Anda di halaman 1dari 20

SATUAN ACARA BERMAIN

TERAPI BERMAIN PUZZLE

Di Ruang 7A Rumah Sakit Saiful Anwar Kota Malang

Oleh :

1. Basilio Roberto D.S.R. (P17211174035)

2. Erika Mei Nanda Sujatmiko (P17211174037)

3. Hamidatun Anisa (P17211173035)

4. Kartika Novia Setya Ningrum (P17211173023)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

JURUSAN KEPERAWATAN

PROGRAM STUDI DIV KEPERAWATAN MALANG

September 2019
LEMBAR PERSETUJUAN

Judul : Satuan Acara Bermain (Terapi Bermain Puzzle)

Tempat : Ruang 7A Rumah Sakit Saiful Anwar – Kota Malang

Kelompok 1B : 1. Basilio Roberto D.S.R. (P17211174035)

2. Erika Mei Nanda Sujatmiko (P17211174037)

3. Hamidatun Anisa (P17211173035)

4. Kartika Novia Setya Ningrum (P17211173023)

Mengetahui

Pembimbing Akademik (CT) Pembimbing Lahan (CI)

............................................ ........................................
SATUAN ACARA BERMAIN

(TERAPI MENEBAK GAMBAR)

Pokok bahasan : Terapi Bermain Puzzle

Sub pokok bahasan : Terapi Bermain Pada Anak Sakit yang Dirawat di
Rumah Sakit dengan Cara Stimulasi Kognitif dan
Bicara Bahasa

Waktu : 30 menit

Hari/tanggal : Jumat, 6 September 2019

Tempat : Ruang 7A (Anak)

Peserta :

Untuk kegiatan ini peserta yang dipilih adalah pasien di Ruang 7A yang
memenuhi kriteria:
 Anak usia 3 – 6 tahun
 Tidak mempunyai keterbatasan fisik
 Dapat berinteraksi dengan perawat dan keluarga
 Pasien kooperatif

Peserta terdiri dari : anak usia pra sekolah dan sekolah sebanyak 5 orang
didampingi keluarga
1. Latar Belakang

Hospitalisasi merupakan perawatan yang dilakukan dirumah sakit


dan dapat menimbulkan trauma dan stres pada klien yang baru mengalami
rawat inap di rumah sakit. Hospitalisasi pada anak merupakan proses
karena suatu alasan yang berencana atau darurat mengharuskan anak untuk
tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangan
kembali kerumah (Supartini, 2004). Perasaan cemas merupakan dampak
dari hospitalisasi yang dialami oleh anak karena menghadapi stressor yang
ada dilingkungan rumah sakit. Perasaan tersebut dapat timbul karena
menghadapi sesuatu yang baru dan belum pernah dialami sebelumnya,
rasa tidak nyaman dan merasakan sesuatu yang menyakitkan (Supartini,
2004).

Kecemasan merupakan perasaan paling umum yang dialami oleh


pasien anak terutama usia prasekolah. Potter & Perry (2005) menyatakan
usia prasekolah merupakan masa kanak-kanak awal yaitu pada usia 3-6
tahun. Pada usia ini, perkembangan motorik anak berjalan terus-menerus.
Reaksi terhadap kecemasan yang ditunjukkan anak usia prasekolah yaitu
menolak makan, sering bertanya, menangis walaupun secara perlahan, dan
tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan (Supartini, 2004). Dampak
dari hospitalisasi dan kecemasan yang dialami anak usia prasekolah
berisiko dapat mengganggu tumbuh kembang anak dan proses
penyembuhan pada anak (Wong, 2004). Anak usia prasekolah memandang
hospitalisasi sebagai sebuah pengalaman yang menakutkan. Ketika anak
menjalani perawatan di rumah sakit, biasanya ia akan dilarang untuk
banyak bergerak dan harus banyak beristirahat. Hal tersebut tentunya akan
mengecewakan anak sehingga dapat meningkatkan kecemasan pada anak
(Samiasih, 2007). Untuk mengurangi kecemasan yang dirasakan oleh anak
dapat diberikan terapi bermain. Bermain dapat dilakukan oleh anak yang
sehat maupun sakit. Walaupun anak sedang mengalami sakit, tetapi
kebutuhan akan bermain tetap ada (Katinawati, 2011).
Bermain merupakan salah satu alat komunikasi yang natural bagi
anak-anak. Bermain merupakan dasar pendidikan dan aplikasi terapeutik
yang membutuhkan pengembangan pada pendidikan anak usia dini
(Suryanti, 2011). Bermain dapat digunakan sebagai media psiko terapi
atau pengobatan terhadap anak yang dikenal dengan sebutan Terapi
Bermain (Tedjasaputra, 2007). Adapun tujuan bermain bagi anak di rumah
sakit yaitu, mengurangi perasaan takut, cemas, sedih, tegang dan nyeri
(Supartini, 2004).

