85,3%) dari kasus dihubungkan dengan tubuh
yang ditemukan dalam ruangan, sementara hanya 14,7% yang melibatkan lokasi luar ruangan
seperti sungai, aliran angin monsoon, tambang yang tak terpakai lagi, dan semak-semak. Kasus
entomologi forensik sebelumnya merujuk pada daerah yang sama juga mengindikasikan bahwa
kasus di dalam ruangan terjadi jauh lebih banyak daripada kasus di luar ruangan.14-16 Namun
demikian, ini berlawanan dengan penelitian baru-baru di bagian utara Malaysia yang
menunjukkan hampir samanya persentasi dari kasus dalam ruangan (54%) dan luar ruangan
(46%) dari jumlah 50 kasus.17 Perbedaan ini mungkin terjadi terkait beberapa faktor seperti
perbedaan pada kondisi geografis, pola perumahan serta kepadatan populasi antara kedua daerah
penelitian. Penelitian ini terfokus pada kasus forensik mengacu pada Pusat Medis Universiti
Kebangsaan Malaysia yang mencakup daerah perkotaan dengan kepadatan penduduk yang tinggi
dan banyaknya bangunan komersil bertingkat tinggi dan bangunan pemukiman dengan
keterbatasan lapangan hijau (hutan dan semak-semak). Maka dari itu, mayoritas pada kasus di
luar ruangan, jasad akan ditemukan dalam waktu yang cukup singkat oleh penduduk dan dibawa
ke rumah sakit sebelum kolonisasi lalat bisa terbentuk pada jasad. Berlawanan dengan Kumara et
al.17 yang melakukan ulasan kasus dari tujuh rumah sakit berlokasi di bagian utara Malaysia yang
menyajikan daerah perkotaan serta pedesaan. Daerah pedesaan ini dikategorikan dengan
sebagian besar pemukiman individu yang memiliki kepadatan penduduk rendah, hutan yang luas
dan adanya daerah pertanian. Kematian yang terjadi di daerah ini akan mengalami keterlambatan
dalam penemuannya, sehingga memberikan kesempatan dan ruang yang luas bagi lalat untuk
bertelur dan berubah ke tingkatan perkembangan selanjutnya.
Analisis terhadap komposisi lalat memperlihatkan bahwa jasad di daerah tropis mampu
untuk menarik perhatian lalat dari berbagai spesies. Dari 34 kasus yang tercakup dalam
penelitian ini, Sembilan taksa lalat ditandai, terdiri dari lalat family Calliphoridae, Muscidae,
Sarcophagidae dan Phoridae untuk kasus dalam ruangan, sementara kasus luar ruangan hanya
terdiri dari dua family, Calliphoridae dan Syrphidae. Penemuan ini memiliki kesamaan dengan
penelitian sebelumnya yang dilakukan di Malaysia. Sebagai contoh, Lee et al. 13 melaporkan
adanya 18 spesies lalat pada sampel entomologi dalam jangka waktu tiga dekade. Rujukan
tahunan dari spesimen entomologi oleh beberapa penulis melaporkan lima15,16 sampai Sembilan
spesies lalat,14 sementara Kavitha et al.29 mencatat sepuluh spesies dari 80 kasus forensik dalam
jangka waktu enam tahun. Penelitian terbaru oleh Kumara et al.17 di Malaysia utara
memperlihatkan terdapatnya sepuluh spesies menurut rujukan dari 50 kasus forensik dalam
jangka waktu tiga tahun. Thailand, yang berbagi iklim tropis sama dengan Malaysia, mencatat 14
spesies lalat dalam jangka waktu tujuh tahun dan spesies yang dilaporkan mirip dengan yang
ditemukan di Malaysia.30
Mayoritas dari spesimen yang dikumpulkan pada penelitian ini berada pada larva instar
ketiga dan ini serupa dengan dengan penemuan pada penelitian sebelumnya di Malaysia. 14-16
Lalat Calliphoridae seperti Ch. Megacephala dan Ch. Rufifacies dikenal melakukan kolonisasi
dan bertelur selama fase pembusukan awal31-33 dan secepatnya akan berkembang menjadi larva
matur pada jasad (Fig. 4). Pembusukan tubuh dari segar menjadi pembusukan yang aktif
menghasilkan bau yang tidak sedap yang akan memberitahu penduduk dan menuju pada
penemuan jasad. Karena itu, perkembangan dari telur menjadi larva matur yang bersamaan
dengan proses pembusukan bisa menghasilkan adanya larva instar ketiga pada jasad ketika
penemuan. Selain itu, ukuran larva instar ketiga yang lebih besar dari instar pertama dan kedua, 34
membuatnya mudah terlihat dan lebih dipilih untuk dikumpulkan oleh penyidik selam
pengumpulan spesimen.
Chrysomya megacephala dan Ch. Rufifacies dari family Calliphoridae telah menjadi
spesies utaman yang ditemukan pada jasad di Malaysia14-17,29 dan Thailand.30,35,36 Ulasan kasus
oleh Lee et al.13 mengindikasikan bahwa Ch. Megacephala dan Ch. Rufifacies terdapat pada
70,6% dan 44,1% kasus, masing-masing, dan sebagian besarnya ditemukan pada jasad yang
berada dalam bangunan. Sementara kerumunan ganda cukup umum untuk kedua spesies
terutama kasus di dalam ruangan (Tabel 1), kemunculannya juga terlihat di satu kasus melibatkan
jasad yang tergantung di lingkungan terbuka. Selain itu, larva Ch. Megacephala juga terlihat
mengurumuni tiga jasad yang ditemukan di lingkungan berair. Penemuan ini serupa dengan
laporan oleh Sukontason et al.35 mengenai adanya spesies ini pada jasad yang mengapung di
Thailand. Ini menunjukkan kemampuan dari spesies tertentu Chrysomya untuk bertahan dan
berhasil bersaing dalam keragaman jenis habitat di bawah iklim tropis.
Larva Calliphorid lain seperti Chrysomya nigripes Aubertin dan Lucilia cuprina
( Wiedemann) juga ditemukan dalam tingkat lanjut pembusukan, sekalipun dalam frekuensi yang
jauh lebih rendah (Fig. 2), mungkin menunjukkan bahwa mereka tak seberhasil Ch.
Megacephala dan Ch. Rufifacies dalam lingkungan jasad. L. cuprina, selain memiliki nilai
forensik, spesies ini juga diketahui menyebabkan myiasis pada domba di Australia. Meskipun
perannya sebagai penyebab myiasis masih belum dilaporkan di daerah ini, kemunculannya pada
jasad sebagai lalat nekrofagus telah dicatat di Malaysia13,16 dan Thailand.30
Pada penelitian ini, lalat muscidae diwakilkan hanya oleh dua spesies, Synthesiomya
nudiseta (Wulp) dan Hydrotea spinigera Stein, yang mana sebelumnya berkontribusi terhadap
kedominanan family ini dengan 20,6% dari total kasus. Hy. spinigera, mengalami perbedaan,
merupakan spesies yang tidak umum dimana terdapat hanya pada satu kasus dari penelitian
sekarang. Lee et al.13 mencatat adanya spesies ini dalam tujuh dari 448 kasus, sementara Kumara
et al.17 menemukan spesies ini hanya pada 4% dari kasus yang dianalisis.

