Anda di halaman 1dari 7

Bahaya Infeksi Dirofilariasis Imitis Pada Jantung Anjing

Anjing merupakan jenis hewan yang didomestikasi sebagai hewan kesayangan dan
membantu manusia untuk melaksanakan berbagai pekerjaan seperti penjaga, pelacak, atau
penggembala ternak (Dharmojono 2003). Dirofilaria immitis (D. Immitis) adalah golongan
parasit nematoda filaria dan merupakan salah satu parasit yang berbahaya bagi anjing, kucing,
dan mamalia lainnya. Larva infektif yang ditularkan oleh nyamuk dan cacing dewasa
berpredileksi dalam jantung terutama ventrikel kanan dan arteri pulmonalis pada host
definitifnya (Reinecke 1983). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kasus
infestasi Dirofilaria immitis pada anjing. Dalam karya tulis ilmiah ini penulis menggunakan
metode studi literatur dan kajian pustaka. Pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian obat
Macrocyclic lactone (ivermectin, milbemycin oxime, moxidectin, dan selamectin).

Kata kunci : Dirofilaria immitis, anjing, infeksi

Pendahuluan
Dirofilaria immitis (D. immitis) yang dikenal sebagai cacing jantung, adalah penyebab
penyakit parasit yang serius pada anjing, hidup pada ventrikel kanan dan arteri pulmonalis (Lee
et al 2000). Spesies hewan yang dapat terinfeksi D. immitis selain anjing adalah kucing,
serigala, rubah, coyote, ferret, tikus air, singa laut, coatimundi (Atkins et al 2016), dan
orangutan (Duran-Struuck et al 2005). Dirofilaria immitis sebagai agen penyebab penyakit
cacing jantung tidak hanya menimbulkan masalah pada hewan tetapi juga bersifat zoonosis (
Alia et al 2013). Di Indonesia, berdasarkan hasil penelitian telah diketahui bahwa nyamuk dari
genus Aedesaegypti, Aedes albopictus, Anopheles subalbatus, dan Culex quinquefasciatus
dapat menjadi vektor D. Immitis (Karmil, 2002).
Penyebaran terutama pada daerah beriklim sedang dan tropis (Adam 2001). Di
Indonesia, cacing ini sering ditemukan pada anjing dan kucing (Karmil, 2002).Distribusi dan
prevalensi D. immitistelah dilaporkan di hampir semua negara dengan pola dan persentase yang
berbeda. Menurut Lok dan Knight (2001), infeksi D. immitis telah terjadi pada setiap
benua,kecuali Antartika. Awalnya, penyebaran terbatas di daerah tropis dan akhirnya
menyebar sampai ke wilayah subtropis. Di Amerika Serikat, cacing jantung tergolong enzootik
dengan prevalensi tertinggi di sepanjang sungai Mississippi, Missouri, dan Ohio. Menurut
McCall et al. (2005) sepanjang tahun 2005 diperkirakan seperempat juta kasus cacing jantung
telah diagnosis di Amerika Serikat. Angka prevalensi berubah secara signifikan dari 1,4%
meningkat menjadi 21-42%. Golongan anjing yang terinfeksi mulai dari jenis anjing
kesayangan sampai anjing liar seperti coyote (Canis latrans). Kasus serupa jugatelah dilaporkan
kejadiannya di Indonesia. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa prevalensi infeksi D.
immitispada anjing cukup tinggi (25-57%) yaitu di wilayah Jakarta, Bogor, dan Bali
(Fitriawati, 2009). Menurut laporan Rajulani (2013) dalam investigasi keberadaan cacing
jantung D. immitispada anjing di kota Gorontalo ditemukan 15 kasus, terdiri atas sembilanekor
anjing betina dan enamekor anjing jantan.
Morfologi
Cacing D. immitis dewasa berbentuk ramping berwarna putih dengan panjang cacing
jantan 12 – 16 cm, betina 25 – 30 cm. Ujung posterior cacing jantan berbentuk melingkar dan
pada ekor terdapat beberapa papilae lateral. Vulva cacing betina terletak di belakang ujung
esofagus (Soulsby 1986). Cacing D. immitis dewasa mengambil makanan dari induk semang
(inang) berupa plasma dan cacing ini dapat hidup selama 5 – 7 tahun di tubuh inang. Nematoda
ini termasuk golongan vivipar, cacing betina melepaskan mikrofilaria ke dalam aliran darah
inang (Manfredi et al. 2007).

