Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Rumah sakit merupakan institusi kesehatan yang menyediakan pelayanan
kuratif, rehabilitatif dan preventif kepada semua orang. Rumah sakit harus
memiliki fasilitas yang adekuat dan berkualifikasi baik, serta tenaga medis/non
medis yang berpengalaman untuk menyediakan pelayanan dengan kualitas
prima. Rumah sakit adalah suatu tempat dimana banyak orang ingin
mendapatkan perawatan yang baik dan mendapatkan kesembuhan. Terkadang
penyakit yang semula hanya ada satu penyebab penyakit, justru di rumah sakit
tersebut pasien mendapatkan penyakit lain dikarenakan infeksi nasokomial
(Darmadi, 2008), atau kini dikenal dengan istilah infeksi rumah sakit (Hospital
Acquired Infections) atau infeksi yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan
(Healthcare Associated Infections).

Infeksi yang terjadi pada pasien selama perawatan di rumah sakit atau fasilitas
perawatan kesehatan lainnya setelah pasien masuk rumah sakit dalam kurun
waktu 48 – 72 jam (WHO, 2016). Infeksi rumah sakit atau infeksi yang
berkaitan dengan pelayanan kesehatan adalah infeksi yang terjadi pada pasien
selama proses perawatan di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan
lainnya yang tidak ada atau dalam masa inkubasi pada saat masuk ke fasilitas
kesehatan, dan juga merupakan infeksi akibat kerja pada staf fasilitas
(Kemenkes, 2011). Healthcare Associated Infections (HAIs) terjadi melalui dari
pasien ke petugas, dari pasien ke pasien yang lain, dari pasien ke pengunjung
atau keluarga, ataupun dari petugas ke pasien, melalui kontak langsung peralatan
atau bahan yang sudah terkontaminasi dengan darah ataupun cairan tubuh
lainnya (Depkes, 2010).

Infeksi rumah sakit merupakan salah satu isu penting dalam aspek keselamatan
pasien yang perlu mendapat perhatian karena menjadi salah satu penyebab
meningkatnya angka morbiditas pasien yang dirawat di rumah sakit. Hal tersebut
berkaitan dengan yang dikemukakan oleh Setiowati (2013), dimana

1
ketidakpedulian akan keselamatan pasien menyebabkan kerugian bagi pasien
dan pihak rumah sakit yang berdampak pada mutu rumah sakit. Dampak tersebut
dapat menghambat proses penyembuhan dan pemulihan, memperpanjang lama
hari rawat atau length of stay (LOS), dan terjadinya resistensi obat sehingga
biaya yang harus ditanggung pasien menjadi lebih besar dan menurunkan mutu
pelayanan kesehatan. Maka dari itu, infeksi rumah sakit sebagai bagian dari
aspek keselamatan pasien dan petugas kesehatan merupakan salah satu yang
penting untuk diperhatikan. Salah satu indikator pelayanan kesehatan yang baik
di rumah sakit adalah terkendalinya infeksi rumah sakit (Setiyawati, 2008).

Angka kejadian infeksi rumah sakit telah dijadikan tolak ukur mutu pelayanan
rumah sakit dan izin operasional sebuah rumah sakit dapat dicabut karena
tingginya angka kejadiaan Hospital Acquired Infections (Septiari, 2012).
Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan kebijakan pencegahan infeksi di
rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya. Kebijakan itu tertuang dalam
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2017
Tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan. Keputusan Menkes Nomor 129 tahun 2008 mengenai Standar
Pelayanan Minimal Rumah Sakit menetapkan standar kejadian infeksi rumah
sakit di Rumah Sakit ≤ 1,5% (Darmadi, 2008). Kebijakan tersebut sebagai upaya
untuk memutuskan siklus penularan penyakit dan melindungi pasien, petugas
kesehatan, pengunjung, dan masyarakat yang menerima pelayanan baik di
rumah sakit maupun pelayanan kesehatan lainnya (Depkes RI, 2008).

