Anda di halaman 1dari 10

PRAKTIKUM V

REPRESENTASI RELIEF
5.1. Tujuan
Melatih praktikan untuk terampil dalam menggambar bentuk relief dengan
garis kontur dan menyajikan kesan tiga dimensi dengan menggunakan metode
blok diagram.

5.2. Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai
berikut:
1. Peta acuan
2. Kertas kalkir A3
3. Kertas milimeter blok
4. Kertas A3
5. Drawing pen (0,1-0,3-0,5)
6. Mistar
7. Alat tulis (pensil warna)
8. Mistar sablon

9. Papan pengalas
5.3. Dasar Teori
Relief merupakan tinggi rendahnya permukaan bumi. Penggambaran relief
pada peta dapat digambarkan melalui bidang datar, contohnya: (Dewi
Liesnoor,dkk,2014:99)
1. Gunung tinggi, dalam penggambarannya di peta tidak harus digambar seperti
dalam bentuk sesungguhnya, tapi dapat diwakili dalam bentuk sebagai garis
kontur, titik tinggi.
2. Dataran tinggi, dalam penggambarannya di peta dapat diwujudkan dalam
bentuk symbol-simbol garis kontur, simbol hachuring, plastic shading.
Relief adalah bentuk fisik dari landskap, suatu kofigurasi sebenarnya dari
muka bumi atau dengan kata lain, suatu bentuk yang memperlihatkan perbedaan
dalam ketinggian dan kemiringan dari bentuk-bentuk yang ada/tidak sama di
muka bumi (mokhose: dictionary of geography). Secara umum dapat dikatakan
bahwa pengertian relief ini dihubungkan dengan suatu bentuk/model keseluruhan
muka bumi dalam bentuk (pandangan) tiga dimensi. Oleh sebab itu pengertian
relief jauh lebih luas dari sekedar ketinggian saja. (Hadwi Soendjojo,2012:141).
Dari pengertian diatas, dapatlah dilihat bahwa relief merupakan suatu unsur
yang sangat penting dan memaikan peranan sebagai aktifitas manusia di muka
bumi. Informasi relief sangat diperlukan dan dapat digunakan antara lain: (Hadwi
Soendjojo,2012:14)
1. Pekerjaan kontruksi jalan raya, bendungan, irigasi
2. Tujuan-tujuan nafigasi
3. Tujuan-tujuan operasi militer, tujuan-tujuan ilmu pengetahuan
4. Tujuan-tujuan pariwisata
Seorang pembuat peta harus melengkapi informasi tentang relief tersebut, jelas
pekerjaan itu tidak mudah sebab yang harus disajikan bentuk tiga dimensi pada
kertas yang mempunyai bentuk dua dimensi. Sejak dahulu telah banyak cara-cara
yang diusahakan orang untuk menyajikan/menggambarkan relief tersebut.
Adapun bentuk yang umumnya banyak digunakan adalah: (Hadwi
Soendjojo,2012:142)
1. Garis kontur
2. Titik tinggi
3. Rock drawing
4. Bayangan (shading/hill shading)
5. Warna ketinggian (layer tints)
Daratan di muka bumi tidak rata tetapi bervariasi, berupa dataran, dataran
tinggi, dataran rendah, tonjolan berupa bukit, gunung, dome, maupun cekungan
berupa sungai, lembah, ngarai, atau basin. Penggambaran bentuk-bentuk muka
bumi dapat digambarkan dalam sebuah simbol peta. Peta topografi memuat
informasi relief berupa kontur yaitu garis yang mempunyai elevasi (ketinggian)
yang sama. Pada kontur menggambarkan relief muka bumi dapat diketahui
dengan jelas, tingkat kerapatan kontur menggambarkan informasi kemiringan
lereng, dapat digambarkan dalam bentuk tiga dimensi. (Dewi
Liesnoor,dkk,2014:99).
Peta kontur adalah informasi tentang ketinggian tempat, bentuk lereng (lereng
cekung, cembung, atau seragam), dapatmenunjukan kemiringan lereng (kategori
lereng landai atau terjal). Peta kontur dapat digunakan untuk menentukan profil
atau diagram penampang dari dua titik pada peta. Profil atau penampang adalah
gambaran kenampakan suatu daerah apabila dipotong secara vertikal oleh bidang
tegak lurus terhadap permukaanya. (Dewi Liesnoor, dkk,2014:105).
Peta kontur merupakan suatu peta yang menunjukkan garis-garis ketinggian
atau kontur. Kontur adalah garis khayal yang menghubungkan titik-titik yang
mempunyai ketinggian yang sama. Peta kontur ditemukan pada peta topografi,