A B C

Gambar 1 Dirofilaria immitis (Manfredi et al. 2007)


A. Ujung posterior cacing jantan
B. Ujung anterior cacing betina
C. Cacing dewasa betina (atas) dan jantan (bawah)

Etiologi
Dirofilaria immitis adalah cacing jantung pada anjing yang tergolong sebagai cacing
nematoda. Cacing dapat dijumpai pada ventrikel kanan dan arteri pulmonum dari jantung
anjing. Cacing kadang kala juga ditemukan pada beberapa lokasi lain seperti ruang mata depan
dan rongga peritonium (Levine, 1990). Menurut Fan et al (2001), cacing ini dapat berkembang
luas di daerah tropis, subtropis dan daerah beriklim sedang. Cacing jantung ini dapat ditularkan
menginfeksi manusia dalam bentuk mikrofilaria melalui perantara vektor gigitan nyamuk
(Genchi et al 2007).
Menurut Soulsby (1986), klasifikasi D. immitis adalah sebagai berikut :
Filum : Nemathelminthes
Kelas : Nematoda
Sub Kelas : Secernentea
Sub Ordo : Spirurata
Superfamili : Filarioidea
Famili : Filariidae
Genus : Dirofilaria
Spesies : Dirofilaria immitis
Selain canidae, siklus hidup D. immitis juga terjadi secara sempurna pada tikus air
(Ondatra zibethica) walaupun mikrofilaria belum ditemukan hingga 160 hari (Karmil 2002).

Patofisiologi
Keparahan secara patologis pada anjing dipengaruhi oleh banyaknya cacing, respon
imun host, durasi dari infeksi yang terjadi, serta aktivitas dari host tersebut. Cacing jantung
dewasa akan mengakibatkan trauma secara mekanik yaitu mengiritasi tunika intima dari
pembuluh darah. Hal ini akan menstimulasi respon imun host menyebabkan endarteritis,
termasuk infiltrasi dari eosinophil dalam jumlah yang banyak. Infeksi yang terjadi lama
(disebabkan oleh iritasi langsung, cacing yang mati, respon imun) akan menyebabkan lesi
kronik dan lama- kelamaan menimbulkan jaringan parut atau ‘scars’. Anjing yang aktif akan
lebih mungkin untuk mengalami hipertensi pulmonari dibanding yang tidak aktif. Infestasi
cacing yang tinggi biasanya akan mengakibatkan sindrom vena cava. Selain itu, anjing
berukuran kecil tidak dapat menolerir infeksi sebaik anjing yang berukuran besar karena
ukuran cacing yang cukup besar sedangkan ruang pada pembuluh darah lebih kecil dari ukuran
cacingnya (Atkins et al 2016).
Pada permukaan Dirofilaria immitis terdapat bakteria Wolbachia pipiens yang
memiliki hubungan endosimbiotik antara keduanya. Bakteri Wolbachia menumpang hidup
pada cacing sedangkan bakteria tersebut menghasilkan endotoksin yang dibutuhkan cacing
dirofilaria untuk maturasi dan bereproduksi. Ketika bakteri tersebut dihilangkan maka cacing
akan perlahan-lahan mati karena tidak bisa dewasa dan tidak bisa bereproduksi dan akhirnya
secara perlahan mati. Terapi doxycycline bisa dilakukan (Atkins et al 2016).
Inflamasi yang disebabkan oleh cacing jantung biasanya akan mengindukasi respon
imun pada paru-paru dan ginjal (contohnya immune complex glomerulonephritis)
menyebabkan vasokonstriksi dan mungkin saja bronkokonstriksi. Kebocoran dari plasma dan
mediator inflamasi dari pembuluh darah kecil atau kapiler menyebabkan peradangan pada
parenkim paru dan non-cardiogenic edema formation. Penyakit pembuluh darah akan
mengurangi kemampuan pembuluh darah untuk berdilatasi sehingga terjadi kenaikan laju
velositas, memperparah kerusakan endotel. Jika hal ini terus terjadi maka akan terjadi iskemia
lokal dan sebagai hasilnya akan ada interstisial fibrosis (Atkins et al 2016).