Telaah Kritis (Critical Appraisal) Jurnal

Tabel Check List Umum Struktur dan Isi Masalah


Ya Tidak TR
Judul Makalah
Tidak terlalu panjang atau terlalu pendek V
Menggambarkan isi utama penelitian V
Cukup menarik V
Tanpa singkatan, selain yang baku V

Pengarang & Institusi


Nama-nama dituliskan sesuai dengan aturan jurnal V

Abstrak
Abstrak satu paragraf atau terstruktur V
Mencakup komponen IMRAD V
Secara keseluruhan informatif V
Tanpa singkatan, selain yang baku V
Kurang dari 250 kata (246 kata) V

Pendahuluan
Ringkas, terdiri 2-3 paragraf V
Paragraf pertama mengemukakan alasan dilakukan V
penelitian
Paragraf berikut menyatakan hipotesis atau tujuan V
penelitian
Didukung oleh pustaka yang relevan V
Kurang dari 1 halaman V
Diskusi
Semua hal yang relevan dibahas V
Tidak sering diulang hal yang dikemukakan pada V
hasil
Dibahas keterbatasan penelitian dan dampaknya V
terhadap hasil
Diskusi dihubungkan dengan pertanyaan penelitian V
Dibahas hubungan hasil dengan praktik klinis V
Efek samping dikemukakan dan dibahas V
Disebutkan hasil tambahan selama observasi V
Hasil tambahan tersebut tidak dianalisis secara V
statistika
Disertakan simpulan utama penelitian V
Simpulan didasarkan pada data penelitian V
Simpulan tersebut sahih V
Disebutkan generalisasi hasil penelitian V

Ucapan Terima Kasih


Ucapan terima kasih ditujukan pada orang yang tepat V
Ucapan terima kasih dinyatakan secara wajar V
Daftar Pustaka
Daftar pustaka disusun sesuai dengan aturan jurnal V
Kesesuaian sitasi pada naskah dan daftar pustaka V

Lain-lain
Bahasa yang baik dan benar, enak dibaca, informatif, V
dan efektif
Makalah ditulis dengan ejaan yang taat asas V
TR : Tidak relevan

( Berdasarkan CASP – Critical Appraisal Skill Programe)

1. Deskripsi Umum

a. Desain Penelitian

Penelitian ini bersifat Comparative Study

b. Populasi target, populasi terjangkau dan sampel

Sampel penelitian : Semua kasus forensik yang dikerumuni oleh spesimen serangga yang
diterima oleh Unit Forensik, Pusat Medis Universiti Kebangsaan Malaysia di Kuala
Lumpur, Malaysia dari Januari 2010 sampai Desember 2013
c. Cara Pemilihan Sampel : -

d. Variabel

Semua spesimen serangga dikumpulkan dari jasad yang membusuk dan lingkungan
sekitar selama kunjungan ke lokasi kematian dan/atau selama autopsi.

e. Hasil Utama Penelitian


Keanekaragaman lalat paling banyak terdapat pada jenazah yang didapatkan dalam
ruangan (delapan spesies) dibandingkan dengan luar ruangan (tiga spesies). Banyak
jumlah spesies lalat yang ditemukan pada jenazah, dengan yang paling dominan masih
terdiri dari Chrysoma, sedangkan S. nudiseta hanya ditemukan pada jenazah yang
ditemukan di dalam ruangan.
2. Validitas Interna, Hubungan Non Kausal

a. Hasil Dipengaruhi Bias

Pada penelitian ini tidak ada bias.

b. Hasil Dipengaruhi Faktor Peluang

Pada penelitian ini tidak ada faktor peluang.

c. Hasil Dipengaruhi Faktor Perancu

Pada penelitian ini tidak ada faktor perancu