peta rupabumi, peta teknik skala besar, peta perencanaan. Garis kontur
merupakan garis yang menghubungkan titik-titik atau tempat-tempat yang sama
tingginya pada peta. Ketinggian sama dihitung dari bidang reference/daratan
palne. Peta kontur merupakan suatu peta yang menggambarkan relief atau bentuk
permukaan bumi yang bersifat alami menggunakan metode kontur atau garis
ketinggian dengan interval (ci) tertentu.
Garis kontur dapat dibentuk dengan membuat proyeksi tegak garis-garis
perpotongan bidang mendatar dengan permukaan bumi kebidang mendatar peta.
Pada umumnya peta dibuat dengan skala tertentu, maka bentuk kontur ini juga
mengalami pengecilan sesuai skala peta.
Garis kontur adalah garis yang ditarik pada peta yang menghubungkan titik-
titik elevasi yang sama. Garis kontur berguna karena memungkinkan pengguna
peta untuk mengetahui bentuk permukaan tanah (topografi) pada peta. Untuk
memudahkan penggunaan peta, perbedaan tinggi di permukaan bumi
digambarkan secara merata dengan jarak yang terpisah yang disebut selang
kontur. Sebagai contoh, jika pada peta disajikan kontur dengan selang setiap 10
meter, maka di peta akan terlihat garis kontur setiap 10 meter (0, 10, 20, 30, 40
meter, dan seterusnya) dari permukaan air laut rata-rata. Setiap peta yang berbeda
dan skala peta yang berbeda, akan menggunakan selang kontur yang berbeda
juga. Keadaan topografi juga akan berpengaruh pada pemilihan selang kontur.
Membuat peta topografi lebih mudah dibaca, setiap garis kontur kelima
disebut sebagai kontur indeks. Tidak praktis untuk menandai angka ketinggian
dari setiap garis kontur pada peta, maka garis indeks kontur adalah satu-satunya
yang mencantumkan angka ketinggian. Indeks kontur adalah garis kontur yang
berwarna lebih gelap dibandingkan dengan garis kontur biasa. Penggunaan peta
akan melihat angka ketinggian pada garis indeks kontur saja. Untuk bisa
mengetahui perbedaan ketinggian di permukaan bumi, perlu deperhatikan lebar
ruang diantara garis kontur. Jika kontur berdekatan, berarti keadaan topografinya
adalah lereng yang curam; jika antar kontur mempunyai ruang yang luas, berarti
kondisi topografinya relatif datar.
Selain menunjukan bentuk ketinggian permukaan tanah, garis kontur juga
dapat digunakan untuk:
a. Menentukan potongan memanjang (profil longitudional section)
b. Menghitung luas daerah genangan dan volume suatu bendungan
c. Menentukan route/trace dengan kelandaian tertentu
d. Menentukan kemungkinan dua titik di lapangan yang sama tinggi dan sling
terlihat
Ada beberapa metode yang digunakan untuk membuat sebuah garis kontur dan
untuk menentukan bagian ketinggian pada sebuah penggambaran relief pada peta,
yang menghubungkan bagian ketinggian dan daerag lereng yang berupa garis
kontur yaitu:
1. Rock drawing
Garis kontur tidak selalu memperlihatkan semua detail dari suatu relief.
Pada beberapa tempat, lereng dari suatu relief. Pada beberapa tempat, lereng
dari suatu batuan/karang yang berupa lapisan permukaan (rock outcrops)
yang curam dan banyak belahannya, jika digambarkan dengan garis kontur
akan memperlihatkan suatu gambaran yang sama sekali berdeba dengan
keadaan sebenarnya. Jika garis kontur tidak dapat memperlihatkan keadaan
sebenarnya dri batuan/karang (rock) tersebut karena tidak cukup detail
penggambarannya, maka hal tersebut dapat digambarkan debgan suatu
penyajian lain yang disebut rock drawing.
Bentuk dasar dari relief (merupakan karakteristik daerah itu) ynag harus
diperlihatkan dengan cara rock drawing adalah:
a) Bagian (belahan-belahan) dar batuan/karang tersebut;
b) Patahan-patahan yang penting dari suatu lereng;
c) Jalur/pola alirannya.
Selanjutnya cara rock drawing dilengkapi juga dengan garis-garis pendek