Gejala Klinis
Dirofilariasis pada anjing dapat menyebabkan kombinasi masalah kesehatan yang
melingkupi disfungsi dari paru-paru, jantung, hati, dan ginjal. Anjing belum menunjukkan
gejala klinis pada infeksi awal. Anjing baru menunjukkan beberapa gejala klinis seperti batuk
pada infeksi D. Immitis ringan. Pada infeksi Dirofilaria yang sedang sampai parah, anjing akan
kehilangan berat badan, rambut kasar, batuk kronis, mudah lelah, dyspnoe, suara jantung yang
abnormal, hepatomegali, syncope, hydrotoraks, ascites, suara jantung yang abnormal, dan
right-sided congestive heart failure (gagal jantung sebelah kanan). Anjing juga dapat mati
secara mendadak (Manalu 2008).

Vektor
Nyamuk merupakan vektor bagi D. immitis. Sebanyak 60 -70 spesies nyamuk
diperkirakan dapat menjadi vektor potensial. Larva D. immitis dapat berkembang menjadi L3
di dalam nyamuk dari genus Culex, Aedes, Psorophora, Mansonia atau Anopheles. Spesies
yang dapat menjadi vektor D. immitis adalah spesies yang tidak mempunyai bucco-pharyngeal
yang dapat merusak kutikula mikrofilaria sehingga menghambat perkembangannya menjadi
larva infektif ( Lok 2001).

Dinamika Mikrofilaria D. immitis dalam Tubuh Inang


Mikrofilaria (mf) dapat ditemukan di dalam sirkulasi darah anjing reservoir setiap
waktu, akan tetapi angka mikrofilaremik perifer umumnya mengikuti pola periodisitas yang
berbeda pada setiap geografis. Di USA, Perancis dan Cina angka minimum dan maksimum
mikrofilaremik perifer masing-masing terdapat pada jam 11.00 dan 16.00, 08.00 dan 20.00
serta 06.00 dan 18.00 (Soulsby 1986). Puncak mikrofilaremia di Indonesia khususnya di
wilayah DI. Aceh, DKI Jakarta, Bogor dan Bali terjadi pada pukul 7.00 – 8.00 dan pukul 23.00
– 24.00 (Karmil 2002). Fenomena rendahnya mikrofilaremia pada anjing terlihat pada siang
hari diduga terjadi karena: (1) tekanan O2 di dalam pembuluh darah perifer lebih rendah
dibandingkan dengan di dalam pembuluh darah pulmoner; (2) adanya kecenderungan bahwa
anjing mempunyai aktivitas tinggi, sehingga terjadi vasokonstriksi pembuluh darah perifer; (3)
aliran darah dalam sirkulasi lebih cepat dan kondisi demikian tidak menguntungkan bagi mf
dan jumlah mf di dalam pembuluh darah perifer sedikit; (4) reservoir mf terdapat pada
pembuluh darah pulmoner, limpa, vena abdominalis dan sinus-sinus vena hepatik, pleksus vena
kulit. Berdasarkan sistem vena tersebut ternyata limpa dan pembuluh darah pulmonalis menjadi
reservoir dari mf. Angka mikrofilaremik lebih tinggi pada malam hari dibandingkan pada siang
hari, sehingga periodisitas demikian disebut subperiodik nokturnal. Fenomena tentang
maksimum mikrofilaremia terjadi pada malam hari ada kemungkinan mengikuti irama sistem
sirkulasi darah. Volume darah yang mengalir di dalam pembuluh darah perifer atau di jaringan-
jaringan adalah sangat lambat, sehingga pertukaran zat-zat makanan antara darah dan jaringan
berlangsung sangat intensif.
Dinamika mikrofilaria D. immitis di dalam tubuh vektor berkaitan erat dengan (1)
jumlah mikrofilaria; (2) jenis nyamuk dan (3) geografi atau iklim (Karmil 2002). Pertumbuhan
membutuhkan waktu 15 – 17 hari untuk daerah subtropis dan 18 – 10 hari untuk daerah tropis
(Jones et al. 1993). Studi Karmil (2002) menunjukkan bahwa pertumbuhan menjadi stadium
mikrofilaria infektif (L3) dalam mikrofilaria lebih cepat di D.I. Aceh (9 hari) dibandingkan
dengan di Bogor (12 hari).