Dari hasil survey prevalensi yang dilakukan WHO di 55 rumah sakit dari 14
negara yang mewakili 4 kawasan WHO (Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara,
dan Pasifik Barat) menunjukkan rata-rata 8,7% dari pasien Rumah Sakit
mengalami infeksi rumah sakit. Frekuensi tertinggi infeksi rumah sakit
dilaporkan dari rumah sakit di Kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara
(masing-masing 11,8% dan 10,0%), dengan prevalensi 7,7% dan 9,0% masing-
masing di kawasan Eropa dan Pasifik Barat (WHO, 2002). Sementara itu, data
dari WHO juga didapatkan tahun 2005 di Itali diperoleh angka kejadian HAIs

2
sebesar 6,7%, tahun 2006 di UK sebesar 9% dan di Perancis sebesar 6,7-7,4%.
Pada tahun 2016, menyatakan bahwa prevalensi kejadian Infeksi rumah sakit di
Eropa lebih dari 4 juta- 4,5 juta pasien terkena setiap tahun. Di Amerika Serikat,
diperkirakan sekitar 1,7 juta pasien yang terkena infeksi rumah sakit setiap
tahun, ini mewakili prevalensi 4,5% untuk 99.000 kematian (WHO, 2016).

Begitu pula di Indonesia, Departemen Kesehatan RI melakukan survey pada


tahun 2013 di 10 RSU Pendidikan, diperoleh angka infeksi rumah sakit cukup
tinggi yaitu sebesar 6-16% dengan rata-rata 9,8%. Survey yang dilakukan di 11
rumah sakit di DKI Jakarta menunjukkan bahwa 9,8% pasien rawat inap
mendapat infeksi yang baru selama dirawat (Depkes RI, 2013) dalam (Ditjen
Yankes,2017).

Pada seminar sehari Patient Safety dan Pencegahan Pengendalian Infeksi di


Jakarta, Menteri Kesehatan Indonesia menyatakan bahwa kejadian infeksi rumah
sakit terus meningkat dari 1% di beberapa Negara Eropa dan Amerika, sampai
lebih dari 40% di Asia, Amerika Latin dan Afrika, maka dari itu infeksi rumah
sakit merupakan masalah penting di seluruh dunia (Depkes, 2011).

Terjadinya infeksi rumah sakit dipengaruhi oleh banyak factor (multifactorial), baik
factor yang ada dalam diri (badan/tubuh) pasien sendiri, maupun factor yang berada
disekitarnya. Selain itu faktor lain yang dapat mempengaruhi terjadinya infeksi rumah
sakit yaitu faktor instrinsik yang meliputi umur, kondisi umum penderita, resiko terapi
atau penyakit lain yang menyertai penyakit dasar beserta komplikasinya, dan dari
factor keperawatan yang meliputi lamanya hari rawat, menurunnya standar pelayanan
perawat dan padatnya pasien dalam suatu ruangan, serta factor mikroba pathogen
yang memberikan kontribusi terhadap terjadinya infeksi rumah sakit di suatu rumah
sakit (Darmadi, 2008).
Selain faktor tersebut terdapat factor yang dating dari luar (extrinsik factor) yaitu
petugas pelayanan medis, peralatan medis, lingkungan, makanan dan minuman,
pasien lain dan pengunjung. Faktor dari luar yang lain yaitu faktor ketidakpatuhan
dari perawat dalam melakukan tindakan keperawatan, perawat tidak melakukan hand
hygiene dengan benar sebelum dan sesudah tindakan keperawatan (Syaifudin, 2004).

3
Program untuk meningkatkan hand hygiene petugas kesehatan telah dideklarasikan
oleh WHO melalui program keselamatan pasien yang mencetuskan Global Patient
Safety Challenge “clean care is safe care”. WHO juga meluncurkan Save Lives:
Clean Your Hands dengan strategi 5 momen hand hygiene (My five moments for
hand hygiene) yaitu sebelum kontak dengan pasien, sebelum melakukan prosedur
aseptik, setelah terpapar dengan cairan tubuh pasien, setelah kontak dengan pasien,
setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien” (WHO, 2009).