(seperti heachuring) yang biasanya digambrkan dalam dalam dua jurusan,
yaitu:
a) Horizontal (sejajar dengan garis kontur);
b) Pada jurusan lereng yang tercuram
Garis-garis pendek tersebut (merupakan pelengkap) digambarkan lebih
tipis dibandingkan dengan garis-garis utamanya.
Penggambaran data ketinggian dengan cara rock drawing umumnya pada
peta dengan skala kecil, 1: 100.000 atau lebih kecil; dengan mengecilnya
skala peta, maka penggambaran rock drawing akan lebih mudah
pengerjaannya.
2. Hill Shading
Hill shading adalah suatu teknik yang menggunakan pengaruh (effect)
bayangkan akibat penyinaran dari arah tertentu, digunakan untuk membantu
dalam menyajikan kesan tigaa dimensi dari terrain. Hill shading merupakan
visualisasi daratan dengan variasi nada yang memberikan efek tiga dimensi.
Di masa lalu, menciptakan bayangan gunung pada peta melelahkan dan
memakan waktu bagi kartografer dalam membentuk kontur secara seni.
Pembuat peta menggunakan pet topografi kontur sebagai kerangka dan
menambahkan perbedaan yang halus dalam bayangan menggunakan pensil,
arang, atau airbrush. Saat ini, hill shading model elevasi digital (DEM) dapat
dilakukan dalam satu langkah otomatis menggunakan suatu perangkat lunak
Sistem Informasi Geografis (SIG).
Penyajian hill shading secara otomatis sangat meningkatkan penggunaan
informasi topografi pada peta. Peningkatan eksponensial dalam jumlah peta
dengan hill shading telah jelas membantu pengguna untuk mendapatkan
perspektif tiga dimensi di sebuah peta.
3. Warna ketinggian (layer shading)
Pola (pattern) dari suatu garis kontur memberikan informasi yang
tepatsuatu ketinggian dan arah dari kemiringan. Penggunaan garis kontur
kadang tidak bisa melengkapi kedan pengguna peta akan bentuk relief secara
keseluruhan; tidak mungkin untuk secara cepat menemukan hubungan antara
relief-relif yang ada pada beberapa tempat di sebuah peta. Untuk itu,
digunakan warna-warna ketinggian yang secara cepat dapat memberikan
‘kejelasan’ akan relief yang ada pada peta tersebut. Kemungkinan
penggambaaran warna ketinggian tergantung pada:
a) Maksud dan tujuan pembuatan peta;
b) Sakala peta;
c) Elemen-elemen lain dari bentuk penyajian relief;
d) Pengalaman kartografer.
Ada beberapa cara untuk menentukan tingkatan warna:
a. Dilakukan pemilihan sejumlah warna, setiap warna digunakan untuk satu
daerah ketinggian (height zone), kemudian warna-warna disusun
sedemikian rupa sehingga memberi kesan tentang suatu tingkatan.
Warna-warna yang digunakan dalam penyejian relief ini biasanya dari
warna hijau tua untuk daerah rendah, meningkat ke warna hijau muda,
kuning, coklat sampai warna merah.
b. Digunakan satu warna saja, tetapi warna tersebut diatur nadanya, dimulai
dari yang paling rendah sampai yang paing tinggi; umumnya keadaan ini
digunakan untuk peta hitam putih, jadi diatur ‘grey scale’-nya hal yang
sama juga dijumpai pada warna kedalaman (depth layers) di laut, yaitu
warna biru diatur warnanya dari biru muda sampai biru tua.
c. Memilih warna sedemikian rupa sehingga memberikan kesan “sedekst
mungkin” pada warna sesungguhnya (asli) dari lingkungan dimana unsur
trsebut berada. Keadaan ini umumnya diterapkan pada warna untuk
tumbuhan-tumbuhan, pasir, karang, salju dan sebagainya.
4. Blok Diagram
Blok diagram digunakan sumbu X dan Y untuk penarikan titik-titik tinggi
kemudian titik tinggi itu dihubungkan sehingga tercipta bentuk tiga dimensi.
(Aryono Prihandito, 1989).
Cara hill shading, layer shading dan blok diagram agar kesan tiga dimensi
muncul dalam mempresentasikan relief suatu penampakan. Pada prinsipnya,
pembuatan hill shading adalah memberikan bayangan pada gambaran garis
kontur sedangkan layer shading, menggunakan sakala warna untuk
mencerminkan ketinggian.