Faktor Risiko
Tingkat risiko timbulnya CHD dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya umur, ras,
jenis kelamin, wilayah, iklim dan manajemen pemeliharaan anjing.
Umur
Anjing pada semua kategori umur berisiko terinfeksi cacing jantung. Namun prevalensi
infeksi meningkat seiring dengan bertambahnya umur anjing. Hal ini kemungkinan disebabkan
oleh waktu pemaparan yang lebih lama, terutama pada daerah endemik penyakit ini. Analisis
chi square mengungkapkan bahwa prevalensi lebih tinggi secara signifikan pada anjing umur
4 – 6 tahun (100%) di wilayah garis pantai dan pada anjing umur 2 – 4 tahun (51,2%) di wilayah
perkotaan (Song et al. 2003).
Ras
Umumnya anjing ras besar paling sering terinfeksi oleh D. immitis.Anjing-anjing
pekerja dan olahraga (Greyhound) juga memiliki risiko tinggi terhadap infeksi cacing D.
immitis. Anjing gembala ras jerman dan Boxer mempunyai risiko paling tinggi terhadap infeksi
cacing ini. Di Indonesia, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Satrija et al.(2008),
anjing-anjing ras lokal memegang peranan sebagai sumber infeksi D. immitis.
Jenis Kelamin
Umumnya, infeksi cacing jantung pada anjing jantan lebih tinggi dari pada anjing
betina. Lewis dan Losonsky (1978) menyatakan bahwa Rasio infeksi pada anjing jantan
terhadap anjing betina adalah 4:1. Perbedaan ini diduga akibat pergerakan hewan jantan lebih
tinggi dibanding betina sehingga risiko terpapar nyamuk juga meningkat. Hewan betina
cenderung membatasi pergerakan mereka selama musim panas dan menjaga anak-anaknya di
sarang.

Wilayah
Wilayah dapat mempengaruhi timbulnya dirofilariasis didukung dengan kondisi
geografis, iklim dan temperatur serta populasi vektor pada wilayah tersebut (Lok 1988). Hal
ini terkait dengan jenis- jenis nyamuk sebagai vektor dan dinamika larva CHD di dalam tubuh
vektor tersebut.

Iklim
Iklim menyediakan temperatur dan kelembaban yang cukup untuk mendukung
perkembangan populasi nyamuk dan juga perkembangan larva menjadi stadium infektif (L3)
di dalam vektor. Hal ini memegang peranan penting dalam transmisi D.immitis. Kondisi
temperatur di lingkungan nyamuk hidup merupakan salah satu faktor penting yang
mempengaruhi larva D. immitis,dimana larva di dalam tubuh nyamuk akan berkembang lebih
cepat pada temperatur hangat (Abraham 1988). Temperatur optimum untuk perkembangan
larva D. immitis adalah 22°C - 26,5°C. Pada suhu 27°C, waktu yang dibutuhkan untuk
perkembangan larva menjadi stadium infektif adalah 10 – 14 hari. Temperatur yang turun di
bawah batas ambang (14°C) untuk beberapa jam saja akan memperlambat pematangan larva.
Sejalan dengan pernyataan Lok (1988) yang menjelaskan bahwa temperatur hangat (21°C)
akan mendukung perkembangan nyamuk. Lebih lanjut dijelaskan bahwa mikrofilaria banyak
terdapat pada sirkulasi darah sepanjang musim semi dan musim panas dibandingkan musim
hujan dan musim gugur.

Manajemen pemeliharaan
Beberapa penelitian telah menunjukkan prevalensi infeksi D. immitis pada anjing-
anjing yang dipelihara atau hidup di luar rumah, 4 – 5 kali lebih tinggi dibanding anjing di
dalam rumah. Hal ini disebabkan oleh lebih besarnya kemungkinan anjing yang di luar rumah
tergigit oleh nyamuk dibanding anjing yang di dalam rumah (Subroto 2010) sehingga lebih
besar pula kemungkinan anjing di luar rumah terinfeksi D. immitis, terutama pada daerah
endemik.
Daftar Pustaka
Atkins C, Seaks JL, Emeritus. 2016. Overview of Heartworm Disease (Dirofilarosis,
Dirofilariasis).College of Veterinary Medicine, North Carolina State University
Dharmojono. 2003. Anjing Permasalahan dan Pemecahan. Penebar Swadaya, Jakarta.
Reinecke, R.K. 1983. Veterrinary Helminthology. Butterworths,Durban.
Lee, K. J., Park, G. M., Yong, T. S., Im, K., Jung, S. H., Jeong, N. J., Lee, W. Y., Yong, S. J.,
and Shin, K. C. 2000. The first Korean case of human pulmonarydirofilariasis.Yonsei
Med. J. 41: 285 – 288.