Menurut Betty (2012) beberapa cara untuk mengurangi frekuensi infeksi rumah
sakit yaitu dengan melakukan cuci tangan yang baik dan benar, asepsis,
desinfeksi dan sterilisasi, sanitasi lingkungan. Salah satu komponen penting
untuk membatasi penyebaran dari infeksi rumah sakit adalah melaksanakan
pengendalian infeksi dengan baik. Salah satu upaya untuk mengendalikan
infeksi rumah sakit yaitu memutus rantai penularan infeksi dengan cuci tangan.
Cara pengendalian infeksi yang terbukti efektif adalah memastikan perawat
rumah sakit melaksanakan hand hygiene sesuai aturan. Penelitian yang
dilakukan di Rumah Sakit Columbia Asia Medan mengungkapkan dengan
mencuci tangan menurunkan 20% - 49% kejadian infeksi nasokomial (Rosita
dan Natalina, 2010).

Perawat adalah tenaga profesional yang berperan penting dalam pelayanan


rumah sakit serta memiliki kontak dengan pasien lebih lama, bahkan hingga 24
jam penuh. Sehingga perawat memiliki peranan cukup besar dalam kejadian
infeksi rumah sakit (Nursalam, 2011). Perawat memiliki pengaruh yang cukup
besar terhadap terjadinya infeksi rumah sakit karena perawat merupakan tenaga
kesehatan yang paling banyak melakukan kontak dengan pasien dan berinteraksi
secara langsung dengan pasien selama 24 jam. Menurut Maryunani (2011) angka
kepatuhan hand hygiene bagi tenaga kesehatan khususnya perawat hanya 33%.

Upaya pencegahan infeksi rumah sakit yang dapat dilakukan perawat adalah dengan
meningkatkan kemampuan dalam menerapkan kewaspadaan standar (standar
precaution) dengan komponen utamanya yang merupakan salah satu metode paling

4
efektif untuk mencegah penularan patogen berkaitan dengan pelayanan kesehatan
adalah dengan melakukan praktek kebersihan tangan (hand hygiene) (WHO, 2009).

Studi di Amerika Serikat menunjukkan tingkat kepatuhan perawat melakukan hand


hygiene masih sekitar 50% dan di Australia masih sekitar 65%. Program hand
hygiene di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang sudah sejak tahun
2008 tetapi sampai saat ini kepatuhan perawat melakukan cuci tangan hanya sekitar
60%. Hal ini merupakan tantangan yang cukup besar bagi komite PPI RS untuk
mempromosikan program cuci tangan. (Perdalin, 2010) (dalam Utami, 2016).

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di rumah sakit (PPI-RS) yang aktif


menggambarkan mutu pelayanan rumah sakit yang baik. Mengingat pentingnya
program pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit (PPI-RS) tersebut
maka pada tahun 1976 Join Commission on Acreditation of Organization
(JCAHO) memasukkan kegiatan pengawasan, pelaporan, evaluasi perawatan,
organisasi yang berkaitan dengan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI)
menjadi syarat untuk akreditasi rumah sakit yang merupakan ukuran kualitas
dari pelayanan kesehatan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya (WHO,
2007).

Data yang didapatkan dari Komite PPI-RS (Pencegahan dan Pengendalian


Infeksi) RS Hermina Ciputat yang diperoleh dari data PPI bulan Juni –
Desember 2018 berkisar antara 69% - 74,8% yang patuh cuci tangan, sedangkan
standar kepatuhan cuci tangan yang dibuat Komite PPI 100%. Hasil wawancara
pada 12 perawat sebanyak 6 perawat (58,3%) mengatakan cuci tangan penting
dan bagian dari SPO kerja sehingga dilakukan, sedangkan sebanyak 3 perawat
(25%) mengatakan cuci tangan hanya sekedar SPO, tidak tahu dampak jika tidak
dilakukan, sebanyak 2 perawat (16,6%) mengatakan karena sudah memakai
sarung tangan jadi tidak perlu cuci tangan, dan 1 perawat (8,3%) mengatakan
buru-buru dalam tindakan ke pasien.