5.4. Cara Kerja


Adapun cara kerja yang digunakan dalam praktikum ini adalah:

1. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan untuk praktikum ini

2. Meletakan guide map (peta acuan) pada bidang yang kuat dan direkatkan
agar tidak berubah posisinya.

3. Meletakan kertas kalkir dan menyalin peta dengan teliti agar menampilkan
penggambaran sesuai dengan metode, hill shading, layer shading dan
diagram blok.

4. Memguat suatu penampakan gambar agar menunjukkan gambaran tiga


dimensi dengan metode, hill shading, layer shading dan diagram blok.

5. Menulis judul praktikum, nama mahasiswa dan nomor stambuk pada hasil
penggambaran dengan menggunakan mistar sablon.

5.5. Hasil
Hasil dari praktikum representasi relief ini adalah berupa gambaran
representasi relief dengan menggunakan metode hill shading, layer shading, dan
blok diagram. (terlampir)

5.6. Pembahasan
Relief secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu konfigurasi nyata dari
permukaan bumi, yaitu perbedaan-perbedaan dalam ketinggian dan kemiringan
permukaan bumi. Relief merupakan gambaran permukaan bumi di bidng datar
yang menjabarkan ketinggian dan kemiringan suatu tempat. Relief
dipresentasikan dengan cara membuat garis yang menghubungkan titik di
permukaan bumi yang memiliki ketinggian yang sama yang disebut garis kontur.
Kegunaan dari garis kontur yaitu untuk mengetahui bentuk lereng, besarnya
kemiringan lereng dan menunjukan bentuk relief.
Representasi relief merupakan suatu proses pemetaan yang memunculkan
informasi ketinggian suatu tempat. Dalam praktikum repersentasi relief ini
praktikan menggunakan beberapa metode, yaitu metode Hill shading, Layer
shading dan Diagram blok.
1. Metode Hill shading, yaitu teknik memberi bayangan pada suatu gambaran
relief pada suatu kontur berdasarkan arah datangnya sinar matahari. Caranya
dengan mengarsir peta sesuai dengan daerah yang merupakan bayangan garis
kontur atau daerah pada peta yang tidak terkena cahaya matahari langsung
tersebut diarsir sehingga seolah-olah nampak gelap. Pada metode ini,
praktikan manarsir cahaya matahari yang datang dari arah jam 01.00 siang.
2. Metode Layer shading, menggunakan prinsip skala warna untuk
mencerminkan ketinggian suatu tempat. Dengan cara mengelompokkan suatu
kontur kedalam beberapa kelompok sesuai ketinggian masing masing daerah
dengan ketentuan pewarnaan. Pewarnaan harus memiliki degradasi atau
tingkatan warna. Pada metode ini, praktikan menggunakan degradasi warna
kuning untuk daerah paling rendah hingga warna hitam untudaerah paling
tinggi.
3. Metode Diagram blok, yaitu metode yang digunakan untuk menunjukan
bentuk asli dari peta kontur yang ada. Kesan peta yang dihasilkan berupa
peta tida dimensi, dengan cara garis kontur yang terdapat pada peta acuan
ditarik ke dalam grafik sehingga menghasilkan pola dari dataran rendah
hingga dataran tinggi. Pada metode ini praktikan menggunakan sudut derajat
310 derajat.
Kesulitan yang ditemukan dalam praktikum ini ialah praktikan sulit untuk
melakukan penggambaran garis kontur secara benar dan tepat. Penggambaran
memindahkan garis kontur ke kertas kalkir harus dilakukan secara teliti oleh
praktikan dan itu sangat sulit dilakukan meskipun kertas kalkir sifatnya
transparan, akibatnya praktikan beberapa kali mengulangi penggambaran hingga
benar. Kesulitan lain juga dirasakan ketika menggambar kontur di kertas A3 dan
juga keterbatasan biaya untuk membeli kertas.
Sementara kemudahan yang praktikan temukan adalah alat dan bahan yang
digunakan dalam praktikum ini mudah diperoleh. Kelebihan dalam praktikum ini
adalah praktikan dapat mengetahui cara-cara mengaplikasikan kontur kedalam
bentuk hill shading, layer shading, dan digram blok.

5.7. Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum Representasi Relief ini adalah:
1. Secara sederhana relief dapat diartikan sebagai suatu konfigrasi nyata dari
permukaan bumi, yaitu perbedaan dalam ketinggian dan kemiringan
permukaan bumi. Representasi relief merupkan suatu proses pemetaan yang
memunculkan informasi ketinggian suatu tempat.
2. Representasi dengan metode hill shading yaitu teknik penggambaran yang
bertujuan untuk menentukan daerah-daerah lereng dari peta yang
digambarkan oleh praktiakan.
3. Representasi dengan metode layer shading yaitu teknik penggambaran
dengan menampakan perbedaan tinggi rendahnya suatu daerah dengan
pewarnaan.
4. Representasi relief dengan menggunakan metode blok diagram yaitu
penggambaran yang bertujuan untuk menampilkan bentuk ketinggian asli
suatu daerah dipermukaan bumi.
DAFTAR PUSTAKA

Liesnoor,Dewi,dkk. (2014). Kartografi Dasar. Yogyakarta: Ombak


Soendjojo, Hadwi dan Akhmad Raqqi. (2012). Kartografi. Bandung: Institut
Teknologi Bandung.