2. Tujuan

1. Tujuan Umum
Setelah mendapatkan terapi bermain selama 30 menit agar dapat
mencapai tugas perkembangan secara optimal sesuai tahap
perkembangan walaupun dalam kondisi sakit.

2. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan terapi bermain selama 30 menit anak mampu:
a. Bersosialisasi dengan perawat baru
b. Menunjukkan ekspresi nonverbal dengan tertawa, tersenyum dan
saling bercanda.

3. Metode dan Media

1. Metode
a. Bermain bersama
b. Mendengarkan tanggapan anak/tanya jawab
2. Media
a. Puzzle
b. Hadiah
4. Kegiatan

1. Pengorganisasian
a. Leader : Hamidatun A.
b. Fasilitator : Kartika N.
Erika M.
Basilio R.
Hamidatun A.
c. Observer : Kartika N.
Erika M.
Basilio R.
Hamidatun A.

Pembagian tugas :

1) Peran Leader
 Mengkoordinasi seluruh kegiatan
 Memimpin jalannya terapi bermain dari awal hingga
berakhirnya terapi
 Membuat suasana bermain agar lebih tenang dan kondusif.
2) Fasilitator
 Memotivasi anak agar dapat kooperatif dalam permainan
yang akan dilakukan
 Bertanggung jawab terhadap program antisipasi masalah
 Fasilitator bertugas sebagai pemandu dan memotivasi anak
agar dapat kooperatif dalam permainan yang akan
dilakukan.
 Mengatur posisi kelompok dalam lingkungan untuk
melaksanakan kegiatan
 Membimbing kelompok selama permainan
3) Observer
 Mengamati semua proses kegiatan yang berkaitan dengan
waktu, tempat dan jalannya acara
 Melaporkan hasil pengamatan pada leader dan semua
angota kelompok dengan evaluasi kelompok

2. Setting tempat (gambar/denah ruangan)

Keterangan:

: Leader

: Peserta

: Fasilitator

: Observer

: Orang tua
3. Kegiatan bermain

No Waktu Terapis Anak


1 5 menit Pembukaan:
1. Leader membuka dan Menjawab salam
mengucapkan salam
2. Memperkenalkan diri Mendengarkan
3. Memperkenalkan Mendengarkan
pembimbing Mendengarkan dan
4. Memperkenalkan anak satu saling berkenalan
persatu dan anak saling
berkenalan dengan Mendengarkan
temannya Mendengarkan
5. Kontrak waktu dengan anak
6. Mempersilahkan leader
2 20 Kegiatan bermain:
menit 1. Leader menjelaskan cara Mendengarkan
bermain Menjawab pertanyaan
2. Menanyakan pada anak,
anak mau bermain atau Menerima permainan
tidak Bermain
3. Membagikan permainan
4. Leader,dan fasilitator Bermain
memotivasi anak Mengungkapkan
5. Observer mengobservasi perasaan
anak
6. Menanyakan perasaan anak
3 5 menit Penutup:
1. Leader menghentikan Selesai bermain
permainan Mengungkapkan
2. Menanyakan perasaan anak perasaan
3. Menyampaikan hasil Mendengarkan
permainan Senang
4. Memberikan hadiah pada
anak yang cepat dalam Senang
menyusun puzzle
5. Membagikan hadiah pada Mengungkapkan
semua anak yang bermain perasaan
6. Menanyakan perasaan anak Mendengarkan
7. Leader menutup acara Menjawab salam
8. Mengucapkan salam

5. Evaluasi

1. Evaluasi Struktur
Yang diharapkan:
 Alat-alat yang digunakan lengkap
 Kegiatan yang direncanakan dapat terlaksana

2. Evaluasi Proses
Yang diharapkan:
 Terapi dapat berjalan dengan baik
 Anak dapat mengikuti terapi bermain dengan baik
 Tidak adanya hambatan saat melakukan terapi
 Semua anggota kelompok dapat bekerja sama dan bekerja sesuai
tugasnya