Melihat fenomena diatas dan untuk menjaga keselamatan pasien, pengunjung,


perawat dan meningkatkan mutu rumah sakit, maka peneliti tertarik untuk

5
mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan perawat dalam
melakukan hand hygine di ruang rawat inap RS Hermina Ciputat ?”.

Petugas kesehatan, khususnya perawat, sebagai pemberi pelayanan kesehatan di


rumah sakit, merupakan orang-orang yang berhubungan secara langsung dengan
pasien sehingga memiliki peran yang besar dalam rantai penularan terjadinya
infeksi. Pentingnya peran perawat dalam terjadinya infeksi rumah sakit tersebut
didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Bady, dkk (2007) di IRNA I
RSUP Dr. Sardjito. Penelitian tersebut mendapatkan hasil bahwa kinerja SDM
perawat dalam pengendalian infeksi rumah sakit sangat baik (85,96%) sehingga
kontribusi perawat dalam menyebabkan infeksi nosocomial rendah/kecil.

Hand hygiene adalah suatu upaya atau tindakan membersihkan tangan, baik
dengan menggunakan sabun antiseptic dibawah air mengalir (hand washing)
atau dengan berbasis alcohol (hand rub) dengan langkah-langkah yang
sistematik sesuai urutan, sehingga dapat mengurangi jumlah bakteri yang berada
pada tangan (WHO, 2009). Hand hygiene adalah suatu upaya mencegah infeksi
yang ditularkan melalui tangan dengan menghilangkan kotoran dan debris serta
menghambat atau membunuh mikroorganisme pada kulit yang dapat diperoleh dari
kontak antara pasien dengan lingkungan (Depkes, 2008). Tangan yang terkontaminasi
merupakan penyebab utama perpindahan infeksi (Perry & Potter 2005 yang dikutip
Rodyah, 2015). Kegagalan untuk melakukan kebersihan tangan dengan baik dan
benar merupakan penyebab utama Infeksi rumah sakit dan penyebaran
mikroorganisme multiresisten di fasilitas pelayanan kesehatan (Perry & Potter, 2002
dalam Depkes RI, 2008).

Mencuci tangan adalah tindakan yang sangat sederhana, namun efektif dalam
pencegahan dan pengendalian infeksi karena secara statistik telah membuktikan
bahwa mencuci tangan adalah langkah yang paling penting dalam Pencegahan
dan Pengendalian Infeksi. Pusat pencegahan infeksi dan Pengendalian Penyakit
jelas mengamanatkan bahwa semua personil kesehatan harus melakukan

6
dekontaminasi tangan saat merawat pasien. Membersihkan tangan merupakan
pilar dan indikator mutu dalam mencegah dan mengendalikan infeksi, sehingga
wajib dilakukan oleh setiap petugas rumah sakit. Membersihkan tangan dapat
dilakukan dengan mencuci tangan dengan air mengalir atau menggunakan
antiseptik berbasis alkohol (Hernandes, 2014).

Pentingnya tindakan hand hyiene terhadap kesehatan menjadi perhatian di


kalangan tenaga medis. Rumah sakit merupakan tempat pelayanan kesehatan
yang memberikan perawatan kepada pasien dengan berbagai penyakit. Hal ini
tidak menutup kemungkinan adanya bakteri / mikroorganisme yang ada di
rumah sakit ini menyebabkan infeksi yang disebut sebagai Health Care
Acquired Infections (HAI) (Saragih dan Rumpea, 2010). Hand hygiene
merupakan teknik dasar yang penting dalam pencegahan infeksi namun tingkat
kepatuhan petugas kesehatan khususnya perawat dalam melakukan hand
hygiene masih sangat rendah. Kegagalan melakukan hand hygiene yang baik dan
benar dianggap sebagai penyebab utama infeksi rumah sakit dan penyebaran
mikroorganisme multi – resistensi di fasiliatas pelayanan kesehatan dan telah
diakui sebagai contributor yang penting terhadap timbulnya wabah
(Widianingrum, 2010).

