Anda di halaman 1dari 3

4.2.

Pembahasan
Percobaan koagulasi dan flokulasi bertujuan untuk menghilangkan partikel
koloid dengan cara memisahkan partikel tersuspensi yang terdapat dalam air sungai
dengan menggunakan tawas sebagai koagulan untuk membantu proses pengen-
dapan. Air sungai yang digunakan pada percobaan ini adalah air sungai musi. Proses
koagulasi dan flokulasi terjadi secara berkesinambungan yaitu proses flokulasi
terjadi karena adanya proses koagulasi, Faktor yang mempengaruhi proses
koagulasi yaitu faktor kecepatan pengadukan, dosis koagulan, tingkat kekeruhan
dan derajat keasaman. Derajat keasaman dari sungai musi diukur terlebih dahulu
dengan menggunakan alat pH meter. Prinsip kerja dari alat pH meter yaitu
didasarkan pada potensial elektro kimia dari ion hidrogen yang terdapat di dalam
elektroda gelas dan elektroda pembanding untuk sirkuit elektrik.
Dosis koagulan yang digunakan bervariasi yaitu mulai dari 1-5 mL larutan
tawas, dosis koagulan yang besar belum tentu dapat menjadi dosis yang efektif
dalam menurunkan tingkat kekeruhan. Proses koagulasi dan flokulasi menggu-
nakan variasi kecepatan, yaitu pada proses koagulasi kecepatan yang digunakan
adalah 100 rpm dan 200 rpm. Air sungai terlebih dahulu diukur tingkat keke-
ruhannya sebelum dilakukan proses koagulasi dan flokulasi, kekeruhan diukur
dengan alat turbidity meter. Kekeruhan sungai sebelum penambahan koagulan yaitu
sebesar 33,3000 NTU, dan pH didapatkan sebesar 7,3700.
Hasil pengukuran sampel berupa air sungai, dianalisis berdasarkan tingkat
kekeruhan dan derajat keasaman (pH) terhadap faktor kecepatan pengadukan dan
jumlah koagulan yang digunakan. Variasi dari kecepatan pengadukan pada proses
koagulasi dibagi menjadi tiga tahap. Kecepatan pengadukan divariasikan menjadi
100 rpm pada tahap pertama dan 200 rpm pada tahap kedua. Proses pengadukan
100 dan 200 rpm yang telah selesai dalam waktu 8 menit, kemudian dilanjutkan
dengan pengadukan lambat dalam waktu 3 menit.
Secara teoritis, semakin cepat waktu pengadukan maka akan semakin tinggi
tingkat pembentukan flok-flok kecil dari proses koagulasi. Pembentukan tersebut
akan mempermudah proses pengga-bungan menjadi flokulan untuk dipisahkan
melalui pengendapan dalam waktu 15 menit. Kecepatan pengadukan sangat
berkaitan dengan bilangan Reynolds yang akan mempengaruhi turbulensi tiap
partikel yang terkandung di dalam air sungai. Turbulensi yang terjadi dalam proses
tersebut akan mengakibatkan terjadinya proses pembentukan ikatan Van der Waals
dipol terinduksi, yang terjadi antara senyawa polar dan nonpolar.
Derajat keasaman (pH) akan semakin basa dan tingkat kekeruhan suatu
fluida semakin rendah ketika kecepatan pengadukan pada proses koagulasi
ditingkatkan. Kadar koagulan divariasikan dari satu hingga lima mililiter pada
masing-masing kecepatan pengadukan. Dosis koagulan ditinjau dari satu kecepatan
pengadukan terhadap derajat keasaman (pH) dan tingkat kekeruhan air sumur
tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan analisis bahwa semakin tinggi
jumlah koagulan yang digunakan untuk proses koagulasi akan menyebabkan derajat
keasaman (pH) air sumur semakin turun mendekati asam.
Penentuan kadar optimum dari tawas yang ditambahkan ke dalam air sungai
sangat diperlukan, karena penambahan dosis koagulan tertentu akan berpengaruh
pada proses koagulasi. Penambahan kadar tawas pada air sungai yang semakin
tinggi pada proses yang telah mencapai titik optimumnya, maka akan meningkatkan
turbiditas atau kekeruhan. Pengadukan pada kecepatan 100 rpm dengan penam-
bahan koagulan sebesar 3 ml akan menghasilkan nilai kekeruhan yang tinggi yaitu
sebesar 9,3300. Tingkat kekeruhan yang sangat tinggi menyebabkan pH yang tinggi
sehingga air bersifat basa. Tingkat kekeruhan tinggi dengan penggunaan koagulan
yang melebihi batas optimum akan menyebabkan air menjadi jernih tetapi pH air
tersebut menjadi sangat kecil dan membuat air mempunyai tingkat keasaman yang
sangat tinggi.
Pengadukan dalam proses koagulasi dan flokulasi membantu proses
pencampuran koagulan ke dalam air, proses destabilisasi partikel dan pengga-
bungan presipitat yang terbentuk menjadi flok-flok sehingga semakin tinggi kece-
patan pengadukan, maka pertumbuhan flok akan semakin besar. Pengaruh penga-
dukan dengan kecepatan 100 rpm menghasilkan hasil koagulasi yang lebih
maksimal jika dibandingkan dengan kecepatan 200 rpm. Kecepatan pengadukan
yang melebihi kecepatan pengadukan optimum tidak lagi memperbesar ukuran
flok, karena flok sudah berada pada kondisi jenuh.