3. Evaluasi Hasil
Yang diharapkan:
 Anak dapat mengembangkan bicara dan bahasa serta kognitif
dengan menebak gambar dengan sesuai
 Anak dapat mengikuti kegiatan dengan baik
 Anak merasa senang
 Anak tidak takut lagi dengan perawat
 Orang tua dapat mendamping kegiatan anak sampai selesai
 Orang tua mengungkapkan manfaat yang dirasakan dengan
terapi bermain
Lampiran materi:

TERAPI BERMAIN MENYUSUN PUZZLE


DENGAN USIA 3-6 TAHUN

A. Pengertian
Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan
(skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola
yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan.
Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan
tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa
sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga
perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi
dengan lingkungannya (Soetjiningsih, 1998).
Menurut Joyce Engel (1999), yang dikatakan anak usia pra sekolah
adalah anak-anak yang berusia berkisar 3-6 tahun. Ada beberapa aspek
yang perlu diperhatikan untuk mengukur tingkat pertumbuhan dan
perkembangan anak, yaitu:
1. Aspek fisik
2. Aspek motorik
3. Aspek bahasa
4. Aspek kognitif
5. Aspek sosialisasi

Bermain dengan cara menyusun pazel pada dasarnya tidak hanya


membantu mengembangkan kemampuan motorik anak saja tetapi juga
berperan penting dalam proses pengembangan kognitif klien dan
emosional klien, serta membantu klien untuk menggunakan kemampuan
bahasanya dengan bertanya sehingga klien akan terbiasa dengan proses
sosialisasi dengan orang, lingkungan dan kondisi disekitarnya.
Ketika anak sudah mampu bermain menyusun pazel secara lancar
maka dia sudah siap untuk meningkatkan kemampuannya ke tingkat yang
lebih lanjut seperti bersosialisasi dengan orang lain seperti mengenalkan
diri
B. Stimulasi Perkembangan Anak Usia 3-5 Tahun
Stimulasi yang diperlukan anak usia 3-5 tahun adalah:
1. Gerakan kasar, dilakukan dengan memberi kesempatan anak
melakukan permainan yang melakukan ketangkasan dan kelincahan.
2. Gerakan halus, dirangsang misalnya dengan membantu anak belajar
menggambar.
3. Bicara bahasa dan kecerdasan, misalnya dengan membantu anak
mengerti satu separuh dengan cara membagikan kue.
4. Bergaul dan mandiri, dengan melatih anak untuk mandiri, misalnya
bermain ke tetangga (Suherman, 2000)

C. Faktor penyebab ketidakmampuan menyusun puzzle

Menurut Immanuel, ketidakmampuan melakukan tugas


perkembangan tertentu, seperti bergerak, tumbuh, bicara, ataupun
kecakapan motorik tertentu seperti menyusun, merangkai ataupun
memposisikan benda, dapat menghambat berkembangnya ketrampilan
berikutnya, diwaspadai kemungkinan mengalami keterlambatan. Faktor
penyebabnya antara lain:

1. Karena kurang dirangsang atau kurang latihan


Anak dengan usia 3-5 tahun perlu dilatih rangsangan motorik halus dan
kasarnya dengan memberinya stimulus pendukung. Umumnya anak
usia ini berminat pada hal-hal yang berhubungan dengan sebab akibat,
sehingga ingi mencoba memadukan satu benda dengan benda lain.
2. Ada ganguan pada mata
Pandangan yang tidak jelas pada anak membuatnya enggan melakukan
kegiatan yang menggunakan benda-benda kecil. Anda perlu
memeriksanya ke dokter sebelum hal ini berlangsung lama.
3. Ada gangguan pada saraf atau retardasi mental.
Gangguan ini dapat diwaspadai dari kemampuan meraba. Bila anda
mendapati si kecil anda mengalami kelainan pada ketrampilan meraba,
anda perlu waspada. Segera bawa ke dokter untuk mendapatkan
pemeriksaan.

D. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan


Faktor instrinsik sangat dominan dalam mempengaruhi tingkat
kegagalan berkembang terutama berkaitan dengan terjadinya penyakit
pada anak, yaitu:
1. Kelainan kromosom (misalnya sindroma Down dan sindroma Turner)
2. Kelainan pada sistem endokrin, misalnya kekurangan hormon tiroid,
kekurangan hormon pertumbuhan atau kekurangan hormon lainnya
3. Kerusakan otak atau sistem saraf pusat yang bisa menyebabkan
kesulitan dalam pemberian makanan pada bayi dan menyebabkan
keterlambatan pertumbuhan
4. Kelainan pada sistem jantung dan pernafasan yang bisa menyebabkan
gangguan mekanisme penghantaran oksigen dan zat gizi ke seluruh
tubuh
5. Anemia atau penyakit darah lainnya
6. Kelainan pada sistem pencernaan yang bisa menyebabkan malabsorbsi
atau hilangnya enzim pencernaan sehingga kebutuhan gizi anak tidak
terpenuhi

Menurut Soetjiningsih secara umum terdapat dua faktor yang


mempengaruhi tumbuh kembang anak yaitu faktor genetik (instrinsik)
dan faktor lingkungan (ekstrinsik). Faktor genetik merupakan modal
dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak.
Faktor ini adalah bawaan yang normal dan patologis, jenis kelamin,
suku bangsa / bahasa, gangguan pertumbuhan di negara maju lebih
sering diakibatkan oleh faktor ini, sedangkan di negara yang sedang
berkembang, gangguan pertumbuhan selain di akibatkan oleh faktor
genetik juga faktor lingkungan yang kurang memadai untuk tumbuh
kembang anak yang optimal.
E. Dampak Hospitalisasi Pada Anak
1. Separation ansiety
2. Tergantung pada orang tua
3. Stress bila berpisah dengan orang yang berarti
4. Tahap putus asa: berhenti menangis, kurang aktif, tidak mau makan,
main, menarik diri, sedih, kesepian dan apatis
5. Tahap menolak: Samar-samar seperti menerima perpisahan, menerima
hubungan dengan orang lain dan menyukai lingkungan

F. Manfaat Bermain Pada anak Di Rumah Sakit


1. Terapi bermain menyusun balok dapat merangsang keterampilan
proses berfikir dan motorik anak
2. Meningkatkan hubungan antara klien (anak dan keluarga) dan perawat
3. Perawatan di rumah sakit akan membatasi kemampuan anak untuk
mandiri. Aktivitas bermain yang terprogram akan memulihkan
perasaan mandiri pada anak
4. Permainan pada anak di rumah sakit tidak hanya memberikan rasa
senang pada anak, tetapi juga akan membantu anak mengekspresikan
perasaan dan pikiran cemas, takut, sedih tegang dan nyeri
5. Permainan yang terapeutuk akan dapat meningkatkan kemampuan
anak untuk mempunyai tingkah laku yang positif.

G. Prinsip Bermain di Rumah Sakit

Menurut Supartini (2004), terapi bermain yang dilaksanakan di


rumah sakit tetap harus memperhatikan kondisi kesehatan anak. Ada
beberapa prinsip permainan pada anak di rumah sakit.

Permainan tidak boleh bertentangan dengan pengobatan yang


sedang dijalankan anak. Apabila anak harus tirah baring, harus dipilih
permainan yang dapat dilakukan di tempat tidur, dan anak tidak boleh
diajak bermain dengan kelompoknya di tempat bermain khusus yang
ada di ruang rawat.
Permainan yang tidak membutuhkan banyak energi, singkat dan
sederhana. Pilih jenis permainan yang tidak melelahkan anak,
menggunakan alat permainan yang ada pada anak atau yang tersedia di
ruangan (Supartini, 2004).

Permainan harus memperhatikan keamanan dan kenyamanan.


Anak kecil perlu rasa nyaman dan yakin terhadap benda-benda yang
dikenalnya, seperti boneka yang dipeluk anak untuk memberi rasa
nyaman dan dibawa ke tempat tidur di malam hari (Wong, et al, 2008).

H. Teknik Bermain di Rumah Sakit

Menurut Whaley & Wong (2004), tehnik bermain untuk anak


yang dirawat di rumah sakit adalah menyediakan alat mainan yang
merangsang anak bermain dan memberikan waktu yang cukup pada
anak untuk bermain dan menghindari interupsi dengan apa yang
dilakukan anak.