Kepatuhan merupakan modal dasar seorang berprilaku. Menurut Sarwona


(2008) dijelaskan bahwa perubahan sikap dan perilaku individu diawali dengan
proses paruh, identifikasi, dan tahap terakhir berupa internalisasi. Pada awalnya
individu mematuhi anjuran / instruksi tanpa kerelaan untuk melakukan tindakan
tersebut dan seringkali karena ingin menghindari hukuman / sangsi jika dia tidak
patuh, atau memperoleh imbalan yang dijanjikan jika dia mematuhi anjuran
tersebut.Tahap ini disebut tahap kepatuhan (Compliance).Biasanya perubahan
yang terjadi pada tahap ini sifatnya sementara, artinya bahwa tindakan itu
dilakukan selama masih ada pengawasan, tetapi begitu pengawasan ini
mengendur / hilang, perilaku itu pun ditinggalkan.

Menurut data WHO menyebutkan bahwa ketika terjadi peningkatan kepatuhan


tangan dari buruk (<60%) menjadi sangat baik (90%) akan menurunkan angka

7
infeksi nasokomial sebesar 24%. Beberapa penelitian lain menyebutkan
kepatuhan cuci tangan mendorong penuruanan infeksi MRSA (Methicillin
Resistant Staphyloccous Aureus) sebesar 48,2%-87%. Di Indonesia, angka
kepatuhan tenaga kesehatan dalam melakukan praktik cuci tangan hanya sekitar
50-60%. Penelitian yang dilakukan dr.Delly Chipta Lestari dan rekan-rekannya,
di RSCM Jakarta, menunjukkan bahwa angka kepatuhaan dokter di ruang ICU
RSCM Jakarta, angka kepatuhannya berkisar 41-62% (Wardhani, 2015).

B. Perumusan Masalah
Banyak faktor yang mempengaruhi kepatuhan perawat dalam penerapan hand
hygiene seperti pengetahuan, persepsi, profesi, beban kerja yang tinggi, kurang
waktu untuk melaksanakan cuci tangan, letak hand rub dan wastapel yang jauh.
Hasil studi pendahuluan menunjukkan masih banyaknya perawat yang tidak
patuh dalam melakukan hand hygiene dengan berbagai alasan tersebut.
Berdasarkan fenomena diatas, maka rumusan penelitian ini “Adakah factor-
faktor yang berhubungan dengan kepatuhan perawat dalam melakukan hand
hygiene di ruang rawat inap RS Hermina Ciputat.”

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan kepatuhan perawat
dalam melakukan hand hygiene di Ruang Rawat Inap RS Hermina Ciputat.
2. Tujuan Khusus
a. Mengindentifikasi faktor faktor yang berhubungan dengan kepatuhan
perawat dalam melakukan hand hygiene berdasarkan karateristik (jenis
kelamin, pendidikan, dan masa kerja) di Ruang Rawat Inap RS Hermina
Ciputat.
b. Mengidentifikasi faktor faktor yang berhubungan dengan kepatuhan
perawat dalam melakukan hand hygiene berdasarkan usia perawat di
Ruang Rawat Inap RS Hermina Ciputat.
c. Mengidentifikasi faktor faktor yang berhubungan dengan kepatuhan
perawat dalam melakukan hand hygiene berdasarkan tingkat
pengetahuan perawat di Ruang Rawat Inap RS Hermina Ciputat.