Duran-Struuck R, Jost C, Hernandez AH.2005. Dirofilaria immitis prevalence in


acanine population in the Samana Peninsula (Dominican Republic) – June
2001. VetParasitol 133: 323-327.

Alia YY, May HK, Amall HA. 2013. Serologicalstudy of Dirofilaria immitis in human
fromsome villages in Al-Hindya part of KarbalaGovernorate. Int J of Sci and
Nature 4:185-188.
Karmil, T.F. 2002. Studi Biologis dan Potensi Vektor Alami Dirofilariaimmitis sebagai
Landasan PenyiapanBahan Hayati. Disertasi.Program Pascasarjana Institut Petanian
Bogor. Bogor.
Soulsby, E.J.L. 1982. Helminths, Arthropods and Protozoa of Domesticated Animals. 7thed.
Academic Press. New York.
Manfredi MT, Cerbo AD, Genchi M. 2007.Biology of filaria worms parasitizin
dogsand cats. In Genchi C, Rinaldi R, CringoliG (Ed). Dirofilaria immitis and
D. repensin dog and cat and human infections. IVIS.
Levine, N.D. 1990. Parasitologi Veteriner. (Diterjemahkan Soekardono). Gadjah Mada
Universitas Press, Yogyakarta.
Fan, C. K., Su, K. E., Lin, Y. H., Liao, C. W., Du, W. Y., and Chiou, H. Y. 2001.
Seroepidemiologic Survey of Dirofilaria immitis Infection Among Domestic Dogs In
Taipei City and Mountain Aboriginal Districts In Taiwan (1998 – 1999). Vet.
Parasitol. 102: 113 – 120.

Genchi, C., Rinaldi, L., Mortarino, M., Genchi, M., and Cringoli, G. 2007. Climate and
Dirofilaria Infection in Europe. Vet. Parasitol. 163: 286 – 292.

Manalu, R.M. 2008.Faktor Resiko Manajemen Pemeliharaan Anjing


Terhadap Kejadian Infeksi Dirofilaria immitis di Wilayah Pulau
Jawa dan Bali.Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan,Institut
Pertanian Bogor.Hal 10.
Lok, J.B. and D.H. Knight. 2001. Activity of an injectable, sustained-release formulation of
moxidectin administered prophylactically to mixed-breed dogs to prevent infection
with Dirofilaria immitis. Am. J. Vet.Res. 62:1721-1726.
Song KH, Lee SE, Hayasaki M, Shiramizu K,Kim DH, Cho KW. 2003.
Seroprevalenceof canine dirofilariasis in South Korea. VetParasitol 114: 231
236.
Subronto. 2010. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba Pada Anjing dan Kucing. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta. Hal106-107.
Adam, R.H. 2001. Veterinary Pharmacology and Therapeutics. 8thed. Iowa State Press,
America.
McCall, J. 2005. The safety-netstory about macrocyclic lactone heartworm preventives: A
review. Anupdate, and recommendations. VeterinaryParasitology. 133(2-3):197-206.
Fitriawati. 2009. Infeksi Cacing Jantung pada Anjing di Beberapa Wilayah Pulau Jawa dan
Bali: Faktor Risiko Terkait dengan Manajemen Kesehatan Anjing. Skripsi.Fakultas
Kedokteran HewanInstitut Pertanian Bogor. Bogor.
Rajulani, R. 2013. Investigasi Keberadaan Cacing Jantung (Dirofilaria immitis) pada Anjing
(Canis familiaris) di Tempat Pemotongan Anjing di Kota Gorontalo. Skripsi.Jurusan
Biologi Fakultas Matematika dan IPA Universitas Negeri Gorontalo. Gorontalo.