Peningkatan pengendalian anak yang meliputi mempertahankan


kemandirian, dan konsep perawatan diri dapat menjadi salah satu hal
yang menguntungkan. Meskipun perawatan diri terbatas pada usia dan
kondisi fisik anak, kebanyakan anak di atas usia bayi dapat melakukan
aktivitas dengan sedikit atau tanpa bantuan. Pendekatan lain mencakup
memilih pakaian dan makanan bersama-sama, menyusun waktu dan
melanjutkan aktivitas sekolah (Wong, et al, 2008).

Meningkatkan kebebasan bergerak juga diperlukan, karena


anak-anak yang lebih muda bereaksi paling kuat terhadap segala bentuk
restriksi fisik atau imobilisasi. Meskipun imobilisasi medis diperlukan
untuk beberapa intervensi seperti mempertahankan jalur iv, tetapi
sebagian besar retriksi fisik dapat dicegah jika perawat mendapatkan
kerja sama dari anak (Wong, et al, 2008).

Pemberitahuan kepada anak hak-haknya pada saat di


hospitalisasi meningkatkan pemahaman yang lebih banyak dan dapat
mengurangi perasaan tidak berdaya yang biasanya mereka rasakan
(Wong, et al, 2008).

I. Bermain dalam Prosedur

Menurut Wong, et al (2008), bermain pada anak yang bisa


diterapkan pada prosedur atau yang melibatkan kegiatan rutin rumah
sakit dan lingkungan adalah dengan menggunakan permainan bahasa,
misalnya dengan mengenalkan gambar dan kata-kata yang berhubungan
dengan rumah sakit, serta orang-orang dan tempat sekitar. Kemudian
memberikan kesempatan pada anak untu menulis, menggambar dan
mengilustrasikan cerita. Caltworthy (1999 dalam Wong, et al 2008),
mengatakan meskipun interpretasi gambar anak membutuhkan
pelatihan khusus, dengan mengobservasi berbagai perubahan dalam
serangkaian gambar anak dari waktu ke waktu dapat membantu dalam
mengkaji penyesuaian psikososial dan koping.

Bermain dalam prosedur rumah sakit juga dapat dilakukan


dengan cara penerapan pemahaman anak dengan memberikan ilmu
pengetahuan. Tutorial khusus yang diterima anak dapat membantu
mereka meningkatkan pelajarannya dan berkonsentrasi pada objek-
objek yang sulit, misalnya dengan mengajarkan anak sistem tubuh, lalu
buatkan gambarnya, dan anjurkan anak mengidentifikasi sistem tubuh
yang melibatkan masalah kedokteran. Contoh lain dengan menjelaskan
nutrisi secara umum dan alasan menggunakan diet, serta mendiskusikan
tentang pengobatan anak (Wong, et al, 2008).

Sedangkan aktivitas bermain pada anak yang bisa diterapkan


pada prosedur khusus adalah dengan menggunakan cangkir obat yang
kecil dan didekorasi, memberikan minuman yang dicampur perwarna
minuman dengan menggunakan sedotan yang menarik. Hal ini
memberikan arti pentingnya intake cairan bagi anak. Untuk melatih
pernafasan anak, perawat dapat memberikan balon untuk ditiup atau
mengajarkan anak membuat gelembung dengan air (Wong, et al, 2008).
Sedangkan untuk melatih pergerakan ekstremitas anak, perawat
dapat mengajarkan ROM dengan cara menggantung bola di atas tempat
tidur anak dan suruh untuk menendang atau mengajarkan anak untuk
mengulangi gerakan kupu-kupu dan burung (Wong, et al, 2008).

Memberikan injeksi merupakan hal yang paling menakutkan


bagi anak. Untuk mengurangi stres anak terhadap hal tersebut, perawat
dapat melatih anak dengan membiarkan memegang syringe yang bersih
tanpa jarum dan mengajarkan anak menggambar seorang anak telah
diberikan suntikan (Wong, et al, 2008).

J . Alat Mainan yang Sesuai dengan Usia dan Kondisi Anak

Alat mainan dapat diberikan pada anak dalam keadaan kondisi


sakit ringan, dimana anak dalam keadaan yang membutuhkan
perawatan dan pengobatan yang minimal. Pengamatan dekat dan tanda
vital serta status dalam keadaan normal dan kondisi sakit sedang,
dimana anak dalam keadaan yang membutuhkan perawatan dan
pengobatan yang sedang, pengamatan dekat dan status psikologis dalam
keadaan normal. Sedangkan anak dalam keadaan sakit berat tidak
diberikan aktivitas bermain karena anak berada dalam status psikologis
dan tanda vital yang belum normal, anak gelisah, mengamuk serta
membutuhkan perawatan yang ketat (Whaley & Wong, 2004).