8
d. Mengidentifikasi faktor faktor yang berhubungan dengan kepatuhan
perawat dalam melakukan hand hygiene berdasarkan fasilitas hand
hygiene di Ruang Rawat Inap RS Hermina Ciputat.
e. Mengidentifikasi faktor faktor yang berhubungan dengan kepatuhan
perawat dalam melakukan hand hygiene berdasarkan masa kerja perawat
di Ruang Rawat Inap RS Hermina Ciputat.
f. Menganalisa hubungan usia perawat dengan kepatuhan dalam melakukan
hand hygiene di Ruang Rawat Inap RS Hermina Ciputat.
g. Menganalisa hubungan tingkat pengetahuan perawat dengan kepatuhan
perawat dalam melakukan hand hygiene di ruang di Ruang Rawat Inap
RS Hermina Ciputat.
h. Menganalisa hubungan fasilitas hand hygiene dengan kepatuhan perawat
dalam melakukan hand hygiene di Ruang Rawat Inap di Ruang Ranap
Inap RS Hermina Ciputat
i. Menganalisa hubungan masa kerja perawat dengan kepatuhan perawat
dalam melakukan hand hygiene di Ruang Rawat Inap RS Hermina
Ciputat.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Pelayanan Keperawatan
Penelitian ini dapat sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan perbaikan
guna meningkatkan kepatuhan perawat dalam melakukan hand hygine di RS
Hermina Ciputat pada akhirnya bisa menurunkan infeksi rumah sakit
(Hospital Acquired Infections/HAI).
2. Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi literature mengenai hal-hal terkait
dengan faktor yang berhubungan dengan kepatuhan perawat dalam
melakukan hand hygiene.
DAFTAR PUSTAKA

WHO. 2007. Improved Hand Hygiene to Prevent Health Care Associated Infection
Patient Safety Solution. Vol 1, Solution 9 May 2007 [serial online] [disitasi tanggal
10 Oktober 2019]. Diakses dari URL :
https://www.who.int/patientsafety/solutions/patientsafety/PS Solution9.pdf?ua=1
WHO.2009. Who Guidelines On Hand Hygiene In Health Care.
[serial online] [disitasi tanggal 10 Oktober 2019]. Diakses dari URL:

9
https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/44102/9789241597906_eng.pdf;js
essionid=5E55C788957782B0D3E0367F5101E109?sequence=1

WHO. 2010. Using WHO Hand Hygiene Improvement Tools to Support the
Implementation of National/Sub-National Hand Hygiene Campaigns. [serial online]
[disitasi tanggal 17 April 2019]. Diakses dari URL:
https://www.who.int/gpsc/national_campaigns/PS_hand_hygiene_tools_2010_6_en.pdf

WHO. 2016. The Burden Of Health Care-Associated Infection Worldwide (serial online]
[disitasi tanggal 17 April 2019]. Diakses dari URL: https://translate.google.com/translate?
hl=id&sl=en&u=https://www.who.int/infection-
prevention/publications/burden_hcai/en/&prev=search

Undang-Undang No 44 Tahun 2009.http://kesmas.kemkes.go.id/perpu/konten/uu/uu-


nomor-44-tahun-2009-ttg-rs

PMK No 27 Tahun 2017.Tentang Pencegahan Pengendalian Infeksi di Fasilitas


Pelayanan Kesehatan.http://ditjenpp.kemenkumham.go.id/arsip/bn/2017/bn857-
2017.pdf

Septiari, 2012.Infeksi Nasokomial. Yogyakarta ; Nuha Medika.

Depkes RI. 2008. Pedoman Manajerial Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah
Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya.Cetakan kedua. Jakarta: Direktorat
Jenderal Bina Pelayanan Medik

10
Depkes RI. 2010. Pedoman Pelaksanaan Kewaspadaan Universal di Pelayanan
Kesehatan. Cetakan Ketiga. Jakarta : Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit
Menular dan Penyehatan Lingkungan

Depkes RI. 2011. Laporan Akhir Riset Fasilitas Kesehatan tahun 2011.Jakarta : Badan
Litbangkes Kemenkes RI

Setiawati.. (2009). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketaatan Petugas


Kesehatan Melakukan Hand Hygiene dalam Mencegah Infeksi Rumah sakit di Ruang
Perinatologi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Magister Ilmu Keperawatan
Kekhususan Keperawatan Anak Program Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia.Depok.

Darmadi.2008. Infeksi Rumah sakit Problemika dan Pengendaliannya.Jakarta : Salemba


Medika

Utami, N. 2016.Hubungan Kualitas Supervisi Kepala Ruang Terhadap kepatuhan


Perawat Melakukan Standar Cuci Tangan di Instalasi Rawat Inap Rst Dr.Soedjono
Magelang.Skripsi.PSIK STIKES Ngudi Waluyo Ungaran. (tidak dipublikasikan)

Kemenkes RI. 2011. Pedoman Pelaksanaan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di


Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya di Pelayanan Kesehatan
(Kesiapan Mengahadapi Energing Infection Disease). Cetakan Ketiga. Jakarta :
Kementrian Kesehatan

Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. (2017). Pencegahan dan Pengendalian Infeksi


di RSJS Magelang.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.(Online), diakses dari
tanggal 17 April 2019.http://www.yankes.kemkes.go.id/read-pencegahan-dan-
pengendalian-infeksi-di-rsjs-magelang-1381.html .diakses

Darmadi.2008. Infeksi Rumah sakit Problemika dan Pengendaliannya.Jakarta : Salemba


Medika

11
Rodyah, S. A. U. 2015. Hubungan Lingkungan Kerja Perawat dengan Tingkat
Kepatuhan Pelaksanaan 5 Momen Hand Hygiene di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit
Umum Kaliwates Pt Rolas Nusantara Medika Jember.(Suatu Kajian di RS S
Jember).Jember.Skripsi. Prodi Ilmu Keperawatan - Universitas Jember
https://jkb.ub.ac.id/index.php/jkb/article/view/523/0 (diakses 10 April 2019

Rosita & Natalina.(2010). Hubungan Karateristik Perawat dengan Kepatuhan Perawat


Melakukan Cuci Tangan di RS Columbia Asia Medan.Dikutip dari
ttps://www.academia.edu/6607236/Hubungan_Karakteristik_Perawat_Dengan_Tingkat
Kepatuhan_Perawat (diakses 10 April 2019).

Saragih & Rumapea.(2010). Hubungan Karateristik Perawat dengan Kepatuhan Perawat


Melakukan Cuci Tangan di RS Columbia Asia Medan. (diakses 10 April 2019). Dikutip
dari:https://www.academia.edu/6607236/Hubungan_Karakteristik_Perawat_Dengan
Tingkat_Kepatuhan_Perawat

Hernades (2014). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Perilaku Cuci Tangan Pakai
Sabun Pada Anak Usia Sekolah di SD Jambidan Banguntapan Bantul. Skripsi Aisyiyah
Yogyakarta

Betty, S (2012). Infeksi Nasokomial. Jakarta : Nuha Medika

Widianingrum (2010).Pengaruh Pemberian Penyuluhan PHBS Tentang Cuci Tangan


Terhadap Pengetahuan dan Sikap Memcuci Tangan Pada Siswa Kelas V Di SDN
Bulukantil Surakarta. Karya Tulis Ilmiah : Universitas Sebelas Maret Surakarta

Wardhani, S.J. (2015). Hubungan Antara Praktik Personal Hygine Ibu Dengan Kejadian
Diare Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Pembantu Kelurahan Sugihwaras
Kecamatan Pemalang Kabupaten Tembalang Kota Semarang. Jurnal Kesehatan
Masyarakat, Volume 1, Nomor 2:945-954 (diakses tanggal 10 April
2019) :https://ejournal.undip.ac.id/index.php/jkli/article/view/5022

12
Sarwona (2008) Pengantar Psikologi Umum, Jakarta: Rajawali Pers,

Damanik, SM (2012). Kepatuhan hand hygine di rumah sakit Immanuel Bandung,


Bandung: Universitas Padjajaran, (diakses 13 April 2019) dikutip
dari :http://jurnal.unpad.ac.id/ejournal/article/view/683

Jurnal Kusumaningtiyas. S. (2013) Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat


Kepatuhan Perawat Melakukan Cuci Tangan di RS Telogorejo Semarang. STIKES
Telogorejo.

13