Pada usia bayi, saat anak mengalami sakit ringan, alat mainan
yang sesuai seperti balok dengan warna yang bervariasi, buku
bergambar, cangkir atau sendok, kotak musik, giring-giring yang
dipegang, boneka yang berbunyi. Sedangkan saat anak sakit sedang,
mainan yang dapat diberikan berupa kotak musik, giring-giring yang
dipegang, boneka yang berbunyi (Wong, et al, 2008).

Alat mainan yang dapat didorong dan ditarik, balok-balok,


mainan bermusik, alat rumah tangga, telephone mainan, buku gambar,
kertas, crayon, dan manik-manik besar dapat diberikan pada anak usia
toodler saat mengalami sakit yang ringan. Sedangkan pada saat anak
sakit dalam tingkat yang sedang, mainan yang diberikan dapat berupa
mainan bermusik, alat rumah tangga, telephone mainan, buku
bergambar, dan manik-manik besar (Wong, et al, 2008).

Pada usia pra sekolah, saat mereka mengalami sakit ringan, alat
mainan yang dapat diberikan berupa boneka-bonekaan, mobil-mobilan,
buku gambar, teka-teki, menyusun potongan gambar, kertas untuk
melipat-lipat, crayon, alat mainan bermusik dan majalah anak-anak.
Dan saat anak pra sekolah mengalami sakit sedang, mainan yang
diberikan dapat berupa boneka-bonekaan, mobil-mobilan, buku
bergambar, dan alat mainan musik (Wong, et al, 2008).
DAFTAR PUSTAKA

Immanuel, R. (2006). Permainan Edukatif dalam Perkembangan Logic-Smart


Anak. Terdapat pada:
http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH01fd/325abfcd
.dir/doc.pdf. Diakses pada 25 Desember 2013.

Kaplan H.I, Sadock. B.J Grebb J.A. 2000. Sinopsis Psikiatri, Ilmu Pengetahuan
Perilaku, Psikiatri. Klinis, Alih Bahasa : Kusuma W,edisi Wiguna .

Veltman M,W Browne K.D. 2000. An Evaluation of Favorite Kind of Day


Drawing from Psychially Maltreated Children. Child Abuse and Neglect.

Whaley L.F, Wong D.L. 2001. Nursing Care of infants and children in-ed. St
Louis : Mosby year book

Supartini. (2004). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak, Jakarta : EGC.

Wong, D. L. (2004). Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik Alih Bahasa. Jakarta


: EGC.

Potter & Perry. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan Volume 1, Edisi 4.
Jakarta: EGC.
Samiasih, Amin. (2007). Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Tingkat Kecemasan
Anak Usia Prasekolah Selama Tindakan Keperawatan di Ruang Lukman
Rumah Sakit Roemani Semarang. Terdapat pada :

http://www.academia.edu/3585452/PENGARUH_TERAPI_BERMAIN_T
ERHADAP_TINGKAT_KECEMASAN_ANAK_USIA_PRASEKOLAH
_SELAMA_TINDAKAN_KEPERAWATAN_DI_RUANG_LUKMAN
RUMAH SAKIT ROEMANI SEMARANG. Diakses pada tanggal 6 Maret
2019

Katinawati. (2011). Pengaruh Terapi Bermain Dalam Menurunkan Kecemasan


Pada Anak Usia Pra Sekolah (3-5 tahun) Yang Mengalami Hospitalisasi Di
Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang.
http://ejournal.stikestelogorejo.ac.id/ejournal/index.php/ilmukeperawatan/a
rti cle/view/92. Diakses pada tanggal 6 Maret 2019

Suryanti. (2011). Pengaruh Terapi Bermain Mewarnai Dan Origami Terhadap


Tingkat Kecemasan Sebagai Efek Hospitalisasi Pada Anak Usia Pra
Sekolah di RSUD dr. R. Goetheng Tarunadibrata Purbalingga. Jurnal
Kesehatan Samodra Ilmu

Tedjasaputra, Maykes. (2007). Bermain, Mainan dan Permainan. Jakarta :


Grasindo